Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo

.

.

.

.

.


I. Bumi, Matahari, dan Elips


Tiga menit lebih dari cukup untuk menjungkir balik dunia seseorang.

Sayang sekali, tidak ada siapapun yang memberitahu Orihime soal itu.

Pagi tadi, ia mematikan beker tepat 05.30 AM. Bangkit dari kasur, merenggangkan otot kaku secukupnya sehabis tidur. Menyibak gorden kamar, berhadapan dengan detik-detik panorama mentari terbit di kaki langit. Ke kamar mandi mencuci muka, dan sikat gigit hingga putih bersih. Kembali untuk melipat futon, dan menyimpan ke lemari bersama bantal-bantalnya. Membersikan debu yang menempel pada perabot, setelah menyapu lantai.

Setengah jam cukup untuk bercengkerama puas dengan berliter-liter air, sabun, dan sampo. Bisingnya hair dryer butut mengiringi rambut jingga sebokongnya untuk kering. Seragam SMA Karakura kemudian dikenakan pas pada tubuh semampainya. Berlanjut menyiapkan sarapan sederhana, tamago kake gohan, nasi bercampur telur mentah berlengkap shoyu. Memastikan tiada mangkuk kotor di wastafel, sebelum memulai perjalanan ke sekolah. Berangkat bersama Tatsuki-chan yang selalu setia menanti di pertigaan tepat pada pukul 07.00 AM.

Rutinitas itu layaknya peta hidup semenjak Orihime tinggal sebatang kara di Karakura. Awal pagi digelutinya, seperti hari-hari kemarin tanpa bosan. Mirip matahari yang tidak lesu bangkit esok demi esoknya lagi. Ia menjaga semangat tanpa luntur itu tiap hari.

Awal hari tetap sama. Akhir pun pasti akan tetap sama.

Begitu pikirnya. Pikirnya begitu. Begitu pikir begitu.

Akan tetapi, hanya saja, namun―

Takdir tanpa kejutan, lelucon, dan dramanya bukanlah hal yang menarik.

Orihime rasanya ingin tenggelam ke dalam bumi detik ini juga, dan tidak bakal bangkit lagi. "Aku ingin jadi cacing saja, Tatsuki-chan."

Langit jingga, empat gagak melintas berkaok-kaok.

Atas pagar, tiga kucing adu cakar berebut tulang ikan.

Tiang listrik, dua anjing kompak menepi kebelet pipis.

Tepi jalan, satu Tatsuki membuang napas, memutar mata, menyandang tas. Capek.

Ini impian di luar batas nalar ala Orihime ke-525.

Tatsuki cuma bisa pasrah dan mengandalkan kesabarannya yang hanya seberapa. "Ya, ya, ya. Itu cita-cita yang bagus sekali, Orihime. Sebagai sahabat, aku sangat mendukungmu. Apa kali ini? Cacing robot tipe listrik, air atau es? Punya kemampuan teleportasi atau telekinesis?" Ia terpaksa ikut-ikutan gila.

Orihime masih berjongkok, muka bersembunyi di balik poni, meliuk-liukkan jari kurang kerjaan di atas aspal. Tatsuki membuang napas lega mendapati respons kosong si jingga, datang menghampiri Inoue yang tertinggal lima langkah. Berpikir bahwa sobatnya sudah berpulang pada kewarasan. Namun lamat-lamat, Orihime menoleh ke barat, pada mentari senja yang ancang-ancang mau terbenam.

"Nah, Tatsuki-chan, matahari kok seperti bola?"

Ya, ampun!

"Ya, dari zaman manusia purba, bentuknya memang seperti itu."

Ampun, ampun!

"Aku kira bentuknya kubus."

Ampun, Kami-sama!

Percaya tidak percaya, Tatsuki pun sulit percaya bahwa Orihime menduduki nilai kelulusan tertinggi kedua (setelah Ishida) di angkatan mereka. Menyaksikan secara langsung Orihime berimajinasi gila, ia tidak akan menghajar orang-orang bila beranggapan sohibnya mengidap IQ jongkok. Lihat saja berikut ini.

"Nah, Tatsuki-chan, pohon sakura kok akarnya di bawah?"

"Nah, Tatsuki-chan, gagak ternyata bisa terbang, loh? Lihat, lihat!"

"Nah, Tatsuki-chan, kukira kita tinggal di Mars, bukan Bumi?"

Menarik satu napas panjang hingga tampungan udara di paru-paru begitu penuh, Tatsuki berusaha keras kembali ke jalan yang lurus. Untung saja, benteng kewarasannya masih terlalu tangguh untuk ditembus. Benaknya mulai bekerja. Seaneh-anehnya Orihime, keanehan sohibnya tidak akan kambuh tanpa alasan apa pun. Ada kecurigaan. Satu orang yang sanggup melonggarkan sekrup otak Orihime sampai separah ini. Karena itu, sebelum ia ikut-ikutan menganggap dirinya alien Mars, ia harus menghentikan semuanya.

"Orihime," tangan mencengkeram erat bahu Inoue sampai si jingga berhenti berkokok, "apa yang sudah dilakukan Ichigo padamu?"

Bayangkan ledakan gunung berapi bermigrasi ke paras Orihime. Kulit muka putih berubah merah membara. Pertahanan spontan, ia kembali berjongkok, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke paha. Layaknya kura-kura yang bersembunyi ke balik cangkang setelah mendeteksi adanya serangan.

Tatsuki jadi urung melancarkan serangan kedua. Badannya lantas berbalik memunggungi. "Aku tidak akan memaksamu untuk cerita. Tapi, jika Ichigo berani bersikap kurang ajar, aku tidak akan segan-segan padanya," bahkan, bila ia bersahabat lebih lama dengan Ichigo.

Namun, Orihime tahu betul itu hanya ancaman kosong. Tatsuki paham benar bagaimana Kurosaki-kun tidak akan pernah menyakitinya. Dulu, kini, dan nanti.

Barisan semut hitam melintas pada ujung sepatu. Hampir saja Orihime menegur, 'Selama sore, Prajurit Semut, apa hidup kalian bahagia?'. Otaknya betul-betul korslet. Semuanya bermula saat Ichigo mengajaknya bertemu (berdua saja) di belakang sekolah setelah Orihime memberi ucapan perpisahan di Klub Kerajinan Tangan. Mereka sudah di penghujung status sebagai murid kelas tiga SMA. Lusa adalah hari pengumuran resmi kelulusan, walau rumor tentang siapa lulusan terbaik sudah jadi rahasia umum.

Tiga menit adalah waktu kebersamaan mereka, sebelum Orihime menghancurkan segalanya. Ia lari dari hadapan Ichigo, entah sadar, entah tidak, kaki itu memberi jarak sejauh-jauhnya dari si pria jingga tanpa menoleh lagi. Alangkah lebih baik mimpi tetap menjadi mimpi. Karena Orihime sudah lebih dari terbiasa untuk tetap berdiri di belakang sebagai pendukung. Lebih dari itu ... serasa menakutkan.

Gigi rapinya menjepit keras tepi bibir. Orihime merasa ... betul-betul payah.

"Bukan," Orihime pelan-pelan bangkit, Tatsuki berpaling setengah badan. "Kurosaki-kun sama sekali tidak bersikap buruk. Justru," poni jingganya menutupi mimik sulitnya, "justru," intonasi suara itu lamat-lamat meninggi, "justru─" suaranya sempat memekik, "justru─!" Inoue seakan sedang bermain-main dengan kesabaran Tatsuki, dengan kembali merajuk dan mengutuk diri, "Sudah kuduga, jadi cacing tanah lebih membahagiakan, Tatsuki-chan."

Lingkaran iblis. Kegilaan kembali ke awal.

Apa boleh buat. Tatsuki mengeluarkan jurus pamungkas.

Maju satu langkah, menepuk kepala si jingga, seperti kakak atau lebih mirip pawang penjinak. "Ibuku memasak teriyaki dan ebi tempura malam ini. Nanti kubawakan ke apartemenmu, Orihime." Sohibnya adalah fans nomor satu masakan ibunya, dan ini adalah salah satu cara membujuk Orihime untuk kembali tenang. Buktinya, Inoue manggut-manggut patuh, berhenti berkokok ngalor-ngidul hingga membuat pejalan kaki sekitar berpikir ada pasien mental hospital yang melarikan diri. Karena bila Tatsuki tidak mendapat jawaban dari Orihime, ia bisa mencari tahu dari Ichigo. Dan si sulung Kurosaki jauh lebih waras untuk bisa diinterogasi secara normal.

Rombongan semut masih bermigrasi. Orihime mengangkat sepatu hati-hati, sebelum melangkah menyusul Tatsuki yang menantinya. Bayangan paras kecewa Kurosaki-kun tadi, selintas menghantarkan nyeri pada jantungnya.


. . . . .


"Tadaima..."

Seperti alarm. Salam pulang itu datang bersamaan dengan serangan kaki pada kepala Ichigo. Si sulung mengelak gesit, kepala ditarik mundur sejengkal. Memantapkan kuda-kuda, tubuh merunduk setengah badan, dan berputar untuk mengirim tendangan kaki berkaus ke arah perut sang ayah. Berujung pada pertemuan sepasang lengan tangguh yang bersilang melindungi arah tembak. Isshin nyengir menang ... untuk bertahan satu detik. Terjangan terang-terangan ke abdomen, memberi kelengahan pada pertahanan Isshin. Pria itu tidak bersiap pada serangan Ichigo yang sesungguhnya. Tinju si sulung terbang bersarang pada wajah ayahnya, berakhir dengan hidung pesek mimisan.

"Oooh~! Teknik tipuan yang hebat, Ichigo!" Isshin meraih sodoran tisu dari Yuzu. Ichigo melewatinya begitu saja, cuek dan letih, melintasi ruang makan menuju lantai atas. "Tapi, kau masih lamban. Kau masih harus banyak belajar."

"Onii-chan, ebi tempura-nya sudah kusisakan! Apa Onii-chan mau makan sekarang?"

"Aaah, nanti saja." Terdengar suara Ichigo di tengah lorong. "Terima kasih, Yuzu." Sayup-sayup menghilang bersama derap kaki di tangga dan berakhir pada pintu kamar yang berdebam tertutup.

Karin menghela napas, duduk menopang dagu.

"Onii-chan kelihatan murung." Yuzu menaruh kotak tisu ke tengah meja makan.

"Ini semua gara-gara Oyaji." Si tomboi tidak akan pernah berbelas kasih pada ayahnya.

"Eeeh, kenapa!?" Isshin dan sumbatan tisu di hidung, berpaling tidak terima.

"Oyaji selalu saja memperlakukan Ichi-nii seperti anak kecil. Dia sudah 18, loh. Sebentar lagi, dia akan kuliah."

Telunjuk Isshin berayun. Maunya tampak keren, yang justru jatuh konyol karena wajahnya yang babak belur. "Kau salah, Karin. Kakakmu masih tetap anak kecil selama dia belum membawa menantu ke rumah ini."

Kadang, Karin ingin tahu seberapa besar angka intelegensi Isshin. Lihat saja ayahnya yang berlari gemulai pada foto raksasa sang ibu untuk memberi curahan hati bagaimana putra sulungnya tidak populer di kalangan gadis, dan khawatir bahwa Ichigo akan jadi perjaka tua. Curhat-an konyol itu berakhir setelah Karin menghajar ayahnya hingga semaput.

"Dasar kambing tua. Semakin tua, semakin kekanak-kanakan."

"Padahal, Onii-chan populer, loh. Otou-san harusnya tidak perlu secemas itu." Yuzu menghidangkan sepiring jeruk di meja, diambil dari lemarin pendingin, ikut duduk di sebelah Karin.

"Ha, apa yang kau katakan, Yuzu?" Karin ikut meraup satu buah, berjengit oleh suhu beku, lalu dikupas. "Ichi-nii jelas akan jadi perjaka tua."

"Eeeh!? Apa yang kau katakan, Karin-chan?! Kenapa kau menyumpahi Onii-chan seperti itu?" Yuzu cemberut di antara mulutnya yang tengah mengunyah.

"Yaaah, maksudku, pikirkan lagi." Daging jeruk diabaikan. "Kalau memang Ichi-nii populer, kenapa belum ada satu pun yang dikencaninya? Dia sudah 18, loh. 18!"

"Onii-chan masih 18!" Yuzu tidak mau kalah. "Apalagi, Onii-chan sibuk belajar, dan mengurus para hantu. Dia tidak punya waktu untuk pacaran."

Karin memutar mata. Jeruk tidak jadi disantap, dan diletakkan kembali pada piring. Masalah ini lebih urgen. "Maksudku begini, Ichi-nii mengenal banyak perempuan. Entah dari sekolahnya atau dari tempat lain," maksudnya Soul Society, Yuzu belum paham betul tentang dunianya para hantu. "Dia mengenal Tatsuki-chan, Rukia-chan, wanita yang punya dada bola sepak yang selalu bersama Toushiro." Ia tidak tahu nama Shinigami yang selalu menempeli si kapten putih, seperti permen karet. "Tapi sampai tiga tahun, tidak ada perkembangan sama sekali. Begitu-begitu saja."

Karin mengumumkan kesimpulan layaknya presenter gosip berlidah tajam. Berharap hal ini bisa meyakinkan saudari kembarnya bagaimana bobroknya kisah romantisme kakak laki-laki mereka.

"Bagaimana dengan Orihime-chan? Orihime-chan juga temannya Onii-chan."

"Kalau Orihime-chan beda lagi. Dia jelas tidak masuk kelompok gebetannya Ichi-nii."

"Kenapa? Orihime-chan cantik, loh."

"Itulah masalahnya. Level Orihime-chan terlalu tinggi untuk bisa digapai Ichi-nii."

Yuzu cemberut lagi. Ia paling tidak suka ada yang menjelek-jelekkan Ichigo. "Kenapa begitu? Onii-chan itu keren. Tinggi, berotot, perhatian, berotot, peduli, berotot, kuat lagi."

Ada kata 'berotot' tiga kali. Karin yakin Yuzu tidak sadar hal itu.

"Ichi-nii memang keren. Tapi, jelas tidak selevel Orihime-chan."

Bagi Karin, perawakan Orihime layaknya dewi─dewi matahari. Surai emas jingga panjang sehalus kain paling lembut sedunia, wajah jelita menyamai artis-artis yang sering ditonton di TV, tinggi badan proporsional layaknya model yang sering mondar-mandir di runway, senyum menawan layaknya mentari di langit kelabu, tingkah ceria seolah derita tidak pernah menyambangi hidupnya, disempurnakan dengan sifat peduli dan peka seumpama Bunda Maria yang perhatian pada seluruh umat manusia. Hanya faktor ketidakberuntunganlah, Orihime terlahir sebagai manusia dengan latar belakang suram. Yatim piatu, dan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah, dengan bekal bantuan dari kerabat jauhnya.

Dibandingkan dengan kakak laki-lakinya?

Ichi-nii adalah manusia biasa, dengan tinggi badan biasa, bentuk otot biasa, perhatian biasa, kepedulian biasa, dan kekuatan biasa. Intinya, Ichi-nii itu biasa-biasa saja. Bila si sulung bekerja keras menyamai level Orihime-chan, tingkatan paling maksimal adalah level tukang cuci kaki bagi sang dewi matahari.

Menyedihkan.

Itulah bayangan Karin untuk nasib Ichigo.

Walaupun ia diam-diam mengidam-ngidamkan Orihime menjadi kakak keduanya.

Namun, impian menjadikan Orihime-chan sebaga istri Ichi-nii sama saja memimpikan Messi mendatangi rumahnya detik ini juga.

Mustahil.

Tapi, Karin tetap berdoa di sudut hati. Semoga Ichi-nii sanggup mengangkat gunung.

Karena melihat kakaknya menawan hati gadis secantik dewi bernama Orihime sama dengan menjumpai Ichi-nii berubah jadi penyihir tangguh yang dapat memanggul gunung.


. . . . .


Kamar itu remang.

Hanya cahaya muram bulan sabit dan lampu teras yang menyusup di sela-sela jendela kaca yang terbuka sejengkal. Pun membias pada kaca jendela yang absen dari tirai biru langit berkumpul di tengah dan tepi bingkai. Menyorot pada badan berseragam abu-abu tua yang rebah di ranjang kecil berseprei kotak biru gelap. Tubuh jangkung itu berbaring serampangan dengan kusut-kurut seprai di sekeliling posturnya. Tas selempang terdampar pada tepi meja belajar sebelum ketidakseimbangan mengantarnya jatuh bertemu lantai. Suara benturan tas berisi buku tebal terdengar jelas di tengah sepi. Namun, Ichigo bergeming seumpama mayat di peti mati tanpa gerak sejengkal pun. Paras suram si sulung bersembunyi di balik lipatan lengannya.

Satu tangan dibawa turun pada sisi perut. Tangan lainnya beringsut sepuluh senti ke sisi jidat. Mata coklat Ichigo berhadapan pada langit-langit coklat palfon. Menerobos tajam, melayang sejauh dua kilometer, dan mendarat pada halaman belakang gedung sekolah, yaitu kejadian empat jam yang lalu. Detik ketika berdiri satu langkah saja dari Inoue.

Itu bukanlah jarak terdekat yang bisa didapatkan Ichigo setelah Perang Besar Quincy berakhir. Pernah sekali, atau mungkin beberapa kali, mereka berdempet pundak di kereta api penuh penumpang, Orihime yang menyediakan bahu saat ia demam, atau menggendong Orihime yang keseleo di pergelangan kaki sepulang dari Festival Tanabata gara-gara tidak terbiasa memakai geta.

Namun mungkin untuk pertama kali, berhadapan sedekat itu, membuatnya gugup. Ichigo mendadak saja dapat kemampuan untuk menghitung detak jantung, 3-5 kali per detik. Seakan ada makhluk mini yang seenaknya mengubah jantungnya menjadi ayunan. Andai ia lupa dengan tiket di saku celana sekolah, organ merah gelap itu mungkin berhasil mendobrok rusuk dan melompat keluar dari tenggorokan, lalu mengoloknya bahwa masa pubernya betul-betul telat.

Apa saja yang dilakukannya selama delapan belas tahun?!

Laki-laki normal mengalami ini saat SMP (oke, ia malu, tapi apa boleh buat mengaku bahwa zaman sekarang bahkan, bocah SD sudah mengenal ketertarikan lawan jenis). Kenapa baru kini Ichigo mengalaminya, tahun terakhir di sekolah menengah? Seakan ia tidak lebih dari bocah keras kepala yang harus disudutkan dulu dengan perpisahan agar bernyali mengambil tindakan serius. Kelulusan sebentar lagi, dan ia beserta kawan-kawannya akan berpisah untuk melanjutkan studi (mungkin) di kota berbeda.

Ah, Ichigo lupa. Dari awal, ia bukan lelaki normal, yang kerja sambilannya mengirim para hantu gentayangan ke Soul Society, bertarung melawan monster bertopeng buruk rupa bernama Hollow, bersahabat dengan makhluk ber-kimono bak zaman samurai disebut Shinigami, berkunjung ke neraka, dan hobi menjual nyawa tanpa pikir panjang. Gilanya lagi, ia tidak dibayar.

Ini, sih, masokisnya keterlaluan.

Ichigo bangkit duduk. Satu tangan menopang di sisi tubuh, tangan lain merogoh saku baju, lencana Shinigami. Benda ini adalah bukti nyata senyata-nyatanya, bahwa kehidupan normal tidak bakal menyentuhnya. Tangan bebasnya menerobos saku celana, dua lembar tiket liburan ke Okinawa. Benda ini adalah bukti senyata-nyatanya tentang hasrat terdalamnya pada kehidupan normal sebagai pemuda manusia berusia 18 tahun.

Apa ... Inoue memiliki perasaan ini juga?

Perasaan saat kau berada di tengah laut diapit dua daratan. Kau keturunan dari Pulau Roh, tapi kau lahir di Pulau Manusia. Kau melindungi Pulau Manusia dengan cara menjaga kedamaian Pulau Roh. Kau adalah Manusia, tapi esensi dirimu sebenarnya adalah Roh. Hanya ada satu pilihan. Keseimbangan. Karena hal itu, Ichigo mulai membiasakan diri menyeimbangkan keduanya. Walaupun, kadang-kadang di sudut tergelap kamar, di tengah sepi, duduk bersama sang gitar (hadiah Oyaji, kelulusan di SMP), di mana tidak ketahui siapa pun, ia ... kelelahan.

Meremas lencana dan tiket liburan di tangan kiri, tangan kanan mengusap frustrasi surai jingganya.

Jika Inoue merasakan kegundahan yang sama, ini semua salah Ichigo. Ia lah yang menyeret Inoue (juga Chad) ke sekoci kecil di tengah ombak ganas.

Ichigo punya alasan pasti untuk tetap bertahan di sekoci. Alasan itulah yang membuatnya kuat. Tapi, Inoue dan Chad ... mereka tidak wajib bertahan bersamanya.

Apa karena alasan itu, Inoue tadi ... meninggalkannya begitu saja?

Dering telepon menggema di tengah hening. Bergetar di balik tas yang tersungkur abai di samping kaki kursi. Ichigo menyeret kaki malas, beringsut merogoh ponsel pintar yang tertindih buku pelajaran setebal jari telunjuk. Nama Tatsuki terpampang di layar, berkedip-kedip. Menekan tombol angkat tanpa pikir panjang, dibawanya mendekati telinga.

Lantas terdengar bunyi sapaan letih di seberang, dibalas Ichigo dengan gumaman tanpa minat. Si tomboi juga tidak memberi basa-basi kosong, dan langsung ke topik masalah.

"Ichigo ... apa yang kau lakukan pada Orihime?"

Ikatan yang terjalin sejak berumur empat tahun, membuat Ichigo tidak tersinggung setelah dituduh berbuat tidak-tidak pada Inoue. Karena seperti inilah Tatsuki Arisawa padanya. Tatsuki selalu terang-terangan pada Ichigo, begitu pula Ichigo pada Tatsuki.

Yang menengahi itu adalah hampa lima detik. Sebelum Kurosaki bersuara serak, seolah seharian tidak minum. "Apa kau puas jika kukatakan di telepon saja?"

"Tidak. Aku akan menemuimu di kelas setelah perpisahan dengan Klub Karate besok."

"Baiklah."

Perbincangan berakhir setelah Tatsuki mematikan sambungan lebih dulu.

Diletakkannya ponsel pada meja belajar. Ini menyangkut Orihime. Tatsuki tidak akan segan-segan pada siapa pun yang berani menyakiti sobat karibnya. Ichigo tidak menjadi pengecualian.

Walaupun sebenarnya yang terluka adalah ... dirinya.

Perut bernyanyi dengan suara sumbang. Murung dan galau menghabiskan kalori tubuh lebih cepat dari perkiraan. Ichigo lalu beranjak turun menikmati tempura lezat buatan Yuzu. Bayangan punggung Inoue yang meninggalkannya tadi, selintas menghantarkan nyeri pada jantungnya.


. . . . .


Mangkuk bekas teriyaki dan tempura masih terdampar di bak cuci. Tetesan air keran menetes bertemu butiran nasi di cerukan mangkuk. Orihime duduk berselonjor kaki di bawah meja pendek, satu tangan menopang di balik punggung, tangan lainnya menepuk-nepuk perut kekenyangan. Masakan ibu Tatsuki-chan memang jempolan. Tatsuki-chan begitu beruntung, punya ibu jago masak, tidak perlu sering-sering makan di luar, bisa hemat. Jadi iri.

Mendadak, kerikil seolah menuruni kerongkongannya. Inoue tercekik.

Ibu...

Animasi robot yang tayang di TV kini tiba-tiba berganti oleh Breaking News. Berita kriminal penangkapan tersangka penganiayaan pada pada putra-putrinya sendiri. Berdasar alasan stres dan frustrasi, ditinggal oleh sang istri yang pergi bersama pria lain. Kedua anaknya yang masih balita kini sedang dirawat di rumah sa―

Kegelapan kini menarik Orihime.

Mata cokelat mengerjap, terbuka. Ruangan seluas 3x3 meter persegi. Dinding kusam. Tatami kotor. Udara berasap. Bau sake pekat. Aroma parfum bikin muntah. Pria ngelantur. Wanita cekikikan. Dekapan seorang pemuda.

Ini bukan apartemennya.

Si Pria berdiri beringas, maju bersama wajah berjanggutnya dan bau mulut alkohol. Si Pria mendamprat (tapi, Orihime tidak mendengar). Si Pemuda mengkeret ngeri ke dinding, sambil berucap entah apa (Orihime masih tidak mendengar, padahal Si Pemuda sedang memeluknya). Seolah tidak terima, tangan besar berbulu Si Pria menghempas berbelas-belas botol bir kosong di meja, bertemu tembok dan lantai tatami. Pecah berantakan. (Lagi-lagi, Orihime tidak mendengar). Pelukan si Pemuda semakin kuat, seakan berkata 'aku akan melindungimu, aku akan melindungimu'.

Di bilik lain, Si Wanita terkikik menjijikkan, berlenggok menggoda pada pria yang bukan suaminya. Aroma pekat rokok dan parfum bersatu padu di sana. Si Wanita acuh tak acuh pada dua anak yang tersudut ketakutan, menjadi korban main tangan, seolah lupa pada buah hati yang pernah lahir di rahimnya.

(Orihime ingin memberontak, tapi tubuh balita 3 tahun tidak bisa berbuat banyak. Orihime ingin berteriak, tapi hanya suara tangisan yang ada. Orihime ingin menghardik, tapi ... tidak ada apapun yang keluar).

Si Pria sudah habis sabar. Si Pemuda bersikeras tidak menuruti keinginannya entah apa. Si Pria datang mendekat bersama wajah murkanya. Tangan melayang ke atas. Botol bir tergenggam di sana. Lalu berayun kencang. Orihime menangis, meraung, menendang. Namun―aroma besi tidak pernah se-memualkan ini.

Kegelapan kembali menarik Inoue.

Mata cokelat mengerjap, terbuka. Ruangan seluas 4x3 meter persegi. Dinding krem. Tatami hijau. Udara beraroma tempura. Enraku duduk manis di atas TV tabung. TV lanjut menayangkan animasi robot favoritnya.

Ini apartemennya.

Bangkit duduk, menengok jam dinding. 07.30 PM. Ia hanya tertidur 15 menit, namun ia serasa baru saja terbangun dari mimpi panjang selama berjam-jam.

Tidak. Itu bukan mimpi. Itu adalah tayangan masa lalu yang masih saja menghantui hidupnya. Tontonan bak film bisu berlayar abu-abu itu muncul sejak kakaknya, Sora, meninggalkannya sebatang kara. Gadis yang mestinya tidak tahu apa pun bagaimana borok ayah dan ibunya, kini dihadapkan pada penderitaan yang dihadapi masa remaja kakaknya, hingga memutuskan untuk lari dari rumah membawa Orihime kecil yang masih berumur tiga tahun.

Dahi Orihime bertemu tepi meja. 'Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku'. Ia mengutuk dirinya yang tidak bisa melakukan apa pun untuk kakaknya. Membayangkan bagaimana kehidupan delapan belas tahun Sora-nii, bergelut dengan ayah yang pemabuk dan ibu yang pekerja prostitusi, Inoue tidak bisa memberikan apa-apa untuk Sora selama sembilan tahun kebersamaan mereka di Karakura setelah lari dari rumah yang lebih mirip neraka.

'Maafkan aku, Onii-chan. Maafkan aku. Maafkan aku.'

'Jangan meminta maaf, Orihime. Aku hanya ingin kau bahagia. Kau harus bahagia.'

Orihime tersentak. Kepala linglung kiri-kanan. "Onii-chan?" Seolah mendengar bisikan kakaknya yang sedang berkunjung.

Yang menjawab adalah sepi. Enraku (hadiah Sora pada ulangtahunnya yang ke-6) duduk manis di jarak pandangnya, sebagai tanda bahwa sang kakak akan terus bersamanya. Melepas jepit rambut perak, Orihime menggenggamnya, mendekapnya erat bertemu dada. Hangatnya dekapan Sora masih terasa, seakan bersama dengannya kini, masih terus melindunginya, masih terus mengawasinya.

"Yosh!"

Entah kerasukan, Orihime mengacungkan dua tinju ke langit-langit menantang dunia.

"Jangan murung, Orihime Inoue! Semangat, semangat, semangat! Kau bisa! Yeaaah!"

Di saat seperti ini, Orihime adalah ahlinya. Buang kasihan dan simpati. Ia tidak butuh itu. Hanya lihat dirinya, sedalam atau sesakit apa pun ia, ia diam untuk beristirahat sejenak, dan merenung, mencari apa yang paling penting, sebelum kembali menjadi dirinya yang biasa. Begitu bersinar dan menyilaukan.

Entah palsu atau bukan. Entah ia memakai topeng atau tidak. Orihime sangat tahu bagaimana menjaga dirinya.

Disela oleh suara deringan ponsel. Orihime menaruh jepitan pada saku baju, dan terburu-buru beranjak pada tas yang digantung di samping rak buku. Merogoh-rogoh untuk mendapati bahwa bukan bunyi si ponsel pintar. Ditaruh begitu saja ponsel yang kelewat canggih (baginya), untuk kembali mencari bunyi ponsel lipat, dan menjumpai penelepon tanpa nama.

Orang asing.

Meneguk ludah, jempol menekan tombol hijau. Tapi, dering berhenti. Orihime membuang napas lega begitu cepat.

Karena tiga detik kemudian, berdering lagi.

Kembali, nomor yang sama, tanpa nama.

Dua kali dalam jangka waktu singkat. Berarti, penting.

Kawat seolah meluncur di tengah kerongkongan. Tegang. Jari menekan tombol angkat, dan pelan-pelan menaruh pada tepi telinga.

Rendah dan hati-hati, "Moshi-moshi..."


. . . . .


Pagi itu suasana hatinya begitu buruk. Jadi, jangan salahkan Ichigo bila tangkisan tas sebagai jawaban atas sambutan konyol Keigo, hingga kepala Asano mendarat telak pada dinding koridor. Ada serpihan runtuhan tembok dan ceceran darah.

Ichigo sedang tidak berada dalam mode untuk diajak pesta melawak.

Mizuiro bisa dengan jelas melihatnya. Hanya kepekaan nyaris nol Keigo yang tidak sanggup menilai bagaimana raut Ichigo yang seperti kertas diremas-remas. Bahkan, ia ragu kalau Ichigo sempat tidur semalam.

"Ada apa, Ichigo?"

Mizuiro menghampiri, mengabaikan curahan galau Keigo gara-gara tubuh Ichigo diambil alih oleh alien, dengan misi memusnahkan sahabat "Ichigo asli". Berdiri di samping meja, Mizuiro sabar menunggu Ichigo menaruh tas di gantungan.

Tidak ada alis naik, pertanda heran. Paras Ichigo pasif saja. "Apa maksudmu, Mizuiro? Aku baik-baik saja."

Artinya, Ichigo sangat tidak baik-baik saja.

Semenjak mengetahui jati diri Ichigo yang lain, Mizuiro dan Keigo sepakat dalam diam bahwa mereka akan tetap berada di samping si jingga. Sebagai teman sekelas, sahabat berbagi banyolan konyol, tidak akan ada perubahan apapun di antara mereka. Ichigo adalah Ichigo. Status sebagai Shinigami, tidak akan mengubah fakta tersebut.

Karena itu, ketika si jingga terlibat masalah yang berhubungan dengan Soul Society, Mizuiro menciptakan tembok tak kasat mata sebagai batas untuk ikut campur. Dalam kasus Ichigo sebagai sosok lainnya, peran Kojima tidak akan berguna, selain sebagai penonton.

Maka, Mizuiro mundur teratur tanpa si jingga sadari, sesaat sebelum pintu kelas menghantam terbuka.

"Ichigo...!"

Tatsuki menghambur masuk kelas (yang bukan kelasnya) layaknya induk yang kehilangan anaknya. Menghampiri Ichigo dengan langkah-langkah lebar, langsung ke hadapan sobat kecilnya setelah Mizuiro beringsut ke samping.

"Tatsuki...?" Alis Ichigo ditarik tinggi sebelah. Bukankah harusnya pertemuan dengan Tatsuki baru nanti sore? Kenapa si tomboi mendatanginya sepagi ini?

Arisawa tidak sempat mengatur napas yang urakan. "A-apa ... kau ... b-bertemu Orihime sepagian ini?"

Serasa deja vu. Dua tahun lalu di sekolah, Tatsuki menghampiri, dan membentaknya tentang ke mana perginya Orihime.

Badan jangkung itu pelan-pelan berdiri. Napas dicuri habis-habisan. "...Tatsuki...?"

"Orihime menghilang, Ichigo."

Keigo datang ikut serta. Bertukar tatap cemas dengan Mizuiro. Teman-teman sekelas lainnya menonton ingin tahu.

Sadar tempat dan kondisi tidak kondusif, Ichigo menyeret Tatsuki yang kebingungan, dan siap mengamuk. Meninggalkan Mizuiro yang berdiri diam memandang dua punggung yang menghilang dari pintu kelas. Kini, tembok batas itu betul-betul nyata.


To be continued...


Aphelion adalah jarak terjauh Bumi dari Matahari (sebesar 152,1 juta kilometer), disebabkan oleh orbit yang berbentuk elips.

.

.

.

1. lupa persis di episode berapa, saat ujian, Orihime ada di peringkat 3 di antara 300 siswa, Ishida yg pertama, dan Ichigo peringkat 25 saat kelas satu. Orihime pintar banget loh

2. tidak bermaksud mem-bashing Ichigo (dilihat dari sudut pandang Karin). Di episode awal2 Bleach, Yuzu antusias kalau akhirnya kakaknya membawa masuk perempuan ke kamarnya (yg waktu itu Rukia), Karin menjawab kalau dulu Tatsuki sudah pernah masuk ke kamar Ichigo. Lain hal, kalau yg masuk ke kamarnya kakaknya adalah perempuan selevel Orihime.

3. dikatakan di manga kalau ayah Orihime adalah pemabuk, dan ibunya pekerja prostitusi. Di umur 3 tahun, Inoue pasti tidak ingat. Tapi saya membuat seolah-olah itu datang ke mimpinya. bagaimanapun dia sudah mengalaminya, dan pengalaman itu tertanam di alam bawah sadarnya. biarpun tidak ingat, namun perlahan itu akan muncul lewat mimpi.

4. Enraku, boneka pink milik Orihime harusnya sudah rusak saat Sora berubah jadi Hollow dan menyerang adiknya. Tapi anggap saja kalau Inoue sudah memperbaikinya, bagaimanapun dia anggota Klub Kerajinan Tangan. Pasti bisalah#maksa

.

.

.

.

.

A/N:

Yang paling sulit adalah bagian ketika Orihime bermimpi tentang masa lalunya. Saya tidak mau membayangkan bagaimana anak umur 3 tahun berada di rumah dengan keadaan keluarga seperti itu. karena Sora pernah bilang, kalau dia tidak membawa Orihime pergi, orangtuanya bisa saja membunuh adiknya.

Dan sangat senang bahwa anime Bleach akan kembali di 2021 untuk mengadaptasi arc terakhirnya, heheh. Dan adapun adaptasi untuk manga oneshot Kubo-sensei "Burn the Witch", entah format movie ato OVA.

Jaga kesehatan teman-teman. Terima kasih untuk para dokter dan perawat di garda terdepan. Mereka adalah pahlawan.

Dan terima kasih sudah membaca.

.

01 April 2020