Destiny Emperor

By :TheArkantor

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Date a Live © Koshi Tachibana

Serta elemen-elemen anime lain yang ada disini, semua disclaimer pengarangnya

Rate : M (for blood, gore, adult, etc)

Genre : Fantasy, Romance

.

.

.

Chapter 1 : Reason fo Life

.

.

.

Naruto Tokisaki, hari ini ia sedang dalam suasan hati yang buruk. Ia berdebat panjang dengan gurunya, dan meski ia benar secara realita, ia tetap ditendang keluar kelas karena melawan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ia menghentakkan kakinya keras selama perjalan pulang sambil meremas koran-koran yang baru saja ia beli di perjalan pulang.

Naruto masuk kedalam rumah besarnya sambil menenteng tas kecilnya sambil membawa beberapa buah koran yang kelihatan lusuh.

"Naruto, bagaimana pelajaranmu hari ini?" Tanya seorang wanita berambut hitam yang sedang duduk di meja makan dengan secangkir tehnya. Mendengar itu, anak berambut hitam bernama Naruto itu hanya mendengus kesal. "Hanya berisi orang-orang naif yang terus mendengungkan keadilan saja, aku akan makan nanti saat adikku sudah pulang," Balas Naruto menaiki tangga.

"Dinginnya... Mengapa suasana hatinya selalu seperti itu? Apa aku salah memberinya pelajaran terkait hukum sejak dini? Dia memang jenius, namun aku rasa aku merenggut masa kanak-kanaknya..." Gumam wanita itu dengan nada menyesal.

Sampai di kamarnya, Naruto meletakkan tas kecilnya serta beberapa korannya diatas tempat tidur. "Semakin aku mempelajari tentang keadilan, semakin aku tidak menemukan keadilan itu sendiri, semuanya hanyalah orang-orang busuk," Gumam Naruto mulai membuka-buka korannya. Dia adalah seorang anak SMA, meskipun umurnya bahkan baru menginjak sepuluh tahun. Berkat kejeniusannya dan tingkat kesejahteraan orang tuanya, potensinya berkembang pesat.

Ia melewati sekolah dasar dan menengah pertama dengan sangat mulus, bahkan ia akan segera di wisuda tahun depan jika aktivitas sekolahnya lancar. Meskipun begitu, Naruto tidak tertarik sedikitpun pada apa yang ia pelajari saat ini, ia hanya mempelajarinya karena ia ingin suatu saat ia bisa menemukan keadilan sejatinya. Bisa dikatakan, selain keadilannya sendiri, Naruto tidak peduli pada keadilan orang lain.

"Onii-san! Aku pulang!"

Wajah seriusnya melunak dan mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang memasuki kamarnya. Seorang gadis kecil berambut hitam legam yang dikucir dua. "Kurumi! Aku sudah menunggumu!" Ujar Naruto tersenyum melihat kedatangan adik kecilnya itu.

"Onii-san! Ayo! Kita segera berangkat! Kau sudah janji padaku bukan?" Ujar gadis kecil itu menarik-narik Naruto yang bahkan belum berganti seragam. Naruto mengangguk sambil menutup korannya. Ia memegang tangan gadis berumur tujuh tahun itu dan pergi keluar kamar. "Naruto, Kurumi, mau kemana kalian?" Tanya seorang pria berambut coklat gelap. "Tou-san! Nii-san sudah berjanji mengajak Kurumi ke festival hari ini!" Ujar gadis kecil bernama Kurumi itu.

"Jangan pulamg terlalu malam, satu lagi, jaga adikmu baik-baik, Naruto!" Ujar Pria itu sambil membawa secangkir kopinya ke ruang kerjanya. "Hai-hai, Kuso Tou-san!" Balas Naruto dengan wajah bosan. "Hush! Nii-san! Jangan menyebut Tou-san seperti itu!" Ujar Kurumi menggeleng-gelengkan kepalanya.

Melihatnya wajah Naruto kembali cerah. Ia menepuk kepala adiknya itu. "Suatu saat, kamu akan mengerti!" Ujarnya. "Huft! Ayo! Nanti festivalnya keburu selesai!" Ujar Kurumi agak sebal. "Oke-oke, naiklah!" Ujar Naruto membungkuk. "Horee!" Kurumi berteriak senang dan langsung menaiki bahu Naruto.

Meski umur mereka hanya terpaut tiga tahun saja, namun tubuh Naruto yang masih berumur sepuluh tahun sudah memiliki proporsi yang hampir menyamai anak berumur empat belas tahun, ia memperolehnya dari ayahnya yang juga bertubuh lumayan besar. Baginya menggendong Kurumi saja bukanlah hal yang berat.

"Wo-hoo! Onii-san tidak capek?" Tanya Kurumi setelah beberapa langkah yang tidak ia hitung, namun rumahnya sudah hilang di telan pepohonan. Keluarga mereka adalah keluarga yang tergolong kaya yang bahkan tinggal di Villa tersendiri. "Hehe, lokasi festivalnya hanya satu kilometer dari rumah, tidak capek sama sekali!" Ujar Naruto tersenyum.

Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah festival yang lebih mirip sebuah sirkus. "Sawa!" Ujar Kurumi memanggil seorang gadis kecil lain. "Temanmu?" Tanya Naruto. "Hu'um! Dia teman Kurumi!" Balas Kurumi turun dari punggung Naruto. "Hoi Kurumi, bawa ini! Aku ingin ke Toilet sebentar!" Ujar Naruto menyerahkan ponsel genggamnya. "Kalau nanti Ayah atau Ibu telepon, segera angkat!" Ujar Naruto. "Hu'um!" Kurumi mengangguk senang sambil menerima ponsel itu.

Naruto menegakkan badannya sambil melihat Kurumi yang berlari kearah temannya yang berada di depan pintu masuk sirkus. "Yosh, kurasa saatnya menjawab panggilan alam ini!" Ujar Naruto sedikit gemetar. Ia telah menahan rasa ingin pipisnya semenjak di tengah perjalanannya tadi. Sebagai seorang kakak, ia ingin sedikit jaga image di depan adiknya.

Teet! Teet! Teet!

Kurumi yang hendak masuk bersama temannya tiba-tiba terhenti saat teleponnya berdering. "H-hallo?" Ujarnya sambil menyuruh temannya masuk duluan. "K-kurumi! Cepat pulang! C-cepat! Ini darurat!" Suara ibunya terdengar dari sana. "I-ibu?" Kurumi segera menyimpan telpon genggamnya. "Onii-san!" Teriak Kurumi. Namun ia tidak menemukan Naruto. Ia ingat kakaknya bilang ingin ke Toilet, namun ia tidak tahu letak toilet di tempat seluas ini.

"Pasti nanti Nii-san akan menyusul!" Ujarnya segera bergegas kembali ke rumahnya. Meski baru berumur tujuh tahun, kecerdasan Ibu mereka juga menurun padanya. Menemukan jalan pulang ke rumah bukanlah hal sulit bagi Kurumi.

Sementara itu Naruto di Toilet.

"Hwaa! Apa-apaan ini?! Terlihat seperti bekas gudang yang dialihkan menjadi toilet!" Ujar Naruto terkejut melihat beberapa, buah golok dan senjata tajam lain masih terpaku di dinding kayu dari bangunan kecil itu. Ia hanya melihat sebuah pipa kecil di tanah dengan gantungan tisu toilet yang terlihat sudah cukup usang. "Yang benar saja?! Bahkan tidak ada air disini?!"

Akhirnya ketimbang pipis di celana, ia mengarahkannya ke pipa itu. Itu masih lebih baik ketimbang ia mempermalukan keluarganya dengan pipis di celana. Selesai melakukan hajatnya, pandangan Naruto teralihkan oleh sebuah benda tajam yang tergantung di sana. "Ukirannya menarik, kurasa mereka tidak akan tahu kalau aku mengambil ini!" Ujarnya mengambil benda tajam itu dan menyimpannya di balik bajunya lalu segera keluar.

Ia memincingkan matanya saat tidak mendapati adiknya. Ia mendapat Sawa yang tengah duduk bersama teman-teman menyaksikan atraksi pinguin. "Permisi, apa kalian melihat Kurumi?" Tanya Naruto. "Kurumi-chan? Bukannya tadi ia ada telepon lalu belum kembali?" Ujar Sawa. "Begitu yah, terimakasih!" Ujar Naruto berbalik dengan beberapa pertanyaan di kepalanya. Tumben sekali ia di telepon saat baru saja keluar.

Kedua orang tuanya memperlakukannya seperti orang dewasa, mereka seharusnya bisa mempercayakan Kurumi pada kakaknya itu meski keluar kota sekalipun.

"Ada apa ini?!" Ujar Naruto terkejut saat melihat asap dari arah rumahnya. Ia baru melihatnya setelah tinggal beberapa puluh meter dari rumahnya. "Kurumi?!" Teriak Naruto khawatir sambil berlari menuju arah gerbang. "Apa yang terjadi...?" Gumam Naruto membelalakkan matanya saat melihat dari kejauhan adiknya lenyap ditelan oleh cahaya putih aneh.

"Kurumi!" Teriaknya dengan air mata yang menetes sambil menendang gerbang masuk ke rumahnya. Yang ia temukan disana hanyalah rumah yang atapnya sudah jebol, gosong sana-sini. Ia melihat ayahnya terduduk di atas retuntuhan dapur dengan pandangan kosong dan tubuh setengah hancur. Ia juga melihat sepotong tangan disampingnya gundukan hitam kemerahan, daging. "I...ibu?" Gumamnya terjatuh saat melihat sebuah gelang yang biasa dipakai ibunya berada di sepotong tangan yang tergeletak bersimbah darah itu.

Tanpa ia sadari langit perlahan menghitam dan tetesan-tetesan air mulai berjatuhan. Naruto hanya bisa jatuh terduduk di depan mayat ayah dan ibunya. Hal yang membuatnya tambah sesak adalah fakta bahwa adiknya hilang oleh cahaya misterius. Jika saja ia yang pulang, maka Kurumi tidak perlu menghilang.

Naruto membuka bajunya dan mengeluarkan benda tajam yang ia bawa tadi. Ia bertahan menerima berbagai pelajaran yang bahkan tidak ia sukai, merelakan masa kanak-kanaknya hanya demi adiknya seorang. Kini adiknya telah tiada, keluarganya telah tiada. Ia tidak pernah menyangka masa-masa indahnya akan berakhir dengan cepat.

Apa ini adalah takdir yang telah ditetapkan Dewata atasnya? Jika ia mengapa dia yang harus menerimanya? Mengapa ia diberikan kelebihan yang justru membelenggunya? Meski ia bisa bertahan, menagapa satu-satunya kebebasannya direnggut darinya? Dengan begini, ia telah kehilangan alasan hidupnya.

Ia mengenggam benda tajamnya dan mengarahkannya tepat ke jantungnya. Dan dengan pandangan kosong, ia menancapkan benda tajam berupa anak panah itu dalam-dalam ke jantungnya. "Semoga saja... Aku bisa bertemu Kurumi di alam sana... Kabulkanlah permintaan terakhirku ini... Oh Dewa..." Ujarnya jatuh dengan mata kosong dan mulut yang telah dibanjiri oleh darah

Namun... Sepertinya bahkan keinginan terakhirnya tidak akan pernah terkabul.

15 years later.

Unknown Harbour

Seorang pria berambut pirang berjalan santai diantara puluhan orang yang menghadangnya dengan berbagai senjata tajam dan api. "Hooh, jadi kalian punya beberapa orang sepertiku... Namun dihadapanku, kualitas maupun kuantitas kalian pecuma saja!" Ujar pria itu dari balik topengnya. "Jangan sombong kau bocah! Bunuh dia!" Teriak salah satu orang paling gempal disana. "Yah bunuh! Kita adalah pembunuh profesional disini, kami akan membunuhmu bocah!" Teriak salah satu dari puluhan orang itu sambil maju ke depan membawa gergaji mesinnya.

Slash! "Huh?!" Orang itu terkejut saat ia hanya menebas udara kosong. "Aku ada diatas sini, apa kau mau membunuh angin hah?" Mereka semua membelalakkan matanya saat melihat pria tadu berada di langit-langit, bergelantungan pada kerangka besi di gudang itu. "Teleportasi? Jadi itu kemampuanmu? Menarik bocah!" Ujar salah satu orang disana maju.

"Keren, namun dihadapanku, kalian semua hanyalah serangga kecil!" Tepat setelah mengatakannya, pria itu kembali menghilang dan muncul di belakang orang yang tadi maju. "Aku telah membunuhmu..." Ujarnya. "Ghuaahgg!" Orang gempal tadi langsung terjatuh dengan kedua kaki dan dada kiri yang hancur. "A-apa?" Kaget semua orang disana.

"Apa yang kau lakukan?!" Teriak salah satu orang gempal lainnya berlari kearahnya. "Pembunuh sejati takkan bilang aku akan membunuh, melainkan, aku telah membunuh..." Ujarnya dingin. "Dan dalam kasusku, aku telah membunuh kalian semua." Lanjutnya melangkah keluar.

"A-apa...?" "Ghahggg!" "Arghhhh!" Selanjutnya puluhan orang disana jatuh dengan dada kiri yang hancur, mereka mati bahkan sebelum mereka tahu apa yang terjadi pada mereka.

Drap! Drap! Pintu gudang terbuka dengan keras dan menampilkan belasan polisi yang masuk dengan pistol tertodong. Pria itu berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang dan menemukan sebuah ponsel tergeletak di tangan salah satu dari para korbannya.

"Kau... Topeng itu... Penjahat kelas berat, Fox!" Pria itu kembali menoleh kearah para polisi sambil menampilkan gerakan kepala yang sedikit tertarik. "Hooh, sepertinya aku sedikit terkenal yah?" Balasnya. Para polisi itu terkejut melihat orang-orang yang telah tergeletak di belakang pria yang mereka panggil Fox itu.

"Fox! Atas pembunuhan yang kau lakukan, kau akan kami tahan!" Ujar seorang berpakaian ala polisi sambil menodongkan senjata apinya bersama belasan anggota lainnya. Sementara seorang pria dengan jaket biker hitam dan rambut pirang itu hanya memandang bosan dibalik topeng serigalanya. "Kenapa kalian ini? Padahal yang aku bunuh hanyalah para sampah mafia pelabuhan bodoh ini!" Balas Fox.

"Tetap saja! Pembunuhan dengan alasan apapun itu, tidak mengubah fakta mau melanggar hukum!" Ujar komandan polisi itu. "Hukum... Hukum... Kalian tahu? Seharusnya hukum dibuat untuk memberi kejelasan dan ketentraman bagi masyarakat..." Ujar Fox sambil terkekeh pelan.

"Tetapi, bukanlah hukum hanyalah alat kekuasan bagi kalian semua? Aku tahu kalian telah disuap dan menjadi payung bagi para mafia rendahan itu!" Ujar Fox tiba-tiba berada di atas salah satu mobil polisi itu. "Bagaimana bisa dia disana?!" "Dia menghilang?!"

"Cukup dengan omong kosongmu, ini peringatan! Menyerahlah atau kami akan menembakmu di tempat!" Ujar polisi itu menembakkan sebuah peluru kearah kaki Fox. "Kalianlah yang omong kosong soal hukum, lebih baik, omong kosong itu kalian bawa ke alam kematian saja!" Ujar Fox.

Bruk! Clash!

Dan yang selanjutnya terjadi adalah keterkejutan masal saat melihat komandan mereka jatuh dengan kepala berlubang. "K-komandan?!" Ujar para anak buah itu terkejut. "Aku sudah membungkam mulut pendusta milik komandan kalian untuk selamanya, pergilah jika tidak ingin bernasib sama!" Ujar Fox. "S-sialan! Melawan penegak hukum! Tembak dia!" Teriak salah seorang anggota polisi. Mereka bersama-sama menembakkan timah panas mereka kearah Fox. Namun yang selanjutnya terjadi adalah...

Dor! Dorr! Dor!

"Argghhh!" "Kakiku!" "T-tanganku!" Teriak mereka saat melihat tiba-tiba bagian-bagian tubuh mereka berlubang dan terasa panas. Ada yang kakinya berlubang, tangannya berlubang, namun tidak sampai terbunuh. Pistol mereka jatuh ke tanah. "B-bagaimana bisa?" Ujar mereka melihat Fox masih berdiri tenang.

"Aku punya tujuan besar untuk dunia ini, itulah palsu alasan hidupku sekarang, pasukan palsu seperti kalian tidak akan bisa menandingiku... Ataupun kekuatanku... Sekarang... Jauhkan mata kalian dariku!" Balasn itu adalah yang terakhir mereka dengar sebelum akhirnya jatuh pingsan saat merasakan pukulan keras di tengkuk mereka, dan mereka jatuh bersamaan.

Fox aka Naruto hanya bisa memandang kosong perbuatannya itu. Namun suara ponselnya telah menggugah perhatiannya. Ia mengangkatnya dengan segera setelah tahu siapa pemilik nomor yang memanggilnya itu. "Hallo, Nii-sama, ada apa?" Tanya Naruto memulai pembicaraan. "Yeah, aku baik-baik saja disini!" Ujar Naruto.

"Apa? Kau ingin aku pulang sekarang?" Tanya Naruto. Ia tiba-tiba membuka aplikasi peta miliknya. "Yeah, aku tahu kalau di rumah sekarang lagi sering ada gempa angkasa, baiklah, aku akan pulang sekarang," Ujar Naruto.

Ia meleguh pelan. "Sudah sebelas tahun yah? Seperti apa kira-kira wajah Nii-sama dan Tou-sama? Keluarga Uzumaki yang pernah mengadopsiku..." Ujar Naruto menutup ponselnya dan berjalan pergi dari TKP.

.

.

.

To be Continued...

Akhirnya Date A Live dikonfirmasi akan mendapat s4, sebenarnya saya cukup hype mendengarnya, dan karena lagi gabut libur 2 minggu, jadi saya beranikan membuat fict ini setelah sekian lama menjadi sider ffn.

Maaf jika masih ada kekurangan kepenulisan ataupun plot yang kelihatan membosankan, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin, jadi kalau ada kritikan bebas disampaikan.

Jumpa next chap, akan saya usahakan update cepet, stay safe all, bantu para pekerja garis depan dengan tetap berada di rumah kecuali ada urusan mendesak.