"Chocologize"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning (s) : AU, TauYa, bahasa dialog non-baku.
Untuk #DailyDrabbleChallenge, prompt dari Kak kurohimeNoir : Cokelat batangan ukuran 1 kg.
Selamat membaca!
.
.
.
Taufan berdiri di depan rak berisi deretan cokelat beraneka rasa dan bentuk. Kedua safirnya terpancang pada salah satu merek dengan bungkusan hampir sepanjang lengannya. Label harga yang tertempel di bawah raknya membuat dompet di saku Taufan bergerak gelisah, yakin ia akan dikosongkan tak lama lagi.
"Beli nggak, ya?" gumam Taufan. Ia melirik daftar belanjaan di tangannya. cokelat batangan berukuran satu kilogram jelas tidak tertera di sana. "Kalau beli pakai duit belanja, pasti bakal diamuk Gempa, nih ..."
Taufan kembali terjebak dilema. Bukannya ia sedang sangat ingin memakan cokelat. Taufan suka cokelat, tapi ia terlalu pelit untuk membelikan cokelat semahal itu untuk dirinya sendiri. Namun kali ini Taufan bukan hendak membeli cokelat itu untuknya, melainkan untuk sang kekasih yang tengah merajuk.
Taufan kembali memandangi daftar belanja. Ia mencoba menghitung dalam kepalanya. Jika semua belanjaan ditotal, hanya akan ada sisa sedikit dari uang yang diberikan Gempa. Tidak akan cukup untuk membeli cokelat atau bahkan camilan lain. Kalau Taufan nekat memakai uang sakunya sendiri, bisa dipastikan ia tidak akan bisa jajan untuk tiga minggu ke depan.
Antrian di kasir tidak seramai biasanya. Orang-orang berdiri saling berjarak, beberapa memakai masker yang menutupi sebagian wajah mereka, yang lain tampak tenang dan tidak peduli.
Taufan meletakkan keranjang belanjaannya di meja kasir. Pria di balik konter mulai menghitung barang-barangnya. Minyak goreng, gula pasir, saus sambal, kecap, makanan kucing, susu, roti, keju, dan terakhir ... satu batang cokelat berukuran satu kilo.
"Total seluruhnya 53.17 ringgit."
Taufan mencoba untuk tersenyum tabah saat ia mengeluarkan gulungan uang yang dititipkan Gempa. Ia juga mengeluarkan dompet dan menarik keluar beberapa lembar uang yang tersisa di dalamnya.
Taufan menerima tas belanjaan berisi barang-barangnya dan juga uang kembalian 30 sen. Ia tersenyum pahit dan mengucapkan terima kasih pada sang kasir, kemudian berlalu pergi dengan gontai. Tidak apa-apa uang jajannya raib, yang penting sang pujaan hati bersedia bicara lagi dengannya.
.
.
.
"Yaya, udahan dong ngambeknya." Taufan berdiri dengan sorot memelas di hadapan sang kekasih yang menatapnya dingin tanpa belas kasihan. "Aku harus minta maaf berapa kali lagi biar kamu mau maafin aku?"
Yaya tetap bergeming. Ia berdiri dengan lengan bersidekap, memandang Taufan dengan sorot seolah ingin mencincang habis pemuda itu.
"Aku sampai bela-belain beli cokelat buat kamu dengan sisa uang jajan aku," kata Taufan. ia mengulurkan bungkusan cokelat dengan gaya bak menyerahkan benda pusaka berharga pada seorang ratu. "Terimalah persembahanku ini, Yang Mulia."
Yaya mendengkus. Ia mengambil cokelat di tangan Taufan dan berujar dingin, "Makasih."
Taufan langsung tersenyum sumringah. "Berarti kamu udah maafin aku?"
"Belum," tukas Yaya. "Kamu pikir cuma cokelat segini bisa ngegantiin waktu aku yang terbuang karena nungguin kamu seharian kemarin?"
"Aku nggak bermaksud ninggalin kamu kemarin, Ya. Beneran, deh," ujar Taufan. ekspresinya tampak putus asa berusaha meyakinkan gadisnya. "Aku kemarin dapat telepon dari Gopal, katanya butuh bantuan. Suaranya panik banget, jadi aku ikutan panik dan langsung nyusul dia, dong. Ternyata dia cuma minta dibantuin beresin gudang karena disuruh ayahnya. Nyebelin banget nggak, sih? Terus gara-gara itu ... aku lupa sebelumnya lagi jalan sama kamu, makanya kutinggal. Hehe. Tapi nggak sengaja kok, Ya. Beneran! Habis itu 'kan aku langsung balik, tapi kamunya udah nggak ada."
Taufan meringis gugup di bawah tatapan membunuh Yaya. Ia menggaruk tengkuk, berusaha untuk tidak menatap langsung kedua iris sewarna madu Yaya yang membara, atau ia mungkin akan langsung tewas di tempat.
"Um, gimana kalau kita jalan lagi aja hari ini buat ngegantiin yang kemarin?" tawar Taufan, memberanikan diri.
"Nggak sudi!" ketus Yaya. Pintu dibanting menutup di depan wajah Taufan.
"Yaya!" Taufan menggedor pintu. "Yaya, bukain, dong. Aku beneran lupa, Ya, bukannya sengaja. Yaya! Yayaaaa!" Taufan merengek, tapi pintu itu tetap bergeming dingin di depannya.
Taufan kembali mengetuk, memanggil nama Yaya berulang-ulang. Senyumnya langsung terulas saat pintu di depannya akhirnya membuka. Ia bersiap menyambut gadisnya, kalau perlu kali ini ia akan berlutut. Namun tidak ada siapapun yang muncul di depan matanya. Sampai tarikan kecil di celananya mmebuat Taufan menoleh ke bawah.
Adik Yaya yang baru berumur empat tahun berdiri di bawah kaki Taufan. tangannya memegang bungkusan cokelat ... tunggu, bukankah itu cokelat yang tadi diberikan Taufan pada Yaya?
"Kata mama Bang Upan belicik," ucap Totoitoy dengan mulut penuh cokelat. "Telus kata Kak Yaya ..." Taufan menatap heran saat bocah kecil itu mendadak memasang wajah galak dengan kedua lengan disilangkan di depan dada. "'Pacalan aja cekalian sama Gopal cana!' Gitu kata Kak Yaya."
Taufan tercengang. Totoitoy kembali ke ekspresi normalnya yang imut dan menggemaskan. Ia menyuap sepotong cokelat ke mulut dan memandang Taufan datar.
"Udah ya, Bang Upan. Mama biyang nggak boleh lama-lama di luar, nanti kena pilus colona."
Pintu kembali dibanting menutup, meninggalkan Taufan yang masih tertegun dengan mulut setengah terbuka.
.
.
.
Fin
A/N :
Fanlady kembali dengan drabble random lainnya! Haha. Kemarin libur sehari karena lagi nggak enak badan. Ini ngetik juga sebenarnya masih pusing, sih, tapi dipaksain aja gapapa /jangan curcol
Makasih buat yang udah menyempatkan membaca! Sampai bertemu di lain kesempatan!
