.

Musim gugur tiba. Warna kuning dedaunan mulai bermunculan dengan indah. Eri, gadis perempuan yang di selamatkan Izuku 5 tahun silam itu kini telah berusia 12 tahun. Pagi itu, ia dan Kota sedang berjalan-jalan di sekitar SMA Yuuei. Sekedar menikmati pagi pertama musim semi sebelum berlatih bersama Mirio untuk mengembangkan bakatnya. Berhubung ia dan Kota seumur, Eri yang fleksibel dapat dengan cepat akrab dengan anak pahlawan itu.

"Kota-kun!"

Eri melambai-lambaikan tangan kepada Kota. Meminta bocah lelaki bertopi merah itu mendekat. Kota mau tak mau mendekat. Pelupuk matanya berat sekali, dia masih mengantuk sejujurnya.

"Ada apa?" tanya Kota begitu ia tiba di samping gadis manis itu.

Eri menunjuk sebuah foto yang dibingkai emas dan berada di tumpukan bunga warna-warni. Berbeda dengan bingkai lainnya yang berwarna coklat dan di pajang tanpa hiasan.

"Aku selalu lupa menanyakan ini. Yang berada di tengah Izuku-kun dan Todoroki-san itu siapa?"

Mata Kota melebar. Ia menatap lamat-lamat sosok berambut pirang gelap dengan mata merah menyala. Wajahnya sama sekali tak lembut, terkesan angkuh. Mengenakan Seragam Resmi Yuuei dan berada tepat di tengah Izuku dan Todoroki.

"Aku tak pernah melihatnya. Tapi aku selalu lupa juga ingin menanyakannya. Kau tahu siapa dia?" Eri kembali bertanya. Dahinya mengerut ketika melihat Kota hanya diam memandangi bingkai itu. Tapi tatapan matanya sendu sekali.

Ada apa?

"Kota-kun?"

"Kau tidak akan mau tahu," Jawab Kota. Ia menurunkan topi nya hingga menutupi mata.
"Menanyakan itu berarti membuka insiden kelam Yuuei," lanjutnya dengan suara lirih.

Muncul tanda tanya besar di kepala Eri. Gadis itu memiringkan kepalanya tak mengerti. Ia baru hendak bertanya lagi, tapi Aizawa muncul entah darimana.

"Sedang apa kalian di sini? Mirio mencari kalian," Aizawa berjongkok di hadapan Eri dan Kota.

"Hanya sedang berjalan-jalan sebentar," Jawab Kota. Ia membenarkan posisi topi nya dan berjalan menjauhi Aizawa.
"Ayo Eri-chan. Mirio akan menjahili kita kalau telat,"

Eri terkesiap. Ia lalu berlari menyusul Kota.
"Huwaaa! Tunggu aku Kota-kun!"

Aizawa berdiri. Menatap kedua bocah asuhan Yuuei itu hingga punggung mereka mengecil. Guru yang sama sekali tak berubah itu melirik bingkai yang di tunjuk Eri. Ia terdiam cukup lama memandangi nya. Aizawa menarik nafas berat. Rasanya ia memiliki riwayat penyakit jantung kalau mengingatnya.

Sakit sekali. Mengingat kegagalan terbesarnya.

.

.

.

"Midoriya,sudah siap?"

Shoto muncul di depan kamar Izuku. Lelaki berambut brokoli itu menoleh, lalu tersenyum manis.

"Tentu. Bagaimana dengan mu Todoroki-kun? Ku dengar Endeavor memberimu tugas pagi ini untuk patroli," Izuku balas bertanya. Sang hero dengan nickname Deku itu sedang membereskan dasi hitam yang ia kenakan.

"Aku menolak," ucap Todoroki. Ia menunjukkan jas hitam yang di pegangnya kepada Izuku.
"Dia lupa kalau hari ini adalah hari off khusus kita, aku baru saja mengingatkannya,"

Izuku tertawa kecil. Setelah penampilannya dirasa rapi, ia mengambil sebuket bunga mawar putih di atas kasurnya.
"Kurasa ini tidak akan terlalu pagi bukan?"
Izuku menatap jam tangannya.

Pukul 8.15.

Shoto menggeleng. Ia membenarkan lipatan jas di leher. Bunga Lily putih di genggaman tangannya tampak indah.
"Kita kan berjalan kaki, tak perlu merasa terlalu pagi,"

.

.

.

Izuku menolak sekaleng soda dingin dari Shoto saat lelaki itu menawarkan. Mereka menikmati udara pagi di musim gugur dengan berjalan kaki. Sesekali memberi sapaan dan tanda tangan pada penggemar. Setelah lulus dari Yuuei 2 tahun lalu, mereka bekerja di bawah naungan Agency Endeavor.

Hari ini adalah tanggal 5 September. Daun kuning berserakan memenuhi jalan. Tapi terlihat indah dan terasa hangat. Tapi bagi Izuku, hari ini adalah Neraka yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya.

Tempat tujuan mereka adalah kompleks yang sepi. Sepi karena semua penghuni nya hanya tinggal tubuh. Sepasang hero itu berjalan dalam sunyi, dengan cambukan di hati masing-masing yang kian mendidih. Semakin lama langkah semakin berat. Beban rasa bersalah membuat kedua nya ingin bunuh diri. Tapi mereka sadar, bukan itu jalan yang terbaik.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah Nisan batu. Izuku bahkan tak mampu membaca tulisan yang terukir di sana. Ia tumbang, jatuh terduduk di depan Nisan. Shoto bertahan di sampingnya, menggenggam erat-erat tangkai bunga di genggaman hingga patah.

Mengingat kegagalan mereka. Lagi dan lagi.

"Kacchan..."

Suara lirih Izuku memecah sepi. Memanggil sosok yang bahkan tak ada di dunia ini lagi.

Bakugou Katsuki. Meninggal dalam insiden Distrik Kamio. Di usia ke 16 tahun. Tepat 5 September, Lima tahun yang lalu.

Mimpi buruk kematian Bakugou menghantui Izuku 5 tahun lamanya. Mengikis pelan-pelan jiwa hero itu hingga frustasi dan sempat membuatnya terapi di psikiater selama beberapa bulan.

Terkadang di malam hari, Izuku bisa melihat kematian bakugou berulang kali. Membuatnya takut tidur. Gara-gara itu, lingkaran hitam muncul di bawah mata nya. Selama beberapa 2 tahun ia tak memiliki semangat hidup apapun. Izuku seperti mayat hidup.

Jatuh dari ketinggian. Bakugou gagal menggapai tangan Kirishima. Pisau Toga menancap di bahunya karena bantuan penjahat bernama Magne. Bakugou tersentak menahan sakit karena pisau itu menancap semakin dalam. Menggores lengannya hingga ia gagal meng-aktifkan quirk.

Ia terjun bebas, menghantam tanah.

Lida, Kirishima dan Izuku, tak pernah mereka merasakan rasa jantung ingin keluar sebelumnya. Buru buru Lida mendarat tak jauh dari tempat Bakugou jatuh. Izuku berlari secepat yang ia bisa. Berdoa tak henti, bahkan sesumbar mengatakan akan menukar nyawanya jika Bakugou tak selamat.

Bakugou di sana, di genangan darahnya sendiri. Tak bergerak.

All Might berhasil mengalahkan All for One. Lalu pensiun, dengan label pengecut yang ia berikan pada dirinya sendiri. Berhari-hari mengurung diri tanpa makan dan tidur. Merenungkan maksud simbol perdamaian yang disematkan padanya.

Bakugou di rawat di rumah sakit selama dua minggu. Pengawasan super ketat, dengan Recovery Girl yang bekerja tanpa henti. Jantungnya sempat berdetak, nadinya berdenyut. Keadaanya sempat membaik, membuat Izuku dan teman-teman menghela nafas lega. Menangis penuh syukur, mereka berhasil.

Tapi, 5 September. Saat daun musim gugur baru menguning. Jantung Bakugou berhenti. Kulitnya mendingin, dan dia meninggal pukul 03.00 pagi.

Shotou menjadi saksi bisu dari bentuk frustasi Izuku. Saat Aizawa masuk kelas tepat waktu hari itu. Mata memerah karena menangis, bukan quirk. Dan memberikan pengumuman yang membuat hidup mereka serasa di rampas sesaat.

Kirishima menjerit. Izuku mematung, bahkan hampir mati.

"Kacchan...meninggal?"

Tanpa meminta persetujuan Aizawa, lelaki itu meluncur keluar dari kelas. Berlari menuju rumah sakit SMA Yuuei. Ingin membuktikannya dengan mata kepala sendiri.

Yang ia temui adalah tubuh tak bernyawa. Mitsuki pingsan. Masaru memeluk istrinya dengan isak tangis. Mereka baru saja kehilangan anak semata wayang. Selamanya.

Shoto tak pernah melihat Izuku begitu putus asa. Menjambak rambutnya sendiri, menjerit-jerit dan akhirnya pingsan.

Pemandangan itu bagai neraka nagi Shoto. Karena ia juga merasa gagal. Gagal menyelamatkan teman sekelasnya. Membiarkannya meninggal.

Yuuei menyimpan ini sebagai salah satu insiden kelam sepanjang sejarah.

.

.

.

.

"Maafkan aku,"
Izuku selalu mengatakan hal yang sama. Berkali-kali setiap kali dia datang ke sini.

"Ini tahun kedua ku dan Todoroki-kun di Agency Endeavor-san. Aku selalu bermimpi bisa menjalankan pekerjaan hero ini bersama dengan mu Kaachan. Kita bertiga, di sini,"

Todoroki ikut berjongkok. Meletakkan bungannya di atas nisan itu. Todorki menangkup tangannya. Berdoa. Membiakan Izuku berceloteh membicarakan hari-hari dan impiannya.

Izuku meletakkan satu boneka berbentuk seperti Bakugou. Berpakaian ala seragam hero nya. Dengan satu gantungan di pinggang bertuliskan 'Ground Zero'.

"Yaomomo yang membuatkannya. Bagus sekali kan? Aku minta di buatkan 2 lusin hehe. Nama hero mu bagus sekali Kacchan. Beast Jeanist memberitahu ku saat kami tak sengaja bertemu, " Izuku tertawa kecil.

Ia duduk di tanah, bertopang dagu. Tiba-tiba air mata ingin keluar.

"Aku merindukanmu. Aku rindu di di pukul olehmu. Aku rindu di caci maki olehmu. Aku rindu bertarung dengan mu,"

Izuku tersenyum pahit.

"Aku sekarang di sebut sebagai pahlawan. Tapi menurutmu aku ini apa? Sosok yang tak bisa menyelamatkan temannya sendiri,"

Todoroki masih diam. Mendengarkan dalam sunyi setiap ucapan Izuku.

"Hei Kacchan-Aku...aku tak pernah membenci mu, kau selalu menjadi sosok yang ku kagumi. Bahkan, bahkan melampaui All Might." Izuku mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas selempang yang ia bawa.

Membuka selembar halaman dan meletakkanya di atas Nisan. Todoroki mengerutkan kening saat membaca satu kalimat besar di halam itu. Dilingkari dengan spidol merah dan orange.

"Kau membacakan ini saat aku aku masih belum bisa baca-tulis," Izuku tersenyum kecut. Matanya mulai ber-air lagi.

Gawat.

"Sahabat akan selalu bersama sampai akhir."

Suara Izuku terbawa angin. Ia mengatakannya dengan lirih sekali. Todoroki hampir tak mendengarnya.

"Tapi kenapa...kau berbohong, Kacchan?"