Naruto dan seluruh karakternya adalah milik Masashi Kishimoto.

Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi ini. Enjoy the story!

.

.

.

"Yo, Ino-chan!"

Yamanaka Ino berhenti bersenandung ketika mendengar suara familiar memanggil namanya. Gadis berambut pirang itu menggerutu. Ia sedang memilah bunga segar dan mengumpulkan bunga yang telah layu, memotong bagian daun yang mulai mengering, dan menyusun bunga-bunga beraneka warna untuk diletakkan di depan tokonya.

"Apa lagi?" Ino memandang jengkel ke arah Uzumaki Naruto yang berdiri di depan tokonya dengan cengiran menyebalkan. Ino bisa melihat jaket oranye milik pemuda itu kumal dan terlipat di beberapa bagian, sisa-sisa rumput dan daun kering yang menempel, dan... Ino seperti mencium aroma padang rumput dari tubuh pemuda itu.

"Aku terluka." Naruto memasang ekspresi memelas membuat Ino ingin melempar pot bunga ke kepala kuning jabrik itu.

"Aku tak mengerti kenapa kau terus-terusan mendatangiku, padahal jelas-jelas ada Sakura yang lebih menguasai ninjutsu medis. Biar kutebak, otakmu yang terluka?" Ino tersenyum mengejek.

"Jangan kejam begitu, Ino-chan." Naruto terkekeh. "Lukaku hanya sembuh jika kamu yang mengobati."

"Gombalanmu menggelikan." Meski Ino kesal, gadis itu tetap mempersilakan Naruto masuk.

Pemuda berkulit tan duduk santai di atas sofa ruang tamu kediaman Yamanaka sementara Ino membuat teh di dapur belakang. Naruto tak pernah bosan mengunjungi toko bunga yang dikelola teman seangkatannya. Ruangan kecil ini menguarkan aroma wangi yang khas. Ah, ngomong-ngomong, Ino juga wangi. Naruto tertawa pelan kemudian menampar pipinya sendiri karena telah berpikir yang tidak-tidak.

Ino kembali dengan membawa secangkir teh dan kotak obat-obatan.

"Aku tidak yakin kau terluka, Naruto. Karena yang kulihat kau tampak baik-baik saja. Tapi ya sudahlah, biar kuperiksa dulu. Awas kalau kau berbohong." Ino meletakkan kotak obat di atas meja dan mengambil posisi duduk di samping Naruto.

"Bagian mana yang sakit?" tanya Ino sambil menyibakkan poninya yang sedikit menghalangi pandangan.

"Punggung. Rasanya pegal-pegal. Biar kuceritakan sesuatu padamu ; aku melawan banyak musuh kuat tanpa sempat istirahat, Kakashi-sensei memarahiku karena aku mencari gara-gara dengan salah satu pemuda desa, tidak ada kedai ramen di tempat kami menjalankan misi, dan... sepertinya aku merindukanmu—aww!"

"Jangan bicara bodoh! Sekarang, lepas jaketmu."

Naruto menuruti perintah Ino seperti bocah kecil yang baru saja diomeli ibunya. Punggung tegap dan kekar dengan kulit kecokelatan di depan matanya membuat jantung Ino berpacu lebih cepat. Gadis itu mendecih, menepuk-nepuk punggung Naruto dengan tekanan keras membuat pemuda pirang itu menjerit kesakitan.

"Kau gila?" teriak Naruto kesakitan.

Ino memasang wajah tanpa dosa, tak peduli dengan erangan Naruto. "Aku sedang memeriksa syaraf dan otot punggungmu, tahu."

Jemari lentik Ino menelusuri gurat otot punggung Naruto dengan gerakan pelan membuat sang pemuda berjengit dan berkeringat dingin. Naruto menoleh ke belakang dan mendapati Ino diam-diam terkekeh mengamati reaksinya.

"Jangan tegang begitu, Naruto. Kau sendiri yang minta untuk diobati. Aku sedang mengobatimu." Cahaya kebiruan menyelimuti telapak tangan Ino. Gadis itu sedang memusatkan chakra penyembuh pada punggung Naruto. Tidak ada luka serius, hanya goresan dan beberapa lecet kecil yang tidak berbahaya. Ino melihat sebutir keringat lolos dari leher sang pemuda pirang. Jika diperhatikan dari dekat, Naruto memang memiliki bentuk tubuh yang bagus. Sayang, otaknya terkadang geser dan sifat mesumnya sangat menyebalkan. Ino pernah menendang Naruto dan Kiba sekuat tenaga saat memergoki kedua manusia cabul itu berdiri di depan tokonya, memandangi bokongnya berlama-lama dan berdebat tidak jelas mengenai siapa pemilik bokong terindah Konoha.

"Kau selalu membuatku tegang—aww, ampun! Berhenti memukul punggungku!"

"Terkadang mulut kotormu perlu diberi pelajaran."

Naruto hanya tertawa. "Sudah agak enakan. Thanks, Ino-chan. Kau yang terbaik."

Pemuda itu hendak meminta jaketnya kembali, namun Ino menahannya.

"Well, kurasa aku membutuhkan jaketku sekarang. Berikan padaku."

Ino mengerling jahil. "Kau pulang dalam keadaan topless saja. Karena aku sedang baik hati, akan kucucikan jaket buluk ini dan kujahit beberapa bagian yang sobek. Menyedihkan, bukankah kau bisa meminta bantuan Sakura atau Hinata untuk hal seperti ini?"

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Pemuda pirang itu salah tingkah dengan kebaikan Ino yang datang tiba-tiba. "Aku sama sekali tidak kepikiran."

"Tidak ada ninja yang memakai pakaian compang camping di Konoha. Bersyukurlah kau bertemu orang yang tepat, Naruto. Aku akan menjadi stylish-mu." Ino memandang Naruto dengan tatapan menggoda.

"Ew, tidak perlu repot-rep—"

"Tapi bohong."

"Sialan. Sudah kuduga."

Ino tertawa pelan melihat ekpresi cemberut Naruto. Gadis itu kemudian bangkit, meninggalkan Naruto sebentar dan kembali dengan sebuah kaus bersih. "Nih, kau bisa pakai ini dulu. Punya ayahku, tapi sepertinya cocok untukmu. Daripada kau berkeliaran di jalanan tanpa busana."

Naruto mendecih, menerima kaus pemberian Ino lalu memakainya.

"Baunya kayak bapak-bapak," komentar Naruto membuat tawa Ino meledak.

"Tentu saja, baka! Kalau tak suka lepas saja."

"Hell no. Aku tak mau tubuh atletisku yang seksi menjadi objek fantasimu, heheh." Naruto terkekeh, berakhir dengan timpukan pelan di kepalanya.

"Demi Kamisama, aku lebih memilih membayangkan tubuh seksi Hyuuga Neji daripada tubuhmu!" Ino tersenyum mengejek.

"Kenapa seleramu cowok-cowok minim ekspresi dan jarang ngomong sih? Membosankan tau. Aku bahkan tak mengerti kenapa Sakura-chan bernapsu mengejar Sasuke. Ngomong-ngomong Gaara juga banyak penggemar, mentang-mentang dia Kazekage, huh. Apa para gadis menyukai rata-rata menyukai cowok seperti itu? Tidak adil." Naruto seolah mengutarakan isi hatinya.

Ino tampak berpikir. "Cowok yang tak banyak bicara dan bersikap keren selalu menyimpan misteri membuat gadis-gadis penasaran, haha. Terima saja takdirmu, Naruto. Tapi kulihat kau cukup populer di kalangan kunoichi dewasa. Kau tak tertarik dengan MILF—"

"Sial, Ino kau blak-blakan sekali."

Ino hanya tertawa. Oh, Naruto lucu sekali. Ino baru menyadari menggoda Naruto sangat menyenangkan.

Pemuda pirang itu berdiri dan mengemasi ranselnya. Begitu tiba di desa dan melapor pada Hokage soal misi yang baru saja selesai, Naruto tak langsung ke apartemen melainkan ke toko bunga Yamanaka. Ada dorongan kuat yang membuat Naruto ingin segera bertemu Ino. Rasanya janggal dan tidak biasa.

"Ino, kau masih menyukai Sasuke? Kalau aku berhasil membawanya pulang apa kau masih akan mengejarnya dan bersaing dengan Sakura?"

Naruto sadar itu bukan urusannya. Dia hanya ingin tahu saja. Semacam basa-basi.

Ino hanya tersenyum tipis, mendorong punggung Naruto agar pemuda pirang itu segera meninggalkan rumahnya. Naruto mengeluarkan jerit protes.

"Hmm, bagaimana ya?" Ino tersenyum penuh misteri. Naruto menggerutu dan berbalik, melambaikan tangannya.

Namun, beberapa detik selanjutnya, langkah Naruto terhenti karena Ino menahan pergelangan tangannya.

"Aku belum selesai bicara, bodoh."

Naruto menghadap ke arah Ino dan mendapati gadis pirang itu menunduk, sedikit salah tingkah.

"Apa maksudmu—"

Sebuah kecupan lembut singkat di pipinya membuat Naruto tak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Bibir Ino yang lembut bersentuhan dengan kulit pipi Naruto. Seperti ciuman kupu-kupu. Naruto merasa dunianya berhenti selama beberapa detik sebelum akhirnya sebuah tepukan pelan menyadarkannya.

"Itu jawabanku, baka."

Tanpa menunggu reaksi Naruto, Ino langsung berlari kecil kembali ke rumahnya.

"Heeh, dasar cewek. Selalu penuh kejutan."

Naruto mengusap pipinya, menyusuri jalanan yang mulai sepi sambil bersiul-siul.

TAMAT.