Naruto Always belong to Masashi Kishimoto

pair: Neji Hyuga x Sakura Haruno

Au, typo, etc

Romance, sad, hurt


"Bisakah kau menjaga Tenten untukku, Neji?"

Neji menggeleng merespon sahabatnya yang kini tengah berjuang dia ambang kematian. Yang ia tahu dia orang yang kuat dan penuh semangat dan tidak mungkin penyakit mematikan ada pada dirinya. Leukimia dan dia menyembunyikan'nya selama ini, dari semuanya.

"Kau harus kuat, Tenten membutuhkan mu Kiba."

Kiba tersenyum lemah di sela napasnya yang mulai tersendat. Wajah pucatnya, tangan lemahnya yang menggenggam tangan Tenten dan membawanya pada tangan Neji kemudian disatukan dalam satu genggaman.

"Bisakah kau menjaganya?"

Neji menganguk, "tentu saja, kita sahabat dan aku pasti akan menjag-"

"Bukan," Kiba menyela dan suaranya mulai melemah dengan napas yang berhembus mulai menipis. "Nikahi Tenten karena ada anakku bersamanya...aku tidak bisa."

Tubuh Neji menegang dan menatap Tenten yang sejak tadi sudah terisak dan menggeleng pelan mendengar setiap perkataan kekasihnya itu. Tenten dan Kiba memang sepasang kekasih dan berencana akan menikah musim semi nanti. Tapi keadaan sekarang membuat semuanya berubah apalagi ia yang tidak mungkin menyanggupi permintaan sahabatnya itu.

"Kau harus bertahan Kiba demi mereka."

"Waktu ku ...sudah tidak...ada," Kiba menyatukan tangan Neji dan Tenten di antara genggaman tangannya. "Aku mohon."

Sekelumit perasaan, pikiran kalut menyerang Neji sekarang. Permintaan Sahabatnya dan mungkin ia akan menjaga Tenten, ia akan sanggup tapi...

"Hn." Neji menyerah, mengesampingkan apa yang akan terjadi nanti. Ia berpikir akan mengatasinya dengan benar dan senyuman terkahir Kiba mengakhiri semuanya dibarengi tangisan Tenten, rasa bersalah Neji dan tangisan seseorang yang tertahan dengan tangan yang membekap mulutnya -tidak percaya-- dan perlahan berjalan mundur meninggalkan pintu yang setengah terbuka.

"Hinata, sedang apa di sini?"

Hinata yang sejak tadi menoleh kesana kemari mencoba mencari keberadaan seseorang tersentak saat suara yang sangat dikenalinya terdengar menanyainya.

"Neji-nii sedang apa disini?"Hinata balik bertanya saat mendapati sepupunya berada di sini. "Apa Sakura memintamu untuk menjemputnya?" Tanya Hinata yang jujur saja penuh dengan raut kebahagiaan saat ini.

Neji mengeryit dan menggeleng. "Kiba dirawat di sini dan akhirnya dia menyerah."

"S-sungguh?" jujur saja Hinata tau Kiba adalah sahabat Neji yang sedang sakit keras dan tidak percaya jika dia akan benar-benar pergi. Neji- nii pasti sedih di tinggal oleh sahabat sejak kecilnya dan itu terilihat jelas pada raut wajahnya saat ini. "Aku turut berduka dan akan ke sana bersama yang lain sekarang aku harus ke kamar Ino dan pamit mungkin Sakura- chan ada di sana." Hinata hendak berbalik arah namun Neji menghentikannya dengan memegang lengannya.

"Sakura disini?"

"Hm," Hinata tersenyum saat ingat akan ada kejutan untuk Neji dari Sakura. "Ino dirawat dan tadi Sakura-chan pun mengecek kesehatannya karena akhir-akhir ini dia bilang merasakan badannya sering lelah."

"Dia sakit?"

"Kau itu kekasihnya," Hinata mendengus kesal mendengar pertanyaan sepupunya itu. Mereka tinggal bersama, masa Sakura sedang sakit pun ia tidak tau. "Jangan bilang Neji-nii belum pulang dua hari ini?"

Neji menghela napas dan menjawab dengan anggukan lemah. Sungguh dua hari ia berada di sini dan tidak pulang. Ia menunggu keluarga Kiba datang dari Suna karena sejak di rawat Kiba enggan mengabari keluarga dan akhirnya menyerah karena Tenten yang menghubunginya di saat kondisi Kiba semakin memburuk. Sekarang ia merasa bersalah karena membiarkan Sakura sendirian di saat Kekasihnya sedang sakit. Tapi mungkin Sakura bisa memakluminya dan ia akan meminta maaf setelah ini.

"Aku akan pulang dan berganti pakaian untuk menghadiri pemakaman Kiba, apa kau bisa menemani Sakura sampai pulang?"

Hinata tau di saat seperti ini Neji harus adil apalagi mengantar sahabatnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, di sisi lain keadaan Sakura yang ia lihat tadi benar-benar mengkhawatirkan karena wajah pucatnya.

"Baiklah nanti kita akan kesana, cepatlah bergegas Neji-nii."

Neji mengangguk dan berbalik pergi meninggalkan Hinata yang terdiam sepertinya memikirkan sesuatu.

"Sepertinya aku harus mengatakannya kepada Sakura-chan agar ia tidak semakin cemas."

Neji membuka lemari untuk menggati pakaian dan ia harus bergegas. Alisnya mengeryit saat piyama dan kaos couple yang dia miliki bersama Sakura semua berada di atas ranjang.

Neji tersenyum, menggeleng mengingat Sakura pasti terburu-buru memilih baju sehingga mengeluarkan semuanya. Sepertinya ia harus segera meminta maaf meninggalkan kekasihnya sendirian saat sedang sakit.

"Maafkan aku sayang, aku akan kembali."

"Bodoh!"

Sakura menghapus kasar air matanya yang sejak tadi mengalir dan tidak bisa dihentikan. Sangat jelas dan masih bisa di dengar bagaimana Neji menyetujui untuk menikahi Tenten. Bukan apa, ia tau Neji hanya mencintainya tapi saat ia berjanji dengan penuh kesungguhan seperti itu membuatnya hancur dalam sekali hantam.

Salju nampak turun dari balik kaca mobil yang di tumpanginya. Hamparan putih mendominasi penglihatannya yang terlihat indah tapi berbalik dengan hatinya yang penuh dengan luka.

"Janji tetap janji dan kau sudah mengkhianati dan menghancurkanku Neji-kun."lirih Sakura nyaris seperti bisikan yang tak bisa di dengar begitu pun seseorang yang duduk di kursi mengemudi yang tidak bisa berbuat apaapa dan hanya bisa mendesah frustasi karena perempuan itu tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruh untuk mengantarnya tanpa memberitahu kemana tujuannya setalah ia berhenti tepat di bandara.

Ia tau Neji terpaksa.

Ia tau Neji mengatakan itu semua demi sahabatnya.

Tapi dia tidak menolak demi dirinya dan itu berarti Neji memilih perempuan itu yang pada akhirnya akan meninggalkan dirinya. Maka dari itu ia memilih pergi tanpa meninggalkan luka lebih dalam dan menghilang daripada harus mengetahui dan mendengar langsung Neji berkata 'maaf' meninggalkannya, ia tidak sanggup dan memilih pergi sejauh yang ia bisa.

Setidaknya ia harus pergi walaupun harus merelakan separuh kehidupannya demi orang lain.

Jujur saja, ia tidak sanggup dan terluka.

Semua perlahan berpamitan dan hanya menyisakan keluarga Kiba, Tenten dan Neji saat ini. Proses pemakaman sudah selesai dan Neji harus segera kembali mengingat Sakura sedang sakit dan ia sama sekali belum menemuinya.

"Neji."

Neji menoleh saat Tenten memanggilnya.

Tenten menghela napas pelan. Jejak air mata masih nampak meskipun sudah tidak ada air mata yang mengalir. Kiba sudah pergi dengan tenang dan tidak merasakan kesakitan lagi. Ini pilihannya saat menyerahkan segalanya, ia ingin sesuatu tentang Kiba sebagai kenangan dan calon anaknya lah yang akan menggantikan Kiba dikehidupannya. Tidak. Cintanya adalah Kiba dan ia senang dan akan merawat anaknya kelak meskipun harus berjuang sendirian. Dan ia tidak bisa menempati orang lain dalam kesusahan hanya demi dirinya karena ia yakin akan baik-baik saja selama anak ini bersamanya karena dialah satu-satunya kekuatannya saat ini.

"Tentang permintaan Kiba--"

"Aku sudah berjanji Tenten jadi kalian akan baik-baik saja."

"Tidak," Tenten menggeleng menolak ucapan Neji. Sungguh ia tidak mau hal seperti ini terjadi apalagi membuat orang tersiksa."kau tidak harus menikahiku, aku tau kau mempunyai orang yang amat di cintai dan aku akan baik-baik saja sungguh."

"Tapi Kiba sudah meminta agar aku menjaga kalian."

"Aku akan senang jika hanya menjaga tapi untuk menikah apa kau sanggup melepaskan orang itu dan menyakitinya?"

Neji terdiam mendengar setiap perkataan Tenten. Bukan ia tidak tau, tapi ia sudah berjanji kepada sahabatnya dan tidak mungkin di langgar. Tapi, sejujurnya ia tidak terpikirkan bagaimana ia akan hancur harus melepas Sakura dalam kehidupannya apalagi ia berencana akan melamarnya minggu depan dengan rencana pernikahan musim seminya.

"Aku--"

"Apa kau tau dimana sekarang Sakura, Neji-nii?"

Seseorang berseru membuat Neji tersentak dan berbalik. Hinata berdiri dengan air mata yang kini mengalir. Bukan dirinya yang di khianati tapi ia bisa merasakannya bagaimana perasaan sakura saat ini. Lima belas menit lalu ia berhasil menghubungi Sakura dan dia mengatakannya sebelum Sakura mengatakan selamat tinggal dan mematikan ponsel atau mungkin membuang ponselnya karena saat ia akan mencoba menghubungi lagi nomer Sakura sudah tidak aktif lagi.

"Apa maksudmu Hinata?" Neji tidak mengerti dengan perkataan Hinata. Bukan nya Sakura bersamanya, kenapa harus berkata seperti itu.

Hinata tidak peduli meskipun Neji saudaranya. Tapi sungguh ia kecewa mengetahui ini semua dan menyakiti Sakura.

"Kau pilih mana Neji-nii?" Hinata menggeleng dan menyeka air matanya, tatapan kecewa ia berikan untuk Neji. "Janjimu atau Sakura-chan?"

Neji menggeleng. Berat untuk memilih karena ia pun sudah berjanji dan itu permintaan terakhir sahabatnya. Dan melihat respon sepupunya itu Hinata mengerti hingga hanya memberikan senyuman penuh kekecewaan.

"Baiklah jika itu pilihanmu," Hinata menggeleng menahan amarahnya yang sejujurnya akan meledak jika tidak ingat dimana ia berada sekarang apalagi keluarga Kiba-nii kini sedang memperhatikan nya. "Aku lega Sakura memilih pergi saat tau kau sudah berjanji dan itu berarti kau melepaskan, akan meninggalkannya sendirian." Hinata membungkuk memberi hormat kepada semua orang. Tadinya ia ingin menghadiri pemakaman namun berkahir seperti ini sesaat sebelumnya Sakura mengatakan semuanya melalui telepon dan ia pun harus mendengar nya secara langsung. Sungguh ia sakit dan kecewa kepada sepupunya itu.

"Tunggu!" Neji mencengkram lengan Hinata yang sempat akan melangkah pergi. "Maksudmu, Sakura tau..."

Hinata mati-matian menahan tangisannya namun sia-sia saja karena pada akhirnya ia menangis karena kecewa dan sakit dengan apa yang terjadi. Neji saudaranya namun Sakura pun adalah sosok yang penting dan mungkin ada satu hal yang membuatnya sekarang ada di pihak Sakura.

"Tepati janjimu, aku yakin Sakura-chan akan melewati semua ini dengan baik karena dia perempuan kuat." Hinata melepaskan tangan Neji yang masih menahan lengannya. "Sebagai adik, aku akan selalu mendoakan dan mengucapkan selamat." ujar Hinata berlari berusaha menulikan dari teriakan Neji.

Ia tidak tahan lagi.

Ia terluka apalagi Sakura?

"Neji-nii brengsek!"

Neji meremas rambutnya saat tidak ada sahutan di seberang sana.

'Tidak terdaftar.'

"Dimana kau Sakura."

Jujur perkataan Hinata membuat semuanya kacau. Ia sebenarnya akan mengatakan ini semua kepada Sakura namun menunggu waktu yang tepat apalagi harus melepaskan kekasihnya itu, ia tidak sanggup sungguh. Tapi ia kalut, bingung karena sudah berjanji kepada sahabatnya apalagi Tenten sedang mengandung dan anak itu pasti membutuhkan sosok ayah. Rasa bersalah kembali menghantam nya dan ingatannya akan pakaian yang berserakan membuatnya cemas.

Tidak.

Ia tidak sanggup kehilangan kehidupannya.

Neji tersentak saat tepukan mendarat pada bahunya.

"Kejar dia." Tenten menatap sedih Neji yang terlihat sangat hancur saat ini. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu seperti ini apalagi Sakura adalah sosok yang benar-benar berarti bagi kehidupan Neji.

Neji menggeleng pelan membuat Tenten mendengus kasar.

"Jika kau masih keras kepala kau akan kehilangan nya dan hidup dalam kehancurnan. Aku tidak sudi hidup dengan pria yang menyedihkan seperti ini." Tenten tersenyum hangat saat Neji menatapnya. "Anggap ini permintaan terakhirku, kejar dia dan aku akan hidup bahagia. Kau membutuhkannya dan aku tidak membutuhkan mu Neji... Cepatlah sebelum semua terlambat."

Neji terdiam sesaat sebelum senyum tipis terukir di bibirnya mendengar perkataan Tenten. Seperti ada pencerahan dan ia harus segera menyelesaikan semua ini.

"Terimakasih dan aku tetap akan menjaga kalian."

"Nah," Tenten tersenyum dan satu tangan menyuruh Neji pergi. "Sana cepatlah kejar dia." ujarnya dan mendapat anggukan Neji yang menurutinya kemudian lelaki Hyuga itu berlari pergi meninggalkan Tenten yang tersenyum.

"Masih ada kami keluargamu Tenten-chan."

Itu Hana, kakak Kiba yang berdiri di samping Tenten.

"Ya terimakasih Hana-neesan."

Hanya satu ucapan 'Baiklah' membuat semuanya harus seperti sekarang. Musim sudah berganti dan ia masih bertahan dengan rasa bersalah dan kehancurannya. Penyesalan, selalu datang terakhir dan ia ingin mengutuk dirinya sendiri yang mengakibatkan semua ini terjadi.

Sakura terluka karena dirinya dan lebih membuatnya hancur adalah kepergian Sakura begitu saja. Ini semua memang salahnya, tapi bisa kah ia berharap mengulang waktu kembali. Ia sudah mencari Sakura di tempat Temari --Sepupu Sakura di Suna-- namun tidak berhasil.

Seharusnya bulan ini adalah paling membahagiakan dalam kehidupannya, seandainya...

Neji menghela nafas lelah kemudian mengambil ponsel yang sejak tadi berada di atas meja. Hari, jam dan detik ia menanti akan sesuatu yang terus ia harapkan. Sosok terkasih yang kembali menghibunginya, itulah harapan nya yang selama ini yang tidak pernah hilang.

"Neji-nii."

Hinata dan Naruto datang kemudian dan duduk di tempat kosong berhadapan dengan Neji. Naruto menghela napas berat memikirkan akan sesuatu yang akan ia lakukan setelah ini. Ada hal yang sangat penting untuk di ketahui semuanya. Mengenai kehidupan Neji dan juga seseorang yang sedang berjuang di sana.

Neji mengeryit bingung saat melihat raut dari pasangan suami istri itu nampak berbeda sekarang. Hinata yang sejak tadi menatapnya dengan gugup kedua tangan saling bertautan sedangkan Naruto terlihat berusaha keras berpikir sesuatu entah hal apa.

"Ada apa?" tanya Neji pada akhirnya setelah mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, ia tahu Hinata dan Naruto datang menemuinya pasti ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.

"Sakura-chan."

Neji tampak menegang mendengar satu nama yang sudah hampir tiga bulan lebih selalu membuatnya rindu dan juga hancur karena kehilangan.

"Kenapa?"Neji kembali bertanya. Sejujurnya ia amat merindukan Sakura hingga detik ini dan ia sudah mencarinya namun entah kemana ia pergi. Sakura mungkin kecewa tapi ia pun kecewa kenapa Sakura tidak tetap menunggunya berbicara dan ia lebih baik di pukulinya daripada harus mendapatkan kejadian seperti ini. Ia tidak sanggup.

Hinata menghela napas pelan. Beberapa bulan ini ia sudah memegang janjinya namun ia menyerah karena bagaimanapun Neji harus tahu semuanya sebelum terlambat dan ia harus mengatakan semuanya dan pilihan akhir itu ada pada Neji-nii.

"Saat waktu itu, di rumah sakit aku bilang Sakura-chan sedang sakit bukan?" Hinata memulai pembicaraannya, mengingat kembali memori lama yang membuatnya menyesal karena tidak tau apa yang terjadi dengan sakura dan tidak mencegahnya untuk tetap tinggal. Ditatap nya kakak sepupunya dengan raut sedih dan penuh penyesalan.

Neji diam menanggapi dan memilih mendengar daripada harus banyak berbicara saat ini. Jujur saja ia kecewa kepada semuanya karena seolah menahan dirinya untuk menemukan Sakura, tapi di satu sisi ia sangat ingin tahu kebenaran sekecil apapun tentang Sakura dan kepergiannya.

Hinata menyodorkan satu amplop putih berukuran sedang kepada Neji. "buka lah!"

"Apa itu?" Neji nampak enggan karena ia takut sesuatu yang buruk yang akan di dapatkannya, ia tidak ingin.

"Buka jika kau tak ingin menyesal."

Pada akhirnya Neji menurutinya dan membukanya hingga setelahnya matanya melebar membaca sederatan kalimat yang tertulis di sana.

"I-ini..." tangannya yang memegang selembar kertas gemetar dengan mata menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar.

Sederetan kalimat dan kenyataan yang baru diketahuinya pada surat itu membuat Neji menangis.

"Aku lelaki bodoh."

"Neji-nii."

"Di saat ia membutuhkan ku, aku tidak di sampingnya dan dia..." Neji menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa mengingat kembali kejadian Sakura yang ia kira sedang sakit dan ia tidak berada disampingnya, menemani Sakura saat sedang kesulitan. Wajahnya menegadah kemudian menghapus air matanya. "Di berjuang sendirian dan kau baru memberitahu ku?"

"Maaf."

"Kalian tau dimana dia berada?"

Hinata mengangguk kemudian menatap Naruto yang duduk di sampingnya. Mengenai surat tadi ia dapat dari Naruto karena tertinggal di mobil setelah mengantarkannya ke bandara. Saat itu ia bimbang karena yang ia tahu Neji akan menikahi Tenten, namun ia tidak mengerti kenapa hingga detik ini Neji tidak melakukan itu. Neji bersikap seperti dulu namun ia tidak bisa mengatakan hal ini karena melihat Neji yang selalu menemani Tenten dan berpikir mungkin mereka memang akan menikah entah kapan itu pun ia tidak tahu. Karena perna ia bertanya namun jawaban Neji-nii kembali membuatnya mundur. 'Aku bertanggung jawab terhadap mereka' yang tentu saja membuat Hinata memilih mengurungkan niatnya untuk mengatakan semua kebenaran.

Bulan terus berganti dan dengan tekad kuat Hinata akhirnya menyerah akan semuanya. Apapun itu Neji harus mengetahui semuanya. Jika soal pilihan, ia serahkan kepada sepupunya itu.

"Hari itu dia menangis." Naruto akhirnya berbicara sejak tadi hanya diam mendengar dan melihat keadaan dan sejujurnya ia sudah berjanji dan memperingati Hinata untuk tidak mengatakan apapun kepada Neji. "Beribu akal ku bertanya agar Sakura menjawab namun ia tidak mengatakan apapun. "

Neji kini menegakan tubuhnya dan menatap Naruto, menuntut untuk menceritakan semuanya dan Naruto tahu itu.

"Jujur aku ingin memukulmu namun Hinata menahannya dan aku memilih diam dan menyimpan sesuatu yang Sakura tidak sengaja tertinggal."

"Dimana dia?"

"Aku hanya mengantarnya ke bandara dan dia tidak mengijinkanku ikut menemaninya ke dalam."

Bahu Neji melemas. Pantas saja ia mencarinya namun sulit dan nyatanya Sakura pergi jauh.

"ah ini," Naruto menyodorkan satu foto yang tentu saja membuat Neji mengeryit karena dalam foto itu bukan Sakura melainkan foto Hanabi yang kemarin sempat berlibur ke Korea.

Melihat respon Neji membuat Naruto berdecak. "Ini, lihat lebih jelas."

Neji mengambilnya dan melihat foto Hanabi yang berpose di balik cherry blossom yang berguguran. Netra mutiaranya terpaku. Bukan karena Hanabi melainkan sosok yang sangat dikenalinya di belakang sana.

Sosok itu tersenyum berpose yang sepertinya sedang di potret oleh seseorang. Netra mutiara Neji melihat tubuh Sakura yang berbeda, perutnya yang sudah terlihat jelas membentuk sesuatu yang didalam sana ada kehidupan.

Neji tersenyum

Seakan ada jawaban, Neji melupakan kekecewaan kepada semua yang menyembunyikan kebenaran darinya dan berharap untuk memperbaiki semuanya dan meraih kembali separuh kehidupannya.

"Aku akan mencarinya."

Neji berdiri di tempat dimana ia bisa membayangkan dari tempatnya berdiri saat ini, bayangan Sakura yang melakukan seperti yang ada di selembaran foto yang di berikan Naruto kemarin.

Sejak pemberitahuan itu Neji langsung mengajukan cuti dan menyerahkan pekerjaannya kepada asistennya. Hanya tiga jam ia bisa sampai ke tempat ini melalui penerbangan dan ia akan menetap hingga tujuannya datang ke tempat ini tercapai, menemukan sosok belahan jiwanya yang sempat pergi dan ia akan membawanya kembali, ia berjanji.

"Cuyun camcon."

"Heiii appa... Appa."

Neji memperhatikan interaksi anak kecil -ah masih bayi- yang terlihat senang dalam gendongan lelaki tinggi yang terus mengusak kepala mungil itu gemas. Mereka berjalan melewati Neji yang masih terdiam menatap mereka dengan pandangan dan pikiran yang sulit di artikan.

Iri

Ya, dia iri melihat pemandangan di depannya kini.

"Papapa appa."

Neji tersentak dari lamunanya dan tersenyum saat anak kecil sekitar satu dua tahun itu berbalik dan melambai kepadanya. Dengan senyuman lebar Neji balas melambai dan tidak sadar air matanya jatuh begitu saja melihat wajah dan senyuman gadis kecil itu.

Apakah mereka baik-baik saja?

Neji terus memandang gadis kecil itu hingga kini sudah tidak terlihat dari pandangannya. Entah kenapa hatinya merasa senang melihat gadis kecil itu. oh. mungkin ia sedang dalam keadaan yang menyedihkan saat ini. Ia merindukan Sakuranya dan calon anaknya.

Hari ketiga, Neji masih di tempat itu dan masih dengan harapannya. Angin berhembus dan ia menikmatinya. Dalam dirinya terus berharap karena ia yakin Sakura akan datang walaupun tidak tahu kapan itu. Neji bersandar pada mobil dan memandang sungai yang menjadi icon negara ini. Lalu lalang orang-orang, kendaraan dan awan yang sudah berputar menggantikan waktu sejak empat jam yang lalu. Langit senja mendominasi dan Neji masih berdiri dengan diam menatap riakan air dan sungai yang terlihat indah saat ini.

"Aku akan segera sampai sebentar lagi, ada yang harus aku beli di supermarket terlebih dulu."


Neji tersenyum saat suara yang sepertinya sangat tidak asing. Tapi tidak mungkin kan dia datang menemuinya. Namun semakin lama suara itu semakin jelas membuat Neji yakin pendengarannya tidak salah dan detik itu juga ia menoleh kan pandangannya ke sumber suara.


Waktu seperti terhenti dengan debaran jantungnya kembali berdetak kencang saat kedua pasang mata saling bertemu. Mereka terdiam, berperang dengan pikiran masing-masing.

Neji tersadar saat Sakura perlahan berjalan mundur dan dengan secepat langkahnya ia meraih pergelangan tangan Sakura saat perempuan itu akan berbalik pergi.

"Jangan pergi, ku mohon!"

Tubuh Sakura menegang saat satu tangan digenggam Neji. Tiga bulan ia tidak melihat dan tau kabar lelaki ini dan kini ia di sini entah kebetulan atau tidak.

"Maaf tapi aku ada urusan."

Sakura berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Neji tapi nihil karena lelaki itu menggenggamnya begitu erat. Menghela napas, Sakura berucap "apa yang kau mau Hyuga-san?"

Sakura tersentak dan berputar saat Neji menariknya tiba-tiba dan membawanya memasuki mobil.

"Hyuga-san ap--"

Perkataan Sakura terhenti atau dihentikan paksa oleh Neji yang menariknya dan menciumnya tiba-tiba. Sakura mendorong tubuh lelaki itu dan berhasil melepaskan ciuman sepihak itu. Namun, Neji kembali menariknya dan menciumnya.

Suara tamparan membuat keduanya terdiam. Sakura yang terkejut dengan apa yang dilakukannya dan Neji yang menatapnya dengan kesedihan.

"Tampar aku." Neji meletakan telapak tangan Sakura untuk menyuruhnya kembali menampar dirinya.

Sakura berusaha menarik tangannya namun Neji menahannya dan menamparkannya pada wajahnya sendiri.

"Cukup Hyuga-san apa maumu?"

Neji menatap nanar Sakura yang kini terlihat menahan emosi dan tangisannya.

"Pukul aku tapi jangan menangis karenaku, kumohon."

Sakura menghapus airmatanya yang jatuh dengan cepat. "Jika tidak ada hal penting aku pergi."

Pergerakan tangan Sakura yang akan membuka pintu mobil terhenti dengan tubuhnya yang kembali tertarik ke depan, kedalam pelukan.

"Lepas!"

"Maafkan aku."Neji memeluk erat Sakura dan menangis.

Sakura terdiam saat merasakan pundaknya basah dengan tubuh Neji yang bergetar, menangis. Untuk apa dia menangis? Itulah yang ada di pikiran Sakura. Neji sudah bahagia bukan dengan pilihannya dulu dan kenapa dia di sini? Apa ini kebetulan atau... Sakura menggeleng mengenyahkan pikirannya yang nyatanya itu hal tidak mungkin terjadi.

"Kenapa kau pergi? Kembalilah!"

Tubuh Sakura menegang. Tidak, ia tidak mau kembali ke masa itu apalagi sekarang akan ada orang yang juga sama pentingnya dengan orang yang ia tinggalkan dulu.

"Kau sudah bahagia dan biarkan aku bahagia, kumohon."Sakura memohon dengan suara lirih, ia tidak ingin terluka kembali.

Neji menggeleng, melepas pelukannya dan menatap Sakura dengan tatapan hancur.

"Kau tau siapa sumber kebahagiaan hidupku."ujar Neji yakin jika Sakura tau siapa yang dimaksud dan ia sungguh-sungguh.

Sakura menggeleng dengan senyuman lirih. "Kau sudah menikah bukan?"tanya Sakura yang enggan terbuai akan masa lalu yang bisa dengan cepat menariknya kembali kedalam luka.

"Kau mendengarnya? Maaf."Neji bisa merasakan hanya melihat dari sorot mata Sakura jika dulu perkataan yang tidak terpikirkan dengan baik akan melukai kekasihnya hingga seperti ini. Pada kenyataannya tidak mungkin ia melepas apalagi meninggalkan Sakura dari kehidupannya.

Sakura memangis lagi dan akan menghapusnya namun tangannya kalah cepat dengan tindakan Neji yang lebih dulu menghapusnya.

"Jangan menangis, maaf membuatmu memilih pergi." Neji menatap wajah yang sudah lama tidak ia lihat dan sangat dirindukannya dengan senyuman.

"Karena itu pilihanmu."

"Aku tau," Neji kembali menarik Sakura kedalam pelukannya. "Karena itu aku mencarimu karena dari dulu hingga detik ini pun tidak berubah, kau pilihanku."

Sakura menjauh dan menatap Neji dengan tagapan bertanya. "Apa mak--"

"Menikahlah denganku!"

"Apa?!"

Neji merarik kedua tangan Sakura dan meletakannya di antara kedua pahanya. Di elusnya pelan dan senyuman tipis terlukis saat ingatannya kembali berputar tentang masa lalu mereka.

"Maaf sudah membuatmu kecewa karena ucapanku yang tidak berpikir panjang jika kau mungkin mendengarkan langsung."

Sakura tau apa yang Neji bicarakan saat ini. Awal dari semua keputusannya meninggalkan nya.

Neji menghela napas pelan, "kau tau dia sahabatku dan saat dia meminta aku tidak bisa menolaknya. Tapi aku bodoh tidak berpikir bagaimana denganmu saat itu karena aku pun bingung, maafkan aku."

Tatapan mereka saling bertemu namun Sakura masih diam sedangkan Neji tersenyum tipis, maklum.

"Saat tau kau pergi aku merasa hancur. Aku mencarimu ke setiap penjuru jepang dan orang-orang yang kenal denganmu tapi semua sia-sia. Aku pantas mendapatkannya karena mungkin saat itu kau kecewa kepadaku. Tapi kenapa kau pergi begitu saja?" Neji terkekeh pelan namun bukan tawa kebahagiaan melainkan sedang mentertawakan diri sendiri yang begitu menyedihkan.

"Aku lebih baik dipukuli olehmu daripada tidak bisa melihatmu, kau tau? Aku hancur dengan tidak adanya dirimu sayang."

Sakura melipat bibirnya dengan wajah menegadah menahan tangisannya. Apa ia begitu kejam? Tapi Neji memilih perempuan itu bukan? Untuk apa dia berbicara seolah-olah ia adalah sumber kebahagiannya?

"Kau sudah menikah dan memilih meninggalkanku bukan?"

Neji menyatukan kening mereka dan menatap emerald yang sudah berlinang. Sungguh ia benci melihat Sakura menangis apalagi itu karena dirinya.

"Jika aku memilihnya untuk apa aku melamarmu tadi?"

"Tap--"

Perkataan Sakura lagi-lagi terhenti karena Neji yang membawanya kepada ciuman panjang penuh perasaan kesedihan, hancur dan cinta saat bersamaan.

"Neji-kun."

Neji tersenyum saat suara lemah Sakura memanggil namanya dengan sebutan yang sangat dirindukannya. Kini tatapannya beralih kepada perut buncit Sakura dan tangannya terangkat, menyentuh dengan elusan lembut. Dengan senyuman yang tidak kalah lebar dari sebelumnya, Neji mengecup kening Sakura dan berujar...

"Apakabar anakku?"


Don't say goodbye, karena itu akan membuatku hancur. Kau tau matahari? Ya. Itulah dirimu dalam hidupku sayang. Aku mencintaimu... Hyuga Sakura.

Jadi jangan sekali mengatakan selamat tinggal karena itu ketakutanku, kehilanganmu.

End

Gaje drpd mendem di drap

Wyd Rei Gilg Kuran Tanaka

Ckrg