Saint Seiya lost canvas Shiori Teshirogi.
Rate - M
Warning : 100% gaje. Kalau bukan karena request, Saya ndakkan berani bikin rate M. Palingan kedepannya mentok semi M. Oke? *Guling2 di lantai*
Request by Xserqueen-san.
.
.
.
Degel membalik halaman buku di pangkuan, sejurus kemudian Ia meringis. Ujung jarinya tergores ujung lembar halaman, cukup menguarkan setetes darah. Ia lihati darah itu yang mulai menutup luka.
Angin sore masuk lewat jendela di belakang kursi panjangnya, membuat ketegangannya menenang. Lalu ada suara langkah menuju tempat Ia berada, sayup terdengar dan terasa. Namun ritmenya Degel ketahui, itu bukan suara langkah para pelayan.
Goresan luka di jari Degel sudah tertutup dan angin sore masih berhembus di belakang tubuhnya. Dia sandarkan punggung dengan masih membaca, menghitung ritme langkah yang kian mendekat itu. Dihitungan ke lima belas, sosok pemilik langkah memasuki tempatnya membaca. Tanpa suara, langsung duduk dan menyandarkan kepala di pundak Degel.
Sosok itu adalah Kardia, yang Degel ketahui baru pulang dari misi. Sepertinya Ia kelelahan. "Kardia?"
Khawatir. Degel menutup buku dan meletakkannya di sisi lain tubuhnya, lalu melingkar tangan di punggung Kardia hingga Scorpio itu masuk dalam rangkulan.
"Hanya sebentar." Balas Kardia. Rambutnya menutup setengah wajah. "Aku mau istirahat dulu lalu ke Pope Chamber untuk melapor."
Pipi Degel menempel puncak kepala Kardia. "Kapan Kau kembali?"
Kardia memeluk pinggang Degel. "Menjelang siang, Aku ketiduran setelah itu dan langsung mau ke sana."
"Jangan paksakan diri, lebih baik Kau istirahat."
Tangan Degel yang bebas menempel dada Kardia, mengalirkan aura dingin menelusup masuk ke tubuh itu. Dia rasakan nafas Kardia mulai tenang. Diselipkan rambut yang menutup wajah Kardia ke belakang telinga lalu Ia belai perlahan, seraya menikmati aroma Apel berbaur bersama keringat yang membasahi syal di leher Kardia. Dengan halus Ia kecup dahi yang tertutup poni urakan itu.
"Kau mencium dahiku." Komentar Kardia.
"Maaf."
Tawa tertahan Degel dengar, ditebaknya Kardia tersenyum dengan masih menutup mata. "Aku lebih ingin Kau mencium bibirku."
Sebenarnya Kardia tidak serius, tapi Degel mengiyakan. Karena tangan yang Degel gunakan untuk membelai berangsur menangkup wajah Kardia, membuat wajah yang sejak tadi menunduk itu mendongak.
Degel menikmati bibir halus yang terasa semanis Apel, matanya terpejam sesaat berbanding dengan Kardia yang menatapnya lekat. Lalu Degel melepas diri, menemukan kejanggalan yang tertangkap oleh indra penciumannya. Bau darah.
Mata sipitnya sedikit melebar, tangannya masih menangkup pipi Kardia dan meneliti tiap baret merah di wajah itu. "Kau terluka?"
Kardia tersenyum tak berdosa dengan mata terpejam, bersiap menerima segala racauan Degel yang selalu bermaksud mengingatkannya agar tak lepas kendali saat menjalankan misi. Namun yang didengarnya hanya helaan nafas sebelum tubuhnya digendong dengan begitu mudahnya oleh Degel.
Ia hanya kaget sebentar lalu melingkar tangan di tengkuk Degel. "Kukira Kau akan menceramahiku."
Ada senyuman halus membalas perkataannya, membuat pipi Kardia yang merah karena demam makin kentara. Ia kembali memejamkan mata, bahkan ketika Degel membaringkannya di kamar dan mulai melepas syalnya.
"Lukamu banyak." Kardia membuka mata perlahan, melihat Degel duduk di tepi tempat tidur dengan tangan melipat syalnya.
"Tumben Kau tidak berceramah."
Degel menatapnya teduh, Ia berdiri dan meletakkan syal itu di meja samping tempat tidur.
"Lepas bajumu."
"APA?!" Kardia memekik kaget, membuat Degel hampir tertawa melihat ekspresinya.
"Aku ingin melihat apa ada luka lain di tubuhmu." Jelas Degel seraya meninggalkan kamar.
Beberapa waktu kemudian Ia kembali dengan baju ganti dan bejana berair obat. Dilihatnya Kardia sudah bertelanjang dada. "Dengar, Degel. Kalau Kau mau memaksaku untuk minum obat, Aku tidak mau!"
Degel mencelupkan sapu tangan lalu memerasnya. "Aku tidak akan menyuruhmu minum obat, Kardia."
"Perih." Keluhnya ketika Degel mulai menyeka luka di sudut bibir lalu ke dahi. Mata sayu Kardia memandang wajah tenang Degel. "Kupikir, Aku tidakkan bisa kembali kemari."
"Kenapa?"
"Karena mati." Jawabnya jujur. Tanpa sengaja Degel menekan luka di lengan Kardia hingga Dia memekik. "Auh!"
"Ma-maaf."
Sebenarnya Kardia ingin merajuk, maka Ia melanjutkan ceritanya. "Kupikir Aku sempat mati, tapi nyatanya Aku masih disini 'kan..."
Mata Mereka berpandangan, dapat Kardia tangkap khawatir di mata ungu itu. Namun Degel lekas beralih memandang lehernya, menemukan memar merah yang pasti akan membiru esok hari. "Mendongak."
Kardia menurut, Ia dongakkan kepala memandang langit kamar Degel. Bibirnya terkatup rapat menahan perih dari sapuan obat itu. Lalu Ia menghela nafas dengan menutup mata. "Jika saja Aku benar - benar mati, apa akan yang Kau lakukan?"
Sapu tangan itu kembali Degel tenggelamkan di bejana, kali ini tidak Ia ambil. "Aku akan mencarimu."
Satu tangan Degel melingkar leher Kardia, satunya menempel ke dada itu, memastikan apakah jantung di dalam dada itu masih berdegup normal atau tidak. Tubuhnya menegang menyadari bahwa ritmenya lumayan cepat. Perlahan, Ia dorong Kardia hingga kembali berbaring. "Kau harus istirahat."
Degel hendak bangun untuk mengambil baju ganti yang dipersiapkannya, namun tangan Kardia sudah melingkari tubuhnya. Ia terkunci.
"Kardia, lepaskan." Tangan Degel masih di dada Kardia, merasakan jantung itu makin berdegup kencang.
"Kau seperti ingin menangis barusan."
Dada Degel sesak, matanya mulai perih. Tidak sanggup menatap mata sayu prussia itu. Ia kembali tenggelam dalam pelukan.
"Aku mencintaimu." Gumamnya sebelum kembali mencium Kardia. Tangannya mulai menjalar ke tiap inci kulit tubuh hingga leher, membuat mulut Kardia terbuka menahan desah. Memberi akses Degel untuk lebih menyatu dengannya.
Lidah Mereka menari, dalam irama denyut jantung Kardia.
Kedua tangan Kardia masih mengunci punggung Degel, mulai menelusup ke balik baju Degel dan ikut menari di atas permukaan kulit pucat itu. Sedikit demi sedikit menyingkap hingga melepas baju Degel.
Tak lama, hanya setengah menit. Degel melepas tautan mulut Mereka. Keduanya terengah sesaat. Mata Mereka masih berpandang, tatapan Kardia mulai bercahaya tidak seperti tadi. Kini Dia tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Degel. Kuharap Aku bisa mati di dekatmu."
Mata Degel berair dengan alis menukik turun. Dia jatuhkan wajah ke leher Kardia. Leher yang selalu hangat tertutup syal merah dan rambut prussia, yang kini tercoreng beberapa baret luka dan lebam membiru bekas pertarungan dari misi sebelumnya.
"Pantas saja, perasaanku kacau sejak Kau pergi." Bisik Degel di telinganya. Membuat tubuh Kardia merinding.
Kardia membelai rambut Degel, menikmati sejuk tubuh dalam pelukannya yang selalu berhasil membuat bibirnya terkatup menahan desah dan membuat jantungnya berdegup kencang. "Maaf membuatmu khawatir."
Tak merespon berarti, nafas halus menyapa kulit leher Kardia sebelum tersapu kecupan ringan Degel. Ia tak ingin terburu-buru, terlebih mengingat keadaan tubuh kekasihnya ini. Ia hanya ingin menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Kardia dalam pelukan ini.
Kembali Degel menyecap lekuk bibir Kardia, merasai manis Apel dan anyir darah di luka sudut bibir sedangan tangannya bergerak turun ke bawah. Membuat tubuh Kardia sedikit gelisah dalam kungkungannya. Desahan lirih Kardia terdengar menyemarakkan kegiatan Mereka. Ada setitik air lolos dari sudut mata Kardia, wujud kenikmatan dan nyeri yang datang bersamaan. Nafasnya sedikit terengah.
Tiap sentuhan Degel membuat tubuhnya sedikit merinding. "Nggh... De...degel..."
Wajah Degel tetap tenang namun matanya berbanding terbalik.
Ia tak ingin melakukan 'lebih.' untuk saat ini, karena itu Ia tarik tangannya dan melepas pelukan Kardia. Mata Kardia terbuka setengah, nampaknya Ia kecewa karena Degel mengakhiri semua ini dengan begitu cepatnya. Bahkan Mereka baru memasuki klimaks. Namun matanya yang terbuka setengah itulah alibi bahwa kantuk dan lelah mulai menaklukkannya.
"Degel..."
"Hn?" Degel mengambil baju yang dipersiapkannya tadi, dengan mudahnya memakaikan ke tubuh Kardia. Lalu diselimuti tubuh itu hingga sebatas dada.
Kardia membuka selimut, mengundang Degel kembali memeluknya. Tatapan sayu Degel melembut, Ia masuk ke selimut dan ikut berbaring. Kembali Ia mencium dahi yang tertutup poni urakan itu lalu Ia belai kepala Kardia agar makin terbuai ngantuk.
Kardia melingkar tangan di punggung Degel, nafasnya pelan menerpa leher kekasihnya. "Aku... belum ingin tidur."
"Tapi Kau sudah ngantuk dan kelelahan, Kardia..." Bujuk Degel. Masih Dia belai kepala berambut ombak itu.
Kardia mendongak hingga wajah Mereka berhadapan. "Aku tahu Kau tidak 'kan tidur."
Degel tersenyum, Ia tangkap guratan ngantuk dan lelah yang sangat kentara di wajah Kardia. Maka Ia menarik nafas panjang dan menghembus perlahan seolah menguap tertahan. Mata ungu itu berkedip perlahan. "Aku juga sudah ngantuk. Mimpi indah, Kardia." Ucapan yang menyirat permintaan menutup mata Kardia dengan tenang.
Kembali Degel cium dahi berponi Kardia dengan tangan membelai pelan.
Ia takut jika Kardia benar - benar mati pagi hari tadi, takut mendapat kabar bahwa cahaya emas menyinari kuil Scorpio sebagai tanda zirah emas sudah meninggalkan raga di pelukannya ini, takut tidak bisa memeluk sosok kuat yang sebenarnya rapuh ini, takut kulit hangat yang dipelukannya perlahan dingin dan kaku, takut mata penuh semangat itu redup seperti tadi sore. Takut... Ia sangat takut.
Degel ingin terus memeluk Kardia, menemaninya di setiap misi, menyesap rasa Apel yang tertinggal di bibirnya, mendengar desahan lirih yang berhasil lolos dari mulutnya, menyembunyikan wajah di leher bersyalnya, dan masih banyak lagi yang ingin Ia lakukan dengan kekasihnya.
"Aku mencintaimu, Kardia."
.
.
.
_
.
.
.
Degel bangun setelah matahari terbit. Yang pertama dilihatnya bukan cercah sinar jingga fajar, namun wajah tenang kekasihnya, Kardia. Degel nikmati setiap apa yang ada di wajah tenang dihadapannya. Mata runcing yang tertutup, hidung mancungnya, garis tegas dagunya, poni urakan yang menceng karena gravitasi, hingga bibir yang disudutnya masih ada luka baret.
Lagi, Ia cium seluruh area wajah itu ringan, takut jika saja berhasil membangunkan kekasihnya. Dan perlahan Ia bangun setelah menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh setengah telanjangnya. Berjalan perlahan ke kamar mandi setelah memunguti bajunya dan milik Kardia.
Matahari mulai meninggi ketika Ia sampai di sisi terluar kuil setelah meminta para pelayan untuk membuatkan makanan lebih untuk Kardia. Dari tempatnya berdiri tanah Sanctuary hingga dataran curam tebing sebagai pembatas dengan desa Rodorio nampak. Angin berhembus, suaranya cukup mendayu membuat rambut dan jubahnya berkibar sesaat.
Ini pagi yang indah. Tumben - tumbennya langit tidak secerah biasanya, ada awan berarak yang seperti menaung membuat udara yang biasanya panas dan menyesakkan menjadi sejuk. Dan angin mendayu barusan, seolah bernyanyi menyebarkan kabar gembira.
"Ada sesuatu yang akan terjadi."
Sesaat kemudian Ia merasakan Cosmo terbakar rendah, bukan milik Kardia yang diyakininya masih tidur di kamar. Ia berbalik dan berjalan masuk, menemukan Shion membawa box Scorpio di lorong kuilnya.
"Degel, apa Kardia disini?"
Degel mengangguk, jawaban yang cukup jelas bagi Shion bahwa Kardia tidur di kuil kesebelas ini. Namun jalinan perban di tangan Shion yang tidak tertutup cloth menarik perhatian Degel, diketahuinya pasti Shion sudah menyumbang darah untuk memperbaiki zirah ini.
"Aku khawatir tentang Kardia. Saat Dia ke kuilku, lukanya sangat banyak. Apalagi Cloth-nya dalam keadaan rusak berat, seperti sekarat."
Degel mendekati Cloth Scorpio itu. "Kapan Dia ke kuilmu?"
"Kemarin. Sekitar pagi menjelang siang. Tapi Aku merasa janggal dengan Cloth Scorpio ini."
Tangan Degel menyentuh box Cloth Scorpio, sesaat ada aura lain menyambut tangan berzirahnya.
"Kau juga merasakannya?" Tanya Shion.
Degel mengangguk, dicangklongkan Cloth itu di bahu. "Akan kuberikan pada Kardia. Ada lagi yang ingin Kau sampaikan?"
"Kyokou-sama akan mengadakan penobatan Puteri Athena siang nanti. Sampaikan juga pada Kardia, tapi kalau Dia tidak bisa hadir. Aku akan sampaikan kabar ini langsung pada Kyokou-sama."
"Aku akan pastikan perkembangannya. Terimakasih untuk bantuan mu, Shion. Aku undur diri." pamitnya sebelum berbalik. Membiarkan Shion untuk pergi mengabarkan berita ke kuil berikutnya.
Ia letakkan cloth Scorpio di samping meja bacanya. Matanya mendapati Kardia masih pulas di balik selimut.
"Kardia." Panggilnya pelan setelah duduk di tepi tempat tidur. Mengelus pelan sisi wajah tenang Kardia, lalu turun ke leher menyingkap tabir selimut dan rambut prussia itu. Mendapati lebam membiru yang tak begitu kentara.
Kardia bergerak sesaat dengan menarik nafas panjang dan berhembus pelan, lalu matanya terbuka sedikit. Pandangannya berawal buram namun mulai menjelas dan menangkap wajah teduh Degel, membuatnya tersenyum dalam. Perlahan Ia berganti posisi dari terlentang menjadi miring menghadap Degel, tangannya menggenggam pergelangan kekasihnya.
"Maaf. Kau jadi bangun."
Kardia masih tersenyum, matanya berkedip pelan - pelan. "Tak apa. Aku ingin selalu begini, terbangun dengan Kau didekatku dan menggenggam tanganmu."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku merasa sehat."
"Shion mengantarkan Cloth-mu. Dia bilang nanti siang penobatan Puteri Athena, tapi Kau tak perlu datang kalau-"
"Jangan meremehkanku, Degel..." Bisik Kardia. "Tolong berhenti mengingat betapa rapuhnya Aku." Imbuhnya.
Degel menghembus nafas pelan. "Baiklah. Kita akan kesana setelah sarapan."
Kardia menguap. "Bukannya masih terlalu pagi? Hoaaam..." Ia kembali menguap. "Lagipula tempat ini lebih dekat dengan Pope Chamber..."
"Ini sudah menjelang siang, Kar-"
Kardia langsung duduk, membuat Degel lumayan kaget. "APA?! KENAPA BARU BILANG?!"
Degel berdiri. "Tidurmu nyenyak. Lebih baik cepat mandi, akan Aku bawakan makananmu dan sekalian memplester lukamu."
Wajah Kardia cemberut. "Kenapa tidak sekalian Kau plester saja lukaku kemarin?" Tanyanya dengan nada kesal.
Degel tersenyum seraya menunduk, Ia berbisik di telinga yang tertutup rambut ombak itu. "Karena jika Aku memplester lukamu, maka Aku tidak dapat leluasa menciummu semalam, My Dear."
Nafas Kardia berhenti sesaat, wajahnya langsung memerah Apel dengan mata melebar. Sedangkan Degel menarik diri dan berjalan hingga ambang pintu. "Atau... Kau mau Aku mandikan?" Tawarnya seraya menengok kebelakang, mengetahui Kardia belum beranjak sedikitpun
Tubuh Kardia nampak tegang, mukanya merah melebihi saat demam. "T-tak mau!" Tolaknya sebelum berlari ke kamar mandi.
Adegan barusan berhasil membuat Degel tertawa, tingkah kekanakan Kardia adalah salah satu kesenangannya.
"Kardia."
"Apa?"
"Kenapa Kau tertawa di hadapan Puteri Athena tadi? Kau meremehkannya 'kan?"
"Tidak 'kok!"
"Lalu?"
Kardia menggaruk kepala, antara gatal dan tidak. Bingung mau menjawab atau tidak, tapi Ia yakin memilih salah satu dari kedua opsi itu tidak akan menguntungkan baginya.
"Kau tahu, Degel? Saat berangkat meninggalkan Sanctuary Aku menemukan seorang bocah, Aku bingung. Pakaiannya bukan seperti calon Saint dan Ia nampak ketakutan. Jadi Aku membawanya bersamaku menjalanka-AAAAAAAH!"
Dengan kuat Degel merangkul Kardia dan menjewer telinganya. "Jadi ternyata Kau alasan Athena hilang?! Kita kembali ke Pope Chamber dan minta maaf pada Athena-sama!"
Kedua tangan Kardia berontak. "T-tak mau! Lepaskan!"
Degel memperkuat tekanan, menyeret Kardia yang mulai merengek. "Minta maaf atau Aku buat Kau tidak bisa berjalan seminggu?!"
"TIDAK!!!!"
.
.
.
.END(?!).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Me : "Assalamualaikum., Minna-san! Selamat malam menjelang pagi! Seperti biasa Saya-"
Manigoldo : "Suka nongol tengah malem kayak pocong di perempatan desa."
Me : "Eh, Bang Man! Jangan asal nyela donk!"
Manigoldo : "Emang faktanya elu suka nongol tengah malem begini, Ijo...!" *jitak kepala author*
Me : *Elus kepala.* "Eduh eduh. Sakit kepalaku... ~"
Manigoldo : "Eh tapi bikin fic beginian dalem rangka apaan nih?"
Me : "Karena banyak yang request, Bang. Pun Ijo dah cukup umur buat naikin rate jadi M."
Kardia : "Woi, Jo! Adegannya kurang!" *Tiba2 nongol*
Me : "Kurang bagian mana, Bang?"
Kardia : "Banyak! Apalagi bagian-"
GEDEBUK! (Kepalanya Bang Kardia dipentung Bang Sisyphus pake busur sampe tepar)
Sisyphus : "Dah, lumayan buat pemula. Tapi jangan kebanyakan bikin rate M. Jo, mendingan Kau langsung bobok aja. Oke?" * Author diancem pentung pake busur*
Me : " O-oke, Bang." *Takut dipentung* "Nah, sampai ketemu lagi di fic berikutnya, Minna-san! Terimakasih untuk kak Xserqueen atas request nya, maaf baru bisa sekarang karna nunggu saya cukup umur dan maaf kalo tidak sesuai ekspektasi. Wassalamu'alaikum."
-Boyolali, 25 Maret 2020. Pukul 01.45-
