"Malam ini jangan lupa datang, Boboiboy. Kau sudah janji padaku, ingat?"

Boboiboy memutar matanya malas. "Cerewet kau, Gopal. Sudah kubilang aku akan datang nanti," balas Boboiboy. Kedua tangannya dengan lihai mengarahkan stir mobil ke arah kanan, bergabung dengan mobil dan motor lainnya.

Ponsel yang masih tersambung dengan panggilan dari Gopal ia letakkan di penyanggah dashboard mobil. Boboiboy sengaja mengaktifkan mode speaker agar ia tidak perlu repot-repot mendekatkan benda itu ke telinganya. Tak lama, kekehan pemuda gempal itu terdengar.

"Oke, oke. Sampai jumpa nanti malam!"

Tut.

Gopal sudah mematikan sambungan terlebih dahulu sebelum ia membalas. Boboiboy mendengus, menggelengkan kepala sembari terus mengendarai mobilnya menuju kafe keluarganya.

Selama perjalanan, pikirannya dipenuhi tentang malam akrab angkatan yang akan diadakan malam ini, sesuai apa yang Gopal katakan.

Namun, ada satu hal yang menganggu pikirannya.

Apa dia akan datang?


"Never Change" by Meltavi

Disclaimer © Boboiboy dkk milik Animonsta, saya hanya meminjam sebentar tanpa mengharapkan untung apapun^^

Warn : AU, BoboiboyxYaya, adult!character, typo, alur ga keruan(?);_;, gaje banget, dan masi banyak lagi

Minta saran dong, genre yang cocok apa ya? Aqu bingung /dibuang

Ff ini hanya untuk kesenangan aku aja. Yang suka, syukur, yang nggak suka yaudah. Enjoy!

Selamat membaca~

.

.

.

.


Malam datang dengan cepat. Sesuai janjinya pada Gopal, Boboiboy hadir ke acara reuni angkatannya. Pemuda berparas tampan itu memakai hoodie biru gelap dengan dipadu celana hitam panjang. Rambutnya tersisir dengan rapi, menunjukkan aura kharismanya yang tak pernah hilang sejak usia remaja.

Setelah memakirkan mobilnya, Boboiboy melangkah masuk ke Villa yang menjadi tempat acara ini diselenggarakan. Suasana sudah sangat ramai, membuat Boboiboy gugup dan bingung. Ia hampir tidak mengenali teman-temannya karena usia mereka yang sudah semakin dewasa, ditambah lagi mereka jarang bertemu. Boboiboy menghela napas sembari mengambil langkah maju. Buat apa malu, toh mereka teman-temannya, bukan?

Ruangan luas berudara AC seketika menyambut Boboiboy ketika kakinya menjejaki lantai. Terdapat spanduk di tengah-tengah berisi tulisan 'Makrab SMA Pulau Rintis Angkatan 12'. Di sisi kanan ruangan terdapat meja panjang yang menyediakan banyak sekali makanan dan minuman. Tak jauh dari meja itu, terdapat pintu lebar yang memperlihatkan sedikit suasana kolam renang. Boboiboy terus melangkah, hingga suara seseorang menyentak dirinya.

"Boboiboy! Ya ampun, sudah lama tidak bertemu!" seru pemuda berpakaian cokelat tua lima meter di depannya. Dihampirinya sang teman lama, memeluknya sambil saling menepuk punggung.

Boboiboy tersenyum kala ia mengingat siapa di depannya ini. "Bagaimana kabarmu, Iwan?"

"Sangat baik. Kau?"

"Yah, lumayan." ujar Boboiboy. Mendengar jawabannya, Iwan terkekeh geli.

"Yasudah. Aku ingin keluar sebentar, kau mau ikut?" tawar Iwan, Boboiboy menolaknya dengan halus.

"Tidak. Aku ingin mencari Gopal dulu. Kau tahu dia di mana?"

Iwan berpikir sesaat. "Gopal? Sepertinya dia di area kolam renang." Kemudian ia mendengus. "Dia tidak berubah sama sekali. Masih lebar dan menyebalkan."

Boboiboy melepaskan tawanya. Tahu kata 'lebar' yang dimaksud Iwan adalah 'gendut'. Ternyata bukan dirinya saja yang menganggap sahabat karibnya tidak pernah berubah dari dulu saat ia bertemu dengan Gopal seminggu lepas.

"Kau benar." kekeh Boboiboy.

"Hahaha. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa nanti!"

Boboiboy melambaikan tangannya ketika Iwan berlalu pergi. Setelahnya ia berjalan menuju area kolam renang tempat Gopal berada. Boboiboy berdecak kagum kala mendapati area ini sangat cantik. Di sepanjang tepian kolam, lilin kecil berjejer apik memancarkan cahayanya. Terdapat beberapa balon di atas air, membuat Boboiboy bergidik ngeri. Tolong ingatkan padanya untuk tidak dekat-dekat ke sana. Ia tentu tidak mau phobia-nya kambuh.

Kakinya berhenti melangkah tepat di depan meja penuh makanan. Kedua mata Boboiboy mendapati Gopal dan Fang tengah bercengkrama di salah satu bangku. Segaris senyuman terukir di bibirnya. Dengan segera, ia mendekati keduanya bersamaan Gopal yang menyadari kedatangannya.

"Boboiboy! Kawan baikku~!" seru Gopal sambil mendekap erat teman sehidup sematinya tersebut. Boboiboy mendengus geli, melepas pelukan maut Gopal lalu beralih memeluk Fang ala bro-bro.

"Kupikir kau tidak mau datang karena takut kalah populer denganku," ejek Fang, yang dibalas olehnya dengan tatapan datar. Boboiboy menatapnya sinis sambil membatin mentang-mentang sudah jadi fotografer terkenal, sombong sampai langit ke tujuh. Dasar teman landaknya itu.

"Ternyata kau tetap songong seperti biasanya," Boboiboy mencibirnya sebagai balasan, ucapannya tersebut langsung menimbulkan perempatan imajiner di dahi Fang.

"Apa katamu?!" Emosi Fang dengan mudahnya terpancing.

"Haish, kalian ini. Sudah dewasa masih saja, jangan membuatku malu dong," gerutu Gopal, lelah dengan kelakuan temannya. Genap 24 tahun harusnya sudah tidak berpikir kekanakkan lagi, harus ingat umur. Namun sepertinya itu tidak berlaku bagi perang rival antara keduanya.

Boboiboy dan Fang akhirnya tidak berdebat lagi, walau mata mereka masih berkilat-kilat tajam. Gopal mengabaikannya, memutuskan untuk mencari-cari dua temannya yang lain di antara kerumunan yang semakin padat ini.

Sebelum Boboiboy tiba, Ying datang bersama Fang tadi. Ketika tiba tadi, Ying izin untuk keluar lagi sebentar. Ingin menjemput seseorang katanya. Namun, ini sudah menit kelima belas gadis cerewet itu pergi. Membuat Gopal berdecak kesal karena ia tidak sabar lagi ingin berkumpul dengan keempat sahabatnya setelah sekian lama.

Kenapa Ying lama sekali? Apa Ying menjemputnya sampai ke ujung dunia?

"Ying mana deh," Fang tiba-tiba berceletuk, mulai mencari keberadaan sang kekasih. Gopal mengangguk setuju, memanjangkan lehernya agar bisa menemukan kedua sahabatnya di antara kerumunan mantan teman-teman SMA-nya.

Hanya Boboiboy yang mengerutkan alis saat nama Ying disebutkan.

"Ying datang juga?" tanyanya memastikan, sementara hatinya mulai dihampiri rasa gelisah. Kalau Ying hadir, apa dia juga akan ada di sini nanti ...?

"Hm. Dia datang denganku tadi. Tapi keluar lagi gara-gara mau menjemput–" Fang mengentikan ucapan ketika ia teringat sesuatu. Dalam sekejap, seringai jahil muncul di bibirnya, menunjukkannya pada Boboiboy yang saat ini mulai menekuk wajahnya kesal.

"Hm~ jemput siapa ya~" Gopal pun ikut serta menjahilinya. Si korban mendengus kesal, menyesal sudah dirinya bertanya.

"Menjemput mantan pac–AAAKK! SAKIT LAH!" Fang melotot tajam pada Boboiboy yang baru saja menendang kakinya. Rasa nyut-nyutan seketika menyelimuti bagian tulang keringnya. Boboiboy sialan.

"Berisik." desis Boboiboy. Matanya mendelik tajam, menandakan betapa gondoknya ia.

Seolah tak terpengaruh ucapan menyeramkan Boboiboy, Fang dan Gopal malah terkikik geli karena senang menjahili pemuda yang dulunya selalu memakai topi oranye terbalik itu. Entah kenapa menjadi kepuasaan sendiri saat mem-bully Boboiboy, terlebih lagi cowok itu masih belum bisa melupakan sang mantan terindah.

"Dey, hanya begitu saja kau marah?" ejek Gopal di sela-sela sisa tawanya.

Boboiboy berdeham sembari berpura-pura mengambil segelas cola di meja sampingnya, lalu meminumnya untuk mengalihkan rasa gugup.

Tindakan bodohnya itu langsung bisa ditangkap oleh Fang. Pemuda bersurai raven itu menyeringai, entah ingin merasa prihatin atau geli melihatnya.

"Kau memang belum bisa melupakannya," ujar Fang tanpa aba-aba.

Boboiboy mendengus. Menganggap ucapan teman berkacamatanya itu sebagai angin lalu, dan kembali meneguk minuman soda sampai habis dengan sekali tenggak. Belum sampai Boboiboy menelan seluruhnya, Gopal tiba-tiba bercelutuk.

"Jangan-jangan kau masih mencintainya?"

Seketika Boboiboy tersedak. Cola-nya sedikit tersembur ke depan, membuat dua temannya tertawa terbahak-bahak. Akibat kegaduhan yang mereka ciptakan, beberapa pasang mata menatap mereka penasaran. Mati-matian Boboiboy menahan rasa malunya, dan mungkin tendangan mautnya akan dilancangkan ke Gopal dan Fang sekarang juga andai ia tidak ingat banyak pasang mata di sini.

Kampret.

"Kubunuh kalian nanti selepas acara ini selesai," bisiknya rendah, namun tersirat nada sadis di dalamnya.

Kontan saja Gopal dan Fang terdiam. Mereka berdua mengusap tengkuk masing-masing bersamaan, tawa kesenangan tadi seakan lenyap bersama angin dalam sekejap. Meski Fang dan Gopal tahu Boboiboy tidak akan benar-benar membunuh mereka, tapi tidak ada yang bisa menjamin mereka akan baik-baik saja nantinya. 'Kan, ngeri.

Setelah selesai memberi kedua temannya ancaman, Boboiboy beralih menatapi suasana di sekitarnya yang semakin ramai. Teman-teman lamanya tampak bahagia, seperti ada progress dalam kehidupannya. Boboiboy tersenyum miris mengetahui fakta bahwa dirinya belum ada kemajuan berarti selama lima tahun belakangan ini. Itu semua akibat dari hubungan asmaranya yang retak, yang sama sekali tidak diduga olehnya.

Boboiboy mengira ia akan dengan cepat mengubur rasa sakit hatinya itu. Namun hari demi hari berganti bulan, lalu ke tahun, Boboiboy tetap belum bisa mengenyahkan bayang-bayang sang mantan. Entahlah, ia tidak tahu apa penyebabnya. Boboiboy sering bertanya-tanya, sekuat itukah pesona sang gadis sampai tidak mau terlepas di dalam hatinya? Sedahsyat itukah senyumnya sampai tidak mau menghilang barang sedetik dari pikirannya?

Boboiboy lelah mencari jawabannya. Atau bisa jadi, ia memang masih mencintai gadis itu sesuai apa yang dikatakan Gopal.

Memikirkan itu semua membuat dirinya gugup untuk bertemu gadis itu yang kemungkinan besar akan hadir. Boboiboy menyesali keputusannya menerima ajakan Gopal untuk datang. Harusnya ia bisa mencium rencana busuk yang sudah dipersiapkan Gopal, mungkin bersama Fang juga. Namun ia tahu kata mundur sudah tidak bisa diambil lagi. Boboiboy terpaksa tetap maju, sampai dirinya bisa kembali menatap wajah cantik itu.

Ah, lupakan kata terakhir. Boboiboy merutuki dirinya keras-keras.

"Teman-teman!" Suara cempreng yang sangat Boboiboy kenali terdengar. Pemuda itu menoleh, mendapati Fang dan Gopal juga menatap ke titik yang sama tak jauh dari mereka.

Lima meter di depannya, Ying datang dengan menggandeng seorang gadis yang tampaknya terlihat gelisah. Gadis itu memakai baju terusan selutut berwarna biru pastel. Rambut sepunggungnya dibiarkan tergerai indah. Sepatu dengan hak rendah berwarna senada dengan bajunya membalut kaki Ying, dan terdapat tali yang melingkari atas mata kakinya. Kekasih Fang itu kemudian berjalan ke arah mereka bertiga, tersenyum cerah ketika bersitatap dengan Boboiboy.

"Boboiboy! Ya ampun, kau makin tampan saja!" katanya heboh. Ucapan tak sadarnya berusan membuat Fang memelotot tajam, tapi Ying hanya memberinya cengiran tanpa dosa.

Mendengar pujian Ying menimbulkan tawa kecil Boboiboy. "Ah, terima kasih, Ying." katanya tersipu malu. Ying hanya mengangguk semangat tanpa memedulikan wajah Fang yang sudah masam.

Beralih dari Ying, Boboiboy berganti menatap perempuan di sebelah gadis itu. Seketika jantungnya berdebar keras, merasakan sensasi yang tanpa sadar tubuhnya keluarkan tiap kali matanya menelurusi sosok gadis itu. Sosok yang terlihat berubah dari lima tahun yang lalu, namun aura kecantikannya tak pernah hilang.

Gadis itu mengenakan hijab berwarna cream, tidak lagi pink seperti yang selalu dipakainya dulu. Kemeja flanel bernuansa putih dengan dipadukan rok panjang semata kaki berwarna senada dengan hijabnya tampak cocok di tubuhnya. Polesan make up tipis di wajahnya memberikan kesan natural dan sedikit dewasa. Boboiboy kembali terpesona. Mungkin ia akan tenggelam dalam keterpanaannya andai saja Gopal tidak memekik heboh.

"YAYAAAAA YA AMPUN KAU BEDA SEKALI!" seru Gopal memancing tatapan penasaran dari yang lain. Pemuda gempal itu segera menghampiri Yaya, mengguncang gadis manis itu dengan tangannya. "Suer deh! Sekarang dewasa banget, nggak bocah kayak dulu!"

Kalimat Gopal ditanggapi tawa kecil Yaya. Boboiboy tertegun di tempatnya. Ia kira Yaya akan marah dikatai begitu, namun ternyata ia salah. Gopal memang benar, Yaya sudah dewasa saat ini. Bukan hanya penampilannya, tapi juga sikapnya.

"Apa kabar, Yaya?" Fang bertanya. Atensi gadis itu teralih pada kekasih Ying yang berada tepat di samping Boboiboy.

"Baik kok," jawab Yaya sembari menyunggingkan senyum.

Hanya tinggal Boboiboy yang belum menyapa Yaya. Fang, Gopal, Ying mulai memberinya kode berupa dehaman, lirikan mata, atau Fang yang dengan sengaja menyenggol lengannya terang-terangan. Berusaha tidak terganggu oleh itu semua, Boboiboy berpura-pura melihat ke kolam renang yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Yah, lebih baik begitu daripada berpandangan langsung dengan teman-temannya yang sungguh menyebalkan.

"Kudengar kau mulai membuka usaha kue di Kuala Lumpur, ya?" tanya Fang pada Yaya, yang tentu saja bisa didengar oleh Boboiboy.

Usaha kue? Kapan? Kok bisa? batin Boboiboy.

"Ah, iya. Baru tiga cabang sih, belum terkenal banget." balas Yaya. Keempat temannya–minus Boboiboy, karena ia masih asyik menatapi kolam. Siapa yang mengira gadis yang dulunya pembuat biskuit mematikan membuka usaha kue di ibukota negara ini?

"Wah, serius, Yaya? Kamu hebat banget!" Ying juga sama terkejutnya mendengar kabar itu. Pasalnya, ia hanya diberitahu Yaya akan membuka usaha kue, tidak sampai menyebutkan cabang usahanya.

Yaya hanya tersenyum simpul menanggapi apresiasi teman-temannya. Obrolan dilanjutkan dengan cerita Gopal mengenai dirinya yang mulai mengenal seorang gadis. Ketiganya tampak tertarik mendengarnya, kecuali Boboiboy yang daritadi bergerak tak nyaman di tempatnya.

Ia sangat tahu perbuatannya sekarang sungguh tidak sopan. Tadi ia hanya diam saat teman-temannya menyapa Yaya. Sekarang ia malah tak acuh ketika Gopal mulai menemukan cinta sejatinya.

Tapi, Boboiboy juga tidak tahu caranya agar tidak merasa canggung. Lima tahun berpisah dengan Yaya, tanpa sedikitpun tahu kabar dari gadis itu, tentu terasa aneh saat bertemu kembali. Apalagi perpisahan mereka meninggalkan kesan buruk, dan jujur saja Boboiboy masih sakit ketika mengingatnya. Mungkinkah Yaya juga merasakannya? Atau hanya dirinya saja?

Akan tetapi, melihat sosok Yaya yang sekarang, Boboiboy berkeyakinan gadis itu sudah lebih baik dari lima tahun yang lalu. Tak seperti dirinya yang masih terpuruk dalam kesedihan pupusnya hubungan mereka, sehingga menghambat perkembangannya untuk menjadi lebih baik. Boboiboy tertawa miris saat pikirannya berucap bahwa Yaya pasti sudah melupakannya. Atau bahkan sudah tidak mencintainya lagi.

Boboiboy, apa yang kau harapkan?

Boboiboy menampar dirinya kembali pada kenyataan. Bisa-bisanya ia berhadap gadis itu masih mempunyai perasaan yang sama untuknya, di situasi seperti ini.

"Astaga, aku lupa!"

Seruan Ying tiba-tiba membuat mereka serempak menoleh. Lamunan Boboiboy pun terpecah, seluruh atensinya ia berikan pada Ying, yang saat ini tengah menepuk dahinya dramatis. Selaku kekasihnya, Fang bertanya lebih dulu karena penasaran. Ekspresi Ying terlihat gelisah, membuat mereka semua menjadi khawatir.

Tangan Ying kemudian bergerak mengobrak-abrik tas kecilnya, seperti mencari sesuatu. Ia terus mengaduk isi tas tersebut sambil bergumam resah. "Haduh, dimana ya kunci rumahku," katanya panik.

Keempat temannya mulai mengerti apa permasalahannya. Mereka mulai menggerubungi Ying, bermaksud untuk membantu mencari kunci itu.

"Kau terakhir melihatnya di mana?" tanya Fang, ia sudah terbiasa menghadapi sikap pacarnya yang sangat ceroboh.

Ditanya begitu Ying menggigiti kuku jarinya. "Aduh, aku lupa," katanya dengan wajah memelas.

"Coba ingat-ingat, Ying." kata Yaya mengarahkan. Suara lembutnya langsung membuat Boboiboy kembali berdebar, namun dengan cepat pemuda itu atasi.

"Sumpah, aku bener-bener lupa!"

"Cih, ceroboh sekali." nyinyir Gopal.

Tak sampai sedetik, Ying sudah melancarkan mata lasernya. "Apa kau bilang?!"

"Sudah, sudah." Fang dengan cepat melerai sebelum terjadi pertengkaran. "Sekarang gini aja. Aku sama Gopal bantuin kamu nyari kunci di luar villa," Fang menjeda sebentar untuk menatap keempat temannya yang mendengarkan dengan serius. "Boboiboy sama Yaya, kalian bantuin cari di sini. Siapa tau jatoh."

Kedua orang yang disebutkan terakhir langsung memucatkan wajah. Gopal dan Ying dengan enteng mengangguk setuju, mengabaikan wajah pias dua temannya yang lain.

"Lah kok–"

"Oke. Aku ikut kalian cari di luar." Ying berujar cepat tanpa menyadari ia telah memotong ucapan Boboiboy. Rasanya Boboiboy ingin memaki, namun ia tahan mati-matian karena pasti akan menjadi boomerang baginya.

"Yasudah. Ayo." ajak Fang lalu melangkah pergi, diikuti oleh Gopal dan Ying.

Boboiboy menatap pasrah kepergian ketiga temannya yang tampak buru-buru sekali itu. Pikirannya seketika dipenuhi dugaan bahwa ini adalah rencana sialan mereka. Hanya tinggal ia dan Yaya, yang berdiri di sana seperti anak hilang. Meski ramai, namun tetap saja atmosfer terasa sangat canggung. Boboiboy menyesali dirinya yang tidak dengan tegas menolak mentah-mentah usulan itu. Lihatlah sekarang, baru beberapa detik saja ia sudah ingin lari saja dari keadaan awkward ini.

Yaya benar-benar berada tepat di sampingnya. Gadis yang ia putuskan lima tahun lalu, akibat kepercayaan dirinya sendiri. Boboiboy menggigit bibirnya. Bagaimana cara membunuh keheningan ini? Haruskah ia berkata 'Hai'? Atau 'Apa kabar'? Atau diam saja dan mencari kunci rumah Ying tanpa memedulikan gadis itu? Boboiboy semakin bingung. Akhirnya ia memilih untuk tetap diam, sampai tiba-tiba suara lembut itu terdengar.

"Kamu... apa kabar?"

Spontan saja Boboiboy menoleh. Yaya sedang menatapnya, kemudian melihat ke arah lain sembari melipat bibirnya. Tangan gadis itu mencengkram erat tali tas selempangnya, ciri khasnya saat sedang gugup.

"Err, baik kok. Ehm," Boboiboy menetralkan suaranya. Ia kembali menatap ke kolam, tak berani memandangi gadis itu lama-lama. Hatinya dipenuhi makian untuk dirinya sendiri, karena sudah membiarkan Yaya membuka percakapan. Pengecut sekali.

"Sudah lama ya." Boboiboy melirik, menemukan Yaya tengah menatap langit ditaburi bintang. "Sejak kejadian itu... kupikir kita tidak akan bertemu lagi." Lalu Yaya menatapnya. Tatapan itu. Tatapan yang sulit sekali Boboiboy jelaskan.

Boboiboy terdiam. Ia menatap Yaya dalam, meneliti arti tatapan yang gadis itu berikan. Ada sendu, bahagia, terlalu rumit untuk dideskripsikan. Hatinya mengatakan untuk terus menyelidikinya lebih lanjut, namun Boboiboy mengikuti logikanya untuk menghentikan itu semua.

"Ah, ya. Kau benar." balasnya singkat. Batinnya kembali protes, tidak setuju dengan apa yang ia ucapkan. Lagi, Boboiboy mengabaikannya. Logikanya berkata, ini sudah benar.

"Bagaimana kalau kita melupakannya?" tanya Yaya memberi usulan. Boboiboy mengangkat alis tanda tidak mengerti. "Mengubur masa lalu, dan kembali menjadi teman?" lanjut Yaya, kali ini tangan kanannya di angkat ke atas sejajar dengan kepalanya.

Boboiboy diam. Reaksinya tidak dipermasalahkan oleh Yaya, gadis itu malah menarik senyumnya sehingga lesung pipit kanannya tercetak jelas. Ada rasa sesak yang menghampiri dadanya tanpa ancang-ancang. Bermula dari kata-kata gadis itu bahwa ingin mereka jadi teman saja, sampai melihat senyumnya yang seolah tanpa ada beban.

Perasaan apa ini?

"Boboiboy...?"

Panggilan lembut Yaya berhasil menghancurkan lamunannya. Boboiboy tertegun, mengerjapkan mata dua kali, bergerak-gerak gelisah tanpa bisa ia kontrol. Perbuatannya itu seketika menimbulkan kerutan bingung Yaya, tanpa melihatnya pun Boboiboy sudah bisa merasakan.

"Uhmm... ya... o-oke..." jawabnya terbata-bata. Dilihatnya wajah Yaya yang saat ini tampak sumringah, lalu memberi kode padanya untuk berjabat tangan. Dengan gerakan pelan, Boboiboy menyambut tangan kecil itu. Halus. Sama persis di ingatannya. Bersamaan dengan itu, ada rasa nyeri yang seakan ikut bergabung.

Tak sampai tiga detik tautan tangan itu terlepas. Boboiboy melihat ke arah lain, begitupun dengan Yaya. Detak jantung mereka sama-sama berdetak cepat, seolah dikejar sesuatu. Untuk menetralisasirkannya, Boboiboy berdeham beberapa kali, sementara Yaya mengusap-usap tangannya sendiri.

"Eum... Kurasa, kita masih sangat canggung..."

Suara Yaya kembali terdengar. Sekali lagi, Boboiboy memaki dirinya karena terus membiarkan Yaya memulai obrolan.

"Ah... Hahaha..." Bagus, kau malah semakin membuat suasana canggung, Boboiboy. "Yah... Tidak apa-apa... Nanti juga–eum... tidak canggung lagi." Bicara apa aku ini?! Batinnya berteriak.

Yaya menanggapinya dengan senyum tipis. "Susah juga ya ternyata..." Nada bicaranya terdengar lesu. Boboiboy menoleh, menemukan gadis itu tengah menatap ke bawah. "Aku sering membaca cerita orang lain tentang ia dan mantannya bisa berhubungan baik lagi meski sudah putus." Mata itu kemudian membalas tatapannya. "Aku sering membayangkan kita juga bisa seperti itu."

Boboiboy diam membisu. Hatinya juga menginginkan apa yang diinginkan Yaya, tapi ia terlalu pengecut untuk mengatakannya. Ego benar-benar menghalanginya, dan ucapan Yaya barusan cukup membuat Boboiboy kagum padanya karena bisa seberani itu mengungkapkannya.

"Tapi kalau misalnya memang tidak bisa... tidak apa-apa. Aku tidak berhak memaksa juga, 'kan?" lanjut Yaya sambil menyunggingkan senyum. Gadis itu menghela napas, sebelum kemudian teringat sesuatu. "Ya ampun, kunci Ying! Ah, kita belum mencarinya." Yaya mengalihkan topik, lalu buru-buru berbalik badan. Sebelum gadis itu mengambil langkah, tangan Boboiboy tanpa diduga menahan lengan kecilnya agar tidak pergi.

Sontak Yaya berhenti bergerak. Terkejut bukan main ketika mengetahui Boboiboy menahan lengannya. Ia diam dengan posisi membelakangi Boboiboy, berusaha meredakan degup jantungnya.

"Sebentar." ucap Boboiboy. Perlahan, Yaya kembali menghadapkan tubuhnya pada pemuda itu.

Boboiboy menatap dalam manik mata mantan pacarnya selama beberapa detik. Ucapan Yaya tadi telah membuatnya berpikir, sekaligus merasa bersalah karena ia juga yang menjadi penyebab keretakan hubungan mereka. Menghela napas, Boboiboy menurunkan cekalan tangannya di lengan Yaya karena tersadar gadis itu sangat terkejut.

"Maaf." katanya. "Aku minta maaf karena sudah membuat hubungan kita menjadi seperti ini." Nada bicaranya terdengar amat menyesal. Yaya tidak memberikan reaksi apapun, jadi Boboiboy kembali melanjutkan ucapannya. "Maaf telah menyakitimu, Yaya. Maaf telah meninggalkanmu." Ada jeda sebentar untuk ia menarik napas. "Aku tahu ini sudah sangat terlambat. Tapi, aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf, Yaya."

"Boboiboy..."

"Jujur, aku... aku juga tidak ingin hubungan kita menjadi canggung. Tapi aku takut mengatakannya. Karena aku pengecut. Aku tidak berani mengungkapkannya. Kupikir kau sudah membenciku, tidak ingin melihatku lagi. Tapi..." Boboiboy mengalihkan pandangannya dari wajah. "...ternyata aku salah."

Hening. Keduanya saling bertatapan, membiarkan perasaan rindu membuncah di dada masing-masing. Boboiboy tersadar betapa ia merindukan sosok gadis ini. Sosok yang dulunya selalu mengisi harinya, menemaninya dimana pun ia berada, dan selalu menjadi alasannya untuk tersenyum.

Boboiboy mengakui ia sudah menyesal memutuskan Yaya secara sepihak tanpa penjelasan. Menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya, serta membiarkan Yaya diselimuti pertanyaan-pertanyaaan yang tak kunjung terjawab.

Tapi, Yaya ternyata bisa melewatinya. Gadis itu tidak pernah berubah, selalu tegar dalam menghadapi berbagai masalah. Senyumnya tetap tersinggung meski hatinya hancur berkeping-keping. Dan mata itu... mata yang tidak pernah tidak menyorot teduh pada siapapun.

"Boboiboy..." Suara itu terdengar seperti alunan nada lembut di telinganya. "Aku tidak membencimu," ungkap Yaya membuatnya tertegun. Mengapa? Mengapa Yaya bisa tidak membencinya setelah apa yang ia lakukan?

"Kenapa?" tanya Boboiboy hampir tidak terdengar.

Yaya mengulas senyum tipis. Untuk sesaat, tatapan gadis itu menyorot ke bawah. Seperti sedang berpikir, sementara Boboiboy menunggunya dengan sabar. Kebisingan di sekeliling mereka menjadi latar suasana keduanya. Boboiboy menelisik wajah manis di depannya, dan sekilas ia menemukan gurat kegelisahan di sana.

Pandangan Yaya kembali mengarah padanya. Selanjutnya, gadis itu mengatakan sesuatu yang langsung membuat Boboiboy diam membeku.

"Karena aku mencintaimu."

Waktu seperti berhenti. Boboiboy sampai tidak bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Ia mematung. Tatapannya terkunci pada sosok di depannya yang kini balas menatapnya tanpa enggan.

"Aku masih mencintaimu, Boboiboy. Sampai saat ini."

Pernyataan itu terulang kembali di otaknya. Terputar terus-menerus bak kaset rusak. Keheningan pun menyelimuti mereka. Pandangan yang mereka adu tidak teralih sedetik pun, semakin intens dan semakin intens.

Yang mereka tidak tahu, dada mereka sama-sama mengeluarkan detak yang sama. Detak yang berpacu cepat. Cepat sekali.

Satu menit. Dua menit. Hingga akhirnya Yaya memutuskan kontak mata. Gadis itu menenangkan diri sebentar, sebelum menghela napas untuk bersiap memandang sosok di depannya lagi.

"Maaf." katanya, membuat Boboiboy dilanda kebingungan. "Tidak seharusnya aku berkata begitu." ucap Yaya dengan nada sesal.

Boboiboy tetap diam di tempatnya. Memperhatikan Yaya yang saat ini menatap ke arah lain, menghindari tatapannya. Gadis itu jelas ingin lari dari situasi ini.

"Mungkin itu saja." ujar Yaya lagi. "Lebih baik kita mencari kunci Ying–"

Tangan Yaya dicekal cepat ketika gadis itu ingin membalikkan badan. Boboiboy menahannya erat, tidak mau membiarkan Yaya pergi dulu.

Kaget, Yaya menoleh. Baru saja ia ingin bertanya ada apa, Boboiboy dengan lebih dulu bersuara.

"Aku juga."

Dunia Yaya seperti berhenti. Ia menatap tak percaya Boboiboy.

"Aku juga masih mencintaimu."

"Sangat mencintaimu."

.

.

.

.

Finizh

a/n :

Draft pertama yang akhirnya selesai juga (setelah tiga bulan ditelantarkan heuheu)

aku gak yakin feel-nya bakal kerasa ;_; kritik aja kalo ada yang salah, aku akan nerima dengan senang kok^^

kayaknya itu aja

bubaai