Fang langsung bangun dari posisi tidurnya: menenggelamkan kepala di antara tangannya di atas meja. Ada yang lebih mengagetkan setelah ia bangun. Matanya mengerjap berulangkali. Setelah itu, ia berdecak. Ah, aku pasti sedang bermimpi, batinnya.
"Hei, Fang!" sorakan itu nyata di telinga Fang. Pemuda berusia dua puluh- ah, tidak! Sekarang ia sedang kembali ke masa lalu di mana ia masih enam belas tahun!
Gadis berkacamata berdecak. "Kamu mau menginap di sini, hah?"
Suasana kelas, seragam, dan empat orang yang mengelilinginya sangat familiar baginya. Ia makin terkejut setelah mendengar perkataan si gadis berkacamata barusan. "Ying? Itu kamu?"
Empat orang tadi saling balas tatap. Kemudian Gopal tak segan menempelkan punggung tangannya ke dahi Fang. "Kau sakit? Atau masih belum bangun?"
Gila.
Fang mematung. Apakah semua ini nyata? Jelas-jelas ia sadar betul kalau dirinya sudah bukan lagi remaja enam belas tahun dan Ying sudah meninggal. Terakhir yang ia lakukan pun ia masih ingat, yaitu memikirkan proyek terkait pekerjaannya di sebuah cafe.
Pulih
by Ayzahra
Fang masih setengah tak percaya. "Oke, akan aku rapikan buku-bukuku dulu," ujarnya dengan terbata-bata sambil memasukkan buku-bukunya di atas meja ke dalam tasnya.
Setelah itu, ia berdiri, sementara empat orang tadi masih setia mengelilinginya. "Ah, aku rasa kalau aku sedang bermimpi, mimpi ini terlalu nyata."
Empat orang itu melongo dan saling tatap lagi.
"Tolong tampar aku."
Gopal dengan senang hati menurutinya. Keputusannya itu mencuri perhatian beberapa orang yang masih di dalam kelas. Boboiboy tertawa, sementara Yaya panik.
Ying menengahi. "Fang, kau sudah bangun. Jadi, ayo, kita pulang!"
Fang tidak tahu apa yang direncanakan untuk dirinya. Detik ini ia kembali ke masa lalunya dengan ingatan yang masih segar tentang garis-garis besar. Ia tahu bahwa selanjutnya ia akan berjalan kaki menuju kedai Tok Aba bersama empat temannya. Di sepanjang perjalanan rasanya ia masih tetap seperti dirinya yang dulu: menyombongkan dirinya dan meremehkan Boboiboy.
Rindu sudah sedari tadi menyeruak, menarik senyumnya terus-terusan, dan menyenangkan hatinya. Lelucon, kesombongan, dan minuman coklat adalah hanya sebagian yang membangkitkan rasa lega di hatinya. Sungguh, mimpi ini bisa dikatakan paling nyata dan indah bagi Fang. Ia pun bisa mengamati rupa kedai yang sangat persis dengan masa lalunya.
"Fang, apa kau sedang ada masalah?"
Suara itu mengalihkan perhatian Fang. Mendadak dalam sekejap semua latar berubah: ia tak lagi berada di kedai, jam tangannya menunjukkan waktu telah lebih sore, dan tak ada lagi obrolan yang saling sahut. Sekarang hanya ada Ying di dekatnya, berjalan sejajar dengannya. Fang masih ingat, kok, kalau dari empat temannya tadi, hanya jalan pulang Ying yang sejalur dengannya.
"Tuh, kadang kau tampak bingung seperti itu."
Fang membatin, sebenarnya akan lebih aneh kalau aku biasa-biasa saja. Ia menghela napas. Ternyata semua ini betulan mimpi.
"Aku memikirkanmu."
Dalam hati Fang menertawakan dirinya.
Ying mengerutkan dahinya. Yang Fang tangkap adalah ekspresi malu-malu Ying. Gadis itu menyanggah dan menyenggol lengan Fang yang tertutup jaket berwarna ungu kesukaannya.
"Aku memang memikirkanmu."
Garis-garis besar. Apa obrolannya dengan Ying sekarang termasuk dalam itu? Barusan Fang hanya mengikuti apa yang dulu pernah ia katakan di situasi seperti ini. Entahlah, apa mungkin Ying akan merespon kata-kata yang sama?
"Jangan seperti itu. Semua orang tahu bahwa kau menyukai Yaya."
Mengapa mimpinya sama persis dengan masa lalunya?!
Fang terkekeh kaku. "Apa... sangat kelihatan, ya?"
Fang sendiri masih ingat kalau dulu ia memang menaruh suka pada Yaya, tapi mengapa dari sekolah sampai kedai Tok Aba ia tak merasakan atau mengingat tentang perasaannya pada Yaya? Ah, dulu pun seperti itu. Namun, akhirnya Fang sadar kalau pergerakannya cenderung mendekati Yaya, entah itu berjalan atau duduk bersebelahan.
Ying mengangguk. Lalu langkahnya berhenti di depan sebuah rumah. "Hati-hati, Fang. Aku masuk dulu, ya."
Giliran Fang yang mengangguk.
Ah, tentang hari esok! tentang setelah semua yang terjadi pada hari ini!
"Ying!"
Ying berbalik. "Ada apa, Fang?"
Hah, Fang tidak bisa mengatakan apa yang sesungguhnya.
"Fang, gerimis! Lebih baik kau cepat sampai di rumah."
Fang menengadah. Yang benar saja ada tetesan air mengenai wajahnya. "O-oke. Aku pulang dulu, Ying."
Sungguh, Fang kurang bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar dari Boboiboy. Pemuda itu lebih sering ribut dengannya. Apalagi ia kini menyampaikan apa yang ia cemaskan sejak kemarin. Mimpi ini memang rasanya nyata, sampai-sampai ia berharap bahwa kata-kata Boboiboy adalah sebaliknya.
Tadi malam ia berusaha mengabaikan cemasnya. Tadi pagi ia berusaha bersikap normal seolah tidak tahu apa yang akan terjadi, membiarkan waktu berjalan sendiri. Namun, ia tak bisa lagi menahan kekhawatirannya ketika jam sudah akan mendekati jadwal pelajaran pertama dimulai, tapi bangku milik Ying masih saja kosong.
Mimpi ini nyata!
Sungguh, Fang tidak berbohong.
"Fang, mengapa kau menatap ke jendela terus, hah? Sesuatu terjadi pada Ying, Fang!"
Mimpi ini nyata!
Sungguh, Fang tidak berbohong.
Fang menoleh ke arah bangku Yaya. Sejak kapan para murid mengerubungi Yaya? Ada apa? Ada sesuatu selain yang menimpa Ying?
"Kebiasaanmu membuatmu tak memperhatikan sekitar! Bahkan, dari ekspresimu, kau baru sadar, 'kan, kalau ada sesuatu di sekitarmu?"
Mimpi ini nyata!
Fang merasakan degup jantungnya benar-benar kencang. Apa sebenarnya sedari tadi ia berhasil bersikap normal seolah belum tahu apa yang akan terjadi?
"Setidaknya kau harus tetap tahu, Fang! Yaya bilang, dia melihatnya sendiri."
Perasaan tidak enak benar-benar menyelimuti Fang sekarang. Ia melirik ke arah Yaya. "Apa?"
"Aku tak bisa percaya, tapi yang mengatakan adalah Yaya-"
"Cepat beritahu," titah Fang sambil berdiri tanpa mengalihkan tatapannya dari Boboiboy.
Dalam hati Fang berharap Boboiboy tidak akan mengatakan hal yang menyakitkan untuk kedua kalinya.
Hari itu benar-benar terulang di mana semua pelajaran ditiadakan karena sebuah alasan yang sama pula. Mimpi ini terasa nyata, tapi tidak ada garis besar yang berubah.
Apa aku boleh istirahat sebentar?
Hari itu Ying dinyatakan tiada. Itulah salah satu alasan mengapa Fang tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.
Gadis berkacamata berdecak. "Kamu mau menginap di sini, hah?"
Suasana kelas, seragam, dan empat orang yang mengelilinginya sangat familiar baginya. Ia makin terkejut setelah mendengar perkataan si gadis berkacamata barusan.
"Ying? Itu kamu?"
Empat orang yang mengelilingi Fang saling balas tatap. Kemudian Gopal tak segan menempelkan punggung tangannya ke dahi Fang. "Kau sakit? Atau masih belum bangun?"
Gila.
Fang mematung. Apakah semua ini nyata? Jelas-jelas ia sadar betul kalau dirinya sudah bukan lagi remaja enam belas tahun dan Ying sudah meninggal. Terakhir yang ia lakukan pun ia masih ingat, yaitu memikirkan proyek terkait pekerjaannya di sebuah cafe.
Fang masih setengah tak percaya. "Oke, akan aku rapikan buku-bukuku dulu," ujarnya dengan terbata-bata sambil memasukkan buku-bukunya di atas meja ke dalam tasnya.
Setelah itu, ia berdiri, sementara empat orang tadi masih setia mengelilinginya. "Ah, aku rasa kalau aku sedang bermimpi, mimpi ini terlalu nyata."
Empat orang itu melongo dan saling tatap lagi.
"Tolong tampar aku."
Gopal dengan senang hati menurutinya. Keputusannya itu mencuri perhatian beberapa orang yang masih di dalam kelas. Boboiboy tertawa, sementara Yaya panik.
Ying menengahi. "Fang, kau sudah bangun. Jadi, ayo, kita pulang!"
Fang tidak tahu apa yang direncanakan untuk dirinya. Detik ini ia kembali ke masa lalunya dengan ingatan yang masih segar tentang garis-garis besar. Ia tahu bahwa selanjutnya ia akan berjalan kaki menuju kedai Tok Aba bersama empat temannya. Di sepanjang perjalanan rasanya ia masih tetap seperti dirinya yang dulu: menyombongkan dirinya dan meremehkan Boboiboy.
Rindu sudah sedari tadi menyeruak, menarik senyumnya terus-terusan, dan menyenangkan hatinya. Lelucon, kesombongan, dan minuman coklat adalah hanya sebagian yang membangkitkan rasa lega di hatinya. Sungguh, mimpi ini bisa dikatakan paling nyata dan indah bagi Fang. Ia pun bisa mengamati rupa kedai yang sangat persis dengan masa lalunya.
"Fang, apa kau sedang ada masalah?"
Suara itu mengalihkan perhatian Fang. Mendadak dalam sekejap semua latar berubah: ia tak lagi berada di kedai, jam tangannya menunjukkan waktu telah lebih sore, dan tak ada lagi obrolan yang saling sahut. Sekarang hanya ada Ying di dekatnya, berjalan sejajar dengannya. Fang masih ingat, kok, kalau dari empat temannya tadi, hanya Ying yang sejalur dengannya.
"Tuh, kadang kau tampak bingung seperti itu."
Fang membatin, sebenarnya akan lebih aneh kalau aku biasa-biasa saja. Ia menghela napas. Ternyata semua ini betulan mimpi.
"Aku memikirkanmu."
Dalam hati Fang menertawakan dirinya.
Ying mengerutkan dahinya. Yang Fang tangkap adalah ekspresi malu-malu Ying. Gadis itu menyanggah dan menyenggol lengan Fang yang tertutup jaket berwarna ungu kesukaannya.
"Aku memang memikirkanmu."
Garis-garis besar. Apa obrolannya dengan Ying sekarang termasuk dalam itu? Barusan Fang hanya mengikuti apa yang dulu pernah ia katakan di situasi seperti ini. Entahlah, apa mungkin Ying akan merespon kata-kata yang sama?
"Jangan seperti itu. Semua orang tahu bahwa kau menyukai Yaya."
Mengapa mimpinya sama persis dengan masa lalunya?!
Fang terkekeh kaku. "Apa... sangat kelihatan, ya?"
Fang sendiri masih ingat kalau dulu ia memang menaruh suka pada Yaya, tapi mengapa dari sekolah sampai kedai Tok Aba ia tak merasakan atau mengingat tentang perasaannya pada Yaya? Ah, dulu pun seperti itu. Namun, akhirnya Fang sadar kalau pergerakannya cenderung mendekati Yaya, entah itu berjalan atau duduk bersebelahan.
Ying mengangguk. Lalu langkahnya berhenti di depan sebuah rumah. "Hati-hati, Fang. Aku masuk dulu, ya."
Giliran Fang yang mengangguk.
Ah, tentang hari esok! tentang setelah semua yang terjadi pada hari ini!
"Ying!"
Ying berbalik. "Ada apa, Fang?"
Hah, Fang tidak bisa mengatakan apa yang sesungguhnya.
"Fang, gerimis! Lebih baik kau cepat sampai di rumah."
Fang menengadah. Yang benar saja ada tetesan air mengenai wajahnya. "O-oke. Aku pulang dulu, Ying."
Di sepanjang perjalanan ia berusaha untuk tidak melupakan tentang hari esok.
Sungguh, Fang kurang bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar dari Boboiboy. Pemuda itu lebih sering ribut dengannya. Apalagi ia kini menyampaikan apa yang ia cemaskan sejak kemarin. Mimpi ini memang rasanya nyata, sampai-sampai ia berharap bahwa kata-kata Boboiboy adalah sebaliknya.
Tadi malam ia berusaha mengabaikan cemasnya. Tadi pagi ia berusaha bersikap normal seolah tidak tahu apa yang akan terjadi, membiarkan waktu berjalan sendiri. Namun, ia tak bisa lagi menahan kekhawatirannya ketika jam sudah akan mendekati jadwal pelajaran pertama dimulai, sementara bangku milik Ying masih saja kosong.
Mimpi ini nyata!
Sungguh, Fang tidak berbohong.
"Fang, mengapa kau menatap ke jendela terus, hah? Sesuatu terjadi pada Ying, Fang!"
Mimpi ini nyata!
Sungguh, Fang tidak berbohong.
Fang menoleh ke arah bangku Yaya. Sejak kapan para murid mengerubungi Yaya? Ada apa? Ada sesuatu selain yang menimpa Ying?
"Kebiasaanmu membuatmu tak memperhatikan sekitar! Bahkan, dari ekspresimu, kau baru sadar, 'kan, kalau ada sesuatu di sekitarmu?"
Mimpi ini nyata!
Fang merasakan degup jantungnya benar-benar kencang. Apa sebenarnya sedari tadi ia berhasil bersikap normal seolah belum tahu apa yang akan terjadi?
"Setidaknya kau harus tetap tahu, Fang! Yaya bilang, dia melihatnya sendiri."
Perasaan tidak enak benar-benar menyelimuti Fang sekarang. Ia melirik ke arah Yaya. "Apa?"
"Aku tak bisa percaya, tapi yang mengatakan adalah Yaya-"
"Cepat beritahu," titah Fang sambil berdiri tanpa mengalihkan tatapannya dari Boboiboy.
Dalam hati Fang berharap Boboiboy tidak akan mengatakan hal yang menyakitkan untuk kedua kalinya.
Hari itu benar-benar terulang di mana semua pelajaran ditiadakan karena sebuah alasan yang sama pula. Mimpi ini terasa nyata, tapi tidak ada garis besar yang berubah.
Apa aku boleh istirahat sebentar?
Hari itu Ying dinyatakan tiada. Itulah salah satu alasan mengapa Fang tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.
Fang masih ingat apa yang akan dikatakannya setelah ini.
"O-oke. Aku pulang dulu, Ying."
Sebuah buku dan bolpoin ia keluarkan di tengah perjalanan. Ia harus mengingat tentang hari esok dan cara mencegah kecelakaan yang akan datang dengan mencatat di bukunya. Tak heran jika ia mendapati dirinya sendiri berdiri di depan rumah Ying pagi-pagi.
"Kau betulan sedang punya masalah, Fang? Kau tampak tidak tenang sejak tadi."
Fang terkekeh. Ia makin bersikap hati-hati ketika keduanya sudah mendekati tempat terjadinya kecelakaan yang menimpa Ying. "Kita akan menyebrang. A-apa aku boleh menggandengmu?"
"Tidak masalah," balas Ying sambil membalas genggaman Fang, "Eh, Fang, kau sudah mengerjakan tugas?"
Fang melotot. Ketenangannya karena tampaknya ke depannya akan baik-baik saja sekejap menghilang. Tugas apalagi?!
"Tugas apa? Sepertinya aku belum."
"Wah, kau benar-benar tampak sedang bermasalah!"
"Hei, itu Yaya!" Fang menunjuk ke arah seberang di mana Yaya pun menyadari keberadaan kedua temannya sedang memperpendek jarak dengannya. "Wah, kebetulan sekali-"
Fang merasakan tiba-tiba genggaman Ying bertambah erat dan tangan satunya lagi mencengkeram lengan Fang dan berusaha menariknya ke belakang. "Minggir, Fang!"
Hari ini Fang tidak tahu apa yang terjadi. Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana Fang kembali terbangun di sore hari di dalam kelasnya setelah Boboiboy menamparnya dengan kenyataan atau pada intinya mendapati salah satu temannya tiada. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Biarkan aku melengkapi kalimatku
Apa aku boleh istirahat sebentar?
Barangkali dua atau satu menit
Pikiranku butuh waktu
Sementara tubuhku masih bergetar
Menolak seluruh rasa sakit
Aku harap kamu mengerti, sayangku
"Fang? Fang! Dia bangun! Cepat panggilkan dokter!"
Ucapan rasa syukur mengalir lancar layaknya air mata dari tiap pasang mata yang selama ini menunggu. Syukurlah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Bola mata indahnya kembali terpancar.
Sekarang aku sudah boleh istirahat, 'kan? Sebentar saja, barangkali satu atau dua menit. Kuharap kamu baik-baik saja. Aku benar-benar tidak bisa menghentikan tangisku. Aku bahagia dan lega.
"Lihat, Yaya! Dia kembali."
Senyumku pun makin takbisa kutahan setelah mendengar bisikan itu.
"Aku pikir aku akan kehilangan lagi karena keadaannya, tapi dia kembali, Boboiboy," balasku.
Aku mengerti semisal aku akan kehilangan sesuatu di suatu hari. Akan tetapi, di detik-detik sebelumnya Fang masih bernapas walau dia tidak sadar. Lantas apa aku tidak boleh berharap agar dia kembali sadar?
"Kita menjenguk di saat yang tepat."
"Besok kita bisa langsung melanjutkan rencana liburan berempat kita, nih!"
"Fang baru sadar, Gopal."
Apa aku sedang bermimpi lagi? Hah, memangnya sebelumnya, apa yang menjadi mimpiku? Orang-orang mengelilingiku. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Sebelumnya, aku beberapa kali mencoba menuliskan ide-ideku menjadi sebuah cerita, tapi belum bisa. Beberapa menit aku mengetik lalu aku menghapusnya dan kembali berpikir. Beberapa menit selanjutnya aku mengetik lalu aku menghapusnya dan kembali berpikir. Terus-terusan seperti itu sampai aku menemukan rasa lega di mana akhirnya aku bisa mencapai sebagian besar dari cerita ini kira-kira dua jam kemudian.
Btw dari awal Fang memang ingin kujadikan sebagai tokoh utama, sih:) hehe
Mampir ke cerita-cerita di akun Wattpad-ku juga, ya: ayzahraa.
-A.
