Naruto © Masashi Kishimoto
Dramatique Realistic © Liu Lin An
Pairing: ShikaIno
Warning: Miss Typo, OoC, Alternative Universe/AU.
DLDR!
Don't Like? Don't Read!
.
Side-story Monochrome Trilogy
ShikaIno's Side
.
"Ya Tuhan! Tak bisa dipercaya!"
Kepala dengan ikatan mirip daun nanas itu tersentak pelan dari tidurnya.
Sial, ia baru terlelap kurang dari sepuluh menit dan kini waktu tidurnya yang berharga telah terusik oleh jeritan nyaring seorang gadis yang duduk beberapa bangku di depannya.
Si pemuda menggerutu pelan; tak perlu repot-repot mendongak untuk tahu siapa pemilik suara berisik yang telah mengganggu tidur siangnya itu. Hanya ada satu orang yang ia tahu bisa jadi begitu berisik di sekolah ini.
"Kalian lihat ini! Lihat! Shion-san dan Aburame-sensei? Yang benar saja! Apa mereka serius memuat berita seperti ini?!"
Tsk, Yamanaka Ino.
Oh ya ampun! Seumur hidupnya, si Jenius Nara tidak pernah tahu kalau wanita bisa jadi seberisik ini. Tidak, ibunya sendiri pun memang tergolong wanita yang berisik; tapi bagi Shikamaru tak ada satu pun yang bisa menyaingi kebisingan yang selalu diciptakan putri bungsu keluarga Yamanaka itu.
Suara gadis itu, yang nyaring dan melengking, tak ada ubahnya seperti sirine ambulans yang terus bergaung nyaring di telinganya bagaikan hama bandel yang rewel.
Singkatnya; gadis Yamanaka itu sangatlah tak tertahankan—setidaknya bagi Shikamaru yang selalu berusaha untuk mendapatkan sedikit ketenangan untuk tidur siangnya.
"Apa kalian percaya?! Heh, aku tidak! Dan berani taruhan, tidak ada seorang pun yang akan percaya! Maksudku, yang benar saja!" Pekik gadis itu kembali; kali ini bahkan lebih nyaring lagi hingga nyaris membuat telinga si jenius Nara itu berdengung—Shikamaru mengumpat pelan untuk itu.
Penyumpal telinga nampaknya terdengar sangat menggiurkan sekarang ini atau Shikamaru akan mendapati dirinya sendiri yang menyumpal mulut gadis itu agar berhenti mengoceh. Sungguh; paling tidak si bungsu Yamanaka itu bisa mempertimbangkan untuk mengecilkan sedikit volume suaranya. Itu akan sangat membantu seluruh dunia; atau setidaknya Shikamaru, yang tidak akan terancam menjadi tuli diusia dini. Selain itu, demi penguasa langit dan bumi, ia hanya ingin tidur.
"Oh astaga! Apa lagi ini?!"
Oh cukup sudah.
Shikamaru seharusnya tahu, satu-satunya yang mungkin membuat gadis itu diam hanyalah keajaiban. Dan keajaiban tidak akan muncul setiap saat. Jadi, ialah yang harus mulai bertidak sekarang atau ia akan benar-benar kehilangan pendengarannya—atau yang lebih buruk lagi, ia takkan bisa kembali melanjutkan tidurnya.
"Oi!" panggilnya dengan nada setengah jengkel. Si gadis pirang—beserta ketiga orang lainnya yang duduk mengelilingi si gadis, menoleh cepat ke arahnya. Masing-masing melemparkan raut bertanya padanya; kecuali si pirang yang jelas-jelas memasang wajah tidak suka.
"Apa?!" Si gadis pirang yang pertama menyahut dengan nada ketus, dan itu membuat hidung pemuda berambut kelam itu mengerut jengkel. Sebenarnya siapa yang sedang kesal disini?
"Jangan berisik. Seseorang sedang berusaha untuk tidur disini," Keluh Shikamaru kemudian; kali ini dengan nada yang benar-benar jengkel. Sungguh, tidakkah gadis itu menyadari betapa berisiknya dia dari tadi?
Mendengar keluhan bernada jengkel itu, si gadis bernetra aquamarine semakin mengerutkan alisnya. Hei, apa dia baru saja dikatai berisik? Ha! Yang benar saja! Dengan nada tak kalah jengkel, gadis itupun kembali menyahut; kali ini bahkan beberapa oktaf lebih tinggi.
"Kalau begitu pulang saja! Jangan tidur di kelas, dasar Nanas!"
Shikamaru meringis; kali ini telinganya benar-benar berdengung.
Dan begitu saja; Nara Shikamaru akhirnya sadar kalau ia harus benar-benar menjauhi si gadis Yamanaka kalau ia masih sayang akan pendengarannya sendiri.
Lagipula, selain berisik gadis itu memanglah sangat menyebalkan.
Dan Shikamaru tidak perlu berpikir dua kali untuk tidak terlibat dengannya.
"Tsk, merepotkan."
.
.
Selama tujuh belas tahun hidupnya—hampir delapan belas, Nara Shikamaru punya prinsip bahwa hidup yang ideal itu adalah hidup yang praktis—yang mana segala sesuatunya harus diselesaikan dengan tenaga serta tindakan seminimal mungkin; dan tentu saja, seperlunya.
Jika tidak mengancam nyawa, tidak usah dilakukan. Jika tidak menguntungkan, tidak perlu dikerjakan.
Sesimpel itu, dan hidup akan terasa lebih mudah—setidaknya untuknya.
Shikamaru bukanlah tipe-tipe yang senang berambisi dan hobi jungkir balik mengejar mimpi-mimpi penuh misteri. Yang benar saja, dia lebih senang berpikir realistis alih-alih memimpikan hal-hal dramatis.
Baginya itu terdengar sangat konyol—dan menghabiskan terlalu banyak tenaga yang sia-sia.
Dia seseorang yang realis; baginya segala sesuatu memiliki porsinya masing-masing. Dan ia suka hidup dalam kesederhanaan yang nyaman.
Maka dari itu, Shikamaru paling benci direpotkan.
Baginya, berurusan dengan hal-hal rumit hanya akan membawa masalah untuknya—kekacauan.
Dan daripada bersusah-susah membereskan semua kekacauan itu, ia lebih memilih untuk mencegah kekacauan itu menghampirinya. Dan itu, Shikamaru lakukan dengan menghindari apapun yang berpotesi menciptakan masalah untuknya; sebagaimana seseorang berusaha menghindari wabah penyakit menular yang mematikan.
Dan Yamanaka Ino ada di urutan paling atas daftarnya.
Shikamaru mengenal gadis bersurai pirang mentega itu hampir seumur hidupnya. Ayah mereka berteman baik; tapi bukan berarti itu membuatnya menjadi akrab dengan si gadis pirang yang berisik.
Bagi Shilkamaru, Ino sangatlah tak tertahankan. Dan kalaupun itu tidak sangat diperlukan, ia enggan untuk berlama-lama berada di dekat gadis itu. Mereka mungkin pernah bertemu beberapa kali saat acara makan malam keluarga mereka; tapi tak pernah benar-benar saling bertegur sapa. Dan sepertinya, tanpa perlu diperjelas, Ino sendiri sepertinya juga tidak mau terlibat dengannya.
Bukannya bermaksud jahat, tapi Shikamaru seorang realis yang terlampau senang berpikir realistis.
Sedangkan menurutnya, Ino itu terlalu dramatis—suka melebih-lebihkan hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Yang berarti gadis itu tak ubahnya seperti magnet raksasa yang siap menarik berbagai macam kekacauan ke arahnya.
Well,itu kedengaran seperti situasi yang akan sangat merepotkan, dan sekali lagi, Shikamaru benci direpotkan.
"Kau akan menjadi panitia acara dansa tahunan sekolah."
Dan ini adalah salah satu contoh kerepotan yang dengan seenaknya dilemparkan ke arahnya.
Dengan alis berkerut bingung dan mata setengah mengantuk ia mendongak menatap gadis berambut pirang pucat di depannya. Shikamaru mengenal gadis ini—teman sekelasnya, sang primadona sekolah yang akhir-akhir ini diterpa gosip miring yang membuat semua anak gadis berbisik riuh di setiap sudut sekolah.
Shikamaru hanya mengenalnya sebatas itu.
"Maaf, tadi kau bilang apa, Kato-san?"
Tapi mereka tidak pernah jadi sedekat itu untuk tiba-tiba menyeretnya masuk ke dalam kepanitian pesta dansa yang melelahkan. Malahan sejujurnya, Shikamaru tidak punya rencana untuk menghadiri acara tahunan sekolahnya itu lagi tahun ini.
"Kita kekurangan orang, Nara. Dan menurut Naruto kau akan dengan senang hati bersedia mengisi kursi kosong di kepanitian." Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan kerlingan kecil, yang mungkin akan terlihat mempesona bagi sebagian besar pria-pria di sekolah, tapi terlihat begitu licik di netra kelam Shikamaru. Kato Shion mungkin memang primadona sekolah; semua pria memujanya. Tapi tidak dengan Shikamaru.
Baginya, tipe-tipe seperti gadis bernetra violet ini akan sama merepotkannya dengan segala macam kerepotan yang bisa ditanganinya dalam waktu bersamaan.
"Maaf, aku tidak mau. Terimakasih." Setelah mengucapkan itu, Shikamaru hendak mengakhiri negosiasi searah ini dengan memperjelas keenggannya untuk ikut serta dalam kepanitian konyol tersebut. Bagaimana pun, tidur siang terdengar jauh lebih menyenangkan daripada berurusan dengan sang primadona atau menjadi panitia pesta dansa yang berisik.
"Sudah terlambat, namamu sudah ditulis dalam laporan kepantian dan diserahkan kepada Tsunade-taichou. Kalau kau ingin mengundurkan diri, langsung saja melapor pada beliau." Tapi tentu hidup tidak pernah menjadi semudah itu.
Tiba-tiba Shikamaru dedesaki perasaan untuk menghajar si kuning jabrik sialan yang sudah dengan seenaknya merekomendasikan namanya sebagai 'pelengkap' kursi kosong dadakan di kepanitiaan.
Ugh, dan apa-apaan itu? Shikamaru heran, apa semua wanita sejatinya adalah sumber masalah? Hal terakhir yang ingin Shikamaru lakukan dalam hidupnya adalah berurusan dengan kepala sekolah mereka yang benar-benar merepotkan. Senju Tsunade terkenal tidak suka akan pembelot, toleransinya sangat rendah soal itu. Berhadapan dengannya sudah tentu akan jadi sangat melelahkan, dan Shikamaru memutuskan untuk tidak akan membuang-buang tenaganya untuk hal sia-sia seperti itu—yang mana menghadapkannya pada sebuah perdebatan yang pada akhirnya tidak akan pernah ia menangkan. Bagaimana pun ia tahu betul, berargumen dengan kepala sekolahnya akan membutuhkan keberuntungan luar biasa. Dan ia tidak selalu memiliki keberuntungan itu.
Tapi menjadi panitia pesta dansa tahunan yang melibatkan rapat-rapat tak berkesudahan dan gadis-gadis berisik bergaun norak jugalah sama merepotkannya.
Yah, bukan berarti ia punya pilihan.
"Tsk, apa boleh buat. Merepotkan." Keluhnya. Shikamaru tahu betul bahwa semua anak gadis memang terkenal merepotkan, tapi sepertinya Kato Shion termasuk salah satu yang paling menyebalkan dalam kategori itu.
"Bagus. Ini agenda acara, jadwal rapat dan daftar belanja. Pergilah bersama Yamanaka-san; dia ketua seksi dekorasi. Aku ingin semua barang di daftar ini sudah ada saat rapat perdana minggu depan." Dengan kecepatan tangan yang hampir saja membuat Shikamaru takjub dengan tololnya, Shion mengeluarkan sebuah buku tebal, amplop coklat yang lumayan gemuk dan sebuah kalender kecil lipat yang sudah dihiasi banyak coretan warna-warni mengesankan, tapi juga terlihat merepotkan.
"Apa? Mendadak sekali." Shikamaru bisa saja mengucapkan kalimat protes yang lebih baik, ia bisa saja menyahut ketus begitu mejanya dijejali barang-barang yang terlihat merepotkan itu. Tapi ia tidak sempat memikirkan kalimat protes apapun yang terkesan lebih baik karena otaknya sendiri tiba-tiba berhenti berfungsi saat mendengar aliran informasi yang terlampau cepat itu. Apa tadi katanya? Berbelanja perlengkapan pesta dengan Yamanaka? Apa Shion buta sehingga tak paham akan hubungan canggung di antara mereka berdua?
"Lebih cepat, lebih baik. Ini budget kalian. Tolong dipergunakan sebaik mungkin." Tapi mungkin Shion memang tidak sadar. Dia terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri sehingga tidak sempat mengurusi perasaan sentimentil Shikamaru yang remeh. Atau memang Shikamaru sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menunjukan ketidak harmonisan yang ia pikir terlihat jelas itu. Entahlah, memikirnya saja membuat kepalanya sakit.
"Kato-san, tidak bisakah aku mendapat pekerjaan yang lain?" Tapi apapun itu, Shikamaru masih sedikit berusaha untuk menghindari pekerjaan yang merepotkan itu—dan karena melibatkan Yamanaka Ino, pekerjaan itu jadi terdengar sepuluh kali lebih merepotkan.
"Apa ada masalah? Kalau kau enggan berbelanja dengan seorang gadis, kau boleh pilih antara Naruto atau Lee kalau begitu. Mereka juga anggota seksi dekorasi." Tapi Shion tak pernah membuat apapun menjadi lebih mudah. Karena alih-alih mengganti tugasnya, ia menawarkan 'rekan' lainnya yang tak ada ubahnya seperti si gadis Yamanaka, bahka mungkin jauh lebih buruk lagi.
"Bukan begitu. Tidakkah ada hal lain yang bisa kukerjakan selain belanja keperluan pesta?" Bukannya bermaksud jahat, tapi Shikamaru masih ingin sedikit bernegosiasi disini. Kalau bisa, kalau pun ia harus bergabung dengan kepanitiaan, ia ingin melakukan sesuatu yang tak perlu dikerjaan dengan fisik, karena bagaimana pun, itu semua terlampau merepotkan.
"Hmm, silahkan pilih. Belanja atau lembur dengan para murid laki-laki untuk membangun panggung dan mendekorasi aula besar." Tapi tak satu pun pilihan yang diberikan Shion masuk kriterianya.
Dan kalau boleh memilih, Shikamaru lebih sudi berkeliling supermarket mencari perlengkapan pesta daripada diminta begadang untuk membangun panggung dan mendekorasi aula.
Itu terdengar lebih seperti mimpi buruk alih-alih sebuah tugas.
"Baiklah, aku pergi belanja saja. Terimakasih."
"Kau cepat sekali berubah pikiran ya?" Shion menyunggingkan senyum kecil pada akhir kalimatnya. Shikamaru tidak yakin apa artinya itu, tapi tentu saja sejak awal sang primadona sekolah tidak pernah memberikannya banyak pilihan.
"Hn. Kau tidak pernah memberiku pilihan yang lebih baik kan?"
Shion hanya tersenyum miring pada Shikamaru, sementara pemuda itu hanya bisa memasukan daftar belanjaan dan amplop berisi uang yang diberikan gadis itu ke dalam tas sebelum akhirnya kembali membenamkan kepala pada lipatan tangannya. Ya ampun, ini akan jadi minggu-minggu yang panjang.
.
"Oi."
Kalau Shikamaru punya list 'hal-hal yang takkan pernah ia lakukan semasa hidup', mengejar Yamanaka Ino di lorong sekolah yang lenggang adalah salah satunya. Sejak berpapasan di depan pintu kelas, Shikamaru berusaha memanggilnya. Tapi sialnya gadis itu sama sekali tidak merespon panggilannya. Bahkan, mengingat aksi kejar-kejaran yang sudah berlangsung hampir sepuluh menit ini, Shikamaru hampir yakin gadis itu sedang berusaha mengabaikannya.
"Oi."
Astaga, ini membuatnya terlihat seperti seorang pria dungu menyedihkan yang tengah berusaha menarik perhatian gadis paling cantik di sekolah.
"Oi."
"Aku punya nama." Pada panggilan ke tiga, si gadis bernetra aquamarine akhirnya berbalik sambil mengerutka alis kesal dan mendengus tidak suka.
"Oi, Ino." Shikamaru mengucapkan itu sambil mengerlingkan matanya bosan. Ya ampun, gadis ini benar-benar sangat dramatis. Sekarang apa? Dia ingin Shikamaru berlutut di depannya?
"Mau apa kau?" Sambil bersedekap, Ino bertanya dengan nada ketus. Shikamaru mengerutkan hidung, ia bisa saja membalas dengan nada yang lebih ketus, tapi dia memutuskan untuk mengalah dan berprilaku lebih bijak; terutama jika itu menyangkut si gadis Yamanaka. Jadi secara singkat Shikamaru berusaha menyampaikan situasinya kepada gadis itu.
"Kato-san menyuruhku pergi belanja keperluan pesta dansa, denganmu."
Shikamaru yakin, sepenggal kalimat yang singkat, padat dan jelas itu sudah cukup menjelaskan posisinya. Tapi seperti yang ia duga, si bungsu Yamanaka tidak akan pernah membuat segalanya terasa mudah untuknya.
"Kau? Sejak kapan kau bergabung dalam kepanitiaan?" Itu sebenarnya pertanyaan yang memerlukan penjelasan panjang yang berbelit-belit sebagai jawabannya.
"Naruto yang memasukan namaku—tanpa sepengetahuanku. Nah sekarang cepatlah, sesi introgasimu hanya akan memperlambatku untuk tidur siang." Tapi Shikamaru mencoba untuk meringkasnya sependek dan sejelas mungkin agar si gadis bersurai pirang mentega itu tidak bisa bertanya lagi.
Demi langit, ia hanya butuh Ino untuk meng'iya'kan informasi yang ingin ia sampaikan kepada gadis itu.
"Tidakkah kau bisa meminta dengan lebih manis? Aku sibuk hari ini. Besok sabtu, kau bisa mencariku ke rumah pagi-pagi. Aku yakin kau tidak punya rencana di akhir pekan kan. Aku akan menemanimu belanja besok, listnya juga sudah aku buat." Sambil masih bersedekap, Ino akhirnya memutuskan untuk tidak mengorek lebih dalam lagi. Lagi pula, Shion mungkin memang akan melakukan apapun agar pesta dansa tahun ini benar-benar berjalan sempurna, mengingat ini adalah pesta dansa terakhir mereka.
"Tsk, merepotkan. Baiklah, besok kalau begitu." Shikamaru tadinya hendak protes begitu gadis itu ingin menggambil waktu liburannya yang berharga untuk berbelanja. Tapi kemudian ia sadar bahwa mendebat soal itu hanya akan membuang-buang waktunya.
"Ya, ya. Simpan saja keluhanmu untuk besok. Dan jangan terlambat." Begitu Shikamaru menyetujui pengaturannya, Ino berbalik sambil mengibaskan rambutnya yang diikat ponytail tinggi dengan dramatis. Meninggalkan Shikamaru yang tak habis pikir melihat betapa dramatisnya gadis itu pergi meninggalkannya di lorong yang lenggang sendirian.
"Tsk, merepotkan sekali."
.
Kalau ada yang paling Shikamaru benci dalam hidup ini, itu adalah bangun pagi saat hari libur.
Dan fakta bahwa bangun paginya itu akan ditambah dengan pertemuan melelahkan dengan si gadis Yamanaka, membuat Shikamaru semakin enggan melangkahkan kakinya ke kediaman Yamaka yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Ara? Shikamaru? Kejutan yang sangat menyenangkan. Masuklah, sudah lama bibi tidak melihatmu. Ya ampun, kau sudah sangat besar sekarang."
Shikamaru memasang senyum canggung.
Seorang wanita bersurai pirang pucat sebahu menyambut Shikamaru tak lama setelah ia memencet bel.
"Apa kabar Bibi?" Itu Yamanaka Kasumi, sang nyonya rumah. Layaknya Ino, ibunya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang mempesona. Tapi alih-alih aquamarine, netranya sewarna kopi yang meneduhkan.
"Tidak pernah lebih sehat dari Yoshino tentu saja. Mencari Ino?" Wanita itu terkekeh merdu pada akhir kalimatnya.
"Ah, ya. Ada sedikit tugas sekolah yang harus kami selesaikan." Shikamaru tidak bisa untuk tidak mengernyit saat ia mencoba untuk tersenyum mengiyakan.
"Hoo, baiklah. Ayo masuk, Bibi panggilkan dia dulu." Setelah itu, Shikamaru mendapati dirinya berjalan mengikuti wanita paruh baya itu masuk ke kediaman Yamanaka yang luas.
Shikamaru pernah beberapa kali berkunjung kemari—kebanyakan karena dipaksa ayahnya, tapi ia tidak bisa berhenti takjub melihat seberapa luasnya rumah keluarga Yamanaka ini.
Kediaman Yamanaka adalah sebuah dojo aikido yang ternama di daerah mereka. Halamannya sangat luas dan bangunannya masih sangat tradisional. Ayahnya berteman baik dengan kepala dojo Yamanaka—yang merupakan ayah Ino; mereka sering minum dan main shogi bersama.
Saat melewati ruang latihan, beberapa siswa yang tengah berlatih tiba-tiba menghambur keluar dan berlari ke tengah lapangan. Awalnya, Shikamaru mengira mereka sedang mulai pemanasan, tapi ternyata mereka tengah mengerubungi seseorang yang tengah memengang nampan besar yang penuh dengan manisan lemon.
"Ino! Shikamaru datang mencarimu nak!"
Dan Shikamaru tidak bisa tidak memasang wajah dungu mendengar wanita di sebelahnya meneriaki si pembawa nampan.
Dia tidak mengenali gadis itu.
Itu Ino; dalam balutan kaos longgar berwarna lavender, legging hitam polos dan kets putih bersol tebal. Rambutnya yang biasanya diikat tinggi kini dijalin rapi hingga habis. Beberapa siswa dojo yang lebih kecil nampak memeluk erat perutnya, sedangkan yang lebih tua nampak antri untuk mencomot manisan lemon dari nampan besar yang ia bawa.
"Oh sudah datang?" Ino mendongak begitu mendengar panggilan ibunya. Entah apa yang ia katakan pada kumpulan anak-anak berseragam putih-putih tersebut, tapi mereka semua serentak terlihat kecewa begitu Ino menyerahkan nampan besar manisan itu pada siswa laki-laki yang paling tua. Kemudian, si gadis berambut pirang mentega mendekat ke arahnya sambil berlari kecil, membuat tas selempang kecil berwarna peach di samping tubuhnya ikut bergoyang kecil.
"Sudah, ayo berangkat." Setelah mengecup pelan pipi Ibunya, Ino segera melengos melewati Shikamaru. Hidung si pemuda Nara mengerut pelan melihat bagaimana gadis itu seolah tak menghiraukannya.
"Kami pergi dulu Bibi." Segera setelah Ino mengambil tempat di sampingnya dan mengisyaratkan 'tunggu apa lagi' dengan kerutan alisnya, Shikamaru segera berpamitan dengan ibu gadis itu.
"Hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam." Nyonya Yamanaka tersenyum simpul sambil melambai pelan pada mereka.
"Iya, sampai nanti Kaa-san."
Begitu mereka beranjak ke pintu gerbang dojo, Shikamaru merasa ada belasan pasang mata yang tengah memelototi punggungnya dengan tatapan tidak suka yang mengintimidasi. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja, karena yang lebih banyak menguarkan aura tidak menyenangkan adalah anak gadis bersurai pirang yang berjalan cepat di depannya.
"Bibi Kasumi terlihat sehat, bagaimana kabar Paman Inoichi?" Shikamaru sebenarnya tidak ingin membuka percakapan apapun. Tapi begitu mereka keluar dari gerbang kediaman Yamanaka, keheningan yang berat telah menyelimuti perjalanan mereka selama sepuluh menit terakhir. Dan mau tidak mau, Shikamaru tidak tahan untuk tidak membuka percakapan.
"Ya, masih seperti terakhir kali kau melihatnya, kurasa." Si gadis pirang menjawabnya dengan nada setengah enggan. Ia sama sekali tidak menoleh pada si pemuda Nara selama perjalanan mereka, dan entah mengapa Shikamaru sedikit terganggu dengan itu. Maksudnya, mereka tidak pernah benar-benar punya masalah. Dan Shikamaru sudah berusaha bersikap baik hari ini. Tapi Ino masih saja bersikap dingin padanya. Bukan berarti Shikamaru ingin gadis itu tiba-tiba menaruh perhatian lebih terhadapnya. Hanya saja, bisa kan dia sedikit terlihat tidak marah pergi berbelanja dengannya?
"Hn. Deidara-niisan tidak dirumah?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Shikamaru, dan sedetik setelahnya ia segera mengutuki dirinya sendiri untuk itu. Sekarang ia terkesan begitu ingin bercakap-cakap dengan si bungsu Yamanaka itu.
"Dia pergi berkemah dengan teman-temannya di universitas." Tapi kali ini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh menit perjalanan mereka, Ino menoleh pelan padanya, tapi hanya sekilas. Dan untuk beberapa saat yang aneh, Shikamaru menyadari bahwa mereka sekarang telah berjalan beriringan. Jarak bahu mereka hanya selebar kepalan tangan, dan Shikamaru bisa mencium aroma lavender lembut khas gadis itu. Aneh rasanya saat Shikamaru baru menyadari Ino ternyata jauh lebih pendek darinya; tingginya bahkan tidak lebih tinggi dari bahu si pemuda Nara. Padahal waktu mereka masih kecil, Ino jauh lebih tinggi darinya—yang bahkan membuat gadis itu dulu suka mengatainya 'kecambah'.
Setelah tersadar dari lamunannya yang aneh, Shikamaru hanya membalas jawaban Ino dengan 'hn' pelan sebelum mereka berdua terjatuh dalam keheningan canggung yang membuat leher Shikamaru kembali berkeringat dingin.
Jujur saja, seumur hidupnya, Shikamaru tidak pernah menghabiskan waktunya berdua saja dengan Ino seperti sekarang ini. Orang tua mereka mungkin memang berteman baik, tapi bukan berarti mereka pun demikian. Dan selama tujuh belas tahun hidupnya—hampir delapan belas, Shikamaru habiskan untuk menghindari gadis ini. Bukannya ia ingin menjadi orang yang jahat—mereka bahkan tidak pernah benar-benar terlibat dalam sebuah pertengkaran serius yang membuat mereka akhirnya bermusuhan. Hanya saja, Shikamaru tak ingin terlibat terlalu dalam dengan Ino. Karena sejak mereka masih duduk di taman kanak-kanak, Shikamaru paham betul kalau Ino memiliki sesuatu yang kurang Shikamaru sukai. Shikamaru sendiri tidak yakin apa itu, yang pasti sepertinya gadis itu sendiri juga tak terlalu ingin menjalin pertemanan dengannya.
"Kau tidak keberatan pergi belanja? Kau kan tidak suka bepergian." Shikamaru hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Setelah hening hampir separuh perjalanan, si gadis Yamanaka akhirnya buka suara. Shikamaru tidak tahu harus merasa lega atau jengkel untuk itu. Netra aquamarine yang tidak biasa itu kini menatapnya, cukup lama sehingga membuat Shikamaru sedikit kelabakan ditatap seperti itu.
"Tsk, bukan berarti aku tidak mau keluar sama sekali." Dengan setengah mendegus jengkel, Shikamaru menjawab pertanyaan itu. Mendengar jawaban bernada jengkel itu, Ino mengerutkan alis pirangnya yang tertata rapi.
"Yah, kau kan bisa memberikan daftar dan uang itu padaku, biar aku yang belanja sendiri." Kali ini Ino yang menimpali dengan ketus. Shikamaru yang mendengar itu hanya bisa mengerutkan hidungnya jengkel. Ya ampun.
"Dan dimana harga diriku sebagai laki-laki kalau begitu." Shikamaru bermaksud untuk mengakhiri obrolan yang aneh ini. Keheningan yang canggung ternyata masih lebih baik daripada saat gadis pirang ini sudah mulai untuk membuka mulutnya.
"Apa-apaan itu? Harga dirimu tinggi juga." Seulas seringai tipis terlukis di wajah cantik Ino, hal yang jarang Shikamaru lihat—bagaimana pun selama ini mereka hanya selalu memasang wajah jengkel setiap kali berpapasan. Dan mau tidak mau sesuatu dalam perut Shikamaru memberat.
"Tsk." Shikamaru memalingkan wajahnya cepat-cepat. Wajahnya dengan bodohnya terasa panas; bahkan ia bisa merasakan telinganya pun juga ikut panas. Bisa-bisa gadis itu menertawainya jika melihatnya merona seperti ini.
"Aku hanya merasa, kau akan lebih nyaman kalau tidak pergi bersamaku."
Itu, sebuah ujaran yang sangat tidak terduga.
Sungguh. Shikamaru tidak pernah membayangkan kalimat itu akan diucapkan oleh Ino sendiri; terlebih lagi, langsung kepadanya. Sekarang ia jadi berpikir apakah ia telah memperlakukan gadis itu dengan begitu tidak adil tanpa ia sadari.
"…kenapa berpikir begitu?" Shikamaru sebenarnya tidak mau bertanya, ia takkan sanggup mendengar jawabannya bila ia memang telah menyinggung gadis itu tanpa dia sadari. Tapi kemudian gadis itu menoleh cepat padanya sambil tersenyum jahil.
"Yah, intuisi." Ino terkekeh pelan. Shikamaru mendengus mendengar kekehan lembut gadis itu. Ino tidak pernah terkekeh di depannya. Dan jujur saja, mereka tidak pernah bercakap-cakap 'seakrab' ini sebelumnya. Menurut Shikamaru, ini tidaklah seburuk yang ia bayangkan.
"Pergi dengan Naruto atau Lee pun sama saja."
Kekehan Ino terhenti dan alisnya mengerut tidak suka mendengar ucapan si pemuda Nara. Apa-apaan perbandingannya itu?
"Hei! Aku tidak seberisik mereka!" Gerutu si gadis pirang dengan nada jengkel. Shikamaru hampir saja melepaskan dengusan kecil untuk itu. Betapa cepatnya mood si bungsu Yamanaka ini berubah.
"Hm. Benar."
"Apa-apaan nada itu?!"
Shikamaru sebenarnya tidak ingin membuat masalah apapun, tapi sepertinya sifat dramatis si pirang kini telah terpicu oleh ucapannya barusan. Shikamaru tahu betul Ino akan menjadi begitu berisik setelah ini. Tapi anehnya, Shikamaru tidak bisa menahan seringai kecil di wajahnya.
"Apa? Aku tidak berkata apapun."
"Itu! Nada malas yang mencibir itu!"
Ya ampun, gadis ini benar-benar.
Shikamaru hanya bisa mengerlingkan matanya bosan sambil berjalan cepat mendahului si pirang. Biasanya, ia akan menggerutu dan melengos pergi menjauh begitu Ino mulai menjadi 'berisik', tapi entah mengapa saat ini ia lebih ingin pergi untuk menyembunyikan kekehannya dari gadis itu.
"Hei! Nanas! Hei! Tunggu! Mau kemana kau?!"
.
"Yamanaka-san terlihat sangat ceria hari ini."
Shikamaru mendongak dari tangannya yang ia gunakan sebagai bantalan untuk tidur; menatap pemuda berambut coklat acak-acakan dan bertato segitiga merah terbalik di pipinya itu dengan setengah tidak percaya.
Pemuda itu tengah menatap si bungsu Yamanaka dan gerombolan teman-teman perempuannya dari jendela kelas mereka yang lenggang. Bel istirahat baru saja berdering nyaring, dan alih-alih makan siang Shikamaru lebih memilih untuk mendapatkan jatah tidur siangnya. Tapi sepertinya beberapa teman sekelasnya memang benar-benar suka menghalanginya untuk itu.
"Maksudmu berisik?" ketus pemuda nanas itu jengkel. Sementara si pemuda bertato hanya bisa mengeryit heran menanggapi ujaran bernada ketus temannya.
"Nah, itulah masalahmu. Kau hanya tahu tidur. Kau lihat, hari ini pun Yamanaka-san terlihat sangat cantik." Sergah si pemuda dengan tato tidak setuju. Shikamaru heran mengapa para pria-pria ini begitu buta—atau tuli? Yamanaka Ino jelas-jelas salah satu gadis yang paling berisik di sekolah. Dan sekalipun ia memang cantik, kecantikannya itu tidak akan bisa mengkompensasi keberisikannya.
"Well, menurutku ia memang selalu terlihat menawan, Kiba." Timpal pemuda lainnya yang berambut silver klimis. Ya ampun, Shikamaru tinggal di kelas saat jam istirahat bukan untuk mendengar omong kosong ini.
"Dasar kau mata keranjang, Hidan." Si pemuda yang dipanggil Kiba itu terkekeh mendengar celtukan si pemuda silver.
"Menurutku akan lebih baik baginya—dan bagi dunia ini, apabila ia bisa menutup mulutnya barang sejenak saja. Seseorang sedang mencoba untuk tidur dengan tenang disini." Shikamaru menambahkan dengan sinis. Pemuda bertato dan silver yang duduk di depannya kemudian menoleh tak percaya padanya.
"Che, tidak bisakah kau lebih menikmati masa mudamu?" Keluh pemuda yang tadi dipanggil Hidan. Teman mereka satu ini memang tidak pernah asik saat diajak mengobrol soal gadis-gadis.
"Masa mudaku hanya tentang shogi dan tidur. Keberisikan yang memekakan telinga tidak pernah masuk dalam daftar bagaimana aku harus menikmati masa mudaku." Sergah Shikamaru kemudian sambil berusaha kembali melanjutkan tidurnya.
"Ya Tuhan! Kau kedengaran seperti kakekku Shikamaru!" Tapi belum sempat ia membenamkan kembali kepalanya, Kiba sudah mengunci lehernya dari belakang sambil terkekeh nyaring. Membuatnya sedikit tersentak dari posisinya dan meringis pelan.
"Yah aku tidak akan terkejut kalau usiamu ternyata sudah lebih dari tujuh puluh tahun." Timpal Hidan sambil ikut terkekeh.
Shikamaru menggerutu pelan, sebelum mencuri pandang ke jendela kelasnya—yang kebetulan dekat dengan tempat duduknya. Ia bisa melihat rambut pirang Ino berkibar tertiup angin awal musim panas yang mulai menghangat. Gadis itu tengah tertawa lepas—entah menertawakan apa. Dan sesuatu dalam diri Shikamaru melejit mengingat acara belanja mereka tempo hari.
Mereka memang pada ahirnya mengobrol sebentar. Tapi itu saja, selebihnya sisa hari itu dihabiskan dalam keheningan, yang tidak lagi terlalu canggung, tapi tetap tidak menyenangkan.
Dan Shikamaru rasanya ingin menampar dirinya sendiri begitu ia menyadari bahwa ternyata ia ingin melihat Ino tertawa lepas seperti itu di depannya; kepadanya.
"Tsk, berisik kalian berdua. Pergilah, jangan menggangguku. Aku mau tidur." Gerutunya pelan sambil berusaha melepas kuncian Kiba.
"Hei kau kan baru bangun!" Keluh Kiba sambil berusaha mempertahankan kunciannya.
"Shikamaru-san, Kato-san memanggilmu."
Ya ampun, apalagi ini?
Seorang anak gadis—yang sepertinya teman sekelas mereka, tiba-tiba menghampiri Shikamaru dan menyampaikan pesan bahwa Kato Shion; sang primadona sekolah, membutuhkan sesuatu—yang pastinya tidak akan Shikamaru sukai, darinya.
"Oi! Sejak kapan kau jadi dekat dengan si primadona sekolah itu?!" Hidan menatap Shikamaru setengah tidak percaya. Sedangkan Kiba semakin mengencangkan kunciannya.
"Curang kau Shikamaru!"
Kalau saja memang bisa, Shikamaru sejujurnya akan dengan senang hati menukarkan posisinya dengan salah satu dari mereka.
"Tsk, merepotkan."
.
"Kau memanggilku, Kato-san?"
Shikamaru melongok pelan ke dalam aula yang agak ramai. Beberapa anak laki-laki tampak sangat bersemangat merampungkan dekorasi panggung untuk pesta dansa tahunan sekolah mereka yang tinggal beberapa hari lagi. Si gadis yang dipanggil nampak tengah berdiri di tengah aula sambil memberikan arahan-arahan kepada setiap anak yang tengah ikut sibuk hilir mudik mempersiapkan acara tersebut.
"Ah, Nara." Begitu mendengar namanya dipanggil, si gadis bernetra violet menoleh cepat dan mendapati si pemuda Nara tengah berjalan malas ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Shikamaru dengan enggan.
"Aku minta maaf, ada satu hal lagi yang lupa aku minta untuk kau beli kemarin." Shion membalik cepat papan klip di tangannya, kemudian menyerahkan selembar kertas terlipat pada Shikamaru.
"Tentu saja." Shikamaru mendengus pelan sambil menerima kertas tersebut.
"Apa maksudnya itu?" Dengan alis berkerut, Shion menatap si pemuda Nara dengan jengkel.
"Tidak, bukan apa-apa. Ini saja?" Sambil membuka kertas yang diberikan Shion, Shikamaru membaca cepat barang-barang yang tertera di sana.
"Ya. Kuharap sisa uang kemarin masih ada." Shion mengangguk pelan sambil mengiyakan.
"Tentu, Ino yang bawa. Aku hanya perlu mebelikan ini kan?" Balas Shikamaru cepat sambil memasukan kertas tersebut ke saku celananya.
"Hm. Ah, dan tolong sekalian serahkan daftar tamu ini pada Kurenai-sensei. Aku ada urusan sebentar." Begitu Shikamaru mengatakan itu, dengan cepat Shion menyerahkan sebuah buku tebal ke tangan Shikamaru, membuat pemuda itu menggerutu pelan.
"Tsk, ada lagi?"
"Oh sudah semua, terimakasih."
Shion menyunggingkan seulas senyum manis, dan Shikamaru berani bertaruh senyum itu terlihat begitu licik untuknya.
"Tsk, merepotkan." Keluhnya pelan sebelum berbalik untuk meninggalkan aula, tapi sebelum ia berjalan terlalu jauh, Shion kembali menyeletuk pelan.
"Kau sama sekali tidak ada manis-manisnya Nara."
Shikamaru yang mendengar itu berbalik pelan, sambil menyunggingkan senyum sinis pada si gadis bersurai pirang pucat.
"Aku tidak mau mendengarnya darimu."
.
Dalam perjalannya kembali dari ruang guru, Shikamaru mendengar kekeh pelan suara tawa Ino. Dan kebetulan, ia memang punya urusan dengan gadis itu soal urusan belanja-belanja ini, jadi mau tidak mau ia segera mencari sumber suara. Disana, ia mendapati Ino sedang menggobrol dengan seorang pemuda berkulit pucat.
Dan sekali lagi, sesuatu di perutnya terasa mengeras—kali ini bahkan hingga membuat Shikamaru merasa mual karenanya.
"Oi, Ino!" Shikamaru tidak bermaksud memanggil gadis itu dengan nada jengkel yang berlebihan. Tapi sepertinya pita suaranya sendiri telah mengkhianatinya.
"Apa?!" Apa-apaan nada penuh permusuhan itu? Ino yang mendengar nada jengkel tersebut menoleh cepat dengan alis berkerut. Menyahut dengan nada yang tak kalah jengkel.
"Sisa uang yang kemarin masih ada?" Shikamaru berdehem pelan sebelum berusaha menormalkan nada bicaranya. Memalukan sekali, bisa-bisanya ia lepas kendali seperti itu. Lagi pula, kenapa juga ia jadi jengkel? Ini kan bukan pertama kalinya ia melihat Ino mengobrol akrab dengan anak laki-laki.
"Kenapa bertanya?" Tapi Ino masih menyahutinya dengan ketus, bahkan kini gadis itu tengah bersedekap sambil memelototinya dengan jengkel.
"Tsk, Kato-san memintaku membeli beberapa barang tambahan." Jawab Shikamaru dengan malas. Kenapa juga Ino harus selalu merengut ketika bicara dengannya?
"Kau mau belanja lagi?" Nada suara Ino melunak dengan cepat, kini ia sudah tidak menatap Shikamaru dengan tatapan penuh permusuhan lagi. Tapi jelas, Shikamaru sendiri masih kesal. Bukan pada gadis itu, tapi lebih kepada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
"Hn."
"Denganku saja nanti sepulang sekolah. Melihatmu belanja kemarin kau sama sekali tak bisa diharapkan."
Shikamaru mengira, gadis itu hanya akan menyerahkan sisa uang belanja mereka padanya dan melengos pergi dengan teman prianya. Itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Tapi jawaban Ino membuat Shikamaru melongo seperti orang dungu. Seketika saja, miliaran sel otaknya yang membuatnya memiliki IQ di atas 200 itu berhenti bekerja. Dan Shikamaru tidak bisa untuk tidak berhenti mengutuki dirinya sendiri untuk itu.
"Kenapa terkejut begitu?" Keluh Ino dengan alis mengerut. Cepat-cepat Shikamaru tersadar dari keterkejutannya dan mengibaskan telapak tangannya acuh di sebelah wajahnya.
"Tsk, merepotkan. Biar aku sendiri saja." Tegasnya kemudian. Shikamaru sedang tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Ino sekarang ini dan membuatnya menjadi semakin aneh lagi. Dan untuk itu, akan lebih mudah untuknya—dan juga untuk Ino sendiri, kalau ia membiarkan Shikamaru belanja sendiri.
"Aku berkeras. Tunggu aku sepulang sekolah. Jaa, ayo Sai-kun." Tapi tentu saja, seperti semua wanita yang pernah dikenal Shikamaru, Ino takkan pernah mengabulkan permintaanya. Malahan dia kini telah melengos pergi dengan dramatis. Selayaknya seorang ratu yang baru saja menurunkan titah yang tak bisa ditolak oleh pelayannya.
"Oi, Ino! Tsk, merepotkan." Keluh Shikamaru pelan begitu gadis itu sudah berjalan cukup jauh di depannya. Shikamaru pun hanya bisa mengehela nafas berat, tak ada gunanya lagi mendebat gadis itu sekarang.
Tap
Shikamaru menoleh pelan dan mendapati si pemuda pucat tengah tersenyum aneh kearahnya sambil menepuk pelan pundaknya.
"Nara-san, kalau kau sampai membuat Ino menangis, aku pastikan tidurmu tidak akan pernah nyenyak lagi." Ujarnya dingin sebelum berjalan meninggalkan Shikamaru untuk menyusul Ino.
Untuk beberapa detik—yang lagi-lagi terasa begitu aneh, Shikamaru mendapati kemampuan otaknya untuk berpikir rasional berhenti bekerja. Dan ia mendapati dirinya menatap kepergian dua orang itu seperti orang bodoh.
"Heh, apa-apaan itu?"
.
"Apa hubunganmu dengan pemuda tadi?"
Itu pertanyaan yang sangat tak terduga.
Baik bagi Ino, maupun bagi Shikamaru sendiri yang telah melontarkan pertanyaan itu tanpa berpikir.
"Eh, kenapa bertanya?"
Tak butuh waktu lama bagi Shikamaru untuk segera mengutuki mulutnya sendiri.
"…tidak, lupakan. Pertanyaan konyol." Kilahnya cepat kemudian. Ino masih memasang wajah penasaran di sebelahnya. Gadis itu kemudian mengalihkan pandanganya ke depan; berpikir apakah itu tadi merupakan pertanyaan yang harus ia jawab ataukah itu memang sebuah pertanyaan yang harus dibiarkan berlalu begitu saja.
"Yah, teman dekat kurasa. Aku, Sai dan Sakura senang menghabiskan waktu bersama. Tapi akhir-akhir ini Sakura lebih sering bersama Karin karena sudah beda kelas." Ino akhirnya memutuskan bahwa tidak ada salahnya menjawab pertanyaan itu. Toh ia memang tidak ada hubungan spesial apapun dengan Sai. Yang benar saja. Ia, Sai dan Sakura sudah saling mengenal sejak mereka duduk di sekolah menengah pertama. Dan mereka sudah seperti saudara; tidak pernah sedikitpun Ino membayangkan akan ada hubungan romantis apapun diantara mereka selama ini. Kenapa juga semua orang suka menanyakan itu kepadanya?
"Teman yang manis."
Tapi reaksi Shikamaru tidak seperti yang Ino harapkan—Ino bahkan berharap Shikamaru tidak bereaksi sama sekali terhadap jawabannya tersebut. Tapi wajah pemuda itu mengeras; dengan cepat mengambil langkah besar-besar dan berjalan meninggalkan Ino yang melongo seperti orang idiot di tempatnya berdiri.
"Kau tidak serius kan?"
Apa-apaan itu?!
.
.
Selain harus bagun pagi di hari libur, hal lainnya yang paling Shikamaru benci adalah keramaian.
Shikamaru berharap ia bisa lepas dari keharusan untuk menghadiri pesta dansa tahunan sekolah hari ini seperti ia menghindari pesta-pesta sebelumnya.
Tapi Shion dengan penuh semangat mengumumkan bahwa semua panitia wajib hadir untuk memantau kelancaran acara.
Dan disinilah dia. Terjebak dalam lautan riuh manusia berpakaian rapi dan necis.
Shikamaru heran bagaimana orang-orang ini senang memakai tuxedo yang panas ini berlama-lama. Terlebih lagi menggunakannya untuk berdansa di lantai dansa yang penuh sesak. Siapapun bisa saja mati kepanasan karenanya.
Tapi orang-orang ini—yang kebanyakan tidak Shikamaru kenali, malah tertawa dan terlihat begitu bahagia berputar-putar di tengah keramaian yang terlihat begitu menyesakan bagi Shikamaru.
"Kau setidaknya harus terlihat sedikit lebih menikmati ini, Nara."
Shikamaru menoleh dari gelas minumannya yang menjemukan pada sumber suara yang memanggil namanya.
Itu Shion.
Dalam balutan gaun lavender tanpa lengan yang terlihat sangat halus. Bagian bawah gaunya yang jatuh di lantai dengan gradasi lavender yang lebih gelap mengembang seperti bunga krisan segar dan dihiasi permata-permata gemerlapan.
Shikamaru berani bertaruh siapapun anak laki-laki yang diajak berdansa oleh Shion malam ini akan mengingat momen itu seumur hidupnya.
Dan sayangnya Shikamaru tidak ingin menjadi anak laki-laki itu dengan alasan yang jauh berkebalikan dari apa yang dimaksudkannya.
"Aku kira pekerjaanku sudah selesai begitu aku menuruti semua perkataanmu." Celetuk Shikamaru malas.
Mendengar itu, si gadis bermata violet terkekeh.
"Dan aku akan membiarkanmu melewatkan pesta dansa terakhir ini? Jangan bermimpi. Aku tidak sebaik itu." Shion menyunggingkan senyum culas, dan Shikamaru hanya bisa membalasnya dengan dengusan pelan.
"Setidaknya, cobalah untuk menikmati malam ini. Aku tidak ingin wajah masam milikmu terbit di majalah sekolah besok pagi." Lanjutnya lagi, dan mau tidak mau Shikamaru menaikan sebelah alisnya begitu mendengar itu.
"Jadi kau kesini untuk mengancamku?" Sergahnya tidak percaya.
"Jika memang terdengar seperti itu." Tapi Shion tidak begitu menanggapinya dan melambai pelan padanya sambil berjalan menjauh.
Ya ampun, gadis-gadis memang merepotkan.
Shikamaru baru saja hendak beranjak dari tempatnya—area yang paling dekat dengan lantai dansa, sebelum sekelebat yang familier tertangkap indra pengelihatannya.
Ino
Shikamaru menahan nafas.
Gadis itu terlihat sangat berbeda malam ini.
Well, Shikamaru tahu Ino memang cantik. Tapi malam ini ia benar-benar terlihat memukau.
Ia mengenakan gaun sewarna biru pirus, dengan rok halus yang mengembang tipis—membuat setiap putaran yang ia lakukan disetiap dansanya terlihat begitu magis. Korsetnya bertabur permata-permata sapphire berkilauan dan lehernya berpotongan rendah.
Begitu tersadar, Shikamaru telah kehilangan satu tarikan nafas.
Rambut pirang menteganya yang biasanya diikat tinggi kini dibiarkan tergerai, dengan setengah jalian yang dihiasi hiasan rambut berbentuk kupu-kupu sewarna perak.
Wajahnya merona merah; dan ia terlihat begitu mempesona dalam setiap ayunan yang ia lakukan di lantai dansa.
Shikamaru bisa merasakan sesuatu dalam perutnya mencelos; dan ia berharap itu bukan benar-benar jantungnya.
Aneh rasanya mendapati bagaimana dirinya menatap Ino seperti ini. Mereka sudah saling mengenal hampir seumur hidup mereka. Dan Shikamaru tahu betul kalau Ino itu cantik. Tapi ia tidak sadar kalau Ino itu secantik ini.
Bibirnya yang berwarna merah muda tampak merekahkan senyum yang paling bahagia yang pernah Shikamaru lihat bisa diciptakan manusia. Ino terlihat begitu bahagia.
Menari di lantai dansa, dan bukan bersama Shikamaru.
Perasaan yang berat itu kemudian kembali membelit perut Shikamaru seperti lilitan rantai panas.
Itu anak lelaki berkulit pucat yang kemarin ia lihat tengah mengobrol akrab dengan Ino. Anak laki-laki yang dengan seenaknya melemparkan sebuah ancaman yang paling tidak masuk akal padanya. Dan mereka berdua kini tengah berdansa seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua.
Berputar-putar.
Berputar-putar di hadapan Shikamaru yang semakin kesulitan bernapas di pinggir lantai dansa.
Apakah selama dua tahun Shikamaru benar-benar melewatkan ini?
Musik pun berhenti, menandakan sesi dansa ini telah berakhir sebelum berlanjut ke dansa selanjutnya. Dan netra gelap Shikamaru masih terus mengikuti kemana Ino pergi. Mereka berhenti di seberang tempat Shikamaru berdiri; gadis itu tampak terkikik, dan si pemuda pucat tertawa pelan pada entah apapun itu yang Ino ucapkan padanya.
Kemudian seorang gadis berambut merah muda mendekati mereka dalam balutan gaun merah sedang yang sederhana. Ino mengatakan sesuatu padanya—entah apa, sebelum mereka bertiga akhirnya tertawa. Mereka masih terus bercakap-cakap hingga musik untuk dansa selanjutnya akirnya dimulai. Si pemuda kemudian meninggalkan Ino sendirian .Ino terlihat mengatakan sesuai sebelum pemuda itu benar-benar pergi ke lantai dansa untuk mengajak si gadis berambut merah muda berdansa.
Tak lama setelah kepergian si pemuda dan gadis merah muda, dua orang anak laki-laki tampak mendekati Ino—nampaknya hendak mengajaknya berdansa.
Dan itu Hidan dan Kiba.
Ya ampun.
Shikamaru tidak ingat sejak kapan tepatnya ia meletakan gelas minumnya dan melesat menyeberangi lantai dansa yang menyesakan itu.
Tapi begitu netra kelamnya dan aquamarine Ino bertemu, ia menyunggingkan seulas senyum kecil pada gadis itu.
Senyum yang tak pernah Shikamaru bayangkan akan ia sunggingkan pada gadis manapun; terlebih lagi Ino.
"Sorry. Yang ini sudah ada janji denganku." Begitu Shikamaru sudah berada cukup dekat, ia dengan segera menangkap pergelangan tangan Ino dan menariknya pergi sambil menyeringai pelan ke arah dua pemuda lainnya yang hanya bisa melongo tidak percaya menatap kepergian mereka.
"Hei, curang kau Nara!"
Shikamaru mengabaikan teriakan protes itu dan segera membawa Ino pergi menjauh ke bagian lantai dansa yang lebih ramai, sehingga akan sulit bagi dua pemuda itu untuk menemukan mereka; jika memang mereka berdua berniat mengikuti.
"Aku terkejut melihatmu disini. Kupikir kau tidak suka pesta." Ino berujar pelan begitu mereka sudah berhenti berjalan dan Shikamaru kini telah berbalik menghadapnya.
"Aku sendiri pun terkejut." Mendengar itu, Ino tertawa pelan. Bukan kekehan, tapi tawa yang sangat lembut. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Shikamaru merasa ia telah memenangkan sesuatu.
"Jadi, kau hanya akan membawaku kemari atau memintaku berdansa denganmu?" Gadis itu berhenti tertawa dan meletakan satu tangannya di pinggang sambil menelengkan kepalanya, berusaha menggoda Shikamaru. Wajahnya yang cantik masih merona merah muda, efek dari dansa-dansanya sebelumnya. Dan Shikamaru tidak bisa untuk bilang tidak pada ajakan gadis itu.
"Aku akan senang kalau kau bersedia untuk itu." Sambil mengulurkan satu tangannya dan membungkuk pelan, Shikamaru mengajak gadis berambut pirang mentega itu untuk berdansa.
"Dengan senang hati." Tanpa perlu berpikir dua kali, Ino langsung menyambut uluran tangan pemuda itu sambil tersenyum lebar.
Shikamaru segera menarik Ino ke dalam dekapannya lalu menempatkan kedua tanganya untuk membungkus kedua pinggang Ino, sedangkan gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu.
Musik mengalun pelan, dan mereka berdua memulai dansa yang paling aneh yang pernah mereka lakukan seumur hidup mereka.
Aneh, tapi dansa ini benar-benar membuat mereka berdua berdebar.
Dan kali ini, itu adalah jenis debaran yang sangat menyenangkan untuk Shikamaru.
"Aneh sekali rasanya melihatmu disini berdansa bersamaku." Ujar Ino pelan. Aquamarinenya memperhatikan lekat-lekat netra kelam Shikamaru yang kini juga tengah menatapnya lekat.
"Nah, dan aku sudah mulai menyesalinya." Shikamaru mendengus pelan sambil menutup matanya sejenak.
"Kau menyesal berdansa denganku?" Mendengar itu, kedua alis Ino mengerut was-was. Sesuatu di hatinya mengeras dan Shikamaru bisa melihat kelebat kelam ketakutan sekilas terlintas dalam aquamarine yang jernih tersebut.
Shikamaru tersenyum simpul, sebelum kemudian menempelkan dahinya sendiri pada dahi gadis itu sambil berbisik pelan.
"Aku menyesal karena baru melakukannya sekarang."
Dan begitu saja.
Waktu berhenti untuk mereka berdua.
Tiba-tiba suara musik yang mengalun dalam ruangan tersebut tak bisa lagi mereka dengar, dan seiring dengan itu, keberadaan orang-orang di sekitar mereka pun kini tak lagi terasa.
Untuk sejenak, Shikamaru merasa, di dunia ini hanya ada mereka berdua.
Berdansa dalam keheningan paling magis dan sempurna.
Berputar-putar dalam lingkaran kecil yang istimewa.
Shikamaru bahkan sudah lupa tentang bagaimana Ino bisa jadi begitu berisik dan bagaimana gadis itu selama ini selalu ketus terhadapnya.
Karena saat ini, gadis yang sama tengah berdansa dengannya. Dalam alunan musik paling mistis dalam hidup mereka. Dan kini Shikamaru tengah mendekapnya erat-erat dalam pelukannya.
Aroma lavender yang familiar menguar dari tubuh gadis itu, dan Shikamaru tak bisa berhenti untuk menanamkan aroma itu lekat-lekat dalam ingatannya.
Dan ketika ia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah gadis itu, Ino tersenyum padanya. Tersenyum.Bukan seringai jahil atau pun senyum miring lainnya yang biasa Shikamaru lihat ketika gadis itu mengobrol dengan teman-temannya. Gadis itu tesenyum lembut padanya; dan sesuatu tiba-tiba membelit perut Shikamaru erat-erat.
Pada detik yang sama itu pula, Shikamaru pun sadar apa yang sebenarnya selama ini Kiba dan Hidan sering bicarakan.
Ino memang sangat cantik.
Bulu matanya panjang dan lentik. Dua aquamarinenya sangat jernih dan berkilauan. Dan bibirnya—Shikamaru berusaha mati-matian untuk tidak segera membungkukan sedikit tubuhnya untuk bisa mengecup bibir ranum tersebut.
Itu memang bukan jenis kecantikan seperti milik Shion; kecantikan yang bisa menyapu semua laki-laki dalam satu kerlingan mata paling sembarang. Itu adalah kecantikan yang polos dan menyenangkan. Itu adalah jenis kecantikan yang memaksa Shikamaru untuk memuja si gadis Yamanaka tersebut seumur hidupnya.
Dan begitu menyadari itu, seketika Shikamaru lupa bagaimana caranya untuk berpikir.
"Aku—"
"Oh itu mereka! Oi Nara!"
Ucapan Shikamaru terpotong oleh sebuah teriakan nyaring tak jauh dari seberang mereka. Shikamaru dan Ino menoleh cepat ke sumber suara dan mendapati Kiba dan Hidan tengah berusaha menerobos orang-orang yang tengah berdansa untuk mencapai mereka.
Shikamaru menggerutu pelan.
"Tsk."
Ia pun dengan enggan melepaskan dekapannya dan kembali menarik Ino pergi menjauh.
"Sial. Mereka mau kabur lagi. Permisi, maaf, tolong permisi. Oi Nara!"
Sayup-sayup terdengar gerutuan pelan Kiba saat mereka berdua mulai menjauhi kedua anak lekaki itu lagi.
"Apa tidak mengapa kita terus lari dari mereka?" Ino menoleh pelan ke belakang dengan khawatir. Sejujurnya aneh sekali mereka berdua berlarian seperti ini. Kalau pun mereka berdua ingin mengajaknya berdansa, Ino bisa saja menolaknya dengan sopan.
"Kau mau berdansa dengan mereka?" Tapi genggaman tangan Shikamaru yang tiba-tiba mengeras dan nada ketus dalam setiap kata yang ia lontarkan membuat Ino memutuskan untuk tidak mendebatnya lagi.
"…tidak."
Mereka kemudian mendekati ujung terjauh aula dansa—ke tirai panggung teater yang kini didorong agar menempel dengan dinding aula dansa.
"Kemari. Masuklah. Kita akan menyeberang lewat sini." Shikamaru menyibakan tirai tersebut dan mengisyaratkan Ino untuk masuk mendahuluinya kedalam tirai.
"Aku kira anak-anak klub drama sudah menurukan tirai di panggung." Ino menatap kegelapan yang ditunjukan Shikamaru padanya di balik tirai.
"Kato-san melarang mereka. Dia bilang akan sangat merepotkan untuk memasangnya kembali. Kita bisa lewat sini untuk menyeberang ruangan agar tidak terlihat oleh mereka berdua. Lagi pula tirai ini tebal, tidak aka nada yang menyadari ada orang bergerak di baliknya." Itu mungkin akan jadi penjelasan terpanjang yang pernah Shikamaru ucapkan seumur hidupnya. Ino tidak mendebat dan mulai bergerak pelan menerobos kegelapan di balik tirai tersebut.
Lagi pula, sepertinya pemuda Nara itu kini terlihat sedang kesal.
"Ah!"
Tapi baru setengah perjalanan menyebrang, langkah mereka terhenti karena ujung gaun Ino yang panjang tersangkut—entah dimana. Sulit melihat dalam cahaya minim seperti itu.
"Ada apa?" Shikamaru yang menyadari Ino berhenti segera bertanya dan mengecek keadaan gadis itu.
"G-Gaunku tersangkut sesuatu." Dengan agak gelagapan Ino berusaha melepaskan gaunnya yang tersangkut. Tapi usahanya sia-sia karena ia sama sekali tidak bisa melihat ujung gaunnya yang tersangkut.
Dan hal terakhir yang ingin Ino dengar saat ini adalah gerutuan tak sabaran Shikamaru terhadapnya.
"Tsk, merepotkan. Sini, kemarikan."
Ino berjengit pelan mendengar itu.
Shikamaru baru saja hendak berusaha membantunya ketika Ino bersikeras untuk melepaskan gaunnya sendiri.
"T-Tidak. Aku bisa melepaskannya sendiri."
Hanpir lima menit berlalu, dan usahanya sama sekali tidak membawakan hasil apapun. Sementara itu, kilapan keringat tampak menghiasi wajah cantiknya akibat pasokan udara yang minim dan usahanya yang membabi buta untuk melepaskan gaunnya.
"Kau lama, sini."
Ketika Shikamaru hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh gaun gadis itu, Ino sudah buru-buru menyentak gaunnya menjauhi jangkauan pemuda itu.
"Sudah kubilang aku bisa sendiri!"
Dan ia marah. Entah apa yang membuatnya marah. Ino sendiri juga tidak mengerti. Apakah karena mereka berdua terjebak dibalik gorden gelap aula dansa yang pengap; ataukah karena gaun kesayangan gadis itu tersangkut? Ino sendiri tidak tahu. Ia pun sudah tiba-tiba mendapati dirinya dalam keadaan frustasi sekarang ini.
"Kau tidak perlu berteriak seperti itu." Suara Shikamaru mengeras, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan nada ketus apapun untuk semakin memperburuk keadaan—yang nampaknya tetap akan jadi tambah buruk, apapun yang berusaha ia lakukan.
"Hah, maafkan aku, Nara. Aku tahu aku memang sangat merepotkan dan berisik. Kau tidak usah menjadi baik padaku karena kasihan. Aku tidak butuh rasa kasihanmu!" Tapi Ino tidak sedang dalam posisi untuk mendengarkan.
Itulah yang paling ia tidak sukai. Sikap Shikamaru yang tak bisa ditebak. Ia selalu saja bersikap sangat dingin terhadapnya; tapi ajaibnya, beberapa minggu belakangan pemuda itu jadi lebih banyak bicara dengannya.
Dan Ino senang.
Karena bagaimana pun, ia sudah menyukai putra semata wayang keluarga Nara sejak pertama kali bocah itu menginjakkan kaki di rumahnya dengan kedua orang tuanya.
Tapi Ino tak pernah bisa mengungkapkannya; karena sejak pertama kali bertemu, pemuda itu sudah langsung menunjukan sikap permusuhan yang nyata terhadapnya. Dan daripada membuat pemuda itu semakin kesal dan membecinya, Ino pun memutuskan untuk ikut menjauhi pemuda itu.
Seandaikan perasaannya pun juga ikut memudar.
Sayangnya, selama tujuh belas tahun ini—hampir delapan belas, Ino masih tetap saja menyukainya.
Tidak.
Ino mencintai Shikamaru.
Perasaanya tidak pernah berubah; dan akan memang selalu begitu.
Tapi dihadapkan pada ambiguitas sikap Shikamaru yang menyebalkan telah membuat Ino terluka. Dan malam ini, sikap manis yang tiba-tiba saja pemuda itu tunjukan membuat Ino semakin berharap lebih; juga takut.
Ia takut apabila ia salah mengartikan sikap baik Shikamaru padanya belakangan ini sebagai sesuatu yang malah hanya akan lebih menyakitinya. Tapi ia sendiri juga tahu bahwa ia pun tak seharusnya marah.
Bukan salah pemuda itu jika ia tidak mencintai Ino sebagaimana Ino mencintainya.
"Kenapa kau jadi marah?" Shikamaru menghela nafas pelan. Meski begitu, rahangnya masih mengeras. Sungguh, para gadis takkan pernah membuat segala sesuatunya menjadi mudah untuknya.
Begitu saja, dan semua yang selama ini berusaha dibendung mati-matian oleh Ino meluncur keluar tanpa bisa ia sendiri kendalikan. Ia sudah muak dengan semua sikap pemuda ini padanya.
"Kau yang kenapa?! Sejak kecil kau selalu menjaga jarak denganku! Kau bahkan tidak pernah membalas salamku, jadi aku berhenti menyapamu! Kau selalu memperlakukanku seperti hama yang mengganggu! Sebenarnya apa yang pernah aku lakukan padamu? Apakah kau begitu marah ketika aku mengataimu 'kecambah'?! Tidakah kau bisa bersikap normal padaku? Kau bahkan tidak pernah melirikku saat paman dan bibi datang untuk makan malam di rumah! Apa sebenarnya masalahmu?!" Ino mendelik galak padanya, dengan dua aquamarine gelap yang kini memerah dan berair. Shikamaru berani bertaruh gadis itu tengah mati-matian menahan tangis saat ini.
Setelah mendengar ucapan gadis itu, seketika Shikamaru serasa ditikam oleh rasa bersalah yang langsung saja membuat perutnya kembali mencelos.
Ya ampun. Sepertinya selama ini ia memang telah memperlakukan gadis itu dengan sedikit tidak adil.
"Bukan begitu,"
"Lalu kenapa?!"
"Aku—"
Shikamaru pun juga mendapati dirinya kehilangan kata-kata untuk menjawab itu.
Ia berpikir keras, sangat keras; mengapa selama ini ia begitu menjauhi Ino seperti wabah penyakit yang berbahaya.
Apakah karena memang benar-benar ia menganggapnya berisik? Tidak. Ibunya pun juga berisik. Itu hanyalah alasan.
Dan begitu Shikamaru kembali memandang lekat wajah Ino yang kini terlihat sangat terluka, ia akhirnya sadar mengapa selama ini ia selalu berusaha menjauhi Ino.
Karena Ino terlalu cantik.
Sejak kecil, Ino memang sangat cantik dan memesona. Ayah Shikamaru sendiri sangat menyukainya. Tapi kemudian Shikamaru sadar kecantikan Ino itu adalah sesuatu selalu mengganggu konsentrasinya. Membuatnya berdebar secara aneh dan terkadang jadi salah tingkah kalau memandanginya terlalu lama.
Itulah sebabnya Shikamaru selama ini berusaha menjauhinya.
Karena ia sadar betul bahwa Ino bisa saja menyeretnya pada sebuah perasaan baru yang begitu rumit; dan juga sangat merepotkan.
Shikamaru takut jatuh cinta padanya.
Bukan berarti Shikamaru tidak menyukai gagasan tersebut. Hanya saja, ia sendiri pun tidak yakin bahwa dirinya adalah pria yang akan Ino idam-idamkan sebagai kekasih. Mengingat bagaimana gadis itu dikenal sebagai salah satu gadis tercantik di sekolah; dan dia sendiri, yah, biasa saja.
Tapi Ino yang kini berdiri di hadapannya—dengan raut marah dan wajah memerah karena kesal; terhimpit diantara gorden berat panggung teater dan tembok padat, adalah gadis yang sama yang tadi ia ajak berputar-putar di lantai dansa. Gadis yang sama yang tadi tersenyum begitu tulus kepadanya; gadis yang sama yang telah membuat jantungnya berdebar bising di telinganya.
Dan Shikamaru akhirnya menyerah.
Ia tidak akan bisa selamanya lari dari gadis ini.
Semenyebalkan atau semerepotkan apapun masa depan yang akan menantinya kelak, Shikamaru kini akan menghadapi itu semua dengan senang hati.
Asalkan ia bisa tetap bersama gadis ini seumur hidupnya; ia takkan pernah keberatan untuk direpotkan olehnya.
Maka dari itu, Shikamaru memutuskan untuk tidak lagi melepaskan gadis ini; untuk siapapun.
"Kau payah Nara. Kau selalu mengeluh tentangku, sejak kecil. Mengatai aku berisik dan protes soal bagaimana seharusnya aku—umph!"
Keluhan gadis bersurai pirang mentega tersebut terputus akibat tekanan lembut di bibirnya.
Shikamaru menciumnya. Menciumnya.
Berciuman di balik gorden berat nan apak tirai teater mungkin bukanlah hal paling romantis yang bisa diharapkan oleh seorang gadis dalam kisah cinta mereka; tapi bagi Ino, itu adalah moment paling magis dalam hidupnya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik dan untuk beberapa saat, waktu seolah membeku untuknya; atau mungkin, untuk mereka berdua.
"Kurasa aku lebih senang mendengarmu memanggil nama kecilku." Shikamaru memasang seringai kecil segera setelah ia melepaskan kecupannya, semakin mengeratkan dekapannya di pinggang si gadis pirang.
Di hadapannya, Ino memandangnya tak percaya dengan wajah yang sudah memerah hingga ketelinga.
"Kau payah."
Ia kemudian mendorong dada bidang Shikamaru sekuat tenaga dan berlari melesat keluar dari tempat persembunyian mereka, membuat sedikit ujung gaun biru pirusnya robek karena usahanya melarikan diri yang ekstrem.
Shikamaru memandangi kepergian gadis itu yang sangat dramatis, kemudian menyunggingkan seulas senyum kecil setelahnya sambil berjalan pelan menyul si gadis bersurai pirang mentega.
"Dasar ratu drama."
.
Malam itu—setelah melakukan penyisiran yang sangat merepotkan ke sekeliling ballroom pesta dansa sekolah, Shikamaru menemukan Ino tengah duduk meringkuk di dekat air mancur.
Melihat kedatangan Shikamaru, gadis itu hanya mengerlingkan matanya bosan. Tapi ia tidak beranjak pergi. Begitu Shikamaru duduk di sampingnya ia mulai mengocehkan bagaimana gaun mahalnya sekarang memiliki robekan jelek di ujungnya.
"Padahal ini adalah gaun kesayanganku." Gerutunya pelan. Shikamaru hanya menanggapinya dengan diam. Sulit untuk percaya bahwa setelah ciuman menakjubkan mereka barusan, kini gadis Yamanaka itu bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Dan kalau boleh jujur, Shikamaru merasa sedikit terluka.
"Hei Nanas, kau dengar tidak?"
"Apa?"
"Tentang gaunku." Gerutu gadis itu pelan sambil menunjukan bagian gaunnya yang robek. Dan robekan itu memang terlihat jelek sekali—meski pun tidak terlalu panjang.
"Oh… kau bisa beli lagi kan?" Shikamaru tidak yakin tanggapan seperti apa yang gadis itu inginkan darinya.
"Kau tidak mengerti." Ino hanya mengerucutkan bibirnya kesal sebelum kembali meratapi gaunnya. Dan Shikamaru terkejut gadis itu tidak berteriak frustasi atas tanggapannya.
"Apa?"
Ino menoleh pelan begitu Shikamaru mengatakan itu; terlihat menimbang-nimbang apakah itu merupakan sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban atau justru harus ia dibiarkan berlalu begitu saja.
"Ini gaun yang bibi Yoshino pilihkan untukku. Aku benar-benar menyukai gaun ini." Dengan suara mencicit kecil, ia pun berujar pelan.
Untuk sesaat, Shikamaru merasa bahwa pendengarannya sendiri telah menghianatinya.
"Ibuku…apa?"
"Memilihkanku gaun. Dia bilang gaun ini cantik sekali untukku. Dan dia bilang gaun ini akan membuatmu yang super cuek setidaknya terkesan." Sergah Ino cepat sambil membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Astaga, ia malu sekali sekarang setelah mengatakan itu.
Shikamaru memandang lekat-lekat gaun yang dikenakan Ino sekali lagi.
Ya, memang benar demikian.
"Hn, kau tak usah repot-repot ingin membuatku terkesan." Celetuk Shikamaru kemudian setelah hening beberapa saat.
Ino mendongak dengan wajah memerah sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yah, mungkin karena aku memang benar-benar ingin membuatmu terkesan, meskipun hanya sekali ini saja."
Shikamaru dengan cepat menangkap pinggang gadis itu dan kemudian menariknya lebih dekat.
"Kau tidak usah berusaha membuatku terkesan."
Kemudian, dengan cepat ia mendaratkan satu kecupan lembut lagi pada bibir merah muda gadis itu. Dalam keterkejutannya, Ino hanya bisa terperangah karena ciuman singkat yang mendadak itu.
"Kau sudah sejak lama membuatku sangat terkesan."
Itu mungkin adalah hal paling manis yang pernah diucapkan Shikamaru padanya malam ini.
Untuk beberapa detik setelahnya, Ino hanya memandangi wajah pemuda itu dengan mata berbinar sebelum seulas senyum paling menawan terukir di wajah cantiknyanya. Sambil terkekeh pelan ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Shikamaru sambil berujar;
"Hei, bagaimana kalau kita berkencan saja?"
Well, bagi Shikamaru, itu memang kedengaran menyenangkan.
.
.
Fin
.
Thank you for reading.
Ini merupakan side strory ketiga monochrome trilogy—setelah lima tahun. Ya ampun, waktu berjalan begitu cepat ya. Semoga para pembaca sekalian, baik yang sudah pernah membaca Monochrome Trilogy, ataupun yang murni penasaran dengan pair ShikaIno sehingga mengklik story ini dapat terhibur dengan fic sederhana ini. Jujur saja, Monochrome sendiri begitu berkesan untuk author, sehingga membuat saya ingin terus menggambarkan cerita tersebut dari berbagai sisi. Sekarang masih ada satu lagi side story yang tersisa untuk trilogy ini. Side story terakhir dari trilogy ini—Siapa lagi kalau bukan si pink kita yang menyenangkan.
Mohon ditunggu side story terakhir ini ya
Sekali lagi, terimakasih atas supportnya selama ini.
Love,
Lin.
