One Month by Vinsmoke

Disclaimer: Baekhyun milik Chanyeol. But the story is definitely mine and no profits taken here.


Waktu menunjukkan pukul enam tiga puluh. Di mana matahari tak lagi mengintip di ujung timur, namun mulai menampakkan sinar keemasannya ke penjuru. Sebuah tirai ditarik, dan jendela digeser pelan-pelan. Meski telah amat hati-hati, nampaknya tindakan itu telah membangunkan tubuh lain yang (tadinya) tengah asyik mengumpul mimpi.

Melihat seseorang terbangun, Park Chanyeol, si pria yang kini berdiri di balkon, menyambut dengan enteng. "Hai. Sudah bangun?"

Suaranya pelan namun menenangkan. Tapi ternyata tidak cukup ramah bagi pria lain yang masih bergulung dalam selimut. Byun Baekhyun namanya. "Angin pagi yang dingin membangunkanku."

Chanyeol tertawa, singkat dan pelan, nyaris tak terdengar. "Maaf-maaf."

Ia pun berjalan masuk. Menggeser kembali jendela tinggi yang menjadi pembatas balkon dan kamar hotel yang hangat. Tadinya ia hendak melinting, namun urung sebab terpikir akan hal lain yang kiranya jauh lebih penting untuk dilakukan.

"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Baekhyun ketika Chanyeol mendudukkan tubuhnya di satu-satunya sofa dalam ruangan tersebut.

"Apa aku seharusnya sudah pergi?" Chanyeol membalasnya dengan pertanyaan lagi.

Ada suara dengusan dari seseorang yang masih bertahan di tempat tidur, berbalut selimut putih nan hangat. "Biasanya orang-orang hanya akan meninggalkan uang dan pergi begitu saja."

"Kau mau aku melakukannya?"

Baekhyun mengendikkan bahu.

"Aku ingin serius denganmu."

Ucapan terakhir Chanyeol hanya dihadiahi gelengen kepala oleh Baekhyun. Seakan yang barusan adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar seumur hidup. Meski itu bukan kali pertama.

"Kau tidak sedang mabuk kan?" Baekhyun tidak bisa menahan tawa ejekannya. Keluar begitu saja.

"Aku serius. Se-serius diriku menyetubuhimu semalam."

Barangkali bagi Chanyeol, semalam adalah seks yang luar biasa. Namun bagi Baekhyun sendiri tak ada beda. Rasanya sama seperti melayani pelanggan-pelanggan yang sebelumnya. Ya, terkadang ia merasa bersalah karena telah memberikan kesan terlalu dalam. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya memang seperti itu.

Menggoda lalu pergi.

Kali ini Baekhyun membiarkan tubuhnya bangkit. Menyandarkan diri di kepala tempat tidur dengan hati-hati (bagian belakangnya masih sakit ngomong-ngomong). Selimut ia tarik ke dagu guna menutupi badannya yang tak berbalut sehelaipun benang. "Kau tidak tahu cara kerja pelacur, ternyata."

Begitulah Baekhyun melabeli dirinya. Kata yang tak lagi terasa sakit ketika diucapkan mulut. Pria itu paham betul maknanya lebih dari siapapun dan merasa bahwa dirinya pantas menggunakannnya.

Dan kelihatannya, Chanyeol tak gentar barang sedikitpun.

"Beritahu aku."

Dengan senang hati, Baekhyun akan memberitahunya.

"Aku hanya akan melayanimu jika kau memberiku uang, setelah itu aku akan pergi. Dan aku," Baekhyun menunjuk dirinya sendiri. "Tidak akan bisa dimiliki oleh siapapun. Termasuk kau, Tuan Chanyeol Park."

"Oh," Chanyeol meninggikan alis. "Kau meremehkanku?"

Baekhyun tertawa kecil. Chanyeol adalah tipikal pria yang berpikir bahwa segala hal di dunia ini bisa dia miliki dengan uang dan kekuasaannya. Tapi Baekhyun tidak berpikir demikian. Orang-orang boleh saja berbondong-bondong mencium kakinya namun Baekhyun, tidak akan melakukan itu. Sekalipun ia hanya seorang pelacur.

"Berapa umurmu?" Chanyeol bertanya lagi. Rasanya seperti sedang interview pekerjaan.

Baekhyun ingin berdecak sebal. Jelas sekali Chanyeol melewatkan itu. Padahal usianya tercetak jelas di dalam profil, dan seharusnya Chanyeol bisa lebih jeli sebelum memesannya. "Dua puluh dua."

"Dan berapa umurmu saat memulai pekerjaan ini?"

Pekerjaan ini. Kedengarannya menggelikan. "Tidak ingat. Delapan belas, mungkin?"

Chanyeol mengangguk-angguk.

"Ini adalah bisnis keluarga, kalau kau mau tahu. Sudah diwariskan secara turun temurun." Baekhyun berkelakar. Ini adalah cerita favorit yang sering ia perdengarkan pada pelanggan. Tentang ibunya yang juga seorang pelacur, dan tidak mengingat sama sekali siapa pria yang telah membuatnya hamil. Terlalu banyak yang ia setubuhi.

"Kau pasti tidak tahu siapa ayahmu." Ujar Chanyeol tiba-tiba. Baekhyun terkesan, karena pria itu bisa membaca dengan jelas tanpa harus diberitahu sebelumnya. Atau memang kisah hidupnya cukup klise hingga tidak sulit menebak dari mana ia datang? Entahlah.

"Begitulah."

"Apa ibumu masih hidup?"

"Kupikir kau sudah tahu jawabannya." Baekhyun tersenyum miring. Chanyeol kembali mengangguk-angguk.

"Sudah meninggal rupanya."

Baekhyun tidak mengelak. Memang betul ibunya sudah meninggal, jauh sebelum ia bahkan lulus SMA. Penyebabnya adalah overdosis, klise.

"Kemana semua pertanyaan ini akan berakhir?" Tanya Baekhyun penasaran.

"Aku hanya ingin memastikan pada siapa aku harus meminta restu."

"Wah," Baekhyun memaksa kagum. "Moralmu bagus juga ternyata."

Pria di hadapannya membalas dengan tawa kecil. "Kalau moralku bagus, aku tidak akan menyewamu."

Ahh… benar juga. Chanyeol tetap saja hidung belang. Dan sekarang pria itu membuat Baekhyun bertanya-tanya mengenai latar belakang keluarganya.

"Apa kau sudah menikah?"

"Kau mulai tertarik dengan kehidupan pribadiku?" goda Chanyeol.

"Anggap saja begitu."

Pria tinggi itu membetulkan posisi duduknya agar lebih santai. "Tenang saja, aku bebas. Kalau aku menikahimu, kau akan menjadi satu-satunya."

Baekhyun menggeleng tak percaya. Bicara apa sih pria ini? Baru saja sehari bertemu, sudah lancang berbicara soal pernikahan. Apa dirinya terlihat seperti seseorang yang punya masa depan? Tidak, sama sekali tidak.

"Kenapa kau terburu-buru?" Tanya Baekhyun. "Dan yang lebih penting, kenapa harus aku?"

Dan tidak perlu waktu yang lama untuk Park Chanyeol menjawabnya. Dengan sungguh-sungguh.

"Karena kurasa aku sudah menemukan orang yang tepat."

"Dari mana kau tahu kalau aku orang yang tepat? Bagimana kalau kau keliru?"

"Dari mana kau tahu kalau aku keliru?" Chanyeol justru membalik pertanyaan.

Kali ini, Baekhyun menatapnya lamat-lamat. "Aku ini kotor, Chanyeol."

Dan Baekhyun tidak pernah melihat seseorang berdiri dengan cepat lebih dari siapapun. Karena sekarang, Chanyeol tiba-tiba telah berhadapan dengannya dalam jarak yang dekat. Serta mengunci tubuh Baekhyun dengan kedua tangan yang terpaku pada dinding.

"Kenali aku terlebih dahulu, baru kau putuskan siapa yang lebih kotor diantara kita berdua."

Baekhyun tercekat. Seumur-umur, ia belum pernah diterkam oleh singa dan tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi sungguh, ia seperti baru saja diterkam oleh seekor singa berwujud manusia. Tiba-tiba saja semua ketakutannya berkumpul dan otaknya memainkan pikiran seakan-akan nyawanya sudah sebatas leher.

"Bernapas."

Ucapan Chanyeol terdengar seperti titah. Ajaibanya, Baekhyun melakukan itu. Napasnya yang semula tertahan lantas dihembuskan kuat-kuat. Tadi itu hampir saja.

Chanyeol melepaskan kunciannya. Sekarang, ia mundur dan memilih untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Masih di dekat Baekhyun. Matanya tak lagi menebarkan terror menakutkan. Dalam sekejap, ia kembali menjadi Park Chanyeol yang memperlakukan Byun Baekhyun layaknya barang mahal.

"Bagaimana?" Tanya Chanyeol.

"Ap-apanya?" Sial. Bisa-bisanya ia tergagap.

"Tawaranku. Ya atau Ya?"

"Pertanyaan macam apa itu?"

Baekhyun mulai menampilkan kembali sisi keberaniannya. Karena jika Chanyeol berpikir ia bisa ditaklukan dengan mudah, maka pria itu salah besar.

"Katakan, selain harta, apa yang bisa kau janjikan padaku?" Baekhyun kali ini memancingnya. "Jangan sekali-kali mengatakan itu adalah kebahagiaan."

Baik Baekhyun maupun Chanyeol, keduanya paham betul bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kau janjikan. Karena, bagaimana mungkin kau menjanjikan sebuah omong kosong?

"Kebebasan. Aku akan memberimu kebebasan." Chanyeol memberi jeda pada ucapannya. "Aku adalah orang yang akan memutus rantai pekerjaan yang telah diwariskan ibumu. Kau tidak perlu melayaniku, kau hanya perlu berada di sisiku."

Bohong jika Baekhyun tidak merasakan ada getaran kecil di hatinya. Getaran yang cukup untuk membuat goyah kokohnya ego yang ia bangun. Namun Baekhyun tetaplah Baekhyun. Pengalaman mengajarinya segalanya. Dan Chanyeol, sama sekali bukan pengecualian.

"Kau tahu? Kau bukan pria pertama yang menawariku untuk hidup berdua." Pria mungil itu menginformasikan.

"Aku tahu. Dan aku berbeda dengan mereka semua." Chanyeol menjawab tanpa ragu.

"Oh ya? Dalam hal apa?"

"Mereka hanya mencoba sekali." Chanyeol meraih tangan Baekhyun. Membawanya ke hadapan wajah, dan menciumnya penuh ketulusan.

"Aku akan mencoba berkali-kali."

Lumayan, Baekhyun pikir. Baru kali ini ada pria yang mampu mengimbangi ucapan pedas yang kerap ia lontarkan. Sampai-sampai ia sendiri cukup kebingungan untuk mengambil langkah berikutnya.

"Beri aku waktu satu bulan. Akan kubuat kau jatuh cinta padaku." Chanyeol kembali dengan ucapan gilanya.

"Dan jika itu tidak berhasil?"

"Tambah jadi dua bulan." Kali ini Chanyeol mengatakannya dengan nada bercanda. Baekhyun dibuat tertawa.

"Tidak, tidak. Satu bulan." Putus Baekhyun, final.

Chanyeol mengangguk, pertanda ia akan menyanggupinya.

Ya, kedengarannya memang konyol. Tapi Baekhyun hanya ingin tahu sejauh mana pria ini akan bersungguh-sungguh. Ia sendiri bukan tipikal manusia yang mampu berkomitmen, dan lihat saja nanti. Apakah Chanyeol bisa mengubah itu atau tidak.

"Kau tahu kau tidak akan bisa menyewaku selama satu bulan, bukan?" Baekhyun memiringkan wajahnya dengan senyum nakal.

"Omong kosong." Chanyeol tiba-tiba meraih ponselnya yang dari tadi tergeletak di nakas. "Lihat dengan siapa kau berbicara."

Baekhyun tidak perlu waktu lama untuk menunggu tindakannya. Karena tanpa banyak bicara, Chanyeol langsung menelepon seseorang jauh di sana, yang amat sangat berwenang akan eksistensi Baekhyun. Seseorang yang mengatur pekerjaan Baekhyun selama beberapa tahun terakhir.

"Halo?… Ya… aku minta perpanjangan waktu selama satu bulan."

Samar-samar, Baekhyun bisa mencuri dengar tanggapan bosnya di luar sana.

"Tuan, anda tidak bisa-"

"Kau meremehkan uangku?"

Chanyeol mengatakan itu dengan mata yang tertuju pada Baekhyun. Si mungil hanya memutar bola matanya, dan tersenyum mengejek.

"Tapi apa Baekhyun setuju?"

"Oh, kau tidak perlu khawatir." Chanyeol kali ini meraih wajah Baekhyun, dan mengusap-usap pipi itu dengan ibu jarinya. "Dia sangat sangat setuju."

Keheningan melanda mereka berdua setelahnya. Rasanya, tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Barangkali negosiasinya telah selesai. Di mana Chanyeol telah menyanggupi untuk mencoba dan Baekhyun pun bersedia memainkan perannya.

"Kau sangat percaya diri." Baekhyun berkomentar.

"Sebaiknya ini berakhir sesuai rencana. Karena aku tidak akan sanggup mencari Byun Baekhyun yang lain."

Chanyeol kembali mendekat, namun tak seperti sebelumnya, kali ini berjalan lembut. Ia menyelipkan wajah di leher Baekhyun, menggoda area sensitif itu dengan hidungnya, dan menunggu sebuah desahan terdengar.

"Byun Baekhyun, aku memujamu."

Itu adalah perkataan Chanyeol sebelum bibirnya menorehkan bekas kemerahan di leher Baekhyun. Menambah daftar panjang gigitan cinta yang dari semalam telah ia tanamkan di tubuh calon kekasihnya.

Sementara itu di dalam hatinya, Baekhyun bisa merasakan sedikit titik terang. Baru kali ini, sepanjang hidupnya di dunia, ada seseorang yang memperlakukannya selayaknya manusia. Bahkan mungkin lebih tinggi. Karena ia telah terbiasa direndahkan, dianggap remeh. Perlakuan Chanyeol yang istimewa padanya sungguh tak pernah terbayangkan.

Rasanya seperti hidup kembali setelah selama ini merasakan mati.

"Chanyeol?"

Panggilan itu menghentikan hal apapun yang Chanyeol lakukan sekarang. "Ya?"

"Berjanjilah kau akan membuatku jatuh cinta."

Baekhyun memandanginya. Bukan dengan senyum ejekan, atau pun meremehkan. Kali ini ia memandang dengan penuh pengharapan.

Dan Bagaimana mungkin Chanyeol tega untuk mematahkan harapannya?

Maka ia pun balas menatap dengan sungguh-sungguh. Memberi jawaban dari keinginan Baekhyun yang terbaca jelas. Ia telah bertekad dan bukanlah Park Chanyeol namanya jika ia berani mencederai janji yang dibuatnya sendiri.

"Kau akan mendapatkannya."


.

.

.

END

.

.

.


Ditulis saat saya lagi mabok live IG Baekhyun yg terus seliweran di temlen, jadinya begini. Maaf kalo ada typo bcs no beta, we die like men.

((PSA: Dont forget to wash your hands and stay at home as much as you can.))