Rasa
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
Maaf bila saja ku suka
Saat kau ada yang punya
Haruskah ku pendam rasa ini saja
Ataukah ku teruskan saja
Hingga kau meninggalkannya dan kita bersama
Hivi ~ Orang Ke-3
Apa yang sudah ditakdirkan untukmu, akan menjadi milikmu
She
.
Kiba selalu menyukainya. Menyukai bagaimana cara Yamanaka Ino berjalan, tertawa, marah, menangis dan berbagai hal tentangnya selalu menarik perhatian.
Ia suka bagaimana rambut pirangnya sengaja digerai, dengan jepitan rambut yang terpasang di bagian kiri kepala. Kagum dengan iris matanya yang biru serupa langit musim semi. Intinya berbagai hal yang melekat pada diri Ino adalah kesempurnaan yang mulia.
Pada malam-malam yang sunyi, ia kadang memimpikan gadis itu tengah tersenyum padanya. Menggumamkan kalimat manis yang serasa abadi. Yeah, sayangnya segalanya sirna ketika ia sadar bahwa semua itu cuma mimpi. Yamanaka Ino sudah ada yang punya, dan orang itu sahabatnya sendiri
Rasanya konyol, tapi kadang-kadang cinta memang begitu, jatuh pada seseorang yang tidak tepat.
Broken Heart
.
"Fiuh, patah hati." Naruto bergumam di sampingnya. Mengikuti pandangan Kiba ke arah Ino yang tertawa bersama Shikamaru dan Sakura di meja lain kantin.
Ramennya mengepulkan uap panas yang menggiurkan, namun rasa lapar pemuda Inuzuka itu langsung lenyap. Naruto benar, dan ia tidak berusaha menyangkal.
"Kau pengecut sekali sih, kalau misalnya kau suka, harusnya dari awal kau nyatakan saja perasaanmu. Jadi keduluan orang lain kan?" Uzumaki mencebikkan bibir dan mulai menyumpit mie ramennya.
Kali Naruto benar lagi, mungkin memiliki teman yang terlalu dekat itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Karena mereka nyaris selalu tahu apa yang kau rasakan. "Mungkin dia tidak mencintaiku."
"Kau kan belum mencoba Bro." Bocah pirang itu menghela napas, antara kepanasan kuah ramen dan merasa sedikit kesal dengan sikap temannya selama ini. "Mana coba Inuzuka yang katanya pantang menyerah itu? Apa dia cuma jago lapangan saja? Yeah, seharusnya kau juga jago mendapatkan hati gadis pujaanmu kan?"
Kiba meringis, alih-alih mendengus pelan. Kalimat Naruto konyol, terlalu aneh sampai ia tidak bisa membayangkan aksi apa yang akan ia lakukan untuk menyatakan perasaan pada gadis itu. "Aku cukup dekat dengan Shikamaru, rasanya tidak bagus kalau tiba-tiba aku merebut pacarnya."
Go Home
.
Ketika melangkah keluar kelas, Kiba dikejutkan dengan kehadiran Yamanaka Ino. Gadis itu berdiri dengan binar mata ceria ketika melihat Kiba, senyumnya terulas tipis di bibir merah mudanya. Pemuda Inuzuka itu mengerjap, berusaha melekatkan senyum si gadis di memorinya
"Hai Inuzuka, Shikamaru ada?"
Butuh beberapa saat untuk mencerna pertanyaan Ino, karena jujur, pertanyaan itu terdengar agak menyakitkan. "Dia ada rapat OSIS, kau tidak tahu?"
Si pirang menggeleng, mengernyit heran. "Shikamaru tega sekali, dia bahkan tidak mengirim pesan apa-apa."
Yeah, kalau saja ia tak memiliki perasaan pada gadis itu, mungkin ceritanya akan berbeda. Ia nyaris melangkah dan berpura-pura urusannya sudah selesai, meski sebenarnya ia ingin berada bersama Yamanaka lebih lama lagi. "Kalau begitu, aku pulang dulu."
"Eh, Inuzuka."
Reflek Kiba menoleh, menghentikan langkahnya. "Kenapa?"
Lagi-lagi Ino tersenyum, berjalan mendekat ke arah pria itu. "Rumah kita searah kan? Aku pulang bareng kamu ya."
Tidak butuh waktu lama bagi jantung Kiba untuk meletuskan kembang api. Astaga, ini pertama kalinya ia pulang bareng Yamanaka Ino. Rasanya tidak sia-sia pulang paling akhir.
Reason
.
"Permainan sepak bolamu bagus sekali Kiba." Ino tersenyum di dekat Shikamaru. Sementara si pria Nara memasang wajah bosan yang kelewat parah, Kiba tersipu dan tersenyum pelan. Untuk pertama kalinya Yamanaka Ino mmanggilnya 'Kiba' tanpa embel-embel marganya. Itu cukup akrab, dan ia menyukainya.
"Wah, aku kan tidak sehebat itu." Katanya sembari mengusap peluh, dan mengerling Naruto yang menyeringai di dekatnya.
Ino mengerucutkan bibir, menatap Shikamaru sekilas sebelum menatapnya lagi. "Dibanding Shikamaru, kau jauh lebih hebat."
"Astaga Ino, tentu saja permianan sepak bolanya lebih bagus. Kalau tidak begitu, mana mungkin pelatih memilihnya sebagai kapten." Shikamaru menggerutu, ekspresi sebalnya semakin tampak nyata.
Meski merasa senang, Kiba agak heran dengan sikap teman dekatnya itu. Seolah Ino itu parasit yang terlalu mengganggu, padahal gadis itu kadang-kadang rela pulang sore demi menunggunya main bola. Yang tidak Ino tahu, Kiba diam-diam berharap dia berada di tribun untuk menyaksikannya, bukan menyaksikan Shikamaru. Tapi kemajuan sore ini ternyata cukup mengejutkan. Entahlah, jika bisa disebut begitu.
Rainy day
.
Naruto sudah pulang duluan, alasannya kencan dengan Hinata, dan meninggalkannya sendirian. Yeah, itu agak menyebalkan. Tapi ia juga tidak punya hak untuk mencegah temannya berkencan dengan pacar kesayangannya kan? Jadi di sinilah Kiba, terjebak di sekolah karena hujan yang mendadak turun dengan intensitas mengerikan.
Karena kesal, ia nyaris berlari meninggalkan gedung sekolah. Lagipula seragamnya tidak akan dipakai lagi besok. Namun, niat itu mendadak luntur dalam sekejap ketika ia tidak sengaja mengarahkan pandangan pada sebuah bangku di depan salah satu kelas. Ada Yamanaka Ino.
Astaga, melihatnya dari jauh saja sudah mampu membuatnya tersenyum. Mungkin gadis itu bisa merasakan jika tengah diperhatikan, karena dalam beberapa detik kemudian iris sewarna biru lautnya mengarah tepat pada Kiba. Jantung Kiba nyaris lolos, dan ia berusaha keras tak terkejut dengan tatapan tiba-tiba itu.
Ino tidak seceria biasanya, matanya sembap. Dan untuk alasan tertentu yang tidak ia pahami, kakinya melangkah mendekat. Merasa perlu tahu apa yang tengah terjadi padanya.
"Yamanaka?
Gadis itu terisak lagi. "Jangan melihatku begitu." Dia menutup wajahnya dengan dengan kedua tangan. Kembali menangis.
"Hei, apa yang terjadi?" Kiba duduk di samping si pirang, berusaha memasang telinganya baik-baik.
Ino agak mendongak menatapnya, memperlihatkan wajah merahnya yang menyedihkan. "Kata Sakura, Shikamaru mulai berkencan dengan Temari."
Kiba mengerjap, sekali, dua kali. Ia nyaris tidak percaya dengan pernyataan itu. Temari anak kelas 2 D, yang tergabung dalam tim voli itu kan? Benarkah?
Hari hujan. Ino yang menangis. Kiba yang bersimpati. Astaga, sore itu seolah menjadi sore yang panjang, karena ia harus benar-benar meyakinkan gadis itu jika Shikamaru tidak mungkin berkencan dengan Temari. Padahal sejujurnya ia berharap hal itu benar, lalu mereka putus, agar ia bisa jadian dengan Ino. Tapi ya Tuhan, kedengarannya keinginan terpendamnya terlalu jahat untuk Ino.
Kiss
.
Kiba tidak terlalu menyukai pesta. Apalagi pesta topeng aneh yang diadakan sekolah. Itu agak menjijikan, dimana para siswa diharuskan memakai jas hitam formal dan siswinya memakai gaun. Yang benar saja deh.
Tapi ketika diam-diam ia mengajak Yamanaka Ino berdansa dengan alunan musik lembut. Ia mulai menyadari jika pesta dansa sekolah tidak seburuk itu. Apalagi Ino tampak cantik sekali dengan gaun ungu selututnya, topengnya juga berwarna ungu dengan sentuhan gliter yang menawan di bawah lampu redup. Astaga, itu menakjubkan.
Dan hal itu terjadi begitu saja. Dimana semua pasangan menari, sementara ia mencium Yamanaka Ino. Ciuman singkat namun mengejutkan. Meski sempat terkejut, Ino tak merasa perlu marah. Karena detik berikutnya si pemuda nyaris melarikan diri, dan gadis itu menahan tangannya.
"Tunggu, siapa namamu?
Kiba tak menghiraukannya. Yang benar saja, Ino bahkan tidak mengenalinya. Apakah topeng itu nyaris menutupi seluruh wajahnya?
Probably
.
Shikamaru dan Ino bertengkar di taman belakang sekolah. Kiba yang saat itu tidak sengaja lewat berusaha bersembunyi di balik tembok, mengintip mereka lewat celah. Antara penasaran dan takut mengganggu urusan mereka.
"Bukankah kau yang memulainya?" Si pirang sudah berurai air mata ketika mengatakannya. Suaranya parau, sementara ekspresi wajah lawan bicaranya tetap sebosan biasanya. "Kau berdansa dengan Temari, dan bahkan tidak repot-repot mencariku. Jadi apa salahnya jika aku berdansa dengan pria lain?"
"Pikirkan saja sendiri salahmu Dasar wanita merepotkan."
Bahkan ketika Shikamaru meninggalkan Ino sendirian, ia masih tak punya nyali untuk muncul di hadapan gadis itu dan memeluknya.Shikamaru keterlaluan.
Know
.
Latihan sepak bola tidak berjalan seperti biasanya karena aksi pertengkaran Shikamaru dan Ino di bangku tribun. Ino menangis karena pemuda itu membentaknya. Kiba tak paham apa yang mereka perdebatkan, tapi ketika kemarahan si Nara semakin menjadi, entah dari mana ia memiliki keberanian untuk mendekat. Nyaris lupa jika belasan pasang mata disana memperhatikannya.
"Hei Bro, kau sudah berlebihan." Ia menarik napas panjang, dan Ino memandangnya seolah memohon untuk dipahami. Ya Tuhan, kenapa gadis itu harus memasang ekspresi itu sih?
"Jangan ikut campur Inuzuka." Shikamaru mengeraskan rahangnya, kesal karena keikut sertaan Kiba dalam aktivitas itu
"Bukan seperti itu caranya memperlakukan pacarmu--"
"Jadi seperti apa?" Matanya nyalang menatap tepat ke arah iris karamel Inuzuka, untungnya Pak Guru Kakashi selaku pelatih mereka tidak hadir hari itu. Shikamaru terkekeh, sebelum kembali berkata. "Sepertimu?"
Kiba mengerjap, mengalihkan pandangan ke arah Ino sementara gadis itu masih menunduk dan terisak.
"Kau menyukai Ino kan?"
Woah, setiap wajah disana terkesiap. Entah kenapa Kiba malah merasa setengah lega, meski Ino kelihatannya shok parah.
Kebenaran
.
Tak ada lagi Yamanaka Ino. Gadis itu tak hadir di sekolah selama beberapa hari, dan Shikamaru juga menghindarinya setelah insiden debat selasa sore itu. Suasana sekolah tak lagi membuatnya nyaman, tapi untungnya Naruto tidak pernah kehabisan bahan guyonan untuk membuatnya sesekali tertawa.
Lalu, sepulang sekolah hari itu Kiba memutuskan mampir ke rumah Ino. Memastikan gadis itu baik-baik saja, atau mungkin ia memang perlu minta maaf.
.
.
Ino sakit.
Itu yang dikatakan Nyonya Yamanaka ketika Kiba sampai di sana. Wanita itu mengantarkan Kiba ke kamar putrinya, dan menunjukkan betapa menyedihkannya Ino dibalik piyama ungu bergambar teddy bearnya. Gadis itu tersipu melihat tamu dadakannya, sementara si pemuda malah tertawa pelan. Yeah, ia tidak menyangka bakal dapat kesempatan masuk ke kamar Ino
"Well, aku minta maaf."
"Ya Tuhan, bukan kau yang salah Kiba." Ino menghela napas panjang, menunduk untuk menyembunyikan air mata yang nyaris tumpah lagi. "Lagipula hubunganku dan Shikamaru memang tidak seharusnya dipertahankan lagi. Kami sudah putus."
Inuzuka tidak bisa menyembunyikan ekspresi terlejutnya kali ini. "Ino, dia benar."
"Apa?"
"Pria yang menciummu di pesta dansa sekolah itu aku."
Ino melebarkan matanya, keningnya mengernyit dan ekspresinya tengah memikirkan sesuatu.
"Ya Tuhan, apalagi yang kau tunggu?" Naruto menyesap jusnya secara tidak sabar ketika melihat Ino tengah bercanda bersama Sakura di meja kantin biasanya. Kali ini tanpa Shikamaru, karena dengar-dengar setelah putus dari Ino dia nembak Temari. "Sekarang dia jomblo Bro."
"Aku sudah berusaha mendekatinya, jangan khawatir soal itu."
"Ah, kelamaan." Ia menghela napas panjang, sebelum berkata. "Hei Yamanaka Ino." Teriaknya, yang langsung membuat si empunya nama segera menoleh ke sumber suara. "Inuzuka Kiba mencintaimu."
Seisi kantin langsung heboh, sebagian mendengungkan tawa sebagiannya lagi cuma berkomentar campur aduk. Naruto sialan, mau diletakkan dimana mukanya ini, astaga. Dan ekspresi Ino tak bisa dideskripsikan.
.
.
Latihan sepak bola libur sore itu. Tapi Kiba tidak berhenti menggiring bola ke arah gawang dan menendangnya kuat-kuat. Rasanya hari ini mengesalkan sekali. Bukan karena Shikamaru yang masih mencuekinya, tapi juga karena Naruto yang mempermalukannya di depan umum. Itu mengerikan.
"Kiba aku mencarimu."
Reflek ia menghentikan aksi kakinya hanya untuk menoleh pada suara yang familiar itu. "Ino?" Dia bahkan mengabaikan peluh yang menetes dari pelipisnya, terlalu terkejut dengan kehadiran Yamanaka. "Ada apa?"
"Cuma mau lihat kau berlatih sepak bola saja."
Kiba mengerjap, ini bukan mimpi kan?
Sebenarnya iri parah ketika melihat Hinata memberikan cokelat batangan pada Naruto, di hadapannya pula. Ya Tuhan, mereka berusaha caper atau bagaimana sih? Dan sepanjang jalan menuju kelas, bocah pirang itu tak berhenti mengiming-iminginya dengan cokelat batangan dengan pita merah yang melilitnya dengan rapi. Dan ia cuma bisa memutar bola mata menanggapinya.
Yeah mungkin ia perlu memberikan hal serupa pada Ino, apa perlu bunga mawar juga? Eh, tapi mereka kan tidak memiliki hubungan apapun selain teman.
Lalu, ketika Kiba berusaha mencari buku paket di laci mejanya, yang ia dapati malah setangkai mawar merah dan cokelat batangan. Ada potongan kertas kecil yang terselip di pita cokelatnya. Tanpa menunggu waktu lama, Kiba membukanya.
'Dari Yamanaka Ino'
'I Love You Too'
Dan Naruto nyeletuk di dekatnya, sembari sedikit mengintip apa yang baru saja didapat teman dekatnya. "Aku menyuruh Hinata untuk meletakkan setangkai mawar di laci meja Ino dengan surat bertuliskan 'Aku mencintaimu,' dan dia membalasnya Bro. Bagaimana menurutmu?"
Setengah kalimat Naruto tak mampu lagi dicerna otaknya. Karena balasan 'I Love You Too' dari Yamanaka Ino lebih menarik perhatiannya. Jadi kalau begitu, apa hubungannya dengan Ino bisa disebut pacaran sekarang? Meski yeah, aksi Naruto terlalu menguji nyali.
end
~Lin
23 Maret 2020
