Necklace
Hosokawa Haruka and Hosokawa Haruki
Aoharu x Kikanjuu milik NAOE
Cerita milik saya
Summary:
Haruka hanya menginginkan kalung merah serupa milik Haruki.
Enjoy!
.
.
Hosokawa Haruka menatap datar sosok berwajah serupa dirinya yang tengah duduk canggung didepannya. Tatapan matanya lurus kesatu hal. Leher Haruki yang berhiaskan kalung indah berwarna merah.
"Nii-san, kenapa kau tidak membiarkanku memiliki kalung yang sama denganmu?" pertanyaan itu meluncur dengan mulus dari bibir Haruka, dan Haruki dibuat kebingungan sendiri mencari jawabnya.
"Karena. . . orang sukses sepertimu tidak memerlukan kalung ini." jawabnya dengan raut sedih sambil mengelus lehernya pelan.
"Apa hubungannya antara kalung dan orang sukses? Akupun bisa saja mendapatkannya bila aku mau." Bantah Haruka.
"Mana bisa begitu." Tertawa pelan, Haruki kemudian menggeleng dengan raut campur aduk, "Kalau kau mendapatkan kalung ini, nanti ayah dan semua orang yang berharap padamu bisa sedih."
"Lantas kalau nii-san yang dapat tidak apa-apa, begitu?" tanyanya, membuat bahu Haruki terlonjak kecil karena kejut.
"Ah, itu. . . Aku berbeda." Senyumnya, "Bukankah sudah sewajarnya bagi orang gagal untuk memakai kalung ini?" tanyanya balik, membuat dahi Haruka mengerut.
"Nii-san bukan orang gagal." Bantahnya lagi.
"Aku orang gagal, Haruka." Lirih Haruki, "Aku gagal memenuhi harapan ayah, aku juga gagal memenuhi harapan teman-temanku. Aku sudah gagal memenuhi harapan semua orang."
"Tapi nii-san selalu memenuhi—tidak, nii-san selalu melampaui harapanku."
"Tidak, Haruka. Itu hanya perasaanmu saja." Jawab Haruki.
Haruka hanya menatap Haruki dalam diam sebelum rautnya berubah serius.
"Kalau memang harus seperti yang nii-san katakan, maka aku cukup menjadi orang gagal juga. Jadi aku bisa memakai kalung yang sama dengan yang nii-san miliki. Kan?"
"Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Kau tidak bisa memiliki ini. Nanti ayah bisa sedih, Haruka." Larang Haruki sambil menggelengkan kepalanya.
"Biar saja. Aku tidak peduli. Satu-satunya yang kupedulikan hanya nii-san seorang. Jadi biarkan aku memiliki kalung itu." balasnya.
"Uh, Haruka, kau terdengar seperti seorang maniak saja." Tawanya, terdengar begitu terpaksa ditelinga Haruka.
"Nii-san, jangan mengalihkan pembicaraan." Katanya datar. Tawa Haruki langsung berhenti dan raut wajahnya menjadi gusar.
"Kubilang tidak ya tidak, Haruka. Kenapa kau begitu keras kepala? Ini bukan untuk orang-orang seperti kau."
"Tapi aku tidak bisa begini. Aku tidak terbiasa merasakan perbedaan ini. Nii-san dan aku itu sama, dan akan selalu sama." Ucapnya tetap keras kepala dengan pemikirannya.
"Dengarkan aku, Haruka. Kita ini memang kembar, tapi kita ini berbeda. Dan kuharap kau tidak akan mengenakan kalung ini hanya karena keegoisanmu. Cukup aku saja, jangan kau juga."
"Apa yang berbeda, nii-san? Beritahu aku."
"Kau masih belum mengerti juga? Kau itu orang sukses sedangkan aku hanya orang gagal, sesimpel itu." Senyum Haruki, kentara sekali menunjukkan rasa sakit dan kesedihan.
"Tapi, nii-san, aku—"
"Haruka, berjanjilah padaku kau tidak akan memakai kalung yang sama denganku, oke?" potong Haruki sebelum Haruka dapat menyelesaikan apapun itu yang hendak ia bicarakan tadi.
"Nii-san, aku—"
"Haruka, kau menyayangiku kan?" tanya Haruki yang dijawab Haruka dengan anggukan, "Kalau begitu tolong turuti aku, kali ini saja. Ini demi kebaikanmu juga. Ya?" bujuknya.
Haruka tak membalas apa-apa dan hanya menundukkan kepalanya.
"Baiklah." Ucapnya lirih, terdengar begitu tidak rela untuk menyetujui permintaan Haruki tapi sayangnya harus ia lakukan.
Senyum Haruki mengembang begitu lebar karena kelegaan. Tidak masalah selama Haruka masih mau menurutinya. Ia tidak bisa membiarkan kembarannya itu menjadi sama sepertinya. Haruka harus tetap bersinar seperti matahari. Dia tidak bisa berada dikegelapan seperti Haruki, dia tidak boleh.
"Baguslah kalau kau sudah paham. Aku harus pergi, tidak seharusnya aku ada disini." Haruki bangkit dari duduknya, lalu berniat pergi andai saja tangan Haruka tidak dengan sigap menahannya.
"Nii-san, kau mau pergi lagi?" tanyanya. Haruki mengangguk kecil.
"Tentu saja aku akan pergi, tidak, aku memang harus pergi. Disini bukan tempat untukku, Haruka. Tapi mungkin aku akan mengunjungimu, meskipun entah kapan" Senyum Haruki,
"Nii-san, aku—"
"Jaga dirimu, Haruka. Aku menyayangimu." pamitnya.
Lalu Haruki menghilang begitu saja, menyisakan jendela yang terbuka lebar, tirai yang berterbangan diterpa angin malam, dan sosok Haruka yang berdiri mematung dengan raut hampa.
.
.
.
Hari ini Haruki berkunjung lagi. Dia khawatir juga dengan keadaan Haruka. Meskpun ia sudah berjanji pada Haruki, tapi perasaan khawatir itu masih ada. Kadang dia bisa melakukan hal-hal diluar akal sehat jika ia menginginkan sesuatu, dan Haruki jadi makin khawatir saat ia tak bisa menemukan keberadaan kembarannya itu dimanapun.
"Haruka. .?" panggilnya.
Dia sudah berkeliling rumah, dan tak menemukan Haruka dimanapun. Hanya tersisa satu ruangan yang belum sempat Haruki periksa. Kamarnya, atau yang dulunya merupakan kamarnya.
"Haruka, kau disini?" panggilnya sambil memasuki kamarnya pelan. Hening, tak ada jawaban apapun.
Lalu tubuhnya mendadak limbung saat seseorang menubruk dan memeluknya begitu erat. Apa yang terjadi padanya?
"Nii-san, aku sudah lama menunggumu." Itu suara Haruka, ternyata ia memang ada disini.
"Haruka, apa yang—" ucapannya terpotong saat Haruka dengan semangat menarik kerah bajunya, menampakan sesuatu berwarna merah yang melingkari lehernya dengan indah. Mata Haruki melebar maksimal melihatnya.
"Lihat ini! Akhirnya kita punya kalung yang sama! Aku senang sekali, nii-san!" ucap Haruka bahagia. Haruki menggelengkan kepalanya dengan kuat lalu memegangi bahu Haruka untuk mengguncang tubuh itu.
"Kau sudah gila, Haruka! Ke-kenapa?! Haruka, kau-! Bukankah- bukankah kau sudah berjanji padaku?! Kenapa kau melanggar janjimu padaku!?" paniknya dengan mata yang sudah memerah dan berair. Kenapa Haruka bisa bersikap seegois itu?! Haruki benar-benar tak mengerti dengan cara berpikir kembarannya itu.
"Maafkan aku, nii-san. Awalnya aku memang berniat menepati janjiku padamu, tapi ternyata aku memang tidak bisa melakukannya." Ucap Haruka dengan senyum pasrah. Lalu tangannya merengkuh tubuh Haruki yang bergetar karena syok kedalam pelukannya.
"Setidaknya dengan begini kita bisa bersama kan, nii-san?" bisiknya didekat telinga Haruki.
"Dasar egois. ." marah Haruki, tapi sudah tak punya tenaga lagi untuk berteriak.
"Aku tahu, maafkan aku, nii-san."
Haruki tak bisa berkata apa-apa lagi. Harusnya dia memang sudah menduga kalau akhirnya akan jadi begini. Menghela nafas, Haruki hanya bisa balas memeluk Haruka sambil menatap atap kamarnya yang putih bersih-
"Egois sekali. Kau ini benar-benar egois, kau tahu."
"Hm, aku tahu."
"Sekarang ayah akan benar-benar kecewa pada kita."
-Dan juga tubuh yang tergantung diatas sana.
-End-
A/N: Akhirnya kesampaian juga nulis difandom ini. Sepi sih, tapi karena saya tuh bucinnya si kembar Hosokawa, jadi tetap saya tulis juga. Semoga menghibur^^ (itupun kalau ada yang baca :v)
