Figuran

Chapter 1 : That Girl

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino


Put your hand in mine

You know that I want to be with you all the time

You know that I won't stop until I make you mine.

Public ~ Make You Mine


Sekolah masih terlalu sepi, dan Kiba mendesah lelah ketika mengetahui fakta bahwa dia mungkin adalah murid yang datang paling awal pagi ini. Shit, salahkan Naruto yang ngotot mengajaknya main basket pagi-pagi dan kali ini bocah pirang itu membatalkannya sendiri dengan alasan tengah diare. Yeah, merutuk pun tidak ada gunanya, dan kembali pulang rasanya terlalu tanggung.

Ketika ia sampai di jajaran loker, Kiba menyaksikan seorang cewek pirang membuka loker Sasuke. Bukan apa-apa, tapi rasanya tidak nyaman saja melihat ada orang lain tiba-tiba menjamah tempat pribadi temanmu, bukankah begitu? Jadi ia berusaha melangkah sepelan mungkin, ingin tahu apa yang dilakukan cewek itu. 'Oh, bunga mawar'. Ia membatin, dan lagu make you mine milik public yang tengah mengalun dari earphonenya mendadak terlupakan.

"Ahem." Cowok itu sengaja berdehem, dan diam-diam menikmati keterkejutan parah dari lawan bicaranya. "Well, jadi kau si misterius yang selalu memasukkan bunga ke loker Sasuke?"

Sorot panik terbentuk dalam kubangan biru jernih si pirang. "Jangan bilang, ku mohon jangan bilang. Jangan bilang, ya." Tangannya menyatu di depan wajah, sedikit gemetar karena panik

Untuk beberapa saat, Kiba malah bingung harus bagaimana. Ia sempat berpikir dugaan Sasuke mengenai Shion yang diam-diam menjadi pengagum rahasianya adalah kebenaran, tapi ternyata Yamanaka Ino lah si pelaku yang sesungguhnya. "Bukan urusanku juga." Ia mengedikkan bahu dan berlalu menuju lokernya.

"Aku nggak siap ketahuan, jangan bilang ya." Suaranya pelan, penuh ketakutan dan permohonan.

Inuzuka mendecak, ada senyum tipis yang terulas di bibirnya sebelum mengambil buku paket biologi dan kembali menutup loker. "Apa gunanya memberikan bunga semacam itu, pada akhirnya bungamu juga akan dibuang." Dia memperhatikan ekspresi kecewa di wajah Yamanaka, tapi sama sekali tak menaruh minta atau bahkan simpati. Lagipula meskipun Sasuke tahu soal ini, cowok itu juga akan mengabaikannya. "Dekati dia, dan katakan yang sebenarnya."

"Ta-tapi--"

"Kalau misal dia tidak memiliki perasaan yang sama, setidaknya kau tahu jika aktivitasmu selama ini percuma." Ada helaan napas pelan sebelum melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.

Kiba tidak heran jika banyak yang menyukai Sasuke. Uchiha muda itu populer, dia adalah kapten tim basket, tampan, dari keluarga yang berkecukupan dan segala yang dia miliki adalah hal yang diinginkan banyak orang. Tapi sejujurnya Kiba sanksi jika Yamanaka Ino bakal mendapat perhatian dari Sasuke karena aksi mengirim mawar merah secara diam-diam. Yeah, apapun itu, semua ini tidak melibatkannya dalam apapun.


Apa yang awalnya luput dari pengawasannya, sekarang mulai ia pahami. Mana ia pernah memperhatikan jika Ino selalu ada dalam deretan siswa-siswi yang menonton latihan tim basket mereka. Harusnya Kiba tidak perlu terkejut, namun entah bagaimana tatapannya malah sering brtumbuk dengan biru jernih iris si pirang. Itu membuatnya tidak nyaman.

"Bro, bagaimana sih rasanya punya pengagum rahasia?" Inuzuka sedikit meringis ketika menyaksikan Sasuke melempar bunga mawar dari lokernya ke tempat sampah.

"Apa ya, aku nggak bisa mendeskripsikannya." Dia tertawa pelan. "Tapi yang jelas memuakkan." Tangannya menepuk bahu Kiba. "Jangan bilang kau tidak merasa seperti itu."

Si rambut coklat mengedikkan bahu. "Aku nggak punya pengagum rahasia Man."

Uchiha mengerling sekitar, dan rasanya ini memang sudah terlalu sore, karena tak seorang pun siswa berkeliaran di sekitar situ. "Bagaimana dengan Karin? Dia kelihatan begitu mengidolakanmu."

"Astaga, dia bukan pengagum rahasia, tapi perusak suasana." Ia memutar bola mata, disusul tawa terhibur dari Sasuke.

"Yeah, intinya aku berharap semua ini dari Sakura. Tapi ternyata cewek Haruno itu nggak melakukannya." Ada desah kecewa yang ditutupi dengan senyum tipis.

"Ayolah Bro, perasaanmu bakal terbalas, tenang saja." Tatapan Kiba teralihkan ke ambang pintu, dimana Uzumaki Naruto sudah berdiri disana dengan bola basket yang tergenggam di tangannya.

"Sudah mau pulang?" Tanya si pirang, kakinya mulai melangkah ke arah dua temannya yang mematung di depan loker.

"Yeah, ini sudah hampir malam, kau nggak berniat jadi penjaga sekolah kan?" Sasuke mengangkat alis, dan menyaksikan si lawan bicara malah mengedikkan bahu.

"Kupikir kita punya beberapa menit lagi untuk melanjutkan latihan."

"Ayolah Man, kalau sudah menyangkut basket biasanya kita suka lupa waktu. Makanya lebih baik kita segera pulang, kurasa sebentar lagi bakal hujan." Inuzuka memasukkan beberapa buku paket ke dalam loker sebelum kembali mengaitkan ransel ke pundaknya.

"Uhm, Kiba benar. Kita lanjutkan besok saja. Lagipula turnamen masih beberapa bulan lagi, dan tubuh kita juga perlu istirahat." Cowok berambut gelap itu mulai menutup lokernya, menatap Naruto dengan pertanyaan 'kau tidak ikut pulang juga?'

"Okelah, mungkin aku terlalu bersemangat saja." Dia membuka lokernya dan memasukkan bola basket ke dalam sana. Tak ada buku dalam loker Naruto, tak ada apapun kecuali sepatu olah raga dan sedikit ruang kosong. "Aku akan pulang juga kalau begitu.

"Memang sebaiknya begitu Bro." Inuzuka mengulas senyum tipis sebelum melambai rendah. "Oke, aku duluan ya. Sampai jumpa besok." Setelah mendapatkan anggukan dari dua temannya, kaki panjangnya segera melangkah meninggalkan tempat itu.


"Astaga Man, siapa sih yang mau repot-repot meletakkan mawar di lokermu?" Naruto meringis ketika melihat Sasuke melempar tangkai mawar ke tempat sampah. Meski tidak mengalaminya sendiri, tapi agak ngeri juga melihat cowok Uchiha itu tiap hari mendapat kejutan mawar merah di lokernya.

"Entah, aku sampai bingung harus melakukan apa untuk menghentikan hal ini." Sasuke menghela napas pelan. Berusaha tampak tenang, meski gurat frustasi yang tipis terulas di wajahnya.

Kiba bahkan sampai menghentikan gerakan mengetikkan sebaris pesan pada sang ibu karena Sasuke menatap ke arahnya. Bukan apa-apa, tapi ia agak tidak nyaman karena tahu siapa pelaku sebenarnya. "Bukannya kau sudah terbiasa dengan hal semacam ini? Abaikan saja lah, mungkin orang kurang kerjaan ini pada akhirnya akan berhenti jika tak mendapat respon."

"Kupikir bakal begitu, tapi kau tahu sendiri sudah berapa lama ini berlangsung. Yeah, orang ini sepertinya nggak mau berhenti. Setidaknya berikan nama asli, jangan membuatku bertanya-tanya dan berpikiran yang tidak-tidak." Sasuke membanting lokernya, tak peduli dengan beberapa pasang mata yang sedikit terganggu dengan ulahnya. "Setidaknya aku bukan satu-satunya yang punya pengagum menjengkelkan." Iris hitamnya mengarah ke belakang Kiba, membuat cowok Inuzuka itu segera menoleh.

"Oh astaga." Kiba mendesah, pundaknya seolah jatuh ke dasar perutnya ketika melihat Karin berjalan ke arahnya.

"Ku tebak dia akan mengajakmu makan siang." Tawa pelan Naruto mengalun, sementara Sasuke hanya mendengus.

"Kali ini ku bantu kawan." Uchiha berbisik pelan, dan mengambil ancang-ancang untuk meraih pundak Kiba.

Dan benar saja, langkah kaki cewek berambut merah itu berhenti tepat di hadapan mereka. Sembari tersenyum lebar, dia berujar. "Mau ke kantin bersamaku Kib?" Cowok lain pasti langsung mengiyakan ajakan itu, soalnya Karin kan lumayan populer, dia juga salah satu anggota klub voli cewek. Tapi tetap saja, kadang jalan dengan orang yang membuatmu tidak nyaman tetaplah menjengkelkan.

"Ups sorry, kami mau latihan basket." Sasuke menarik Kiba lebih dekat ke arahnya. "Bukan begitu Kib?"

"Uhm, yeah." Tidak tahu harus merespon bagaimana, jadi Kiba menuruti saja rencana Sasuke.

"Ayo sobat, kita harus segera menuju lapangan basket." Naruto memasang senyum lebar dan mengeluarkan bola basket dari lokernya. "Gaara dan Sai pasti sudah menunggu di lapangan." Bersandiwara ataupun tidak, semangat Naruto tetaplah besar kalau sudah menyangkut basket.

"Oh, begitu. Ya sudah." Ada gurat kecewa yang terpancar dari wajah cewek itu. Namun detik berikutnya senyumnya kembali terulas. "Sampai jumpa Kiba, semoga harimu menyenangkan." Tangannya melambai sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Ketiganya mengawasi Karin sampai cewek itu berbelok dan hilang dari pandangan.

"Cewek itu punya body yang bagus Man." Uzumaki bersiul pelan, dan membuat keduanya memutar bola mata. Itu kan bukan rahasia lagi.

"Kencani saja kalau begitu." Kiba memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. "Dan jangan lupa Bro, sudah berapa cowok yang pernah tidur dengannya."

Tawa Sasuke membuat Naruto kesal dan memasukkan kembali bola basketnya ke dalam loker. "Well, aku kan cuma berkomentar Man."

"Yeah, aku tahu. Tapi guyonan Kiba terlalu sayang kalau nggak ditertawakan." Dia menghela napas, berusaha mengatur napasnya yang berantakan karena tawa. "Aku jadi penasaran siapa si peneror ini." kerlingan matanya mengarah pada tangkai mawar di tempat sampah, bukan karena iba, tapi lebih ke arah kesal.

"Tulis saja surat untuk pengagum rahasiamu ini, ajak dia ketemu."

Saran Naruto membuat Kiba diam-diam khawatir. Dia tidak paham khawatir karena apa, tapi ia yakin jika rencana ini tidak akan berakhir lucu jika Ino tertangkap oleh keduanya. "Buang-buang waktu saja menemui orang kurang kerjaan itu.

"Tapi ide Naruto brilian." Ia menatap Kiba dengan sudut matanya, agak heran dengan tingkah Kiba yang tak seantusias biasanya. "Aku benar-benar penasaran siapa orang dibalik semua ini."

"Kalau begitu tulis saja, 'mari bertemu di lapangan basket pukul 4 sore'. Dan jangan lupa, menuliskan 'untuk pengagum rahasiaku'." Semangat Naruto kembali muncul, dan seringainya tak ketinggalan. "Mungkin dengan begitu dia bakal berani menampakkan diri di depanmu."

"Ish, kau membuatku merinding." Bulu kuduk Sasuke berdiri, dan meskipun ucapan Naruto tadi sepenuhnya guyonan, ia tetap menyikut perut si pirang itu hingga membuatnya memekik.

"Kurasa itu bukan ide bagus." Kiba mengedikkan bahu, lagipula ini bukan urusannya tidak seharusnya ia khawatir. Tapi tetap saja ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


Kiba pikir, Ino tidak akan mengubris permintaan Sasuke yang mengajaknya bertemu di lapangan basket. Karena Ino yang pemalu dan penakut itu mana mungkin berani menuruti perintah itu. Tapi ia salah, nyatanya ketika ia sampai di lapangan basket pada pukul 15.45, Ino ada disana. Menatap sekitar dengan pandangan gelisah, seolah cewek itu sendiri ragu menampakkan diri disana.

Yeah, ngapain dia ada disana. Bikin suasana makin tegang saja.

Kiba mendesah pelan, bukan hal bagus jika Naruto maupun Sasuke melihat Yamanaka disana. Karena meskipun Sasuke adalah cowok baik dan idola banyak cewek, bocah itu tak segan-segan mempermalukan orang lain yang membuatnya kesal ataupun tak nyaman. Jadi sebelum si pirang itu jadi korban, sebaiknya ia segera memperingatkan.

"Hei, Yamanaka." Dengan tas ransel yang mengait sebelah pundaknya, Kiba melangkah ke arah Ino dan membuat cewek itu terkejut parah.

"Eh, Inuzuka?"

"Menunggu Sasuke?" Dia mengangkat alis, secara tak langsung berusaha melindungi cewek itu dari sengatan panas matahari.

"Uhm, itu, maksudku--"

"Ada cara yang lebih bagus untuk menunjukkan perasaanmu. Kusarankan, jangan menemui dia hari ini. Suasana hatinya sedang nggak bagus." Kiba berusaha meyankinkan Ino, dan ia sendiri mulai was-was dengan kedatangan Sasuke.

"Tapi kau sendiri yang bilang jika aku harus menyampaikan perasaanku di depan Uchiha." Meski tampak ragu, sorot mata cewek itu seperti tak gentar dengan apapun.

Itu benar, tapi kali ini ada Naruto juga yang ambil bagian sebagai penonton. Dan itu bukan hal bagus. "Dengar Yamanaka, mungkin aku memang menyarankan hal itu. Tapi Sasuke nggak datang sendirian sore ini. Ada banyak anak yang akan menyaksikanmu, kau mau dilihat semua orang saat menyatakan perasaanmu?" Manik coklatnya mengamati lekat-lekat cewek mungil yang hanya setinggi bahunya itu. "Kau tahu, aktivitasmu yang mengirim bunga mawar merah itu benar-benar nggak romantis, malah terkesan seperti teror."

Cewek itu mengerjap, sekali, dua kali, tampak berpikir dan mempertimbangkan aksinya kali ini. "Tapi Inuzuka--"

Kiba mengerling sekitar, sembari memikirkan cara apa yang mampu membuat Ino berhenti keras kepala dan mau menuruti permintaannya. "Kuberi tahu cara yang bagus."

"Artinya, kau mau membantuku?" Untuk pertama kalinya ia merasa Inuzuka Kiba ternyata lumayan ramah ketimbang yang dibicarakan teman-temannya.

"Aku nggak bilang begitu."

"Ayolah, Inuzuka. Please." Tangannya menyatu di depan wajah, dan sorot mata memohonnya mengingatkan Kiba pada anak anjing peliharaannya di rumah.

Cowok Inuzuka itu mendengus. "Aku akan dapat apa jika bersedia membantumu?" Dia berjalan pelan keluar lapangan, dan cewek disebelahnya mengekor dengan tatapan mendongak dan ekspresi berpikir keras.

"Apa ya?" Ino bahkan tak sadar jika dia telah keluar dari arena basket, namun mengikuti saran Inuzuka rasanya lebih menjanjikan. "Aku akan membawakanmu bento setiap hari, bagaimana?"

"What? Bento?" Kernyitan di keningnya makin nyata ketika si pirang yang mengekornya mengangguk. Ah, yang benar saja. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ia bahkan tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkankan sebagai imbalan.

"Ayolah, kumohon Inuzuka." Sorot mata anak anjingnya kembali tampak, dan demi Tuhan, itu membuat si lawan bicara seolah tak berkutik.

"Uhm." Cowok itu tampak berpikir sebentar, mengabaikan beberapa pasang mata siswi yang mengamati keduanya. Tapi mungkin cewek ini bisa membuatnya menghindar dari Karin. Bisa saja Karin bakal menjauhinya ketika tahu ia dekat dengan Yamanaka. Boleh juga dicoba. Lagipula melihatnya terus-terusan memohon membuatnya tidak tega. "Setiap hari?"

"Ya, setiap hari." Biru jernih matanya menampakkan kesungguhan.

"Oke."

Dari satu kata itu Ino merasa dunianya seolah meledakkan ribuan confetti tak kasat mata, dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, Kiba seolah jadi malaikat penolong dadakan. "Terima kasih Inuzuka."

"Yeah." Belum sempat ia mengalihkan tatapan dari cewek itu, suara Naruto tiba-tiba mengusiknya.

"Kiba, kau nggak latihan?" Cowok Uzumaki itu tidak sendirian, di belakangnya ada Sasuke, Gaara dan Sai. Keempat cowok itu menatap aneh ke arah Kiba, well, tentu saja kehadiran Yamanaka menimbulkan tanda tanya.

"Ya, aku sebentar lagi kesana. Ada sedikit urusan." Sejujurnya ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, tapi kelihatannya mempertahankan sikap tenang rasanya lebih baik.

Sasuke bersiul, dan itu membuat keberanian Ino menciut. Yeah, sejak awal ia tak memiliki kepercayaan diri yang bagus untuk tampil di depan Sasuke. Tapi beruntungnya ada Kiba yang membuat suasana tidak secanggung yang ia pikirkan.

"Oke, kami duluan." Sasuke berjalan lebih dulu menuju tempat latihan basket, sementara ketiga temannya mengekor di belakang.

Sembari mengangguk pelan, Kiba menyaksikan Naruto yang mengerlingnya curiga. Entah apa yang dipikirkan bocah pirang itu, ia tak cukup peduli. "Well, kau bahkan nggak punya nyali berdiri di hadapan Sasuke." Ia terkekeh pelan, dan cewek di hadapannya seolah menghela napas lega karena sosok Uchiha sudah berlalu dari hadapan mereka.

Ino tak menjawab, karena ucapan Kiba sepenuhnya benar. "Uhm--"

"Ya sudah, aku mau latihan basket." Cowok itu berbalik arah, berjalan meninggalkan Ino dengan selip senyum yang masih tersisa di ujung bibir. "Sampai jumpa Yamanaka."

Sementara lawan bicaranya berlalu, Ino hanya terpaku menatap punggungnya yang kian menjauh. Astaga, apa ia yakin ini bakal jadi cara yang bagus untuk bisa mendapatkan hatinya Sasuke? Tapi Kiba kan teman dekat cowok Uchiha itu, dia pasti tahu seluk-beluk Sasuke dan barangkali itu bisa membantu. Yeah, semoga saja. Karena mendadak ia sedikit ketakutan dengan rencana ini.

tbc

Gara-gara adekku yg sering banget puter lagunya public yg make you mine itu, tiba2 kepikiran bikin fic remaja dg romance tipis2.

Yeah, mungkin kek nggak nyambung gitu sama lagunya.

~Lin

23 Maret 2020