Matahari berada tepat di atas kepala, terik, menyengat, khas musim panas. Suhu di Jepang saat ini mencapai tiga puluh empat derajat celcius. Di sebuah stasiun kereta api, kendaraan besi berwarna hitam dengan cerobong asap datang dari arah utara, perlahan berhenti, lalu pintu terbuka.

Seorang pemuda berambut pirang, bermata biru, terlihat keluar dari pintu gerbong kereta. Topi bundar menutupi rambut pirangnya yang dipotong pendek. Kemeja dengan kerah tinggi serta celana bahan dan sepatu pantofel berwana hitam. Tangan kanan menjinjing koper berukuran sedang berwarna coklat tua. Penampilannya seperti seorang cendekiawan.

Uzumaki Naruto, pemuda berusia tiga puluh satu tahun itu adalah seorang detektif swasta. Kemampuan analisis yang tidak diragukan lagi oleh para kepolisian Tokyo. Cerdas, cermat, teliti dengan insting tajam, serta keberhasilannya memecahkan banyak kasus rumit. Ia menjadi sosok tersohor selama sepuluh tahun.

Namun, seorang dektektif terkenal sekalipun memiliki satu-dua masalah seperti kebanyakan orang. Setelah sekitar dua puluh menit berjalan, akhirnya ia tiba di depan apartemen tua. Naruto melangkah masuk, menyapa salah seorang tetangga ketika bertemu di atas tangga menuju lantai tiga.

Seorang pria dengan luka melintang di wajah, menyapa sambil tersenyum hangat. Pria berambut hitam dengan jinbei coklat tua itu, kemudian membungkuk sedikit. "Lama tidak bertemu, Naruto. Sudah hampir satu bulan kau pergi ke Hokkaido untuk menyelesaikan kasus di sana."

"Iruka-san, senang melihatmu tetap sehat seperti biasa." Naruto membalas salam eshaku, sebelum ia kembali berkata. "Begitulah, kasus pembunuhan di sana cukup rumit."

Iruka menepuk pundak Naruto, "Tetapi kau berhasil menemukan pelakunya, bukan? aku melihat beritamu kemarin siang. Datanglah ke rumahku, kita minum sembari mendengarkan ceritamu."

Naruto tertawa pelan, "Terima kasih untuk tawarannya, mungkin saya akan berkunjung setelah menyelesaikan laporan."

"Begitukah? lebih baik kau juga beristirahat. Tawaranku bisa kau ambil kapan-kapan."

"Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu."

Setelah berpisah dengan Iruka, pemuda pirang itu kembali menuju rumahnya yang terletak di lantai empat. Naruto membuka pintu, memerhatikan keadaan rumah yang ia tinggalkan selama sebulan. Pakaian kotor tergeletak di atas lantai bersama beberapa buku, kini bercampur dengan debu.

"Seharusnya aku membersihkan rumahku dulu sebelum pergi."

...

Langit di balik jendela telah berubah kemerahan, senja datang begitu Naruto selesai bersih-bersih. Ia pergi ke dapur, menyeduh kopi, lalu duduk di teras rumah, menikmati petang dengan koran, juga segelas kopi hitam. Mata biru sedalam lautan itu menatap lurus, pada matahari yang perlahan tenggelam. Sampai suara ketukan sebanyak tiga kali terdengar dari balik pintu apartemen.

Ia berdiri lalu melangkah menuju pintu masuk, hendak menyambut tamu sambil menerka siapa gerangan yang berkunjung. Saat Naruto membuka lebar-lebar daun pintu, mata birunya mengerjap. Seorang gadis berambut biru gelap, dikepang dua, bermata perak dengan atasan putih serta rok di bawah lutut berwarna ungu tua, berdiri di depannya.

"Selamat sore, Uzumaki-san," gadis misterius itu menyapa dengan senyum kecil, lalu membungkuk agak dalam.

Naruto membalas salam keirei, sebelum ia bertanya. "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Nona?"

Gadis itu memainkan jemarinya, terlihat gelisah, juga ragu, sebelum kemudian ia menatap pada Naruto.

"Sa-saya ingin menyewa jasa, Uzumaki-san."

...

Mereka berdua duduk di ruang tamu, secangkir teh hangat dihidangkan oleh si pemilik rumah. Gadis muda yang ternyata adalah pelanggan itu, menyesap pelan teh hijau. Mata perak jernihnya menatap ke dalam cangkir, warna coklat kemerahan khas teh melati. Semula raut wajahnya tegang, perlahan mengendur. Ia menghela napas pelan, kemudian menaruh cangkir sebelum menjelaskan lebih dalam permasalahannya.

"Nama saya Hyuuga Hinata, saya kemari karena mendengar kabar kalau Uzumaki-san adalah seorang detektif handal." ia mengeluarkan sebuah foto lama, menaruhnya di atas meja. "Namanya Hanabi, dia adalah adik kembar saya yang menghilang lima tahun lalu. Bisakah Uzumaki-san membantu menemukannya?"

Naruto mengambil foto tersebut, memerhatikan lekat-lekat. Seorang pria paruh baya berambut hitam panjang. Rambut yang disisir kebelakang, memerlihatkan garis-garis dalam di kening, hal itu menunjukan bahwa pria ini sering berpikir berlebihan. Rahang tegas serta mata yang tajam dengan ekpresi keras, memberi kesan kaku pada laki-laki itu.

Mata biru itu bergulir, kali ini memerhatikan wanita paruh baya di samping sang pria. Wajah cantik dengan aura keibuan, rambut coklatnya disanggul tinggi-tinggi. Garis kerut di sudut mata menandakan bahwa beliau adalah orang yang sering tersenyum. Kesan hangat dapat Naruto rasakan begitu melihat perempuan itu.

Berikutnya adalah seorang anak kecil berambut pendek, dengan yukata bercorak kotak. Tatapan anak ini turun, seakan enggan bertatapan. Tubuhnya kecil, pundak yang turun memberi kesan pemalu, juga tidak percaya diri. Rahang dan dagu yang dirapatkan adalah tanda-tanda ketegangan.

Sebelah alis Naruto turun, apa yang membuat anak kecil ini terlihat tegang?

"Kenapa foto keluarga hanya ada adikmu?" setelah terdiam cukup lama, akhirnya Naruto membuka suara, menanyakan keganjalan pertama sejak ia menerima foto. "Bukankah kalian bersaudara."

Hinata menekuk bibir, tersenyum pahit, mata peraknya bergerak turun. Ia sempat memejamkan mata, seakan ia tengah mengingat hal yang tidak ingin ia kenang.

"De-desa saya memiliki keyakinan, bahwa dua anak berwajah sama adalah jelmaan dari iblis. Anak kembar adalah anak terkutuk, pembawa sial, itulah yang kami percayai. Keluarga kami diasingkan, Ayah dan Ibu menjadi lebih tertutup, bahkan mereka melarang kami untuk terlihat bersama. Sejak itulah, perlahan kami terbiasa untuk menjadi satu, keluarga Hyuuga hanya memiliki satu orang putri, yaitu Hyuuga Hinata."

Setetes air mata jatuh disudut mata, cepat-cepat Hinata menyeka. Ia mencoba mengatur napas, dadanya berubah sesak tiap kali ia mengingat masa kecilnya. Naruto yang memahami gejolak emosi gadis muda di depannya, menyodorkan sapu tangan. Gadis itu menerimanya setelah mengucapkan terima kasih.

"Saat berusia dua belas tahun, Ayah mengajak pergi ke kota untuk membeli hadiah ulang tahun Ibu. Beliau menggandeng tangan kami berdua, tetapi saat itu ternyata sedang ada festival. Terlalu banyak orang di jalan, hingga tanpa sadar genggaman Hanabi terlepas."

Hinata menyeka kembali air matanya, ia menggenggam erat sapu tangan Naruto. "Kami mencari Hanabi, memanggilnya berulang kali, bertanya pada orang sekitar, bahkan meminta tolong kepada penjaga desa saat itu. Tetapi adik kembar saya tidak kami temukan, hingga lima tahun berlalu."

Usai mendengar kronologi dari Hinata, pemuda itu mengangkat kepala. Sejak tadi ia mendengarkan dengan seksama, sekaligus melakukan reka ulang di kepalanya. Menggunakan informasi minim yang ia terima, untuk membuat hipotesa sebelum mencari data yang lebih akurat untuk dianalisa.

"Apakah sampai saat ini, Anda tidak mendapatkan kabar apapun tentang Hanabi-san?"

Hinata menggeleng pelan, raut wajahnya semakin murung. "Karena itulah saya datang kemari. Rasa cemas yang sudah bertahun-tahun saya rasakan ini." mata perak itu kembali naik, memerlihatkan tekad pada Naruto. "Saya tidak akan menyerah, sampai tahu pasti keadaan adik kembar saya."

Gadis itu kemudian membungkuk dalam, memohon dengan sangat, "Saya mohon bantuan Anda, Uzumaki-san."

Sejujurnya mencari orang hilang bukanlah perkara mudah, terlebih dengan jangka waktu lama. Naruto harus memulai semua dari awal, dari hal terkecil, dan itu merepotkan. Tetapi melihat kesungguhan yang terpancar di kedua bola mata itu, serta rasa kasihan yang lebih mendominasi. Membuat Pemuda pirang itu akhirnya menghela napas pelan, ia menyanggupi permintaan Hinata.

Gadis berusia tujuh belas tahun itu tertunduk, menangis sambil mengucapkan terima kasih. Melihatnya seperti itu, pastilah hubungan mereka sangat dekat. Terlebih jika Naruto tidak salah ingat, anak kembar itu memiliki ikatan batin yang lebih kuat dari saudara kandung pada umumnya.

"Anda bisa datang kembali esok hari sebelum makan siang. Tolong bawakan beberapa berkas yang menurut Hyuuga-san berguna untuk mencari keberadaan Hanabi-san. Lalu saya juga akan memberikan surat perjanjian kerjasama, termasuk biaya menyewa jasa detektif." Naruto mulai menjelaskan beberapa hal penting sebelum memulai penyelidikan.

Melihat Hinata yang mengangguk, mendengar dengan seksama, Naruto mengenyit pelan. Ada satu masalah yang harus ia pastikan lagi sebelumnya. "Maaf jika ini terdengar tidak sopan, tetapi apa pekerjaan Hyuuga-san?"

Melihat dari penampilannya yang terbilang muda, serta dari pakaiannya. Naruto menebak bahwa pelanggannya berasal dari orang berada. Tetapi untuk memastikan kembali, karena ia tidak mungkin bersikap munafik, melakukan penyelidikan gratis sementara keadaan finansialnya tidak baik saat ini.

Hinata merogoh isi tas tangan, kemudian mengeluarkan sebuah lilin dan menaruh di atas meja. Gadis itu tersenyum malu, "Se-sebenarnya saya memiliki toko kecil, barang yang saya jual adalah lilin aromaterapi. Meski belum berjalan lancar, tetapi saya yakin mampu membayar jasa Anda."

Naruto mengambil lilin berwarna kuning pucat yang ditaruh di dalam mangkuk kaca. Penampilan sederhana dengan pita biru di bawah pinggiran, mempermanis tampilan. Ia kemudian mencium aroma yang dikeluarkan lilin itu, manis, juga menenangkan. Pemuda pirang itu mengangguk dua kali, tersenyum tipis, lalu menaruh kembali benda itu.

"Sejak dulu saya selalu menyukai aroma yang dihasilkan dari tanaman obat. Lalu saya bertanya-tanya, bagaimana caranya agar saya bisa menikmatinya lebih lama." Hinata menarik sudut bibir, tersenyum tipis, "Dari pemikiran itulah saya membuat lilin yang mengeluarkan aroma. Ini berguna untuk menenangkan pikiran, mengendurkan ketegangan tubuh, dan membantu mereka yang kesulitan tidur."

"Anda membuat barang yang sangat inovatif. Melihat keadaan pemerintah Jepang saat ini, sebagian penguasa pasti dalam keadaan tertekan. Saya yakin jika lilin aromaterapi ini sampai terdengar mereka, usaha Anda akan berjalan lancar."

Semburat merah hadir di wajah cantik Hinata, gadis itu berubah kikuk, salah tingkah mendengar komentar positif tentang barang jualannya. "A-anda menyanjung saya terlalu berlebihan, Uzumaki-san."

Pria itu tertawa, mulai mencairkan suasana yang sempat tegang. Setelah selesai membicarakan beberapa hal, juga sempat berbincang ringan. Hinata undur diri, pemuda pirang itu mengantar sampai di depan gedung apartemen. Mata birunya memerhatikan cukup lama punggung kecil gadis itu. Melihatnya berjalan sambil menunduk sebelum hilang dibalik keramaian.

Naruto kembali ke kamarnya, mata biru laut itu jatuh pada lilin aromaterapi di atas meja. Hinata memberikannya cuma-cuma, sebagai bentuk terima kasih katanya. Jemari panjangnya mengambil lalu kembali menghirup aroma samar-samar dari lilin. Mata biru yang semula terpejam, kini terbuka, menampilkan lirikan tajam dan tersenyum tipis.

.

.

.

To Be Continue