Rome, Italy

Rivaille Ackerman, pengantar pizza berumur di atas 30 tahun yang membenci hidupnya sendiri, kehidupan orang lain, dan kehidupan seekor kucing rumahan yang ia beri nama Eren.

"Antarkan pesanan ini."

Hange Zoe, si pemilik kedai pizza menyodorkan secarik kertas kusut pada Rivaille yang—sialnya—sedang tidak ingin memiliki agenda apapun hari ini.

Butuh tiga detik bagi si karyawan veteran itu menerima keterangan alamat di tangannya dengan ikhlas.

Kepalanya mendongak, mata sipitnya menelisik Hange dengan tatapan menyelidik.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?"

"Secepatnya."

Mendengus, membuang muka, Rivaille menggurutu.

"Baiklah." Tangannya menarik ujung topi hingga menutupi sebagian kening, menghalangi wajahnya yang kesal. Tanpa banyak bicara, ia bangkit menghentak dari kursi kasir, menyambar bungkusan plastik putih di ujung meja, mencabut kunci vespa dari tempat gantungan dengan berisik, dan melangkah keluar tanpa pamit.

Hange hanya mendengus menyaksikan tingkah karyawannya.

Memang terkadang yang sudah berumur susah diatur.

Sekilas, nampak tidak ada yang salah bila engkau adalah seorang pria jantan yang bekerja sebagai seorang pengantar pizza.

Dan bekerja sehari-hari dengan mengendarai seonggok vespa tua.

Tapi, tunggu sebentar. Rivaille siap berdebat dengan siapa saja yang kontradiktif dengan sudut pandangnya.

Tolong ditelisik kembali. Umurnya tiga puluh empat, perawakannya tampan meyakinkan, kesehatan tubuh eksklusif, pola makan teratur, punya tato punggung ... tapi, bekerja jadi pengantar pizza.

Ganteng-ganteng dilecehkan.

Rivaille siap memasang nominal taruhan tertinggi bagi siapa saja yang meragukan bahwa dirinya adalah pria sejati yang selayaknya memiliki kehidupan borjuis bergelimang harta, takhta dan wanita, ketimbang menjadi pengantar pizza yang bersahabat dengan vespa.

Alasan mengapa mengapa ia benci kehidupan orang lain: karena dia sudah punya seribu satu alasan untuk membenci hidupnya sendiri. Sebagai si jenius yang pesimis pada hakikat dari tujuan hidup umat manusia, sudah jelas dia akan membenci semesta termasuk segala isinya.

Hidup pesimis dan mudah curiga pada segala sesuatu sudah menjadi ideologi dasarnya sejak balita.

Baru berumur 6 tahun saja dia sudah memikirkan bagaimana caranya membangun laju investasi kantin sekolah dengan memberikan pendidikan mengenai pola makan anak SD di kompleks lokal pada ibu kantin.

Permainan saham real estate hanyalah teman dari jamuan teh sore hari di hari Minggu.

Huft. Dan soal kucing ...

... alasannya sudah jelas.

Itu adalah kucing.

Dan namanya Eren.

Selesai.


Chapter I:

The Pizza Delivery Man, The Panic Boy, and The Crying Kid

.

911? Yes, this is pizza delivery. © Raputopu

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime


Stasiun Roma Termini, Rome, Italy

Eren Jaeger, enam belas tahun, perilaku kelewat dramatis, berani taruhan dengan seluruh penduduk Berlin bahwa ia tidak sedang berdiri di stasiun kereta api Perancis.

Tapi sekali lagi, dia tidak yakin apakah tulisan-tulisan berbahasa Italia di papan pengumuman di pojok sana itu memang sengaja diletakkan di sana. Ditambah lagi poster-poster pemandangan Colosseum dan Menara Pisa yang terpajang di atas kepala. Belum lagi papan iklan bergambar Sungai Venice di poster-poster outlet. Belum lagi aroma pizza matang yang menyeruduk hidungnya. Belum lagi soal lagu-lagu paduan suara gereja yang berkumandang dari interkom.

Dan belum lagi tentang dialog-dialog bahasa Italia yang terdengar di mana-mana.

Eren mengernyitkan dahinya. Tunggu sebentar.

Tidak mungkin.

Eren berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan kalimat motivasi.

Tidak mungkin, kan, adegan klise 'salah jurusan kereta api' yang sering terjadi di film drama bisa sungguhan terjadi?

Ada yang perlu dikoreksi di sini.

Seharusnya sekarang dia berada di Perancis.

Seharusnya di detik ini dia berada di Perancis.

"Ini Perancis ... kan?"

Dirinya sendiri bahkan tak yakin dengan kata-kata yang terlontar dari bibirnya.

Pagi tadi Eren sudah pasti kurang asupan nutrisi dan waktu istirahat yang normal.

Alam semesta pasti sedang mempermainkannya.

Eren melongokan kepala mencari-cari jawaban.

Tidak mungkin, kan, dia tertidur sepanjang perjalanan kereta antara Perancis-Italia dengan begitu mudahnya? Tidak mungkin, kan, petugas kereta api tidak menyadari kehadirannya? Tidak mungkin, kan, suara peluit kereta api rusak begitu saja?

Eren menegak ludah.

Atau mungkin saja?

Eren memeriksa kembali tiketnya agar tidak dikira gila.

Tiket kusut itu terbuka perlahan.

Eren menyipitkan mata, napasnya tertahan.

'Stasiun Roma Termini.'

Roma. Termini.

Kaki Eren nyaris meleleh. Selesai sudah.

Tidak ada yang namanya Stasiun Roma Termini di dunia ini.

Tidak ada.

Kecuali di Italia.

"Aaaaaargh!" Eren meraung kesal ke udara.

Tebak siapa yang sudah menyusun strategi sejak musim panas tahun lalu untuk menghabiskan momen akhir tahun di sebuah kota romantis bernama Paris, namun pada akhirnya malah melintas beberapa mil lebih jauh dan tiba sebuah negara bernama Italia?

Kita telah menemukan orangnya, saudara-saudara.

Dan dia adalah Eren Jaeger yang naif dan tak berdosa.

Dua puluh detik sebelum kereta api terakhir tiba, para pengunjung stasiun dihibur dengan pertunjukkan dari seorang anak remaja berambut cokelat yang menginjak-injak tiket kereta dengan sumpah serapah multi-bahasa.

.

.

Vespa dengan catatan speedometer mencapai angka di atas batas rata-rata menembus barisan mobil di balik lampu merah, meliuk di antara kepadatan lalu-lintas Roma, membelah jalanan dengan bunyi ringsek dari knalpot yang nyaris binasa.

Sahutan klakson jalan raya terdengar seperti biasa. Namun, kali ini digandakan dengan omelan riuh dari pengemudi lain yang merasa terancam dari keberadaan vespa liar di jalan terbuka.

Rivaille membiarkan semua kendaraan tertinggal di belakangnya dengan dengus kemenanangan sinis.

Aku akan selalu menjadi yang terdepan.

Lima puluh meter dari arah timur lampu merah terdapat rambu di tengah jalan bertuliskan galian pipa tanah.

Pria berdarah Perancis itu mendecih. Halangan di tengah misi bukanlah sebuah masalah.

Lampu tanda jalan dinyalakan spontan, kemudi dibanting menuju arah berlawanan.

Dia berbelok menuju Stasiun Roma Termini.

Estimasi waktu pizza tiba di rumah klien sisa sepuluh menit. Dia tidak boleh terlambat atau sebagai gantinya uang tip dipotong lima puluh persen.

Itu sudah jauh lebih hina dari sekedar pelecehan martabat mengenai identitas pekerjaan yang tidak wajar.

.

.

Stasiun Roma Termini atau dalam bahasa Italia disebut Stazione di Roma Termini adalah stasiun kereta utama di Roma. Dinamakan sama dengan distrik dimana stasiun ini berada, yang diambil dari bahasa latin thermae atau tempat mandi air panas, yang terletak di seberang jalan dari gerbang utama stasiun.

Andai saja Eren masih punya cukup uang, maka ia tinggal menginvestasikannya untuk pergi ke destinasi Paris di kereta selanjutnya.

Namun, sungguh, yang terakhir itu adalah sisa uang terakhir.

"Eren, kau bodoh." ujar Eren kepada dirinya sendiri.

Kalau perlu, Eren ingin membawa spanduk dengan tulisan besar 'Aku Salah Jurusan Kereta Api' dan membiarkan dirinya menari telanjang di sepanjang jalan Vatikan sambil menunggu dihukum cambuk.

Nah, sekarang siapa yang bersedia mengantarkan anak berumur enam belas tahun bertampang hina yang merantau jauh-jauh dari Jerman dan ingin melancong ke Perancis dengan uang yang tak seberapa?

Sebagai gantinya dia malah tiba di Italia dan sibuk menyalahkan dunia.

Eren menjambak rambutnya frustasi dan meraung liar di tengah-tengah populasi warga Italia yang berjalan padat merayap di sepanjang jalan seberang stasiun Italia.

"Siapaaaaaa?!"

Jawabannya adalah sebuah decitan ban motor yang menginterupsi dengan bunyi pekikan klakson panjang, disusul kaca helm hitam yang terbuka segera.

"Minggir atau mati."

Atmosfer sinisme itu menembus telinganya.

Eren tersentak, baru sadar ia berdiri di tengah jalan.

Si pengantar pizza menunjukkan ekspresi bahwa ia baru saja melewatkan ritual kopinya pagi ini. Nampak jelas lewat kerutan panjang tiga lapis di atas alisnya, lengkap dengan ujung bibir yang menukik tajam ke bawah.

Melihat Eren yang tidak menjawab dan sudah menyia-nyiakan dua puluh detik berharga hidupnya, Rivaille segera banting stir dan bersiap memutar gasnya.

"Pak! Pak!"

Tiba-tiba sebuah tangan melintang di depan wajah Rivaille.

Kali ini giliran Eren yang menginterupsi Rivaille.

"Cepat, bocah! Aku hanya punya waktu 9 menit 30 detik lagi untuk mengantar sampah ini!"

Eren memotong. "Anda dari Perancis?"

Matanya melirik dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ya." katanya sinis. "Dan kau entah dari mana."

Rivaille kembali banting stir dan hendak menginjak gasnya.

"Pak! Pak!"

Eren kembali menginterupsi dengan tangan yang melintas di depan wajah—kali ini di dekat hidung Rivaille.

Naik satu oktaf. "Apa lagi kali ini!"

"Logat Perancis anda sangat kental. Saya yakin anda sangat mengenal baik tempat-tempat di Perancis. Bisakah anda menunjukkan tempat terdekat untuk mencapai stasiun Austerlitz dari sini?"

Rivaille terlihat berpikir sejenak. Matanya memandang jauh ke arah lampu merah.

Sepuluh detik berlalu dan Eren mulai memain-mainkan ujung sepatunya.

"Ada saran?"

Pria ganas itu menoleh. "Hm?"

"Apakah sulit dicapai dari sini?"

Rivaille memotong. "Diam. Aku sedang menunggu lampu merah."

"Ap—"

Sebelum Eren sempat bertindak, Rivaille banting stir dan menginjak gasnya dalam-dalam.

Kali ini Eren tidak sempat menghalau. Asap knalpot meninggalkan Eren di belakang. Raungannya tenggelam di atmosfer jalan raya.

"SIR!"

Setelah terpisah oleh jarak sepuluh meter, barulah terdengar teriakan marah si pengantar pizza di ujung sana.

"Gunakan google maps, tolol!"


Via Margutta, Rome, Italy

Rivaille tiba di penghujung perjalanannya sepuluh detik lebih awal.

"Perjalanan menuju pintu masuk membutuhkan waktu lima detik. Rumah bertingkat. Estimasi klien membuka pintu empat detik. Tidak. Dia pasti di ruang tengah, sedang menonton bola sambil menunggu pesanan tiba. Sial. Pertandingan sudah dimulai. Dua detik sebelum benar-benar bangun dari kursi. Belum lagi sapaan bodoh itu. Tolol. Aku lupa kalimatnya."

Ia memencet bel, kemudian menunggu gelisah selama lima detik. Tidak ada jawaban. Dia mendengus.

Bunyi bel kedua kali, kemudian menunggu gelisah selama lima detik. Tidak ada sahutan. Dia mendengus.

Bunyi bel ketiga kali, Rivaille mulai menduga-duga bahwa rumah ini tidak ada penghuninya.

Tidak ada dalam sejarah ada orang menyambut pizza selama ini.

Bunyi ponsel memecahkan keheningan.

Dari Hange.

"Di luar dari rencana, klien membatalkan pesanan."

Kejamnya dunia.

Pesan singkat itu tiba saat kakinya sudah memijak teras, menghilangkan harapannya dari nikmat uang tip. Segera ia mempertanyakan segalanya, mengapa bisa secepat itu klien berubah pikiran?

"Dia pergi mengunjungi neneknya. Katanya, sekarang ia memiliki makanan berlimpah untuk seminggu ke depan."

"Aku harap nenekku juga semenyenangkan itu."

"Nenekmu sudah tidak ada."

Hange memang orang yang sangat kaku.

"Lalu, akan kuapakan pizza ini?"

"Bonus. Ambil saja. Nasibnya ada di tanganmu."

"Oke." Akan kubuang.

"Dan jangan dibuang."

Rivaille bersumpah Hange tidak bisa membaca pikiran orang.

"Pasti." Bahkan kucing saja tidak mau memakan pizza-mu.

"Kucingmu akan menyukainya."

Hange. Cukup.


Stasiun Roma Termini, Rome, Italy

Mungkin benar yang diucapkan oleh si pengantar pizza kejam yang barusan, internet adalah jawaban untuk segala doa. Tapi, sekali lagi, hari ini alam semesta sedang mempermainkannya.

Harusnya Eren sedikit lebih pintar dengan menyadari bahwa tertidur di kereta antar negara dalam sepanjang perjalanan ditemani dengan satu album komposer gitar listrik pun mampu menyurutkan daya baterai ponsel pintarnya, satu-satunya sumber kehidupan yang ia miliki sekarang.

Kata orang-orang di artikel pelancong, tersesatlah di Roma!

Harusnya kalimat itu ditambahkan, lalu mati dan membusuklah di gorong-gorong bersama tikus-tikus liar dan hanyut dalam banjir Venecia dan tidak akan ada seorang pun yang mengingatmu karena tidak ada yang peduli!

Satu masalah besar untuk saat ini. Eren tidak tahu harus bertemu siapa.

Kecuali, ada orang-orang yang memang bekerja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Pusat Informasi Pariwisata Termini.


Via Margutta, Rome, Italy

Rivaille mengutuk seluruh dunia beserta isinya sebelum melangkahkan kaki meningalkan rumah itu.

Tepat di tengah perjalanan setapak, ia melihat seorang anak kecil berdiri ketakutan dan menyembunyikan dirinya di balik kotak pos, sambil sesekali mengintip dengan wajah cemas.

Rivaille mengernyitkan keningnya. Kenapa lagi dengan anak ini?

Ia mendengus dan berjalan masa bodoh menuju vespa-nya yang terparkir di sisi yang berlawanan dengan posisi sang anak. Ketika Rivaille berbalik dan membelakangi anak itu, anak tersebut berteriak memanggil.

"P-Paman!"

Rivaille memuter bola mata. Apa lagi kali ini?

Ia menoleh dengan lambat.

Kali ini sang anak berhasil memberanikan dirinya untuk keluar dari markas pertahanannya.

Dia meremat-remat tangannya dan menunduk malu-malu seperti hendak pipis.

"Tidak, Nak. Aku tidak akan mengantarkanmu ke rumah Ibumu."

"Paman! Kurasa Paman harus melihat ke dalam rumah itu. Tadi," napasnya terputus-putus. "sepertinya tadi terjadi perkelahian."

"Lalu, mengapa aku harus peduli?"

"Di ... di dalam sana ada Pamanku, Paman."

Rivaille terdiam.

"Mari kita lihat."

Dua pria masuk mengendap di teras. Yang satu kecil, gemetaran, dan hendak menangis. Yang satunya tua, pemarah dan hendak memukul orang.

Rivaille sudah lebih dari siap. Dia tidak takut pada manusia. Dia tidak takut pada iblis. Yang ditakutkan adalah masa tuanya dihabiskan dengan melakukan rutinitas bodoh. Yang satu ini, Rivaille memastikan, tidak akan masuk hitungan.

Tidak terdengar suara dari dalam rumah, namun kesunyian dari dalam sana seperti algojo tak kasat mata yang mengundangmu untuk datang dan bertarung.

Rivaille melirik ke si anak kecil penakut. "Kau yakin mereka masih di dalam?"

Anak itu menggeleng, terlihat tidak yakin.

"Dalam hitungan ketiga—apabila kau melihat pisau atau pistol, segera menunduk, berlari, dan cari apapun untuk melindungi diri, kemudian cari kotak telepon terdekat dan hubungi polisi. Mengerti?"

Anak itu mengangguk perlahan.

Badan Rivaille tersedot kembali ke belakang saat ia hendak melangkah.

Ia menoleh dan tangan mungil itu meremat kemejanya.

Mata berairnya berbinar-binar dan menatap Rivaille dengan penuh pengharapan. "T-tapi, bagaimana denganmu, Paman?"

Rivaille mendengus.

"Tidak akan ada yang khawatir padaku. Tenanglah."


Piazza dei Cinquecento

Eren menaiki bus dengan sisa koleksi Euro berharga. Sisihkan sebagian untuk mencari pertolongan dan sisanya untuk mendapatkan hiburan.

Sesungguhnya dia tidak memiliki cukup nominal untuk melakukan perjalanan pulang. Sungguh, niat awalnya untuk tiba di Perancis hanya ingin makan enak di tempat ayahnya dan mendapatkan jajan berupa tiket pulang.

Sungguh semesta menampar keras wajah durhakanya sekarang.

Dia berencana untuk mencari tempat tinggal sementara di penginapan murah sembari menunggu kematiannya. Alasannya tidak seratus persen bodoh. Pertama, karena di hotel pasti banyak turis. Kedua, semakin banyak turis, semakin besar pula kemungkinan menemukan orang Perancis. Tiga, semakin banyak turis, semakin tinggi pula kemungkinan untuk memelas dan bisa diantarkan ke Paris. Mungkin dengan iming-iming pelayanan kontak fisik, tapi itu urusan nanti.

Entah suratan takdir dari mana, di perjalanan Eren melihat motor vespa butut dengan stiker dekil Pizza di badannya terparkir di depan semua rumah.

Eren mengernyit. Dia seperti pernah melihat motor itu entah di mana. Tapi, entah hasutan setan dari mana, Eren merasa harus bertemu kembali dengan si pemilik motor itu.

"Berhenti, Pak!"

Eren membayar dengan uang saku terakhir dan berlari keluar dari pintu bus.


Via Margutta, Rome, Italy

Suasana di ruang tamu itu sesunyi denging pagi hari di perkebunan Irlandia. Mata Rivaille menyelidik tiap sudut ruang tamu.

Karena, demi Titan, mengapa dia sampai harus melihat taplak meja tergeletak di lantai. Sungguh, si pemilik rumah bukanlah makhluk manusiawi.

Rivaille menoleh. "Hei. Lain kali suruh pamanmu kalau berkelahi dengan taplak meja, pastikan dikembalikan ke tempatnya. Lihat kekacauan yang sudah dia buat. Manusia mana yang mau masuk ke kandang berantakan seperti ini."

Anak itu tambah menangis. "T-tapi, Paman—"

"Aku mengerti. Mari kita cek ke dapur."

Rivaille mengendap menuju dapur dituntun oleh sang anak.

Sialnya—atau beruntungnya—anak itu benar. Setidaknya dia tidak berbohong dan mengelabuinya dengan dusta belaka, karena ruangan itu benar porak-poranda adanya. Pisau-pisau dapur bergeletakkan di lantai. Panci-panci tersebar di atas meja masak. Kursi makan terbalik.

Dan yang lebih mengerikan lagi, keduanya melihat jejak darah segar yang melintas menjadi sepetak jalan menuju jendela pecah berbingkai beling-beling tajam.

"Permisi."

Kedua orang itu menoleh cepat.

Eren tersenyum cengir. Rivaille membentak. "Demi Titan! Apa yang kau lakukan di sini!"

"Maaf, aku melihat motor anda terparkir di depan dan saya pikir—ASTAGA! APA ITU!"

Gendang telinga Rivaille yang tidak siap menerima desibel suara memekik itu kontan langsung menjauhkan kepalanya dari kepanikan hiperbola seorang Eren Jaeger.

"I-i-itu, d-darah?"

Rivaille memotong cepat. "Tidak. Itu saus tomat—TENTU SAJA ITU DARAH, BODOH!"

Tapi penjelasan Rivaille sama sekali tidak membuat Eren tenang. Alih-alih membuat remaja Jerman itu kian tertekan.

"A-APA YANG BARU SAJA KALIAN LAKUKAN?!"

Rivaille dan anak kecil tadi saling bertukar pandang dengan pikiran yang sama. Apa ada yang salah dengan orang ini?

"A-a-aku akan melapor polisi! Lihat saja! Tunggu kalian!"

Tangan Eren gemeteran memencet layar ponsel.

Rivaille maju selangkah. Menghempaskan potongan pizza malang itu ke kepala Eren.

"Ya, panggil dan kerahkan semua polisi dan detektif di kota ini. Sekalian panggil baby-sitter juga untuk mengurus anak itu dan customer service senior yang biasa mengurus orang hilang seperti kau, agar aku bisa lepas dari semua kebodohan ini!" jerit Rivaille frustasi. "Demi Titan, aku hanya sedang mengantar pizza!"

.

.

"Kita tidak akan melapor polisi." kata Rivaille tegas sebelum menggigit pizza.

Kepala si anak kecil dan Eren terangkat bersamaan sebelum mulut mereka menggigit pizza, memandang Rivaille seperti pria itu seolah-olah berasal dari Mars.

Eren mengangguk-angguk bijak. "Oke. Lalu, diselimuti perasaan bersalah seumur hidup karena Paman dari anak ini tidak ditemukan dan pizzamu tidak akan dibayar?"

"Kau pikir polisi akan bekerja cepat?" tandas Rivaille. "Kau pikir semua ini akan terungkap dalam sekejap? Kau pikir mereka akan melepasmu begitu saja? Kau itu saksi mata, bodoh. Mereka akan menahanmu, mencercamu dengan berbagai pertanyaan, menyalahkanmu, menekanmu, bahkan bisa mencurigaimu! Kau tidak akan pernah bisa keluar dari negara ini karena nama dan wajah sialanmu sudah beredar di interpol dan surat kabar!"

Eren termangu, sama sekali belum menggigit pizzanya.

"Jadi, jika kau merasa ingin sok pahlawan dan mengharapkan para polisi itu akan membantumu menuju jalan pulang, jangan harap!"

Wajah mengerikan Rivaille sama sekali tidak membuat Eren menjadi nafsu makan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan ... " Anak itu merengek perlahan. Matanya berair dan memandang dua pria yang sedari tadi bertengkar di hadapannya.

"Siapa namamu, Nak?" tanya Rivaille.

"... Armin."

"Baik, Armin. Kami akan berusaha untuk membantu mencari Pamanmu. Dari kekacauan yang si penyusup itu buat, kurasa dia bukan berasal dari penjahat murahan di pinggir jalan. Ini jelas-jelas adalah penangkapan profesional. Lalu, apa pekerjaan Pamanmu, Armin? Apakah orang penting? Yang selalu bertemu dengan orang-orang berdasi? Pemilik restoran bintang lima?"

Armin tersengguk. "Y-ya ... kurasa semuanya benar."

Eren menolehkan kepala.

"Hei, bagaimana kau tahu semua itu?"

Rivaille memutar bola matanya.

"Tidak, kah, kau melihatnya? Sertifikat-sertifikat memasak itu? Piagam penghargaan restoran." Tolehnya pada pajangan-pajangan berkaca di dinding. "Dan foto-foto dengan pejabat di sana? Banyak laptop dan peralatan teknologi canggih di pojok sana. Coba lihat. Meski rumahnya kecil, namun barang-barang di ruangan ini bahkan lebih mahal dari harga rumahmu."

Eren menimbang.

"Kurasa, ya."

"Paman Armin orang penting." kata Rivaille sebelum menggigit potongan pizza kedua. "Tidak mungkin dia akan disiksa. Paling hanya disandera. Nyawanya berharga. Kalau dilihat dari jejak darahnya, kemungkinan itu darah si pelaku. Dikarenakan banyak jejak darah di peralatan dapurnya, sudah pasti orang yang paling paham mengenai teritori dapur yang mampu mengambil barang sebanyak itu untuk jaga diri." Rivaille mengakhiri ucapannya dengan gigitan besar.

"Kau tahu dari mana tentang semua itu?" Alis Eren bertautan curiga.

"Tidak pernah, kah, kau diajarkan di sekolah untuk menganalisa?" potongnya dengan sangat dingin dan ketus.

Eren merasa sangat tersinggung.

"Siapa namamu?"

"Untuk apa kau bertanya?"

"Agar aku tak memanggilmu Bodoh terus."

Eren menarik napas dalam, berusaha menahan diri.

"Eren."

Gerakan mengunyah Rivaille terhenti di udara. Kontan matanya membesar. Raut keterkejutan menguar di wajahnya. "Siapa?"

Eren mengdenguskan napas, kesal. "Eren."

"Kau yakin namamu itu?" desak Rivaille dengan pandangan menyelidik.

"Tentu saja!" sentak Eren. "Aku sudah menggunakan nama itu selama enam belas tahun!"

Melihat ekspresi keterkejutan Rivaille, Eren menjadi penasaran.

"Kenapa?"

Tiba-tiba terbersit di dalam kepalanya wajah kucing cokelat bandel yang suka mencuri ikannya di rumah. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja ... itu nama yang familiar."

Dalam kurung, nama kucing sialan di rumahnya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Armin polos.

"Pertama, kita akan mencari dan menemukan Pamanmu. Lalu membantu Eren untuk menemukan jalan pulang."

"Wow, anda terlihat percaya diri sekali." Sindir Eren sarkas. "Kau punya jaminan, Tuan ...?" Eren menaikkan alis, sambil melirik jahitan nama di dada kiri si pengantar pizza yang emosian, namun tidak menemukan apa pun di sana selain bekas sobekan dan jahitan.

Rivaille memutar bola mata. "Rivaille."

"Tuan Rivaille." Eren mengangguk. "Bagaimana bisa Anda menjamin itu semua?" tanyanya penuh nada sangsi.

Rivaille menggigit potongan terakhir pizzanya dengan kerlingan mata tajam dan ekspresi percaya diri yang dingin.

"Jangan meremehkan orang tua yang haus petualangan, Nak."

.

.

tbc


A/N: Draft lama yang selalu setengah jadi. Jadi ditaruh di sini aja sebagai arsip online. Hhh.

Review?

Sign, Rapuh