.
.
.
BSD milik Asagiri Kafuka dan Harukawa Sango.
Aku hanya meminjam karakter dari pencipta BSD untuk penulisan FF ini.
FF ini kutulis dalam rangka mengikuti Monthly FFA di bulan April
Coffee Shop!AU
.
.
.
Pertemuan pertama itu bukan hal yang spesial sampai harus dikenang seumur hidup. Perbincangan soal cokelat dan gula juga tidak masuk dalam daftar hal spesial baginya. Otaknya bekerja untuk memroses dan menyetujui semua itu. Tapi di sinilah Nakajima Atsushi, berada di depan pintu kafe Uzumaki pada tengah hari. Berdiri dengan tangan terulur di atas kenop pintu dan mendorongnya perlahan dengan ragu.
Kriing!
Sinar matahari yang sedang di puncak-puncaknya berhasil Atsushi hindari. Entah salahnya yang mengenakan setelan hitam dari leher hingga ujung kaki hingga meloloskan helaan napas tanda lega atau matahari yang kelewat terik. Yang mana saja, Atsushi bersyukur berhasil melarikan diri dari Kyouka yang mengikutinya kemanapun dia pergi.
Jas hitamnya mencuat dari balik daun pintu sebagai tanda kehadiran, diikuti tubuh ringkihnya yang perlahan menjauh dari pintu masuk dan berjalan ke arah jajaran kursi konter. Salah satu kursi di sebelah kanan dia tarik mundur perlahan, yang tetap saja, mengkhianati usaha Atsushi dan berderit keras hingga mengundang lirikan seorang pelanggan sebelum dirinya.
"Boleh aku duduk di sini?"
Pria yang diajak bicara sekaligus dimintai persetujuan itu mengerutkan keningnya. Aktivitas menyeruput kopi panasnya bahkan terhenti begitu saja persis mesin macet saking bingung karena tak habis pikir, toh ini kafe bukan miliknya, buat apa izin ke dia? Dan juga, orang macam apa yang izin buat duduk di tempat umum. Masa bodoh, pria dominan hitam itu mengangguk dengan wajah datar.
Atsushi segera saja menyambut persetujuan barusan, kaki-kaki kayu itu berderit -begitu ditarik merapati meja konter—yang lagi-lagi menginterupsi keheningan semula yang sudah sejak awal melayang di seisi ruangan. Pemuda Port Mafia itu duduk dengan tenang, berjarak dua kursi dari pria Agensi Detektif Bersenjata bernama Akutagawa Ryuunosuke.
.
Pesanan secangkir kopi hitam milik Atsushi sama sekali tak mencurigakan. Akan tetapi Akutagawa menganggapnya demikian. Semencurigakan itu sampai tak sadar kedua irisnya fokus memerhatikan gerak-gerik pria di sampingnya. Semuanya normal, persis pelanggan kafe yang menunggu pesanannya dengan bosan sambil menikmati musik jazz yang samar-samar diperdengarkan kafe. Akutagawa yang mati-matian menaruh curiga pada Atsushi seolah gelap mata terhadap hal yang jelas, perihal Atsushi sama sekali tidak ada niatan macam-macam. Termasuk kebiasaannya memasukkan lebih dari satu gula balok ke dalam minumannya yang tanpa sengaja; Akutagawa mengetahui bahwa itu adalah gula balok kelima yang dicemplungkan ke dalam kopi.
"Ng?" Atsushi baru sadar dirinya diperhatikan. Kedua warna kontras; hitam dan nila itu bertabrakan, yang segera saja Akutagawa hindari sekalem mungkin. Sial sekali, Akutagawa jadi canggung akibat salah tingkah. Terlanjur tertangkap basah memerhatikannya dikira-kira bakal membuahkan salah paham dari pihak seberang. Memikirkannya saja membuat Akutagawa semakin cepat menenggak kopi hitamnya.
"Ada apa?" Atsushi akhirnya bertanya, gula batu keenam barusan dicemplungkan, kemudian diaduk rata menggunakan sendok kecil.
"Harusnya saya yang bertanya, buat apa eksekutor penting Port Mafia datang kesini?"
Pertanyaan langsung ke inti tanpa basa basi itu tak serta merta dijawab oleh Atsushi. Pria itu mengangkat cangkir kopinya lantas menyeruput isinya, "Kemanisan…" lenguhnya lirih.
"Aku hanya ingin berbincang denganmu, Akutagawa-san. Sejak bos melompat dari gedung, terlebih tepat di hadapan kita berdua … rasanya aneh berlama-lama di ruang eksekutor."
Hening membalas ucapan Atsushi. Apa sebegitu curiganya Akutagawa sampai-sampai mengabaikan jawaban dari pertanyaannya sendiri? Atsushi yang diacuhkan alih-alih tersinggung justru agak kagum pada keteguhan Akutagawa, meski rasanya salah jika kagum pada keteguhan yang bertujuan mengabaikannya.
"Hey, apa kopi tanpa gula seenak itu?"
Akutagawa menjauhkan bibir cangkir yang sejak tadi bertengger di mulut, menoleh dan mengangguk singkat, kedua iris hitamnya menatap Atsushi, "Saya menyukainya."
"Hmm. Kalau begitu, tolong secangkir kopi lagi." Pesanan Atsushi yang tak sampai berjarak lima menit dari sebelumnya ditanggapi dengan cekatan oleh manajer kafe. Dalam lima menit berikutnya, secangkir kopi pekat dengan kepulan uap tersaji di hadapan Atsushi yang disambut anggukan berupa ucapan terima kasih tersirat, pun turut dibalas gestur persis oleh manajer kafe.
Alih-alih mencicipinya, Atsushi justru mendorong kopi manis miliknya ke hadapan Akutagawa.
"Kayaknya seru, 'kan? Mencoba selera masing-masing dari kita." Atsushi mencetuskan ide konyol dilengkapi seulas senyum yang justru memperburuk ekspresi Akutagawa layaknya bertemu anjing, "Tidak ada salahnya kan? Lagipula kau sedang nganggur kelihatannya."
"Tidak, terima kasih."
Ah, Atsushi yang ditolak mentah-mentah langsung dibuat kicep. Sama sekali gak bagus, selama ini kemampuan sosial maupun komunikasinya amat buruk, mentang-mentang hanya memanfaatkan senjata untuk segala tindakan, memikirkan gertakan bagus rasanya amat sulit bagi Atsushi, dan Akutagawa kelihatannya gak se-impulsif Nakahara-san untuk digertak agar terpancing.
Dan detik berikutnya derit lemah menjadi pemberitahuan bahwa si penghuni kursi—Akutagawa—bersiap-siap beranjak pergi yang sontak saja, Atsushi tahan dengan menarik ujung jasnya, "Aku bilang bahwa aku ingin berbincang denganmu."
"Lalu?"
"Bukan dengan tuan barista, tapi denganmu, Akutagawa-san."
Akutagawa menekuk alisnya heran. Cengkeraman Atsushi yang mengerat entah bagaimana membuat lidahnya kelu untuk bilang 'tidak' dan kedua iris nila yang menatapnya lekat itu membuat lehernya kaku untuk sekadar menggeleng.
Hening berlatar musik Lo-Fi kian membuat Akutagawa muak akan perasaan tidak berdaya di hadapan musuh bebuyutannya. Yang sebenarnya hanya Akutagawa seorang yang sedang menyangkal fakta bahwa tidak ada perasaan benci sepeserpun terhadap Atsushi.
Junior Agensi itu menghela napas berat dan akhirnya kembali duduk di tempatnya, Akutagawa menyerah, "Hanya tiga puluh menit." Dan memberi pengecualian pada Atsushi, hanya karena hari ini dia bebas tugas. Hanya itu.
Yang membuat Akutagawa sebal adalah, Atsushi malah menggantung jawabannya. Kopi manis yang sebelumnya berada di hadapan Akutagawa kini berpindah ke dua tangan Atsushi yang tengah menyeruputnya.
"Berlama-lama di ruang eksekutor memang aneh sekarang," Topik pertama dibuka begitu kopi manis tadi ternyata sudah habis dan menyisakan cangkir kosong di atas meja konter. Akutagawa tak berniat menjawab atau menyela, jadi diam dan menyimak adalah satu-satunya pilihan.
"Tapi kayaknya gak lagi, semoga saja."
"Maksudmu?"
"Aku bakal ikut Mori-sensei setelah ini." Dirasa soal kematian palsu Mori Ougai tidak perlu dibahas, Atsushi memilih diam setelahnya. Membiarkan waktu yang menunjuk giliran Akutagawa untuk membalas atau bahkan bercerita juga ditunggu dengan sabar oleh Atsushi.
"Semoga beruntung." Terserah, Akutagawa tidak bisa disalahkan soal betapa buruknya dalam menanggapi orang lain. Akutagawa Gin yang dulu sering berkeluh kesah padanya pun ditanggapi ala kadarnya, barangkali "Hm" atau menatapnya tanpa jeda sebagai bukti bahwa dia memerhatikan. Persis saat ini, saat iris hitamnya terus memerhatikan Atsushi lamat-lamat.
Biasanya dengan tindakan remeh itu Akutagawa bisa menyelesaikan semuanya dengan lancar-
"Pfft-"
-atau tidak sama sekali. Akutagawa melongo dengan wajah datar menahan kebingungan. Atsushi yang malah berekspresi ria dalam seperkian detik sudah terbahak di tempat. Bahkan perutnya dipegangi, dan tubuhnya membungkuk bergetar.
Apa? Apa Akutagawa sekuno itu sampai tidak tahu bahwa kalimat 'Semoga beruntung' adalah candaan yang sedang tren? Demi apapun, Akutagawa ingin menghajar Atsushi yang sekarang menyeka air matanya.
"Maaf, aku bukan bermaksud menyinggungmu. Tapi kalimat 'Semoga beruntung' apa tidak aneh dikatakan dengan wajah datar?" Sebenarnya Atsushi juga tidak ada bedanya. Tahu apa pria yang lahir di sisi gelap dunia soal ekspresi selain serius, marah, puas dan frustasi? Tapi menertawai hal remeh yang terhitung konyol dan asing ternyata mengasyikkan. Menyelesaikan misi dan mendapat pujian dari Dazai Osamu setidaknya bukan lagi patokannya untuk tersenyum.
Akutagawa yang terlanjur malas memilih memalingkan wajah sekaligus bersedekap. Matanya menyipit tanda kesal ditertawakan. Meski rasanya tidak seburuk digigit anjing, Akutagawa sama-sama membencinya.
"Ah … tolong jangan marah, Akutagawa-san. Bisa repot kalau pertemuan terakhir kita berakhir dengan musuhan."
Siapa juga yang berkata Port Mafia dan Agensi Detektif Bersenjata itu bukan musuh? Dan sekarang tidak ada gencatan senjata. Akutagawa jadi yakin terhadap dugaannya kalau Atsushi itu hanya bawahan tak waras yang memakai nama Port Mafia sebagai titel.
"Lupakan. Masih ada dua puluh menit. Kalau hanya itu, saya permisi."
Atsushi senyum pasrah, memang hanya itu yang ingin dibicarakan, waktu itu penting, kata bos. Dan sekarang dirinya tengah menyita waktu seseorang, "Baiklah, terakhir, boleh kuganti panggilan Akutagawa-san jadi Ryuunosuke?"
"…Maaf?" Ini ketiga kalinya kening Akutagawa berkerut, lagi-lagi perkataan tak terduga dari Atsushi memacetkan aktivitasnya, pun berhasil menyadarkan Akutagawa soal musik klasik, jazz, dan Lo-Fi yang disetel manajersejak awal. Keheningan yang canggung bagi Akutagawa direbut begitu saja oleh Atsushi yang memasang pose berpikir dan berkata riang,
"Baiklah, ayo taruhan."
"Aku tidak ing-" "Kalau aku bisa menghabiskan secangkir kopi pekat tanpa gula, aku akan memanggil Akutagawa-san dengan nama depan."
Keempat kalinya, kening Akutagawa berkerut. Atsushi yang bersikeras untuk merealisasikan ide konyolnya betulan bikin Akutagawa pusing tak habis pikir.
"Setuju?"
"Sesukamu."
Sorakan tunggal milik Atsushi menjadi begitu ramai dan berisik di telinga Akutagawa, kopi hitam yang terlupakan sejak tadi sudah berhenti mengepulkan uap. Disinyalir sudah mendingin, Atsushi meminta manajer untuk memanaskan kembali kopi dinginnya.
Akutagawa sama sekali tak menaruh minat pada taruhan sepihak milik Atsushi yang dianggap sebagai bentuk kebosanan sang eksekutor membuat Akutagawa menopang dagunya dengan tangan kiri.
"Silakan." Kopi dingin itu terasa hidup kembali begitu disajikan dengan uap yang mengepul. Atsushi meraih cangkir penuh itu dengan kedua tangan dan mengendusnya pertama-tama.
"Pahit..."
"Kau bahkan belum meminumnya."
"Aku tahu!" Atsushi menatap kesal Akutagawa sekilas, yang kemudian kembali pada cairan hitam di dalam cangkirnya. Atsushi memejamkan mata erat-erat lantas buru-buru menenggak kopinya.
Akutagawa dan manajer sama-sama memerhatikan usaha lucu Atsushi. Menaklukkan kopi pekat untuk pertama kalinya tanpa pengalaman kopi dengan sedikit gula sama saja mengundang perasaan ogah minum kopi untuk kedepannya.
Benar saja, baru dua tiga teguk, Atsushi buru-buru menjauhi bibir cangkir dan mengelap sisa kopi di mulut, "Parah, seleramu benar-benar aneh, Akutagawa-san…"
"Pfft-" Akutagawa menutup mulutnya dengan kepalan tangan kanan. Atsushi sama sekali acuh dengan gelagat Akutagawa, cangkir dengan tiga per empat isinya itu bergoyang-goyang kala cangkirnya diayun pelan oleh Atsushi yang bermaksud meratakan ampas kopi yang mengendap di dasar.
Bibirnya kembali bertemu dengan bibir cangkir yang pekat dengan kopi. Atsushi serasa ingin menyesali taruhan konyolnya. Tapi rasanya memalukan baginya menarik perkataannya sendiri. Seteguk demi seteguk kopi itu mengaliri kerongkongannya yang mulai terasa asam.
Kali ini lima teguk berhasil diraih, lagi-lagi Atsushi menjauhkan cangkirnya. Pahit dan asam bercampur padu di seisi mulut dan kerongkongannya. Liurnya terasa mengental dan mengasam, kalau ini rasa kopi sesungguhnya, besok Atsushi bakal memasukkan sepuluh gula balok ke dalam kopinya. Wajah Atsushi agak mencerah begitu mendapati isi cangkirnya tinggal seperempat kurang lebih, lagi-lagi cangkir itu diayun lagi guna mencampur ampas yang mengendap.
"Yosh!" Atsushi serasa mendekati kemenangan, sedangkan Akutagwa di sebelah menatap tak percaya. Nama depannya terancam. Padahal nama depannya khusus untuk orang-orang yang akrab, misal, Gin.
Dengan Atsushi memanggilnya dengan nama Ryuunosuke, sama saja …
Akutagawa mendadak enggan melanjutkan teori logis yang masih berputar dalam kepalanya. Sekelebat bayangan Atsushi yang sok akrab, senyum riang, merangkulnya, memanggilnya dengan nama depan membuatnya lagi-lagi ngeri seperti melihat anjing.
"Fuah!"
Cangkir kosong itu berdenting nyaring begitu diletakkan dengan kasar ke atas meja konter. Atsushi tersenyum bangga ke arah Akutagawa, tidak, Ryuunosuke.
Ryuunosuke adalah panggilan barunya.
"Aku berhasil! Lihat? Ah, aku yakin kalau Kyouka tahu, pasti dia akan tepuk tangan." seruan sekaligus eksprektasi Atsushi justru terealisasi lebih cepat oleh manajer yang bertepuk tangan beberapa kali sebagai apresiasi, manajer tahu betapa kuat pendirian seorang Port Mafia di hadapannya, untuk menghadapi pahitnya kopi, layaknya bahaya yang nanti akan menghadangnya di masa depan.
"Selamat untuk anda, tuan."
Sore pukul tiga, kafe Uzumaki menjadi saksi bagaimana hubungan antar anggota Port Mafia dan Agensi Detektif Bersenjata terjalin begitu saja. Saksi bagaimana Atsushi tertawa riang untuk pertama kalinya. Menjadi panggung dengan lembayung hangat dari kaca jendela yang persis menghadap barat, membuat seisi kafe menjadi jingga, termasuk wajah kedua pria itu.
"Aku harap kita bisa akrab, Ryuunosuke."
.
.
.
Tamat.
.
.
.
A/N : Haiiii dah lama aku ga post cerita ya? Maafin author males ini ya. Ini cerita gaje banget emang, huhuhu. Tapi gimana juga aku tetep ngerasa puas sama hasilnya, semoga kalian juga puas ya! Seenggaknya usaha aku begadang ngetik sampai jam setengah 4 pagi gak sia-sia banget hehehe. Sebenernya sempet khawatir ini OOC, tapi berhubung banyak yang ga tau soal karakteristik mereka berdua di Beast, aku pikir ya udah lah ya, hajar aja.
Special Thanks buat guru aku, Synstropezia yang bantuin koreksi ide ini, buat reauvafs juga yang secara ga langsung nebar inspirasi, dan Vira yang banyak menginspirasi aku juga. Oh iya, buat tumblr juga makasih banget hahaha.
Sekian dari aku, makasih yang udah mau baca, apalagi fav dan review, bye bye!
