"Fallin Flower"
Did you guys ever heard of Hanahaki Disease?
Katanya... itu penyakit orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Aku tak percaya.
Oh ayolah, itu hanya ada di komik manga atau novel. Tak mungkin ada di dunia nyata.
Tapi kini aku memercayainya.
Cause its happen to me.
Aku tak mempercayai mitos. Aku lebih suka menghadapi realita. Aku hidup di lingkungan yang lebih mengedepankan akal pikiran dibandingkan imajinasi. Ayahku membenci orang-orang yang mengedepankan imajinasi karena menurutnya mereka hanya berhalusinasi. Aku setuju dengan ayahku. Namun ibuku seorang yang lemah lembut. Ia tak begitu masalah dengan para imajiner. Menurut ibuku mereka indah, with their own way.
Aku hanyalah anak tunggal. Namun kehidupanku cukup menyenangkan. Hidup berkecukupan, diberkahi otak yang cerdas, hidup di lingkungan yang bersahaja, dan wajah yang tampan. Siapapun iri kepadaku, tak terkecuali teman-temanku.
Aku memiliki banyak teman, namun beberapa dari mereka imajiner. Aku tak masalah asalkan mereka tidak menggangguku dengan fantasi khayalan mereka. Kecuali satu, Boo Seungkwan. Aku benci jika ia menjodohkan aku dengan Joshua ataupun Mingyu. Ayolah, kami sama-sama pria. Mana mungkin pria bisa saling jatuh cinta?
Dasar imajiner.
Pada hari itu kelas sedang kosong. Guru hanya memberi kami tugas. Tentu saja hal ini kami manfaatkan sebaik mungkin karena kami berada di kelas akhir. Aku, Joshua, Mingyu, Seokmin, Jihoon, Soonyoung, dan Seungkwan menghabiskan waktu kami dengan bermain game online di masing-masing laptop kami. Sudah terlalu muak dengan membaca buku. Namun hari itu berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Dia... Choi Seungji. Adik dari Choi Seungcheol. Book-nerd, begitu orang memanggilnya. Dia amat berbeda dengan Seungcheol yang terkenal karena perkelahiannya. Orang-orang tak berani mendekati Seungji selain karena kakaknya, dia memang terlihat tidak suka bergaul. Tapi ia terlihat tidak canggung denganku sejak hari pertama bersekolah karena aku rasa ia mengingatku. Mungkin karena ia juga tahu kalau aku adik sepupu Jeonghan hyung yang berteman baik dengan Seungcheol hyung.
Seungji dan aku adalah teman masa kecil. Kami selalu bermain bersama, namun semenjak ayahnya meninggal karena kecelakaan di pabrik milik keluarga membuat ia dan aku pisah. Namun Seungji masih beberapa kali bertemu dengan Jeonghan hyung di perusahaan jika Jeonghan hyung sedang berkunjung. Pada akhirnya setelah bertahun-tahun pisah, kami dipertemukan kembali di sekolah ini.
Akhir-akhir ini aku merasakan bahwa Seungji selalu menatapku dari jauh. Kebetulan kami sekelas. Ia berada di bangku paling pojok kanan sedangkan aku duduk di bangku baris ketiga diseberang baris bangkunya. Teman-temanku pun ikut mencurigai Seungji. Mereka berpikir bahwa Seungji akan menyakitiku. Namun aku membiarkannya, tidak ikut berpikiran sama dengan teman-temanku yang lainnya.
Hari ini aku sendirian di kafetaria sekolah. Ujian masuk universitas akan diadakan sebentar lagi. Aku yang meminta pengertian pada Joshua, Soonyoung, dan Jihoon untuk meninggalkanku sendiri. Aku hanya tak ingin terganggu. Maka dari itu aku duduk di bangku paling pojok kafetaria. Lumayan sunyi, namun belum cukup sunyi bagiku. Kukeluarkan headseat dari kantong celana seragam sekolahku. Aku berpikir bahwa musik dari Bach mungkin bisa menenangkanku.
"Hei. K-kamu Jeon Wonwoo'kan? Masih ingat a-aku?"
Choi Seungji.
"Ya, Choi Seungji-ssi? Tentu saja aku ingata. Ada yang bisa kubantu?" Kutatap mata Seungji yang ternyata begitu indah jika dilihat dari dekat. Ia dan Seungcheol memang memiliki mata yang indah. Selain bulu mata yang cukup lebat dan lentik, mereka memiliki warna mata yang unik. Itu di karenakan ibu mereka bukan orang Korea.
"Syukurlah. Boleh aku duduk disini? Aku tak akan mengganggu jika itu maksud dari tatapanmu. Aku ingin baca novel tapi ternyata tempatku sudah kamu tempati."
Jeon Wonwoo bodoh! Ini'kan tempat favorit Seungji. Kau bodoh Jeon Wonwoo!
"Ah tentu saja. Maafkan aku yang lancang karena menempati tempatmu." Kali ini tidak ada jawaban. Seungji hanya menganggukkan kepalanya dan menduduki tempat tepat didepanku. Kulihat ia langsung fokus pada novel yang ia baca.
Hanahaki? Apakah novel itu novel yang sama dengan punya Jeonghan hyung yang bercerita tentang Hanahaki Disease? Ah, imajiner. Tentu saja perempuan suka dengan imajinasi yang seperti itu. Sebuah penyakit one sided love yang dapat menyebabkan penderitanya memuntahkan bunga layu karena cintanya tak terbalaskan. Aku pernah sekali mendengar hal ini karena Jeonghan hyung selalu bercerita tentang cerita Hanahaki ini.
Tetapi aku tidak peduli dengan perkataan Jeonghan hyung tentang penyakit ini. Lagian mana ada sih orang yang memuntahkan bunga layu hanya karena cinta tak terbalaskan? Sebuah khayalan penulis yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu.
Kami sibuk dengan aktifitas masing-masing hingga akhirnya bel berbunyi nyaring. Istirahat telah usai, kami harus segera kembali ke kelas. Begitu pun aku. Aku segera membereskan buku dan alat menulis lainnya.
"Seungji-ssi, kau tidak kembali ke kelas?" Tanyaku padanya yang masih terlihat asyik didunianya sendiri. Namun dengan segera, ia bangun dari duduknya dan menggandeng lengannya dengan lenganku. Aku tentu saja terkejut. Aku tidak pernah disentuh perempuan manapun selain ibuku dan sepupu perempuanku.
"Maaf Wonwoo-ssi, tapi bisa kau tuntun aku? Cerita ini begitu menarik. Aku tidak bisa melewatkannya begitu saja." Ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada buku itu. Sialan. Dan karena hal itu juga, aku jadi bahan gosip Seungkwan dan Mingyu.
"Aku baru tahu kau punya pacar hyung? Sudah berapa lama?" goda Mingyu yang tentu saja dipanas-panasi oleh Seungkwan, si 'Lambe Turah' paling terkenal di angkatan kami. Aku hanya melewati mereka dan melototi mereka.
Cih.
Esoknya aku terbangun karena suara ramai yang kedengarannya berada di lantai bawah rumahku. Aku segera memakai kardiganku dan pergi ke sumber suara tersebut. Saat aku baru saja menginjak tangga yang ketiga, aku mendengar suara tangisan ibuku. Ada apa ini? Kenapa ibu menangis?
"Tapi mana mungkin Jeonghan dapat memuntahkan bunga dari paru-parunya? Itu mustahil Hyejeong-ah!" aku terhenyuk mendengar jeritan ibuku. Jeonghan hyung? Memuntahkan bunga?
"Aku juga tidak mengerti Hyewon-ah. Tapi tadi pagi Jeonghan memuntahkan bunga-bunga itu. Aku melihatnya memuntahkan bunga-bunga itu dengan mata kepalaku sendiri!"
"Lalu pemeriksaan dokter bagaimana?" itu suara ayah. Dari nada suaranya saja aku bisa menyimpulkan kalau ayah tidak memercayai hal itu. Ibu masih terdengar syok dan belum berhenti menangis. Apa Jeonghan hyung...
"Ia terkena penyakit aneh. Sebuah penyakit yang aku juga tak percaya kalau itu hal nyata. Ia menderita Hanahaki Disease. Sebuah penyakit yang penyebabnya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Dan kau tahu siapa yang menyebabkan Jeonghan begitu? Choi Seungji. Ya, anak rival bisnis keluarga kita."
C-Choi Seungji?!
Aku tak paham. Sejak kapan Jeonghan hyung mengenal Seungji? Sedangkan ia jarang sekali dan susah untuk diajak pergi ke perusahaan keluarga. Ia bilang padaku kalau ia tak tertarik dengan dunia bisnis. Jeonghan hyung lebih suka menenggelamkan dirinya dengan buku-buku fantasi dan komik-komik Jepang dan rebahan di kamarnya.
Walau begitu, ia tetap diperbolehkan meneruskan hobinya karena ia dapat menghasilkan uang sendiri karena sering sekali karya tulisannya dilirik penerbit buku. Aku akui bahwa karya-karya Jeonghan hyung terbaik, namun aku tidak suka membaca fantasi. Aku hanya menyukai satu karyanya yang bertema science fiction. Tema ceritanya begitu fresh, penulisannya rapi, dan alurnya benar-benar pas.
Aku rasa aku harus menanyakan ini pada Seungji saat di sekolah besok.
Ya, Jeonghan hyung segera dikuburkan. Dia pernah mengatakan padaku bahwa ia tak mau dibakar dan dikremasi. Itu karena dia ingin dikunjungi. Dengan begitu ia merasa banyak orang yang masih menyayanginya. Waktu itu Jeonghan hyung memuntahkan bunga jenis marygold, jadi pihak keluarga setuju untuk menggunakan bunga carnation berwarna merah untuk membalas dan menyindir keluarga Choi.
Aku masih tidak percaya bahwa kakak sepupu yang ku sayang dan ku percayai selama ini meninggalkanku secepat ini. Aku masih merasakan kehadirannya disini, saat ia membangunkanku dengan melompat-lompat diatas kasurku. Namun sekarang aku tak dapat merasakannya lagi. Aku sedih, namun aku juga tidak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan. Aku rasa Jeonghan hyung juga tidak suka jika aku sedih terus menerus.
Aneh.
Choi Seungji sudah absen selama 3 hari. Ketika aku menanyakan kepada wali kelas kami, ia hanya mengatakan Seungji izin tidak masuk sekolah dikarenakan ada kerabat yang meninggal. Kalau memang yang dimaksud adalah Jeonghan hyung, mengapa aku tidak pernah melihat sosoknya? Tapi aku segera menghilangkan prasangka tersebut dan berharap yang dimaksud bukanlah Jeonghan hyung.
Namun kini aku melihatnya. Ia berdiri di hadapanku radius dua ratus meter. Semua normal kecuali ia menggandeng seorang wanita. Aku mengenalnya. Wanita itu Kwon Eunyoung, adik kandung Soonyoung yang berada dua tingkat dibawah kami. Mereka terlihat dekat sekali, tertawa bersama dan memasuki wilayah sekolah dengan perasaan gembira.
"Hoi! Ngelamun aja lu kerjaannya. Masuk yuk!" Teriak Soonyoung dibelakangku sambil menyeretku masuk ke wilayah sekolah.
"Lu kenal Choi Seungji gak, Hosh?" Hosh atau Hoshi adalah salah satu nick name Soonyoung dari klub dance yang kami ikuti. Nick name lainnya adalah Horanghae atau harimau. Ia sangat menyukai semua berbau harimau dan memiliki banyak koleksi harimau dirumahnya. Tapi walau begitu, aku dan teman-teman yang lain memanggilnya hamster, dan ia tidak menyukainya.
"Kenal lah! Kan temen kelas kita dudul." Aku refleks memukul bahunya.
"Maksud gue selain temen kelas. Belum selesai ngomong guenya." Soonyoung hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali itu.
"Hahaha, sorry bro! Kenal sih, dia temen mainnya si Eunyoung. Sering maen kerumah juga. Kenapa lu? Akhir-akhir ini kok gue perhatiin lu kayak tertarik sama Seungji? Wah ada apa-apanya lu ya?!" Untuk kesekian kalinya aku kembali memukul bahu Soonyoung karena bicaranya yang melantur itu. Sejak kapan aku suka sama Seungji?
"Sembarangan lu kalo ngomong. Kagak, gue curiga aja sama dia. Dia kan udah gak masuk sekolah tiga hari, dan seperti yang lu tau kalo dia gak masuk karena ada kerabat yang meninggal. Kok bisa deketan sama Jeonghan hyung? Apalagi lu tahu sendiri Jeonghan hyung mati karena dia'kan?"
Soonyoung terlihat manggut-manggut, aku gak ngerti itu anak paham apa enggak.
"Tapi waktu Jeonghan hyung mau dikuburin, dia masih main sama Eunyoung. Gue cuma ngecek sebentar karena diburu waktu. Dia biasa aja tuh." Jelas Soonyoung sembari duduk dikursi didepanku. Sepertinya kali ini aku harus menanyakannya langsung ke Seungji.
Kelas kembali ribut ketika ketua kelas, Yoo Gojin, mengumumkan bahwa guru tidak akan masuk kekelas hingga jam istirahat kedua karena rapat dadakan. Tentu saja aku segera bergabung dengan yang lain untuk mengerjakan tugas. Seungji terlihat ikut mengerjakan tugasnya, sendirian.
Aku ingin menghampirinya berniat mengajaknya mengerjakan tugas bersama, namun kemudian ia berdiri meninggalkan kelas. Aku yang penasaran pun mengikutinya. Tentu saja kepergianku diprotes Seungkwan karena ia sama sekali tidak mengerti pelajaran Sastra dan Joshua yang biasanya membantunya mengerjakan tugas Sastranya sedang berada di unit kesehatan sekolah sejak sampai di sekolah tadi pagi. Akhirnya kuurungkan niatku dan kembali membantu Seungkwan.
Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera pergi mencari Seungji. Awalnya Seungkwan ingin ikut mencari karena mengkhawatirkanku, namun kularang dan berkata aku akan baik-baik saja. Baru saja aku mencapai pintu kelas, aku dikagetkan dengan sebuah berita.
"Jo-Joshua, Won! Joshua memuntahkan bunga! Banyak sekali! Teman-teman! Bantu aku! Joshua memuntahkan bunga di UKS! Ayo!"
Deg.
A-Ada apa ini sebenarnya?
Joshua meninggal pada saat itu juga. Ia meninggalkan kami semua dengan cara yang tidak masuk diakal. Ibunya yang segera menyusul ke sekolah histeris melihat keadaannya yang begitu parah. Ada apa ini? Kenapa semua orang memuntahkan bunga? Apakah Hanahaki Disease itu nyata? Aku ragu dengan pikiran ini. Aku tak mempercayai khayalan ini benar-benar terjadi.
"Wonwoo-ya, Seokmin! Dia memuntahkan b-bunga!" Belum habis rasa penasaranku, kini aku dikejutkan dengan berita yang sama. Apa penyakit ini sedang tren? Mengapa banyak sekali orang-orang yang terjangkit penyakit ini? Kenapa tidak memuntahkan rumput sekalian?
Tanpa pikir panjang aku, Soonyoung, Seungkwan, Mingyu dan Jihoon segera menyusul Seokmin. Pikiran kami semua kalut, dua sahabat kami meninggal di saat yang bersamaan dengan penyebab yang aneh pula.
"Apa kalian berpikir hal yang sama denganku? Semua ini karena Choi Seungji?" Aku segera memberhentikan lariku mendengar perkataan Jihoon. Tapi bukankah selama ini Seungji terlihat tidak pernah bergaul dengan orang-orang lain? Apalagi Seokmin berbeda kelas dengan kami bersama Mingyu. Bagaimana bisa?
"Aku berpikir hal yang sama denganmu hyung! Apalagi Jeonghan hyung mati karena dia juga'kan?" Kami semua terdiam, namun aku muak dan kembali melanjutkan jalanku. Cih, apa-apaan itu? Seungji sengaja membunuh teman-temanku? Tidak masuk di akal! Lagipula bukankah Hanahaki Disease ini karena cinta bertepuk sebelah tangan? Lalu bagaimana bisa mereka menyukai Seungji secara bersamaan, terutama melihat sifat dan kelakuan Seungji yang seperti itu? Tidak masuk diakal bukan?
"Aku tidak sependapat dengan kalian. Seokmin lebih penting untuk saat ini daripada dugaan kotor kalian terhadap Seungji." Namun setelah aku berkata begitu, mereka hanya menertawakanku.
"Hati-hati lu Won! Ntar muntahin bunga juga loh! Segitunya sama pacar lo hahaha!" Itu kelakar Mingyu. Cuma dia dan Seungkwan yang selalu menggodaku jika aku terlihat berdua dengan Seungji. Kami hanya berteman! Lagipula aku masih tidak percaya dengan mitos khayalan itu. Oh ayolah, itu hanya ada di komik manga atau novel. Tak mungkin ada di dunia nyata.
Keterkejutan kami tidak hanya sampai disitu saja. Disana berdiri Seungji dengan ekspresi ketakutan sambil meremas ujung rok sekolahnya dan Seokmin yang terlihat menangis memuntahkan bunga sembari meremas dada kanannya. Pemandangan didepan saat ini benar-benar tidak enak untuk dilihat.
"Maafkan aku Seokmin-ah. T-tapi aku tak menyukaimu. Aku menyukai orang lain. Sekali lagi maafkan aku." Kami sama-sama terkejut. Sejak kapan Seokmin menyukai bahkan kenal dekat dengan Seungji?
Teriakan Seungkwan membuat Seungji yang berada jarak radius lima ratus meter kaget. Seokmin memuntahkan darah dan mulai merembes melalui mulutnya, membuat bunga jenis california poppies itu tidak lagi berwarna oranye, namun merah darah. Namun Seungji masih berada disana. Kami pun menghampiri mereka, terutama aku yang panik melihat keadaan Seokmin saat ini. Aku segera memeluk Seokmin, dan berusaha membantu mengeluarkan sisa bunga yang ada di mulutnya.
"Seungji-ssi! Menurutmu apa yang sedang kau perbuat?!" Mingyu dan Soonyoung segera memojokkan Seungji. Tentu saja Seungji ketakutan karena pada kenyatanya Mingyu dan Soonyoung adalah anggota taekwondo terbaik sekolah yang selalu membawa pulang emas tiap usai bertanding.
"A-aku tidak melakukan apa-apa! Bisakah kalian memberiku waktu bernafas sebentar saja?! A-aku lelah terus dikatai sebagai pembunuh!" Kami semua terdiam. Ya, semenjak Jeonghan hyung dikabarkan meninggal dan mengetahui pelakunya Seungji, seluruh sekolah menyalahkan Seungji. Terutama para penggemar Jeonghan hyung di sekolah yang masih tersisa terus memojokkan Seungji.
"Oke, kami gak nyakitin lo tapi tolong ceritakin sama kami kenapa Seokmin bisa seperti ini? Atau jangan-jangan Joshua hyung gara-gara lo juga?!" sergah Jihoon yang ikut panas. Terlihat dari kulit wajah putih pucatnya terlihat semburat kemerahan karena menahan amarah. Jihoon adalah orang yang tidak gampang marah. Namun melihatnya marah seperti ini, maka ia tidak akan main-main.
"Fine! M-mereka berdua nyatain perasaannya ke gue! Gue gak suka! Karena gue sukanya sama Soonyoung oppa! G-Gue cuma gamau persahabatan Joshua oppa dan Seokmin rusak cuma k-karena mereka bersaing ngedapetin gue! Lo semua gatau kan? Dan buat Jeonghan oppa, gue tau Wonwoo s-suka sama gue, makanya gue gamau nyakitin hati Jeonghan oppa. Tapi maaf Won, gue juga gak suka sama lo. Pernyataan lo waktu kita kecil dulu yang mau nikahin gue udah gue lupain semuanya! Gue benci sama lo! Gara-gara ayah lo yang gak becus ayah gue yang jadi k-korbannya! Dan buat Soonyoung oppa, terima kasih. Karena lo, gue gak ngerasa kesepian lagi. Puas lo semua?!"
Mendengar pernyataan Seungji membuat kami semua terdiam. Seokmin yang berada di pelukanku sudah tidak bernafas lagi sejak Seungji mengatakan ia tidak suka pada Seokmin. Dan masalah persaingan antara Joshua dan Seokmin memang benar adanya. Semenjak Joshua sekelas sama gue, meninggalkan Seokmin dikelas sebelah, membuat jarak persahabatan mereka semakin jauh. Kita semua tahu kalau Seokmin menyukai Seungji, namun karena Joshua penasaran dengan sosok wanita yang disukai sahabatnya akhirnya ia memilih mendekatinya. Sejak saat itulah mereka terlibat persaingan kecil antara siapa yang akan mendapatkan Seungji.
Dan tentunya aku syok. Rahasia masa kecilku yang kusimpan rapat-rapat ternyata tercium juga. Aku memang menyukai sosok wanita bersurai cokelat kehitaman itu. Kebersamaan kami sejak kecil membuatku menyukai sosoknya yang periang. Aku tak pernah melupakan kejadian dimana ia menyemangatiku yang sedang menangis di sebuah ayunan dekat rumahku. Saat itu aku sedang bertengkar dengan Jeonghan hyung. Aku yang marah pun akhirnya pergi mencari udara segar.
Dia datang dengan senyuman manis yang menawan itu. Menawarkanku kuenya yang baru saja dimasak oleh ibunya sembari menyeka air mataku dengan sapu tangannya. Dia memakai dress biru langit, warna kesukaanku. Lalu ketika ibu, bibi Hyejeong dan Jeonghan hyung menghampiriku aku senang sekali ternyata mereka kenal dengan perempuan itu.
Namanya Choi Seungji. Anak kedua dari pasangan Choi Seungjae dan Han Jiyeon. Memiliki kakak laki-laki yang seumuran dan berteman baik dengan Jeonghan hyung, kakak sepupuku. Seungjae-ssi adalah salah satu rekan kerja ayah, sedangkan ibunya berteman baik dengan bibiku, Kim Hyejeong. Setiap salah satu dari mereka datang kerumah, pasti Seungji ikut serta. Kami selalu bermain bersama.
Aku ingat kalau kami suka bermain keluarga dan pernikahan, dengan aku yang jadi suami Seungji. Aku juga ingat kalau aku pernah berkata padanya kalau sudah besar nanti aku akan menikahi Seungji. Ucapan masa kecilku tidak main-main. Aku menaruh hati padanya sejak kami belum paham apa-apa, bahkan yang kami pahami hanyalah bermain, makan, tidur, dan menangis.
Aku paham sekarang mengapa Seungji terkesan tidak mau mendekatiku kembali padahal kami begitu dekat saat kecil. Ia tidak menyukaiku, lebih tepatnya membenciku karena ia mengira bahwa ayahku membunuh ayahnya ketika di pabrik mereka bekerja terjadi kerusakan dan membuat ayah Seungji menghembuskan nafas terakhirnya. Selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan.
Tiba-tiba aku batuk hebat, mengeluarkan satu bunga Lili berwarna oranye secara utuh yang telah layu. Kebencian, itulah maknanya. Dan setelah itu aku merasakan paru-paruku sesak. Aku sulit bernafas, air mataku menetes karena tak dapat menahan rasa sesak yang ada di dadaku. Bunga yang kukeluarkan semakin banyak, diselingi tetesan darah yang semakin lama semakin merembes di mulut dan rongga hidungku.
Aku tak dapat melihat, penglihatanku kabur karena air mata yang memenuhi seluruh permukaan mataku. Aku bisa merasakan Mingyu dan Seungkwan yang memelukku. Jihoon menangis dengan keras tidak jauh dari tempatku berada. Aku pun mendengar suara tangisan Seungji. Aku merasa lega. Setelah bertahun-tahun aku merahasiakannya kini aku benar-benar lega walau kenyataannya tidak sesuai dengan keinginanku.
Selamat tinggal semuanya. Maafkan aku ayah, ibu. Maafkan aku hingga aku tak tahu harus berapa kali aku mengucapkan kata itu. Aku merasa banyak melakukan kesalahan selama aku hidup, maaf aku tidak bisa membahagiakan kalian.
Maafkan aku teman-temanku. Seungkwan, aku selalu mengabaikan perhatianmu yang selalu berusaha membuatku meminum vitamin-vitamin sialan itu. Maafkan aku, tapi aku menyayangimu dan menganggapmu sebagai adikku. Mingyu, kita selalu membesar-besarkan masalah ketika salah satu dari kita kalah saat bermain game tapi aku memaafkanmu. Aku juga memaafkan hutang-hutangmu yang akupun tak tahu jumlahnya berapa.
Jihoon, walau kita sering berbeda pendapat namun ketahuilah bahwa semua ide-idemu begitu hebat. Aku tunggu kau jadi musisi seperti yang kau impikan sejak dulu. Untuk Soonyoung, maaf jika aku membuatmu selalu kerepotan karena tingkahku yang suka kabur kerumahmu jika ada masalah keluarga. Dan maaf aku sempat membencimu karena ternyata Seungji menyukai dirimu dibandingkan aku.
Dan terima kasih untuk Choi Seungji karena telah mengajarkanku apa itu cinta, kesetiaan, dan perjuangan memantaskan diri untuk berada disisimu. Aku merasa bahwa penantianku selama ini tidak sia-sia walau bukan ini yang kuinginkan. Ketahuilah walau ragaku tidak ada lagi, namun kau masih memiliki hatiku. Kau memang berhak memilih pria yang kau sukai, bukan memilih aku yang punya banyak kekurangan ini. Maafkan aku yang bodoh ini.
Sekali lagi, maaf dan terima kasih.
Bertahun-tahun lalu telah lewat. Kini semua tenang, semua lega, saling memaafkan. Tidak ada perasaan yang terbebani lagi. Tidak ada hati yang tersakiti lagi. Walau artinya meninggalkan duka yang cukup dalam. Karena mereka paham, rasanya akan menyesakkan bila tidak saling memaafkan.
Hari ini tepat delapan tahun setelah kepergian Wonwoo, Joshua, dan Seokmin. Masing-masing keluarga berdoa agar mereka tenang diatas sana. Mereka berharap beban didunia mereka hilang dan dapat bermain kembali di kehidupan selanjutnya.
"Hai Wonwoo, kembali lagi bersama Hoshi si Horanghae. Rawrr! Hahaha!" Soonyoung tertawa melihat nisan yang bertuliskan nama Wonwoo. Ia merasa bodoh karena terus membuat jokes tentang harimau itu.
"Lu tahu gak? Si Woozi berisik banget gila. Cuma gegara ide gue lagi stuck. Itu loh ide dance untuk boy group yang mau debut itu padahal deadline mereka masih lama lagi. Tapi untunglah Mingyu dan Seungkwan mau ngebantu gue. Dan lu pasti ingat Junhui dan Minghao'kan? Mereka benar-benar hebat dengan ide-ide mereka, tapi masa' gue ngasih member boy group itu dance yang penuh dengan aksi bela diri China? Hahaha. Kasian mereka dong."
"Won maafin gue. Gue gatau kalo lu suka sama Seungji. Tapi sekarang keknya lu udah seneng deh diatas sana. Semoga lu seneng deh ditemenin Seungji. Si Seokmin sama Joshua gak berantem lagi'kan? Apalagi ada si Seungji itu. Oh iya gue nitip salam yak buat Jeonghan hyung. Yang lain juga minta maaf gak bisa kesini, gue saja sebenernya dilarang manajer buat kesini. Tapi lu tahu sendiri lah, ini hari ulang tahun lu dan hari kematian lu. Sorry, kita semua cuma bisa kasih lu bunga. Oh iya ada titipan bunga juga dari Junhui, Minghao, Vernon sama Dino. Segitu saja kali yak? Gue bingung mau ngomong apalagi. Baek-baek ya kalian disana. Ups, manajer gue sudah teriak tuh hehehe. Bye!"
Ya, mereka semua mewujudkan mimpi-mimpi itu walau tidak lengkap. Jihoon atau Woozi sekarang menjadi produser terkenal dengan karya-karya luar biasanya mampu membuat orang yang mendengarnya merasakan emosi yang disampaikan olehnya. Mingyu kini menjadi rapper dan membantu Jihoon menuliskan lirik-lirik lagu. Soonyoung atau Hoshi menjadi dancer top. Sedangkan Seungkwan bersolo karir dan menjadi penyanyi yang mampu membawa segala jenis genre lagu. Mereka semua satu manajemen, namun karya mereka selalu dipersembahkan untuk ketiga sahabatnya.
Seungji yang merasa harga dirinya hilang memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan bunga-bunga yang layu tersebut. Ia ingin melupakan Soonyoung. Namun malang nasibnya karena ia kehabisan darah, akhirnya ia ikut menyusul Wonwoo. Seungcheol tentunya merasa bersalah, namun ia tidak bisa memarahi Soonyoung. Mungkin seperti itulah takdir Seungji.
Soonyoung meninggalkan kompleks pemakaman tersebut. Angin berdesir lembut menerpa kulitnya, daun-daun berguguran karena sudah memasuki musim gugur. Jauh disana, sebuah senyuman terukir.
Terima kasih.
誰かの全てになりたいんだ
"I Want To Be Someone's Everything"
.
.
.
.
.
HAIIIII
Kenalin ini cerita pertama yang saya buat hasil gabut nungguin Pledis ngaplod MV Fallin Flower
How? Tolong yaa aku minta kripiknyaaa T-T
