Egoist

Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Cerita milik saya

Summary:

Obrolan ringan Akashi dan Kuroko pada sore hari yang dilanda hujan dengan bertemankan dua gelas coklat panas yang berakhir …

Enjoy!

.

.

"Akashi-kun, silakan coklat panasnya."

Kuroko Tetsuya meletakkan dua gelas berisi coklat panas diatas meja. Salah satu gelas berwarna babyblue yang bergambar Siberian husky diambil dan disesap pelan isinya. Mata sebiru lautan menatap datar tetes-tetes hujan dari langit yang tengah menangis.

"Terima kasih, Tetsuya. Padahal tidak perlu repot-repot sampai membuatkanku segelas coklat."

Akashi Seijuuro ikut mengambil gelas berwarna marun, kemudian mulai menyesap isinya. Hm, terlalu manis.

"Akashi-kun ingin membicarakan apa?" tanya si biru to the point. Akashi menatap balik Kuroko yang tengah menatapnya, lantas menyunggingkan seulas senyum.

"Tidak ada salahnya bukan mengunjungi teman lama?" kata Akashi.

Gelas berisi liquid manis disesap lagi. Kuroko mengangguk kecil sebagai balasan.

"Benar juga. Apa kabar, Akashi-kun?" tanya Kuroko, kembali memulai percakapan setelah jeda singkat diantara mereka. Akashi balas mengangguk.

"Baik. Bagaimana denganmu, Tetsuya?" tanyanya balik.

"Seperti yang Akashi-kun lihat, aku baik."

"Baguslah."

Hening sempat menguasai. Coklat panas dihirup aromanya, sekedar melakukan sesuatu agar tidak terlalu sepi. Mungkin karena terlalu lama tidak bertemu, Akashi dan Kuroko jadi kebingungan sendiri memikirkan topik pembicaraan.

"Kudengar semua novel yang kau buat menjadi novel best seller. Selamat ya, Tetsuya. Aku sudah membaca semua karyamu, dan kuakui semuanya menarik." Mulai Akashi.

"Terima kasih pujiannya, Akashi-kun." Kuroko merespon dengan nada datar dan sebuah anggukan kecil.

Jari-jemari yang kurus dan pucat dibawa memeluk gelas berisikan cairan panas, berusaha menghangatkan telapak tangan yang sedingin es. Akashi dan Kuroko sama-sama terdiam lagi, kali ini mereka tampak larut dalam pikiran masing-masing.

Tidak nyaman dengan keheningan yang melanda, Kuroko kembali membuka percakapan.

"Bagaimana kabar Furihata—maaf, maksudku kabar Kouki-kun? Bukankah ia baru melahirkan?" sebaris kalimat tanya memecah hening. Ada jeda cukup lama disana. Akashi menatap raut wajah Kuroko sejenak, lalu kembali meneguk minuman ditangan sebelum menjawab dengan senyuman.

"Ya, kondisinya baik." Angguk Akashi.

"Oh, syukurlah. Kudengar dia diserang oleh penjahat, aku jadi khawatir."

"Terima kasih. Ia tak apa-apa," jawab Akashi, "Pun dengan bayi kami." Lanjutnya, sekali lagi melirik raut wajah Kuroko yang masih sedatar biasa.

"Baguslah kalau begitu."

Kuroko memasang senyum lega. Coklat yang sisa setengah kembali dibawa melewati kerongkongan, meninggalkan sisa rasa manis diindra pengecap.

"Kau sendiri bagaimana, Tetsuya?" kali ini Akashi yang duluan melemparkan tanya.

"Hm? Apa yang bagaimana?" tanya Kuroko balik.

"Kudengar kau akan menikah dengan Aomine Daiki bulan depan. Bukankah ia terluka parah?" Mata hetero melirik Kuroko yang sibuk sendiri dengan gelasnya.

"Ah, ya, mungkin pernikahan kami akan diundur hingga beberapa bulan kedepan. Daiki-kun perlu beberapa bulan masa pemulihan." Kuroko berkata sambil menatap balik manik hetero milik Akashi.

"Dari yang kulihat diberita, dia diserang oleh para penjahat buron yang tengah ia kejar. Semoga saja ia bisa lekas pulih. Dan kurasa akan lebih baik kalau kau sering-sering menemaninya."

"Kau benar, terima kasih atas doanya, Akashi-kun." Kuroko menyunggingkan senyum tipis.

"Sama-sama, Tetsuya." Akashi balas menyunggingkan seulas senyum.

Hening kembali menyelimuti mereka cukup lama. Gelas digenggaman tangan mereka sama-sama sudah tandas isinya. Manik hetero dan babyblue sama-sama menatap hujan yang perlahan berganti menjadi gerimis hingga sepenuhnya berhenti.

"Akashi-kun, hujan sudah reda. Kurasa Kouki-kun akan membutuhkan bantuanmu dirumah."

"Ah, kau benar. Hujannya sudah reda. Aku harus segera pulang." Akashi bangkit dari duduknya, kemudian meletakkan gelas yang ia pegang kembali keatas nampan. Kuroko ikut melakukan hal yang sama.

"Senang bisa mengobrol santai bersamamu, Tetsuya. Semoga kita bisa melakukannya lagi lain kali."

"Ya, Akashi-kun. Kapan-kapan kita mengobrol lagi jika ada kesempatan." Angguk Kuroko.

Kuroko bangkit dari meja makan sambil membawa nampan berisi gelas kosong diikuti oleh Akashi yang tengah bersiap ingin pulang. Lantas nampan itu ia letakkan di bak cucian, dan mereka berdua berbelok menuju pintu depan.

Hening menyelimuti mereka disepanjang perjalanan Kuroko mengantarkan Akashi kedepan pintu. Lalu saat mereka baru saja keluar dari dapur, suara Akashi menghentikan langkah Kuroko.

"Tetsuya, aku masih menyayangimu." Gumam Akashi memecah hening. Kuroko menggeleng pelan sebagai balasan.

"Jangan egois, Akashi-kun. Kau sudah memiliki Kouki-kun beserta putra kalian, dan aku akan segera menjadi milik Daiki-kun. Kau tak bisa terus menerus mengenang masa lalu." Ucap Kuroko sambil melirik Akashi dari balik bahunya. Setelahnya ia kembali berjalan masih diikuti oleh Akashi.

"Tapi aku menyayangimu, Tetsuya. Maafkan aku." Lirih Akashi, lalu tersenyum tipis seraya melanjutkan, "Mungkin aku memang benar-benar orang yang egois ya."

Akashi berhenti melangkah, dan Kuroko yang berjalan didepannya mendadak limbung begitu saja.

Kepala bersurai babyblue bergerak menyamping, namun tak kuasa untuk sekedar menegakkan kepalanya. Dibawah tubuhnya cairan sewarna sirup stroberi mulai mengalir memenuhi lantai. Kuroko melirik Akashi dengan wajah datarnya yang biasa lewat bahunya. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun gagal, sehingga bibirnya hanya bisa merapalkan suatu kalimat tanpa suara yang tak Akashi mengerti. Tubuh Kuroko lemas, sebelum akhirnya ia tak bergerak sama sekali.

"Maaf aku sudah egois, Tetsuya." Ulang Akashi, "Ini semua karena aku tidak bisa merelakanmu menjadi milik orang lain. Maafkan aku."

"Dan terima kasih atas coklat panasnya, Tetsuya. Aku senang walaupun rasanya masih terlalu manis untukku." Akashi mengulas senyum yang terlihat begitu tulus.

"Selamat tinggal, Tetsuya. Aku mencintaimu."

Akashi Seijuuro melangkah dengan senyum yang makin lebar melewati Kuroko, berniat keluar dari apartemen si manis setelah sebelumnya mengecup dahinya yang pucat.

Baru sekitar tiga meter melangkah, pandangannya tiba-tiba saja memburam dan entah kenapa lantai jadi terlihat begitu dekat dengannya.

Bruuk!

Ia baru menyadari kalau ternyata ia ikut limbung tak jauh dari Kuroko yang masih diam tak bergerak. Tubuhnya mendadak terasa aneh sekali.

Hm? Apa yang terjadi?

Akashi diam menatap dinding apartemen Kuroko yang bercatkan putih gading sambil berpikir. Darah mengalir keluar dari mulutnya. Masih dengan posisinya yang telungkup dilantai, Akashi akhirnya menyadari sesuatu.

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, sebisa mungkin Akashi memaksa memutar tubuhnya untuk melihat kearah Kuroko. Dan disana, dia melihatnya.

Astaga, betapa bodohnya ia.

Akashi tertawa sarkas, meski sambil sesekali terbatuk darah. Paru-parunya seakan terbakar, dan ia rasa ini adalah akhirnya. Sungguh kejutan yang menarik. Setidaknya ini bukanlah akhir yang buruk untuk orang egois menghela nafas, sebelum ia akhirnya menyerah pada kegelapan yang menelannya sedikit demi sedikit.

Dengan sisa kesadarannya, hanya satu hal yang bisa ia ingat, yaitu seringai lebar yang Kuroko ulas khusus untuknya. Ia jadi tahu apa yang Kuroko katakan padanya tadi sebelum dia ditelan kegelapan yang sama yang akan menelan Akashi saat ini.

Ah, jika tahu akhirnya akan begini harusnya ia tidak perlu berterima kasih tadi.

.

.

.

"Maaf, karena sebenarnya aku juga adalah orang yang begitu egois."

.

.

.

-Fin-

A/N: Ini sebenarnya fic lama, tapi karena lagi kangen sama fandom ini setelah lama terseret arus di AO3, saya publish aja. Semoga menghibur! Terima kasih^^

.

.

.

"Berita hari ini. Istri dari pengusaha kaya raya, Akashi Seijuuro, Akashi Kouki dan putra mereka yang baru berusia beberapa minggu bernama Akashi Seiki ditemukan tewas dikamar mereka akibat keracunan. Akashi Seijuuro sendiri sejak beberapa hari yang lalu hingga hari ini menghilang tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Ada yang berpikir kalau ialah yang membunuh istri serta anaknya, kemudian ia melarikan diri entah kemana. Ada juga yang menyanggah dengan berkata mungkin itu ulah orang-orang yang iri padanya, karena keluarga Akashi terkenal begitu rukun dan bahagia. Hingga saat ini, semua masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Pihak kepolisian Jepang juga masih menyelidiknya, jadi kita hanya bisa menunggu perkembangan dari kasus ini."

.

.

"Pada sore hari, dihari yang sama dengan berita kematian keluarga Akashi yang menggemparkan, ada berita lain yang tak kalah mengejutkan. Kepala kepolisian Jepang, Aomine Daiki, ditemukan tewas dikamar rawatnya. Diketahui ia tewas akibat luka tusukan fatal pada organ jantungnya. Tak ada yang tau mengapa ia bisa sampai mendapat luka itu, sedangkan tak ada siapa pun yang masuk kekamar rawatnya sore itu. Kepolisian Jepang mengerahkan tenaga mereka untuk membongkar kasus pembunuhan kepala kepolisian itu mereka, dan berjanji akan menghukum pelakunya. Untuk kelanjutan kasus ini, kita hanya bisa menunggu hasil penyelidikan."

.

.

.

Maaf bagian akhirnya aneh begini, maaf!