This is my first story and disclaimer milik Mashahi Kishimoto. Aku nggak tau sih perlu atau engga selalu cantumin disclaimer soalnya jelas ):

Btw ini rate M dan bener-bener tulisan pertama aku. Jadi sori banget kalo banyak kekurangan. Dan kayanya aku bakal post ini beberapa bulan sebelum nanti aku hapus… karena aku nggak mau nyimpen cerita dengan rate bangsat kaya gini aja alesannya meskipun aku sebenernya suka :D

Satu lagi aku bener-bener ga ngedit cerita ini :')

Cerita ini didedikasikan untuk diriku sendiri yang suka horny tapi kurang puas dengan cerita-cerita yang ada saat ini :')


Wiper mobil Range Rover yang sedang ditumpanginya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mempertahankan jendela depan agar tidak tertutup oleh rintik air hujan. di dalam mobil, suhu udara dingin akibat AC yang menyala.

Hinata menatap keluar jendela mobil dan melihat rintik hujan yang jatuh mengenai jendela dan berakhir menjadi sebuah buliran yang jatuh perlahan. Kepalanya dihinggapi oleh beragam pikiran-pikiran yang tidak seharusnya dia pikirkan. Namun, akhir-akhir ini dia sungguh tidak sanggup lagi menahan pikiran-pikiran tersebut.

Dia ingin sekali berciuman dengan sosok pria disebelahnya yang sedang menyetir. Namun, pria itu selalu memperlihatkan sikap acuh terhadap hal yang berbau tabu seperti ini. Sehingga Hinata hanya bisa menyimpan kebangsatan pikirannya hanya untuk dirinya sendiri.

Entah bagaimana, akhirnya mobil sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Gaara menengok ke arahnya dan mengedikkan bahu tanda dia sudah bisa keluar. Namun, diluar masih hujan dan kompleks perumahannya sedang memperlihatkan suasana yang sepi.

Hinata mencoba mengumpulkan keberaniannya dan menatap Gaara tepat pada matanya. Giginya tanpa sadar menggigit bibir bawahnya karena perasaan gugup yang tiba-tiba menghampiri. Hinata mengucapkan sebuah kalimat dengan intonasi yang malu-malu namun ada tekad yang terselip pada kalimat tersebut,

"K-kamu pernah berciuman sebelumnya?" Hinata berusaha mempertahankan tatapannya kepada Gaara.

Gaara tampak kaget mendengar pertanyaan tersebut. Namun dia tetap menjawab, "Mau aku sudah ciuman atau belum, menurutku itu adalah hal yang tidak patut untuk diungkapkan kepada orang lain." Tapi ternyata Gaara mengelak dari pertanyaan tersebut dan tidak mau berterus terang.

Namun Hinata telah membulatkan tekadnya. "O-oke jika kau tidak mau berterus terang, tapi... bisakah kau menciumku?" Lanjut Hinata, kepalanya menunduk ke bawah, menghindari tatapan tajam Gaara.

Hinata tidak tahu harus melakukan apa. Dia sudah berusaha untuk mengeluarkan tekadnya. Namun jika ternyata Gaara tidak mau menciumnya ya sudah.

"Su-sudahlah," Ujarnya. Memalingkan badannya dan hendak membuka pintu mobil. Namun, tangan gaara pada lengannya menghentikannya dan badannya terdorong untuk menyandar pada sandaran kursi.

"Kau bilang kau menginginkannya, namun setelah kau mengatakan itu, kau malah akan keluar. Jadi apa maumu?" bisik Gaara tepat disamping telinganya. Saking dekatnya, Hinata bisa merasakan hembusan nafasnya yang terasa berat pada daun telinganya tersebut.

Perlahan, Gaara menurunkun bibirnya dari telinganya dan bergerak secara perlahan menuju depan bibirnya. Dan akhirnya, bibirnya menyentuh bibir Hinata dengan perlahan. Dia melumatnya dengan perlahan sehingga membuat Hinata melenguh. Tangan Hinata secara refleks memegang kerah baju Gaara tersebut dan menariknya agar bisa memperdalam ciuman tersebut. Ciuman milik Gaara semakin dalam dan mereka melakukan aktivitas tersebut cukup lama.

Gaara mengerang sehingga membuat Hinata membuka bibirnya dan membuat lidah Gaara menjilat bibir Hinata kemudian memasukkan lidahnya tersebut ke dalam mulutnya. Lidah mereka saling beradu satu sama lain. Pipi Hinata sudah memerah tidak karuan. Begitu juga Gaara. Hinata melenguh kembali karena sensasi yang tidak tertahankan yang dirasakannya.

Tangan kanan Gaara bergerak dari sandaran kursi untuk merasakan lekukan dari wanita yang sedang berada di bawahnya ini. Bergerak dari lehernya yang tidak tertutup baju, tulang selangka, bukit kanannya yang terlihat besar meski tertutup oleh kain- tangan Gaara berhenti sesaat, merasakan sebuah tonjolan yang tegang dibalik bra yang dikenakan Hinata. Gaara memutar ibu jarinya perlahan disekitar tonjolan tersebut. Hal itu membuat Hinata sedikit memekik dan kedua kakinya sedikit bergerak tidak nyaman.

Gaara melepaskan ciumannya. Wajahnya masih beberapa centi di depan wajah Hinata. "Ada apa?" Tanyanya, meskipun sudah tahu alasan wanita di bawahnya ini tiba-tiba memekik dan bergerak tidak nyaman. Suaranya yang biasanya terkendali, sekarang terdengar serak dan tatapan matanya sudah buram, menampakkan hasrat yang sedang bergejolak. Tidak jauh beda dengan wanita yang duduk di bawahnya, dengan rambut ungunya yang berantakan, matanya yang menatap sayu dan bibirnya yang terbuka sedikit namun sudah membengkak akibat ciuman yang dilakukan keduanya, dan tidak lupa pipinya yang sudah memerah tidak karuan. Yang pasti, sekarang Hinata terlihat sama-sama sudah diambang batas.

Kepala Gaara bergerak kembali ke arah telinga Hinata dan membisikkan sesuatu, "Badanku sakit, bergeraklah ke arahku." Sambil membisikkan hal tersebut, tangannya bergerak ke arah bokong Hinata, menuntunnya untuk bergerak ke arahnya. Hinata sedang menggunakan rok yang panjangnya hanya sepaha sehingga tangannya tanpa sengaja menyentuh pahanya yang mulus. "Shit," umpatnya dalam hati sambil memejamkan mata sejenak. Karena masih dekat dengan telinganya, bibirnya melumat telinga Hinata tersebut dan tentunya disambut oleh lenguhan Hinata.

Perlahan, akhirnya Hinata bergerak. Setelah melepaskan sepatu hak yang dikenakannya, dia merangkak ke atas tubuh Gaara yang sudah menyandar dengan nyaman di atas sandaran kursinya sendiri. Kakinya terbuka dikedua sisi kaki Gaara yang menutup sedangkan lututnya menekuk. Perlahan Hinata menurunkan bokongnya tersebut agar bisa duduk dipangkuan Gaara. Namun ternyata, bagian bawah tubuhnya yang terbuka langsung mengenai bagian tubuh Gaara yang sudah tegak sempurna namun terhalang oleh jeans yang dikenakannya.

Hinata memekik pelan sembari memeluk leher pria yang berada di depannya karena merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kepalanya menunduk ke ceruk kanan leher Gaara, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.

Gaara berdesis merasakan sensasi itu. Tangannya bergerak ke arah kedua paha putih Hinata yang terbuka di depannya sembari mengelus-elus paha tersebut ke atas dan ke bawah.

"Lebih turun lagi," ucap Gaara serak kepada wanita yang berada di depannya ini. Akhirnya tangan Gaara bergerak sendiri ke arah bokong Hinata dan menggerakkannya agar semakin turun dan bagian tubuh mereka semakin bergesekan. Nafas Gaara sudah terasa berat oleh dirinya sendiri. Vagina milik Hinata hanya tertahan oleh sebuah celana dalam yang dikenakannya karena rok spannya yang sudah sangat tertarik ke atas sehingga Gaara bisa merasakan milik Hinata tersebut.

"Hinata, sepertinya aku sudah sangat terangsang." Ucap Gaara disela giginya yang dia gigit kuat. Sembari mengatakan itu, Gaara mengelus-elus bokong Hinata yang bulat sempurna.

"Ya, Gaara, sepertinya aku juga." Bisik Hinata masih diantara ceruk leher Gaara, sambil menahan malu yang dirasakannya.

Setelah mendengar hal tersebut tangan Gaara bergerak ke arah bagian depan wanitanya tersebut dan mengelus-elus vagina yang masih tertutup kain tipis tersebut. Saat dirasakan, kain tersebut sudah sangat basah dan lengket sehingga jarinya pun ikut menjadi lengket.

"Hinata, celanamu sudah sangat lengket," jarinya mengelus ke atas dan ke bawah, "-Bagaimana jika aku membukanya saja?" Tangan Gaara bergerak ke arah lipatan kain celana dalamnya tersebut.

"Tidak Ga-Gaara -sepertinya itu hal yang buruk." Jawab Hinata sambil menahan deru nafasnya yang sudah begitu cepat. Namun Setelah Hinata mengatakan hal tersebut, disaat itu pula Gaara menarik celana dalamnya ke pertengahan pahanya dan memperlihatkan vagina Hinata yang merah merekah disertai bulu-bulu halus yang menghiasinya. "Ga- Gaara-" ucap Hinata tertahan sekaligus pasrah tidak bisa menolak perilaku tersebut.

"Cantik," ucap Gaara, sembari tangannya bergerak untuk menyentuh aset milih Hinata tersebut dan mengelus bulu-bulu halus yang menyertainya sebelum akhirnya mengelus-elus belahannya yang sudah sangat licin dan lengket.

Merasakan hal tersebut, Hinata memekik dan melenguh di saat yang sama dan makin memeluk erat leher Gaara tersebut. "Ga -Gaara, apa yang kau lakukan?" Ucapnya di antara desahan yang keluar.

"Buka celanaku, Hinata." Perintah Gaara. Kepalanya menyandar pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Jarinya masih bergerak pada belahan vagina Hinata yang licin. Dia merasakan kepala Hinata yang menggeleng pelan pada lehernya. "Aku mohon." Akhirnya, tangan Gaara yg tidak sedang menyentuh Hinata bergerak untuk memegang pergelangan tangan Hinata dan menariknya untuk berada di depan jeans yang sedang dia kenakan.

Akhirnya dengan pasrah kepala Hinata bergerak untuk melihat celana tersebut dan membuka ikat pinggang dan restletingnya baru kemudian membuka celana tersebut agar bisa sedikit turun. Sambil Hinata melakukan itu, Gaara mengecup pipi Hinata dengan singkat. "Celana dalamnya," bisik Gaara pada telinga Hinata. Hinata hanya bisa pasrah dan membuka celana dalam milik Gaara dan akhirnya, terlepaslah barang milik Gaara yang sudah tegak sempurna. Ujung kepalanya berwarna merah merekah dan mengeluarkan sedikit cairan berwarna putih. Melihat hal tersebut, pipi Hinata yang sudah memerah, semakin memerah.

Gaara tertawa kecil melihat hal tersebut. Jarinya menjepit klitoris Hinata sehingga membuat Hinata memekik dan sedikit menggelinjang. "Ga-Gaara!" tatap Hinata tajam kepada Gaara. Namun matanya yang tajam itu tidak membuat Gaara takut, apalagi disertai pipinya yang memerah terlihat sudah sangat menahan hasrat yang dipendamnya. Gaara malah mendapatinya lucu dan semakin tertawa. Sembari tertawa, Gaara semakin berulah dengan memasukan dua jarinya ke dalam vagina Hinata dan langsung memompanya. Merasakan hal tersebut, tanpa bisa ditahan Hinata langsung melenguh hebat dan badannya memperlihatkan guncangan kencang. Hinata hanya bisa melenguh tanpa bisa mengatakan apapun. Tatapannya yang di arahkan terhadap Gaara hanya bisa memperlihatkan tatapan tajam sekaligus sayu.

Gaara semakin tergelak melihat hal tersebut. Gaara semakin memopa jarinya di dalam vagina Hinata tersebut. Tanpa sadar, tatapan Gaara mengarah kepada bukit Hinata yang sekarang sudah memperlihatkan tonjolan yang lebih keras dibanding sebelumnya.

Hinata merasa dipermainkan sehingga tangannya bergerak ke arah tonjolan keras milik Gaara dan mengelus kepalanya. "Ssshh," Keluar dari mulut Gaara sambil memejamkan matanya. Tonjolan itu berwarna coklat, sangat keras, dan begitu besar sehingga memunculkan rasa penasaran Hinata untuk memegangnya. Hinata mengarahkan jari jemarinya kepada penis tersebut dan mengelusnya perlahan dari kepalanya yang berdenyut-denyut berwarna merah hingga ke bawahnya yang ternyata kering. Kedua tangan Hinata bergerak memompa benda tersebut dengan tatapan penasaran. Di bawahnya, Gaara tak kuasa menggerak-gerakkan kakinya sedikit merasakan sensasi tersebut sambil menahan desahan yang tertahan.

Tangan Gaara bergerak dari vagina milik Hinata, ke arah dua gundukan gunung yang berdiri menantang ke arahnya. Tangannya memerasnya dengan perasaan. "Ah-" desah Hinata. Sebelum akhirnya tangannya menelusup ke dalam blous tersebut dan merasakan gundukan tersebut pada bra yang tipis. Tangan Gaara bergerak kembali ke arah punggung Hinata dan 'clasp' gundunkan itupun lolos dengan sempurna.

"Aku ingin melihatnya," ucap Gaara kepada Hinata dan menarik blous tersebut ke atas hingga leher. Sekarang, di hadapannya terpampang indah bukit milik Hinata yang tidak terhalangi benang apapun. Kedua tangannya bergerak ke arah payudara tersebut dan merasakan sensasinya. Halus. Gaara meremasnya perlahan berulang kali.

Pipi Hinata memerah merasakan dua payudaranya diremas dengan lembut. Kedua ibu jari Gaara kembali merasakan puting berwarna merah muda milih Hinata dan menekannya dengan lembut. "Engh!" Lenguh Hinata merasakan hal tersebut. Kemudian Gaara memelintirnya dan menariknya. Diikuti lidah Gaara menjilat puting sebelah kanannya tersebut serta menggigitnya pelan. "Gaara!" pekik Hinata. Tangannya bergerak ke arah rambut Gaara dan menariknya keras. Gaara melakukan hal yang sama -menjilat dan menggigit yang satunya lagi dan Hinata hanya bisa memeluk kepala Gaara tersebut erat. "A-apa yang kau lakukan!" teriak Hinata disertai desahan.

"Apa yang aku lakukan?" tanya Gaara. "Tentu saja melakukan ini." Mulut Gaara kembali melumat, menjilat, dan diakhiri menggigit puting kanan Hinata kembali. Hinata hanya bisa melenguh merasakan hal tersebut kembali.

Tangan Gaara kembali ke bagian bawah Hinata dan mengelus bulu halusnya kembali. Setelah itu, dia mendorong bokong Hinata agar vaginanya dapat mendarat di dekat penisnya yang sekarang sudah terbebas dari kain yang menutupi sebelumnya. Merasakan miliknya dan milik Hinata bersentuhan, keduanya hanya bisa berdesis pelan. Dengan perlahan, Hinata menurunkan badannya sehingga kepala penis milik Gaara sekarang sudah benar2 bersentuhan dengan milih Hinata. Kepalanya semakin masuk ke dalam vaginanya. Hinata hanya bisa memeluk leher Gaara dan menundukkan kepalanya di ceruk leher Gaara seperti sebelumnya.

Tangan Gaara yang berada di pinggang Hinata mendorong wanita itu semakin ke bawah. Namun, ada sebuah selaput yang menghalangi. Gaara sudah menduga dari awal bahwa Hinata masih perawan dan ada sedikit perasaan bersalah mereka melakukan ini sejauh ini.

"Teruskan saja," Bisik Hinata di telinga Gaara. Karena takut menyakiti wanitanya tersebut, akhirnya Gaara menurunkan sandaran kursi mobilnya tersebut hingga kebawah dan mengubah posisi keduanya sehingga Gaara sekarang berada di atas Hinata.

"Maafkan aku karena melakukan ini dalam mobil, Hinata." Bisik Gaara tepat di telinga Hinata sebelum akhirnya menusuk vaginanya dengan penisnya seutuhnya. Gaara membungkam jeritan Hinata dengan lumatannya yang dalam agar tidak terdengar oleh orang-orang sekelilingnya. Penisnya diam berada di dalam vagina Hinata, membiasakan ukurannya untuk berada di vagina mungil wanitanya. "Maaf." Bisiknya sekali lagi dan mencium Hinata kembali. Bibirnya bergerak ke sisi mata Hinata dan mencium sebulir air mata akibat yang dirasakannya tersebut.

Setelah itu, Gaara mulai menggerakkan pinggangnya naik turun diatas Hinata. Awalnya Hinata merasa sakit. Namun, setelah beberapa lama akhirnya Hinata bisa menggerakkan pinggulnya juga agar seirama dengan gerakan Gaara. Yang tadinya terasa sakit, sekarang menjadi terasa nikmat dan vaginanya terasa begitu penuh diisi oleh genjotan milik Gaara. Desahan milik Hinata selalu tertahan oleh lumatan Gaara yang tidak ingin orang lain mendengar apa yang sedang dilakukannya di dalam mobil.

"Gaara," ucap Hinata disela desahannya. "Sepertinya aku mau keluar." Mendengar hal tersebut Gaara menggerakkan jarinya ke arah klitoris Hinata dan menggesek-gesekkannya dengan tangannya. Merasakan hal tersebut, badan Hinata menggelinjang hebat dan desahannya pun keluar dengan panjang hingga akhirnya cairan berwarna putih menyeruak dari dalam dirinya. Hinata merasakan sensasi yang begitu nikmat dan lega setelahnya. Namun desahannya malah semakin keluar diakibatkan ganjotan Gaara yang semakin kencang. Hinata mengeratkan cengkramannya pada bahu Gaara. Sedangkan Gaara menyerukkan kepalanya ke arah leher Hinata dan menjilat, menggigit, dan menjilat lagi semua titik sensitif yang ada di leher Hinata. Hinata semakin terengah-tengah hingga akhirnya-

"Hinata, aku keluar." Bisik Gaara, dan sedetik dari perkataan tersebut, benih Gaara menyembur di dalam rahim Hinata. Merasakan hal tersebut mata Hinata melebar dan mereka bertatapan. Keduanya sama-sama memancarkan tatapan panik. Namun dengan cepat Gaara kembali kepada kesadarannya dan berkata, "Tenang saja, aku akan menikahimu sebentar lagi." Dan mencium Hinata dengan ganas. Kemudian tangan kanannya bergerak ke arah payudara Hinata dan meremasnya sekali lagi.

"Ga-Gaara sudah cukup!" Tangan Hinata bergerak untuk mendorong dada Gaara yang menempel padanya. "La-lain kali lagi!" Ucap Hinata dengan pipi yang merona dan kepala yang diarahkan ke arah lain selain Gaara.

Gaara tertawa kecil kemudian merapikan rambut panjang Hinata yang berantakan dan menautkannya di belakang telinganya. "Lain kali lagi, Hinata." ucap Gaara mengulangi ucapannya wanitanya tersebut tanpa bisa menahan kerlingan matanya. "Aku akan merapikanmu."

Akhirnya Gaara merapikan celananya yang turun ke bawah dan merapikan pakaian Hinata yang jauh lebih berantakan darinya sambil menahan hasrat begitu menggodanya Hinata sekali lagi.

"Bisa berjalan?" tanya Gaara memandang Hinata yang terlihat begitu lemas.

"Bisa!" jawab Hinata membara dan akhirnya mereka membuka pintu mobil tersebut dan berjalan ke arah gerbang rumah Hinata.

"Pakai ini ke dalam agar tidak terlihat oleh keluargamu." Gaara menyampirkan syal milihnya ke leher wanitanya tersebut dan merapikannya agar bisa menutupi lehernya yang banyak terdapat bercak kemerahan. "Tenang saja, lain kali aku tidak akan segan-segan menciummu kembali." Ucap Gaara diserta tawa dan mencium ujung bibir Hinata singkat.

"Sampai jumpa, Hinata."


-Fin-