Disclaimer:

Kim Namjoon and Kim Seokjin belong to

BigHit and their respective families.

All the familiarity of this story is purely coincidence.

Please listen to Love Song by Lana Del Rey as you listen to this.

BxB. Don't like don't read.


Namjoon menyerah. Entah sudah berapa banyak bahan – bahan yang Ia habiskan untuk mencoba membuat ramuan itu namun semuanya gagal. Apakah bahan yang Ia gunakan kurang bagus? Atau Ia salah dalam memperhitungkan jumlah dari masing – masing bahan tersebut?

Botol kaca bertebaran tak karuan di lantai ruang kerja Namjoon. Sang empunya ruangan pun terduduk di kursi tinggi kesayangannya, berusaha memahami apa yang salah. Tidak berhasil menemukan kesalahannya membuatnya semakin stress dan sedih. Padahal Ia hanya ingin merasa Bahagia lagi. Ingin merasa bahwa Ia bukanlah sebuah kesalahan, bahwan Ia cukup, bahwa Ia juga berhak merasa bangga atas dirinya sendiri.

Tapi entah kapan terakhir kali Namjoon merasakan semua perasaan itu. Pandangan nya hampa, semuanya terasa kosong dan tidak berarti. Entah sudah berapa kali pikiran untuk melenyapkan dirinya terbersit dalam waktu satu bulan terakhir ini. Untuk menguraikan penyebab Ia mulai membenci dirinya sendiri pun Namjoon sudah tak sanggup. Ia hanya ingin mencintai dirinya sendiri, seperti dulu.

Setelah termenung dan menatap kualinya yang kini sudah dingin, Namjoon memutuskan untuk berdiri. Ia sudah lelah merasa kebas seperti ini dan membulatkan tekad nya untuk melenyapkan dirinya malam itu. Dengan langkah gontai Namjoon berjalan menuju pintu keluar rumah kecilnya yang selalu menjadi tempat paling aman dan nyaman di dunia. Ia menoleh ke belakang dan memperhatikan semua ruangan yang bisa Ia lihat secara perlahan dan seksama. Kali ini Ia tidak akan mundur dan berpikir terlalu banyak lagi. Ia lelah. Sangat lelah.

"Terima kasih sudah menjadi tempat perlindungan ku selama ini.. Semoga penghuni berikutnya juga bisa merasakan hal yang sama.." Namjoon berucap seolah tak rela meninggalkan ruangan yang telah bersamanya dua dekade ini. Setelah menghela nafas panjang Namjoon pun melangkah keluar tanpa mengunci rumah kecilnya.

Sebenarnya Ia bisa saja meminum racun yang telah Ia ramu sebagai perlindungan dari mahluk buas diluar sana, tapi entah kenapa Namjoon memilih untuk pergi ke jembatan yang menghubungkan antara hutan dan kota. Sepanjang jalan, entah kenapa Namjoon merasa sedih. Ia selalu merasa menyatu dengan alam, dan mungkin niatnya untuk melenyapkan diri terbaca oleh lingkungan di sekitarnya.

Sesampainya di jembatan, gemerlap lampu dalam perumahan di hadapannya menerangi malamnya yang sedari tadi pekat dengan kegelapan. Namjoon tersenyum, entah karena pemandangan yang indah, atau karena Ia merasa bahwa sebentar lagi Ia akan terbebas dari perasaan kebas yang selama ini membelenggu dan mengisolasi nya dari dunia luar.

Namjoon terus berjalan dan berhenti di tengah jembatan. Ia dapat melihat arus sungai yang deras akibat hujan badai pagi tadi. Ketika Ia mendongak, Ia dapat melihat hamparan langit luas dengan bintang yang tak pernah absen menemani sang bulan di malam hari.

"Andai aku bisa seberuntung bulan yang memiliki bintang.." Namjoon menghela nafas pelan. Ia pun semakin mendekati pinggir jembatan, namun sesaat sebelum Ia melemparkan diri ke bawah, hidungnya menangkap sebuah aroma. Aroma yang manis dan entah kenapa membuatnya merasa hangat. Ia pun menoleh ke sisi kota dari jembatan dan melihat sebuah toko kue kecil yang masih mengepulkan asap.

Aroma manis tersebut entah kenapa membuat Namjoon penasaran. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melompat dan memutuskan untuk mendekati sumber aroma tersebut. Ketika Ia masuk ke dalam toko, Ia melihat seseorang yang sedang bersenandung sambil meletakkan kue yang baru saja diambilnya dari dalam oven ke atas meja.

"YA TUHAN!" pria yang bersenandung tadi berteriak ketika akhirnya matanya menangkap sosok Namjoon di pintu.

"Oh- maaf- aku tidak bermaksud menakutimu-" pria yang diduga Namjoon pemilik toko tertawa dengan permintaan maaf Namjoon.

"Tidak apa, aku hanya mudah terkejut dan kau tidak bersuara ketika kau masuk jadi aku terkejut- oh ada yang bisa ku bantu? Sebenarnya toko sudah tutup dan aku hanya membuat makanan untuk diri ku sendiri- atau apakah Taehyung lupa membalikkan tanda tutupnya lagi ya di pintu?" Namjoon tidak siap dengan serentetan ucapan yang dilontarkan oleh pria tersebut dan seolah terucap dalam satu tarikan nafas saja.

"Uhh.." Namjoon pun melangkah keluar dari toko dan melihat tanda buka di pintu yang belum dibalik. Ia pun membalikkan tanda itu dan kembali masuk ke toko.

"Tandanya belum di balik ya? Aduh dasar Taehyung ceroboh- padahal tadi aku sudah memintanya untuk membalikkan tanda sebelum Ia pulang- ah iya, karena kebetulan aku memanggang terlalu banyak kue apa kau tidak keberatan untuk membantuku menghabiskan nya?" Namjoon belum sempat membalas ucapan pria tersebut namun Ia merasa tidak ada salahnya untuk mencoba sumber aroma manis tersebut.

"Ah iya, namaku Kim Seokjin. Salam kenal. Dirimu?" Namjoon mendongak dan menatap pria itu dari kursi nya ketika Ia mendekat sambil membawa dua potong kue yang ditata rapi di atas piring kecil.

"Kim.. Namjoon. Salam kenal." Seokjin tersenyum dan duduk di hadapan Namjoon, setelah meletakkan sebuah garpu di piring Namjoon.

"Aku baru pertama kali melihat mu, apa kau jarang ke kota?" tanya Seokjin sembari sibuk memotong kue bagiannya menjadi potongan kecil kecil. Namjoon belum bergerak dan hanya memperhatikan Seokjin dalam diam. Pria di hadapannya tidak kalah manis dengan aroma kue buatannya. Atau apakah wangi Seokjin yang asli tertutup oleh aroma kue nya?

"Halo? Apa kau masih disana?" Namjoon kembali pada kesadarannya dan merasa salah tingkah karena jujur Ia memang mendengar Seokjin bicara tapi Ia tidak menangkap bahwa Seokjin bertanya padanya.

"Ah- ya?"

"Aku baru pertama kali melihat dirimu, apa kau orang luar kota?" Seokjin mengulang perkataannya sebelum melahap potongan kecil pertama dari kue chiffon pandan buatannya.

"A-ah.. Ya, begitulah.. Mungkin itu sebabnya aku baru tahu soal toko kue ini" Namjoon tersenyum sopan, Ia pun mengambil garpu di piringnya dan memotong kue yang terlihat sangat enak ketika disantap Seokjin di hadapannya.

Seokjin hanya mengangguk sebagai respon sebelum kembali memakan potongan lain dari kue bagiannya. Ia pun berdiri dan melangkah kembali menuju ruang masaknya. Namjoon yang sedang mengunyah kue nya bingung dengan Seokjin yang tiba – tiba bergerak.

"Seharusnya aku sambil menyeduh teh ketika masak tadi-" Seokjin tertawa dan entah kenapa Namjoon tersenyum mendengar tawa yang renyah, dan tanpa maksud merendahkan mirip dengan suara ketika jendela kaca dibersihkan.

Seokjin pun membawa dua buah cangkir teh dan menyadari bahwa kue di piring Namjoon hampir habis, senyum simpul pun terukir di bibirnya.

"Apa kue nya enak?" Namjoon langsung mendongak dan melihat Seokjin yang memperhatikannya mengunyah potongan terakhir kue di piringnya, dan pipinya bersemu. Rasanya Namjoon terlihat seperti orang yang belum makan selama beberapa hari, tapi kue buatan Seokjin memang enak.

"Sangat enak- aku baru pertama kali uhm menyantap kue seenak ini" kini Seokjin yang bersemu, entah karena Namjoon dan senyuman manisnya atau karena pujian yang baru saja terlontar.

"Tentu saja, aku adalah pembuat kue terbaik di kota ini. Bersyukurlah karena kau bisa menyantap kue ku secara gratis" Namjoon tertawa mendengar pernyataan itu namun kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Seokjin.

"Terima kasih banyak atas kuenya. Dan juga waktunya" Namjoon tidak ingat kapan terakhir kali Ia merasa sedamai ini. Memang tidak cukup untuk membuatnya berhenti memikirkan niat untuk melenyapkan dirinya, tapi ada suatu perasaan lain yang muncul. Rasa ingin tahu kemana takdir membawanya dengan mempertemukannya dengan pria tampan di hadapannya.

"Kau juga harus menghabiskan tehnya sebelum pulang, karena aku tidak suka makanan dan minuman yang terbuang sia – sia" Seokjin melempar senyum sebelum mengangkat cangkirnya dan menyesap teh beraroma melati yang masih hangat itu. Namjoon pun mengikuti Seokjin dan ikut menyesap teh dari cangkirnya.

Namjoon termenung ketika minuman tersebut melalui tengorokannya. Rasanya sangat familiar walau Ia baru saja mengunjungi toko kue itu seumur hidupnya. Ia kembali menyesap teh tersebut dalam diam dan entah kenapa Ia merasa sangat sedih. Jika saja Ia melompat ke arus deras tadi mungkin Ia tidak akan pernah mencoba teh dan kue yang enak tadi.

Namjoon baru kembali pada kenyataan ketika sebuah tisu muncul di area penglihatannya. Ia pun mengambil tisu itu dan dengan ekspresi bingung menengadah untuk mencari jawaban dari Seokjin. Yang Ia temukan hanyalah Seokjin dengan senyum simpatiknya. Tapi kenapa? Seokjin yang melihat Namjoon yang bingung akhirnya mengambil alih tisu yang baru saja Ia berikan dan mengusap pipi Namjoon yang ternyata sudah basah dengan airmata yang tidak Namjoon sadari sudah turun sejak tadi.

"Kembali lah kemari kapan saja, aku akan selalu membuatkan kue dan gratis untuk mu" Seokjin tersenyum dan ucapannya justru membuat tangisan Namjoon pecah. Semua perasaan sakit yang selama ini dipendamnya keluar begitu saja. Dan Seokjin mengerti. Karena Seokjin pernah berada di tengah jembatan tempat Namjoon berdiri tadi. Dan hari ini adalah hari dimana Seokjin berdiri disana setahun yang lalu.

Seokjin berdiri dan pindah untuk duduk di samping Namjoon dan memeluknya. Setahun yang lalu Ia sendirian, Ia harus bangkit sendiri dari keterpurukannya dan melawan pikiran pikiran jahat yang memaksanya untuk menghilangkan dirinya dari muka bumi ini karena Ia terlampau lelah untuk hidup tanpa tujuan.

Namun Seokjin tahu, bahwa Ia harus tetap hidup. Untuk menjaga mereka yang bernasib sama dengannya, dan Ia ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa Namjoon tidak sendirian dan Ia masih berhak untuk hidup, seberat apapun keadaan yang berlangsung.

"Tidak apa – apa, menangis itu hanya bukti bahwa kau masih hidup dan masih merasakan sesuatu.. Perasaan sedih, sakit, membuktikan bahwa kau masih berjuang.. Terima kasih untuk memutuskan datang dan menyantap kue denganku.." Namjoon balas memeluk Seokjin dan berusaha mengatur nafasnya walau sulit. Sangat sulit.

Dunia memang kejam pada kaum minoritas, tetapi beban sebagai seorang alpha juga tidak kalah berat. Dunia telah menentukan sebagai seorang alpha apa yang pantas dan tidak boleh dilakukan. Termasuk salah satunya adalah merasa sakit dan menangis. Apalagi untuk seorang alpha dengan usia dewasa seperti Namjoon. Hal itu menjadi salah satu penyebab Ia ingin melenyapkan dirinya. Ia tidak ingin terlahir menjadi seorang alpha, tapi kenapa Dunia seolah menuntutnya menjadi seseorang yang bukan dirinya hanya karena Ia seorang alpha?

Dan tidak ada orang lain yang mengerti hal itu lebih dari Seokjin, seorang Omega yang juga tertekan dengan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan olehnya hanya karena sesuatu yang tidak bisa Ia pilih sejak Ia lahir ke dunia. Bahwa sebagai Omega Ia harus menikah sebelum mencapai umur tertentu, bahwa Omega yang memutuskan untuk hidup sendiri tidak akan bertahan hidup. Bahwa Omega tanpa Alpha tidak ada artinya dan lebih baik musnah saja.

Seokjin mengusap punggung Namjoon yang masih berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia sudah lama meninggalkan "dunia" dan selalu melihat orang lain sebagai "manusia". Dan meski Seokjin tahu Namjoon adalah seorang Alpha, Ia tidak peduli. Sebagai "manusia" bukan hal ajaib untuk merasa lelah, merasa sakit hingga otak memutuskan untuk melenyapkan diri demi menghentikan rasa sakit itu.

Namjoon melepas pelukannya terlebih dulu, mengambil selembar tisu lain dan mengusap wajahnya kasar.

"Maaf, aku terlihat sangat lemah sekali haha memalukan" Namjoon mendongak dan Seokjin hanya menatapnya dengan tatapan datar. Tidak ada ekspresi menghina ataupun merendahkan seperti apa yang Namjoon dapatkan selama ini.

"Kau bukan robot. Menjadi alpha bukan berarti kau akan mati jika kau menangis. Aku tahu pemikiran seperti itu sangat susah untuk diubah mungkin karena sejak kecil itu yang kau dapatkan, tapi kumohon, mulai saat ini, jika kau memang sedih dan butuh menangis maka menangis lah. Kau tidak akan mendapatkan medali apa apa dari dunia yang membentuk pemikiran mu jika kau berlaku seperti apa yang mereka anggap benar."

Namjoon kembali terdiam, menatap Seokjin dalam, mencoba mencerna kata – kata yang baru saja Seokjin ucapkan. Ia pun baru menyadari choker yang digunakan Seokjin menyatakan bahwa Ia adalah seorang Omega.

"Berhentilah berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, dan mulailah hidup untuk dirimu sendiri. Kau pasti menemukan alasan untuk tetap bertahan disini, karena aku telah menemukan alasanku" ekspresi Seokjin melembut dan Ia tersenyum. Seperti melihat sebuah cermin, bibir Namjoon ikut melengkungkan sebuah senyuman tipis.

"Seokjin-sshi.."

"Ya?"

"Terima kasih.."

"Don't mention it" Seokjin pun berdiri dan kembali ke tempat duduknya untuk menyesap tehnya yang sudah dingin. Namjoon memperhatikan setiap Gerakan yang Seokjin buat dengan tatapan penuh harap. Meskipun perasaan negatif itu masih menghantui dan selalu berada di belakang kepala Namjoon, namun hatinya terasa ringan dan lega.

Seokjin yang menyadari tatapan Namjoon menjadi salah tingkah dan pipinya yang bersemu mengkhianati perilakunya yang masih berusaha tetap tenang. Memutuskan untuk memfokuskan dirinya pada hal lain, Seokjin menyuapkan potongan terakhir kue chiffon nya dan mengunyahnya sembari melihat keluar jendela yang gelap. Ia tidak bisa menatap Namjoon yang secara terang – terangan menatapnya dengan tatapan seekor anak anjing yang baru saja diadopsi.

"Seokjin-sshi.."

"Hm?"

"Apa boleh.. Jika aku menjadikan mu alasan untuk ku tetap hidup..?" Seokjin hampir tersedak kue yang baru saja ditelannya. Pada akhirnya Ia menatap Namjoon, mencari – cari ekspresi Namjoon yang mungkin saja hanya bercanda ketika Ia mengatakannya namun tatapan Namjoon tetap sama, penuh harap dan ketulusan.

"Itu…. Itu bisa dibahas nanti- uhm- Yah nanti-" melihat kesungguhan di wajah Namjoon membuat Seokjin semakin merona. Ia pun memutuskan untuk berdiri dan mengambil piring – piring kue yang kosong tadi untuk kemudian kembali ke ruangan memasaknya dan mencuci piring – piring itu. Namjoon berdiri, Ia mengambil cangkir – cangkir teh yang sudah kosong dan membawanya ke sisi Seokjin.

Seokjin masih meneruskan kegiatannya untuk mencuci piring dan lanjut membersihkan cangkir yang baru saja diletakkan Namjoon di sampingnya. Ia tahu Namjoon kembali menatapnya dengan tatapan penuh harap itu, tapi Seokjin tidak merasa keberatan. Karena tatapan itu membuatnya merasa bahwa Ia kembali berhasil menyelamatkan seseorang.

Namjoon yang baru menyadari bahwa perilakunya mungkin membuat Seokjin tidak nyaman pun berdeham dan kembali ke kursi tempat Ia duduk tadi.

"Seokjin-sshi?"

"Apa?"

"Terima kasih untuk tetap tinggal.." Seokjin tersenyum mendengarnya, seolah Namjoon tahu bahwa Seokjin pernah terpuruk seperti dirinya namun memutuskan untuk tetap hidup.

"Aku akan berusaha untuk tetap tinggal juga, seperti mu" Seokjin mengeringkan tangannya sambil terus mendengarkan Namjoon yang bermonolog. Ia pun kembali menghampiri Namjoon dan mengusak rambutnya pelan.

"Baguslah. Sekarang kau pulanglah, aku yakin ada saja yang menanti mu untuk kembali. Mungkin seseorang atau hewan peliharaanmu?" Seokjin tertawa dan Namjoon tersenyum. Ia pun mngangguk dan bangun dari duduknya.

"Sekali lagi terima kasih banyak untuk kue dan tehnya" Namjoon membungkuk sebelum berdiri dan kembali menatap Seokjin sampai akhirnya Ia membalikan tubuhya dan berjalan menuju pintu keluar.

"Ah.. Satu lagi- walaupun kau bukan penyihir, tapi kue dan teh buatan mu memang sangat ajaib. Terima kasih banyak, aku pasti kembali lagi!" Namjoon tersenyum dan keluar dari pintu masuk toko kue nya. Seokjin tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Akhirnya love potion nya sukses.. Hehe~"

The End