Season I

Maelstrom

.

.

.

.

.

Summary :

{Namaku Takamiya Naruto. Lima tahun yang lalu Ibu dan Ayahku tewas dalam tragedi Kebakaran Fuyuki. Saat umurku mencapai tujuh belas tahun, sedikit demi sedikit rahasia tentang masa laluku terungkap. Masalahnya, ini menyangkut masa laluku dari kehidupan yang lain}

Disclaimer :

Semua karakter, unsur, yang ada di cerita ini murni hanya pinjaman. Saya meminjam mereka demi memenuhi harapan imajinasi saya.

.

.

.

.

.

Chapter 1

Awal Mula

.

.

.

.

.

.

.

.

(Story Start)

Ketika matahari menyinari bumi, di kota Tenguu, tepatnya pada kediaman Takamiya, seorang gadis dengan rambut biru bergelombang dan mata coklat nampak sedang menyusun piring dan peralatan makan lainnya di atas meja makan. Karena ini pagi hari, maka tak heran bila ruang dapur di rumah manapun digunakan semaksimal mungkin oleh penghuninya.

"Onii-sama, mejanya sudah siap!"

Gadis itu memanggil laki-laki yang sibuk memasak, aroma harum dan menggugah selera dari masakan buatan kakaknya tidak pernah membuatnya bosan. Mematikan kompor, sang kakak meletakkan telur mata sapi dan sosis goreng di atas dua piring.

"Mana, bisakah kau tuangkan susu selagi aku mengoleskan mentega ke roti?"

Mana, nama gadis itu, mengangguk antusias, sepenuh hati mengerjakan permintaan kakaknya, orang yang dibicarakan mempunyai rambut pirang dan mata biru, dengan tiga garis tipis di masing-masing pipinya. Tak aneh melihat keduanya tidak ada kemiripan sama sekali, mengingat si laki-laki diadopsi oleh keluarga Takamiya saat keluarga aslinya tewas dalam kebakaran, kejadiannya terjadi lima tahun yang lalu.

"Aku dengar toko pakaian langganan Mana menambah model baru lagi. Boleh kita ke sana nanti siang, Onii-sama?"

Selesai mengerjakan tugasnya, Mana bertanya pada sang kakak, yang tersenyum geli lalu mengangguk.

"Tentu. Kenapa tidak?"

"Yay! Kau kakak yang terbaik Naruto-nii!"

"Tapi, dengan catatan aku tidak akan mengikutimu masuk ke dalam."

"Ehehehe."

Mana menggaruk rambutnya, tahu persis alasan mengapa Naruto mengatakan itu, dia duduk di kursi di sampingnya.

""Selamat makan!""

Sambil menyantap sarapan, Naruto dan Mana terlibat pembicaraan terkait hobi, band yang populer bulan ini, atau resep masakan yang belum pernah mereka coba sebelumnya, tak jarang, terselip kalimat joke di antara keduanya. Setelah habis, Mana meletakkan peralatan bekas makan di wastafel, menyalakan keran kemudian mencuci semua itu, selesai, dia mengeringkan tangan menggunakan handuk kecil.

"Kau sedang nonton apa, Onii-sama?"

"Huh? Oh, hanya berita pagi."

Mana mengangguk, mengisi tempat kosong di samping Naruto, keduanya diam saat menonton berita sebelum Mana berkomentar.

"Mana masih penasaran kenapa banyak sekali koruptor, memangnya gaji yang diberikan pemerintah belum cukup."

"Mungkin karena pemikiran mereka berbeda dari orang biasa seperti kita." Naruto memindahkan channel, menggantinya dengan acara olahraga. "Contohnya, jika kita memikirkan belanja murah di toko, mereka pasti berpikir belanja mahal di market dalam mall."

"Heeh, begitu rupanya, Mana paham sekarang."

Mereka menghabiskan beberapa jam menonton televisi, merasa bosan, keduanya segera berganti pakaian dengan pakaian kasual mereka. Naruto dan Mana keluar rumah kemudian si nama pertama mengunci pintu. Perlahan, mereka melangkah secara bersamaan di trotoar.

"Naruto-kun! Mana-chan!"

Mengenal pemilik suara, Naruto dan Mana menengok ke belakang, melihat seorang wanita berambut biru panjang dengan sepasang mata biru mendekati mereka.

"Nagisa-san rupanya." Naruto tersenyum simpul. "Ingin berangkat kerja?"

Himekawa Nagisa menyengir.

"Begitulah," ujarnya, "ngomong-ngomong, kalian mau ke mana?"

"Belanja pakaian."

"Hooh, ma, mau sampai kapanpun juga 'ukuran' Mana-chan takkan pernah besar."

"Nagisa-san!"

Naruto heran menyadari muka adik tirinya memerah, ukuran besar? Maksudnya berat badannya?

Nagisa terkikik.

"Aku hanya bercanda."

Dia menatap jam tangannya, berkedip, lalu memberhentikan taksi yang kebetulan lewat dan masuk ke dalam. Dia menurunkan kaca transportasi umum tersebut, berbicara dengan mereka.

"Naruto-kun, Mana-chan, jika kalian tidak keberatan, nanti sore maukah kalian mengawasi Yoshino-chan selagi menunggu bibi pulang dari kerja?"

Naruto dan Mana bertukar pandangan, berseri, lalu mengalihkan pandangan pada Nagisa.

"Tentu!"

"Serahkan saja pada kami, dattebayo!"

Nagisa menghela nafas, merasa lega, tahu kalau kakak-beradik itu bisa dipercaya. Saat taksi telah melaju, Mana menggenggam tangan Naruto, segera menyeretnya untuk segera berjalan.

"Mana, jangan tersinggung, tapi aku rasa kau meremehkan kekuatan kakiku dengan tingkahmu ini."

Mana berkedip, melepas tangannya. Dia pun cengengesan.

"Ehehehe, maaf, maaf. Habisnya Mana takut tokonya nanti penuh."

Naruto menggelengkan kepalanya, lalu terkekeh.

Lalu, keduanya melangkah sambil berbincang satu sama lain, terkadang Naruto dan Mana berhenti berbincang untuk mengamati keadaan sekitar mereka, hanya untuk kembali berbicara ketika salah satunya memulai percakapan.

"Tidak terasa satu hari lagi sudah masuk sekolah. Waktu benar-benar berjalan dengan cepat."

"Yah, aku rasa kau benar."

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah toko yang bernama [Mad Fashion], Naruto bisa melihat dengan jelas busana baru yang dikenakan boneka manekin di etalase toko, berujar pada Mana.

"Aku akan tunggu di luar."

Mana mengangguk, masuk ke dalam bangunan selagi Naruto menunggu sambil menyelipkan tangannya ke saku celananya. Dia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat salah satu restoran disegel garis kuning, padahal kelihatannya tak ada tanda-tanda kerusakan di bagian luar tempat itu.

"Loh, Naruto-san?"

Menengok ke samping, Naruto mendapat tampilan penuh dari orang ini; seorang gadis berambut merah dengan gaya bob pendek dan sepasang anting terpasang di telinganya, iris matanya berwarna senada dengan rambutnya.

"Oh, ada Haruko juga rupanya, ingin belanja juga? Bukan untuk menarik perhatian Tatsuo, aku harap?"

"Wa–"

Homura Haruko gelagapan, sentuhan warna merah tipis memenuhi pipinya. Naruto terkekeh, terhibur melihat raut wajahnya.

"Beruntungnya dia."

"Enak saja! Aku kemari untuk mengambil pesanan baju Ibuku!"

Dengan seringai yang ia perlihatkan, Haruko yakin kalau Naruto tak mempercayai kata-katanya.

"Baiklah, aku percaya padamu. Ah, ngomong-ngomong, apa kau mau tahu makanan kesukaan–"

Naruto mengelak ke samping ketika sebuah sepatu putih melayang dan nyaris mengenai wajahnya, berkata.

"Tadi itu hampir saja."

"Cih."

Haruko benar-benar kesal saat ini.

Tiga menit kemudian, Mana keluar seraya menenteng plastik berisi beberapa set pakaian yang dibelinya, dia berkedip menyadari kehadiran Haruko.

"Haruko? Sedang apa kau di sini?"

"Eh? Umm... aku hanya kebetulan lewat saja." Haruko mengganti topik. "Kau baru selesai beli pakaian?"

Naruto mengirim senyum geli kepada Haruko, yang pura-pura tidak peduli.

Mana mengangguk.

"Ya, begitulah, sebagian bajuku sudah kekecilan jadi..."

"Tunggu, kau beli pakaian baru bukan karena ingin terlihat feminim?!"

"Memangnya apa hubungannya feminim dengan pakaian?"

Haruko mengelus keningnya, bergumam seperti "Adik dan kakak sama saja." atau "Jika terus seperti ini, bagaimana caranya mereka bisa dapat pasangan?".

Naruto menyenggol bahu Mana, berbisik.

"Di sekolah apakah dia sering seperti ini?"

"Hanya jika sedang frustrasi berat." Mana balas berbisik.

Naruto [Ohh], diam-diam berbalik dan secepatnya kabur dari sana, diikuti Mana yang berjalan di belakangnya.

'Jika dibiarkan begini terus, bisa-bisa masa depan kehidupan romance mereka akan rusak bahkan sebelum dimulai.' Haruko mengerutkan keningnya. 'Mereka butuh seseorang yang ahli dalam hal ini. Ya, itulah jawabannya.'

Baru ingin mengeluarkan isi pikirannya, dia tersentak menyadari bahwa mereka sudah tiada, menggeram marah.

"DASAR KAKAK-ADIK SIALAN!"

Line Break

"Mana, berapa kali aku harus memberitahumu, ramen itu makanan para dewa, jadi wajar kalau aku sering memakannya."

Saat ini, Naruto dan Mana sedang berada di kedai makan di pinggir jalan. Memang tempatnya tidak sebagus seperti di restoran, tapi kenyataannya dulu keluarga Takamiya sering makan siang di sini, apalagi mereka kenal baik dengan pemiliknya.

Mana menghela nafas, menjawab dengan nada terdengar sarkas.

"Tentuuu."

Lalu, seorang pria berambut perak dan memakai masker hitam muncul dari dapur, dia meletakkan dua mangkuk dengan jenis makanan yang berbeda di hadapan keduanya.

"Apa yang dikatakan Naruto itu benar, Mana."

"Lihat, Kakashi-san saja setuju denganku."

Naruto berseri, merasa bangga, mengambil sumpit dan mulai menyantap makanan favoritnya. Mana sweat drop, memilih diam dan fokus terhadap makanannya. Di saat bersamaan, Kakashi mengamati keduanya, diam-diam tersenyum dibalik masker hitamnya.

'Ketidaktahuan adalah kebahagiaan,' pikirnya, 'kelihatannya pepatah itu bukanlah bualan belaka.'

"Oh iya, Kakashi-san, apakah kau tahu alasan kenapa restoran dekat toko [Mad Fashion] disegel polisi?"

"Ah, restoran [Sea Meal] maksudmu." Kakashi mengelus permukaan maskernya. "Kalau tidak salah aku dengar rumor bila bahan-bahan yang dipakai mereka sudah kadaluwarsa dan tidak layak dikonsumsi. Maka dari itu semalam aparat keamanan datang dan melakukan pengecekan."

Naruto berkedip.

"Huh, itu menjelaskan kenapa banyak sekali orang yang ke rumah sakit."

Kakashi diam-diam tersenyum, mengambil remot dan menyalakan televisi.

"Pagi ini, seorang warga sipil menemukan dua mayat dan satu korban yang masih hidup di sungai di belakang kediamannya. Diperkirakan mereka akan dibawa ke rumah sakit selagi menunggu kedatangan–"

Kakashi segera mengganti channel, tak ingin membuat pelanggannya tidak nyaman. Dia menyipitkan matanya.

'Salah satunya sudah bergerak rupanya.'

Setelah menghabiskan makanannya masing-masing, Naruto mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang pada Kakashi.

"Naruto."

"Ya?"

"Jika kau dan Mana tak punya urusan penting, tetaplah di rumah dan jangan ke mana-mana."

Naruto berkedip, penasaran, tapi mengangguk tanpa menanyakan apapun. Meski hanya sebentar, dia tadi sempat melihat berita di televisi sebelum Kakashi menggantinya ke channel yang lain.

"Baiklah."

Kakashi merasa lega. Tidak lama setelah kepergian mereka, dia mengambil ponsel dan mencari nomer kontak seseorang.

"Ada apa, Ketua? Jika kau belum tahu, aku sedang sibuk saat ini."

"Sasori, beritahu yang lain untuk segera berkumpul di titik yang telah aku tentukan. Data lokasinya akan aku kirim sekarang juga."

"…dimengerti."

Puas, Kakashi segera melakukan apa yang tadi dikatakannya.

Line Break

Sekarang, Naruto dan Mana tengah duduk di kursi umum di depan supermarket, beristirahat sejenak setelah lelah berjalan. Tak jarang mereka mengamati kendaraan roda dua maupun roda empat yang lewat di jalan.

"Ne, Onii-sama."

"Ya?"

Mana mengamati langit.

"Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita?" katanya.

Naruto berkedip, mengusap dagunya.

"Jika ingatanku benar, kau berteriak tak mau kakak baru dan mengurung dirimu di kamar. Kenapa?"

Mana tertawa, merasa lucu ketika membandingkan dia yang sekarang dan dia yang dulu.

"Tidak apa-apa," katanya, "hanya saja, setelah aku pikir-pikir lagi aku belum sempat minta maaf soal sikapku padamu waktu itu."

Naruto terdiam, membuka mulutnya.

"Kau tak perlu minta maaf. Mengetahui kakak kandungmu tewas dan tahu-tahu ada orang asing menggantikan posisinya. Wajar ketika pertemuan pertama kita sikapmu dingin padaku. Akan tetapi... "

Naruto tersenyum simpul.

"...fakta bahwa kita adalah keluarga tidak akan pernah berubah. Dan aku bahagia dengan hal itu. Mana juga merasa begitu, bukan?"

"…"

Dia berkedip, merasakan sesuatu di pundaknya, melirik ke kiri dan melihat kepala Mana, yang berseri dengan pandangan terarah pada langit. Naruto terkekeh.

"Sudah besar, tapi tingkahmu masih seperti anak kecil."

Mana cemberut, mengingat sesuatu kemudian berkata.

"Apa arti dari kata 'Dattebayo', Onii-sama?"

Naruto tersentak, mukanya memerah.

"Mana... "

"Canda."

Naruto menghela nafas. Hanya karena dia sering mengatakan 'Dattebayo' ketika merasa bersemangat bukan berarti dia paham artinya. Faktanya, Naruto sendiri kebingungan dari mana dia bisa tahu kata 'unik' itu.

"Ngomong-ngomong, apa kau masih punya air?"

"Sebentar."

Naruto memeriksa isi botol minumnya, keningnya mengerut sebelum beralih pada Mana.

"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali."

Mana mengangguk, melihat Naruto masuk ke dalam supermarket. Bunyi bising sirene menarik perhatiannya, dia melihat sebuah ambulan lewat.

"Permisi. Apakah kau tahu letak halte di mana?"

Mana menengok ke samping, mendapat penampilan penuh dari orang yang bertanya kepadanya; seorang gadis berambut pirang panjang dengan iris mata berwarna biru dan kulit cerah. Dia tampak membawa sebuah koper hitam besar di tangannya.

"Letak halte? Oh, dari sini kau hanya perlu lurus, nanti juga ketemu."

Gadis itu menghembuskan nafas, barangkali karena lega.

"Terima kasih."

Mana berseri.

"Sama-sama."

Ketika gadis itu pergi, Mana memikirkan sesuatu.

'Jika diamati baik-baik, wajahnya mengingatkanku pada Onii-sama.'

Sekitar sepuluh detik berikutnya, Naruto keluar dari supermarket lalu memberikan minuman kaleng rasa mangga pada Mana, yang dengan senang hati diterima olehnya. Sementara Naruto, seperti biasanya, kaleng dengan rasa jeruk. Naruto berkedip saat menyadari sesuatu.

"Mana, mungkin akan lebih baik kalau kau pulang ke rumah dulu."

"Eh, kenapa Onii-sama? Bukankah kita berjanji untuk menemani Yoshino-chan setelah ini?"

"Memang, tapi, kau lebih baik simpan belanjaanmu di rumah kecuali jika kau tidak keberatan membawa beban tambahan."

Mana [Ohh], paham apa yang dibicarakan kakaknya.

"Baiklah," ujarnya, "ngomong-ngomong, saat belanja Mana sempat beli hadiah untuk Yoshino-chan tadi."

Naruto menerima plastik dengan desain bagus dari adiknya.

"Kalau begitu Mana pulang dulu."

Setelahnya, mereka berjalan menuju arah yang berbeda, satu ke kediaman Takamiya satunya lagi ke rumah sakit.

Line Break

Mata biru gadis ini masih setia mencermati langit-langit kamar. Sudah berapa lama dia mengalami hal ini? Satu tahun? Tiga tahun? Entahlah, dia sendiri tidak ingat, dan mungkin lebih baik seperti itu. Meskipun dia merasa sudah selamanya dia tinggal di rumah sakit.

Bunyi ketukan di pintu menarik perhatiannya.

"Yoshino-chan, kamu ada tamu. Apakah tidak masalah dibiarkan masuk?"

Yoshino mengenal baik pemilik suara ini, seingatnya, dia merupakan perawat yang ditugaskan untuk mengurus segala kebutuhannya.

"Tidak… masalah."

Pintu terbuka dan seorang remaja berambut pirang menginjakkan kakinya dalam ruangan. Perlahan, senyum lemah-tapi ceria- mengembang di wajah Yoshino.

"Aku tidak habis pikir, kenapa juga orang-orang bisa tahan dengan bau obat-obatan." Dia mengalihkan pandangan pada Yoshino. "Yo, Yoshino-chan. Bagaimana kabarmu?"

"Umm... baik-baik saja."

Walau nadanya cukup kecil, dia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Mengangguk, Naruto duduk di kursi yang terletak di sebelah kasur, kemudian memberikan tas yang berisi sesuatu pada Yoshino.

"Apa ini?" tanyanya.

"Pemberian dari Mana," balas Naruto.

Penasaran, Yoshino mengeluarkan isi dari dalam tas, yang diketahui merupakan sepasang sarung tangan tema kartun kereta api biru.

"Kau suka?"

Kali ini, Yoshino mengangguk antusias, jelas sekali dia senang mendapatkan hadiah tersebut. Mengingat mereka sudah berteman semenjak kecil, tidak aneh bila Mana tahu hadiah kesukaannya.

"Um!"

Naruto tersenyum simpul.

"Syukurlah kalau kau suka. Ngomong-ngomong, cerita apa lagi yang belum kita selesaikan?"

Yoshino terdiam, memakai sarung tangan pemberian Mana lalu menunjuk meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Tanpa banyak bicara, Naruto menarik laci meja dan mengambil buku yang berada di urutan teratas, buku ini berjudul My Sassy Girl.

Naruto berkedip saat membaca judulnya.

"Novel korea, eh? Ma, ini memang kesukaan Yoshino-chan sih," ujarnya dengan nada humor.

Yoshino memerah, malu karena hobinya dibicarakan secara terang-terangan oleh Naruto. Naruto terkekeh.

"Baik, halaman pertama, berjudul 'Si Kaya dan Si Miskin'."

Yoshino menyimak setiap kalimat dari mulut Naruto, mulai dari pertemuan para karakter, konflik yang menyertai alur, latar belakang yang mengakibatkan mereka melakukan serangkaian aksi mengerikan maupun mengesankan. Semua itu disatukan dalam balutan kata yang mudah dimengerti dan nyaman ditangkap telinga.


Karena membawa pasien yang sekarat, ambulan itu melaju cepat ke rumah sakit, mengingat jalur biasa hanya akan memakan waktu cukup lama, pengemudinya membuat keputusan untuk memotong jalan melalui suatu terowongan. Beruntung, dia sempat menyalakan lampu kendaraan sehingga semuanya menjadi cukup terang.

Disamping kengerian yang dirasakannya, si sopir memaksakan diri untuk tidak peduli, sebab keselamatan pasien jauh lebih penting ketimbang rasa takutnya.

Sontak sesuatu yang berat jatuh di atap mobil, membuatnya terkejut sehingga menginjak pedal rem menyebabkan ambulan berhenti.

"Apa itu tadi?"

Saat dia menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya, pengemudi itu ditarik ke atas oleh sebuah tangan bersirip biru tua.


Di bawah kolong jembatan, empat orang mengenakan suit hitam bergaris putih dari kaki hingga ke leher dan sabuk yang dilengkapi beberapa alat canggih berkumpul. Orang pertama sekaligus yang paling tua di sana memulai pembicaraan.

"Apakah di antara kalian ada yang melihat berita siang ini?"

Orang kedua berbicara.

"Mereka berbuat ulah lagi, benar begitu?"

Kakashi mengangguk. Seperti biasanya, selain dia pasti wakilnya yang paling aktif dengan berita terkini. Walaupun tingkahnya 'sedikit' kurang ajar di luar misi, Sasori bisa diandalkan bila menyangkut informasi.

Orang ketiga, yang merupakan satu-satunya gadis di kelompok, menyeringai.

"Amazon? Heh, akhirnya. Aku lelah hidup tanpa tantangan."

Sasori mendengus, membuat gadis itu mengalihkan pandangan pada dia.

"Ada masalah?"

"Tidak ada. Hanya saja, aku menemukan sikapmu sedikit kekanakan."

"Cih, terserah apa katamu, bocah merah."

"Sekali jalang tetaplah jalang."

Kakashi beralih pada mereka, menyipitkan matanya.

"Tayuya, Sasori, kita memiliki misi jadi tahan argumen kalian untuk sementara ini."

Takut dengan tatapan yang diberikan Kakashi, Tayuya dan Sasori diam. Puas, Kakashi menengok ke anggota terakhir.

"Kiba, aku ingin kau melacak keberadaan itu."

Melaksanakan perintah Kakashi, Kiba membuka laptop-nya dan mengaktifkan fitur khusus yang menunjukkan berbagai area di kota melalui drone yang telah dilepaskan di udara. Menunggu alat tersebut menjalankan tugasnya. Beberapa saat kemudian, Kiba mengangkat kepalanya untuk memandang Kakashi.

"200 m ke utara. Aku sarankan lebih baik kita segera pergi sebelum kehilangan jejak itu."

Kakashi mengangguk, mengamati satu per satu anggotanya.

"Tim! Bergegas!" Dia berseru.

""Siap!""

Mereka berlari naik ke jalan dan masuk ke dalam van hitam, setelah pintu ditutup mobil tersebut melaju menuju tujuan.

Line Break

Sesudah menyimpan belanjaannya di kamar dan mengunci pintu rumah, Mana berjalan seorang diri di trotoar dengan ekspresi kesal. Usut punya usut, alasan kenapa sikapnya seperti ini adalah dikarenakan kesalahan kakaknya.

"Kalau saja aku tidak bawa kunci cadangan, pasti aku tidak akan bisa masuk. Dasar Onii-sama, selalu saja tak pernah berpikir matang," gerutunya.

Menghembuskan nafas, Mana terus bergerak dan tak sengaja berpapasan dengan satu keluarga yang melewatinya seraya naik sepeda. Mereka tampak bahagia dan itu mewujudkan senyum tipis di mukanya.

"Huh?"

Mana refleks mengatakan itu saat memandang ambulan yang sama seperti dia lihat sebelumnya. Anehnya, atau mungkin ini hanya perasaannya saja, ambulan itu terlihat bergerak secara liar, seakan pengemudinya sedang mabuk atau semacamnya.

'Lengah sedikit bisa-bisa dia menabrak seseorang.'

Mana tersentak, melebarkan matanya ketika melihat ambulan itu menabrak salah satu mobil sehingga menyebabkan kebakaran. Parahnya, api kemudian menyebar dan mengenai gedung terdekat. Dia mendengar seseorang berteriak.

"Siapapun cepat panggil pemadam kebakaran!"

Para penduduk yang kebetulan berada di dekat lokasi, berbondong-bondong mencari dan menyiramkan air ke arah dua objek yang dilahap api. Beberapa di antaranya ada yang terlihat menekan nomor tertentu di smart-phonenya. Menggelengkan kepalanya, Mana bergegas ikut membantu.

Di saat bersamaan, mereka melihat pintu di bagian pengemudi terbuka, lalu sosok kadal dengan sirip nyaris memenuhi sekitar permukaan tubuhnya keluar. Api 'mencoba' menghanguskan permukaan kulitnya. Namun, entah mengapa tak ada efek sama sekali ketika itu terjadi. Makhluk ini berjalan layaknya manusia saat menghampiri mereka, menyeringai dan memperlihatkan barisan gigi tajam yang sebagian telah berubah warna dengan merah.

Melihat wujudnya, beberapa warga mulai panik dan sadar 'apa' yang ada di hadapan mereka.

"Amazon! Itu Amazon!"

"Lari! Selamatkan diri kalian!"

Mana tercengang.

'Kenapa monsternya harus muncul di saat seperti ini!'

Ketika Amazon menengok ke arahnya, Mana menyadari kalau sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Tak ingin targetnya melarikan diri, Amazon menjulurkan lidahnya pada Mana. Panik, Mana berguling ke samping dan sang monster gagal menangkap 'makanan'nya. Tak menyerah, Amazon mengulang perbuatannya tapi Mana untuk kedua kalinya berhasil mengelak, terima kasih kepada keberuntungannya.

'Bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan?!'

Mana sempat melirik sekeliling sebelum melompat ke kiri untuk menghindari lidah sang monster, tak sadar berjalan mundur hingga punggungnya menabrak tiang listrik. Saat Amazon menjulurkan lidahnya lagi, Mana refleks menunduk, akibatnya lidah itu melilit tiang tersebut.

Melihat kesempatan, Mana mencoba kabur, berhenti saat sebuah van hitam datang dari arah timur dan berhenti tepat di depannya. Pintu kabin dibuka dan empat orang keluar, Mana terkejut saat menyadari salah satu anggotanya.

Line Break

"Naruto-san."

Mengangkat kepalanya dari buku, Naruto menunjukkan senyum simpul pada Yoshino.

"Ya, Yoshino-chan?"

"Umm... bisakah kau menyalakan televisi untukku?"

Naruto mengangguk, berdiri sebentar dan menyalakan televisi sebelum duduk kembali. Dia menyerahkan remot pada Yoshino, yang berseri.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Lalu, keduanya menengok ke arah pintu yang terbuka, tapi anehnya tak seorang pun masuk. Waspada, Naruto menyipitkan matanya pada itu. Namun, tahu-tahu Nagisa masuk dengan senyum lebar mengembang.

"Ciee, Naruto-kun dan Yoshino-chan berduaan."

Berkedip, Naruto sweat drop.

"Ini tidak lucu, Nagisa-san."

Karena pandangannya tertuju pada si wanita single, dia sama sekali tidak melihat kulit pipi Yoshino yang sedikit merah, mungkin menahan malu atas tingkah laku ibunya.

Nagisa terkikik, mendekati putrinya lalu memberikan kecupan di dahinya. Dia pun menyadari sesuatu.

"Are, di mana Mana-chan?"

"Dia sedang di rumah karena ada urusan." Naruto merespon. "Tak lama lagi juga dia akan sampai."

Nagisa mengangguk.

"Kau sudah makan?"

Belum sempat Naruto bicara, perutnya mengeluarkan bunyi aneh yang mengakibatkan wanita itu tertawa geli. Naruto menggaruk rambut pirangnya, terkekeh canggung.

"Aku akan keluar mencari makanan. Yoshino-chan, jika Naruto-kun berbuat sesuatu yang tidak lucu, bilang padanya banyak-banyak nonton stand-up comedy."

Melihat raut wajah Naruto yang terlihat bisa menangis kapan saja, Yoshino menutup mulutnya menggunakan tangannya. Dia diam-diam tertawa kecil.

Tak lama setelah Nagisa tiada, Yoshino kembali menyaksikan drama kesukaannya.

"Hm?"

Naruto mengeluarkan telepon genggamnya saat merasakan getaran dari saku celananya, membaca pesan yang tertera di layar.

[Unknown Number :

Dunia membutuhkan dirimu yang dulu, Uzumaki Naruto.

M].

Line Break

T-B-C

Line Break

A/N : Halo reader-san sekalian. Sebelumnya saya mau minta maaf karena telah menghapus fic saya yang alurnya macet. Oleh karena itu, saya persembahkan fic baru crossover saya ini.

Tidak seperti yang dahulu, fic ini terdiri dari beberapa sumber yang bukan hanya dari anime, tentunya yang utama adalah Naruto dan DAL :D.

Tapi yang jelas reader-san sekalian akan author beritahu saat waktunya tiba :)

Ma, until next chap jaa ne ^_^

Open Your Eyes To the Next Phase