"Movie Date"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning (s) : AU, no super power, TauYa, bahasa dialog non-baku.
Untuk #DailyDrabbleChallenge, Day 2 – Prompt : Nonton oleh blacklist name
Selamat membaca!
.
.
.
"Akhirnya kamu datang juga."
Taufan menyambut tamu di depan pintu rumahnya dengan senyum lebar. Ia menyingkir untuk membiarkan gadis berhijab merah muda itu masuk.
"Yakin nggak apa-apa nih aku ke sini?" tanya Yaya. tangannya membawa sepelukan camilan. Keripik kentang, stik keju, juga sekotak biskuit yang tampak mencurigakan.
"Kamu kayak ke rumah siapa aja," Taufan terkekeh. "Ya nggak apa-apa, lah. Ayo masuk."
Mereka berjalan menuju ruang tengah. Laptop diletakkan di atas karpet, di tengah sampah bungkusan makanan yang berserakan mengelilinginya.
"Jangan-jangan kamu udah nonton duluan sebelum aku datang, ya?" sungut Yaya. "Curang, ih. Katanya mau nonton bareng."
"Nggak, kok, nggak," Taufan mengibaskan tangan santai. "Tadi aku cuma nge-chat sama Fang Gopal doang. Mereka nggak bisa ikut ke sini katanya."
"Berarti kita nonton berdua doang?" Yaya mendudukkan diri di karpet dan menaruh barang bawaannya.
"Iya. Asyik, 'kan? Nggak ada yang gangguin kita berduaan jadinya," Taufan terkekeh.
"Kalau berduaan nanti ada setan, mau?" cibir Yaya.
"Nggak apa-apa. Setannya juga pasti bakal luluh sama kecantikan kamu, jadi dia nggak bakal ganggu."
Yaya memutar mata. Ia menyingkirkan remah makanan di bawah kakinya sambil berdecak pelan. "Kalau makan itu jangan ngotorin rumah bisa nggak, sih? Nanti diomelin Gempa, lho."
"Tenang aja. Nanti aku beresin sebelum Gempa pulang."
Taufan mengambil tempat duduk di depan laptop dan memilih film yang akan mereka tonton.
"Duduknya deket-deket sini, Ya," kata Taufan. "Nanti kalau hantunya muncul 'kan kamu bisa meluk aku biar nggak takut."
"Modus," cibir Yaya. "Yang ada kamu malah kabur duluan kalau ngelihat hantunya."
"Emangnya aku Hali?" Taufan balas mencibir.
Tombol pemutar dinyalakan. Taufan dan Yaya mengambil tempat masing-masing, punggung bersandar di sofa. Yaya mengambil salah satu bantal sofa dan memeluknya, Taufan meraih bungkusan keripik dan menyuap segenggam penuh ke dalam mulut.
Musik menegangkan sudah terdengar sejak adegan bergulir. Kedua pasang mata mereka terpancang lurus pada layar, mengikuti setiap adegan yang ditampilkan.
Adegan jump-scare yang mendadak muncul sukses membuat Taufan dan Yaya sama-sama terlonjak. Yaya memeluk bantal erat-erat sementara Taufan mengunyah keripik dengan wajah tegang. Sosok hantu yang tiba-tiba ditampilkan di depan layar bersamaan dengan suara bantingan pintu di lantai atas membuat keduanya menjerit.
"Itu apaan?" tanya Yaya, mendongak ke langit-langit di atas mereka dengan jantung berdebar. "Barusan ada suara pintu di atas, 'kan?"
"Iya," Taufan mengangguk. ia meremas bungkusan keripik di tangannya dan ikut mendongak. Wajahnya yang tegang sedikit memucat.
"Bukannya kamu bilang nggak ada siapa-siapa selain kita?"
"Emang nggak ada. Hali sama Gempa 'kan masih belum pulang."
"Coba kamu cek sana," saran Yaya. "Siapa tau ada maling masuk, 'kan?"
"Ih, nggak berani, ah. Temenin, dong."
Yaya berdecak. Mau tak mau ia ikut bangkit bersama Taufan. Adegan film dijeda sebentar sementara mereka memeriksa ke lantai atas.
"Kalau beneran ada maling, gimana?" bisik Yaya. Langkah mereka berkeriut di tangga, menciptakan suara yang bergaung di rumah yang sunyi.
"Ya kamu lawan, dong. Kamu kan jago bela diri," cetus Taufan.
Yaya mencibir, tapi ia tetap menyiagakan diri. Kalau memang ada orang tidak diinginkan yang menyusup masuk, mungkin ia masih bisa melawan. Namun bagaimana kalau itu justru 'makhluk lain' yang tidak bisa dilawan dengan pukulan atau tendangan biasa?
Taufan dan Yaya tiba di lantai atas. Mereka berdiri diam memandangi ketiga pintu kamar yang tertutup.
"Tadi suaranya dari arah mana?" tanya Yaya.
"Kayaknya dari kamar Hali, deh," balas Taufan. ia menelan ludah dan memberanikan diri melangkah. Yaya mengekor tepat di belakangnya.
Keduanya tiba di depan pintu kamar Halilintar yang tertutup rapat. Tanda bertuliskan 'Masuk tanpa ketuk = Mati' tergantung tepat di depannya.
Taufan menoleh pada Yaya, yang mengangguk kecil. Ia membuka pintu perlahan. Suara derit pintu membuat keduanya sama-sama menahan napas.
"Lho, Hali?" Taufan mengernyit heran saat mendapati saudara kembarnya tengah berbaring memainkan ponsel di ranjang. "Sejak kapan kamu pulang?"
"Dari tadi," tukas Halilintar.
"Kok kita nggak denger?" Taufan melirik Yaya yang tampak sama herannya.
"Kalian keasyikan nonton, makanya nggak denger," kata Halilintar lagi.
"Masa'?"
"Iya," Halilintar berdecak dan memandang keduanya jengkel. "Udah ah, keluar sana. Ganggu aja orang mau istirahat."
"Iya, iya," Taufan mencibir. Ia menutup kembali pintu kamar Halilintar dan melangkah pergi bersama Yaya. "Kok bisa kita nggak denger Hali pulang, ya?"
"Suara filmnya kekencengan, sih," kata Yaya. "Udah aku bilang kecilin suaranya."
"Nggak seru kalau nonton film horor suaranya kecil," tukas Taufan. mereka melangkah menuruni tangga dan kembali ke ruang tengah. "Lagian Hali juga kayak setan, sih. Nongol sembarangan, nggak ngomong apa-apa. Bikin orang jantungan aja."
"Hush, sembarangan ngatain saudara sendiri setan," tegur Yaya.
"Ya 'kan emang bener—"
"Kami pulang."
Taufan dan Yaya sama-sama menoleh. Gempa muncul di pintu depan bersama Halilintar yang menenteng sepatu olahraganya.
"Oh, ada Yaya?" sapa Gempa, tersenyum kecil. "Kalian habis ngapain? Nonton?"
Keduanya tidak menyahut dan hanya tertegun menatap Halilintar yang sedang menyimpan sepatunya di rak.
"Hali ...?" ucap Taufan ragu. "Kamu ... baru pulang?"
"Iyalah. Emangnya nggak bisa lihat, nih?" ketus Halilintar.
Taufan dan Yaya saling berpandangan. Wajah mereka sama-sama memucat. Suara derit pintu dari lantai atas kembali terdengar, kali ini diiringi suara derap langkah berat di langit-langit di atas mereka.
Kalau yang di atas bukan Halilintar, lalu siapa?
.
.
.
Fin
A/N :
Udah lama nggak ngepost TauYa di sini. Kalau cuma ngasup random di FB sih sering haha. Sebenernya pengen bikin yang manis sih, tapi lagi pengen nistain mereka berdua, so ... /digeplak.
Makasih banyak yang udah menyempatkan membaca! Sampai bertemu lagi besok! (semoga)
