Separuh Rasa
by Ayzahra
a future-fic dari A Minute
Warning:
deathchara, AT, AU
Ying pernah ada dalam hidup Taufan. Keduanya berteman baik.
"Taufan..., apa kabar?"
Taufan tersenyum tipis ketika teringat pertanyaan itu. Rasa rindunya turut mengembang bersamaan air mata yang tak mau berhenti. Tidak apa-apa, 'kan, kalau kini keadaannya barangkali kelihatan mengenaskan di mata beberapa orang?—dengan rambut acak-acakan, sorot mata layu, dan muka berbekas air mata. Toh ia sedang berada di kamarnya sendiri.
Taufan mengedarkan pandangan. Dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua ia bisa melihat atap-atap rumah, orang-orang berlalu lalang—mulai beraktivitas di pagi hari—, atau daun-daun tertinggi dari pohon-pohon tinggi pula. Jika ia menengok ke atas, akan ada hamparan langit cerah menyapanya. Taufan mendadak bermuka sebal. Menurutnya bukan hanya menyapa, tetapi juga menantangnya tentang siapa yang paling terlihat cerah pada tiap-tiap harinya.
Ah, langit, kau mengingatkan laki-laki itu pada sahabatnya. Bukan salahmu juga yang selalu tampak cerah akhir-akhir ini. Sepertinya memang Taufan yang sedang suram. Sampai sekarang pun belum ada tawa maupun lelucon dari mulutnya.
Ada jeda di sela-sela helaan napas dan dua-tiga kata. Ada sesak yang menyertainya. Ada pula beribu kata semoga yang terselip di dalamnya. "Terima kasih, Ying."
Ada banyak momen-momen kebersamaannya dengan Ying. Cerita itu telah tertulis sejak lama. Sepertinya pertemuan di perpustakaanlah yang mengawali cerita panjang itu. Jangan kaukira seluruh alurnya sesuai harapan.
Ada sebuah rasa yang mungkin hanya aku yang merasakannya.
Taufan kembali diam. Kata-katanya enggan keluar. Itu tak jauh berbeda dengan sepasang kakinya yang masih terpaku sejak kurang lebih lima belas menit yang lalu. Langit, setiap orang memiliki pendapat. Barangkali menurut pemuda itu waktu sejumlah lima belas menit masih belum cukup untuk mengenang Ying. Ah, pemilik nama itu juga tak kalah sering dengan teman-temannya dalam hal membuat senyumnya terulas.
Membicarakan soal Ying dan senyum, sudut bibir Taufan terangkat sedikit. Itu nyata, bukan hanya dalam bayangan, seperti manisnya senyum Ying sekarang. Huh, dasar. Kalau Ying mengetahui tentangnya sekarang, gadis berkacamata itu pasti sudah mendengus. Bisa jadi ia pun akan berkata—
"Gombal."
Bukan suara Ying yang didengarnya baru saja. Itu suaranya sendiri. Lirih memang, tapi seirama dengan pikirannya tentang bagaimana Ying mengatakan itu.
Sungguh, keramaian dalam pikirannya membuatnya senang sekaligus sesak. Ia dapat mengunjungi waktu-waktu yang telah lalu, tapi tak bisa membawa kembali mereka semua. Oleh-olehnya berupa kenangan.
Salah satu hal yang Ying sukai menurut Taufan adalah menggambar. Berulangkali laki-laki itu menemukan hasilnya di beberapa buku atau kertas Ying. Bisa jadi itu lebih tepatnya adalah pelampiasan rasa bosan, ya? Lalu Ying bakal menggembungkan pipinya jika dibilang seperti itu. Taufan ingin tertawa mengingatnya.
Taufan berbalik menjauh dari udara sejuk yang menerpa wajahnya sedari tadi. Sebelum melakukannya, ia tarik napasnya dalam-dalam. Diraihnya sebuah topi di atas tempat tidurnya. Ia bercermin dan merapikan rambutnya dengan jemari tangan lalu ia pakaikan topi di kepalanya dengan arah hadap ke samping. Senyum tipis terulas.
Ying pernah ada dalam hidup Taufan. Keduanya berteman baik. Nah, lantas tidak apa-apa, 'kan, kalau masing-masing saling simpan rasa yang sama? Sama-sama menyembunyikannya dengan baik hingga akhirnya hamparan langit cerah berhasil mengabadikan pengungkapan dari dua manusia itu. Namun, dulu hanya ada pengungkapan, tidak ada hubungan asmara. Kondisi Ying mendukung keputusan itu.
Tidak apa-apa, 'kan, kalau perwujudan dari separuh rasa lainnya telah pergi seminggu yang lalu, sementara Taufan masih diam di posisinya?
Taufan melanjutkan langkahnya. Ia akan membasuh mukanya terlebih dahulu, memperbaiki penampilan. Selanjutnya ia akan membantu kakeknya dalam mengurus kedai beliau di hari libur ini, lebih tepatnya akhir pekan—dan melanjutkan kehidupannya.
Aku pergi. Sengaja harapan dan rindu kularang untuk ikut pada pemiliknya.
balik sebentar ke fic A Minute. awalnya enggak di dunia nyata gini, tapi taufan dari dunia fantasi gitulah:) di sini niatnya biar jelas aja relationship antar dua orang itu.
oh, dan halo, bulan april! wkwk kemarin ada pengumuman snmptn juga, ya? I hope good things accompany you all.
