Disclaimer: Masashi Kishimoto
ospusky, 2020
.
.
.
Gion Kyoto—15 Desember 20xx
Sakura termenung, menatap sang kekasih yang berdiri di hadapannya. Malam ini hujan turun, delapan belas jam yang lalu lelaki itu memberinya pesan; mengatakan ingin bertemu. Ia senang, sungguh. Hanya saja ketika mereka saling bertatap wajah, lelaki itu tidak mengatakan apa-apa selain memandangnya.
"Tolong, jangan mengatakan hal apapun." Sakura mulai bersuara, hatinya berdenyut sakit, ia tahu apa yang akan di katakan lelaki yang sudah mengisi kehidupannya hampir lima tahun.
Mereka berdua saling memahami, tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan situasi saat ini. Sakura tahu betul jika Sasuke ingin menyudahi hubungannya.
Sakura bahkan tidak bisa tidur semalaman, pikirannya sangat gelisah beberapa hari ini karena perubahan Sasuke yang sangat signifikan. Bukan perselingkuhan dasar masalah hubungan mereka, ada sesuatu yang sulit Sasuke jelaskan padanya sampai hari ini.
Melihat Sasuke saja membuatnya menangis, hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama tidak bisa menjelaskan seberapa banyak Sakura mencintainya.
"Sakura—"
"Jika kamu masih membahasnya, aku tidak akan menjawab apapun."
"Dengarkan aku."
Sakura menengadah. "Kau membenciku."
Sasuke terperangah. "Tidak... Aku sama sekali tidak membencimu."
"Lalu kenapa, Sasuke? Kenapa kamu memilih mengakhiri hubungan kita? Kebersamaan kita selama ini akhirnya akan menjadi sia-sia."
"Aku tidak bisa memberitahumu." Sasuke mengalihkan pandangannya.
"Aku harus bagaimana? Aku tahu aku banyak kekurangan, haruskah kita mengakhirinya?"
"Aku akan membuang logika dan egoku jika perlu, aku tidak ingin berpisah denganmu. Hari-hariku selalu di penuhi kamu, biarkan aku berada disisimu... Apa itu cukup?"
"Maaf."
Lelaki itu tahu betul jika untuk beberapa alasan mengatakan maaf tidaklah semudah itu, ia sudah bertekad akan mengatakannya malam ini, malam yang panjang akan menghapus semuanya.
Kebencian yang mungkin akan timbul pada wanitanya, Sasuke siap menerima konsekuensi atas tindakannya. Tangannya terkepal di saku mantelnya melihat Sakura menangis, untuk kesekian kalinya ia kembali membuat wanita yang ia cintai menangis.
"Pergilah Sakura, temui seseorang yang bisa membuatmu tersenyum, seseorang yang bisa membahagiakanmu."
Sakura menggeleng, ia terisak pelan.
"Katakan padaku alasannya." Emerald itu mencoba menatap oniks yang selama ini melihatnya penuh cinta, namun kini tidak ada lagi yang tersisa—setidaknya itu yang terlihat dari sisi Sakura.
"Karena aku ingin." Sasuke mengambil nafas sejenak, "Aku mengakhirinya karena aku ingin."
Ucapan Sasuke seperti hembusan angin malam, dingin dan menyakitkan. Selama ini Sakura pikir Sasuke adalah takdirnya, Tuhan memang mengirimkan lelaki itu untuknya, selamanya, agar ia tidak sendirian.
Namun malam ini, Sakura tertampar kenyataan. Sesungguhnya selamanya itu tidak ada, semua yang datang akan pergi pada waktunya. Sakura belajar satu hal, bahwa tidak semestinya ia berharap pada manusia.
Dan, malam itu menjadi saksi bisu bahwa hubungan mereka telah berakhir.
Meskipun satu hari sudah terlewati, Sakura tidak memungkiri jika ia merindukan Sasuke, tidak peduli satu minggu; satu bulan; atau satu tahun perasaannya tidak akan berubah meskipun semuanya sudah berlalu.
Sakura tidak berdaya, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Sasuke pergi dari pikirannya. Mencoba hidup tanpa lelaki itu lebih sulit dari bayangannya, mereka menghabiskan waktu bersama cukup lama, Sakura seperti tercekik.
Bagaimana keadaan lelaki itu sekarang?
Apa dia makan dengan baik? Tidur dengan benar? Apakah lelaki itu merindukannya seperti yang Sakura rasakan selama ini?
Dunianya sudah berbeda, kini ia kesepian. Tidak ada lagi sosok yang akan membangunkannya jika ia terlambat bangun, menjemputnya, mengajaknya makan malam, menggenggam tangannya erat, semuanya adalah kenangan yang indah.
Sakura sadari jika ia mulai serakah, membayangkan hidup bersama Sasuke, menjadi tua bersamanya, memegang tangan keriput lelakinya, kini hanya tinggal harapan yang menyakitkan.
Lagi-lagi air matanya memaksa keluar, selalu seperti ini—setiap malam bahkan hampir setiap waktu ia menangis, merindukan semua kenangannya. Bagaimana ia berusaha hidup dengan baik, menjalani seolah semua baik-baik saja.
Perasaan ini sungguh menyiksa, Sakura merasa tidak kuat lagi. Sekeras apapun usahanya, ia tidak bisa menyingkirkan bayangan Sasuke sepenuhnya. Sebut saja ia adalah wanita lemah dan bodoh, dimana masih mengharapkan lelaki yang sudah meninggalkannya datang menemuinya suatu hari nanti.
.
.
.
.
.
Taman Nango, Kyoto—12 April 20xx
Tidak terasa sudah musim semi, bunga-bunga sakura mulai bermekaran, dan mereka terlihat sangat cantik. Ingatannya kembali pada saat dimana seseorang mengatakan jika ia tidak kalah cantik dengan sqakura yang sesungguhnya, ia spesial.
"Kau tahu? Aku berpikir jika kalian berdua sangat cantik."
"Siapa?"
"Kau dan bunga sakura."
"Jadi aku seperti bunga?"
"Kau tidak kalah cantik dengan bunga, bagiku kau spesial."
"Spesial bagaimana, Sasuke?"
"Jika bunga sakura hanya bisa di lihat tiga bulan dalam satu tahun, aku bisa melihatmu setiap hari tanpa bosan."
Sakura tersenyum, ia menatap langit yang cerah hari ini. Ia berada di danau buatan tepatnya di Taman Nango Kyoto, tidak jauh dari stasiun JR Kameoka.
Sudah lama sekali ia tidak menikmati sejuknya semilir angin dan hangatnya sinar matahari. Ia merindukan momen seperti ini, dimana ia bisa hidup dengan semestinya, bersyukur kepada-Nya.
Sakura belajar berdamai dengan masa lalunya.
"Sakura?"
Ia menoleh, mendapati wanita pirang yang ia kenal bernama Ino—sahabat masa kecilnya dulu. Mereka sudah lama tidak komunikasi lantaran Ino pindah kota, namun kini tanpa di rencanakan Tuhan mempertemukan kembali.
"Hai." Sakura tersenyum, melambaikan tangannya.
"Oh, astaga!" Ino berjalan mendekat dan memeluk Sakura. "Aku pikir aku salah mengenal, sudah lama sekali aku tidak melihatmu dan kau masih tetap sama—cantik seperti musim semi."
"Terimakasih, kau juga tetap cantik seperti dulu."
Ino melepas pelukannya, "Dimana kau tinggal? Kita harus saling bertemu mulai sekarang."
"Gion Kyoto."
"Tidak jauh, aku akan mampir ke sana."
"Tentu saja, pintu rumahku selalu terbuka untukmu."
Ino tersenyum, lalu menatap sendu Sakura. Ekspresinya seperkian detik berubah, membuat Sakura bingung.
"Ada apa, Ino?"
"Aku turut berduka, Sakura."
"Berduka? Tunggu, maksudnya apa?"
Ino mengernyitkan alisnya, "Kau berpacaran dengan Sasuke, benar?"
Sakura mengangguk, "Ya... Aku sempat berpacaran dengannya tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Bagaimana kau tahu Sasuke berpacaran denganku?" imbuh Sakura lagi.
"Ayolah, kau berpacaran dengan salah satu orang terkenal di Kyoto! Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Kebetulan kekasihku tinggal disini, ia mengenal Sasuke—sebatas teman kerja, dan aku cukup tahu tentang lelaki itu."
Sakura mengangguk. "Aku sudah berpisah dengan Sasuke."
"Kau berpisah?" Ino terkejut, "kau meninggalkannya?"
"Tidak." Sakura menggeleng pelan, "Sasuke meninggalkanku, dia mengakhiri hubungan kami."
"Maaf Sakura, aku benar-benar tidak tahu."
"Hei, tidak apa-apa." Sakura tersenyum memaklumi, "Jadi apa maksud ucapanmu sebelumnya?"
Ino meraih tangan Sakura, di gengam erat. Tampak ragu memberitahu sahabatnya, Ino menghela nafas sejenak, "Sasuke sudah tiada, Sakura."
Sakura terdiam, jantungnya berdegup cepat, nafasnya kian terasa sulit. Setelah semua perjuangannya pada titik ini, bagaimana bisa kabar Sasuke kembali membuatnya jatuh?
"Tidak, itu tidak mungkin." Sakura menggeleng, ia menolak keras apa yang ia dengar.
"Sasuke meninggal satu bulan yang lalu karena sakit. Ia menjalani kemoterapi di Amerika, tapi tidak berhasil membuatnya kembali sehat, aku tahu hal ini karena kekasihku menjenguk Sasuke beberapa kali. Aku pikir kau sudah tahu hal ini Sakura, maafkan aku."
Sakura menangis, dadanya terasa sesak, Ino langsung memeluk Sakura. Menguatkan wanita merah itu yang kembali rapuh untuk kedua kalinya.
Sasuke, lelaki yang mencintainya seseorang yang selalu ia rindukan. Benarkah sudah tidak ada? Bagaimana bisa ia tidak mengetahui kabar kepergian Sasuke?—tidak. Sakura bahkan tidak tahu jika Sasuke sakit.
Lelaki itu selalu tersenyum, tidak pernah sedikitpun Sasuke terlihat kesakitan. Dulu sekali Sakura pernah melihat Sasuke mimisan dan lelaki itu bilang tidak apa-apa dia hanya kelelahan. Sasuke menyembunyikan penyakitnya.
Sakura terisak, mungkinkah Sasuke mengakhiri hubungannya karena tahu ia tidak akan hidup lebih lama? Hanya karena tidak ingin melihatnya menangis dan memandang lelaki itu dalam keadaan rapuh tidak berdaya?
Sakura menyesal, ia terlambat. Sasuke sudah pergi, cintanya, pangerannya tidak akan bisa ia temui lagi. Biarlah kenangan indah mereka menyelimuti hidupnya, tidak perduli jika memang takdir berkata lain, cintanya hanya akan bersemi pada Uchiha Sasuke.
-END-
