disclaimer © Animonsta Studios
warning semi-AU (mungkin), AR, salah genre, plot bolong atau justru plotless, no super power, deskripsi visual yang membingungkan, OOC, death chara(s), typo(s), kesalahan penggunaan EBI.
Kilau cahaya mendominasi penglihatan. Kuda-kuda imitasi berlari dalam lingkaran komedi putar tanpa henti. Topeng-topeng dari yang bentuknya lucu hingga menyeramkan terpajang di kiri-kanan jalan, katanya gratis untuk siapa saja yang menginginkannya. Rumah hantu terletak di sudut, menyendiri dengan rasa seram yang menusuk kulit siapa pun yang melihatnya. Ada banyak kios-kios dengan ragam properti yang ditawarkan, seperti makanan dan minuman, suvenir unik, bahkan permainan-permainan sederhana seperti lempar gelang atau sarana memanah mini. Bianglala tujuh warna terletak persis di bawah bulan begitu terlihat indah, menyinari wahana yang memang selalu menjadi bintang karnaval.
"Waaaaaaaaaahhhh ... indah sekaliiiii …."
"Jangan sampai tersesat, Pang," pesan Kaizo. Sejujurnya, baru kali ini dia menginjakkan kakinya di tempat seperti ini di usianya yang sudah menginjak delapan belas tahun. Malahan, Kaizo tak akan pernah berpikir untuk datang ke karnaval, kalau saja Pang tidak merengek memintanya untuk datang bersama dengan dua buah tiket gratis. Lagi pula, Kaizo tak punya alasan untuk menolak. "Terus bersamaku."
"Oke, Abang!" jawab Pang patuh. "Pang mau gula kapas, boleh?"
"Hm. Ayo."
Kaizo membawa Pang menuju salah satu kios yang menjual makanan-makanan manis. Penjaga kios tersenyum ramah sambil menawarkan satu per satu manisan-manisan buatannya sendiri. Seperti permintaan awal, Pang menyerukan gula kapas saat ditanya keinginannya. Begitu ditanya rasa, Pang mengernyit bingung. Gula kapas itu ada rasanya juga ya, Abang? Kaizo menangkap pertanyaan itu dari mata Pang.
"Pang ikut Abang saja," jawab Pang pada akhirnya.
"Huh? Aku tidak mau makan gula kapas," tolak Kaizo terus terang.
Pang memasang wajah memelas. Ada titik air di sudut matanya. Kaizo hapal betul wajah Pang yang sebentar lagi akan merengek padanya. Meski usianya baru sembilan tahun, tapi menurut Kaizo, adik satu-satunya ini sudah jago berakting. "Ayo Abang, pilih dan kita makan sama-sama!"
"Astaga Pang, baiklah." Kaizo takluk tak sampai satu menit. "Apakah rasa ... lobak merah ada?"
"Permintaan yang cukup unik, Tuan." Wanita penjaga kios tertawa kecil. "Karnaval adalah tempat untuk semua orang bahagia. Tentu saja aku bisa membuatkannya untuk kalian berdua."
Pang bersorak bahagia. Binar lucu dan penasarannya tak memudar selama sang penjaga kios membuatkan gula kapas untuk mereka berdua. Sebuah tongkat kayu yang dimasukkan ke dalam lubang mesin yang berputar tiba-tiba ditutupi oleh awan-awan berwarna oranye kemerahan, membuat Pang takjub.
"Ini untukmu."
Dengan permen kapas sebesar kepalanya di tangan, Pang tersenyum lebar. Pang menyodorkannya kepada Kaizo, secara tersirat meminta kakaknya itu memakan permen kapas terlebih dahulu.
Menurut, Kaizo menggigit kecil permen kapas rasa lobak merah permintaannya. Harus Kaizo akui, rasanya memang manis, namun tidak membuat lidahnya lengket karena terlalu banyak laktosa seperti yang dia duga sebelumnya. Rasa lobak merah mendominasi ruang mulutnya tak lama kemudian.
Pang mengulum permen kapas dari posisi yang berbeda. Mata yang penuh akan kekagetan itu tak berdusta.
"Enak! Aku suka lobak merah!" seru Pang. "Pilihan Kakak memang luar biasa!"
"Hmm ... harganya?" tanya Kaizo pada penjaga kios.
Tatapan Pang tertuju pada sebuah tenda berwarna merah bergaris putih berukuran cukup besar, bahkan ukurannya berkali-kali lipat daripada bianglala yang tadi dilihatnya. Entah mengapa Pang tak bisa melihat tenda itu saat memasuki karnaval. Tempat tersebut begitu gelap, tak seperti kios-kios dan wahana-wahana yang penuh cahaya. Hanya ada sebuah lampu redup yang membuat Pang bisa melihat warna tenda.
Terdorong oleh rasa penasaran, Pang berjalan mendekati objek yang dia lihat, melupakan pesan kakaknya saat mereka tiba di area masuk karnaval.
Sementara itu, saat mendengar kata gratis dari si wanita penjual manisan, Kaizo secara refleks mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiri Pang, tetapi alangkah terkejutnya Kaizo saat mengetahui bahwa hanya angin yang hanya diraupnya.
Pang menghilang di tengah keramaian.
Pang melihat ke atas hingga lehernya berteriak tak mampu memanjangkan sendi lagi. Perasaannya kagum bercampur bingung. "Ini ... apa?"
Seorang bertubuh jangkung keluar dari tenda bersama dua figur bertubuh lebih mungil, lalu menyambut Pang dengan nada gembira. "Ada pengunjung! Ada pengunjung!"
"Selamat datang di Siarah Sirkus Sarkas!" seru seorang yang bertubuh kecil. "Sudah lama kami menunggu kedatanganmu! Ayo masuk-masuk, bagaimana kalau kita makan kue dan minum teh?"
"Pang ... Pang mau mengajak Abang, boleh?" pinta Pang.
"Tidak perlu! Hanya sebentar saja!" cegah si jangkung. "Oh, ada baiknya aku memperkenalkan diri kami bertiga. Namaku Jokertu, yang tadi mengajakmu adalah Jugglenaut, dan yang di sampingku ini Panto namanya. Dia mengungkapkan apa yang dia inginkan melalui seni pantomim atau gerakan-gerakan tanpa suara, menarik bukan?"
"Waaah! Keren-keren!" Pang ingin bertepuk tangan, namun gula kapasnya masih tersisa setengah. "Kalau Abang Jugglenaut dan Abang Jokertu ini bisa apa?"
Panto terlihat membuat sebuah gerakan yang sulit Pang mengerti. Melihat kebingungan dari pengunjungnya, Jokertu menjadi mulut bagi Panto. "Kami bertiga sangat ingin kamu masuk ke dalam! Ayo dan nikmatilah sirkus kami!"
"Sirkus? Apa ada singa di sana? Beruang? Harimau?" tanya Pang bertubi-tubi.
"Semua yang kauimpikan ada di dalam, tentu saja!" jawab Jugglenaut sambil tertawa riang. Jokertu menyingkirkan tongkat kayu dari genggaman. Pang tidak keberatan karena gula kapasnya sudah cepat-cepat dia habiskan. "Kita bersenang-senang bersama!"
"Umm, Pang tidak boleh mengajak Abang?" tanya Pang hati-hati.
"Abangmu itu sudah dewasa. Umumnya, orang dewasa tidak percaya dengan keajaiban dan tidak akan bisa melihatnya," jawab Jokertu. Panto mengangguk sambil menarik tangan Pang, ingin membawanya masuk. Melihatnya, Jokertu kembali bicara, "Aku tidak pernah melihat Panto semangat seperti itu. Terima kasih sudah membuat temanku bahagia hanya dengan kedatanganmu."
Pang tentu senang bisa membuat orang lain senang juga. "Sama-sama! Jadi, Pang boleh masuk?"
"Tentu, tentu saja!" Jokertu tertawa keras. "Tapi ingat, kamu hanya bisa masuk ke sini sekali saja!"
"Kenapa begitu?" tanya Pang lagi.
"Seperti kata-kata kebanyakan makhluk hidup, keajaiban tidak datang dua kali," jawab Jugglenaut, di sebelahnya Panto mengangguk dua kali.
Jokertu, Jugglenaut, dan Panto membiarkan Pang masuk ke dalam tenda terlebih dahulu, dengan berdiri di kiri-kanan akses masuk bak penyambut tamu kehormatan. Pang sedikit takut karena dia bahkan tak bisa melihat apa pun di belakang saat menoleh, tapi Pang hanya menggeleng. Hanya sebentar saja tidak akan menjadi masalah, bukan? Lagi pula, sirkus itu keren! Tidak akan ada hal menyeramkan di sana!
Begitu Pang menyibak tenda, Pang jatuh dalam kegelapan.
"Pang! Pang! Ke mana kau pergi?!"
Kaizo tidak peduli dengan suasana karnaval yang semakin ramai menanti acara utama—bersinarnya cahaya kembang api tepat tengah malam. Beberapa orang dilewatinya dengan tabrakan kecil, sebagian di antaranya menyerukan kemarahan dan sisanya hanya mendengkus tak suka. Jantung Kaizo berdegup kencang, mengutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya kehilangan Pang, yang sebelumnya masih berdiri tak sampai satu meter di sebelahnya.
Lurus, belok kanan, ada perempatan, belok kiri, belok kanan. Terus begitu saja, hingga Kaizo tak tahu lagi di mana dia sekarang. Sebenarnya, jika tidak ada karnaval, tempat ini hanyalah sebuah planet kosong yang dulunya memang terkenal sebagai pusat hiburan terbesar satu galaksi, Planet Sarkas namanya, dengan tenda sirkus yang selalu mengadakan atraksi setiap saat.
Entah apa yang membuat planet ini kembali ramai dengan deretan kios dan wahana yang membentuk labirin artifisial—
"Tuan?"
—mengingat meteor besar pernah membumihanguskan Planet Sarkas.
"Tuan tampaknya sedang kebingungan. Tempat ini adalah sarana untuk membahagiakan semua orang. Berkeinginan untuk mampir ke sirkus kami?" tawar sesosok yang sempat memanggil Kaizo dengan nada persuasif. "Kau bisa menemukan kebahagiaanmu di sana."
Baru menyadari akan banyaknya kejanggalan, Kaizo kini mendapati bahwa dia dan Pang sudah terjebak dalam situasi berbahaya. Segera, Kaizo memasang sikap defensif. "Aku sedang tidak ingin bercanda. Tinggalkan aku—"
"Abang."
"Oh, apakah ini Abang yang kamu maksud?" Si badut bertanya pada sosok di belakangnya. "Abangmu mirip sekali denganmu, ya?"
"Abang, ayo kita pergi ke sirkus," ajak Pang. "Seru, ada banyak sekali atraksi di sana."
"Syukurlah kau baik-baik saja, Pang!" Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kaizo segera memeluk adiknya dengan erat. "Hm, apa pun yang kaumau. Asal jangan menghilang lagi, oke?"
"Iya, Abang. Ayo."
Tidak tahu sejak kapan, tenda merah bergaris putih itu berdiri kokoh tepat di hadapan mereka. Pang masuk sambil menarik tangan Kaizo dan badut yang menghampiri Kaizo tadi.
"Papa jahat! Kenapa setiap kali aku mau mengajak Papa ke sirkus selalu jawabannya tidak mau sih?! Aku kan mau seperti teman-teman juga!"
Pintu dibanting kuat. Masa bodoh papa-mamanya akan mengoceh nanti, yang jelas suasana hatinya benar-benar buruk sekarang. Kalaupun dimarahi, dia akan mengalah dengan meminta maaf lalu beranggapan semua masalah selesai.
"Loh? Tirai jendelaku belum kututup ya?"
Menuruti keinginan otaknya, anak itu bergegas untuk menutup tirai. Sayangnya, dia terlanjur melihat sesuatu yang menyeramkan pada pohon yang berada di sisi lain jendelanya.
Terlihat dua orang dengan kepala menunduk dalam posisi tergantung pada salah satu ranting. Seolah tahu ada yang melihat, dua kepala itu menengadah serempak, menunjukkan seringai dari ujung telinga hingga ke ujung telinga yang lain beserta rongga kosong yang seharusnya berisi sepasang bola mata.
Kepala itu berputar tiga ratus enam puluh derajat, memelintir leher mereka sendiri. Tubuh mereka jatuh, meninggalkan kepala dengan leher masih terbelit kawat berduri. Mulut keduanya membuka, mengatakan sebaris kalimat berintonasi tanya.
"Ingin melihat sirkus bersama?"
tamat
~himmedelweiss 25/03/2020
