Di mata Uchiha Sasuke, Haruno Sakura adalah rekan yang patut ia hormati. Pengalaman yang mereka bagi bersama saat menjadi tim olimpiade sains nasional, juga rasa yang mereka bagi saat dinobatkan sebagai dua dari tiga alumni paling berjasa di angkatan mereka, membuat Sasuke tahu kalau Haruno Sakura bukan perempuan biasa.

Gadis itu cerdas, riang, dan tidak melakukan suatu hal yang sia-sia. Sakura selalu mampu menggiring opininya untuk menang di setiap kesempatan debat dengan guru atau sesame siswa. Dan Sasuke patut mengakui kemampuan Sakura.

Gadis itu cerdas, riang, dan patut dihormati. Tapi Sasuke tidak tahu, tidak tahu sampai akhirnya mereka lulus dan mendapat tawaran beasiswa dari universitas yang sama. Sasuke tidak tahu sampai Haruno Sakura datang dengan dua koper di belakangnya, berdiri di samping apartemennya—menggigil kedinginan.

Sasuke tidak tahu apa yang terjadi sampai ia bertanya dan—

"AKU MOHON IZINKAN AKU TINGGAL BERSAMAMU!"

Sasuke tidak tahu kalau Haruno Sakura itu …

"AKU BERJANJI AKAN MELAKUKAN APAPUN!"

sangat … miskin?


roommate chronicle © tarinapple | 2020

Naruto © Masashi Kishimoto.


KALA Sakura memutuskan untuk meminta tolong pada Uchiha Sasuke, meminta sesuatu yang akan mustahil disetujui oleh seseorang yang bahkan tidak ia cukup kenal, tidak ia cukup tahu kepribadiannya; itu sama sekali bukan sesuatu yang gegabah.

Waktu ia memutuskan untuk pergi dari rumah paman dan bibinya, Sakura sudah mencari berbagai macam solusi untuk masalah tempat tinggal dan keuangannya. Gadis itu tidak punya celah tanpa malu untuk meminta uang lagi pada orang tuanya di desa. Ia tidak bisa setelah mengetahui kesulitan macam apa yang dihadapi mereka hanya untuk bisa menyekolahkan dirinya.

Sakura tahu persis ia diam-diam dibicarakan oleh paman dan bibinya, dikatai sok cerdas dengan semua tumpukan buku di kamar dan kantung hitam di bawah matanya. Ia tahu kalau sepupunya iri hingga hampir membakar esainya. Sakura tak punya cukup waktu untuk membuat hubungan baik dengan sepupunya, jadi ia memilih untuk pergi.

"Alasanmu bisa dipercaya," kata Sasuke saat mendengarkan penjelasan Sakura selama hampir dua jam. Yap, paragraf-paragraf di atas hanya ringkasan cepatnya saja. "kenapa bukan di rumah teman perempuanmu?"

"Aku tidak punya teman yang bisa kumintai tolong. Teman dekatku kuliah di luar negeri, dan sisanya dekat … hanya saja tidak cukup dekat sampai aku bisa tinggal di rumah mereka," ungkapnya. Netra hijau daunnya menatap teh yang ada dalam cangkir di genggaman, sekilas senyum kecil muncul, "aku lebih senang merepotkanmu yang tidak terlalu mengenalmu."

Sasuke menyeruput tehnya, diam-diam berpikir kalau Haruno Sakura sebenarnya tidak punya cukup orang yang bisa ia percayai. Lebih masuk akal memang kalau Sakura memilih orang yang sekalian tidak ia kenal saja.

Gadis ini punya masalah kepercayaan?

"Jadi aku sungguh boleh tinggal di sini?" tanya Sakura hati-hati. "aku minta pertolongan jangka panjang loh …"

"Hn. Aku tidak punya alasan untuk menolak membantu orang yang kesusahan?" balas Sasuke seraya mengangkat alis. "kau sendiri yang memilihku menjadi pahlawanmu?"

Sakura sukses tertawa. Selera humornya memang serendah itu. "Apa pahlawan ini meminta balas budi? Aku tidak keberatan …"

"Karena kau bilang akan melakukan apapun," Sasuke mengetukkan jari jemarinya di meja makan, seolah berpikir. Sakura menunggu tanpa tampang was-was sedikit pun, mungkin seolah tahu apa yang akan diminta Sasuke? "aku hanya meminta kerja samamu sebagai pendatang baru. Dan tugas bersih-bersih kuserahkan padamu."

Senyum terpatri di paras cantiknya, Sakura mengangguk. "Uhm! Aku mengerti. Aku juga yang akan memasak, bagaimana?"

"Kau bisa masak?"

"Bisa! Tidak bisa masak untuk orang sepertiku bukannya mustahil, ya? Aku perlu memasak untuk mengirit uang."

Sasuke sedikit setuju di bagian itu. Sakura pastilah bisa memasak, dia juga pasti bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Dilihat dari kepribadiannya selama ini … meski Sasuke tidak cukup tahu, ia bisa memastikan kalau Sakura itu berdedikasi dan cukup perfeksionis.

"Kalau ada temanmu yang datang?"

Sasuke meletakkan cangkir teh. Mata hitamnya tidak menunjukkan ketertarikan, datar. "Aku bukan orang yang suka membawa teman ke rumah. Yang datang kemari kebanyakan orang kurang ajar yang tidak diundang. Abaikan saja."

Sakura mengangguk lagi. Pikirannya bisa menebak siapa-siapa orang kurang ajar bagi Sasuke. "Berarti kita tidak perlu pura-pura dalam situasi merepotkan seperti berpacaran atau yang lainnya," simpul Sakura

"Kau sendiri? Bagaimana jika temanmu tahu kau tinggal bersamaku?"

Gadis itu tersenyum lagi. "Aku tidak punya cukup teman untuk membuatku merasa peduli!"

Sasuke bangun di pagi pertamanya tinggal bersama seorang gadis pada pukul sembilan pagi. Cukup siang. Semalaman ia punya banyak hal untuk dipikirkan, hal-hal yang tidak penting sebenarnya.

Berjalan ke dapur, Sasuke menemukan sebuah memo yang tertempel di kulkas. Ia menarik memo berwarna hijau itu lalu membacanya.

Hai! Selamat pagi?

Aku ada kelas pagi dan harus pergi cepat-cepat, jadi membuat roti isi untukmu. Maaf ya jika seadanya, karena bahan-bahan sangat terbatas di kulkasmu.

Aku tidak punya nomor teleponmu, jadi kuberikan saja nomor telp-ku: +81xxxxx. Aku lupa menanyakan password apartemenmu. Bisa kau kirimkan nanti lewat pesan? Oh, ya! Aku juga mau tahu apa yang ingin kaumakan seminggu ke depan, akan kumasak!

Have a nice day,

Sakura.

Sasuke kembali ke kamar dengan memo di tangannya.

To: Sakura

Pulang jam berapa? -Sasuke

Saat pertama kali memutuskan untuk meminta tolong kepada Sasuke, gadis itu yakin ia seratus miliar persen diterima. Sakura memilih Sasuke juga bukan tanpa alasan. Meskipun malas bergaul, ia lumayan banyak memiliki orang yang berada dalam batas kenal tak kenal, Sasuke salah satunya—bukan satu-satunya.

Bukannya ia tidak waspada kalau Sasuke meminta yang aneh-aneh. Hanya saja. Hanya saja ia tahu kalau Sasuke tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia.

Sakura hanya tahu Sasuke tidak akan melakukannya. Ia hanya tahu kalau Sasuke adalah pemuda yang bisa dipercaya.

Dan sangat bisa dipercaya.

Tapi entah mengapa mendapat pesan di luar konteks dari Sasuke … mengenai jam kepulangannya membuat Sakura sedikit ragu untuk mengetikkan balasan. Yah … bukan di luar konteks juga, sih. Mungkin Sasuke berpikir akan lebih aman jika password-nya dikatakan langsung? Atau ada hal-hal khusus yang masih perlu diperjelas mengenai aturan apartemennya?

Gadis itu memilih menutup ponsel dan fokus pada laptop di hadapannya, yup, ada laporan yang harus ia ketik. Oh, ngomong-ngomong Sakura mengambil jurusan Kimia di FMIPA Universitas Negeri Konoha, dan beasiswanya hanya ditanggung biaya pendidikan saja—tidak ada uang saku.

Ngomong-ngomong Sasuke juga dapat tawaran beasiswa untuk masuk FMIPA, tetapi pemuda itu malah masuk FEB dan mengambil jurusan ekonomi bisnis. Kalau begitu kenapa dulu tidak masuk IPS? Sakura masih kesulitan memahami pikiran orang-orang yang memilih linjur.

Sakura melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih pukul sepuluh ternyata. Butuh waktu dua jam untuk kelas selanjutnya. Gadis itu kembali fokus mengetik, sesekali membuka binder-nya, lalu lanjut mengetik. Detik berikutnya ia perlahan menoleh ke belakang saat merasakan sentuhan pada bahunya.

"Sasuke?"

Pemuda itu menarik kursi di hadapannya lalu meletakkan dua buku sebelum meletakkan tasnya di sisi meja dalam. Tangannya membuka resleting depan tas hitam itu dan mengeluarkan dua kotak susu … bukan, yogurt? Satunya ia dorong pada Sakura.

"Terima … kasih?" Sakura tersenyum. "Berapa?"

"Apanya?"

"Berapa harga yogurt?"

Sasuke menusukkan sedotan dan meminum yogurt-nya. Strawberry. Sakura punya harga diri yang tinggi walaupun ia miskin, Sasuke mencatat hal itu dalam pikirannya. Yah, bagaimanapun juga mereka akan bersama dalam waktu yang tidak ditentukan alias lama.

"Kau memasak sarapan, aku membelikan minuman."

"Wah, kalau saling balas begini kapan utang kita akan lunas, eh?" Sakura bertanya sebelum sekilas tertawa kecil. "aku tebak kauakan bilang kalau tidak ada utang di antara kita."

"Aku tidak melakukannya karena merasa berutang."

"Benar, sih, lagian aku yang menumpang tinggal di rumahmu."

"Bukan begitu juga. Aku melakukannya karena aku mau," kata Sasuke kalem. Ekspresinya biasa saja, tetapi beberapa kakak tingkat yang bersembunyi di antara rak nyaris menahan teriakan. Ahli psikologi mana yang bisa menjelaskan fenomena ini?

"Terima kasih kalau begitu!"

Sasuke mengangguk. Kemudian merogoh isi kantong celana kebesarannya, ternyata dompet. Sakura menelengkan kepala saat pemuda itu membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu, mendorongnya kepada Sakura.

"Itu kartu apartemenku," ungkapnya. "saat kauakan masuk, gesekkan kartu ini lalu akan berbunyi dan kaubisa mengetikkan kata sandi, ah, buka penutupnya."

"Keamanan dobel …" Sakura mengenggam kartu berwarna hitam itu. "password-nya?"

Sasuke menyodorkan kertas ke arahnya. Wah, sampai ditulis, juga? Siapa sangka Sasuke adalah seorang pemuda baik hati? Sakura tertawa dalam pikirannya.

"Untuk makanan, aku menerima kebaikanmu. Kaumau beli bahan dengan uangmu sendiri?"

"Iya," jawab Sakura yakin. "kalau hanya uang makan aku bisa, kok."

"Kalau butuh sesuatu bilang padaku?"

"Oke!" Sakura tersenyum penuh. "kalau butuh sesuatu bilang padaku juga?"

"Aa, aku mengerti."

Uzumaki Naruto adalah salah satu dari orang kurang ajar dalam daftar Sasuke. Bukan hanya patut dihindari, namun juga patut diwaspadai. Bagi Sasuke, Naruto mungkin kawan yang baik dan bisa diandalkan, tetapi karena berisiknya bukan main membuat pemuda dengan helai hitam itu agak malas mengajaknya.

Berisiknya seperti ini.

"WOAAAAHH! Sasuke! Kau bisa memasak? Uwaaa, lihat hiasan yang cantik itu! Aku tidak tahu kaupunya sisi sentimental seperti itu, kawan! Masakan untukku satu?"

Sasuke mengunyah makanannya dengan khidmat. Mengabaikan Naruto yang seenaknya mengambil kotak makannya, mengamatinya seraya berkata 'UWAAHH' dan 'OOOOH! ENAK!'. Oke, kurang ajarnya bahkan sampai di level minta makan tanpa izin. Sasuke bisa apa? Ya, diam saja.

"Tunggu, tunggu," Naruto memasang ekspresi curiga. Agaknya membuat Sasuke merasa jijik karena pemuda itu langsung minum air. Untung saja Naruto tidak (belum) tersinggung, kalau iya maka Naruto dengan senang hati mendorong botol minum itu—membantu sahabatnya minum sampai tersedak. "kau ini,'kan … orangnya tidak punya rasa peduli. Masa mau menghias bekal? Kau makan onigiri dari konbini saja sudah untung."

Sasuke tetap mengunyah makannya dengan kalem, menyaut kembali kotak bekalnya dari Naruto yang mulai tertawa-tawa tidak jelas. Tawanya seperti pembukaan rangkaian hari kiamat dunia. Tetapi Sasuke tetap diam karena seperti kata Naruto, ia sebenarnya sungguh tidak peduli pada apapun.

"Dari cewek, ya?"

Naruto menopang dagu, mengamati ekspresi Sasuke yang sama sekali tidak berubah. Meskipun tawa Naruto makin membahana, dan beberapa air hujan lokal sudah menerpa wajah Sasuke, pemuda itu hanya menampol muka temannya saja. Biasanya ia menambahkan, 'berisik, kuning' tetapi hari ini ia sangat tenang.

"Sudah kuduga kau tidak akan menjawab, dasar Sasuke-teme."

"Kalau kujawab memangnya kaumau apa?" Sasuke menutup kotak bekalnya.

"Hm, mau apa, ya?" Naruto memasang pose berpikir. "Benar juga, ya, aku mau apa? Eitss—tunggu, itu tidak akan mempengaruhiku. Aku mau apa? Aku hanya ingin tahu, kau tidak perlu tahu nanti aku mau apa."

Sasuke menghela napas. Biasanya cara itu lumayan ampuh untuk membuat Naruto diam dan tidak mengusiknya untuk beberapa saat. Huh, sudah sampai batas, ya?

Hanya menunggu waktu sampai Naruto menemukannya.

Hm, begitulah awal cerita dari kehebohan Naruto. Jadi sekarang ia berdiri di depan pintu apartemen sahabatnya, membawakan print-out karena Sasuke melewatkan kelas untuk pulang ke rumahnya. Biasa, Sasuke itu lumayan anak mama.

Ketika ia menekan bel, suara Sasuke datang dari intercom. Naruto menjawab, "Aku datang membawa kewajiban!" Dan pintu terbuka menampilkan sosok Sasuke dengan pakaian santainya, Naruto otomatis berteriak kencang seolah habis melihat setan. Ketika Sasuke mengatakan 'berisik' ia malah menambah kehebohan dalam teriakannya. "K-K-KAU! T-T-T-TEMEEEE!"

Sasuke mengerutkan alis, tangannya menyambar map di tangan Naruto tetapi refleks si Kuning cukup diancungi jempol karena ia segera membawa tangannya ke belakang punggung.

"Bawa aku masuk!"

"Penting bagiku?"

"Karena kalau tidak aku yang akan menerobos masukk!"

Sukses. Kini Naruto ternganga melihat sosok perempuan dengan helai merah muda, ditambah kacamata bulat yang sedang … menghidangkan makanan? Ck, aku tahu dia! Kita satu SMA! Namanya …

"Haruno … Sakura?"

Sakura mengangkat kepala, lalu mulutnya membentuk 'O'. "Uzumaki Naruto?"

"HAAAAAAA!"

"Berisik!" Sasuke memukul punggung Naruto dari belakang. "Berteriak lagi, dan akan kutendang kau dari lantai sebelas."

Naruto tahu kalau bento itu ulah perempuan, tetapi tak pernah sebersit pun melintas pikiran kalau perempuan itu tinggal bersama Sasuke. Bersama Sasuke. Bersama Uchiha Sasuke yang punya kadar kepedulian di bawah nol persen.

"Oh, jadi temanmu itu Naruto, ya, Sasuke-kun?"

HAAAA SASUKE-KUN! Naruto nyaris mengelus dada. "Iya … kita pernah satu kelompok, ya, etto … Sakura-chan … boleh aku panggil begitu?"

"Boleh, kok!"

Sakura-chan. Sasuke ternyata mengamati seraya mengambil posisi duduk manis di meja makan. "Sakura, ayo makan."

OH, JADI KAUMAU MENGABAIKANKU? Naruto memasang senyum manis. "Sakura-chan, aku ikut makan boleh tidak? Aku belum makan sejak tadi siang."

Sejak tadi siang? Kita semua makan tiga kali sehari,'kan? Naruto tampaknya punya jadwal makan subuh-pagi-siang-petang-malam.

Sakura mengangguk saja. "Hooh, boleh sekali. Sepertinya memang ada pertanda kenapa aku memasak lebih hari ini."

Dan mereka bertiga makan dengan coretkhidmatcoret. Naruto ternyata berisiknya bukan main, bertanya ini-itu dengan keingintahuan tingkat tinggi membuat Sakura tidak punya pilihan lain selain menjawabnya satu per satu. Acara makan malam khidmat hanya diikuti oleh Sasuke, karena sisanya berisik.

Berisik. Tetapi Sasuke menemani Naruto sampai akhir. Mereka berdua bermain playstation setelah Sakura pamit ke kamar, belajar untuk kuis katanya. Sasuke tidak berkomentar banyak, hanya mengatakan oyasumi dan membiarkan semuanya terjadi.

Naruto yang memiliki jiwa persahabatan yang tinggi sangat merasa gereget karena … BAGAIMANA BISA TIDAK TERJADI APAPUN DIANTARA MEREKA?! HANYA HUBUNGAN PLATONIK SEMATA? Oke, ini bukan jiwa persahabatannya yang tinggi, tetapi jiwa cabulnya.

"Bro, kau serius tidak punya hubungan apapun dengan Sakura-chan, ha? Dia itu cantik banget, lho … pintar juga,'kan? Masakannya enak pula. Sopan pula. Kalau aku jadi kau pasti sudah kusikat."

Sasuke mengerutkan alisnya tidak nyaman. "Kau mulai mengoceh yang tidak penting."

Naruto menggeleng seraya berdecak. "Ini tidak normal! Sungguh! Kau tidak pernah kebetulan masuk kamar mandi saat dia mandi? Tidak pernah sengaja pakaian dalamnya ada di keranjang cucianmu? Tidak pernah begitu kalian nonton film sampai malam lalu tidur sampai berpelukan di sofa berdua sampai pagi?!"

"Kau ini memang tidak ada akhlak, ya."

"Tidak. Tidak! Aku mungkin memang tidak ada akhlak tetapi kau, Sasuke! Kau yang tidak punya akhlak!"

"Aku?" Sasuke melemahkan pegangan pada stick playstation-nya. "Apa maksudmu?"

"Kau ini tidak ada akhlaknya sampai-sampai tidak pernah peduli padanya! Aku benar tidak?"

Kerutan pada alisnya menajam. Apa katanya? Tidak peduli? Sasuke berpikir hingga mobil miliknya oleng dan membuat Naruto bersorak penuh kegirangan. Mendadak saja berbagai pikiran memasuki kepala Sasuke.

Mungkin sudah nyaris empat bulan mereka tinggal bersama. Dan memang sungguh tidak ada sesuatu yang membuat hari Sasuke jungkir-balik kecuali masakan enak yang mengisi hari-harinya. Mungkin ada beberapa tukar sapa di pagi hari, tetapi pada saat malam mereka cenderung jarang bicara karena Sakura lebih banyak berkutat di kamar dengan tumpukan bukunya. Sasuke sendiri juga serupa, ia punya banyak tugas yang perlu diselesaikan.

Ia tidak peduli? Bagaimana mengatakannya, ya … Bisa dibilang kalau Sasuke memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan gadis itu? Dan Sakura juga serupa mungkin?

"Hehehe, tapi Sasuke, kalau sudah tinggal lama bersama seseorang dan tidak tahu makanan kesukaannya … bukankah itu agak aneh? Kau pasti tidak tahu Sakura-chan suka makan apa. Atau baju yang mana yang paling ia suka pakai di rumah. Hal-hal seperti itu kalau kauketahui walaupun kau tidak terlalu sering bicara dengannya, itu berarti kau peduli.

"Yah, setidaknya kau tahu persis keberadaannya di apartemenmu."

Jadi Sasuke tidak peduli begitu? Naruto begitu sok tahu. Sakura juga mungkin sama tidak pedulinya karena interaksi mereka juga tidak terlalu banyak yang dipelopori olehnya. Hanya sebatas kepentingan saja.

Jadi esoknya saat weekend, dan Sasuke tidak ada kelas sementara Sakura pulang sebelum makan siang. Sasuke iseng bertanya pada Sakura selagi mereka memutuskan mau makan apa.

"Sakura, menurutmu makanan kesukaanku apa?"

Sakura yang tengah sibuk dengan ponsel Sasuke mengalihkan perhatiannya. Ada dengusan dalam suaranya. "Tomat,'kan?"

"…"

"…"

"… Hah?"

"Apa?" Sakura menggaruk pipinya dengan senyum canggung. "Salah, ya?"

"… tepat sekali."

"Huh, sudah kuduga."

Sejelas itu? Jadi Sakura peduli padanya sedangkan ia tidak? "Kenapa bisa tahu? Aku tidak pernah memberitahumu."

"Ah, itu karena kau selalu mengambil tomat setelah makan dari kulkas. Aku yang bertugas belanja,'kan memang tahu persis isi kulkasmu."

Sasuke berpikir lagi. Karena Sakura mengambil lebih banyak tugas rumah, tentu saja ia jadi lebih peka dengan sekitar dibanding Sasuke yang akhir-akhir ini mirip … babi? Eh, terlalu kasar, ya? Bisa dibilang hidupnya terlalu santai.

"Sakura."

"Hng?"

"Kalau senin sampai rabu kau yang bersih-bersih sementara aku sisanya … bagaimana?"

Sakura kini benar-benar mengalihkan perhatian pada Sasuke dengan meletakkan ponsel itu di meja. "Kenapa? Aku senang melakukan tugasku kok."

"Aku hanya berpikir ini tidak terlalu baik," Sasuke mengetuk-ngetukan jari ke meja makan. "Terlalu santai juga tidak terlalu baik."

Sakura memasang wajah 'ah, aku tahu.' Dan ia mengangguk. "Baiklah jika itu yang kauinginkan," namun sedetik kemudian ia menjentikan jari. "Kau bersih-bersih dari kamis sampai sabtu sementara hari minggu kita melakukannya bersama?"

"Itu … terdengar bagus," kata Sasuke benar-benar terperangah.

Sekilas Sakura tertawa kecil, ada semburat merah tipis yang menghiasi pipinya. "Aku tahu kauakan berkata begitu."

"Setelah kupikir-pikir, karena punya teman satu apartemen sebaiknya kumanfaatkan dengan baik. Aku seharusnya bisa berbicara lebih banyak denganmu, lebih baik mengobrol daripada main gadget bukan?"

Sakura tertawa lagi. Sedikit … tersipu? "Nah, aku sungguh terharu kau berkata begitu. Aku juga berpikir kita ini sangat dingin, tahu? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kau mengetuk kamarku dengan berkata 'Sakura, kau tidak mandi?' begitu," katanya sebelum tertawa lagi.

"Aku pernah berkata seperti itu?" Sasuke mengerutkan alisnya. "aku sungguh tidak ingat."

"Sungguh, saat bulan pertama aku di sini—hampir setiap malam kau menanyakan aku sudah mandi apa belum, seolah-olah kalau aku belum mandi itu akan mengancam nyawaku, dan nyawamu? Ahahaha! Dan setelahnya kau tidak terlalu ambil pusing tentang jam mandiku yang tengah malam."

Sasuke mengingat kapan itu pernah terjadi sementara Sakura berdecak.

"Hei, Sasuke-kun, minggu besok kaumau mengantarku ke laundry tidak? Lantai satu."

"Laundry? Aku tidak tahu ada yang seperti itu."

"Nah, itu sudah kuduga. Makanya aku mengajakmu," ungkap Sakura sambil tersenyum bangga. "sesekali menggunakan laundry tidak akan membuatmu jatuh miskin."

"Tapi kau,'kan sudah miskin?"

"HEI! Itu kasar sekali!"

"Wajahmu tidak menunjukan kalau kau tersinggung."

"KAU KASAR SEKALI!"

Dan sudut bibir pemuda itu terangkat setelah sekian lama.

Jadi setelah kejadian itu, Sasuke merasa ia dan Sakura jadi semakin mudah untuk bicara. Maksudnya, bicara dalam konteks sesungguhnya, dua arah. Dan mereka ke laundry tiap hari sabtu atau minggu dengan masing-masing keranjang baju di tangan mereka, lalu mendekor ulang apartemen seminggu sekali. Dan kalau Sasuke boleh memilih favoritnya, ia sangat menyukai nonton film bersama Sakura.

Itu adalah usulnya, saat pertama kali mereka nonton film. Sasuke tidak punya DVD, dan Sakura dengan senang hati memperkenalkannya pada aplikasi bernama Netflix. Mereka berdua duduk di sofa dengan bantal yang berada di atas paha dan memosisikan laptop di atasnya. Pernah sekali mereka menonton sampai jam tiga pagi dan baik sialnya Sasuke maupun Sakura punya kelas pagi.

Chaos, kalau boleh Sasuke bilang. Tetapi entah mengapa ia tidak menyesalinya. Sakura bilang poinnya dipotong, tetapi gadis itu malah tertawa terbahak-bahak, bertolak belakang dengan sifat ambisiusnya (yang mana seharusnya tidak mengizinkannya untuk tertawa bukan?) dan mengatakan 'OH! Aku baru pertama kali melihat Oro-sensei bertampang begitu. Aku harus mencobanya lagi!'

Hari Sasuke tidak jungkir-balik. Hari-hari yang sederhana tetapi bisa membuat Sasuke tersenyum tipis hanya dengan mengingatnya. Bahasa gaulnya apa, ya … mood booster?

Tetapi semuanya mungkin berakhir hari ini.

Pukul tujuh malam dan Sakura belum juga kembali. Pemuda itu sudah dua kali meneleponnya, tidak mendapat jawaban. Biasanya kalau gadis itu akan pulang telat, pastilah menelepon, atau setidaknya mengirim pesan.

Ia tidak punya kontak teman Sakura, ia bahkan tidak tahu kalau Sakura punya teman. Kalau gadis itu ada di sini pastilah ia berteriak, 'HEI! KAU KASAR SEKALI!' dan menyikutnya setelah itu.

Pukul setengah delapan, ia sudah tidak tahan lagi. Pemuda itu keluar apartemen, mengenakan hoodie hitam dan sneakers putih—penampilan yang sungguh menggungah. Ekspresinya sedikit gusar tetapi saat ia keluar dari lift dan mendapati Sakura dengan wajah terkejut.

"Sasuke-kun?"

Kau ke mana saja, sialan. "Aku mau cari makan, kau ikut?"

"Eh?" Sakura menggaruk pipi saat Sasuke melewatinya, menuju pintu keluar. Ia memilih untuk mengikuti dari belakang dengan senyum kecil.

"Aku bekerja!" ungkapnya di hadapan ramen yang mengepul. "aku punya murid yang menggemaskan!"

"Kau mengajar sampai malam?" Sasuke bertanya, netra hitamnya fokus ke tangan Sakura yang menggenggam sumpit. "sekolah dasar?"

"Dua, sih," jawabnya agak canggung. "Satunya SD, dan kakaknya SMP. Aku mengajar ilmu pengetahuan alam dasar … kau tahulah, lumayan mudah."

"Kenapa bekerja?"

"Eh? Kenapa?" Sakura menggaruk pipi, lagi. "aku tidak mungkin selamanya tinggal denganmu,'kan?"

Sejenak keramaian kedai ramen itu tidak sampai ke telinganya. Sasuke menatap Sakura yang sibuk dengan makanannya, membayangkan kalimat yang baru gadis itu utarakan.

Logis. Itu yang memang diharapkan dari seorang gadis cerdas yang memiliki harga diri tinggi. Sakura tidak mungkin selamanya tinggal bersama Sasuke, bahkan kalau dipikir lagi tidak mungkin Sakura akan tinggal dengannya sampai lulus.

"Hei, nanti dingin tahu," tegurnya sambil menunjuk ramen Sasuke. "tidak mau? Buat aku saja, ya."

"Tidak juga," balas Sasuke pendek, memutuskan untuk fokus pada ramennya.

Dan sejak hari itu, hari-hari yang seharusnya menjadi mood booster malah menjadi mood breaker.

Ternyata mereka yang tinggal bersama cukup menyita banyak perhatian. Meskipun terdengar sampai pihak tertinggi dan mereka tidak peduli, kawan-kawan seangkatan ramai membicarakannya. Baik Sasuke dan Sakura tidak peduli sampai suatu hari,

Suatu hari gadis itu diteriaki 'pelacur' dan melemparnya dengan kaleng kosong. Sasuke yang kebetulan melintas saat itu ingin mencekik gadis tidak tahu diri yang mengatai Sakura namun saat itu ada Naruto yang menahannya.

"Hah, aku tidak tahu kau sepopuler itu," kata Sakura, malam harinya. "tahu begitu aku katakan saja kita pacaran."

Sasuke sungguh berpikir begitu. Jadi ketika pemikirannya disambut ia langsung berkata, "Kau mau pacaran?"

Sakura terbatuk dalam napasnya.

"Hah! Bukankah itu ide yang konyol? Kau pernah membahasnya bukan?"

Kalau Sasuke adalah Sakura, pemuda itu akan berteriak, 'KAU KASAR SEKALI!' tetapi ia hanya mendengus. "Ya, konyol sekali."

Sakura mencebik. Ia spontan mencubit pipi Sasuke dan pemuda itu mengaduh, menepisnya segera. "Apa?!" tanyanya galak.

"Aku hanya berpikir kenapa pipimu tidak membesar padahal kau makan banyak sekali."

"Diam."

"Kau seharusnya gendut."

"Kau kasar, ya."

"Aku belajar dari ahlinya."

Sasuke memutar mata. "Kalau aku membalas, kau akan menyikutku."

Gadis itu terkikik sebelum berkata, "Balas saja!"

"Kau kurus sekali."

"Hanya itu? Tidak ada damage-nya, aku dikatai seperti itu setiap hari."

"Kau tidak akan dapat pacar."

"…"

"…"

"Aku akan menangis, lho."

"…"

"…"

"Tolong jangan."

Walaupun waktu mereka mengobrol jadi terbatas karena Sakura mengajar, Sasuke tidak terlalu kecewa. Lagipula kenapa ia harus kecewa? Sakura adalah perempuan mandiri, tidak ada alasannya untuk kecewa … atau khawatir.

Tapi hari ini berbeda. Saat ia terpaksa tinggal di perpustakaan pusat untuk mengerjakan tugas hingga larut, Sakura datang dengan mata berkaca-kaca, menarik kemejanya hingga kusut. Sasuke meminta penjelasan saat mereka berada di luar,

"Ini buruk," mulanya dengan terengah. Sasuke mengangguk dan menyentuh pipi gadis itu, yang memiliki bekas tamparan.

"Sangat buruk. Ada apa?"

Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku dituduh selingkuh dengan ayah muridku oleh istrinya. Ia melabrakku saat mengajar dan menamparku. Aku sudah katakan tidak, tetapi istrinya terus berusaha menghajarku."

Sasuke menyentuh bahu Sakura saat gadis itu kesulitan untuk merangkai kata-kata. Mereka akhirnya duduk di tangga dan gadis itu menutup wajahnya dengan tangan.

"Aku kira itu kesalahpahaman," gumamnya. "tetapi itu tidak. Saat aku akan pulang, orang itu memelukku—memelukku di depan istri dan anaknya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mendorongnya, dan ia tidak melepaskanku sampai istrinya menarik rambutku.

Sasuke melepas karet yang digunakan Sakura pada helai merah muda panjangnya. "Lalu?" kata Sasuke kala tangannya mulai menyusuri tiap helai itu, menyisirnya dengan jari.

"Aku … aku berlari. Aku berlari seolah aku memang melakukannya. Saat aku di apartemen, aku tidak melihatmu di manapun dan membaca pesan kalau kau ada di perpusat—aku menuju ke mari dan malah bertemu orang itu di lift.

"Aku berlari lagi. Ke mari. Kelihatannya ia tidak mengikuti lagi, kemungkinan istrinya yang menghentikannya."

Sasuke tidak bisa menampik kalau kini rahangnya mengeras. Tangannya ingin sekali mengepal dan memukul wajah seseorang, tetapi ia tetap pertahankan pada rambut Sakura—menyisirinya perlahan, berharap napas gadis itu kembali tenang.

"Aku tidak memikirkannya, aku hanya memikirkan dua muridku. Aku … aku tidak tahu harus berkata apa pada mereka."

"Bukan salahmu," katanya pelan, tetapi tegas.

"Aku tahu," balas Sakura lemah. "aku tahu itu sama sekali bukan salahku. Tetapi aku lari, Sasuke, di saat aku bisa membalas perkataannya—"

"Lari itu bukan kesalahan," potong Sasuke. "kau melakukan hal yang tepat."

Sakura menggigit bibir bawahnya, tangan yang berada di wajah kini dengan gemetar kembali menarik ujung kemeja Sasuke. "Aku tidak mau pulang."

"Ada aku."

"Dia tahu di mana aku tinggal!"

"Ada aku yang tinggal bersamamu," Sasuke menghela napas. "ada aku. Kau tidak sendirian."

Detik itu juga ada air yang mengalir dari sudut mata hijaunya, dan Sasuke tidak tahu harus berbuat apa, selain membawanya ke dalam pelukan.

Dan benar saja.

Mereka kembali ke apartemen, Sakura mandi dan Sasuke memutuskan turun ke lantai dua untuk membeli minuman. Ia melihat ada orang yang mondar-mandir di hadapan lift, terlihat menelepon seseorang dan berdecak karena tidak dijawab. Sedetik kemudian Sasuke merasakan sakunya bergetar, ada nama Sakura di layar.

"Dia di sini!" pekiknya cemas, masih dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Gadis ini belum juga mandi?

"Aku rasa aku melihatnya," kata Sasuke seraya meletakkan kantong plastiknya. "jangan khawatir. Mandilah dengan tenang."

"Blok nomornya," kata Sasuke lagi. Sakura mengangguk dan segera melakukan saran Sasuke. Gadis itu masih gelisah saat ia berjalan menuju kamar mandi.

Haruno Sakura terguncang. Esok paginya ia mengaku izin sakit dan tidak pergi kuliah, dan waktu Sasuke bilang kalau ia ada kelas; tatapan gadis itu menolak untuk membiarkannya pergi. Alhasil Sasuke hanya mengambil satu kelas saja dan pulang.

Ia sudah meneliti lingkungan apartemen kala ia berangkat dan kembali. Tidak ada tanda-tanda orang mencurigakan seperti kemarin. Pemuda itu membawa plastik di tangannya, ada beberapa snack yang ia kira bisa menenangkan Sakura. Mungkin saja,'kan?

Ketika ia masuk apartemen, Sasuke mendapati Sakura tengah mendengarkan musik dengan keras di ruang tengah, lewat laptopnya. Gadis itu bersenandung riang, terbukti dari kakinya yang terus menekan lantai dengan seirama. Sasuke tersenyum tipis dan memilih tidak menginterupsinya.

"Oh, Sasuke-kun?"

Malah ia yang diinterupsi.

"Kaumau snack? Ada di meja makan."

"Wahh! Terima kasih!"

Sasuke lanjut berjalan ke kamar tanpa berkata-kata, sementara Sakura hanya tersenyum tipis tanpa arti saat menuju meja makan.

Musim gugur hampir habis, dan Sasuke tidak merasakan perbedaan apapun lagi. Hubungan dengan teman seapartemennya berlangsung statis. Tidak ada lagi percik-percik romantis atau obrolan realistis. Mereka beraktivitas seperti biasa, makan, bersih-bersih, laundry—seperti biasa. Tetapi Sasuke tidak tahu apa yang hilang.

Sasuke hampir tidak pernah mengungkit masalah pekerjaan Sakura dan bagaimana ia mencari uang sekarang. Tetapi gadis itu selalu pulang pukul tujuh atau setengah delapan malam. Saat pemuda itu juga pulang di waktu yang serupa, ia menemukan Sakura menjadi kasir di sebuah toko kopi.

Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan, memangnya harus apa? Sasuke tidak tahu. Ia tidak pernah menghadapi keadaan rumit seperti ini, dan ia menghindari bertanya pada siapapun.

Sakura adalah gadis yang mandiri, ia punya prinsip tersendiri. Pemuda itu tidak perlu untuk mempertanyakan apapun lagi.

"Mau ke mana?"

Sasuke bertanya, sedikit dingin, ketika ia menemukan Sakura mengenakan pakaian yang bagus dan kelihatan memakai sepatu di depan pintu.

"Ano … aku ada janji sama temanku. Makan-makan karena projek akhir semester kami sukses."

Selarut ini? Tidak, Sasuke, ini baru pukul tujuh. "Ah, jangan pulang terlalu malam."

Sasuke berusaha tidak memikirkannya, ketika jarum pendek ada di angka sebelas dan Sakura pulang dengan jaket asing yang tersampir di bahunya.

"Kenapa malam sekali?"

Sakura hanya tersenyum, namun kemudian tertawa garing dan melewatinya sambil bergumam, "Soalnya menyenangkan sekali."

Saat Sakura melewatinya dengan langkah diseret, Sasuke bisa mencium aroma alkohol dengan jelas.

Keesokannya Sasuke tahu kalau itu bukan makan-makan, tetapi goukon. Kencan buta. Blind date. Apalah itu. Sasuke tahu dari Naruto yang ternyata meneleponnya dari jam lima pagi. Pemuda pirang itu menginformasikan kalau memang gadis-gadis terkenal dari FMIPA ikut dan mereka bertemu dengan pemuda-pemuda dari FMIPA universitas swasta saingan Konoha.

Sasuke menahan diri untuk tidak bertanya. Pagi harinya ia meletakkan aspirin di samping sarapan yang ia siapkan untuk Sakura dan keluar apartemen dalam diam.

Tetapi dua hari kemudian, saat Sasuke dan Sakura mencuci piring bekas makan malam, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya,

"Kau bekerja di kedai kopi,'kan?"

"Eh?" Sakura tersenyum selanjutnya. "Aku tidak tahu kalau kau tahu."

"Aku tahu kalau malam itu kaupergi kencan buta."

"Wah, itu kecelakaan, lho. Temanku bilang kalau ini hanya makan-makan biasa, dan kedatangan para pria tampan itu di luar kendaliku."

Di luar kendali, ya. "Apa baik-baik saja kalau kau berfoya-foya begitu?"

"Maksudmu?" tanya Sakura, nadanya netral tetapi kilat hijau matanya tidak seperti biasa.

"Kau,'kan miskin."

Mungkin Sasuke sudah bersiap dengan sikutan atau tarikan rambut lainnya, tetapi saat ini Sakura terdiam. Cukup lama hingga membuat Sasuke membuka mulut untuk meminta maaf tetapi didahului oleh Sakura yang tertawa kecil.

"Ahahaha, iya, ya. Terima kasih sudah mengingatkanku."

Itu tidak seperti biasanya. Tetapi Sasuke memaksakan diri untuk membalas, "Ah, sama-sama."

Awalnya Sasuke tidak mengira.

Sakura berangkat awal, meskipun sarapan dan bekalnya siap di atas meja, Sasuke tetap merasa janggal. Tetapi ia tidak mempertanyakan apapun, Sakura tahu yang terbaik untuk dirinya.

Meskipun Sakura pulang pukul delapan malam, gadis itu kerap membawakan donat atau susu kocok sebagai pengganti makan malam. Kelihatannya Sakura tengah berusaha keras untuk hidup terpisah darinya.

Tidak masalah, pikir Sasuke suatu hari. Hal itu bukan masalah. Itu yang pantas ia lakukan, bagaimanapun Sakura mempunyai harga diri yang tinggi.

Tetapi suatu hari Sasuke melihatnya, di kedai kopi tempat Sakura bekerja, gadis itu bukan menjadi kasir. Tetapi duduk bersama seorang pemuda berhelai cokelat, tertawa dengan kopi di tangan mereka. Dan saat itu Sasuke tidak tahu harus apa.

Ia tidak tahu lagi mana yang hilang. Karena bukan hanya hilang, ada sesuatu, sesuatu menggerogotinya hingga rasanya sulit bernapas. Hanya saja Sasuke menolak untuk peduli, dan pergi untuk menyendiri. Bahkan ketukan pintu pada kamarnya oleh Sakura tidak dihiraukan.

Ia hanya ingin sendiri.

Ia hanya ingin seperti dulu lagi.

"Kita pesan makan, yuk?" tawar Sakura keesokan hari, di malam yang penuh salju. "kalau pizza kira-kira sampai tidak, ya?"

"Tidak usah pedulikan aku, kau pergi saja."

"… Eh?"

Sasuke mengerling sejenak sebelum sibuk dengan remote televisinya. "Aku tahu kau akan pergi hari ini, makanya tidak masak. Kau pergi saja, jangan sampai telat."

"… jangan sampai telat, ya …" gumam Sakura yang meletakkan ponselnya di nakas. "Ne, kautahu tidak aku pergi dengan siapa hari ini?"

Sasuke menggigit pipi dalamnya sekilas sebelum menjawab datar,

"Pacarmu,'kan?"

Sakura tertawa kecil, menjetikkan jarinya. "Tepat! Kau tidak tahu bagaimana bahagianya aku setelah dapat pacar! Pertama, dia adalah pemuda yang sangaaat baik, dan bisa diajak berdiskusi! Kedua, aku bisa membuktikan padamu kalau aku pasti bisa punya pacar."

Sesungguhnya Sasuke berharap, kalau gadis itu akan menyikutnya dan mengatakan, 'Hah! Belum tapi akan terjadi!' bukannya melempar bom tepat di depan muka Sasuke.

"Ya, bersenang-senanglah."

Sakura melunturkan senyumnya, mencebik sebelum menarik rambut Sasuke hingga ia mengaduh dan berdecak kesal, "Apa?!"

"Kau juga cari pacar, dong!"

"Tidak penting."

"Nanti jadi perjaka tua!"

"Perjaka tu—kau jangan ikut-ikutan Naruto."

"Sial, aku ingin menarik rambutmu lagi."

Hening setelahnya karena Sakura malah merapikan rambut Sasuke yang tadi ia tarik dengan jemarinya. Kemudian Sasuke memiliki sesuatu untuk ditanyakan, sebenarnya itu tidak terlalu penting tetapi ia ingin menanyakannya,

"Pacarmu tahu kau tinggal denganku?"

"Tahu," Sakura lalu menghela napas. "saat kukatakan dia terkejut sekali, lalu mengatakan kalau aku lebih baik pindah dengannya, yah, dia tinggal dengan orang tuanya. Masa aku segitunya tidak punya malu padahal kami belum genap sebulan berpacaran?"

"Memangnya saat kau ingin tinggal di sini, kau punya malu?" tanya Sasuke, sarkasme tepatnya.

"Heh, kau,'kan lain lagi."

Sasuke mengerutkan alisnya. Apa yang berbeda? Sial, bahkan Sasuke yang tidak peduli juga bisa sakit hati, tahu.

Selanjutnya tidak ada apapun selain deru napas masing-masing, suara televisi, dan mesin penghangat ruangan. Sakura kelihatan sibuk dengan ponselnya sementara Sasuke menonton televisi.

"Ah, sudah waktunya!"

"Kau minta dijemput?"

"Dia menunggu di lantai satu," kata Sakura seraya meluncur ke kamarnya. Sasuke yang tadi bersandar ke kepala sofa pun menegakkan punggungnya. Ekspresinya sulit diartikan.

"Sasuke-kun, aku pergi dulu, ya?" Sakura mengenakan sweater dan syalnya, senyum terukir di paras cantiknya. "Oh, ya, bagaimana kalau nanti kita ke kuil bersama-sama? Saat tahun baru?"

"Tidak bersama pacarmu?"

"Tch, aku sudah mengajakmu, lho, artinya aku akan mengurus masalah pacarku," Gadis itu berkacak pinggang. "iya atau tidak?"

"Nanti kupikirkan," jawabnya. "Sana pergi atau bokong pacarmu nanti membeku kedinginan."

Sakura sekilas menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke sebelum keluar dan menutup pintu. Pemuda itu menatap pintu itu sejenak sebelum melangkah menuju dapur dan menemukan sebuah bungkus plastik bening berisi beberapa cookies.

Ada sticky notes yang tertempel di depannya, netra hitam itu menyorot sendu kertas hijau itu sebelum memakan cookies-nya dan menunduk dalam.

Selamat natal, Uchiha Sasuke.

Telepon Naruto kalau kau kesepian atau telepon aku kalau kauingin membeli sesuatu, nanti kubelikan saat jalan pulang!


"Kenapa kau tidak melakukan apapun, hah?!"

Naruto menceramahinya habis-habisan saat Sasuke mengundangnya di malam natal. Sungguh, sebagian dirinya mengutuk keputusan mengundang si Bodoh itu, tetapi sebagian dirinya bersyukur. Setidaknya ia bersama seseorang di malam natal.

Kenapa?

Sasuke menyadarinya. Sebelum ini, pemuda itu tidak pernah terlalu memikirkan keberadaan orang lain, karena merepotkan. Merepotkan sekali. Lihatlah kini Sasuke seperti kehilangan setengah jiwanya saat Sakura keluar tadi.

Sebelumnya mengabaikan seseorang tidak pernah sesulit ini. Sasuke tidak perlu menutup telinga untuk tidak mendengarkan, tidak perlu menutup mata untuk tidak melihat. Tetapi kini melakukan keduanya pun tidak pernah membuatnya berhasil tidak peduli.

Sasuke lebih baik sendiri. Begitulah yang ia pikirkan sejak dulu.

Berhubungan dengan orang lain tidak lebih hanya menyakitinya.

Lebih baik ia sendiri.

"Hah? Begitu pikirmu?" tanya Naruto dengan wajah mengejek. "Iya sih, mengingat kau ini anak mama dan tampan sejagat raya."

Sasuke tentu saja tersinggung, sekilas ia menggertakan gigi. "Apa maksudmu?"

"Dunia tidak berputar di bawah kakimu, tidak pernah, dan tidak akan pernah."

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha untuk mendapatkannya. Ini tidak seperti saat SMA di mana semuanya datang padamu dengan senang hati, ini tidak seperti kau yang selalu meraih nomor satu tanpa susah payah.

"Kalau kaupunya keinginan, wujudkanlah sampai rasanya mau mati."

Memangnya apa yang Sasuke inginkan?

Baru-baru ini Sasuke tahu itu apa.

Di malam sebelum tahun baru, kala Sakura pulang dengan wajah tertekuk dan akhirnya menangis sendirian di dapur dengan spatula di tangannya. Berusaha keras meredam suara tangis lewat lengan bajunya. Sasuke tidak mampu untuk mendekatinya.

Kendati, kendatikendatikendati, ia ingin menghapus air mata itu dari wajah sang gadis.

"Kauputus?"

Sakura terhenyak dalam kunyahannya, lalu tersedak. Netra hijaunya mengamati ekspresi serius Sasuke, dan yang tak diduga adalah Sakura tertawa keras. Keras sekali sampai pelupuk matanya kembali penuh dengan air.

"Tidak," Sakura menjawab, suaranya bergetar. "aku hanya memergokinya selingkuh."

"Selingkuh?" kelihatannya Sasuke tidak habis berpikir. "Selingkuh kaubilang?"

"Mungkin itu hanya gertakan? Aku tidak tahu. Ini berawal saat aku menolak ajakannya untuk ke hotel … saat malam natal. Ia sedikit kesal tetapi kukira itu hanya berlangsung sebentar," Sakura menarik napas panjang sementara Sasuke mengambil kotak tisu dari sisi kirinya dan mendorong benda itu menuju Sakura. "ia mengajakku kencan saat tahun baru. Jauh dari sini. Aku bilang ingin pergi ke kuil bersamamu, dan ia berteriak padaku.

"Aku lalu bilang, ya sudah aku ke kuil bersamamu saja. Lalu dia tambah berteriak padaku. Dan tadi siang aku melihatnya naik mobil bersama seorang gadis."

"Sudah kaupastikan ia siapa?"

"Sudah," kata Sakura, berdecak. "Dia teman yang kuajak kencan buta dulu, satu fakultas denganku."

"Positif selingkuh, ya?"

"Ya!" Sakura menarik napas panjang saat ada air mata yang kembali menuruni pipi. "Aku sangaaat kesal! Aku berharap tidak pernah mengenalnya sama sekali."

"Dia tidak lebih dari seorang pria hidung belang."

"Tidak lebih dari seorang berengsek."

"Tidak lebih dari seorang bajingan."

"Tidak lebih dari seorang pengecut!" Sakura memukul meja makan hingga mangkok-mangkok bergetar. "Aku ingin memukul wajahnya."

"Lakukan saat kau meminta putus," saran Sasuke. "perlu aku temani?"

"Memangnya aku pengecut apa?!"

"Bukan. Santai …" Sasuke menghela napas, meletakkan sumpitnya. "ini bukan tentang pengecut atau apa. Aku hanya khawatir."

"Diam, aku bisa jaga diri!"

"Ya, aku tahu, aku malah takut kauakan langsung menjambak rambutnya sampai habis," Sasuke menggaruk pipi. "itu keahlianmu bukan?"

Kedua tangan Sakura mengepal erat, ia mendengus sebelum menghapus air matanya lagi.

"Aku akan lakukan saranmu!"

"Hei, hei, aku tidak menyarankannya."

Bisa dibilang kalau Sakura satu tahun resmi menempati apartemennya. Ia sudah cukup mengenal gadis itu. Mulai dari bagaimana tergila-gilanya Sakura pada warna pastel, pada makanan manis, pada kesempurnaan penataan ruangan, pada film sci-fi dan fantasy, pada koleksi kaos kaki warna-warninya.

Dan pada rambut merah muda panjangnya.

Sejujurnya rencana tahun baru mereka gagal total. Sakura bilang ia habis melabrak pacarnya dan mereka melalui terlalu banyak adu mulut hingga tenggorokannya sakit, jadi ia malas pergi. Sasuke tidak punya kuasa untuk memaksa jadi ia mencoba untuk memasak sesuatu.

Ya, Uchiha Sasuke memasak, di malam tahun baru.

Ponselnya menyala, disangga oleh vas bunga, menampilkan tutorial memasak … ramen? Tunggu, anak siapa yang butuh tutorial untuk memasak ramen instan? Sial, jika tidak ada Sakura mungkin Sasuke sudah mati kelaparan atau mati kemiskinan.

Saat Sakura keluar dari kamarnya, terlihat ada handuk yang tersampir di bahunya. Langkahnya agak terseok, tetapi Sasuke masih tidak buka suara sampai suara pintu kamar mandi yang tertutup terdengar. Pemuda itu kemudian kembali fokus pada air yang mendidih.

Beberapa menit kemudian, pemuda itu berhasil menyajikan ramen yang layak konsumsi, dengan skill menghias yang nyaris nol persen—pemuda itu berusaha menempatkan bahan-bahan pelengkap dengan rapi. Dan hasilnya … tidak buruk juga.

Sakura datang dengan pakaian serba minim meski tengah musim dingin. Lengkap kepala yang dibalut handuk. Sasuke yang tengah menyajikan makanan layak konsumsinya di meja makan pun curi-curi pandang pada bengkak di bawah mata gadis itu, dan juga mata itu sedikit merah.

Mereka berdua menyantap ramen dalam keheningan, sampai akhirnya Sakura membuka suara, pelan,

"Kaupunya gunting nganggur tidak?"

Sumpit Sasuke jatuh dalam hitungan second.

"Kau mau bunuh diri?"

"Tolong, ya, aku tidak sebodoh itu."

Sasuke menghela napas, nyaris mengelus dada. "Jadi, untuk apa?"

"Ingin potong rambut."

Alis pemuda itu praktis tertaut. "Hah? Kenapa tidak di salon saja?"

"Aku tidak punya uang untuk ke salon."

Sasuke menghela napas, lagi, seraya mengambil sumpitnya yang tergeletak di lantai, melemparnya ke wastafel sebelum mengambil yang baru di hadapannya. "Memangnya yakin akan bagus?"

"Entahlah, aku mungkin akan membotaki kepalaku?"

"…"

"…"

"Hehehehe—tidak, tolong jangan pasang ekspresi seperti itu," kata Sakura seraya terkekeh. "aku belum segila itu."

"Kepalamu sedang tidak dalam kondisi prima. Mau kubenturkan?"

"Ah, jika itu membuatku amnesia disosiatif, silakan."

"…"

"…"

"Tidak—tolong jangan membuka mulutmu seperti itu. Aku hanya bercanda," Sakura meletakkan sumpitnya. "aku hanya bercanda."

"Kau … patah hari sebegitunya?" tanya Sasuke hati. Ramen berhasil terabaikan saat gadis itu membuka lilitan handuk pada kepalanya. Helai panjang merah mudanya jatuh ke bahu begitu saja.

"Apa, ya … aku hanya ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan?" Sakura bergumam. "aku belum pernah memotong rambutku dengan ekstrim, pastilah hanya satu dua senti setiap tahunnya."

"Jadi, kau mau seekstrim apa sekarang?"

"Pendek. Sampai bahu. Kalau bisa cukur cepak macam laki-laki."

Sasuke mendengus. Entah harus merasa tergelitik atau sakit melihat Sakura seperti itu. "Gila," balasnya.

"Kalau punya uang akan kulakukan ini di salon. Maaf, ya, kalau harus mengotori gunting sucimu."

Pemuda itu mengerling sekilas sebelum berkata dengan tangan yang menggaruk pipi, "Mau aku yang potongkan?"

"…"

Dan kini Sasuke duduk di sofa sementara Sakura di karpet yang sudah diletakkan handuk panjang Sakura sebelumnya. Pemuda itu menggenggam helai merah itu sebelum menarik genggamannya turun ke bawah. Halus. Terlalu halus. Ia meletakkan gunting dari tangan kirinya, beralih mengambil sisir.

Menyisiri rambut panjang gadis itu untuk … pertama dan terakhir kalinya? Sasuke menyisirinya perlahan, seolah akan rontok dalam sekejap mata. Hal itu membuat Sakura merinding sekaligus terbahak.

"Langsung potong saja."

"Kau ini punya hati tidak, sih?"

"Baru patah tadi. Nanti aku sambung lagi."

Sasuke memutar mata, masih menyisiri rambut Sakura. "Kau,'kan miskin, bagaimana mau menyambungnya?"

"Kalau hanya lem, aku bisa beli."

Iya, kah? Sasuke kemudian menggulung dan menjepit sebagian rambut Sakura, lalu fokus dengan sisi yang terurai. Sejenak ia tersenyum sebelum mulai memotongnya sedikit demi sedikit.

KRES

"Aw."

"Jadi saraf rasa sakitmu ada di helai rambut sekarang?"

Sakura tertawa hingga matanya menyipit. Ada sesuatu yang pergi saat ia merasakan helai demi helai rambutnya terjatuh ke atas karpet. Dengan senyum getir ia berkata,

"Seandainya semua ini tidak pernah terjadi."

"Apa? Patah hatimu?"

"Semuanya."

"Aku tidak paham," Sasuke menghentikan aktivitasnya. "penyesalan itu hal yang bodoh. Berusahalah lebih baik lagi di esok hari."

"Sok bijak."

"Kau ngambek, ya?" kata Sasuke, merasa terhibur. "kau ngambek karena terus kukatai miskin sampai berharap semuanya tidak terjadi?"

Sakura menggeleng pelan. "Bukan begitu."

"Lalu? Apa saja 'semuanya' yang kauharap tidak pernah terjadi? Apa aku ada di dalamnya?"

"… tidak … juga."

"Jawabanmu sangat meragukan."

"Aku memang agak menyesal, sih. Habisnya kau tidak pernah punya lawakan baru selain 'aku yang miskin' atau 'aku yang kurus'. Rasanya rasisme benar-benar merasuk dalam jiwamu, ya?"

"Jadi? Aku harus membelikanmu lem untuk menata hatimu?"

"Tid—tunggu, itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan perkataanku barusan."

Sasuke memutar mata, dan Sakura memutar kepalanya. Pemuda itu menyentil dahi sang gadis sampai ia mengaduh.

"Aku akan melakukan kompensasi atas semua patah hatimu, karena kau miskin … akan kubelikan lem, selotip—apalah itu. Jadi berhentilah mengoceh, dan serahkan semuanya padaku."

Mereka bertatapan … cukup lama. Ada sesuatu yang membuat Sasuke ingin terus masuk, masuk, masuk ke dalam netra hijau daun itu. Ia ingin tahu, segalanya. Apa yang membuat Sakura sebegitu menyesalnya hingga berharap semuanya tidak pernah terjadi.

"Kauakan melakukan kompensasi?"

"Hn."

"Karena aku miskin?"

"Kau sangat miskin."

Gadis dengan helai merah muda yang setengah terpotong itu tertawa kecil. "Rasanya 'aku miskin' ini menjadi celah untukmu supaya bisa melakukan apapun, ya."

"Kau sendiri yang memberi celah itu."

"Celah kemiskinan?"

Sasuke menyisir helai merah muda itu, menggenggamnya, memotongnya. "Saat pertama kali kaudatang ke mari. Kau melakukan itu karena tidak ada uang,'kan?"

Seolah ada sesuatu yang menyambarnya, Sakura berbalik. Ekspresinya kelihatan seperti telah kecurian sesuatu yang penting, tetapi sedetik kemudian ia tertawa. Keras. Keras sekali. Kepalanya bersandar di paha Sasuke sementara air matanya terus mengalir tanpa henti.

"Hei, hei, hei."

"Sial, aku ingat itu. Itu sangat memalukan."

"Kan? Aku tahu itu akan membuatmu malu setengah mati di masa depan, saat ini."

Sakura masih saja tertawa. Kepala dan bahunya terguncang, Sasuke merasakannya. Ia kemudian menyentuh pucuk merah muda Sakura lagi.

"Kemiskinanmu itu membawa banyak celah. Tapi jangan biarkan siapapun masuk seenaknya."

"Hooh, lihat siapa yang berbicara …"

"Aku sudah banyak mengambil kesempatan dari kemiskinanmu. Mungkin di masa depan, saking miskinnya dirimu, aku bisa-bisa terpaksa menikahimu."

"…"

"…"

"HAHAHAHAHAHA!"

"Lihat, leluconku bagus bukan," kata Sasuke, tersenyum bangga kendati pipinya memerah padam. "aku berhasil membuatmu banyak tertawa hari ini."

"Sial, Uchiha Sasuke sialan."

"Jadi itu balasanmu karena aku telah membuatmu tertawa?"

Sakura mengangkat kepalanya. Netra hijaunya berkilat saat menawarkan jari kelingking ke wajah Sasuke.

"Pegang janjiku. Aku akan menjadi kaya sampai-sampai kau tidak bisa menikahiku."

Sasuke menyeringai, menautkan jari kelingking mereka.

"Pegang janjiku, sekaya apapun dirimu—kau tetap miskin di mataku."

Mereka berdua tertawa, sampai tengah malam. Mangkok ramen yang terisi setengahnya, rambut merah muda yang menyebar di karpetnya, ruang tengah gelap dengan televisi sebagai cahaya satu-satunya.

Dan ada kepala yang bersandar di bahunya.

Mungkin Uchiha Sasuke akan punya memori baru, bersamaan dengan matahari terbit pertama di tahun ini, ia percaya bahwa semua ini hanyalah awal; bagaimana ia akan mengenal Sakura dan memahami kalau dunia tidak berputar di bawah kakinya.

Ini semua hanyalah awal; dari siklus teman sekamar yang akan membawanya menapaki hidup baru. Terima kasih pada Sakura dan kemiskinannya, Sasuke dibuat meremas hatinya berkali-kali. Maka dari itu Sasuke memberi hadiah, sebuah kecup manis di awal tahun dan bisikan,

"Selamat tahun baru, Sakura."


selesai