Naruto © Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Tír na nÓg
.
Pair: Uchiha Sasuke X Hinata Hyuuga
Genre: Fantasi
Rate: T
Warning : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s), OOC
.
.
Tír na nÓg
.
.
"Anda siapa, Tuan?"
Pria itu tersenyum hangat menatap Hinata yang kebingungan. Mengapa pria itu tampak agung? Hinata tidak tahu. Di tengah hutan yang sunyi seperti ini, tampaknya bukan pertanda baik jika ada pria asing tak dikenal datang menemuimu. Atau setidaknya menatapmu seolah kau adalah peri yang datang dari Negeri Oz.
"Aku bukan siapapun, Nona."
Hinata memiringkan kepalanya. Bertanya pada dirinya sendiri apa dia memakai sesuatu yang aneh pada pakaiannya. Dia tidak nyaman dengan pandangan yang didapatnya dari si pria asing.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan."
Hinata memilih kabur. Dia tidak mau sesuatu terjadi padanya karena pria asing. Dia tidak nyaman dan merasa dikuliti. Dan ya...
Pria itu tidak bergerak. Hanya menatap punggung Hinata yang mulai menjauh.
.
.
Tír na nÓg
.
.
Hutan ini tidak ada ujungnya. Bukankah seharusnya dia segera menemui gerbang masuk hutan? Dia tidak jauh dari rumah. Hanya berjalan di hutan belakang rumahnya. Apa yang salah?
Hinata berhenti. Duduk di sebuah batang kayu yang ambruk. Dia merenung. Mulai memikirkan bahwa dia mungkin tersesat. Dia memandang sekelilingnya. Menatap deretan pohon besar yang ada mengelilinginya.
Hutan selalu membuatnya bahagia.
Tenang.
Sejuk.
Damai.
Dia selalu pergi ke hutan belakang rumahnya setelah pelajarannya selesai. Menenangkan dirinya agar emosinya stabil. Semacam meditasi yang dia miliki untuk dirinya sendiri. Hanabi selalu bertanya padanya, mengapa dia tampak sangat kuno? Atau lebih spesifik, Hanabi sering menyebutnya sebagai Arthemis karena menyukai hutan lebih daripada keramaian kota.
"Lain kali, aku akan membawa ponselku." Seharusnya dia membawa ponsel. "Ini jelas konyol, kan?"
Mengapa dia tersesat di hutan yang sudah dijelajahinya hampir di seluruh hidupnya? Tak ada gunanya juga dia membawa ponsel. Dia tidak ingin diganggu ketika dia menenangkan dirinya. Itu tidak masuk akal. Hinata memandang hutan itu kembali. Ada yang aneh.
"Kenapa pohon-pohon ini sangat besar?" Hinata bergumam pada dirinya sendiri.
Sebentar. "Tampaknya ada yang berbeda." Hutan ini berbeda dengan yang dimiliki keluarganya. Hutan milik keluarganya memang memiliki pohon yang besar, tapi tidak sebesar pohon yang ada di Mirkwood. Ini bahkan bisa lebih besar dari hutan yang ada di film The Hobbit. Apakah normal?
Matahari mulai turun.
Langit sudah mulai gelap.
Sang Gadis Hyuuga mulai panik.
Bertanya pada dirinya sendiri, apa yang salah dengan tempat ini? Dia jelas tidak mengenal hutan ini. Tempat ini asing baginya. Hinata baru mulai sadar, dia benar-benar tersesat. Wajahnya mulai pucat.
"Kami-sama, aku dimana?" gumamnya.
Tubuhnya tersentak kaget, ketika telinganya jelas mendengar suara gesekan. Ketakutan mulai menyerang benaknya. Hinata memberanikan dirinya untuk berdiri.
"Si-siapa di sana?" Ujarnya hampir gemetaran.
Tidak ada jawaban.
Namun suara dari arah semak itu semakin keras. Tergesa-gesa menuju ke arahnya. Hinata mulai membeku. Dia harus lari. Firasatnya sangat buruk tentang hal ini. Namun, kakinya seolah terpaku ke tanah oleh gravitasi yang asing. Tubuhnya membeku. Hinata menghela napasnya berat. Semoga hiperventilasinya tidak kambuh karena serangan panik.
Mata Hinata membelalak besar ketika semak itu mulai terbelah. Hinata menatapnya. Makhluk aneh yang tak pernah ditemuinya seumur hidupnya dan jelas dia ketakutan setengah mati.
Jika kau melihatnya sekilas, kau akan melihat manusia. Namun mata makhluk itu seperti mata srigala yang ganas. Wajahnya berbulu dan bahkan makhluk itu memiliki telinga yang mirip dengan anjing. Kukunya tajam dan berwarna hitam. Tubuhnya hampir dipenuhi bulu.
Hinata membisu.
Makhluk itu menatapnya seolah dia adalah makanan. Dia harus lari. Hinata memaksa kakinya bergerak. Dia berbalik dan berlari sekencang mungkin. Makhluk itu mengejarnya. Jelas. Kaki Hinata yang kecil sama sekali tidak membantu. Makhluk itu menggeram keras di belakangnya dan dapat dipastikan semakin mendekatinya. Gadis mungil itu terus berlari, karena nyawanya jelas diambang kematian. Dia tidak boleh berhenti. Hutan semakin menakutkan. Hinata terus berlari dalam segala kepanikkannya. Kakinya lelah. Tapi dia tidak ingin mati.
"Tolong. Siapapun!" Dia berteriak
Matanya melihat ranting kayu yang mencuat. Dia sudah bersiap untuk melompat dan kakinya mengkhianatinya. Dia terjatuh tertelungkup di atas tanah. Hinata berusaha bangkit namun kakinya hampir seperti lumpuh. Dia tidak bisa bergerak.
Makhluk itu datang mengejarnya. Hinata menatapnya dengan mata sembab dan ketakutan yang seperti tidak ada habisnya. Makhluk itu menyeringai. Mendekati Hinata dengan perlahan, seolah sedang mempermainkan mangsanya. Hinata mundur dengan menyeret tubuhnya.
"Kumohon, ja-jangan."
Hinata panik. Makhluk itu menarik kakinya. Dia menjerit sekeras yang dia bisa dan menutup matanya ketika makhluk itu membuka mulutnya berniat untuk menggigit.
Gigitan itu tidak pernah datang.
"Kau baik-baik saja?" Sebuah suara yang halus masuk ke pendengarannya.
Hinata membuka matanya. Di depannya terdapat seorang pria yang cukup tinggi. Pria yang memandangnya khawatir itu berjongkok di depannya. Tangan sang pria mencoba meraih Hinata. Hinata berteriak. Dia semakin ketakutan.
"Tidak, tidak. Aku bukan orang jahat." Tangan si pria diangkat ke atas kepalanya. Mencoba menunjukkan bahwa dia tidak berbahaya. "Aku berlari begitu mendengar teriakanmu. Dan selanjutnya melihatmu yang sedang dicengkeram oleh werewolf."
"A-apa?" Hinata bingung. "Werewolf? Tapi ..." "Werewolf itu tidak nyata."
Si pria memandangnya heran. "Nona, kurasa kau masih syok."
"S-syok?"
Matanya membelalak ketika melihat kepala makhluk aneh tadi hancur dan tubuh telah tertusuk oleh kayu besar yang muncul dari tanah. Atau itu malah akar pohon? Hinata tidak tahu.
Si pria tersenyum. Mengambil botol minuman dari balik pinggangnya dan memberikannya pada Hinata. "Minumlah, Nona. Kurasa kau membutuhkannya." Hinata memandangnya ragu. Sadar Gadis itu sedang curiga padanya, si pria meminum airnya terlebih dahulu dan kembali menyodorkannya pada Hinata. "Lihat? Ini aman."
Tangan kecilnya meraih botol minum dan meminumnya dengan ragu. Pria itu tersenyum lagi. Entah perasaannya saja, atau memang pria ini berusaha ramah?
"Kau darimana? Tidak baik berkeliaran setelah matahari terbenam." Pria itu bertanya.
Hinata masih diam. Pria itu memasang wajah bingung.
"Ah iya, betapa tidak sopannya aku," Pria itu tertawa canggung membuat Hinata memiringkan kepalanya heran. "Namaku Sasuke. Namamu siapa?"
"Hi-hina-ta," jawabnya pelan.
Pria bernama Sasuke tersenyum lagi. "Dimana rumahmu?" Tanyanya ramah. "Biar aku mengantarmu."
"Ma-maaf, tapi ini dimana?" Ujar Hinata pelan. "Ta-tampaknya aku tersesat."
Sasuke mengerutkan keningnya. "Oh, aku mengerti," dia menganggukkan kepalanya. "Kau ada di hutan negara Api. Kurasa ini dekat dengan desa hujan. Mungkin perjalanan satu hari ke arah utara, kau akan sampai di desa hujan."
Hinata memiringkan kepalanya. "Ma-maaf. Aku dimana?"
"Di negara Api, Nona." Jawab Sasuke bingung.
"A-Api?" tanyanya panik.
.
.
Tír na nÓg
.
.
Duduk di samping seseorang asing membawa kesan baru bagi Hinata. Pria di depannya tampak seperti seseorang yang pendiam. Meskipun tadi dia mencoba ramah padanya.
Sasuke? Benar kan itu tadi namanya? Sasuke mengatakan padanya tentang tempat dia berada. Negara Api? Dari 211 negara di dunia yang dia tahu, tidak ada negara yang memiliki nama negara Api. Seperti dalam serial Avatar Aang di Nicklodeon? Lagipula, siapa orang bodoh yang akan memakai nama unsur sebagai nama negara? Bahkan nama Ekuador sudah sangat aneh baginya.
Nyala api unggun di depannya tidak membuatnya otomatis menjadi hangat. Hanya membuatnya semakin resah. Masih mencoba mencerna apa yang terjadi pada hidupnya saat ini.
Tersesat di hutan yang harusnya ada di belakang rumahnya. Berakhir di hutan yang tidak dia kenal. Dikejar makhluk aneh bernama werewolf. Werewolf. Demi apapun yang dia percaya di dunia, werewolf yang dia tahu hanya dongeng pengantar tidur yang diceritakan oleh neneknya. Selama ini dia hanya berpikir, makhluk ajaib semacam itu tidak ada. Terutama ketika dia beranjak dewasa.
Tapi Sasuke mengatakan dengan jelas padanya. Di sini. Ah bukan, di dunia yang ini, makhluk semacam werewolf memang ada. Bahkan vampir, siren, jin, ghoul, wraith dan masih banyak lagi. Hinata tidak tahu apa itu ghoul atau wraith.
"Ngomong-ngomong, dari ceritamu tadi, kau tidak berasal dari sini." Tiba-tiba Sasuke bersuara.
"Iya, tuan."
"Jepang, kan?" tanya pria itu lagi. "Bagaimana tempat itu?" Hinata memandangnya heran. "Maksudku, kau tadi bahkan terkejut karena tahu tentang werewolf. Jadi aku berpikir, disana tidak ada makhluk semacam itu. Karena jika tidak, pasti itu tempat yang tenang dan indah," Ujarnya sendu.
Hinata termenung. "Tidak juga. Memang tidak ada hal semacam... makhluk apapun seperti tadi," dia terdiam lagi. "Tapi disana tidak selamanya baik," Hinata memikirkan tentang polusi udara yang merusak bumi, memikirkan perang yang terjadi di Timur Tengah, perang dagang yang berakhir menjadi perang dingin antara Amerika dan China yang berlarut, Virus HIV AIDS yang belum ditemukan obatnya. Dan masih banyak lagi. "Kurasa setiap tempat ada hal baik dan hal buruk yang mengikuti. Tidak semua hal adalah baik dan tidak selamanya semua hal adalah buruk."
"Benarkah?" Sasuke memandangnya tidak percaya. "Kurasa dunia akan baik jika tidak ada monster yang mengintaimu di malam hari."
"Tapi tempat ini indah. Terlepas dari monster atau pohon menakutkan di sekitarku," Hinata tersenyum. "Aku dapat melihat bintang dengan mudah, dan aku baru menyadari udara di sini sangat bagus."
Sasuke memandangnya heran. "Udara? Memang apa yang salah dengan udara di tempatmu?"
"Bagaimana ya menjelaskannya? Aku punya asma... semacam penyakit pernapasan," jelasnya ketika melihat wajah kebingungan Sasuke. "Jadi paru-paruku lebih sensitif dengan udara. Udara di tempatku... tidak terlalu bagus."
Hinata memandang Sasuke yang sedang memikirkan kata-katanya. Dia sudah menceritakan apa yang terjadi padanya pada Sasuke. Pria itu hanya diam setelahnya. Tapi dia juga tidak menyangkal apapun seperti Hinata yang awalnya benar-benar tidak percaya dengan adanya tempat ini.
"Sasuke-san... kenapa kau tidak bertanya apapun padaku tadi?" Hinata buru-buru menjelaskan ketika Sasuke menatapnya heran. "Aaa... ketika aku mengatakan tentang tempatku berasal, kau tampak itu adalah hal biasa."
"Oh, di dunia ini sihir bukan hal aneh. Apa kau tahu sihir?" Hinata mengangguk. "Jadi kukira hal semacam itu bisa terjadi karena ada sihir. Aku melihat banyak penyihir melakukan banyak hal di luar nalarku."
"Penyihir itu juga nyata?!" Hinata membelalakkan matanya. "Tempat macam apa ini sebenarnya?"
Sasuke tersenyum. "Tempat yang semacam ini."
Mereka diam lagi. Memandang api unggun dengan pikiran mereka masing-masing. Biasanya Hinata sedang membaca di malam hari seperti ini. Entah itu Alkitab atau bahkan folklore yang dia temukan di google. Hanabi akan berteriak-teriak di kamarnya menyanyikan band dari negera Korea yang tidak Hinata ketahui namanya hingga ayahnya masuk dan memarahi Hanabi karena terlalu berisik di malam hari.
Senyum masam terbentuk di wajahnya. Apa keluarganya tahu dia hilang? Jika mereka tahu, mereka akan sangat panik. Ayahnya pasti sudah berada di kantor polisi sekarang. Atau... atau tempat ini seperti Narnia, dimana waktu akan berhenti di rumahnya dan dia akan kembali tepat pada waktu dia hilang?
"Kurasa hal terbaik adalah kita tetap bersama sampai kita menemukan cara membawamu pulang." Ujar Sasuke tiba-tiba. "Kau tidak tahu tempat ini, akan sangat berbahaya jika kau pergi sendiri."
"Kenapa kau mau menolongku?" Tanya Hinata heran.
"Karena kau terlihat seperti ibuku," Jawab Sasuke acuh tak acuh.
Hinata tersenyum canggung. "Pria ini sangat frontal."
"Lagipula, pekerjaanku tidak akan membiarkan seorang gadis tersesat sendirian di tengah hutan." Ujar Sasuke lagi.
"Pekerjaan? Apa pekerjaanmu?"
"Kau tidak perlu tahu."
.
.
To be Continued
.
.
A/n:
Hai hai hai
Aku sedang bosan. Jadi memutuskan menulis cerita pasaran dan ala kadarnya ini. Ngomong-ngomong, ada yang tahu tentang Tír na nÓg?
Maaf, karena Giniro Tsuki belum bisa updet. Tinggal ngetik sebenarnya hehehee
Dan aku mau tanya, apakah cerita SasuHina ini harus berlanjut atau berhenti saja sampai disini?
Aku minta maaf atas kekurangan fic ini,dan aku menerima kritik dan saran dari para readers…
Arigatou, minna-san…
Sign,
Teratai putih
