Chapter 1

.

Disclaimer

Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.

Semua kejadian disini tidak mengikut dengan apapun yang berdasar dunia nyata murni imajinasi penulis.

.

Selamat membaca

.

Sepasang sepatu Converse High berwarna hitam menjadi alasnya dengan sebuah skateboard sebagai alat transportasi alih-alih berjalan kaki.

Jalanan Itaewon yang menurun merupakan tempat yang cocok untuk memakai skateboard.

Benda itu meluncur pelan sesekali kaki kiri memperlambat kecepatan. Bisa gawat jika terus melaju dan berakhir pilu.

Headphone Powerbeast yang terpasang baik di kepala, dengan lagu Something New oleh Wiz Khalifa. Tempo dan alunannya menjadi teman diperjalanan.

Seperti sudah hapal jalanan. Ia tahu dimana harus berhenti dan menurunkan kecepatan.

Saat berada dipertigaan, ia memberhentikan skateboard-nya mendadak kala seorang nenek hendak lewat.

Hampir saja. Batinnya.

Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berbelok kiri yang mana merupakan jalan menurun.

Lagu selesai, berganti dengan Let It Go oleh James Bay. Menikmati alunan musin akustik dengan pemandangan riuh lalu lalang pejalan kaki.

Mata refleks menutup saat beat lagu mulai menguasai pikiran. Skateboard terus berjalan dengan tenang hingga saat membuka mata seseorang berdiri didepannya.

Kecelakaan terjadi antara pejalan kaki dan seorang pengguna skateboard.

Kedua lututnya menyentuh tanah membuat celananya robek dikedua sisi kanan dan kiri. Juga telapak tangan yang menopang tubuh tampak berdarah.

Sedang orang yang ditabraknya tampak baik-baik saja. Sambil memegangi sikutnya yang tertutup hoodie hitam tebal.

Orang-orang berkumpul diarahnya padahal korban yang lebih parah berada disini. Lututnya mengeluarkan darah, kedua tangannya lecet dan tentu rasanya pedih.

Alih-alih protes karena diabaikan, ia bangkit dan membungkukkan badan sambil meminta maaf lalu pergi dan memasang kembali headphone.

"Tunggu!"

Benda yang melaju itu ia hentikan kemudian berpaling kebelakang.

Orang itu berlari kearahnya, sedang dahi mengerut. Ia tiba dengan nafas terengah. Kemudian membungkuk dan menupukan tangan pada lutut. Mengambil nafas.

"Kau tak apa?" Tanyanya.

Bukankah sudah jelas? Kedua lututnya terluka.

Dia mengangguk. Tanda baik-baik saja.

"Biar aku obati." Tawarnya sambil mengulurkan tangan.

Bola mata ia putar—malas. "Aku baik-baik saja." Headphone kembali ia tekan sekali untuk memutar lagu yang sempat terhenti. Membalikkan badan dan mendorong skateboard.

Itu terhenti saat tangannya dipegang oleh orang yang tadi ia tabrak. "Kau tidak." Katanya meyakinkan.

Sekarang benda untuk mendengarkan musik itu dilepas dan dikalungkan pada leher. "Khawatirkan dirimu sendiri." Ucapnya sambil menunjuk dengan mata ke arah kakinya.

Betisnya tergores. Lukanya cukup panjang dan darah mengalir disana.

Matanya membola kaget. Tak terasa sakit namun lukanya terbuka cukup lebar.

"Kau yang perlu diobati." Ia menarik tangan korbannya dan berjalan bersama. Skateboard miliknya ia genggam di tangan kiri sedang tangan kanan sibuk menarik hoodie hitam dengan kedua jarinya.

.


.

Kedua korban terluka itu datang dengan kesadaran diri. Saling menolong satu sama lain. Dengan plaster dan perban ditubuh.

Sebatang sigaret ia keluarkan dari saku celana. Duduk di halte bus yang berada tepat didepan rumah sakit. Dengan skateboard yang ia letakkan disebelahnya. Tak lupa mendengarkan playlist Lofi.

Setidaknya ia bisa bolos kelas pagi ini dengan kecelakaan sialan ini. Tapi tunggu, ia tak tahu caranya naik bus. Kemana akan pergi dan halte mana akan berhenti.

Sadar nikotin itu sudah habis, dan mengeluarkan sisa terakhir. Sial. Saat meraba saku celana tak ditemukan dimana benda penyala api itu. Lighter miliknya hilang. Bagaimana bisa, padahal baru saja ia letakkan disaku.

Ketika menoleh kekanan, lighter berwarna silver dengan ukiran bunga mawar merah dan inisial S terukir indah.

"Punyamu."

Itu orang yang tadi.

Barang itu ia ambil cepat kemudian menyalakan nikotin dan menghembuskan asap dengan pelan. Cukup banyak kali ini.

"Merokok itu tidak baik."

Baiklah satu orang menyebalkan datang untuk memberi nasihat. Saatnya untuk mendengarkan lagu Bohemian Rhapsody karena lebih baik daripada harus berurusan dengan orang yang suka mengatur disebelahnya ini.

Tapi sepertinya ia tidak menyerah dan malah sedang tersenyum. "Aku tidak melarangmu, karena kau tahu betul resikonya."

Pria ber-hoodie itu melanjutkan, "Maaf karena kejadian tadi." Ia berdiri dan membungkuk sebentar lalu duduk kembali. Sedang yang satunya hanya duduk menatap dalam diam.

Sebenarnya dia belum sempat memutar lagu karena iPodnya habis baterai. Lucu sekali.

"Park Chanyeol."

"Hm?"

"Milikmu."

"Apa?" Ia melepas headphone agar bisa mendengar jelas yang dikatakan orang ini.

Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Aku Park Chanyeol." Senyum yang menampilkan deret gigi rapi.

"Hm. Terserah." Ia menoleh dan mengabaikan. Mengayunkan kaki sambil mendengar hiruk pikuk jalanan.

Yang mengaku bernama Park Chanyeol itu terkekeh pelan. "Kau mau kemana?" Tanyanya.

Nikotin itu ia hisap kemudian hembuskan asap perlahan. "Mind your own business." Mata Chanyeol membola—kaget. Bukan karena tak mengerti namun sedang memandangi langit biru dengan kepulan asap mint dari nikotin orang disebelahnya yang bahkan tak mau memberi tahu siapa namanya.

Bus tiba, Chanyeol bangkit dan menoleh pada orang disampingnya. Ia terlihat santai dengan tatapan kosong. Sepertinya tak sadar jika bus sudah tiba.

Chanyeol menepuk pundaknya sekali guna menyadarkan. "Sudah tiba." Katanya sambil menunjukkan bus dengan menolehkan mata kekiri.

Skateboard itu ia gandeng dan segera naik kedalam bus. Disusul Chanyeol dibelakang.

.


.

Seluruh kursi penuh. Jadi mereka harus berdiri. Sedikit kesusahan karena tangan kanan memegang pegangan dan tangan kiri memegang skateboard yang cukup besar untuk tubuh kecilnya.

Ya, kecil jika berdiri bersebelahan dengan Chanyeol.

Kepalanya cukup pusing berada di bus dengan keadaan berdiri. Terlebih lagi nikotin terakhir ia habiskan saat membunuh bosan di halte.

Sekarang, ia tak tahu harus kemana. Setidaknya berhenti di halte pertama. Sisanya ia akan susuri jalanan dan kembali membeli sebungkus sigaret.

Benar saja, bus berhenti. Namun seluruh penumpang turun dan keadaan mulai berdesakan.

Kerumunan orang itu menghalanginya untuk berjalan. Setidaknya ia harus bisa melangkah keluar dari sini.

Seseorang menyenggolnya dan tangan kiri refleks melepas genggaman skateboard dan berakhir jatuh di kaki Chanyeol yang sejak dari tadi berdiri tepat disebelahnya.

"Ah maaf!" Dengan terburu ia segera meminta maaf dan mengambil kembali skateboard-nya yang kemudian ia peluk dengan kedua tangan agar benda ini tak membahayakan orang yang sama.

Sial lagi, bus sudah berjalan. Halte baru saja terlewat.

Pemberhentian selanjutnya entah dimana dan harus menunggu berapa lama lagi. Ia menoleh ke sekeliling. Tak ada siapapun kecuali dirinya, supir dan pria yang mengaku bernama Chanyeol ini.

Masih berdiri disampingnya dengan senyuman aneh itu.

"Duduklah." Tawarnya sambil menunjukkan salah satu bangku kosong dan langsung diindah olehnya.

Chanyeol kembali mencoba membuka pembicaraan dengan upacara awal saat bertemu dengan orang baru.

"Dan namamu adalah..." Itu upacara yang kumaksud. Jangan lupa dengan jabat tangannya.

Yang sedang duduk hanya menatap. Sedang Chanyeol melebarkan senyum pada wajah kikuk itu.

"Bodoh." Ucapnya lalu memasang kembali headphone dan memutar lagu yang sempat dijeda.

Bus berhenti pada halte berikutnya. Tentu tak ingin berada lebih lama didalam sini dan dengan si jangkung aneh yang terus mengikutinya.

Setelah membayar dan turun, tempatnya berdiri saat ini terlihat tidak asing. Gedung tinggi dengan orang berusia dua puluhan. Gaya Korea yang kental juga tangga menuju gedung.

"Shit." Ini adalah Kampus yang sedari tadi dihindarinya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kembali pun hanya rugi waktu. Lebih baik memakan bubur itu dalam keadaan enak ataupun tidak.

Tangga sedikit menyebalkan. Karena ada klub basket dengan segala omong kosong mereka tentang siapa saja yang lewat. Tidak ada jalan lain selain disana.

Langkahnya ia bawa malas, mencoba mengabaikan sekitar dan berjalan menuju tangga.

Anak tangga terakhir, langkahnya terhenti. Matanya menatap malas.

"Byun-aesthetics-Baekhyun!" Goda salah satu dari mereka. Setidaknya ada empat orang disana. Yang sedang duduk dengan bola basket dibawahnya kalau tidak salah bermarga Oh dan yang didepan ini adalah Kim.

Asal tahu saja, ini bisa menjadi berkali-kali lipag menyebalkan jika si Oh bangkit dari duduknya.

"Powerbeats! Memang Crazy Rich Itaewon satu ini." Ia merampas headphone itu dari kepala Baekhyun yang melempar protes dengan tenang. "Kembalikan."

Namun Kim malah mengejeknya dengan ekspresi dan meniru perkataannya dengan canda.

"Ambil ini!" Dia memanfaatkan tubuh tingginya dan mengangkat headphone itu hingga Baekhyun harus berjinjit untuk meraihnya.

"Kembalikan!"

"Coba saja, dasar pendek!"

Baekhyun berhenti. Wajahnya berubah serius saat Kim menyebutnya begitu.

"Hei pendek, ambil kalau bisa!" Headphone itu masih berada ditangannya dan ia pegang diatas seakan ingin menjatuhkannya.

Dengan sedikit melompat dan berjinjit "Kembalikan breng—"

Tapi benda itu berhasil diraih. Tidak bukan oleh Baekhyun. Melainkan seseorang dari arah yang berbeda.

Kim langsung ketakutan. Terlihat jelas diwajahnya sedang Baekhyun mengernyit dan ketika berbalik itu adalah.

"Kita belum sempat berkenalan. Ayo." Dia menarik tangan Baekhyun berjalan masuk.

Anak yang sedang menduduki bola basket tadi berdiri. Cemas mulai mendatangi Kim.

"Sehun, itu—" Ucapan Kim terpotong saat yang bernama Sehun buka suara.

"Chanyeol that bastard."


To be continued

.

Gimana? Lanjut ga nih. Lagi suka yang soft gini... kalo rame ntar dilanjut, potats promise.