My Hero Academia by Kohei Horikoshi

Pairing : Bakugou Katsuki x Uraraka Ochako

Aitakatta by naoirse

Warning : OOCs, marriage life!AU, No-Quirk!AU, tema pasaran, dan segala kekurangan lainnya. Fanfiksi ini jauh dari kata sempurna tapi semoga menghibur pembaca sekalian. Selamat membaca!

.

.

.

"Woi, angel face! Kau taruh mana kemeja warna abu-abu milikku, hah? Sudah kubilang gantungkan saja di balik pintu biar aku mudah mencarinya!" Bakugou Katsuki sudah uring-uringan di pagi hari. Bakugou Ochako, sang istri, sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Hari ini Katsuki tidak akan pulang karena selama tiga hari dua malam dia akan mengikuti seminar leadership yang diselenggarakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sambil mencicipi sup buatannya, Ochako balas berteriak,"Tentu saja kutaruh di lemari bersama baju-bajumu yang lain. Untuk persediaan baju ganti selama kau di Kyoto semua sudah kulipat di dalam koper. Berhenti berteriak, Katsuki-kun. Kau merusak pagi yang cerah dengan suaramu!"

"Brengsek kau istri sialan! Jangan cari gara-gara denganku!"

Satu alis Ochako terangkat, sedetik kemudian wanita berusia dua puluh enam itu tertawa. Sejak dulu Katsuki tidak berubah. Masih saja kasar dan suka marah-marah. Ochako heran bagaimana dia bisa bertahan dengan pria seperti Katsuki. Menjalin hubungan sejak kelas dua SMA, mengalami suka duka bahkan mereka pernah putus nyambung karena ego masing-masing. Tapi, jika takdir sudah menuliskan bahwa pria bar-bar itu akan menjadi suaminya kelak, Ochako tentu tak bisa menolak. Sarapan dan minuman hangat telah siap di atas meja saat Katsuki turun dengan wajah bersungut. Ochako menghampiri suaminya sebelum pria itu duduk di kursinya.

"Dasimu berantakan, tahu!" Ochako merapikan dasi Katsuki lalu memberi kecupan selamat pagi di bibir Katsuki.

"Tidak ada french kiss, huh?" Katsuki masih merasa 'kurang' hanya dengan ciuman singkat.

Ochako memukul bahu kekar suaminya. "Kau bisa telat jika kita melakukan itu."

Setelah obrolan kecil itu, Katsuki dan Ochako menikmati sarapan mereka. Diam-diam Ochako melirik suaminya yang makan dengan lahap. Tumben sekali dia tidak protes. Biasanya Katsuki sering mengkritik masakannya ; dagingnya kurang lembut, kurang garam, kurang gula, kenapa ikannya sedikit bau, dan komentar-komentar pedas lainnya membuat Ochako berpikir bahwa lebih baik Katsuki mendaftar jadi juri acara memasak di televisi saja daripada menjadi budak korporat.

"Apa?" Katsuki menyadari bahwa sejak tadi istrinya sedang memandanginya.

Ochako menggeleng. "Umm, tidak ada apa-apa. Lanjutkan makanmu, sebentar lagi jam delapan. Kau harus mengejar kereta secepatnya."

Katsuki mendecih, lalu menghabiskan sarapannya dengan cepat. Ochako membereskan piring dan gelas kotor sementara Katsuki menyambar tas kerjanya. Salah satu tangannya menyeret koper.

"Kalau kangen telepon saja, mengerti? Akan kuhubungi jika aku sedang tak sibuk." Katsuki mengenakan sepatu kerjanya. Ochako berdiri tanpa bicara apa-apa.

"Mungkin saja Katsuki yang kangen padaku setiba di Kyoto, ehee."

"Bodoh, mana mungkin aku bersikap begitu? Aku berangkat sekarang. Mana pelukannya? Jangan buat aku menunggu!"

Ochako memeluk tubuh tegap Katsuki dan pria itu membalasnya dengan melumat bibir sang istri dengan sayang. "Jangan keluyuran selama aku tidak ada, paham? Jangan jalan-jalan sendirian, minta si gadis kodok atau si kuncir kuda untuk menemanimu. Jangan minta ditemani Kirishima atau Kaminari! Kalau butuh bodyguard pakai saja jasa si Deku. Jangan biarkan orang asing masuk atau—"

"Katsukiiii, kau hampir telat!" Ochako memotong rentetan wejangan suaminya yang sepertinya bisa menghabiskan waktu lama.

"Sialan, aku berangkat!"

Katsuki melambai, dan sosok itu semakin mengecil dan jauh hingga perlahan lenyap dari jangkauan pandang Ochako.

"Hmph, sekarang aku bisa bebas marathon nonton drama korea yang lagi nge-hits! Hihihihiii!" Ochako menari-nari gembira, menaiki tangga menuju kamar dan menyalakan laptop.

"Terakhir kali Katsuki memarahiku habis-habisan karena seharian aku nonton drakor, sekarang aku bebas, tidak ada gangguan, tidak ada teriakan, damainya hari ini."

Setelah menonton tiga episode sekaligus, Ochako terkapar dengan suara dengkuran halus sementara laptop masih menyala.

Ochako terjaga saat angin sepoi masuk melalui celah jendela kamar. Angin itu membawa kesejukan di saat gelombang panas terasa membakar. Musim panas selalu menjadi musim yang dibenci Ochako karena dia tak bisa berada di luar terlalu lama. Kulitnya sensitif dengan cahaya matahari yang berlebihan. Wanita itu bahkan hampir tidak pernah ke pantai jika memang tidak mendesak ; contohnya saat teman-teman kantornya mengajaknya. Setelah menikah, waktu bermain Ochako bersama teman wanita seusianya terkikis karena rata-rata mereka masih betah melajang. Ochako mengedarkan pandang ke setiap sudut kamarnya. Sepi sekali. Sisi tempat tidurnya kosong, biasanya Katsuki suka bangun kesiangan saat hari Minggu membuat Ochako mau tak mau membawa sarapan ke kamar dan membiarkan suaminya menikmati makanannya di atas tempat tidur.

Ochako mengecek ponselnya. Masih tidak ada kabar dari Katsuki. Mungkin suaminya masih sibuk sehingga tidak sempat menghubunginya. Wanita muda itu turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju lemari kayu dengan laci bersusun. Ochako mengeluarkan beberapa album foto sekaligus, lalu iseng membuka album pernikahannya dengan Katsuki. Jemari lentik itu menyentuh permukaan foto pasangan pengantin yang baru saja mengucapkan janji suci sehidup semati. Katsuki luar biasa tampan dengan setelan tuxedo abu-abu cerah.

"Aku kenapa sih? Mana mungkin aku merindukannya padahal belum ada sehari dia tidak di sini." Ochako mengacak rambutnya lalu mengembalikan album ke tempat semula. Wanita itu merasa bosan meski pada awalnya dia antusias karena bisa bebas melakukan apa saja tanpa harus mendengar bentakan Katsuki yang membuat telinganya sakit. Ochako mencoba menghubungi Tsuyu dan Yaomomo, teman semasa SMA, namun keduanya dengan menyesal berkata bahwa hari ini mereka sudah membuat janji berkencan dengan kekasih masing-masing. Ochako mematung. Berkencan... Bicara soal kencan, sudah lama sekali Ochako tidak melakukannya dengan Katsuki. Katsuki yang sibuk dan terkadang lembur, jika hari libur pria itu lebih suka tidur atau pergi ke gym untuk menjaga kebugaran. Kadang Ochako menemani suaminya membakar kalori di sana, tapi setelah itu Katsuki melarangnya karena banyak mata-mata nakal yang memandangi Ochako dengan penasaran. Istrinya bukan untuk konsumsi publik! Katsuki pernah marah-marah dan hampir menantang seluruh pengunjung gym yang berjenis kelamin laki-laki untuk berkelahi.

Hingga angin sore mulai bertiup pelan dan udara panas digantikan rasa sejuk, Ochako masih belum mendengar kabar dari Katsuki. Wanita itu mulai kesal. Dia sudah mengirim puluhan pesan singkat namun tak satu pun mendapat balasan. Sesibuk apa sih Katsuki di Kyoto? Kegiatan seminar mungkin hanya memerlukan waktu maksimal dua atau tiga jam. Ochako menggigil. Jangan-jangan Katsuki digoda geisha yang bekerja di penginapan, atau ada wanita setempat yang tertarik padanya, lalu... arggg! Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi kepala Ochako. Meski bar-bar dan liar, Katsuki juga tak luput dari siulan dan godaan wanita lain. Terkadang wanita di luar sana punya selera unik soal pria idaman. Sudah bukan jamannya lagi mencari pria kalem baik-baik. Wanita modern lebih menyukai pria agresif dan blak-blakan.

Ochako hampir menjerit saat mendengar ponselnya bergetar. Di layar ponsel, terpampang nama sang pengirim ; suaminya.

Dasar tukang spam! Aku baru saja berendam di onsen. Baru ditinggal sebentar kau sudah kangen padaku hah?

Ochako diam-diam iri membayangkan betapa nikmatnya berendam di onsen. Tapi ini musim panas! Apa Katsuki sudah gila?

Siapa yang kangen, huh? Aku bersenang-senang sepanjang hari ini.

Kau pasti menonton drama sialan itu selagi aku tak ada, kan? Kalau kerjamu hanya rebahan sambil nonton drama lama-lama kau akan segendut babi!

Jahat sekali! Aku tidak jadi kangen padamu, baka!

Jangan mengataiku bodoh, sialan.

Biar saja. Aku tak peduli.

Mereka saling berbalas pesan yang isinya kebanyakan saling meledek satu sama lain. Ochako diam-diam tertawa, entah mengapa dia serasa mendengar suara Katsuki dalam pesan teks yang dikirim suaminya. Ochako memutuskan untuk tidak membalas pesan terakhir Katsuki karena jam di dinding telah menunjukkan pukul enam sore. Wanita itu merasa enggan meninggalkan tempat tidur tapi dia harus mandi dan menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Malam itu, Ochako menyeduh ramen cup dan memakannya di atas sofa sambil menonton serial kesukaannya. Katsuki baru saja mengiriminya pesan yang isinya menanyakan menu makan malam Ochako dan wanita itu mengambil foto wadah ramen cup di atas meja. Katsuki memberinya emoji tertawa menyebalkan dan Ochako merengut, lalu diikuti kata-kata bahwa Ochako kesepian dan merindukan kehadirannya.

Aku mau tidur. Jangan ganggu aku, Katsuki.

Ochako membubuhkan emoji mengantuk di akhir pesan lalu menekan tombol kirim. Katsuki membalasnya dengan sebuah foto yang membuat Ochako nyaris tersedak. Bagaimana tidak, suaminya baru saja mengirim foto seksi—uukkh, foto setengah tubuhnya yang tak mengenakan apapun. Ochako bisa melihat jelas lengan suaminya yang berotot, bahu bidang dan leher yang menggoda.

Gunakan foto ini untuk bahan fantasimu selama aku tak ada di sana, baka.

Rona merah tipis menghiasi pipi gembul Ochako. Katsuki hapal dengan kebiasaan sang istri yang sering bergelayutan di lengannya serta mencium-cium lehernya, menghirup aroma maskulin miliknya yang memabukkan.

Tidak akan, Bakatsuki~~

Kau harus belajar menahan diri, Nyonya Bakugou. Oyasumi, marugao.

Bahkan setelah menikah pun Katsuki masih memanggilnya dengan sebutan muka bundar, pipi tembam, dan julukan-julukan yang melekat semasa SMA membuat Ochako merasa nostalgia. Ochako meletakkan ponselnya di atas meja kayu, lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut hingga di bawah dagu. Kamar itu terasa hampa tanpa Katsuki di sisinya. Biasanya, Katsuki akan mengajaknya cuddling sebentar, sekadar memeluk dan mencium, merengkuh tubuh Ochako untuk menyalurkan kehangatan. Momen sederhana seperti itu mereka lakukan hampir setiap malam dan kini Ochako memeluk tubuhnya sendiri sambil membayangkan sosok suaminya.

.

.

.

Ochako menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Meski langit biru telah digantikan warna oranye keemasan dan matahari tak bersinar seterik saat siang, hawa panas masih menyusup lewat pori-pori kulit Ochako. Helaian cokelat wanita itu terasa lengket membuat Ochako terpaksa mengikatnya. Sebagai accounting staff, Ochako cukup sering mengalami stress dan kelelahan yang membuatnya berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Katsuki bahkan menyuruhnya tinggal di rumah dan fokus menjadi ibu rumah tangga saja tapi saran itu ditolak mentah-mentah. Menurut Ochako, hal itu hanya bisa dilakukan saat kelak mereka memiliki anak. Katsuki tak lagi mengungkit soal itu dan membiarkan Ochako bekerja. Jika wanita itu bekerja terlalu keras, Katsuki mungkin akan kembali membujuknya.

"Ah, besok Katsuki pulang. Hari ini aku harus ke supermarket untuk belanja banyak bahan makanan. Aku akan berburu resep dan membuat menu baru spesial, semoga saja Katsuki menyukainya."

Ochako menghabiskan waktu hampir setengah jam memilih bahan makanan ; daging sapi, sayuran, buah-buahan, dan beberapa bungkus cemilan untuk menemani malamnya nanti. Tinggal satu malam lagi setelah itu Katsuki akan kembali. Ochako bersenandung kecil, menenteng barang belanjaan dalam perjalanan pulang. Saat di suprmarket tadi Ochako sempat berpapasan dengan Kaminari Denki dan Todoroki Shouto. Mereka berbincang sebentar, bahkan Shouto berbaik hati ingin mengantarnya pulang namun Ochako menolaknya halus karena ia tak ingin merepotkan siapapun. Ochako tertawa geli membayangkan seandainya dia diantar pulang oleh Shouto lalu tiba-tiba muncul sosok Katsuki yang marah-marah karena cemburu.

"Dasar wanita gila, kenapa kau tertawa sendiri?"

Ochako nyaris menjatuhkan belanjaannya saat melihat sosok Katsuki bersandar di sisi pintu masuk sambil melipat tangan. Raut wajahnya sedikit letih, mungkin kelelahan.

"K-Katsukiiii? Kenapa kau ada di sini? Bukankah masih ada satu malam lagi? Jangan-jangan kau melarikan diri atau pulang lebih awal karena rindu padaku?" Ochako menghambur ke pelukan suaminya. Belanjaannya jatuh begitu saja. Katsuki mendengus menahan tawa mendengar pertanyaan istrinya yang konyol.

"Baka, siapa yang akan melakukan hal seperti itu? Seminar dipercepat, semua kegiatan yang direncanakan akan dilaksanakan besok dimajukan hari ini. Sialan aku capek sekali dan lapar. Apa yang kau beli? Selama aku tak ada kau pasti banyak ngemil, pipi gendut." Katsuki menangkup kedua pipi tembam istrinya lalu menarik-nariknya gemas. Ochako mengerucutkan bibirnya, mengaduh lirih karena ulah usil Katsuki.

"Aku benar-benar tak menyangka kau akan pulang hari ini. Untung saja—ups!" Ochako buru-buru menutup mulutnya, nyaris keceplosan.

Kedua mata Katsuki memicing curiga. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku, heh?"

Ochako menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehehe, sebenarnya saat belanja tadi aku ketemu Todoroki-kun dan Kaminari-kun lalu Todoroki-kun menawariku tumpangan tapi aku menolaknya."

"Dasar bodoh, kenapa tidak kau terima saja. Daripada naik kereta berdesak-desakan."

"E-eh? Tapi nanti kau cemburu. Lalu kau akan mencari-cari alasan agar bisa memberiku hukuman, huh."

Katsuki menyeringai, tidak membantah ucapan istrinya barusan. "Tapi kau selalu menyukai segala jenis hukuman yang kuberikan, Nyonya Bakugou."

"Mouuu, Katsuki." Ochako menggembungkan pipinya, membuat Katsuki gemas. Pria berambut ash blonde menundukkan wajahnya untuk melumat bibir Ochako.

"Tadaima, muka bundar."

"Okaeri, Bakatsuki."

Keduanya saling berpandangan selama beberapa detik, lalu tertawa bersamaan. Ochako memungut kembali barang belanjaannya dan mengikuti langkah suaminya masuk ke apartemen mereka.

"Aku tak sabar ingin menikmati makan malamku, bersiaplah Ochako." Katsuki melingkari pinggang ramping sang istri, tersenyum penuh misteri. Ochako memerah, mengerti betul maksud tersembunyi dari kalimat yang baru saja didengarnya. Sepertinya malam nanti akan menjadi pertempuran panjang dan melelahkan.

End.