Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, and Viz Media. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.

.

Prompt from Emma Griselda: "It burns when I think of where you touched me"

Notes

Akago: Bayi

Hyperrealism: adalah suatu genre dari seni rupa yang merupakan tingkatan lebih lanjut dari Photorealism.

.


Di tengah keremangan malam, Kagome membuka pintu apartemen sementaranya setelah dua ketukan. Daun pembatas itu belum terbuka sepenuhnya kala sepasang tangan mencengkam pinggangnya, merayap ke punggung, dan bibir hangat menempel pada miliknya. Perempuan berumur dua puluh tahun itu terdorong ke belakang tetapi, ia tidak dilepaskan begitu saja. Seraya membuka sepasang sepatunya, pria berjas hitam yang familier itu menahan tubuh gadis itu agar tidak menjauh.

Kelopak liat itu melumatnya lagi dan lagi, secara liar, juga tiada berantara. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat sebelum lidahnya meluncur dan membelai. Laki-laki itu meredakan rasa sakit yang ia buat dengan jilatan ringan yang oh ..., membuat Kagome melayang.

Sebuah tangan besar menelusup ke dalam sweter rajut gadis itu, menangkup buah dada berlapis bra merah mudanya dan mengelus lembut kulit di tepian cup. Gadis itu mengerang pelan, buih-buih aneh mulai berkumpul di perut bagian bawahnya.

Batin gadis itu terpilin, nafsu memerintahnya untuk menjulurkan tangan dan memberikan balasan. Kendati demikian, nuraninya menepis gagasan itu dengan keras. Nalarnya menjeritkan sanggahan. Ia tidak mungkin melakukan hal itu! Hanya dengan memiliki pemikiran seperti itu pun ia sudah membenci diri.

Kedua tangan Kagome yang tadinya lumpuh kini terangkat dan bersemayam di bahu lebar pria itu. Sambil berjalan mundur gadis itu menarik kepala untuk menjauh. Ia megap-megap menggapai udara. Setengah mati, mahasiswi Ilmu Komunikasi itu menarik kewarasan yang hampir lepas dari dirinya. Ia harus meminta tolong. Mau tidak mau, ia harus membangunkan kakaknya yang sudah terlelap karena kurang sehat.

Perempuan itu berusaha mencari dan merangkai kata untuk diucapkan dalam jeda yang susah payah ia raih. "Tunggu, a-" pintanya.

Namun, permintaannya diremehkan. Usahanya terbilang sia-sia ketika laki-laki itu tidak menanggapi dan malah menyelipkan tangan kiri di antara kedua paha yang tidak tertutup oleh rok mininya.

Momen berikutnya, jemari itu sudah bersinggungan langsung dengan area paling sensitif miliknya. "Tidak!" Kagome mendorong dada bidang itu menggunakan kedua tangan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, postur dan tenaga pria itu jauh lebih superior darinya. Bagian belakang lutut Kagome membentur lengan mebel. Bukannya berhasil menolak, ia malah terempas dan menggeblak ke atas sofa.

Sofa? Kagome sama sekali tidak sadar ia berjalan undur dari pintu depan ke ruang tamu yang jaraknya sepuluh langkah.

Melalui tirai yang belum tertutup seluruhnya, cahaya rembulan menerobos masuk ke dalam ruangan. Sinar itu tepat menerangi si gadis dengan sweter biru muda dan roknya yang tersingkap, menampakkan sepasang pakaian dalam kebocahan berwarna terang.

'Pink?'

Kesadaran lantas memecut pria itu. Dengan dua jari ia memijit pangkal hidung. Kedua lengannya jatuh ke sisi tubuh, ia menghela napas, lalu berkacak pinggang. Lelaki itu memejamkan mata sesaat sebelum membukanya. Dengan memicing ia mengobservasi gadis yang masih terlentang di atas furnitur; rambut hitam yang tersebar di sekeliling wajah pasrah, mata besar nan bulat yang kini menyala dengan gairah, hidung bangir, dan bibir berbentuk busur panah yang hampir selalu tersenyum itu sedikit terbuka, seakan meminta pertautan dilanjutkan.

Kagome mengamati bagaimana roman rupawan nan tegas serupa pahatan seniman terbaik di seluruh dunia itu berubah. Tatapannya kembali seperti sediakala, tegas dan terkesan culas.

Setelah beberapa saat mereka saling menatap, lelaki bernama Naraku itu mengulurkan tangan kanannya.

.

.

.

Satu tahun kemudian ...

Kala itu musim panas, kipas angin menyala, pintu geser yang menjadi pembatas ruang utama dan taman di samping rumah keluarga Higurashi terbuka lebar.

"Apa kau kepanasan, Akago-chan?" Gadis itu meniup sambil mengusap selapis peluh di dahi bayi berumur tiga bulan yang ada di pelukannya.

Naraku yang hanya mengenakan kemeja lengan pendek berwarna ungu gelap mengaduk tas yang ia bawa dan mengulurkan sebuah mainan rattle terbuat dari plastik yang bertekstur lembut. "Hakaku!" koreksinya.

Kagome meraih benda yang diberikan dan menggoyang-goyangkan mainan itu agar menghasilkan suara yang menarik perhatian bayi laki-laki yang ada di pangkuannya. "Kau suka ini?" Sepasang tangan super imut terjulur dan menggapai mainan yang bagus untuk meningkatkan kemampuan motorik halus. Kemudian, duplikat mungil Naraku lantas memasukkan benda itu ke dalam mulutnya.

Ketenangan orok pembawa kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar, ia mulai tidak bisa diam. Masih dengan ceria Kagome bertanya, "Apa kau sudah lapar, Akago-chan?"

"Jangan panggil akago-akago, namanya Hakaku!" ralat Higurashi Manami yang muncul dari dapur dengan membawa sepiring lauk.

Gadis itu berdekah karena teguran ibunya, lalu ia menyahut, "Aku tidak lupa, kok, Mama. Aku hanya belum menemukan panggilan yang pas untuknya."

"Memang kenapa dengan namanya?" wanita paruh baya itu menata piring makan di atas meja. "Artinya pun bagus," selorohnya sambil beranjak menuju dapur.

Naraku yang sejak tadi diam kini memandang Kagome dari seberang meja, "Itu nama pemberianku."

"Aku tahu," balas Kagome masih terus bermain dengan sang bayi. "Tapi aku tidak peduli." Gadis itu mengangkat kepala, sejenak ia terheran-heran bagaimana bisa laki-laki itu tetap terlihat maskulin meski menggelung rambut panjang bergelombangnya di tengkuk. Ingin rasanya Kagome menendang bokongnya sendiri persis saat itu. Dengan senyum menantang dan kalimat menentang gadis itu berceloteh, "aku akan memanggilnya Haku saja."

Keras kepala memanglah separuh dari watak buruknya, Kagome tak mau mengalah. Entah sudah berapa kali ia memainkan permainan itu. Keluarganya pun tahu bahwa ia hobi memusuhi Naraku. Melihat air muka pria itu bergolak menahan amarah adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya.

"Aku akan membawa Haku main di taman." Kagome bangkit, ayah anak itu pun menyertai.

Dua pasang mata yang ada di ruangan itu melirik sekilas pada Naraku, pengantin baru yang mereka anggap terlalu protektif terhadap anak semata wayangnya.

Baru sampai di lorong menuju pintu, Kagome memutar tumit. Ia memutuskan untuk berbelok dan menapak anak tangga, gadis itu hendak ke kamar lamanya demi mengambil dompet terlebih dahulu.

Melihat lelaki itu membuntuti, gadis itu menghentikan langkah di depan pintu kamar. "Apa yang kau lakukan?" sentaknya.

Nada pelukis yang terkenal sebab mengusung genre hyperrealism hampir di tiap karyanya itu masih teduh, "Itu juga yang menjadi pertanyaanku, apa yang kau lakukan?"

Gejolak tidak senang kembali terbangun dalam diri Kagome. "Mengapa kau mengikutiku?"

"Aku ingin menegaskan sesuatu padamu. Aku ingin kau menghentikan sikap infantil itu."

Dengan sengit Kagome melontarkan kalimatnya, "Bagian mana yang kau sebut dengan sikap kekanak-kanakan, hah? Apa perlu kuingatkan bahwa kaulah satu-satunya orang yang menerobos masuk dengan cukup mabuk dan menciumku lebih dulu?"

"Jika itu penyebabnya-"

"Memang itu satu-satunya penyebab, bukan?" potong Kagome.

"Itu sudah lama berlalu."

"Seharusnya kita anggap saja angin lalu, begitu? Tanpa ada penjelasan dan kata maaf yang seharusnya diutarakan?" Kagome menarik udara melalui mulut, ia berupaya untuk meredakan emosi. Tapi percuma. Ia sudah tak tahan lagi untuk tidak menyemburkan semua yang ada di dalam otaknya selama satu tahun ini. "Mengapa? Karena kau pikir itu tidak perlu atau karena kau tidak menyesal?"

Naraku terdiam, tapi benaknya sibuk memutar ulang kenangan; kali pertama ia memetakan sebagian tubuh elok itu dengan tangannya, ketika ia menghirup aroma adiktif yang menguar dari kulit perempuan itu, manakala penglihatannya dimanjakan dengan selera dan indra pengecapnya ditaklukkan rasa manis di bibir gadis itu.

Sukma Naraku meyakini bahwa anggapan gadis itu benar adanya.

Dan, itulah yang kemudian pria itu lakukan: mewujudkan apa yang selama ini menempati posisi tertinggi di dalam fantasi.

Naraku menahan kedua lengan gadis itu. Ia membungkam ocehan Kagome dengan bibirnya. Gigi mereka sedikit berbenturan, tidak ada kelembutan dalam pertautan yang dihadiahkan.

Tangan kanan Kagome yang bebas menampik wajah kiri pria itu. Tetapi lelaki itu bergeming. Rengekan si bayilah yang akhirnya memisahkan mereka.

"Ssst ... " bisik Kagome sambil mengayun pelan makhluk tanpa dosa yang ada dalam dekapan.

Suara berat Naraku bagai bergema di lorong itu, intonasinya terdengar berbahaya, "Kau benar, aku sama sekali tidak menyesalinya, begitu pun dirimu."

Dengan dada yang naik turun, Kagome melisankan apa yang terkandung di lubuk hati, "Saat itu tidak. Tapi sekarang aku akan menyesalinya, walau aku harus menahan ...," ia menatap lekat sepasang netra cokelat itu dengan hati tersayat, "rasa terbakar setiap kali aku mengingat tempat di mana kau pernah menyentuhku."

Pria itu sudah membuka mulut tapi, apapun yang terlintas di pikirannya urung ia ucapkan.

Kagome memalingkan kepala, "hadapi saja, ini sebuah kesalahan." Gadis itu menepis tangan pria itu dan pergi meninggalkan sang seniman.

Pada saat yang bertepatan, bel berbunyi. Kagome yang tiba di anak tangga terbawah berkata lantang agar Souta atau ayahnya mendengar, "Biar aku saja!"

Di tengah lorong, Kagome bertemu dengan kakaknya yang muncul dari dapur. "Biar kugendong Hakaku, kau bergegaslah sambut Inuyasha!" perintah Kikyou. Kagome menurut, ia pun menyerahkan sang keponakan ke rangkulan wanita yang telah melahirkannya.

Naraku yang ikut turun segera menuju ke tempatnya semula, duduk bersama kepala keluarga Higurashi yang sejak tadi fokus membaca koran, dan Souta—adik ipar lainnya yang masih saja sibuk bermain game di gawai.

Ketika Manami sedang mengatur letak hidangan di atas meja, Kagome muncul bersama kekasihnya semenjak SMA. Si ibu segera menyapa laki-laki itu dengan ramah.

Hari itu, mereka semua memang sengaja berkumpul demi mengatur acara penting terkait masa depan Kagome.

Kecuali Naraku, semua yang ada di ruang utama segera menyambut Inuyasha, pemuda tampan yang dalam beberapa bulan lagi akan resmi menjadi suami Kagome Higurashi.

.

.

.

~The End~