Matsukawa belum sempat bicara satu patah kata.

"Selamat datang, tertarik melihat pertunjukkanku sebentar?"


Hijau dan Manis

Haikyuu! - Haruichi Furudate

Matsukawa Issei X Hanamaki Takahiro

Fiksi Penggemar


Kelas hari itu melelahkan, siang tadi Matsukawa sibuk mengutuki Hanamaki yang pulang lebih cepat.

Hanamaki dengan pita toska bentuk kelinci itu membuatnya ingin mengumpat lebih banyak.

"Bagaimana harimu, Issei?"

"Buruk."

"Oh, sayang. Biar kubantu dirimu."

Hanamaki menekan-nekan punggung Matsukawa dengan lembut. Yang dipijat terpejam, menikmatinya pula.

"Katakan apa rencanamu sebenarnya, Hiro."

Berhenti, Hanamaki mundur dan bergerak ke hadapan Matsukawa.

Melepas ikatan baju handuk hitam yang dipakainya sejak tadi.

"Sialan kau, Hanamaki."

"Selamat datang, tertarik melihat pertunjukkanku sebentar?"


Hanamaki Takahiro dan gaun ketat jelas bukanlah kombinasi yang aman.

"Kau hanya punya hak untuk diam sebelum aku mengatakan sesuatu."

Jaket kulit ditanggalkannya cepat, begitu dengan kemeja putih yang melekat.

"Aku akan melebarkan kakiku untuk perut itu, Issei." bisikan Hanamaki adalah sesuatu yang lain, Matsukawa bergetar di bawahnya, menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada tungkai yang halus itu.

Hanamaki berlutut di tengah kekasihnya, mengangkat sedikit gaun.

Menampakkan dirinya yang memerah dan basah, menggigit bibir bawah menahan.

Matsukawa sama pusingnya. Jeans terasa sesak, pemandangan itu tak luput dari mata yang lain.

"Pegangi kepalaku, Issei. Aku akan melakukan sesuatu."

Hanamaki melepas sisa kain yang tersisa pada Matsukawa sampai tertahan di lutut. Menatap damba pada hal baru di depan netranya.

"Aku masih tak bisa percaya benda itu masuk ke sana berulang kali."

Satu kecupan tepat di puncak. Matsukawa mengerang, menarik dagu di bawahnya untuk semakin mendekat.

Kejantanannya bertemu dengan pipi dan kelopak mata. Menutup mata, Hanamaki sesekali menjulurkan lidah dan memberi jejak kecil.

Bersiap, Hanamaki meregangkan mulut sebelum mulai.

Ranjang menderit, surai pink salmon dijambaki dengan halus. Pupil Hanamaki naik tinggi, merasakan panas di kerongkongan. Bernapas dengan hidung, melakukannya tanpa ragu.

Matsukawa menabrak tonsil, dan kebih jauh lagi.

Hanamaki penuh.

Tatapan memohon langsung diterima oleh Matsukawa, tanda bahwa kini dia bisa bergerak semaunya.

Desahan tertahan, bulir keringat diabaikan. Matsukawa tak tahu bagaimana cara berhenti menarik dan mendorong. Eskpresi Hanamaki terlalu menggoda.

"Hiro, ugh. Aku akan keluar."

Menangis, yang diajak bicara berusaha mengangguk di bawah desakan.

Dorongan terakhir, Matsukawa melepaskan semuanya. Hanamaki menelan, membuat tempat itu mengetat lebih parah.

"Taka—hiro--."

Pemilik rambut hitam ikal mengatur napasnya, membiarkan Hanamaki pada posisi yang sama. Tanpa menarik yang ada di dalammya.

"Tahanlah seperti itu, Makki. Aku akan memberi imbalan pada anak yang baik."

Bergetar, tak berdaya. Meja telah dibalik, Hanamaki membiarkan dirinya terkontrol penuh atas seluruh tubuhnya.

Sisi baiknya, Hanamaki tidak salah pilih kostum.


Berlanjut…