SAJANGNIM

Main Cast :
-Oh Sehun
-Luhan as girl

Other cast:

You can find by yourself.

Summary : Luhan dulunya adalah pembully tingkat nasional. Dia akan menandakan tiap-tiap pria yang tak disukainya. Menjadikan mereka sebagai mainan jika dirinya bosan. Cukup mudah, ia tak suka pria lemah, apalagi mereka yang sangat baik. Hingga suatu saat Luhan kembali dipertemukan dengan salah satu korban bullying-nya. Apakah ini takdir? Lalu bagaimanakah kisah mereka?

Rate : T

Disclaimer : Cast dalam cerita ini sepenuhnya milik Tuhan. Terutama Sehun, setengahnya milik saya, hehe *plak* But, this story is Mine. FF ini murni asli pemikiran saya.

Warning : awas typo nyempil.

.

.

.

.

Happy reading

Ps. Doa dulu sebelum dibaca.

.

.

.

00

.

.

Mengawali pagi yang cerah, biasanya orang lain masih akan duduk tenang di meja makan sembari menggigit selembar roti dengan selai coklat di atasnya atau mungkin menyesap kopi hangat dengan selembaran koran yang menemani. Tapi tidak dengan perempuan satu ini. Di pagi harinya dia sudah mengerahkan seluruh otot kakinya untuk berlari hanya demi mengejar waktu.

Dia Luhan.

Gadis cantik berdarah campuran Korea-China, yang juga merupakan anak bungsu dari keluarga Lu pendiri perusahaan yang bergerak dalam bidang ekstraktif dan agraris. Luhan memiliki satu kakak laki-laki yang sangat menyayanginya dan begitu mengesalkan baginya. Alasan mengapa ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari dipagi hari yang masih terlihat sepi ini akibat kakak laki-lakinya yang mengatakan bahwa Luhan harus menemuinya pagi ini jika gadis tersebut ingin mendapatkan pekerjaan.

Berbicara tentang pekerjaan. Selama setahun terakhir ini Luhan memang menghabiskan waktunya dengan melakukan travelling ke beberapa negara yang memiliki suasana ter-aesthetic menurutnya. Sehingga ia lupa jika seharusnya Luhan mendapatkan pekerjaan setelah lulus S2-nya.

Dan inilah kesempatannya dapat bekerja di kantor milik ayahnya sendiri. Meskipun ayahnya memiliki sebuah perusahaan dan beberapa cabang yang telah menyebar di berbagai kota baik di Korea Selatan maupun di China tapi untuk melamar pekerjaan di kantor ayahnya juga harus sesuai peraturan penerima lamaran kerja pada umumnya. Ayahnya bukanlah orang yang memandang orang lain dari status bahkan kasta mereka. Semua akan terlihat sama di matanya. Bahkan Luhan yang anaknya sendiri harus mengikuti berbagai macam uji percobaan untuk diterima di perusahaan ayahnya. Luhan jadi teringat sewaktu kakaknya diangkat menjadi CEO di perusahaan yang berada di Korea Selatan. Pria tinggi tersebut hampir saja di vonis depresi –oleh dirinya- mengingat betapa stress kakaknya ketika diberi beberapa soal ujian terkait tentang dunis bisnis. Luhan menyesal saat itu mengapa ia harus menertawai kakaknya. Dan sekarang giliran dirinya yang diberi cobaan oleh ayahnya sendiri.

Astaga, Appa:')

Dilangkahnya yang begitu cepat Luhan bahkan tak dapat lagi melihat jalanan dengan baik. Sehingga tanpa keinginannya sendiri dia menabrak seorang laki-laki tinggi membuat map biru yang sedari tadi berada ditangannya terjatuh, mengakibatkan seluruh kertas penting di dalamnya ikut terjatuh dan bercecer di jalan.

Luhan segera mengambil kertas-kertas berharganya, menyusunnya asal dan memasukkannya ke dalam map dengan cepat. Ingat, ia sedang dikejar waktu.

Setelah itu Luhan membungkuk sembilan puluh derajat guna meminta maaf pada si pria yang ia tabrak tadinya. Tanpa menunggu jawaban dari pria tersebut yang entah akan memaafkannya atau tidak Luhan memilih kembali membawa kaki jenjangnya untuk berlari, mengabaikan pria yang tak dikenalnya sedikit tercengang atas perilakunya. Tapi, siapa peduli? Ia sedang dikejar waktu saat ini. Mungkin lain kali Luhan akan meminta maaf dengan cara yang benar jika ia kembali dipertemukan oleh pria tersebut.

Tapi jika tidak baguslah.

Semoga saja tidak.

-00-

Setelah hampir 25 menit berlari tanpa berniat untuk menaiki taxi ataupun bus, karena memang jam segini belum ada bus maupun taxi. Luhan akhirnya telah berhasil menginjakkan kakinya ke tempat tujuannya. Sambil bertumpu pada kedua lututnya, gadis itu menarik nafas sebanyak mungkin. Mengontrol kembali deru nafasnya yang mulai menipis akibat perjalanan panjangnya tadi. Ia juga menyeka beberapa bulir keringat yang turun dari dahinya menggunakan punggung tangannya.

Lalu Luhan kembali menegakkan tubuhnya, merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan, menghembuskan nafas panjang sebelum melangkah memasuki gedung tinggi yang berdiri kokoh di hadapannya.

Namun, keadaan di dalam kantor tidak berbeda jauh dengan di luar.

Sepi

'Kemana semua orang?' pikirnya.

Meski begitu Luhan tetap melangkahkan kakinya untuk melangkah masuk. Semakin bingung melihat kantor yang sangat sepi. Firasatnya mengatakan jika memang belum ada satupun orang yang datang tapi entah mengapa pikirannya menolak hal tersebut. Memang jika dilihat dari meja resepsionis saja masih kosong. Biasanya akan ada dua gadis cantik dengan gaya elegannya berdiri di sana. Tapi sekarang?

Ah, mungkin mereka sedang sarapan pagi di kafetaria kantor bukan? Ya kan ya kan ya kan.

Tidak. Tidak mungkin.

Perasaan Luhan mulai tak enak diikuti dengan pikirannya yang mulai melambung kemana-mana. Gadis itu pun merogoh kantung jaket panjangnya untuk mengambil ponsel putih miliknya. Ia harus menelpon kakaknya. Jangan sampai jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.

Awas saja.

Tapi belum sempat ia menekan ikon hijau sebuah suara memanggil namanya.

"Luhan?"

Gadis itu menoleh ke samping kanan. Ke arah seorang pria yang baru saja turun dari tangga darurat.

"Yeonseok oppa," serunya dan membalas senyum pria yang bernama Yeonseok tersebut.

Yeonseok berjalan mendekat ke arah Luhan. "Apa yang kau lakukan di sini? Sepagi ini?" tanyanya yang mulai menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala Luhan.

"Aku hendak menemui Kris oppa. Hari ini aku akan mengikuti uji karyawan baru," jelasnya yang membuat kening Yeonseok mengerut.

"Kau akan bekerja di sini?"

Luhan mengangguk. "Ne," jawabnya singkat dan terdengar bahagia.

"Seingat oppa, ahjussi belum memerintahkan untuk membuka lowongan pekerja baru. Kau sudah berbicara pada ahjussi perihal ini?"

Luhan tak langsung menjawab. Gadis itu terdiam selama tiga detik barulah ia menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Luhan padanya.

"Belum. Aku sama sekali belum memberitahu appaku, oppa."

Mendengar hal tersebut Yeonseok sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum tipis. Hingga memunculkan pikiran aneh di kepala Luhan. "Coba kau hubungi dulu oppamu. Jika memang benar akan ada uji karyawan baru seharusnya Kris sudah datang kemari," jelas Yeonseok.

Luhan mengangguk menyetujui, memang niat awalnya ingin menghubungi Kris tapi tertunda karena kedatangan Yeonseok. Jadi, sekarang ia akan menghubungi Kris sekarang dan meminta penjelasan dari kakak lelakinya tersebut.

Pada hitungan ke lima barulah Kris menjawab panggilan dari adik bungsunya tersebut. Tanpa basa-basi dengan mengucapkan 'halo' terlebih dahulu.

"Oppa, kau di mana? Kenapa kantor sepi? Kau tidak sedang membohongiku kan?" tanyanya langsung bertubi-tubi.

"Kau di kantor? Kenapa ke kantor?"

Luhan mengernyitkan keningnya memberi tanda tanya bagi Luhan yang sedari tadi memperhatikannya.

"Oppa mengatakan padaku jika hari ini perusahaan akan melakukan uji karyawan baru," seru Luhan yang mulai merasa kesal.

Tidak ada jawaban untuk beberapa saat dari Kris. Sepertinya pria itu sedang kebingungan dengan perkataan adiknya.

"Uji karyawan baru? Kapan aku mengatakannya?"

Luhan tercengang, "Oppa! Kau mengesalkan!"

Pip

Panggilan pun terputus dengan Luhan yang memutuskannya duluan. Gadis itu menghela nafas kasar merasa jika semua sia-sia. Percuma ia merelakan diri untuk memasang jam alarm untuk bangun dua jam lebih awal dari biasanya. Percuma ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlarian dari apartementnya hingga kemari. Sial sial sial.

"Sepertinya jawaban Kris membuatmu kesal."

Luhan menatap Yeonseok yang masih berdiri disebelahnya. Ia bahkan hampir lupa jika pria itu masih ada di sini.

"Dia tidak pernah berhenti membuatku kesal, oppa. Aku membencinya."

Yeonseok tersenyum. "Memang kebanyakan kakak laki-laki hobi sekali membuat adiknya kesal. Meski begitu kau tidak bisa membencinya, karena itu adalah cara bagaimana kakakmu menunjukkan rasa sayangnya padamu, Lu," jelas Yeonseok.

Luhan tersenyum merasa bersalah dengan kata yang sempat ia katakan sebelumnya, "Oppa benar. Tapi entah mengapa aku merasa jika Kris oppa sangat keterlaluan."

"Mengapa kau tidak melaporkan saja pada appamu? Biar dia diturunkan pangkat menjadi karyawan biasa," canda Yeonseok yang membuat Luhan tertawa kecil mendengarnya.

"Jangan diturunkan pangkat, oppa, itu masih terlalu baik. Bagaimana jika dipecat dan Kris oppa di kirim ke samudra antartika. Bukankah menarik?"

"Tidakkah itu terlalu keterlaluan Lu?"

Luhan melirik pria di depannya sebentar lalu menjawab,"Bagaimana bisa Kris oppa mempunyai sahabat yang begitu peduli padanya. Ditengah perilakunya yang begitu mengesalkan kepada adiknya tapi masih ada sahabatnya yang membela dirinya. Ahh aku iri sekali."

Yeonseok tertawa pelan, "Apa yang kau maksud itu oppa"

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang kumaksud."

"Geundae oppa, apa aku bisa pamit sekarang?" lanjutnya.

"Tidak ingin menunggu Kris di sini?"

Luhan menggeleng, "Tidak. Sampaikan saja salamku padanya, oppa. Katakan jika nama Kris oppa akan terukir cantik di death note," ujar Luhan sambil menunjukkan senyum miringnya.

"Ne?"

.

.

.

Oh Sehun atau yang kerap disapa dengan nama Sehun ini adalah seorang CEO muda yang berhasil mengangkat kembali perusahaannya ke masa jayanya seperti dulu setelah mengalami kebangkrutan akibat kecelakaan yang menimpa ayahnya yang saat itu adalah pemimpin perusahaan Oh. Tapi beruntungnya setelah Sehun diangkat menjadi CEO sekaligus menjadi pemilik dari perusahaan yang diwariskan oleh ayahnya ini ia berhasil membawa kembali nama perusahaan seperti sedia kala.

Sehun dikenal sebagai seorang CEO yang memiliki kesan dingin dan terlihat arrogant. Tapi semua tanggapan itu dibantah dengan sifatnya yang ternyata sangat hangat, humble, dan ramah. Iya, dia bukanlah CEO tampan nan dingin seperti yang ada di beberapa novel maupun pada drama-drama. Dia adalah Oh Sehun, CEO muda yang memiliki wajah tampan bak dewa yunani, tubuh yang atletis, kepintaran diatas rata-rata dan sifat yang hangat pada siapapun. Ia juga tak segan-segan untuk menyapa karyawannya terlebih dahulu. Dan Sehun juga terkenal sebagai CEO yang murah tangan. Maksudnya, jika ia memiliki waktu luang Sehun akan mentraktir beberapa karyawan yang telah membiarkan waktunya untuk berlembur di kantor.

Bukankah CEO seperti Sehun lah yang sangat diharapkan?

"Sajangnim, hari ini anda memiliki pertemuan dengan CEO dari perusahaan yours," lapor seorang gadis cantik yang merupakan sekretaris dari Sehun.

Pria tampan itu terlihat mengangguk sambil terus menggulur layar ipadnya guna melihat hasil kinerja karyawannya dalam meningkatkan mutu perusahaan.

"Jam berapa?' tanyanya.

"Jam 10 nanti, sajangnim."

Sehun kembali mengangguk, "Baiklah kau bisa kembali ke tempatmu."

"Baik, sajangnim"

"Ah sebentar." Sehun menghentikan pergerakkan sekretarisnya yang hendak pergi dari ruangannya. Perhatiannya ia alihkan dari ipad ke arah sekretarisnya. "Kau tidak perlu memanggilku sajangnim jika kita sedang berdua, Yixing noona. Cukup panggil Sehun saja. Telingaku masih terasa asing mendengarmu menyebutku dengan sebutan sajangnim-sajangnim. Padahal ini sudah tahun ke limamu bekerja denganku, bukan?"

Gadis yang bernama Yixing tersenyum, "Ya. Dan terasa aneh bagiku jika tidak memanggilmu dengan sebutan sajangnim tidakkah itu terkesan kurang ajar?"

"Astaga noona, kau seperti tidak mengenalku saja. Kita sudah berteman hampir 10 tahun. Dan kau masih menggunakan kata kurang ajar hanya karena kau adalah sekretarisku? Jangan berpikiran seperti itu noona kau malah membuatku terlihat semakin kurang ajar dengan memperlakukan sunbaeku dengan tidak baik."

Yixing tertawa kecil, "baiklah-baik. Sehun. Aku akan memanggilmu Sehun."

"Begitu terdengar lebih baik."

"Kalau begitu aku keluar dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan."

Sehun mengangguk,"hm. Jangan terlalu memaksakan diri, noona. Istirahatlah jika kau merasa lelah. Ingat, aku bukanlah seorang pimpinan yang akan memaksakan karyawanku bekerja sangat keras."

"Baiklah, aku mengerti. Aku permisi."

-00-

Sesuai dengan perkataan Yixing sebelumnya bahwa Sehun memiliki pertemuan pada pukul 10 dengan CEO dari perusahaan yours. Ia pun telah tiba di basement perusahaan yours sendiri. Sehun sengaja pergi seorang diri dan tidak membawa Yixing selaku sekretarisnya. Karena memang pertemuan ini bersifat informal. Ada yang hendak dibicarakan antara dirinya dan juga Kris CEO dari pemilik perusahaan YOURS.

Ketika memasuki perusahaan, Sehun langsung disambut dengan pasang mata asing yang tak pernah ia temui sebelumnya. Saat ini ia bagaikan seorang pangeran dari negeri dongeng. Banyak pasang mata yang tertuju kepadanya. Hanya ke dirinya.

Bagi Sehun hal ini sudah biasa. Ia juga menyadari bahwa berkat wajah tampannya inilah yang membuat Sehun dapat menjadi pusat perhatian seperti yang terjadi saat ini. Maka dari itu untuk tidak menimbulkan rumor bahwa dirinya adalah CEO yang berhati dingin Sehun memberikan senyum terbaiknya kepada siapapun yang melihatnya. Hingga ia berhasil memasuki lift barulah pasang mata tadi mulai tersadar bahwa mereka masih di bumi dan bukannya berada di negeri dongeng.

Setibanya di lantai 10 tempat di mana ruangan Kris berada Sehun melangkahkan kakinya keluar dari lift dan segera menuju ruangan tempat CEO yang hanya ada satu ruangan di lantai tersebut. Tapi ia tak menemukan sekretaris Kris yang sangat dikenalnya tapi mungkin telah lupa dengannya di tempat sekretaris berada. Sehun berpikir mungkin sekretaris Kris sedang dalam perjalanan. Mengingat Kris juga bukanlah orang yang terlalu ketat sekali dengan sekretarisnya yang merupakan adik sepupunya sendiri.

Tok Tok Tok

"Masuk."

Setelah mendengar seruan dari dalam barulah Sehun membuka pintu dan langsung bertemu pandang dengan Kris yang terlihat sedikit terkejut dengan kedatangannya.

"Oh. Sehun wasseo." Sehun melihat Kris yang bangkit dari tempatnya duduk dan mengiring Sehun untuk duduk ke sofa berwarna hitam yang berada tak jauh di depan meja kerjanya.

"Kau datang tepat waktu. Berbeda sekali dengan perkiraanku. Kupikir kau akan datang satu jam setelahnya," ujar Kris.

Sehun tertawa menyadari jika ia memang hobi datang telat satu jam dengan apa yang dijanjikan. "Mengingat apa yang akan dibicarakan sangatlah penting makanya kali ini aku datang tepat waktu."

Kris tertawa geli mendengarnya, "Ck ck. Dasar anak muda," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Jadi, bagaimana dengan keputusanmu? Apa kau akan menerima Luhan bekerja di perusahaanmu?" tanya Kris yang langsung to the point karena memang ia bukanlah tipe yang memilih untuk banyak berbasa-basi. Lebih cepat lebih baik, begitu prinsipnya.

"Aku telah melihat data-data tentang Luhan yang telah hyung berikan padaku. Dia memiliki peningkatan yang pesat dengan nilainya."

"Kau benar. Setelah kau pindah tanpa alasan apapun. Jisa semakin rajin belajar dan meningkatkan prestasinya. Ia bahkan berhasil lulus S2 nya dalam kurun waktu 1,5 tahun."

Sehun mengangguk menyetujui, "Aku sempat menyesal. Mengapa aku pindah terlalu lama. Dengan begitu pasti Luhan akan selalu diperingkat pertama."

"Eihh sudahlah. Tak perlu lagi dibahas. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu."

"Kau benar hyung."

"Jadi, bagaimana?"

Tanpa harus berpikir dan menunda-nunda jawaban lagi Sehun segera menjawab, "Ya. Aku akan menerimanya di perusahaanku."

Kris tersenyum, "Gomawo Sehun-ah. Sebenarnya aku merasa bersalah dengannya. Aku telah menyuruhnya ke kantor pagi buta tadi dengan alasan akan ada uji karyawan baru. Padahal appa belum membuka lowongan pekerjaan baru."

"Ahh, jadi itu alasan mengapa Luhan pagi tadi berlari-larian."

Kris terlihat terkejut. "Kau bertemu dengannya?"

"Hmm." Sehun mengangguk kemudian melanjutkan, "tadi pagi sewaktu aku sedang lari pagi aku tidak sengaja menabrak Luhan yang sangat buru-buru. Ia juga langsung pergi setelah meminta maaf padaku."

"Apa Luhan mengenalmu?" tanya Kris penasaran. Sejujurnya, apapun yang terkait tentang Sehun dan Luhan akan membuatnya sangat menjadi manusia yang sangat penasaran.

"Sepertinya tidak."

Kris menghela nafas sedih, "bagaimana bisa? Aish tidak menyenangkan," ungkap Kris sedikit kesal.

"Memangnya apa yang hyung harapkan dari kami berdua? Semua tidak akan pernah terjadi sesuai apa yang hyung inginkan untuk terjadi," jelas Sehun yang mana malah terdengar begitu menyedihkan bagi dirinya.

To be continue

Bagaimana teman-teman? Apa kalian merasa kecewa? Semoga saja nggak ya. Karena ini masih chapter awal ya nggak mungkin langsung kecewa yakan? Yakan? Yakan?

Iya dong, hehe.

Oh iya jangan lupa komentarnya, kritik atau saran juga boleh. Karena aku juga masih membutuhkan pendapat mengenai cerita ini. Apakah pantas dilanjut atau tidak, hehe.

Terima kasih semoga betah ya di cerita ini.