Corona, Jangan Ambil Malaikatku

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

Seisi Konoha City dicekam ketakutan. Awal musim semi yang cerah bertransfigurasi menjadi kesuraman tiada terkira. Semuanya berubah sejak pidato wali kota keempat, Namikaze Minato.

"Ditemukan seribu empat puluh enam pasien Corona. Saya himbau agar seluruh warga Konoha bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Saya percaya kita bangsa petarung, kita bangsa pejuang. Kita akan kuat melewati krisis ini."

Biasanya, pidato pria blonde ini membangkitkan semangat. Jangan harap mendengar sorakan penuh semangat di sudut-sudut kota. Orang-orang bergegas kembali ke rumah. Kegiatan perkantoran dihentikan. Istilah work from home menjadi trending topic. Sekolah dan kampus diliburkan. Pekerja pabrik tak mendapat kebijakan yang sama, namun jarak mereka diatur sedemikian ketat.

Masker dan handsanitizer mendadak lenyap dari toko-toko. Sejumlah supermarket menempelkan larangan membeli makanan lebih dari dua kotak untuk mencegah panic buying. Semua orang resah dan frustrasi.

Rasa frustrasi yang sama menghinggapi kepala berambut indigo milik Hinata. Ya, gadis cantik 22 tahun itu sangat khawatir. Dilema menggulung hati. Di satu sisi, dia senang dan lega karena tak perlu ke kampus lagi selama dua bulan. Di lain sisi, dia takut virus ini menginfeksi orang-orang yang dicintainya.

Bagaimana jika Corona membawa pergi Hiashi?

Bagaimana jika Corona membawa pergi Hanabi?

Bagaimana jika Corona membawa pergi Gaara?

Gaara.

Gaara.

Sabaku Gaara. Malaikat tampan berambut merah itu. Keringat dingin membanjir di kening Hinata kala mengingatnya. Dia sangat, sangat mengkhawatirkan Gaara.

Cepat dimatikannya televisi. Gadis berkimono biru itu berjalan ke balkon. Melempar pandang penuh harap ke balkon seberang. Berdoa semoga lampu di balkon itu menyala.

Whatsapp tak dapat menggantikan surat. Dari saku bajunya, Hinata mengeluarkan sehelai kertas dan pensil. Batang pensil bergerak naik-turun di atas kertas.

Gaara-kun, jangan keluar rumah. Tetaplah di sini. Aku akan lebih tenang bila kau berada di dekatku.

Srett..

Kaki jenjang Hinata memanjat jendela. Menyelipkan surat itu ke celah yang menghubungkan balkonnya dengan balkon kamar Gaara. Jantungnya berdentam-dentam. Semoga surat ini langsung dibaca oleh si malaikat tampan berambut merah.

Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam...Hinata menanti dengan cemas. Alih-alih surat balasan, iPhonenya bergetar. WA dari si rambut merah.

"Kenapa harus menyuratiku, Princess? Aku tak bisa di rumah 24 jam. Tetap harus keluar."

"Gaara-kun tidak mendengarkanku," tulis Hinata, lengkap dengan emoji tangis penuh sekali.

"Tenanglah, Hinata. Sembilan puluh persen kasus Corona itu ringan. Korban meninggal rata-rata sudah tua atau yang punya komplikasi."

Sedikit ketenangan mengaliri hati Hinata. Pesan itu tidak diketikkan Gaara, melainkan dia kirimkan dengan voice note. Suara lembut Gaara menenteramkan Hinata.

Di mata Hinata, Gaara bukan tetangga biasa. Dia seperti malaikat yang turun di Suna Regency. Gaara mengaktifkan kembali komunitas anak muda penghuni real estate. Ia melakukan banyak kegiatan sosial. Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, menyantuni panti asuhan seminggu sekali, dan masih banyak lagi. Gaara pulalah yang membantu Hinata melawan keinginan untuk melukai diri.

Kepala Hinata tertunduk. Menatapi bilur-bilur kemerahan di ruas pergelangan tangannya. Bilur kemerahan tercipta sebab dia melukai tangannya sendiri.

.

.

.

"Mama?"

Dua permata indah sewarna azure milik Gaara melebar. Bagaimana tidak, didapatinya Karura muntah-muntah dan sesak nafas. Lembut Gaara menempelkan tangan di kening wanita cantik itu.

"Mama demam?" tanya Gaara, mempertahankan nada lembut dalam suaranya.

Karura merintih. Kepalanya terkulai ke lengan Gaara.

Ini tak bisa dibiarkan. Tergesa Gaara meraih kunci mobil. Menggendong tubuh ibunya ke garasi. Selang lima menit, Chevrolet merah itu meluncur ke gerbang kompleks. Pengemudinya tak sadar bila sepasang mata pearl menatap perih dari balkon lantai dua.

Ujian Gaara bertambah berat. Karura harus dirawat di rumah sakit. Hemoglobinnya turun drastis. Dia pun harus menjalani endoscopy.

"Tuan Gaara, biar saya jaga Nyonya Karura." Tawar Kotetsu, pelayan setia keluarga Sabaku.

Gaara menggeleng, tersenyum tipis. "Pulanglah, Kotetsu. Kau harus menemani istrimu yang akan melahirkan. Aku saja yang jaga Mama di sini."

Terpaksa Kotetsu pergi. Sejenak Gaara menggeser-geser layar iPhonenya. Mencari kontak Temari.

"Temari, Mama sakit. Kau bisa bergantian menjaganya denganku?"

Hening di seberang sana. Entah apa yang dilakukan Nyonya Nara itu.

"Aku sedang flu. Kau saja," tolak Temari singkat.

Klik. Sambungan diputus. Gaara menghela nafas panjang. Dia takkan memaksa. Kakaknya tipikal orang yang susah diajak melakukan sesuatu.

.

.

.

Hampa.

Hati Hinata hampa tanpa Gaara. Tetangganya itu meninggalkan rumah. Walau Hinata tahu sebabnya, tetap saja hati sang gadis Hyuuga itu berantakan. Corona menggila dan Gaara malah berkeliaran di rumah sakit.

Resah dan gelisah memuncak. Menggelembung membentuk balon air mata. Hinata tersedu hebat pagi itu. Pukul empat, dinding ketegarannya runtuh.

"Hinata?" sapa Gaara di ujung telepon.

Suara empuk Gaara kain menambah kesedihan Hinata. Gaara, Gaaranya tercinta, mengapa dia justru berada di tempat yang banyak penyakit?

"Hinata, kau dengar aku?" Gaara mengulangi. Hanya disambuti helaan nafas satu-satu.

Isakan Hinata mengeras. Kedua bahunya bergetar. Dia cengkeram selimut kencang-kencang. Didekapkannya bantal ke wajah.

"Kenapa, Hinata?"

"G-Gaara...kenapa kau keluar, Gaara?" tanya Hinata terpatah.

"Aku harus menjaga Mama Karura, Hinata."

"Kenapa tidak bergantian dengan Temari?"

"Temari flu. Takut menulari katanya."

Gadis berambut panjang itu menangis, terus menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Tangisan berlanjut pukulan. Hinata memukuli tubuhnya sendiri hingga memar.

"Hinata, cukup. Berhenti melakukannya, Princess...berhenti."

Desah nafas Gaara memberat. Refleks Hinata berhenti memukuli diri. Menatap nyalang langit-langit kamar.

"Kenapa Gaara-kun hanya perhatian pada Auntie Karura? Kenapa hanya Auntie Karura yang ada di pikiran Gaara?" sergah Hinata.

Gaara mendesah lelah. "Setiap hari aku menemanimu, Hinata. By e-mail. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Hanya saja, siapa lagi yang menjaga Mama Karura kalau bukan aku?"

"Kotetsu-san..."

"Istrinya baru melahirkan. Kalau sampai dia dan bayinya kenapa-napa sementara aku menahan Kotetsu di sana, aku berdosa besar sekali."

Lembut, teramat lembut Gaara memberi pengertian pada Hinata. Benak sulung Hyuuga itu terlanjur diberati kesedihan dan kecemasan. Kalau bukan karena Corona, Hinata takkan sesedih dan sekhawatir ini pada Gaara.

"Berdoalah saja, Hinata. Semoga aku dan Mama Karura tidak apa-apa. Saat ini aku sehat. Dan kau pun harus sehat...ok, Princess?"

Merdu suara barithon Gaara menetesi hati Hinata dengan embun beku. Perlahan cairan di bola mata ungu pucatnya lindap. Tergantikan sedikit ketentraman.

"Gaara..." lirih Hinata.

"Ya, Princess?"

"Jangan lama-lama."

"Iya..."

Hinata akan di sini. Tetap di rumah dan menunggu malaikat tampan berambut merahnya kembali.

.

.

.

F.I.N