Wherever You Are

Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio.

Warning: Family conflict, etc.

Pair: KawaHima & BoruSara, slight SasuHina.


Kyoto, 12 Februari 1996

Seorang wanita berambut indigo tampak mengusap keningnya yang penuh dengan keringat. Tangannya yang halus, kini terasa kasar akibat pekerjaannya sebagai seorang petani. Namun, ia tidak menyerah dan terus menanam jagung di ladang yang luas itu. Hingga akhirnya, ia mendengar sebuah panggilan yang menyapa telinganya.

"Hinata!" teriak seorang gadis berambut merah menyapa Hinata.

Tersenyum, Hinata pun membalikkan tubuhnya menatap wanita itu.

"Ada apa, Karin?"

Wanita yang bernama Karin itu pun menghampiri Hinata dan memegang kedua pundaknya.

"Kau giat sekali bekerjanya, Hinata. Beristirahatlah dulu, biar aku yang gantikan," saran Karin yang merasa kasihan dengan Hinata.

Hinata tersenyum tipis mendengar tawaran bantuan tersebut.

"Tidak apa-apa, Karin. Aku bisa mengerjakan semuanya," tolak Hinata halus dan ia pun kembali bekerja.

Uzumaki Hinata, seorang wanita paruh baya berusia tiga puluh tiga tahun yang harus berjuang menjadi single parents sepeninggal suaminya. Ia memiliki dua anak—laki-laki dan perempuan—bernama Uzumaki Boruto dan Uzumaki Himawari. Meskipun dirinya hidup dalam keterbatasan ekonomi, hidupnya sangat bahagia karena memiliki 2 anak yang sangat ia sayangi dan juga menyayanginya.

"Kushina-baachan, Hikari-baachan, Kaa-chan kapan pulang?" tanya seorang anak laki-laki berambut pirang dan bermata biru kepada kedua Neneknya—yang berambut merah dan biru tersebut.

Kushina tersenyum mendengar perkataan cucunya, ia pun menghampiri Boruto dan mengelus pucuk kepalanya lembut.

"Nanti Ibumu akan pulang kok, bukankah ia selalu berjanji akan kembali usai bekerja? Eh?" ucap Kushina guna menghibur sang cucu.

Jawaban Neneknya tak ayal membuat Boruto tersenyum lebar.

"Oh iya, adikmu di mana, Boru-kun?" tanya seorang wanita tua berambut nila panjang.

"AKU DI SINI, OBAA-CHAN," teriak Himawari ceria dan ia pun langsung berhambur memeluk Kushina dengan erat.

Seisi rumah langsung tertawa menghadapi keceriaan Himawari yang seolah tak ada batasnya. Meskipun rumah mereka kecil, namun mereka semua tampak bahagia sebagai keluarga. Kehangatan dan kasih sayang yang memenuhi rumah itu lah, yang membuat mereka bahagia.

"Tadaima!" sapa Hinata yang telah memasuki rumah.

Melihat sosok ibunya yang telah pulang, Boruto dan Himawari pun berlari menghampiri dan memeluk Hinata dengan erat.

"Kaa-chan!"

Hinata tertawa kecil saat merasakan kebahagiaan putra dan putrinya. Ia pun berjongkok mensejajarkan diri dengan Boruto dan Himawari. Ia pun membalas pelukan kedua putra dan putrinya seraya mengelus pipinya.

"Bagaimana tadi kalian belajarnya?"

"BAIK," sahut Boruto dan Himawari bersamaan.

Kushina dan Hikari yang menatap interaksi kedua ibu dan anak tersebut, hanya tersenyum tipis.

"Ayo kita makan! Obaa-chan sudah siapkan semuanya loh."

"Hore!"

"Boruto, Himawari, hati-hati," ujar Hinata lembut memperingatkan kedua anaknya yang tampak berlarian.

Semuanya tampak hangat, semuanya tampak ceria. Di malam yang telah memenuhi sebuah desa di Kyoto, tampak sebuah keluarga yang sangat hangat dan bahagia di tengah kesederhanaan. Semua terlihat ceria, mereka melakukan makan malam hangat ditemani oleh celotehan Boruto dan Himawari tentang sekolah mereka. Hinata yang melihat hal tersebut tersenyum tipis, bersyukur atas kebahagiaan yang menyertai keluarganya.

-TBC-