Espresso
Karma Akabane x Nagisa Shiota
Ansatsu Kyoushitsu milik Yuusei Matsui
Cerita milik saya
Summary:
Kegiatan tidak penting Nagisa dan Karma di hari ulang tahun Karma yang kedua puluh tiga tahun.
~Special for Akabane Karma's Birthday~
Warn! OOC
Enjoy!
.
.
Punya kekasih seorang pembunuh bayaran sadis berkedok guru baik hati tak semudah yang dikira. Memang Nagisanya itu 'baik' dan 'manis', tapi jika salah sedikit saja bisa-bisa pisau dan peluru melayang. Untung pasangannya Karma, jadi tidak terlalu mengancam keselamatan jiwa dan raga serta mental. Seperti saat ini contohnya, Nagisanya tengah sensi padanya dan berakhir melayangkan pisau kekepalanya yang sayang gagal.
"Nagisa-kun, kemana habisnya persediaan susu kita untuk seminggu ini?" tanya Karma saat ia tak menemukan satupun susu kesukaannya dikulkas mereka.
"Ah, itu—"
"Jangan katakan kau menghabiskannya? Aku tahu kau pendek, tapi kau tidak boleh menghabiskannya lho~ Itu tidak akan membuatmu bertumbuh tinggi dalam sekejap, Nagisa-kun." Kata Karma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya prihatin yang bagi Nagisa terlihat begitu menyebalkan.
Dak!
Pisau melayang, dan beruntungnya Karma memiliki relfeks super hingga berhasil menghindar dan menyebabkan pisau tersebut menancap indah di dinding apartemen mereka. Lumayan, menambah corak baru lagi di dinding mereka yang putih polos.
"Aku memang pendek, Karma-kun. Tapi aku tidak serakus itu sampai menghabiskan persediaan susu untuk seminggu." Nagisa tersenyum manis, tapi aura yang dikeluarkan begitu gelap, "Tidak akan. Terlebih jika itu semua rasa stroberi, kau tahu kan aku kurang suka susu stroberi."
"Lalu siapa yang menghabiskannya?" tanya Karma bergaya seolah-olah ia tengah kebingungan.
"Entahlah, Karma-kun. Coba kau tanyakan pada maniak susu stroberi di apartemen ini." ucap Nagisa sembari mengambil gelas dan mulai membuat minuman dikonter dapur. "Sepertinya kemarin malam aku melihatnya menghabiskan semua susu kita sambil menikmati acara komedi diruang tengah. Padahal tubuhnya sendiri masih bersimbah darah, seenaknya saja dan membuatku repot harus mengganti sofa."
"Oh!" pekikan Karma terdengar tak lama setelahnya. Nagisa memberikan sebuah senyum tipis pada Karma.
"Sudah tahu jawabannya, Karma-kun?" tanya Nagisa.
"Nagisa-kun, kau sungguh baik karena sudah mengingatkanku dengan cara halus. Terima kasih banyak." Angguk Karma sambil balas tersenyum.
"Tentu, Karma-kun. Sama-sama." Balas Nagisa sambil menganggukkan kepalanya. Tangannya dengan hati-hati menuangkan likuid kental berwarna hitam dengan asap yang tampak mengepul kedalam gelas.
"Kalau begitu bisa kau belikan aku lagi?" pinta Karma. Dan dijawab dengan gelengan dari Nagisa.
"Tidak, Karma-kun. Kita sepakat untuk membeli persediaan susu seminggu sekali apapun yang terjadi. Tidak ada negosiasi." Tolak Nagisa.
"Nee, Nagisa-kun, lalu apa yang harus kuminum minggu ini jika semua susunya habis?"
"Kopi mungkin pilihan yang tepat. Aku sangat merekomendasikannya untukmu. Bukankah sudah saatnya bagimu untuk move on dari minuman anak-anak begitu?"
"Orang dewasa juga minum susu."
"Kau benar, tapi tentunya bukan yang rasa stroberi. Terlalu kekanakan." Geleng Nagisa sambil menatap Karma datar.
"Tapi minuman itu yang menahanku tetap waras selama ini, Nagisa-kun. Kopi tidak bisa melakukan itu."
"Menahanmu tetap waras? Kurasa yang benar menahan sifat gila dan kekanakanmu. Kau sudah 23 tahun, sadarlah Karma-kun." Nagisa memutar bola matanya, lelah dengan kelakuan Karma yang makin tua malah makin gila.
"Yah, mungkin kau benar." Karma terkekeh, "Nagisa-kun begitu memahamiku, membuatku jadi ingin segera mengikatmu secara sah menjadi nyonya Akabane. Menikahlah denganku, Nagisa-kun." ajaknya.
Nagisa hanya menatap Karma datar sebelum memasang ekspresi meremehkan.
"Teruslah berkhayal, Karma-kun." Nagisa mengaduk isi gelas tersebut pelan kemudian mencicipinya sedikit. Oke, rasanya pas. "Sayangnya hal tersebut tidak akan terjadi selama kau belum menjadi dewasa sepenuhnya, Karma-kun." Kata Nagisa sambil menyodorkan gelas berisi minuman yang ia buat tadi ke depan Karma yang sedang duduk di meja makan.
"Aku sudah dewasa, Nagisa-kun. Kau sendiri yang berkata kalau umurku sudah 23 tahun." Karma mengambil gelas tersebut, dan seketika keningnya mengkerut.
Kopi, dia tidak suka minuman ini. Baunya saja sudah membuat perutnya mual.
"Mungkin saat itu lidahku hanya terpeleset. Lagipula kedewasaan tidak bisa diukur dari umur. Karena kenyataannya banyak anak sd diluaran sana memiliki pemikiran yang lebih dewasa darimu." Hina Nagisa sambil tersenyum manis, "Nah, minumlah itu." perintahnya.
"Jangan mengelak, Nagisa-kun." Karma berucap dengan nada main-main, kemudian dengan raut jijik yang begitu epik, Karma menyeruput minuman pahit itu pelan sesuai perintah Nagisa.
"Aku tidak mengelak, kok."
Nagisa hanya memasang senyum tipis, sudah bisa membayangkan reaksi macam apa yang akan Karma buat setelah meminum kopinya. Sesuai perkiraan, Karma dengan gaya yang kelewat alay berlagak layaknya orang tengah muntah.
"Huweeek! Kau serius memberiku espreso?!"
"Tentu saja. Memangnya orang dewasa mana yang tidak bisa minum espreso, hm?" seringainya. Karma hanya menatap Nagisa kesal sebagai balasan.
"Aku." jawab Karma masih dengan keningnya yang mengkerut. Pahit sekali sampai ingin mati. "Kuharap pencipta espreso mati tersedak es batu." Harap Karma dengan wajah menahan kesal.
"Penciptanya memang sudah mati, jadi berhentilah berharap, Karma-kun." Nagisa menatap datar kearah Karma. Lihat, orang dewasa mana yang berlaku seperti itu? Kekanakan. "Dan lagi harusnya kau senang kubuatkan minuman itu. Aku sampai repot-repot membuatnya menggunakan biji kopi robusta dan meraciknya dengan metode Turkish Coffe untuk memastikan espreso yang kubuat ini sangat pahit. Bersyukurah sedikit, Karma-kun." Senyum Nagisa.
Karma memasang wajah jijik bercampur kesal sebelum berseru, "Tidak ada yang patut kusyukuri dari racun ini!"
"Jahatnya~" ucap Nagisa dengan raut datar, terlihat sekali tidak niat meladeni kelakuan Karma yang kekanakan, "Omong-omong, Karma-kun…"
"Apa?!" balas Karma ketus. Heh, merajuk rupanya.
"Selamat hari natal dan juga ulang tahun." Nagisa mencium pipi Karma sekilas kemudian tersenyum manis. Terdengar romantis sekali jika ia tidak melanjutkan kalimatnya dengan senyum jahat, "Kuharap kau lekas mati."
Karma terdiam sejenak sebelum senyum lebar terpatri dibibirnya. Seketika itu juga ia lupa dengan rajukannya.
"Terima kasih, Nagisa-kun. Kau perhatian sekali." Karma terkekeh masih dengan gelas espreso digenggamannya.
"Sama-sama. Sudah tengah malam, aku ingin tidur duluan. Espreso itu hadiah dariku, jadi habiskan ya." Pesan Nagisa dengan senyum manis. Karma yang awalnya tersenyum jadi mengerutkan dahinya sebal, sebelum dengan pasrah mengangguk sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Baik, apa boleh buat, kau menang. Dasar, Nagisa-kun curang sekali." Dumelnya. Nagisa terkekeh pelan sebagai balasan.
"Selamat malam, Karma-kun." Nagisa beranjak dari duduknya dihadapan Karma dan berjalan keluar dapur.
Karma tetap anteng di tempatnya dan sebisa mungkin menyeruput espreso itu hingga tandas walau ekspresinya sudah tak karuan antara ingin muntah dan ekspresi-ekspresi lain yang tidak dapat dijelaskan. Setelah perjuangan panjang, Karma akhirnya bisa menghela nafas lega setelah cairan racun itu habis. Benar-benar neraka, untung saja Karma cinta jadi dia menurut saja biar Nagisa jahatnya luar biasa. Kalau tidak cinta, bisa-bisa sudah Karma siram kopinya ke muka Nagisa.
"Kurasa sudah waktunya untuk pergi tidur." Gumam Karma. Tak berselang lama setelah kopinya habis, kepala Nagisa mendadak melongok kedapur dengan senyum mencurigakan.
"Ah, aku lupa mengatakan sesuatu." Katanya dengan binar jenaka, Karma mulai merasa tidak enak.
"Mengatakan apa?" Tapi ia tetap bertanya, sekedar memastikan saja firasatnya benar atau tdak.
"Tanganku begitu ceroboh tadi, dan tanpa sengaja menumpahkan obat pencahar ke espresomu. Semoga kau tak apa ya, Karma-kun." Tawanya berderai bersamaan dengan pucatnya wajah Karma.
"Nagi—"
"Sekali lagi, selamat malam dan selamat ulang tahun, sayang." Seringai Nagisa dengan raut wajah menyebalkan. "Aku mencintaimu."
"Nagisa-kun, kau-!"
Perut Karma berbunyi, dan dia langsung berlari ke toilet disertai berbagai rentetan sumpah serapah. Meninggalkan gelas kosong bekas espreso dan Nagisa yang terkikik di depan dapur.
"Brengsek, Nagisa-kun. Awas saja kau." umpat Karma.
Oke, salahnya juga karena sudah lengah. Nagisa itu licik, jadi harusnya ia curiga saat Nagisa mendadak baik. Lihat saja tahun depan, dia pasti akan membalas Nagisa. Tunggu saja.
"Happy birthday." Gumam Nagisa sambil menyeringai lalu berlalu pergi dari sana.
Begitulah hubungan mereka, rumit dan sukar dijelaskan. Mereka saling mencintai namun mereka menunjukkannya lewat cara yang tak biasa dilakukan pasangan lain. Yah, itulah yang membuat mereka unik dan berbeda. Intinya, Karma cinta Nagisa dan Nagisa cinta Karma. Sudah, itu saja.
-Fin-
A/N : Fanfic pertama difandom ini, yey! Hbd Karma-kun^^ Maaf karena tertunda selama ini buat publishnya. Akhir-akhir ini saya sibuk (sekarangpun masih sibuk buat persiapan olimpiade sebenarnya), tapi karena ada libur dua minggu saya sempatkan aja buat publish ini. Semoga menghibur ya buat KaruNagi shipper. Terima kasih^^
