==Disclaimer==
Bungou Stray Dogs hanya milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango. Cylva tidak mengambil keuntungan apapun dari karya ini.
Warn : BL, Lemon, Some Abusive Content, Typo.
01. Fear
Dua belas hari kira kira.
Chuuya selalu menghitung suara ayam yang berkokok di pagi buta selama dua belas hari, tanpa tidur, tanpa bebas dari rasa takut.
Matanya hampir saja bersahabat dengan kegelapan. Tangan yang terikat dengan tambang besar di punggung, serta mulut yang ditutup kain ketat sampai rahangnya mau patah. Chuuya merasa dirinya kebal terhadap semua hal yang membuat luka.
Kecuali bunyi gerendel kunci disusul kenop pintu yang dibuka.
"Kau bangun, sayang?"
Mata Chuuya tak henti-hentinya mengucurkan air mata tiap tangan kurus pemuda itu menyampirkan anak rambutnya yang lepek ke telinga. Ia selalu takut terhadap segala macam aroma obat yang menguar. Ingin muntah, ketika pipinya dicium dan bibir pemuda itu sampai di lehernya. Tubuh Chuuya tidak berhenti bergetar, sarafnya mengencang hampir pingsan tapi gerakan pemuda itu selalu memaksa Chuuya untuk terjaga.
"Kau harus mandi, ini sudah beberapa hari, sayang." Pemuda itu tersenyum membaui helai rambut Chuuya. "Aku akan memandikanmu..."
Chuuya menggeleng frustasi, ia tidak ingin lagi disentuh tangan-tangan yang pernah membunuh berpuluh nyawa. Tapi dia juga tidak ingin menjadi korban selanjutnya.
"Kau tidak mau mandi bersamaku?"
Dengan isak teredam sumpalan kain, Chuuya menangis sejadi-jadinya. Entah apa warna matanya sekarang, entah bagaimana bentuk rambutnya sekarang. Chuuya hanya ingin hidup, ia mengangguk kuat-kuat.
"Berjanji kau tidak akan mencoba kabur, ya?"
Ia mengangguk lagi. Walaupun mencoba, Chuuya tahu pasti akan gagal. Kakinya tidak dipakai dengan kegiatan berarti sejak dua belas hari, ditambah ia tidak tahu dimana pintu keluar. Kenapa Agensinya belum menemukannya? Apa yang dilakukan para polisi dan mereka semua? Chuuya takut. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika dia mencoba memberontak sekali lagi. Terakhir dan pertama kali Chuuya menolak perintah, pemuda itu memperkosanya.
Rasa jijik yang menjalar di tubuhnya tidak pernah hilang. Bahkan setiap sentuhan yang diberi, Chuuya merasa mual dan dunia menjadi hitam. Sejak saat itu Chuuya tidak pernah melawan lagi. Pria itu selalu tahu apa yang akan membuat Chuuya menurut, apa yang akan membuat Chuuya takut.
Ketika tali terbuka, Chuuya yang kini bebas menggerakkan sendi tetap membeku membiarkan pemuda itu menggendongnya ke bak mandi. Air hangat dihidupkan, perlahan ia melepaskan pakaian Chuuya seakan tidak menganggap kedua tangan kurus korbannya ada.
Chuuya memejamkan mata menahan takut, menelan dalam-dalam trauma yang naik dari perut ke tenggorokan. Mual, seakan ia tengah disentuh sebuah besi panas yang akan menodainya dengan hitam api neraka. Seakan jatuh ke jurang kehampaan setiap air dibilas ke kulitnya. Sarafnya menengang, namun sekuat tenaga ia memaksa neuron otaknya untuk bersikap tenang dan tidak berteriak.
"Kenapa kau menutup mata, Chuuya sayang? Buka matamu, aku ingin lihat biru indah itu."
Chuuya sejenak ragu. Apa yang akan ditampilkan matanya adalah ketakutan? Air mata? Atau kebencian? Perlahan ia membuka mata, ada biru kosong di sana. Mengalirkan air mata dengan sarat takut, namun sebuah bara kecil di dasarnya seakan ingin mencabik keluar semua nyawa pemuda itu.
"Kenapa menangis?"
Chuuya tersenggak ketika jemari kurus menyeka aliran air di matanya, dengan gemetar ia memaksa senyum, "i-ini uap air.." jakunnya menelan ludah berat.
"Begitu?" mata hitam pemuda itu tanpa emosi. Chuuya tidak tahu apa yang akan dilakukannya, apa yang dipikirkannya, apa imbas yang akan ia beri untuk tiap gerakan Chuuya. "Kau mau aku bersihkan punggungmu?"
"Y-ya.." Chuuya membalikkan tubuh, memberi punggungnya pada pria itu dan mengambil kesempatan untuk menjatuhkan derai air mata sebanyak yang ia bisa tanpa terisak.
"Punggung yang indah," tangan Chuuya mengepal di atas lutut ketika sepasang bibir kering sampai di tengkuknya. "Seperti ada sayap emas yang mengembang."
Pemuda itu mengambil tangan kanan Chuuya, membentangkannya seakan itu adalah sebelah sayap yang berkibar indah. Perlahan genggamannya menuju pundak, dari balik tubuh yang gemetar ia memeluk Chuuya.
"Kau seperti malaikat," ucapnya. "Kau sangat indah."
Jika saja ia bisu, mungkin Chuuya sudah berteriak sekencang-kencangnya. Ia menggigil di tengah bak mandi berisi air hangat, karena sentuhan di kulit terasa begitu mati. Membunuh dan menusuk Chuuya hingga menembus tulangnya. Ia takut. Sangat takut.
Jika bisa dikatakan, mungkin adalah sebuah keberuntungan bahwa penculik gila ini bukan seorang yang menginginkan teman bicara. Chuuya tidak perlu repot-repot setengah mati mengeluarkan sebuah kata dengan tenggorokan yang mati rasa. Pemuda itu mengharapkan Chuuya seperti bonekanya, mati, indah, namun hangat.
"Apa warna pakaian yang cocok untukmu hari ini?"
Chuuya didudukkan di atas kasur dengan kimono mandi. Sementara pemuda itu menarik satu-persatu gantungan pakaian yang berderet di lemari. Walau dibilang gila tanpa keraguan, tapi ia kaya, Chuuya bisa pastikan itu di tengah kabut panik yang memenuhi kepalanya.
"Biru," jawabnya dengan suara lemah.
"Biru! Pilihan bagus!" Ia menarik satu gantungan kemeja biru panjang lalu kembali pada Chuuya. "Sebelum itu, ada hal menyenangkan yang bisa kita lakukan.."
Senyum yang terukir di wajahnya membuat jantung Chuuya memompa darah dengan irama gila. Ia menegang, ingin lari, namun sendi-sendinya seakan terpaku pada udara di ruangan. Belum sempat Chuuya menetralkan napas yang memburu, kedua lengan ringkih sudah memeluknya jatuh terbaring di atas kasur.
Chuuya memejamkan mata. Tidak ingin melihat wajah gelap yang membaui lehernya. Ia meremas seprai begitu kencang seakan itu adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kewarasannya.
"Ngh—"
Ini bukan yang pertama, sungguh. Pria ini sudah sering menjamah Chuuya, bersetubuh dengannya dan berakhir Chuuya yang bergetar sepanjang malam. Namun pemuda kecil yang kini dilecehkan tidak bisa terbiasa. Ia selalu dan selalu merasa jijik dengan jari-jari kurus yang membelai kulit pahanya. Merasa mual ketika pemuda itu mencium sepanjang kulit leher hingga perut. Chuuya meyakinkan diri jika saja ada pisau di jangkauannya, alih-alih membunuh sang penyenggama, Chuuya akan menggesekkan bagian tajam pisau itu memenggal lehernya sendiri. Ketika pemuda itu menyatu dengannya, Chuuya merasa kotor, hina, dan ingin menghancurkan seluruh dunia yang membuatnya mengalami hal ini.
Ia tidak tahu seberapa kuat isak yang ia tahan membuatnya hampir selalu tersedak. Matanya tidak pernah terbuka setiap ia dihinakan. Ia selalu melarikan diri, berharap seseorang akan muncul dari pintu itu lalu memukul si cabul ini sengan sebuah tongkat baseball berbalut kawat besi. Chuuya lebih senang melihat darah yang keluar dari kepala orang itu dibanding cairan jantan yang akan memasuki perutnya.
Pemuda itu mungkin tersenyum ketika puncaknya memenuhi Chuuya, namun pria bersurai jingga tidak pernah menatapnya. Ia tetap menutup mata, merasakan kelegaan ketika tubuhnya terpisah dengan orang itu.
"Kau milikku. Chuuya-ku."
Chuuya hanya bisa berkali-kali menelan ludahnya. Setelah mengangguk pasrah, pemuda itu memakaikannya sepotong kemeja biru selutut. Seperti pakaian rumah sakit, dengan aroma alkohol menyesakkan. Chuuya benci aroma itu.
"Waktunya Chuuya-ku untuk tidur siang." Chuuya kembali mengangguk, ia benar-benar ingin merobek senyum menjijikkan di wajah pucat. "Nanti malam ada kejutan, jadi Chuuya-ku harus berdebar, ya?"
Ia kembali mengangguk. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Chuuya menunduk melihat kaki pemuda kurus berjalan ke arah pintu lalu menguncinya kembali. Ia kembali dikurung di ruangan tanpa lampu ini, sendiri, dengan kursi yang masih bertali dan kasur yang penuh dengan sperma menjijikkan. Meski sekarang tak lagi terikat, tetap saja Chuuya tidak tahan.
Penyelamat.
Satu-satunya hal yang Chuuya butuhkan saat ini. Dia tidak perlu sesuatu yang akan membebaskannya, dia hanya cukup jika ada seseorang— sesuatu yang membuatnya bisa berhenti merasa takut dan dikejar-kejar mimpi buruk. Chuuya sudah lelah dengan semuanya. Jika saja ia benar-benar boneka yang tidak merasakan apapun, mungkin ini akan lebih mudah.
Chuuya butuh penyelamat. Siapa saja. Chuuya memohon pada siapa saja.
Bunyi gerendel terdengar, Chuuya segera melompat dari duduknya. Dilihatnya orang itu dengan sebuah setelan hitam putih membungkus tubuh ringkihnya yang tinggi. Mata hitam berkantung tidak dipoles walau Chuuya bisa melihat serbuk bedak yang tidak rata di wajahnya.
"Chuuya-ku siap untuk makan malam istimewa?" Walau figurnya membelakangi cahaya di koridor, Chuuya tahu ia tengah tersenyum. Menyebalkan. "Ayo!"
Beberapa detik Chuuya gunakan untuk menelan seluruh air liur di pangkal kerongkongan. Tubuhnya gemetar. Bahkan dengan serbuan cahaya yang ia rindukan, Chuuya tetap merasa enggan memulai langkah untuk menggapai uluran tangan itu.
"Sayang?"
"Y-ya.."
Ia memberanikan diri— memaksa diri untuk berani memajukan kaki. Menapak pada ubin kayu yang dingin dan memangkas jarak dengan penculiknya. Chuuya mengulurkan tangan, gemetar, ragu, tapi pemuda itu segera menangkapnya dengan sigap.
"Tidak perlu gugup begitu.." Ia tersenyum, lagi-lagi senyum yang membuat seluruh tulang belakang Chuuya berderit takut.
Dengan tangan yang digenggam, cemas menjalar mulus di sepanjang saraf. Chuuya bahkan tidak bisa memberanikan diri melihat situasi tempat ini padahal seharusnya ia sadar bahwa sekarang adalah kesempatan untuk observasi melarikan diri. Tapi ketakutan menelannya, membuatnya bodoh dan menjadi lemah.
Satu bagian kecil di diri Chuuya mengingatkan bahwa sungguh, Penyanyi kelas atas yang memulai karir dari nol seorang diri seperti Nakahara Chuuya punya kecerdasan yang lebih dari sekedar menjadi objek pemerkosaan.
"Chuuya, kau lebih pintar dari ini!"
"Jangan pengecut! Ingat semua tumpukan kerja keras yang kau bangun sampai menjadi seperti sekarang!"
"Kau bisa lari! Kau mampu! Kau cerdas dan berbakat!"
Di otaknya berputar optimisme, tapi jasmaninya hanya menampilkan getar takut dan bayang-bayang hitam. Sebuah pengharapan akan uluran tangan malaikat yang akan membantunya keluar dari neraka ini.
"Lihat bangunan kaca disana?" Chuuya mau tidak mau membuka mata, melihat ke arah yang ditunjuk orang di sebelahnya. Di luar sana sebuah hamparan taman yang luas, ada bangunan bundar dari kaca yang berdiri manis di tengah-tengah taman bunga. Indah? Jika saja Chuuya tidak membenci orang ini sebegini dalam, mungkin ia akan jatuh cinta pada tempat itu.
"Kita akan berkebun di sana besok."
Chuuya tidak peduli. Bahkan ia berharap lebih baik mati malam ini. Tidak ada lagi yang bisa menaikkan hasrat hidup yang kini penuh rasa takut bewarna suram. Sampai ia merasa waktunya berhenti ketika melewati sebuah lorong.
Chuuya menghentikan langkah, sungguh, ia menghentikan langkah, ketika merasakan sepasang mata yang melihatnya dari sana.
Pemuda yang menggamit tangannya sampai ikut berhenti. Dalam kondisi biasa mungkin Chuuya akan takut kepalan itu melayang menghantam wajahnya, namun saat ini entah mengapa seluruh kabut cemas hilang dari otaknya. Berganti sebuah panggilan yang sangat dalam, sepasang mata kakao yang menatapnya di lorong. Pria itu berdiri dengan setelan pelayan, tersenyum tipis di bawah cahaya lampu lilin yang hampir padam. Chuuya terpana, benar. Ia terpaku pada bayang-bayang sosok yang hanya ia lihat di kejauhan.
"Sayang?" Sekali lagi Chuuya ditarik dari dunianya. Ia kembali menatap pria dengan mata hitam, kembali takut, kembali bergetar. "Ada apa?"
Tergagap, ia memaksa sebuah kalimat keluar dari mulutnya yang kelu. "A-aku.. Aku.. Rumah kacanya.. Aku rasa rumah kacanya indah jadi- jadi aku.. Aku ingin melihatnya lebih lama.."
"Chuuya-ku menyukainya? Bagus!"
Kemudian pria itu melanjutkan perjalanan dan Chuuya kembali tertarik dalam gamitan tangan yang dingin. Separuh hati penasaran memaksa Chuuya kembali menoleh ke belakang, ke lorong gelap yang kini tidak lagi diterangi nyala lampu lilin redup. Chuuya tidak lagi melihat sosok dengan sepasang manik kopi yang indah, hanya ada warna hitam tak berujung.
To Be Continued
See You~
Cylva
