Asui, Midoriya dan Tokoyami memasuki restoran kecil di dekat pelabuhan. Sebenarnya anjuran belajar di rumah sudah diterapkan sejak kampus lockdown, namun ayah Asui sedang masa-masa genting menyelesaikan bagian terakhir novelnya dan membawa Asui ke asrama anak laki-laki dilarang karena aturan asrama. Maka restoran (yang sebenarnya milik bibi Asui) dipilih, restoran juga bukan tempat terbaik di tengah wabah yang meneror, anjuran untuk tutup sementara tidak dihiraukan, namun bibi Asui sadar betul makna kesehatan sehingga jam operasi hanya sampai sore dan setiap pelanggan yang masuk harus menggunakan hand sanitizer. Bukan langkah bijak memang, karena betapa kecilnya ukuran virus namun lebih baik daripada tidak bertindak apa-apa.

Setelah menyantap makanan sederhana mereka memesan bir.

"Baik Aizawa sensei, menugasi kita menulis opini tentang Corona," Izuku bergumam membaca pesan email yang masuk. "Ada banyak yang bisa kita tulis, misal apakah kebijakan lockdown itu baik, dampak ekonomi, klaim Amerika dan Cina yang saling menjatuhkan. Vaksin, konspirasi senjata pemusnah masal—"

"Midori-kun kau bergumam," Asui mengingatkan sambil mengupas kacang kulit."

Muka Midoriya memerah.

"Bagaimana kalau kita mulai dengan Ragnarök?" Tokoyami dengan tenang memandang kedua temannya. "Maksudku perang antara kaum saintis dan agamawan."

"Itu menarik, maksudku masalah itu yang paling sering diributkan di media sosial kan?"

"Media sosial adalah sarang wabah sebenarnya Midoriya, mereka lebih meracuni daripada Corona itu sendiri."

"Memang menyebalkan, harusnya media itu tahu kalau Corona bukan main-main. Tapi bukannya mempublikasi lebih banyak berita positif mereka hanya memberitakan hal-hal yang meresahkan. Kelangkaan masker, harga bahan makanan melambung, kehancuran ekonomi sampai berita-berita tidak penting yang dikaitkan dengan mitos—Ribbit."

"tentu mereka tetap memberitakan berdasarkan fakta."

"Memang," jawab Asui. "Tapi para penulis berita hanya menulis yang kiranya mendongkrak rating dan viewer, mereka tidak sudi menulis hal-hal positif karena masyarakat suka sensasi dan bahan untuk digosipkan. Apalagi kalau bukan berita buruk?"

Midoriya merenungi perkataan Asui. Dia mengetik beberapa hal yang sekiranya bisa dimasukan ke dalam laporan tugas mereka. Tokoyami menegakkan badan lalu melipat tangan di atas meja.

"Akar masalahnya adalah legalitas dalam penanganan wabah. Mereka kebingungan tanpa persiapan yang jelas. Work from home menjadi ajang untuk penyelamatan warga negara, di sini karena tidak ada penjaminan negara soal pemenuhan hajat hidup semasa karantina, akhirnya tak bisa dibendunglah mereka yang penghidupannya berasal dari jalanan dan bertaruh nyawa dengan virus.

Tokoyami melanjutkan, "Secara tidak sengaja negara membangun sikap masa bodoh pada kalangan tersebut karena mereka negara tidak menyediakan hak-hak untuk mereka. Pedagang sayur harus tetap setiap pagi ke pasar induk untuk mengambil barang dagangan. Ojek online, pengemis, pasukan kuning, buruh pabrik, bahkan penagih hutang dan semua pekerjaan semacam itu. Jika mereka tidak bekerja mereka tidak mendapat uang. Jika tidak mendapat uang bagaimana mereka bisa makan? Beli masker? Apalagi jelas kantor mereka tidak mengijinkan mereka libur, bagaimana bisa pabrik rokok bisa terus memproduksi rokok jika semua buruh dirumahkan?"

"Secara logika, negara memang wajib memberikan bantuan berupa uang pengganti gaji. Masalahnya berapa banyak triliun yang harus digelontorkan? Bahkan jika pasukan kuning libur, siapa yang akan membuang sampah rumah kita?

"Dan seakan keegoisan manusia sudah di kodratkan sejak Adam ditendang dari taman Eden. Para kaum intelek dan mereka yang bekerja di kantoran membela kepercayaan dan mendekati kesombongan karena menerapkan anjuran pemerintah untuk bekerja di rumah. Naifnya hal ini tidak pernah mau membantu apalagi bertoleransi pada mereka yang berperang di jalan melawan virus. Mereka lupa siapa yang menyediakan dan mengantarakan sayur mayur ke dapur mereka.

Midoriya terus mengetik dan tetap mendengar pemikiran teman-teman kelompoknya. Dia juga memberi masukan seperti ini, "Media Facebook contohnya adalah ladang bebas untuk saling hujat. Perang ego demi ego menghambur begitu saja tanpa kawalan negara, tanpa proteksi dari siapapun."

Asui teringat dengan adiknya yang masih SMA dan betapa si adik sangat terikat dengan produk penyebar hoax terbesar. "Ada kepuasan untuk menuding. Ada sesuatu yang harus dilampiaskan jika tidak emosi dalam pikiran akan membunuh. Sayang, cara melampiaskan nya tidak memakai akal sehat."

"Dan di sinilah Medan perang Ragnarök terjadi," kata Tokoyami. "kaum Agamawan dan spiritualitas yang lebih memilih wirid, doa dan mantra untuk meredakan setiap ancaman terhadap teror ini malah mengabaikan saintis, sama halnya dengan kaum intelek yang acuh dengan kaum agamawan yang over sembrono mengumpulkan massa dan berwirid bersama, tentu saja wabah pes di masa lalu akan terulang."

Midoriya menghentikan sejenak proses mengetik, "Ah aku ingat, itu wabah mengerikan, dokter-dokter belanda tidak digubris sama sekali dan para cendikiawan tetap memaksakan ibadah besar-besaran, akhirnya satu kampung positif pes dan tidak hanya rakyat jelata, bangsawan, bahkan tokoh agamanya sendiri akhirnya ikut tertular wabah pes."

"Saintis memang rasional dan mudah diterima dengan akal, tapi tidak banyak orang suka dengan saintis," Kata Asui.

Tokoyami meneguk seteguk bir lalu menarik napas dalam-dalam. "Dan dengan angkuh menyombongkan diri untuk berdalih hidup-mati di tangan Tuhan. Tentu saja hidup mati di tangan Tuhan tetapi jika kamu tidur di rel kereta api dan kereta lewat, kamu mati konyol. Sementara sains sudah bicara tak kuat kondisi manusia berhadapan dengan kereta yang berbalut besi plus kecepatan."


*bijaklah dalam masa-masa epidemi sekarang, jangan asal menyombongkan ego dan berpikir kita sendiri sudah benar. Virus tidak peduli apa jabatanmu dan seberapa banyak uang yang kau punya. Dan satu hal lagi, Covid19 bukan akhir segalanya, penyakit ini bisa sembuh dan ditangkal jika kita mematuhi anjuran yang benar. Jika kamu tidak enak badan, jangan memaksakan diri, jika kamu bekerja yang tidak bisa dilakukan di rumah, terus jaga kebersihan dengan cuci tangan, yang liburan juga jangan disalahgunakan dengan pulang kampung, liburan dan lain sebagainya. Kita gak tahu apakah kita sudah terpapar virus atau tidak? Kamu mau jadi sarang virus dan menularkan itu kepada orang-orang terdekat mu? Tidak bukan?