Normal POV
Sasuke hampir saja mematahkan pena akibat terlalu bosan.
Suasana sore di tengah musim semi tidak membuatnya bahagia. Ia tidak peduli dengan segala sesuatu yang bersifat kencan dan romansa. Baginya, berpikir tentang seorang perempuan adalah sebuah bayangan yang akan membuat muntah. Ia tidak terlalu senang dengan mereka; perempuan terlalu berisik, perempuan suka bergosip, perempuan terlalu memikirkan perasaan, perempuan sama sekali tidak memiliki logika. Dia pun harus menjadi salah satu korban; dibicarakan terus-menerus akibat pesona visual tentu merupakan sebuah pujian, namun apabila dilakukan tanpa henti adalah suatu tindakan yang melewati batas normal.
Sasuke melirik ke depan, memperhatikan Anko-sensei yang masih berbicara tentang beragam genetika. Pena tetap berada di jemarinya, diputar-putar tanda kebosanan. Pemuda berambut hitam terlihat membaca berbagai grafik yang telah digambar di papan berwarna terang, menganalisis dalam diam adalah salah satu keahlian. Ia dapat menyerap segala informasi dalam sekali baca, menjadi keturunan dari keluarga jenius adalah suatu kelebihan jika berkaitan dengan teori dan pelajaran. Sasuke bangga menjadi salah satu kandidat yang dipilih sebagai seorang bangsawan.
Kedua mata kelam melirik ke sebelah, menatap dongkol pada pemuda pirang yang sudah tertidur dengan mata tertutup rapat. Bibir terbuka, dengkuran halus dapat terdengar. Naruto Namikaze tampak terlelap begitu damai sejahtera, tidak peduli dengan Anko-sensei yang sudah mencatat namanya di buku hitam. Pena diputar kembali dalam bentuk horizontal, udara masuk melalui jendela; memberikan kesan hangat untuk mahasiswa tampan berambut gelap.
Ketika Anko-sensei menyuruh para mahasiswa untuk menulis laporan mengenai praktikum minggu lalu, Sasuke mulai menyadari sesuatu yang membuat dirinya terbangun. Dia tetap diam seolah tidak terjadi apapun, tetapi insting secara keras memberikan kesadaran menusuk. Pemuda itu mengerjap, merasa seseorang sedang memperhatikan dalam diam. Bukan sebuah kecanggungan, namun ada sebuah fakta yang membuat dirinya tahu bahwa mereka bukanlah teman dekat.
Sasuke Uchiha menghela napas. Inilah salah satu alasan mengapa dirinya tidak bisa akrab dengan perempuan.
.
.
.
YOUR WHITE SPRING
Naruto by Masashi Kishimoto
Your White Spring by stillewolfie
Sasuke U. & Hinata H.
OOC, alternate universe, typos, etc.
.
.
.
Sasuke Uchiha mendongak, menatap langit.
Pemuda itu terdiam di depan pintu utama, mengabaikan mahasiswa lain yang sedang berjalan berpasang-pasangan untuk mencari tempat yang cocok untuk makan siang bersama. Naruto telah entah pergi ke mana, sepertinya dia langsung berlari menuju fakultas kedokteran untuk menemui sang gadis pujaan. Sasuke ditinggal, hal tersebut adalah tanda bahwa mereka akan berpisah sebelum pelajaran yang akan dimulai pada pukul tiga.
Kedua mata hitam mengerjap, kaki mulai melangkah. Terik panas bukanlah sebuah halangan, Sasuke sudah terbiasa karena sering berlatih akibat tuntutan keluarga. Ia berjalan menatap depan, mengabaikan para gadis yang melirik malu-malu saat hendak lewat untuk pergi menuju perpustakaan.
Perpustaakan berada di lokasi terpisah. Sasuke harus berjalan sekitar lima menit untuk sampai jika dari gedung utama. Universitas Konoha adalah salah satu kampus bergengsi, memperbanyak gedung bukanlah halangan untuk sang rektor tertinggi. Kekonyolan dapat terlihat jelas, Sasuke tahu mengenai sisi gelap dari petinggi universitas. Terlalu banyak uang yang mereka ambil dari para mahasiswa untuk kesenangan semata, namun hal tersebut bukanlah fakta yang harus diselesaikan oleh mahasiswa biasa.
Sasuke tidak peduli akan hukum, ia terlalu sibuk untuk menjadi seorang ilmuwan jenius.
Mahkota hitam bergerak kala mengikuti udara, tas tersampir dengan tenang di bahu, serta pergerakan kala dirinya berhenti untuk terus bergerak maju. Sasuke melirik ke belakang, menatap dingin seseorang juga mengikutinya setelah kelas tak lagi dilanjutkan.
"Kau mengikutiku sampai sini," Sasuke berujar, ia mendengus kesal. "Jangan membuatku marah, tunjukkan dirimu dan katakan apa yang kau inginkan."
— hening.
"Haruskah aku menghancurkan patung itu agar kau memperlihatkan dirimu?"
— pendengaran dipertajam, suara gemerisik dari semak-semak adalah sebuah pertanda.
"Caramu tidak menunjukkan kalau kau bukanlah seorang Hyuuga," Sasuke tersenyum tipis. "Aku tidak mengenal Hyuuga yang pengecut."
Terdengar menyakitkan, namun pernyataan tadi adalah suatu kemenangan. Sasuke dapat melihat seseorang mulai mengintip dari patung pahlawan yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Iris hitam bagai malam memicing, menatap penuh atensi pada gadis kecil berambut panjang yang mulai memperlihatkan diri. Jemari mungil gemetar, memegang sisi patung dengan mata memandang sang pemuda keturunan bangsawan.
Sasuke Uchiha tahu dari awal bahwa Hinata Hyuuga telah mengikutinya.
"M-Maaf," Hinata mencicit seperti burung pipit. Pipi memerah karena gugup. Gadis itu terlihat malu-malu sekaligus takut. "Aku t-takut Uchiha-san terganggu kalau berada di s-sekitarku, jadi—"
"Kau berpikir kalau menguntit tidaklah mengganggu?"
Hinata menggigit bibir. "M-M-M-Maafkan aku—"
Sasuke memutar bola mata. Ini perasaannya saja atau penyakit gagap gadis itu malah semakin parah?
Sasuke mengenal Hinata. Ingatlah, hanya sekedar mengenal.
Mereka bertemu di salah satu kelas saat berada di semester awal. Sasuke adalah lelaki populer sejak dia mulai menginjakkan kaki di universitas sedangkan Hinata adalah perempuan aneh yang tidak memiliki teman. Gadis yang membosankan, pendiam, dan gagap. Entah mengapa perempuan ini tidak mampu berinteraksi dengan normal. Jika berbicara, suaranya terbilang kecil. Jika presentasi, maka kegagapannya itu menjadi bahan olokan para lelaki. Jika berpakaian, maka gayanya terlalu kuno dan tidak menarik.
Sasuke berusaha untuk bersikap sopan. Waktu terbuang begitu banyak kalau menunggu Hinata yang sibuk diam gemetar di depan sana.
"Baiklah," Sasuke berkata. Hinata terkesiap. "Kau tahu kalau aku sibuk, Hyuuga. Jadi, katakan."
"Eh?" Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali. "K-K-Katakan apa?"
Sasuke mengeraskan pandangan. "Katakan alasan yang bisa kuterima kenapa kau sampai rela mengikutiku, Bodoh."
"O-O-Oh, maaf—m-maaf," Interaksi mereka terbilang tidak nyaman. Beberapa orang sampai menatap keduanya dengan ekspresi berlebihan. Sasuke dapat mendengar, 'Wow, mimpi apa aku semalam? Itu Uchiha dan Hyuuga!' atau 'Apa yang dilakukan Hyuuga? Uchiha-kun sampai kesal begitu, hahaha.' Ia harus segera pergi atau rela menjadi bulan-bulanan akan rumor yang membuatnya kesal setengah mati. "S-Sebenarnya, begini … maaf kalau m-membuatmu tidak nyaman, tapi aku ingin—"
Sasuke tetap diam di tempat, ia terus menusuk Hinata yang sudah berusaha setengah mati agar mengatur degup jantung serta hatinya. Gadis itu perlahan berjalan mendekati Sasuke, mengeluarkan sesuatu dibalik punggung, dan memperlihatkan benda berupa buku yang membuat sang pemuda mendelik bingung.
"—ini," Hinata menelan ludah. Ia tersenyum kecil. "T-Terima kasih atas bukunya, s-s-sangat membantu sekali, Uchiha-san."
Sasuke melirik tidak minat pada novel yang diserahkan kepadanya. The Hobbit, salah satu novel fantasi terpopuler di dunia itu terlihat sedikit bergoyang akibat kedua tangan Hinata yang gemetaran. Gadis itu menahan tangis, berusaha keras agar tidak membuat Sasuke merasakan kesal lagi.
Sasuke tidak menerima, tangan tetap terlentang di kedua sisi badan. Ia menatap novel tersebut begitu lama, tampak memikirkan apa tujuan perempuan ini memberikan salah satu benda yang tidak dibutuhkan. Namun, sebuah novel usang dengan hijau sebagai warna adalah sebuah bentuk kemiripan. Sasuke tidak perlu berpikir dua kali bahwa apa yang telah dipegang oleh si Hyuuga ini jelas adalah miliknya.
"Dari mana?" Hinata mendongak. Tubuh mereka memiliki perbedaan signifikan. Sasuke menatap dingin pada Hinata yang telah berkeringat akibat udara serta tekanan yang diberikan. "Kau mendapatkan buku itu, dari mana?"
"I-I-Ini, Uchiha-san yang m-memberikannya."
Sasuke hampir melotot. Kapan?
"S-Saat kita u-upacara penerimaan m-mahasiswa baru, U-Uchiha-san m-memberikan ini padaku sebagai b-bentuk penghiburan." Hinata tahu bahwa penjelasannya ini adalah kesalahan, ia mengetahui bahwa Sasuke tampak tidak menyukai apa yang telah dirinya katakan. "U-Uchiha-san menolongku di p-perpustakaan. K-Kurasa Uchiha-san tidak ingat—"
"Aku memang tidak ingat." Sasuke berujar penuh mutlak. Dia mengambil novel tersebut, masih memandangi Hinata yang mulai menciut. "Penerimaan mahasiswa sudah selesai dua tahun yang lalu, dan sekarang kau mengembalikan benda ini padaku?"
"M-M-Maafkan aku—"
"Oh, ya, tentu saja," Sasuke mendengus konyol. "Kau selalu meminta maaf, Hyuuga. Apa semua akan selesai kalau mulutmu itu berujar maaf, hn?"
Hinata menatap Sasuke dengan pandangan ketakutan. Tangan gadis itu terlihat mencengkram rok panjang yang digunakan. Dia menahan kesal. Dia menahan kesedihan. Dia menahan tangisan. Gadis itu dapat mendengar gelakan tawa yang berasal di sekitar mereka, mengingat keduanya masih berada di taman kampus yang menghubungkan gedung utama dengan perpustakaan. Ia bergerak gelisah, terkesan malu-malu, mata berkaca-kaca, bibir digigit hampir berdarah.
Sasuke dapat melihat semuanya. Ia pun hanya menatap datar, sangat datar.
"Temani aku."
— dunia mendadak hening, udara berdesir.
"M-M-Maaf—"
"Lihat, kau minta maaf lagi." Sasuke mengerjap satu kali. Lirikan penuh amarah dapat dilihat oleh Hinata ketika pemuda itu mengadah, mendelik kesal pada beberapa mahasiswa yang menonton interaksi mereka. Gadis itu menyadari bahwa orang-orang tak dikenal mulai ketakutan dan bubar, berjalan pergi menjauhi taman. "Kau pikir aku ingin melakukan apa? Memperkosamu di tempat terbuka seperti ini?"
Hinata terkesiap, pipi merona sampai menutupi kepala. "A-A-A-Apa yang kau katakan—"
"Temani aku ke perpustakaan, aku sedang bosan." Sasuke tahu ini adalah kali pertama si-gadis-cupu-tapi-keturunan-terhormat telah diajak untuk pergi bersama. Dia dapat melihat ekspresi lucu yang Hinata berikan. Pft—seperti badut, pikirnya asal.
Sasuke berbalik, berjalan beberapa langkah dan meninggalkan perempuan berambut panjang yang nyaris kehilangan nyawa. Namun baru saja melangkah, ia menyadari bahwa Hinata tetap di sana, masih diam akibat perkataan tak senonoh yang telah diujarkan secara gamblang.
"Kau mau kutinggal atau bagaimana?" Sasuke mendelik, menatap Hinata yang hampir terjungkal. "Cepatlah bergerak sebelum aku berubah pikiran."
Hinata menatap Sasuke dibalik poninya yang panjang. Dia merasa gelisah, aneh, tidak menyangka bahwa lelaki-tidak-punya-hati seperti keturunan bangsawan Keluarga Uchiha akan mengajaknya jalan bersama—walau itu hanya sekedar pergi menuju perpustakaan.
— terkesan langka, bukankah ini salah satu kesempatan untuk mencari teman?
"…t-tunggu," Hinata mencicit. Kaki berlari pelan, mengejar ketertinggalan. "A-A-Aku ikut."
— perempuan itu sama sekali tidak sadar bahwa bisikan tersebut mampu membuat sang pemuda tersenyum.
.
.
ended
.
.
.
omake
.
.
Seperti yang diinginkan, mereka berada di dalam perpustakaan dengan posisi duduk yang amat dekat.
Perpustakaan pada siang seperti ini terbilang sepi, mengingat para mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu mereka untuk berkencan atau makan siang. Hanya para ambisius yang rela menghabiskan waktu selama berjam-jam di perpustakaan tua dengan aroma menjengkelkan. Sasuke adalah salah satu yang tercerdas, namun dia adalah salah satu pemuda yang tidak pernah berpikir akan mengajak seorang gadis untuk pergi ke sana. Hinata adalah salah satu langganan, jika dia sedang bosan dan tidak tahu melakukan apa, maka gedung tersebut adalah pelarian—membaca buku dongeng atau sejarah merupakan sebuah kesenangan.
Sasuke menatap Hinata, bertopang dagu. Ia tahu bahwa gadis itu sedang gelisah, berkeringat dingin, dan terheran-heran mengapa tiga puluh menit dirinya habiskan untuk memandangi dalam diam. Duduk mereka bersebelahan, bahu hampir bersentuhan. Sasuke merasa hal kecil semacam senggolan tidaklah masalah. Hinata melihat fakta tersebut adalah sebuah kesialan. Pemuda itu mengabaikan buku yang telah diambil secara asal dari rak nomor dua belas. Gadis bermata perak hanya dapat menelan ludah sembari fokus pada buku cerita mengenai petualangan antara seorang peri di negeri selatan dan sang pangeran kegelapan.
Lagi, Sasuke dapat melihat sebuah perubahan.
Hinata Hyuuga. Putri sulung dari bangsawan terkenal, Hiashi Hyuuga. Seorang kandidat akan pewaris dari seluruh aset serta kekayaan keluarga. Memiliki seorang adik dengan sifat berlawanan, Hanabi Hyuuga. Mereka berada di posisi yang sama, salah satu bangsawan hebat dengan beragam kelebihan. Perbedaan dapat terletak bagaimana keduanya memanfaatkan status tersebut. Sasuke adalah mahasiswa yang terkenal karena nama belakang, wajah tampan mempesona, serta sifat cuek yang dapat membuat semua orang tercengang. Hinata berada di poros yang berbeda, gadis itu tidak dapat menerima perhatian semua orang; ia pun memutuskan untuk bersembunyi dan tidak disadari keberadaannya.
— aneh sekali.
Sasuke memperhatikan bagaimana ekspresi Hinata yang berubah-ubah; serius, terkesiap, gelisah, pipi merona, kemudian memucat, malu-malu, dan terakhir—bibir itu. Hinata terbiasa menggigit bibir ketika sedang panik setengah mati.
Sasuke melihat semua tingkah Hinata begitu lama.
— entah mengapa terlihat menggemaskan.
"U-Uchiha-san."
"Hn?"
"B-B-Berhentilah menatapku s-seperti itu."
"…kenapa?"
"A-Aku," Hinata menelan ludah. "T-Tidak terbiasa."
Sasuke mengerjap, ia diam saja. Hinata terkesiap ketika dengan sengaja bocah Uchiha itu mendekatkan diri, membuat tubuh mereka bersentuhan. Sengatan listrik dapat terasa, kepanikan mulai membuat kehancuran, pusing perlahan menguasai kepala.
Hinata mendelik, menahan tangis. "A-A-A-Apa yang Uchiha-san lakukan?"
"Aku punya ide yang bagus, Hyuuga." Sasuke melihat reaksi Hinata yang terheran dengan mata berkaca-kaca. "Aku benci melihat orang gagap, anti-sosial, apalagi aneh seperti dirimu."
Hinata benar-benar akan menangis sekarang. "Uchiha-san—"
"Aku tahu kau bisa berubah."
Gadis yang dimaksud seketika terhenyak. Apa maksudnya?
"Dan aku tahu kau pasti ingin berubah," Sasuke tersenyum kecil. "Aku akan membantumu."
"B-B-Bagaimana caranya?" Tentu saja, Sasuke benar. Hinata ingin berubah. Dia tidak ingin menjadi gadis aneh yang anti-sosial. "A-Apa yang harus kulakukan?"
Mendengar penjelasan itu, Sasuke mendekatkan diri. Jemari mulai mencubit pipi Hinata yang terkesan ranum, bulat, sehat, dan berisi.
"Jadilah kekasihku," Mereka bertatapan dengan perbedaan pandangan. Sasuke tersenyum dengan kesan transparan. Hinata hanya bisa diam seolah dunia telah runtuh akibat peperangan. "Jadi kekasih seorang Sasuke Uchiha, bukankah terdengar bagus?"
Bolehkah Hinata menjerit sekarang?
— itu adalah tawaran terbodoh yang pernah dirinya dengar, demi tuhan.
.
.
your white spring – fin.
.
.
A/N: jangan lupa jaga kesehatan, ya.
mind to review?
