Genre: Slice of life, comedy, romance, sedikit action

Menceritakan tentang manusia goblok bernama Kihara Ren yang bereinkarnasi dan memiliki cheat dari seri To Aru Majutsu No Index. Tentang kehidupan sehari-harinya yang membosankan. Ikut plot di awal, dengan banyak side-event yang tidak ada di cerita orisinil.

OP Tatsuya, OP MC tapi masih kalah dengan Tatsuya di awal (tapi tidak semudah itu Ferguso), romance? Undecided.

Siap-siap dengan komedi garing dan cerita cringe. Kupersembahkan untuk warga +62.


"Memang apa hebatnya murid jalur satu?!"

Di depan gerbang sekolah SMA Sihir Satu, dua grup pelajar terlihat sedang adu mulut. Perempuan yang memakai kaca mata terlihat marah dan melontarkan kalimat itu. Dia tidak terima temannya diejek hanya karena tidak mahir menggunakan sihir modern.

Di hadapannya adalah beberapa orang murid yang memakai seragam sama dengannya. Hanya saja di dada mereka ada lambang delapan kelopak bunga.

Salah satu siswa dari kelompok itu maju ke depan dan menatap perempuan itu dengan senyuman jahatnya. Matanya terlihat seperti sudah tidak sabar ingin menghabisi musuh yang ada di depannya. Kesabarannya sudah mencapai puncak.

"Apa hebatnya kami? Akan aku tunjukan… apa hebatnya kami!"

Dengan sangat cepat siswa berambut pendek itu mengambil sebuah pistol dari sarung yang ada di celananya. Alat itu bukan pistol yang menembakkan peluru, melainkan sebuah casting assistance device (CAD). Dengan kata lain, alat itu adalah alat bantu para penyihir untuk melancarkan sihir. Fungsi utamanya adalah untuk mempercepat aktivasi.

Biarpun begitu semuanya masih tergantung pada kalkulasi sihir masing-masing orang.

Kebetulan orang ini adalah Morisaki Shun. Secara pribadi dia memang tidak spesial, tapi keluarga Morisaki terkenal dengan kemampuan [Quick Draw] mereka. Sebuah kemampuan yang memperbolehkan mereka mengira-ngira target tanpa perlu kalkulasi konkrit.

Semua orang yang ada di tempat itu merasa sangat kaget ketika dia menggunakan sihir, bahkan mereka yang dari kelompoknya. Menggunakan sihir tanpa izin di area sekolah dilarang keras dan dapat dijatuhi sanksi yang serius sampai dikeluarkan.

Sihir memang sudah umum dan berguna di masyarakat. Tapi realitanya, sihir memiliki lebih banyak bahaya dibandingkan keuntungan yang dibuat. Karena itu regulasi sihir sangat ketat di sekolah ini.

"Gak bakal aku biarin!"

Seorang laki-laki berbadan besar langsung berlari ke depan untuk menghentikan sihir musuh. Dengan jarak sejauh itu, tidak mungkin dia bisa mencapai Morisaki sebelum sihir diaktifkan. Untuk catatan, aktivasi sihir rata-rata memakan waktu kurang dari dua detik.

Adalah perjuangan sia-sia untuk orang itu berusaha mencapai Morisaki.

"Kuh!"

"Hehe."

Tidak seperti ekspektasi orang lain yang mengira kalau orang itu akan terkena sihir Morisaki, seorang perempuan berdiri disana dengan membawa sebuah CAD berbentuk baton. Sementara itu Morisakimemegang tangannya yang kesakitan sehabis digetok. CAD miliknya juga sudah jatuh ke tanah.

Teman-temannya langsung membantu Morisaki dengan sigap.

"Akan lebih cepat dengan fisik kalau jaraknya segini."

Perempuan berambut merah itu menyombongkan dirinya sambil tersenyum lebar. Dia mengetukkan batonnya ke pundaknya dengan perlahan.

"Hei, kenapa kamu mengangguku? Padahal sudah mau aku pukul dia!"

"Hah?! Bukannya terima kasih."

"Hmph! Buat apa?"

"Grr… orang ini!"

Si pria besar dan perempuan berambut merah itu malah bertengkar ketika mereka pikir masalah sudah selesai. Melihat situasi itu, teman mereka hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.

Jelas pemandangan itu membuat Morisaki dan teman-temannya makin muak dengan mereka.

Tanpa disadari, Morisaki sudah memegang CAD miliknya dan melakukan aktivasi sihir.

"Hentikan!"

Semuanya baru sadar ketika seorang perempuan dari grup Morisaki berteriak sambil mengaktifkan sihirnya untuk menghentikan Morisaki. Yang lain juga ikut bereaksi untuk melindungi diri atau menyerang karena tindakan mereka berdua.

"H-huh?"

"Oi, Kalau mau ribut jangan di tengah jalan."

Alangkah kagetnya semua orang ketika menyadari kalau CAD mereka sudah tidak berada di tangan mereka masing-masing.

Seorang siswa dengan seragam yang tidak rapih berjalan dengan santai ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah gerbang sekolah. Dia memiliki rambut jabrik dan wajah yang lumayan tampan. Kulitnya berwarna putih dan mulus seperti tidak pernah melakukan kerja fisik.

Tangan kirinya dimasukkan ke saku celananya sedangkan tangan kanannya memutar-mutar pelatuk CAD milik Morisaki. CAD lain yang menghilang juga ternyata ada di tanah dekat dia. Tidak ada satupun dari mereka yang mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.

Orang itu adalah Kihara Ren. Seorang laki-laki yang menganggap kalau dirinya adalah karakter utama dari cerita ini.

"Padahal masih murid baru. Aku saja gak sampai segitunya pas baru masuk sekolah."

Sambil membisikkan itu, Ren berjalan ke luar sekolah dengan santuy tanpa memperhatikan semua orang yang melihatnya. Ketika melewati grup Morisaki yang sedang bengong, Ren melempar CAD yang dipegangnya ke Morisaki.

"Ren, tunggu sebentar!"

"Hm?"

Ren berhenti ketika mendengar suara perempuan di belakangnya.

Yang memanggilnya adalah seorang perempuan cantik dengan rambut hitamnya yang panjang. Selain wajah yang cantik, perempuan itu juga memiliki tubuh yang aduhai. Dia adalah Saegusa Mayumi, ketua OSIS dan teman masa kecil Ren.

"Kamu harus beri keterangan untuk kejadian ini."

"Bodo amat. Cari aja orang lain."

"Hei!"

Mengetahui dia dipanggil karena masalah sepele, Ren tetap berjalan sambil melambaikan tangannya.

"Jadi dia Kihara Ren."

Setelah kejadian itu, grup perempuan berambut merah itu pergi ke kafe untuk makan sore sekaligus menenangkan hati. Mereka berlima pergi ke kafe ala prancis yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka.

"Memangnya dia siapa?"

"Dasar idiot, begitu saja tidak tahu. Kalau ke SMA Satu, seharusnya kamu setidaknya sudah dengar tentang dia."

"Gak usah pake idiot juga dong. Ngajak berantem?!"

"Ayo!"

Tidak dimana-mana mereka berdua selalu saja bertengkar. Yang lain lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala mereka.

"S-sudah Erika-chan, Leo-kun."

"Tuh, Mizuki sampai marah."

"Hmph!"

Akhirnya mereka berdua diam karena perempuan berkacamata yang bernama Mizuki.

"Memang siapa Kihara Ren?"

Kali ini Leo bertanya dengan serius karena dia benar-benar tidak tahu.

"Dia adalah seorang penyihir jenius. Katanya kalau bukan karena Mayumi, dia bisa saja menjadi peringkat pertama di sekolah dengan mudah. Tapi yang membuatnya terkenal adalah kekuatan supernaturalnya [Teleportation]."

"Oh, Miyuki tahu banyak ya."

Shiba Miyuki, seorang siswi baru yang mendapatkan nilai kumulatif tertinggi saat ujian masuk. Tidak hanya pintar, dia juga sangat cantik seperti seorang putri. Berbeda dengan penampilannya yang terlihat dingin, dia adalah orang yang mudah bergaul dan populer.

"Hah, teleportasi? Bukannya sudah ada sihir yang seperti itu?"

"Beda. Sihir yang umum adalah [Mock Teleportation] yang menggunakan udara vakum untuk melintas ke tempat yang dituju. Selain jaraknya yang dekat, sihir ini juga tidak bisa melewati hambatan fisik. Kalau punya Kihara-senpai adalah teleportasi dalam arti asli. Artinya dia bisa kemana saja yang dia mau tanpa ada batasan apapun. Selain itu, dia juga bisa menteleport objek yang ada di sekitarnya."

"Oh, seperti CAD tadi ya?"

"Iya."

Akhirnya Leo mulai mengerti ketika Mizuki menjelaskan dengan rinci. Sementara itu kakak Miyuki, Tatsuya hanya terdiams eperti berpikir sesuatu dengan serius.

"Ooh!"

Suara Leo yang tiba-tiba mengagetkan orang yang ada di sekitarnya kecuali Tatsuya.

"Ada apaan sih?"

"Aku baru ingat kalau ada seorang penyihir dengan sebutan [Transporter] di militer. Jangan-jangan dia adalah Kihara-senpai?!"

"Dih, baru nyadar."

"Hah? Ngajak berantem lagi?!"

Disaat mereka berdua bertengkar lagi, Tatsuya berbisik sendiri.

"Kemampuannya benar-benar dibutuhkan oleh militer. Jika mau, dia bisa saja membawa semua militer Jepang ke markas besar musuh. Musuhnya bisa sembunyi, tapi tidak akan bisa lari darinya. Selain itu dia tidak perlu CAD dan aktivasinya benar-benar instan secepat refleks pemikirannya."

"Onii-sama."

"Tenang saja Miyuki, dia tidak punya niat buruk."

"Un."

Atau setidaknya, belum punya.

Mau bagaimana pun Tatsuya harus selalu bersiap untuk menghadapi segala ancaman. Mau itu dari teman dekatnya sendiri. Karena tugasnya hanya satu.

Untuk melindungi eksistensi Shiba Miyuki.