RINTIK hujan menemani Naruto yang tengah terduduk manis di sebuah kursi kayu. Sesekali wanita itu menyamankan posisi syal merah yang melilit di lehernya.

Manik safirnya yang semula memandang tenang pada tetesan hujan, kini membulat dengan ekspresi bahagia hingga senyuman pun tak bisa wanita itu tahan saat sebuah sedan hitam memasuki halaman rumahnya—terutama ketika pria yang mengendarai mobil itu keluar dan menghampirinya.

"Okaeri, Sasuke-kun." Naruto menghamburkan diri pada pelukan pria itu. "Aku benar-benar merindukanmu," lanjutnya dengan intonasi lirih namun manja.

Sasuke tertawa kecil mendengarnya. "Ucapanmu itu seolah-olah kita jarang bertemu," sahutnya seraya mendekap tubuh Naruto. "Sejak kapan kau di luar?"

"Sejak kau mengirimiku pesan bahwa kau akan datang," Naruto mengulum senyum malu-malu saat Sasuke membawa tubuhnya ke dalam gendongan bak seorang pengantin baru.

"Dasar nakal! Sudah kubilang tunggu saja aku di dalam. Di luar 'kan hujan. Bagaimana kalau kau masuk angin?" gerutu Sasuke sembari membawa masuk Naruto ke dalam rumah dan mendudukkan wanita itu di atas sofa beludru yang hangat. "Kau bisa sakit, Sayang," ujarnya sembari mengelus kedua pipi pualam Naruto.

Bibir ranum wanita pirang itu bergetar saat hendak tersenyum, bahkan senyumannya pun terlihat amat getir. Membuat hati Sasuke tak nyaman melihatnya. Sasuke tak suka jika Naruto sudah tersenyum seperti itu. "Tidak apa-apa. Aku bahkan selalu berharap untuk jatuh sakit."

Kedua alis tajam Sasuke mengernyit bingung. "Kenapa? Kau ini memang aneh. Orang lain ingin selalu sehat kau malah berharap—"

"Karena jika aku sakit, Sasuke akan selalu ada di sampingku." Naruto menyela cepat. Kedua manik birunya berkaca-kaca. Perasaan terluka begitu terlukis jelas di sana. "Sasuke tidak akan pergi. Sasuke tidak akan membiarkanku sendiri di rumah ini. Sasuke tidak akan membiarkanku kesepian. Sasuke tidak—!" ucapan Naruto terhenti ketika rasa sesak semakin memenuhi dadanya, wanita itu tak sanggup untuk melanjutkan. Yang kini berbicara hanyalah tetesan air dari bola mata sebiru samudra miliknya. Tangisannya pecah. Naruto tidak terisak tapi air mata itu menganak bak sungai kecil di kedua pipinya.

Bagai ada himpitan kuat pada dada Sasuke hingga ia pun merasa sesak melihat Naruto yang menangis tanpa suara. "Naru ..., aku ke sini bukan untuk melihatmu menangis," Jemari besar Sasuke mencoba untuk menyeka air mata Naruto, namun tetesan bening itu menganak lagi dengan cepat. "Hentikan. Aku tidak suka melihat kau seperti ini."

Munafik. Itulah satu kata yang tepat untuk mewakili diri Sasuke. Ia tak suka melihat Naruto menangis, namun sebenarnya dia sendirilah yang membuat air mata wanita itu selalu berderai.

Naruto menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya dengan perlahan. Jemari-jemari lentiknya mencoba untuk menghapus jejak air mata. "Maaf, tidak seharusnya aku seperti ini," tuturnya seraya bangkit berdiri, berjalan menuju dapur. "Tunggu. Aku akan membuatkan kopi untukmu."

Sasuke menghela napas sembari memijit tulang hidungnya. Naruto selalu begitu. Menangis kemudian menyeka air matanya sendiri dan bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Entah kenapa wanita itu begitu mudah menyembunyikan lagi luka dalam hatinya. Seperti sekarang, Naruto keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi hitam untuk dirinya. Bibir tipis berwarna pink natural itu tak pernah bosan melempar senyuman kepada Sasuke. Meski Sasuke sendiri yakin bahwa senyuman itu tak lain hanya untuk menyamarkan ekspresi sendunya.

"Terima kasih," Sasuke menerimanya seraya menarik pinggang Naruto agar wanita itu duduk di atas pangkuannya. "Kau sudah makan?"

"Belum. Aku sengaja menunggumu. Aku ingin makan bersama Sasuke." Naruto mengelus lengan Sasuke yang melingkari perutnya.

"Tch. Kau selalu begitu," Sasuke berdecak tak suka. "Aku tidak setiap hari kemari, 'kan. Kalau pun ke sini, aku tidak bisa menentukan waktu pastinya." Kecupan ringan Sasuke landaskan pada sebelah pipi Naruto. "Jangan begini lagi, ya. Kau harus tetap makan meski tanpa aku."

Kalimat yang Sasuke lontarkan sungguh menohok hati Naruto. Ucapan Sasuke seperti tengah menyadarkannya bahwa ia bukanlah milik Naruto sepenuhnya. Ia tak akan bisa untuk terus berada di samping Naruto. Bahkan mungkin takkan pernah.

"Maaf, aku terlalu manja." Naruto menyahut lirih dengan pandangan menunduk.

Enggan membahas hal yang bisa memperkeruh suasana di antara mereka, Sasuke segera menarik dagu Naruto agar wanita itu menatapnya. "Bolehkah?"

Pertanyaan ambigu itu hanya bisa dimengerti oleh Naruto. Kabut gairah yang menyelimuti manik sehitam arang milik Sasuke tak perlu membuat Naruto bertanya lagi. Naruto memang selalu mengerti keinginannya.

Tanpa menjawab apapun, Naruto yang masih berada dalam pangkuan Sasuke lantas membalikkan badan sepenuhnya. Satu tangan Naruto menyentuh rahang Sasuke sebelum mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. "Bukankah aku milikmu? Lakukan apapun yang kau mau," bisiknya seraya memejamkan mata, membiarkan Sasuke mencumbunya dengan puas.

Syal merah yang semula menghangatkan lehernya, kini sudah teronggok di lantai. Tak ada yang melepasnya selain jemari nakal Sasuke. "Kau harum seperti biasa," Suara parau Sasuke menggelitik indra pendengaran Naruto dan wanita itu sangat pasrah ketika Sasuke memutuskan untuk membawa tubuh mereka ke dalam kamar.

Tidur Naruto mulai terusik saat dering ponsel milik Sasuke berbunyi disertai getaran cukup keras. Awalnya Naruto tak mau mengindahkan. Tetapi, ponsel itu terus berbunyi, membuat tidurnya semakin terganggu. Bahkan, kali ini Sasuke pun ikut terbangun.

"Siapa?" Sasuke bertanya saat melihat Naruto meraih ponselnya.

Tatapan Naruto terlihat penuh oleh berbagai macam emosi. Naruto mencengkeram ponsel Sasuke dengan kuat. "Istrimu," jawabnya sembari memberikan ponsel tersebut kepada sang pemilik.

"..." Sasuke terdiam sebentar, menatap Naruto dari samping. Wanita pirang itu tampak tak suka. Ah, Naruto memang selalu tak suka jika ada hal yang berkaitan dengan istrinya. "Boleh kujawab?"

"Terserah." Naruto menyahut ambigu, membuat Sasuke semakin dilema. "Angkat saja, siapa tahu penting," lanjut Naruto saat menyadari bahwa Sasuke terlihat sangat bimbang atas jawaban pertamanya.

"Ada apa?" Sasuke menjawab panggilan seraya merapatkan tubuhnya pada Naruto, membuat kulit mereka bergesekan. Satu tangan pria itu memainkan rambut ikal Naruto yang terbentuk di bagian ujung.

"Sarada demam! Cepat pulang!" Suara di seberang telepon terdengar panik. Sasuke pun ikut panik, bukan karena intonasi sang istri, melainkan karena kabar yang diterimanya.

Mematikan panggilan secara sepihak, Sasuke segera bangkit dari ranjang, meraih bajunya yang berserakan di lantai kamar Naruto sebelum memakainya satu per satu.

"Kau mau pulang?" Naruto bertanya tanpa menatapnya. Ia merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang belum berbalut pakaian.

Sasuke mengusap wajah dengan kasar kemudian terduduk di samping ranjang, membelai surai pirang milik Naruto. "Tentu saja. Anakku sakit," Menundukkan kepala, Sasuke menghujani wajah Naruto dengan ciuman. "Maaf, padahal aku sudah berjanji untuk menginap di sini malam ini," lanjutnya seraya memeluk tubuh Naruto dalam beberapa detik.

Naruto merasakan hatinya bagai disayat perlahan-lahan. Ia mencoba untuk tetap terlihat tegar. "Tak apa. Pulanglah. Sarada lebih membutuhkan ayahnya."

Air mata mulai jatuh sedikit demi sedikit. Naruto menggigit bibir bawahnya menahan isakan saat Sasuke sudah keluar dari kamarnya yang tak lama setelah itu disusul oleh deru mesin mobil. Perlahan, suara tersebut mulai terdengar samar-samar hingga akhirnya benar-benar menghilang.

Tangis Naruto kembali pecah untuk kedua kalinya pada hari itu. Isakannya terdengar begitu pilu.

Menyadari bahwa Sasuke sudah tak ada, hati Naruto kembali terasa hampa dan kosong. Lagi-lagi ia sendiri. Lagi-lagi ia ditinggal pergi.

Ping!

Suara notifikasi pesan dari ponselnya membuat atensi Naruto teralihkan. Bangkit dan bersandar pada kepala ranjang, Naruto meraih ponselnya untuk membaca pesan yang masuk.

My Husban

Maaf, Sayang. Lagi-lagi aku ingkar padamu.

Rahang Naruto mengeras. Air matanya kembali jatuh tak terbendung yang kali ini diiringi dengan suara benturan dari ponselnya dan tembok. Benda pipih itu telah hancur tak berbentuk. Percis seperti kondisi hatinya saat ini.

.

.

.

TBC

Wattpad, 25/03/20

FFN, 26/03/20