Harry Potter J.K Rowling

Strawberry Shortcake by rossiex


Berdiri di kamar mandi asramanya, Hermione menatap lurus ke cermin dihadapannya. Menatap pada tubuh telanjangnya, dia merasa tidak percaya diri dengan itu.

Pikirannya sedih, setelah melakukan 'girl talk' bersama dengan teman-teman sekamarnya. Seperti halnya percakapan gadis pada umumnya, topik dari obrolan mereka tidaklah jauh dari anak laki-laki.

Mereka memiliki kehidupan romansa yang berbunga, bahkan ada yang sampai pada tahap yang lebih intim. Sangat berbeda dengan miliknya. Tidak ada yang melihatnya ataupun menginginkannya.

Hermione menatap pada tubuh telanjangnya sekali lagi. Dia bertanya-tanya kenapa dia tidak dilahirkan seperti Barbie. Boneka buatan Muggle yang popular itu. Karena mereka mengatakan bahwa anak laki-laki suka perempuan yang berpinggang kecil.

Bukan berarti dia gemuk atau apalah, hanya saja dia merasa tidak ada satupun yang menarik dari dirinya, terutama fisiknya.

Mengepalkan tangannya, Hermione mengusir pikiran yang mengganggu itu dari kepalanya dan mulai berpakaian, keluar dari kamar mandi.

Keesokan harinya, 'girl talk' kembali terjadi. Seperti biasa, mereka bercerita dan menyombongkan kehidupan romance masing-masing. Mereka bicara secara bergiliran sampai itu berlanjut ke Hermione.

Ginny, si kembar Patil, dan Lavender memfokuskan pandangan mereka padanya.

Tapi sebelum dia bisa membuka mulut untuk bicara, Lavender datang menyela.

"Serius, apa yang bisa dia ceritakan?" Ejek Lavender, menatapnya dengan menghina. "Bagaimana dia bisa menghibur kita dengan ceritanya, jika dia saja belum pernah berkencan sebelumnya."

Si kembar Patil tampak berusaha menyembunyikan tawa mereka, sedangkan Ginny hanya meringis mendengarnya.

"Tapi bagaimana dengan Victor Krum? Apa itu tidak termasuk ke dalam kategori kencan?" Padma bertanya.

Hermione akan menjawab, tapi Lavender kembali maju.

"Tentu saja tidak. Itu hanya bentuk interaksi formal untuk acara Yule Ball." Lavender berkicau. "Dan jelas itu bukan kencan, karena waktunya tidak lebih dari satu minggu!"

Si kembar Patil mengangguk mengiyakan.

"Jujur, apakah ada yang bahkan tertarik padamu?" Lavender menoleh dari si kembar dan kembali menatapnya.

Hermione akan membalas, tapi untuk yang ketiga kalinya, Lavender menyela.

"Kurasa tidak! Ya ampun.. lagipula siapa juga yang mau dengan kutu buku membosankan sepertimu." Cemoohnya yang diikuti dengan cekikikan dari si kembar Patil. Ginny sekali lagi, hanya meringis.

Hermione yang kesal dengan ejekan Lavender dan telah hilang kesabaran setelah berkali-kali disela, melemparkan buku yang selama ini duduk diam dipangkuannya dengan kasar ke kasur tempat tidurnya. Dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar kamar, keluar asrama, keluar dari tempat yang sangat menyinggung dan memuakkan itu.

Dia berjalan cepat, menghentakkan kakinya dengan kuat, mencoba menyalurkan kekesalannya ke tempat lain.

Saat akan melewati lubang potret, Harry dan Ron yang sedang melangsungkan pertandingan catur mereka, memanggilnya dan meneriakinya akan jam malam.

Tapi siapa yang akan peduli tentang hal itu sekarang, sungguh?

Dengan mengabaikan peringatan dari kedua sahabatnya, Hermione tetap melanjutkan langkahnya keluar.

Kakinya menuntunnya berjalan sampai ke Danau Hitam. Dia berhenti tepat ditepi yang membatasi antara air dan tanah. Tanpa banyak berpikir, dia melepas sepatu dan kaus kakinya sebelum mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.

Segera, desahan lega keluar dari bibirnya pada sensasi dingin menyegarkan di kakinya. Udara diluar memang cukup dingin, tapi itu masih tidak cukup untuk meredam panas amarah dari dirinya. Dia merasakan sentakan sihirnya bergetar dan menjalar ke rambut ikalnya.

"Merlin membantuku." Sebuah suara datang dari arah belakang.

Itu cukup mengejutkanya, mengingat sentakan kecil yang dilakukannya menimbulkan riak baru di permukaan air yang tenang. Menoleh, matanya segera menangkap bentuk Malfoy yang terbungkus oleh jubah mewahnya.

"Malfoy," gumamnya, tampak tak bersemangat.

"Berhasil terbebas dari detensi terkutuk hanya untuk keluar dan menghadapi monster laut." Ocehnya, sibuk dengan pilihan katanya. "Tidak! Ini hanya.. danau, lebih tepatnya."

Bayangkan ini malam hari yang gelap, sepi, dan dia berjalan sendirian (dengan kondisi kelelahan) saat melewati Danau Hitam untuk sampai ke asramanya, dan matanya berhasil menangkap sesosok penampakan (apapun itu!) dengan kepala liar yang menarik perhatian lebih dari yang diinginkan.

Hermione mengernyit pada hinaan Malfoy.

Sejelek itukah dirinya? Sampai seseorang seperti Malfoy (yang menurutnya tidak penting) memanggilnya monster.

"Begitukah menurutmu?"

Draco terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. "Hah?"

"Apa aku benar-benar terlihat sejelek itu? Seperti monster?"

Dia agak bingung untuk merespon omongannya. Mengingat wajahnya yang lesuh seperti tidak semangat untuk berdebat dengannya. Tidak seperti Granger yang biasanya.

"Jika kau masih membicarakan rambutmu, maka ya. Mereka tetap terlihat seperti monster, seperti biasa."

Hermione berbalik dan kembali membelakanginya. Malfoy benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa anak laki-laki bisa begitu dangkal?

"Pergilah Malfoy, aku sedang tidak mood menghadapi hinaanmu yang lain."

"Well, siapa juga yang ingin tetap disini. Aku akan pergi, Granger. Dan itu karena keinginanku sendiri!" Katanya, sebelum beranjak dari tempatnya.

Dengan itu, Hermione dibiarkan sendirian sekali lagi.

.o0o.

Ibunya selalu mengatakan padanya untuk tetap menjaga kesopanannya. Dilahirkan dari keluarga yang cukup mapan, mengingat kedua orang tuanya adalah dokter, Hermione selalu dituntut akan hal itu.

Terlepas dari dia yang sudah jarang berada dirumah, tapi setiap liburan semester di Hogwarts, ibunya akan memastikan etika-etika baik itu selalu diterapkan kembali.

Saat ini, duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya, Hermione makan dengan pelan dan tenang.

"Bagaimana sekolahmu, sayang?" Tanya ibunya, setelah wanita itu selesai dengan gelas Anggurnya.

Dia menelan makanannya dan bersiap untuk melakukan percakapan yang panjang. "Bagus. Nilai sempurna seperti biasa."

Mereka memberikan senyuman apresiatif padanya.

"Kau yakin tidak tertarik untuk pindah ke sekolah Muggle?" ayahnya memulai dengan pertanyaan khasnya. Dia selalu mengatakan itu setiap kali putrinya akan kembali ke Hogwarts untuk tahun berikutnya.

Hermione dengan sabar menggeleng. Berapa kalipun mereka membujuknya untuk pindah, dia akan tetap menolak.

Dia tau orang tuanya tidak terlalu suka dengan konsep 'sihir' ini. Tapi mereka harus bisa menerimanya. Karena sihir sudah menjadi bagian dari hidupnya.

"Well, ini masih belum terlambat. Kau bisa menamatkan pendidikanmu di Hogwarts lalu melanjutkannya ke Universitas di 'dunia' kita." Ayahnya melanjutkan.

"Kau bisa memilih jurusan Kedokteran, sayang. Dan begitu gelar telah kau dapatkan, kita bisa membuka praktek bersama-sama." Ibunya mengikuti dengan semangat.

Hermione hanya memberi mereka senyuman kecil. Dia tidak berkomentar banyak, tau bahwa itu hanya akan mengecewakan keduanya.

Mereka melanjutkan percakapan itu untuk waktu yang lama. Hermione tidak tau kapan itu akan berakhir. Yang pasti sekarang matanya mulai mengantuk dan dia ingin segera pergi untuk tidur.

"Sudah mengantuk?" ayahnya bertanya.

Dia tersentak mendengarnya, sebelum memberinya 'ya'.

"Baiklah. Kurasa kita bisa menyebutnya malam."

Dengan itu makan malam berakhir, dan semua orang kembali ke kamar masing-masing.

Hermione memutuskan untuk mandi terlebih dulu sebelum tidur. Jadi dia menelanjangi dirinya sekali lagi, mendekat dan menatap lurus ke cermin besar didepannya. Mengulangi apa yang dia lakukan di Hogwarts beberapa waktu lalu.

Dia mengelus pinggangnya mengukur, meremas payudaranya, dan memindai rambutnya. Pada bagian terakhir itu, Malfoy memang benar. Rambutnya terlihat seperti monster.

Menghembuskan nafas dengan kesal, dia menuju ke bak mandi dan menyalakan pancuran. Menuangkan sabun cair beserta minyak pewangi sebelum menceburkan diri kedalamnya.

Menutup matanya dan mencoba melupakan semuanya, Hermione mengumpat dalam hati.

Persetan dengan semuanya.

10 menit kemudian, setelah menutup pintu kamar mandinya, Hermione segera merangkak ke tempat tidur.

Dia bermimpi malam itu. Semua anak menertawakannya. Dan sosok Lavender dengan mulut mencibir mempermalukannya di depan umum.

Kutu buku. Jelek. Membosankan.

Adalah kata-kata terakhir yang bisa dia ingat.

.o0o.

Menjelang datangnya bulan September, Hermione disibukkan dengan persiapannya kembali untuk tahun ke-5 di Hogwarts.

Dia telah melakukan perjalanan ke Diagon Alley sendirian tanpa orang tuanya. Mereka tampak sangat sibuk dan dia sendiri telah memutuskan untuk menjadi dewasa dan berpergian sendiri.

Memang biasanya, dia akan ikut berkeliling dengan rombongan keluarga Weasley. Tapi kali ini dia memutuskan untuk tidak.

Dia baru saja keluar dari Flourish Blotts saat matanya secara tak sengaja menatap toko pakaian yang ada disebrang bangunan.

Bukan toko pakaian dengan label yang bisa dia ingat, tapi yang jelas disana kelihatannya mahal.

Dengan rasa penasaran yang baru, Hermione melangkah ke tempat yang tidak biasa itu.

The Victories, adalah nama yang dilihatnya di papan gantung.

'Kemenangan? Itu nama yang lucu untuk sebuah toko pakaian.' pikirnya.

Dia bergerak ke depan kaca tempat patung-patung yang memamerkan pakaian dipajang, dia menatap kagum semua itu, sebelum menangkap pantulan dirinya di cermin. Matanya menatap pada pilihan pakaiannya sendiri saat itu.

Tidak menarik, membosankan, dan biasa saja.

Itu hanya membuatnya kesal. Seperti dia secara tak langsung membenarkan perkataan Lavender Brown.

"Sial!" Umpatnya pelan.

Tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin dan angin dengan kecepatan kencang menabraknya. Itu cukup kencang untuk pergi dan meninggalkan kekacauan fantastik di rambutnya.

Saat tangannya sibuk merapikan kembali rambutnya, mulutnya tak henti-hentinya menggerutu. Dia terlalu asyik dengan kegiatannya saat seseorang berjalan mendekat ke arahnya.

"Perlu bantuan dengan rambutmu?" sebuah suara feminim terdengar.

Hermione, yang sebagian besar wajahnya masih tertutupi dengan rambut, mendongak dan mendapati seorang wanita cantik sedang menatapnya.

Dia terdiam sesaat. Merasakan perasaan familiar saat menatap wajah itu.

Tubuh tinggi, penampilan elegan, dengan rambut setengah pirang setengah hitam...

"L-Lady Malfoy!" serunya, agak terkejut melihat ibu dari teman sekelasnya yang sangat tidak biasa.

"Miss Granger, bukan?" Tanya wanita itu setelah berhasil memindai wajahnya.

Hermione mengangguk mengiyakan.

Narcissa Malfoy melihat gadis itu sebelum menatap ke toko yang akan dikunjunginya. Niat awalnya untuk berbelanja segera berubah menjadi sebuah rencana yang brilliant.

"Apa kau sudah menyelesaikan keperluan belanja untuk sekolahmu?" dia bertanya pada gadis muda itu, yang disambut dengan anggukan kaku darinya.

"Well, kenapa kita tidak masuk kedalam." Matanya memberi isyarat pada toko di depan mereka. "Sepertinya kita saling membutuhkan bantuan."

Hermione mendapati dirinya tidak bisa menolak. Jadi dengan berjalan berdampingan, mereka memasuki toko.

Untuk yang kesekian kalinya, Hermione berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri.

Illustration outfit:

Hanya saja kali ini berbeda. Dengan sepasang gaun yang cantik dan rambut barunya yang halus, dia merasa cantik. Lebih cantik dari penampilannya di Yule Ball.

Toko itu rupanya tidak hanya menyediakan deretan pakaian mewah, tapi juga salon perawatan yang bagus.

Dia praktis mengeluarkan bola matanya saat pertama kali melihat label harga untuk per potong gaunnya. Belum lagi semua jenis perawatan yang ada tampak tak kalah mahalnya. Jika dia menghitung semuanya dengan benar, apapun yang dia kenakan saat ini seharga enam bulan dari jatah uang sakunya.

Untungnya, Narcissa Malfoy dengan santai mengatakan akan membayar semua biaya. Meskipun Hermione yakin, semua ini tidaklah segratis kelihatannya.

Jadi dia berbalik, memutuskan untuk menghadapi apapun keinginan Lady Malfoy.

"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Lady Malfoy?" tanyanya pada akhirnya.

Narcissa yang sedang sibuk memilih brokat, balas menatapnya, mengangkat alisnya menantang.

"Kau mengatakan sebelumnya: sepertinya kita saling membutuhkan bantuan."

Wanita itu memunculkan senyumnya sebelum berkata, "Gadis pintar."

Hermione agak memerah pada pujian.

Narcissa menaruh brokat-brokat itu kembali ke tempatnya, sebelum berjalan mendekatinya.

"Sudah menjadi perhatianku bahwa Newt akan segera tiba," mulainya. "Dan Naga kecilku terlalu acuh untuk bahkan serius memikirkannya."

Hermione mengeluarkan 'oh' kecil, sepertinya mengerti kemana arah pembicaraan ini berlangsung.

"Kau menangkap maksudku kan, Miss Granger?" dia berhenti tepat disamping gadis itu. Mereka berdua sama-sama menghadap ke cermin.

"Kau ingin aku.. mengajarinya?" adalah pertanyaan remehnya.

"Ya, ya, tentu saja. Aku dengar kau cukup pintar dan rajin." Narcissa menambahkan. "Aku ingin kau membantunya saat dia kesulitan disetiap pelajarannya. Aku ingin kau mengawasi Naga kecilku, Miss Granger."

Jika ini situasi yang tidak terlalu serius (mengingat wajah Narcissa yang serius), Hermione akan tertawa pada nama panggilan Malfoy. Tapi kemudian dia mengangguk, menyanggupi permintaan Lady Malfoy.

"Aku mengerti. Aku akan berusaha membantunya, Lady Malfoy."

"Panggil aku Narcissa, please." Wanita itu berjalan lagi, kali ini ke sudut ruangan ke tempat tumpukan kotak-kotak itu berada. "Dan ini.. semua ini milikmu, sayang."

Hermione tersentak sebelum mendekat. "Apa ini Lady Mal-" dia berhenti ditengah, "Maksudku, Narcissa. Apa ini?"

"Oh! Hanya beberapa pakaian dan aksesoris kecil." Katanya, sambil membuka penutup kotak dan menunjukkan sedikit isinya.

"Sungguh, kau tidak perlu melakukan ini Lad-Narcissa." Hermione tergagap.

Wanita itu hanya mengangkat bahu enteng. "Bukan apa-apa. Aku memang sudah lama ingin melakukan ini. Sayang sekali tidak ada anak perempuan yang bisa diajak kompromi."

"Terima kasih, kau baik sekali." Hermione tidak bisa berkata lagi.

"Tidak perlu berterimakasih." Narcissa tersenyum padanya. "Yang hanya perlu kau lakukan adalah menjaga Draco untukku."

Hari itu, setelah pertemuannya dengan Narcissa Malfoy di toko, Hermione melangkah dengan tekad.

Dia berjalan pulang, membawa kotak-kotak pemberian Narcissa yang disimpannya di dalam tas mungilnya, dan bersiap untuk membenahi diri.

.o0o.

Suara keras dari peluit Hogwarts Express berdengung di stasiun King's Cross. Siswa-siswa Hogwarts terlihat berlalu lalang disekitar kereta untuk menyimpan koper mereka, bertukar salam dengan teman-teman mereka, sebelum mengucapkan salam perpisahan pada para orang tua yang mengantar.

Di sisi lain kerumunan, keluarga Weasley tak ketinggalan momen itu.

Berdiri di tengah lingkaran keluarganya, Molly Weasley menciumi satu persatu kepala anak-anaknya.

"Jaga diri kalian dengan baik!" adalah apa yang berulang kali dia ucapkan.

Ginny hanya tertawa menikmati perhatiannya, berbeda dengan Ron yang menggerutu, menyatakan bahwa dirinya bukan lagi anak kecil.

"Harry, sayang! Jaga dirimu juga," Molly menjangkau dan memeluknya, seperti yang dia lakukan pada semua anak-anaknya.

"Ya, Nyonya Weasley. Terima kasih." Harry membalasnya.

"Ow, kau jauh lebih baik dari Ronald." Gumamnya sayang. Matanya lalu berkeliaran ke sekitar, mencari satu lagi obyek untuk dipeluk. "Dimana Hermione? Tidak adakah yang pernah melihatnya?" tanyanya setelah menyadari salah satu anak asuhnya absen.

"Dia mengatakan akan sedikit terlambat." Ginny menjawab.

Molly mengangguk mengerti sebelum mengalihkan perhatian ke yang lain. Kali ini, si kembar Weasley adalah sasarannya.

"Fred! George! Berapa kali harus kukatakan untuk menyimpan petasan kalian.." suara Molly segera teredam oleh tingginya tingkat kerumunan yang tercipta.

Harry, Ron, dan Ginny ditinggalkan sendirian setelah itu.

"Untuk apa menurutmu Hermione terlambat?" Tanya Ron menjadi yang pertama.

Harry hanya mengangkat bahunya. "Tidak tau. Dia tidak menyebutnya secara spesifik."

"Well, kurasa itu sudah jelas. Dia mungkin sedang sibuk menata buku-bukunya." Ejek Ron.

"Jangan sok tau, Ron." Ginny menegur. "Ada saat dimana dia membutuhkan 'girl time' nya sendiri."

"Girl time?" Ron mendengus, tampak sangat geli dengan gagasan itu.

"Itu tampak tidak seperti Hermione sama sekali." Harry ikut mendukung, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Aku tidak percaya kalian berdua!" Ginny berseru. "Dia adalah sahabatmu. Kalian harus lebih pengertian lagi padanya!"

"Kami sudah mengerti dia, Ginny. Itulah kenapa kami tau Hermione bukan tipe gadis yang suka berdandan." Ron bersikeras.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku kasihan pada Hermione. Memiliki sahabat laki-laki memang tidak ada gunanya."

"Heyy!" Harry dan Ron serempak memprotes.

"Apa?" Ginny memelototi mereka, menantang. "Aku benar di sini. Kalian laki-laki selalu sangat dangkal jika itu sudah masuk ke topik perempuan."

"Ginny, kau tidak bisa menyalahkan kami. Apa yang-" perkataan Harry terpotong oleh umpatan Ron.

"Bloody Hell!"

Mereka bertiga segera menoleh pada obyek yang diteriaki Ron.

Di sana, dari arah kejauhan, datang Hermione yang menyeret kopernya dengan hak tingginya.

"Sejak kapan dia mulai memakai High hells?" Harry menyoroti sepatu temannya.

"Tidak. Lebih tepatnya adalah sejak kapan dia mulai memakai semua itu!" Ron menunjuk pada pakaian, sepatu, dan atribut apapun yang sekarang melekat pada Hermione.

IIlustration outfit:

Harry mengangguk, menyetujui kebingungan mereka.

Sedangkan Ginny hanya tersenyum saat melihat kemunculan Hermione Granger yang telah direformasi. "Inilah yang kusebut 'girl time'."

"Hah?" Harry dan Ron dengan bodohnya melongoh.

"Hello, everyone." Mereka dikejutkan dengan kemunculan Hermione di depan mereka.

"Hermione!"

Gadis itu tersenyum melihat reaksi terkejut teman-temannya.

"Bagaimana kabarmu? Kau tampak jauh lebih baik dari yang sebelumnya." Ginny bertanya, melihatnya naik turun dengan senyum penuh arti.

"Very good. Tidak ada waktu yang lebih baik daripada liburan dirumah dan merileksasikan diri." Katanya sambil menyibak rambutnya main-main.

"Ya ampun." Ginny tertawa melihat tingkahnya. "Oh, lihat! Kau memoles rambutmu?" dia mendekat dan ikut membelai ikal kecil temannya, yang sekarang terlihat jauh lebih lembut, rapi, dan tersusun.

"Bagaimana menurutmu?" Hermione menanyakan pendapatnya.

"Hermione, ini luar biasa. Ini bukan hasil dari ramuan rambut sederhana, apa kau pergi ke salon?"

"Sesuatu semacam itu."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan kedalam kereta setelah berhasil menyimpan koper di bagasi.

Ginny memimpin di barisan paling dengan untuk mencari kompartemen, disusul dengan Hermione, Harry dan Ron. Kedua anak laki-laki itu tidak bisa diandalkan untuk saat ini, mereka masih terlalu terkejut dengan perubahan Hermione.

Mereka melewati beberapa kompartemen dan menemukan bahwa sebagian besar sudah terisi penuh. Sepertinya mereka hanya akan kebagian kompartemen di deretan paling ujung.

Saat melewati salah satu kompartemen yang telah terisi, perhatian Hermione tertarik pada obyek pirang di dalam sana. Itu Malfoy, bersama dengan kroni-kroni Slytherin nya.

Tiba-tiba saja dia ingat apa yang tahun ini harus dia lakukan.

Dia akan menjaga 'Baby Dragon'.

Dan seolah sadar akan dirinya yang sedang diawasi, Draco Malfoy menoleh, menatap ke arahnya.

Mereka berbagi pandangan diam selama beberapa detik sebelum Hermione memutuskan kontak dan berjalan pergi, menyusul Ginny yang sudah jauh di depan.

.o0o.

Aula Besar ramai dengan siswa-siswa dari berbagai tahun. Upacara penyortingan baru saja berakhir dengan Gryffindor dan Hufflepuff memperoleh tambahan siswa terbanyak.

Ada peraturan yang agak berbeda tahun ini. Di tahun ini, Hogwarts tidak mengharuskan para siswanya untuk mengenakan seragam pada saat acara penyambutan tahun ajaran baru berlangsung. Jadi, untuk kesenangannya sendiri, Hermione tetap mengenakan gaun barunya.

Dilain sisi, Profesor Dumbledore berdiri, menyiapkan pidatonya seperti yang selalu dilakukan Kepala Sekolah setiap tahunnya.

"Ucapan selamat datang dariku, untuk kalian tahun-tahun pertama. Dan ucapan selamat kembali ke Hogwarts untuk tahun-tahun selanjutnya." Profesor Dumbledore memulai pidatonya. "Hari ini, kita dengan bahagia merayakan kembalinya..."

"Berapa lama lagi menurutmu ini akan berlangsung?" Ron berbisik pada Harry yang duduk di sampingnya. Mengabaikan ceramahan Dumbledore.

"Ron, ini bahkan baru saja dimulai." Harry menanggapi.

"Tidak bisa melewatkan yang satu ini di setiap tahunnya," gerutu Ron. "Untuk apa dia bicara untuk sesuatu yang sudah jelas, dan haruskah dia melakukan itu berulang-ulang?"

Harry menganggkat bahunya, "Kau tau, ini semua tentang protokol dan pengaturan sekolah."

"Hah! Membosankan." Keluhnya sambil meletakkan kepalanya di meja.

"Aku tau apa maksudmu, kawan." Gumam Harry, meminum kembali jus labunya.

Di depan sana, Profesor Dumbledore masih mengoceh tentang larangan bagi tahun-tahun pertama untuk pergi ke Hutan Terlarang sendirian.

Momen yang membosankan itu terus berlanjut. Sampai sebuah gumpalan kertas acak mendarat di kepala merah Ronald.

"Aww!" serunya saat merasakan ketukan di kepalanya.

Harry segera mengambil kertas yang kusut itu dan membukanya, mendapati ada tulisan didalamnya.

"Apa itu?" Ron menjulurkan kepalanya, ikut mengintip apa isi suratnya.

Apa yang terjadi pada temanmu Hermione? Apa itu bahkan Hermione Granger yang asli. Merlin, dia terlihat seperti orang yang berbeda. Dengan cara yang baik kurasa.

Itu tidak memiliki keterangan siapa penulisnya. Jadi mereka segera mendongak dan mencari siapa yang telah melemparkannya.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, hanya berjarak dua meter tepatnya, teman-teman mereka memandangnya. Seamus, Dean, Neville, dan beberapa anak laki-laki lain juga ikut mencuri pandang kearah Hermione setelah berhasil melewati Ron dan Harry.

Harry dan Ron saling pandang lagi, sebelum mengarahkan mata mereka ke Hermione, yang masih asyik mendengarkan ceramah Dumbledore.

Mereka lalu kembali menatap anak laki-laki dan mengangkat bahu.

'Kami juga tidak yakin.' Bisik Ron.

'Kami juga tidak tau.' Bisik Harry.

"Apa itu?" keduanya tersentak kaget. Mereka menemukan Hermione menatap ke gumpalan kertas yang telah diremas kembali.

"B-Bukan apa-apa." Harry tergagap, sedangkan Ron hanya memberinya senyuman gugup.

.o0o.

Setelah jamuan makan malam di Aula Besar berakhir, para siswa mulai berhamburan keluar untuk kembali ke asrama masing-masing.

Tapi untuk saat ini, Hermione tidak segera kembali ke asrama, melainkan mengintip dan mengintai melalui ceruk kecil yang dia temukan dari salah satu patung besar yang ada. Dia sedang menunggu targetnya keluar.

Dan begitu kilatan rambut pirang memenuhi penglihatannya, dia segera menjulurkan tangannya dan menarik penyihir untuk ikut bersembunyi bersamanya di belakang patung.

"Sialan. Apa-apan ini!" teriak Draco begitu merasakan tarikan dari arah misterius.

"Stt.. diamlah Malfoy!" perintah Hermione dengan suara pelan.

Draco mencoba tenang dan meluruskan dirinya saat dia mengenali suara feminim itu. "Apa ini, Granger? Belum genap sehari di Hogwarts dan kau sudah menarik pria secara acak ke ceruk gelap kastil."

Hermione memerah pada hinaannya. "Diam. Pelankan suaramu!" bisiknya dengan agak mendesis.

"Kenapa? Takut seseorang mengetahui kegiatan malammu?" ejek Draco.

"Bukan begitu, dasar kau git." geram Hermione. "Dan aku tidak menarik pria secara acak. Aku menarikmu."

"Oh.. jadi ini sudah direncanakan. Aku tidak tau jika kau begitu bernafsu terhadapku-"

"Tidak. Akan. Pernah. Dalam sejuta tahun!" Hermione meludah, lubang hidungnya berkobar melepaskan frustasinya.

Ya Tuhan! Dia tidak berpikir dia akan tahan dengannya meski itu hanya semenit dalam hidupnya.

'Kenapa aku hanya mengiyakan permintaan Narcissa dengan mudahnya.' rutuknya dalam hati.

Tentu dia tidak bisa menolak. Dia sudah menerima perawatan, beserta dengan barang-barang pemberiannya yang saat ini sudah tersimpan rapi di kopernya.

Tidak ada pilihan lain. Dia sudah terlanjur menerimanya.

"Easy, Granger." Malfoy hanya menyeringai melihat kesusahannya. "Jadi, tentang apa semua ini?"

Hermione menenangkan dirinya sebelum memulai rencana awalnya. Dia butuh kehati-hatian agar Malfoy tidak bisa terlalu jelas melihat motifnya.

"Aku butuh bantuan-"

"Hermione Granger butuh bantuan?"

"Ugh! Bisakah kau diam dulu? Dan berhentilah menyelaku." Hermione kesal saat ucapannya disela.

Malfoy hanya berdiri di sana, kedua tangan terangkat. "Lanjutkan."

"Aku butuh bantuan dengan pelajaran Mantra.." Hermione memulai. "Dan Ramuan juga, kurasa. Kau sepertinya pandai dengan subjek yang itu." Tambahnya, dengan sedikit pujian agar Malfoy lebih mendengarkan.

"Jadi intinya apa? kau ingin aku mengajarimu?"

Hermione mengernyit pada kata itu. "Tidak. Bukan mengajari. Aku lebih suka menyebutnya belajar kelompok."

"Kau berbelit-belit, Granger." Draco menyilangkan kedua tangannya.

Hermione tidak ingin kalah, dia ikut berpose dengan kedua tangan dipinggul.

"Bukan 'mengajari', Malfoy. Karena aku tidak pernah berada di bawahmu. Ini lebih seperti belajar kelompok, kita saling melihat dan mengoreksi pekerjaan masing-masing. Dengan kata lain, kita setara." Jelas Hermione panjang lebar.

Draco tampak memikirkan hal itu sejenak.

"Dan apa tepatnya yang bisa kudapatkan dengan melakukan ini?"

"Kita bisa saling-"

"Tidak, Granger. Bukan itu," Draco menyela. "Aku membicarakan keuntunganku sendiri disini, lebih spesifik lagi."

Hermione memijat pangkal hidungnya. "Baik, mari kita lakukan ini bukan. Apapun, Malfoy. Apapun yang kau inginkan."

"Apapun? Sungguh?" Draco mendekat ke ruang pribadinya.

Dia terkejut dengan kedekatan Malfoy yang tiba-tiba, tapi pada akhirnya dia mengangguk. Tidak ada cara yang lebih efektif dari ini untuk menarik minatnya.

Malfoy memberinya seringaian jahat, yang pastinya menjanjikan hal-hal yang jahat pula.

Dengan menelan ludah berat, Hermione mundur sedikit untuk lebih jauh darinya. "Jadi, ya atau tidak?"

Draco tertawa kecil sebelum menjawab: "Ya, tentu saja."

Hermione tersenyum lega. Dia berniat untuk pergi setelah mendapatkan kepastian dari Malfoy, tapi perkataannya menghentikannya.

"Hanya.. jangan lupakan janjimu, Granger. Kau akan memberiku apapun." Katanya dan berjalan melewatinya.

Hermione agak merinding saat merasakan sapuan tangannya mengenai rok gaunnya.

"Pakaian yang bagus, Granger."

Dengan itu, dia meninggalkan Hermione yang berdiri tertegun di sana.


Catatan penulis:

Jdi ini tuh critanya terinspirasi sama lagunya Melanie Martinez yg judulnya Strawberry Shortcake. So, aku berusaha memasukkan beberapa bagian dari lirik lagunya ke crita ini. Moga ajah gak aneh bacanya wkwk

Hal penting lain yg ingin kusampaikan disini adalah: ini cerita au. Jdi gak ada perang, gak ada penyihir gelap, gak ada yang namanya Voldemort. Dan disini juga gak ada yang namanya prasangka darah. So, istilah Mudblood gak berlaku disini.

Terima kasih udah baca, semoga kalian menikmati ceritanya