i can make you fall in love; again and again
Sanemi x Kanae
Koyoharu Gotouge adalah kreator asli Kimetsu no Yaiba
Saya hanya meminjam dan tidak mengambil keuntungan apa pun selain untuk bersenang-senang dan menambah asupan.
Peringatan: typo(s), berpotensi out of character (menyesuaikan plot), AU-Kimegakuen, R18+
Kemeja putih kami sama-sama basah. Dihantam hujan air sejak sepuluh menit yang lalu. Tidak ada payung yang menjadi perisai. Tidak ada niat untuk berteduh. Hingga akhirnya kami berada di ambang pintu apartemen dengan tubuh sedikit bergetar. Bergeming. Saling memandang. Uap putih menguar dari mulut masing-masing. Bra hitam Kanae tercetak jelas dan tidak bisa hilang dari ingatanku. Membangkitkan berahi yang sudah berada di ujung tombak. Mengingat dua minggu yang lalu adalah senggama terakhir kami sebelum Kanae terserang penyakit tanggal merah. Semua terasa berdenyut-denyut—atas maupun bawah—pun sudut-sudut menjadi sensitif karenanya.
Suara petir bergaung di telinga seolah memberi peringatan untuk segera masuk ke apartemen. Aku meraih kunci di dalam saku celana sembari berteriak "aku pulang" dan menanti jawaban Genya, adikku. Beberapa detik aku bergeming. Kemudian, melepas sepatu yang basah dan meletakannya di atas rak.
"Apa Genya ada di dalam?"
"Tidak. Masuklah, Kanae!"
Aku lupa, Kanae ada di balik punggungku sedang berdiri sembari menanti untuk dipersilakan. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia melepas sepatu dan mengikutiku di belakang. Genya belum tiba dari sekolah. Lampu apartemen masih gelap. Buru-buru aku meraih saklar dan pendar lampu menyorot kami yang basah kuyup.
"Akan aku ambilkan handuk. Kau duduk saja di sana," kataku cepat. Melihat bra hitam Kanae membuatku terasa semakin panas. Di bawah sana benar-benar sesak. Aku takut tidak mampu menahannya.
"Sanemi-kun, kita tidak punya banyak waktu." Ia menahanku dengan memegang kuat-kuat lengan kanan. Kepalanya menunduk sebelum berkata, "Genya akan segera tiba. Kalau tidak cepat-cepat, nanti bisa ketahuan."
Kanae selalu begitu. Terlalu peka dalam berbagai hal. Serta memiliki intuisi dan insting yang bagus. Dia selalu paham mengenai hasratku yang menggebu. Tanpa aku ucap, ia akan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Kadang, tidak pernah meleset. Dan aku tidak pandai menyampaikannya, terlebih jika harus diketahui banyak orang. Aku akan menjadi salah tingkah. Karena aku sangat mencintainya, juga menyukai sifatnya yang seperti itu. Maka, aku mencoba membuang rasa maluku. Hanya saat kami berduaan saja.
"Kanae, aku kedinginan." Kutatap bola matanya yang berwarna ungu terang. Bibirnya yang kecil, tetapi merah dan penuh. Aku benar-benar menyukainya.
"Pakaianmu basah, Sanemi-kun. Nanti kau bisa sakit." Ia membelai pipiku dengan lembut. Lalu, aku mulai bergerak menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh. Menyisakan celana dalam ketat berwarna abu-abu.
Dari balik kain itu, ia mengelus pelan-pelan "senjata"-ku dan sesekali menggenggamnya. Kepalaku terasa berat. Seperti dihantam selusin barbel. Angin panas turut menerpa wajahku sehingga, saat Kanae menggenggamnya sekali lagi, aku meringis—menikmati. Sambil mencengkeram kuat lengannya agar tidak ambruk. Aku terengah sambil memejamkan mata. Dan beberapa menit kemudian, aku seperti kucing yang lehernya terjepit pintu. Mencoba menahan erangan sekuat mungkin agar tidak menggema di seluruh ruangan.
Kanae menatapku dengan kedua mata sayu. Wajahnya memerah saat menyadari celana dalamku basah. Aku menelan ludah sebelum menariknya ke dalam pelukan. Kubiarkan rasa dingin karena kemajanya yang basah menyentuh kulit. Bulu-bulu di sekitar tubuh ikut berdiri saat Kanae meniup leherku dengan lembut dan pelan.
"Aku semakin kedinginan, loh." Aku berbisik tepat di rongga telinganya sembari mengelus punggung dan menyentuh bawah bokong Kanae.
"Sanemi-kun, pasti lelah ya? Sampai-sampai cepat keluar," godanya.
"Kau yang membuatku lama menunggu," kataku dengan nada sedikit kecewa.
"Ara-ara, maafkan aku." Kanae menghujani ciuman di tiap luka yang terukir di dadaku. Bunyi "cup" dan bibirnya yang basah membuat gairahku naik tanpa kendali.
Pelan-pelan, Kanae turut menanggalkan pakaiannya yang basah ke lantai. Tersisa celana dalam dan bra hitam berenda bunga-bunga mawar yang menambah kesan seksi. Juga lucu dan sangat menggemaskan saat benda itu membalut payudara—besar—miliknya. Ia terkekeh sembari bergelayut manja di leherku. Menggoda dengan senyuman yang manis. Kadang, ia juga berkedip-kedip seperti boneka yang sering ibu buat. Bulu matanya panjang dan hitam secara alami. Kanae sangat cantik dan berkharisma.
"Tersenyumlah, Sanemi-kun. Jangan menatapku terus," katanya sambil mengecup sekilas bibirku. Rasa stroberi masih tersisa lama di bibir. Aromanya merasuki rongga hidung. Aku menutup mata sebelum menarik sudut bibir.
"Aku mencintaimu, Kanae." Ia menatapku seperti terkejut. "Sungguh. Terima kasih karena bersedia bersamaku."
"Kau mengatakannya? Apa kau benar Shinazugawa Sanemi-ku?" Ia terkikik sembari memukul bahuku. "Kau pasti bukan Sanemi-kun?" godanya.
Aku menarik tubuhnya. Membiarkan dada kami bertubrukan. Senyumku tidak bisa hilang saat mendengar Kanae terus tertawa. Berulang kali tangannya menutup mulut seperti tidak percaya, apakah: Shinazugawa Sanemi baru saja mengatakan "aku mencintaimu, Kanae"?
Karena aku tidak pernah mengatakannya, selama ini, aku takut membuatnya tidak nyaman. Kami sudah sama-sama dewasa untuk mengerti romansa itu, bukan?
Di tempat kami berdiri, aku bisa mendengar Genya sedang mengobrol dengan seseorang dari balik pintu. Kanae refleks memunguti pakaiannya yang basah dan berlari ke kamar mandi. Aku pun cepat-cepat mengambil satu celana panjang yang ada di dekatku. Ini celana milik Genya, tetapi aku tidak peduli karena tidak ada waktu untuk mencari yang lain.
"Tadaima!" ucapnya. Tiga kepala ikut menyembul dari balik punggung adikku. "Tanjiro, Zenitsu, dan Inosuke mampir untuk mengajariku belajar di sini." Aku mengangguk sembari merapikan rambut. Meskipun jantungku berdegup kencang, tetapi aku berusaha menampilkan wajah yang tenang.
"Maaf merepotkan Anda, Shinazugawa-sensei." Tanjiro membungkuk, kemudian melepas sepatunya.
"Pengap sekali di sini," ejek si Bocah Babi Sialan itu.
"Wah, wah, di sini ada sepasang sepatu perempuan. Seperti milik Kochou-sensei, bukan?" Zenitsu berteriak dengan ekspresi yang aneh. Susah untuk dijelaskan. Membuat semua orang tercengang melihatnya.
Kemudian, mereka berempat beralih menatapku dengan banyak tanda tanya. Termasuk Genya, adikku. Ia terlihat sekali kebingungan. Ya, salahku menyembunyikan hal ini darinya selama tiga bulan. Aku pikir, kapan-kapan saja memberitahu Genya. Namun, ternyata hal itu tidak berjalan dengan baik. Aku dan Kanae berujung ketahuan sekarang.
Sebelum aku mulai menjawab dan memberi penjelasan, Kanae muncul dari kamar mandi, dan berkata, "Okaerinasai!" Kemudian, Bocah Kuning itu menarik kerah Genya dan berteriak, "Ini tidak adil. Kenapa harus Kakakmu? Kenapa harus Shinazugawa-sensei?"
Aku terdiam dan Kanae melirikku sekilas. Ia tersenyum dan mempersilakan mereka untuk duduk. Kemeja basahnya ia tutupi dengan handuk. Wajahnya terlihat berseri-seri seperti pertama kali jatuh cinta.
Apa kalian tidak melihatnya? Sebab kenapa Kanae memilihku karena hanya aku yang bisa membuatnya jatuh cinta setiap hari. Bukan orang lain.
"Tutup mulutmu dan cepat belajar sana!"
The End
Besok Sanekana Week dimulai! Yuk, kepoin di Twitter sane_kana!
