SMP Bungou masih berselimut duka.

Kematian Alicia Rose Fitzgerald karena bunuh diri tempo hari membuat seisi sekolah dirundung duka dalam. Seluruh kegiatan sekolah ditiadakan, seluruh siswanya bertahan di kamar asrama masing-masing sembari menunggu pengumuman lebih lanjut soal jadwal kegiatan sekolah yang mendadak berantakan.

Seorang pemuda jangkung berambut cokelat mengetuk pintu kamar di hadapannya. Sambil melirik sekitar, pemuda itu memanggil-manggil. "Halo, ada orang di dalam~?"

Ada hening untuk sesaat, sebelum tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka. Sosok pemuda bersurai merah bata dengan plester menghiasi hidung berada di balik pintu itu, irisnya mengerjap bingung.

"Are? Dazai-senpai?"

"Yo, Tachihara-kun." Pemuda yang dipanggil Dazai itu menyapa dengan nada riang. "Apa Akutagawa-kun ada?"

"Oh, di dalam." Tachihara langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Masuk saja, Senpai–aku mau ke luar sebentar, ada urusan dengan Hirotsu-san."

Tachihara berlalu. Dazai menunggu pemuda itu hilang dari pandangan terlebih dahulu, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

~o~

Countdown

01

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango

[little note: a prequel of Boarding School]

DLDR!

~o~

"Tumben sekali kau kemari, Dazai-san?" Akutagawa bertanya sambil melirik sedikit Dazai yang berdiri. Seniornya itu kemudian meraih kursi meja belajar yang disinyalir milik Tachihara, duduk di atasnya sambil menompang dagu.

"Aku bosan," ujar Dazai dengan nada main-mainnya yang biasa. "Teman sekamarku pulang ke rumahnya kemarin, katanya, jadi aku sendirian~"

"Chuuya-san?"

"Katanya dia mau fokus belajar matematika dengan Shirase–padahal kegiatan belajar-mengajar saja belum dimulai, dia benar-benar aneh."

"Oh ..."

Suara gemuruh terdengar samar dari luar. Awan kelabu memang sudah menggantung sejak tadi pagi–mungkin sebentar lagi hujan, begitu Akutagawa dan Dazai menerka-nerka.

Akutagawa melirik Dazai yang masih bertompang dagu. Ada sebuah gelang kayu melingkar di tangan seniornya yang menyangga dagu itu. Itu hal baru–Akutagawa belum pernah melihat benda itu sebelumnya.

"Dazai-san," panggil Akutagawa pelan.

Dazai melirik. "Ya?"

"Itu, di tanganmu ..." Akutagawa menunjuk gelang yang dikenakan seniornya. "Tumben sekali ... Dazai-san pakai gelang?"

Dazai mengerjap. "Oh, ini ..." Pemuda itu terkekeh ringan. "Ini hadiah dari seseorang."

Dahi Akutagawa mengernyit. "Hadiah?"

Dazai mengangguk. "Sebelum pergi, dia sempat bilang kalau gelang ini bakalan melindungiku nanti. Jadi sekalian kupakai saja~" ujarnya.

Akutagawa memandang seniornya itu dengan pandangan heran. Namun, setelahnya ia mangut-mangut saja. "Begitu ..."

Untuk beberapa saat keduanya terjebak dalam hening. Dazai menguap bosan. Pemuda itu mendadak bingung kenapa datang ke kamar Akutagawa yang jelas-jelas lebih senang berdiam diri ketimbang datang ke kamar orang lain guna membunuh waktu. Akutagawa nampaknya tak terlalu perduli. Ia hanya menatap lurus pada jendela yang tirainya dibuka Tachihara pagi tadi. Rintik-rintik air tampak berjatuhan dari langit.

"Aku jadi teringat Alicia," celetuk Dazai tiba-tiba.

Akutagawa menoleh. "Dazai-san ..."

"Orang-orang menemukannya tewas di ruang musik saat hujan turun, kan?" guma Dazai pelan.

"... Aku rasa hal semacam itu tidak perlu disebutkan lagi, Dazai-san," balas Akutagawa, sama pelannya. "Seluruh sekolah sudah tahu, dan mungkin berusaha buat cepat-cepat melupakan–ini tragedi yang buruk."

Dazai, lamat-lamat, mengangguk pelan. "Hmm ..."

Hujan turun makin deras. Akutagawa dan Dazai saling diam, memerhatikan hujan yang rasanya mulai mendatangkan kantuk.

~o~

Chuuya berdiri di depan jendela perpustakaan, menatap lapangan serba guna yang terguyur oleh air hujan. Sepinya suasana dalam perpustakaan membuat suara hujannya terdengar lebih jelas, juga berisik.

"Oi, kau sudah selesai?" Sebuah suara dari belakang membuat Chuuya menoleh. Sosok teman akrabnya, Shirase, berdiri di belakangnya sambil mendekap buku tulis dan buku paket matematika kelas 2 SMP–meski sebenarnya ia sudah kelas 3.

Chuuya mendengus. "Kalau ini bukan perintah Kunikida-sensei saja, mending aku tidur di kamar," omelnya kesal.

Shirase tertawa kaku. "Nilaimu tahun lalu anjlok, sih ..."

Alasan keduanya berada di perpustakaan siang ini adalah karena nilai matematika keduanya yang anjlok tahun lalu. Kunikida-sensei, selaku guru matematika Chuuya dan Shirase yang menetap di asrama, menyuruh keduanya buat mengerjakan beberapa lembar latihan soal sebagai kunci masuk pelajaran matematika begitu jadwal kegiatan belajar-mengajar kembali normal nantinya. Kalau saja nilai matematika bukan penentu buat ujian kelulusan nanti, Chuuya lebih memilih buat tidur di kamarnya yang hangat ketimbang mengerjakan soal-soal tersebut.

"Omong-omong, di luar hujan." Jempol Chuuya terarah pada jendela yang tirainya tidak pernah ditutup. "Bagaimana caranya kembali ke asrama dengan buku catatan kita?"

"Yah, tunggu saja," buku-buku dalam dekapan ia letalan di atas meja. Shirase berbalik. "Aku mau keliling sebentar–berharap saja Alcott-san mau menampung kita sebentar."

Lalu Shirase pergi. Chuuya kembali mendengus, ia paling benci kalau harus tinggal di perpustakaan lebih lama sembari berjibaku degan buku-buku tua ini lebih lama. Harusnya mereka memang belajar di gedung sekolah saja–atau di asrama, atau di manapun, asal bukan perpustakaan yang bau bukunya memuakkan hidung pemuda bermarga Nakahara itu.

Pemuda itu memutuskan buat duduk. Latihan soal matematika tadi membuat pikirannya lelah. Chuuya mau tidur saja rasanya, tapi dia tidak mau tidur di sini–kalau kebablasan tidur hingga malam kan bahaya, meski rasanya mustahil karena ada Shirase dan Alcott-san yang sedang berada entah di salah satu sudut mana dalam perpustakaan sunyi ini.

"Chuuya, lihat, deh!"

Tahu-tahu Shirase sudah ada di sampingnya. Chuuya mendongak. Pemuda yang merupaan tetangga kamarnya itu tampak memegang sebuah buku bersampul tebal. Alis Chuuya naik satu.

"Apa itu?"

"Buku tahunan angkatan bawah," Shirase terkekeh.

Melihatnya membuat Chuuya mengembuskan napas. "Selera kepala sekolah kita aneh, ya," gumamnya. "Di mana-mana buku tahunan itu dibuat pada tahun terakhir sebuah angkatan di sekolah tersebut. Lah ini?"

"Aku rasa kepala sekolah kita punya motto 'Masuk bersama, keluar bersama pula'," Shirase mengangkat bahu.

"Motto macam apa itu?"

"Yah, apapun itu ..." Shirase meletakan buku tersebut di atas meja, lantas mengambil tempat di sisi Chuuya. "Mau lihat? Aku kurang tahu dengan apa-apa saja yang terjadi di angkatan mereka."

Chuuya mengangkat bahu. "Terserahmu."

Shirase nyengir. "Yosh ..." Buku tahunan milik angkatan ke-39 itu dibuka pelan-pelan. Di halaman pertama, ada potret seluruh siswa-siswi dari angkatan 39. Chuuya diam-diam melirik ketika kawannya itu membuka lembar-lembar berikutnya.

"Ah, ini temanmu, kan?" Tiba-tiba dalam halaman bertajuk Kelas 1-B, Shirase berhenti dan menunjuk seseorang.

Chuuya ikut menoleh. Dalam lembar yang memuat 28 wajah di sana, Chuuya dapat mengenali salah satunya. Satu-satunya orang yang wajahnya nampak datar di antara orang-orang berekspresi riang. Akutagawa Ryuunosuke, adik kelas Chuuya yang dekat dengannya dan Dazai beberapa hari setelah hari pertama masuk sekolah tahun lalu.

"Ah, ya ..." Chuuya mengangguk.

Shirase mangut-mangut. "Bagaimana kalian bisa dekat?" tanyanya penasaran. "Aku dengar dari beberapa orang, anak ini katanya kelewat pendiam, lho?"

Chuuya mengangkat bahu. "Tahu-tahu saja setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah buat anak-anak kelas 1 usai, Dazai mengajaknya buat makan bareng di meja kami," ujarnya.

Baik Dazai maupun Akutagawa sendiri tidak pernah menjelaskan pada Chuuya tentang mengapa keduanya bisa saling kenal. Chuuya tidak pernah tahu, namun tidak pernah mempermasalahkan, karena kalau boleh jujur, Akutagawa tidak semegerikan apa yang orang-orang katakan kalah kau sudah mengenalnya.

Lagi, Shirase hanya mangut-mangut. Tangan pemuda itu masih setia membolak-balik lembar buku tahunan tersebut. Namun, gerakannya tiba-tiba saja terhenti dalam sebuah halaman yang akhir-akhir ini tidak terasa asing.

"Chuuya, ini ..."

Chuuya menoleh, menatap Shirase karena ucapannya digantung. Sejurus kemudian, pemuda itu melirik halaman buku tahunan yang Shirase pegang. Seketika ia terdiam.

Dalam potret tersebut, terdapat seorang gadis duduk di atas meja piano. Helai rambut sewarna matahari dan sepasang mata sebiru langit musim panas itu membuat Chuuya langsung mengenalinya.

Alicia Rose Fitzgerald.

"Ini ... yang kemarin itu, kan?" Shirase bertanya ragu.

Chuuya mengangguk kaku. "Ya ... itu dia."

Masih segar dalam ingatan Chuuya, soal apa yang terjadi beberapa hari lalu. Tentang bagaimana Alicia ditemukan, tentang jerit histeris Fitzgerald-sensei mendapati putrinya tak bernyawa di ruang musik. Mimpi buruk, sungguh, sampai-sampai sering sekali ia terbangun di tengah malam lantaran kejadian itu benar-benar terbawa mimpi.

"Benar-benar sebuah tragedi," gumam Shirase pelan. "Padahal Alicia-san itu gadis baik."

Chuuya mengangguk. "Ya ..."

Hujan masih mengguyur di luar, namun Shirase tidak lanjut membuka lembaran buku tahunan angkatan bawahnya. Pemuda itu berdiri, lalu melangkah ke arah rak tempat ia menemukan buku tersebut. Sementara Chuuya meletakan kepalanya di atas meja, menanti hujan reda supaya ia bisa kembali ke asrama dan tidur.

-tbc-

Well ... pada akhirnya setelah mengumpulkan niat, sekaligus memanfaatkan waktu luang yang ada selama liburan (ini diriku nungguin tugas dari google classroom dan grup kelas tapi ga ada yang masuk :"), diriku ngepublish draft yang udah mendem di binder dari ... dari kapan aku nulis draft prequel ini? /apa sih Vir

Gabut aja sebenernya ini bikinnya. Tetiba kepikiran, gimana keadaan SMP Bungou (iya, ini SMP. Diriku sempet baca ulang BS dan baru sadar kalo diriku beberapa kali nggak sengaja nulis nama sekolahnya jadi SMA Bungou hjkhjkhjksss) sebelum Atsushi datang, saat DaAkuChuu dan para penghuni sekolah ini beneran masih hidup. Jadi nggak tau ini work bisa lanjut atau nggak, tergantung mood, pokoknya diriku ga janji ini work bakalan tamat '3') /dihajar

Dah, segini aja. Makasih buat yang udah mampir buat baca, dan selalu jaga kesehatan~

-Vira D Ace-