Disclaimer by Hajime Isayama
Lorong-lorong Markas Survey Corps menyeramkan di malam hari. Armin tidak akan mau keluar dari kamar kalau saja kandung kemihnya mau berkompromi dengannya. Seharusnya dia ke toilet setelah makan malam, bukannya mencoba menahan sampai pagi dan malah terbagun dengan rasa sakit di tengah malam. Sekarang dia harus melewati lorong-lorong gelap. Dia berhasil sampai ke toilet karena rasa paniknya manahan pipis agar tidak keluar. Tapi setelah semua urusannya selesai, dia jadi lebih memperhatikan keadaan sekitarnya. Misalnya saja fakta bahwa suara hembusan angin dari luar terdengar seperti suara nafas titan, atau fakta yang lebih nyata seperti adanya cahaya yang berasal dari ruang makan.
Mungkin itu senior yang tengah makan camilan malam atau minum teh. Armin hendak pergi, tetapi suara tidak asing dari ruang makan menghentikan langkahnya.
"Aku akan tinggal menjaga para kadet"
"Terima kasih Mike"
Armin tahu menguping itu salah, tapi dia tetap saja mengintip dari celah pintu yang terbuka karena rasa penasarannya menang.
Cahaya berasal dari lampu minyak yang diletakkan di atas meja makan. Salah satu meja makan panjang dipenuhi dengan kertas dan alat tulis. Ada dua orang diruangan itu. Armin yakin mereka adalah Squad Leader Mike dan Komandan Erwin. Posisi mereka benar-benar menghadap Armin.
"Kalian akan berangkat pagi-pagi sekali. Biarkan aku dan Nanaba yang membersihkan tempat ini. Kau bisa tidur lebih dulu" kata Squad Leader Mike yang berdiri di belakang Komandan Erwin yang tengah duduk.
"Aku akan terkejut jika aku bisa tidur malam ini"
"Kau harus Erwin. Besok adalah hari yang penting" kata Squad Leader. Pria itu membungkuk dan meletakkan tangannya di bahu Komandan Erwin. "Atau kau ingin bantuan untuk rileks?"
Pertanyaan terakhir itu diucapkan seperti bisikan. Armin sendiri merinding mendengarnya. Belum sempat pulih dari adegan sebelumnya, dia disuguhkan adegan baru yang lebih mengejutkan. Komandan Erwin memutar kepalanya sampai saling berhadapan dengan Squad Leader dan menarik leher pria itu hingga bibir mereka bertemu.
Armin menutup mulutnya dan mundur dari celah pintu. Semua itu terdengar sangat pribadi dan dia sekarang merasa bersalah. Apa hubungan mereka sangat rahasia? Apa ada orang lain yang tahu?
"Kau tidak melihat apa-apa, Nak"
Jika saja tidak ada tangan yang menutup mulutnya, Armin yakin dia akan berteriak dan orang-orang di dalam ruang makan akan menyadari kehadirannya. Dia berbalik dengan panik dan mendapati Kopral Levi yang berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat dan kening berkerut.
"Kapten-"
"Tidak sepatah kata, Artlet. Aku harap kau belajar pelajaranmu karena mengintip seperti itu. Sekarang, kembali ke kamarmu" desis Kopral Levi. Armin mengangguk panik dan berbalik. Tapi sebelum dia sempat menggerakkan kakinya, sebuah tangan menangkap bahunya. Dia membeku seketika.
"Ingat. Kau tidak melihat apa-apa" kata-kata itu dibisikkan dengan nada benar-benar mengancam. Armin menelan ludahnya panik. Dia memutuskan untuk mengangguk karena dia tidak percaya dengan suaranya sendiri.
Begitu cengkraman itu menghilang dari bahunya, Armin segera berjalan dengan cepat untuk menjauhi lorong itu. Takut jika dia berlari, suara langkahnya akan terdengar. Dan begitu dia sampai di kamar asramanya, dia segera melompat ke tempat tidur tanpa melepas sepatunya. Dia menutup matanya dan berharap tidur akan membuatnya lupa dengan kejadian tadi. Dan jika tidak, dia yakin dia tidak akan bisa menatap Komandan Erwin atau Squad Leader Mike dengan cara yang sama lagi.
~~0~~
Levi menghela nafasnya saat membuka pintu ruang makan. Pemandangan yang dia lihat di depannya membuatnya jijik. Dia tidak bisa menyalahkan Artlet sepenuhnya. Para bajingan ini benar-benar tidak tahu tempat dan keadaan.
"Dasar bodoh! Seseorang mungkin akan melihat kalian cepat atau lambat jika kalian melakukan hal-hal menjijikkan seperti itu di setiap sudut benteng ini!" Bentaknya kesal. Levi bersumpah pada diri sendiri. Jika mereka tertangkap basah lagi, dia tidak akan mau membantu. Dan bukannya Mike bisa mencium bau seseorang bahkan bermil-mil jauhnya? Apa yang terjadi dengan hidungnya itu?
"Apa kau baru saja menangkap kadet yang melewati jam malam?" Tanya Erwin dengan alis terangkat geli. Levi benar-benar ingin mencabuti alis itu sekarang.
"Hanya dua orang tua bodoh yang bermesraan seperti remaja" desisnya. Tawa Mike membuatnya semakin kesal.
Pintu dibuka lagi, dan kali ini Kacamata masuk dengan tumpukan kertas. Senyumannya benar-benar secerah matahari. Levi memutuskan pergi ke dapur untuk membuat teh.
"Kau mendapatkan sesuatu?" Tanya Erwin. Dan pekikan Hanji benar-benar menjawab pertanyaan itu.
FIN
"Dia yakin dia tidak akan bisa menatap Komandan Erwin atau Squad Leader Mike dengan cara yang sama lagi" Itupun jika Armin bisa bertemu dengan mereka lagi bukan?
P.S
Miss you Mike T_T
