Naruto by Masashi Kishimoto. I don't take any material advantage by writing this story.
Fanfiksi ini ditulis untuk hadiah ulang tahun coretkakakkutersayangcoret Bu Jendral Wallshaking, LastMelodya. Maaf telat super duper telat, like, telat berbulan-bulan ;_;
/
Sasuke masih ingat apa yang terjadi saat hari kelulusan SMP. Ada banyak perempuan yang berebutan untuk memiliki kancing kedua seragamnya—kancing terdekat dengan posisi jantungnya—sebagai simbolis bahwa dirinya memiliki perasaan Sasuke. Sasuke sampai bosan mengulangi tolakannya pada sekian banyak perempuan. Dia melirik Sakura yang tengah duduk di bangku di sisi lapangan setelah menolak satu orang lagi. Gadis itu membekap mulut untuk menutupi tawa yang ditujukan padanya.
Langkah kaki Sasuke dipercepat menuju Sakura sebelum ada satu gadis lagi yang menunda perjalanannya. Dia berhasil berdiri di samping Sakura tanpa interupsi dari siapa pun. Saat Sasuke menoleh, Sakura terang-terangan menunjukkan tawanya tanpa ditutupi telapak tangannya lagi. Sasuke duduk di sampingnya sembari memutar bola mata.
"Dasar sombong," kata Sakura. Dia masih terkekeh. "Berapa cewek yang sudah kau tolak, hm?"
"Tidak tahu," sahut Sasuke. "Tidak peduli."
"Sok ganteng," hardik Sakura. Wajahnya menampilkan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Kalau memang tidak mau ada yang meminta lagi, cabut saja kancingnya. Jadi, orang-orang akan berpikir bahwa kau sudah memberikannya."
Sasuke mempertimbangkan saran dari Sakura sejenak. Tak butuh waktu lama sampai dia menarik keras kancing keduanya hingga lepas. Digenggamnya erat-erat kancing tersebut. Matanya melirik ke arah Sakura. Tangan kirinya menarik tangan Sakura, membuka telapak tangannya, lantas menaruh kancing tersebut di atasnya.
"Titip."
Sakura memberengut. "Aku bukan tempat sampah, Sasuke." Dia mengembalikan kancing tersebut pada tangan Sasuke.
Tatapan Sasuke lekat pada Sakura. Dia tak percaya Sakura tidak mengerti maksudnya. Namun, raut wajah gadis itu sama sekali tidak tampak main-main, melainkan seratus persen tampak tidak terima. Dia merasa perlu sedikit ngotot untuk memastikannya lagi.
Sasuke menyelipkan kancingnya ke dalam saku jas Sakura. "Ini bukan sampah."
"Itu sampah karena sudah tidak berguna."
"Terserah."
Walaupun wajahnya masih cemberut, gadis itu tak lagi berusaha mengembalikan kancingnya kepada Sasuke. Sasuke tak bisa menunda dirinya dari berpikir bahwa Sakura ingin menyimpan perasaannya. Sontak tubuhnya dipenuhi perasaan ganjil yang sudah rutin mendatanginya setiap kali dia bersama Sakura. Dia ingin mengonfirmasi asumsinya, tetapi terpotong Sakura yang tiba-tiba berkata, "Kalau diingat-ingat, saat kecil, mungkin saat umurku sekitar lima atau enam tahun, aku pernah suka padamu. Bukan rasa suka yang sungguh-sungguh, kau tahulah anak kecil seperti apa. Dan aku pikir aku ingin menikah denganmu." Tatapan Sasuke yang sedari tadi tertuju ke depan langsung beralih pada Sakura. Dia terkejut dan bingung, tetapi yang bisa dia tampilkan hanyalah kernyitan di kening. Sakura sontak mengibas-ngibaskan tangannya dan tertawa lepas. Dia menambahkan, "Tenang saja, tidak usah risi. Itu dulu, kok! Sekarang sudah tidak lagi. Makanya aku berani mengatakannya padamu."
Sekarang sudah tidak lagi. Kalimat itu meremukkan sesuatu di dalam diri Sasuke. Dia memalingkan wajah dari Sakura. "Oh," adalah satu-satunya tanggapan yang bisa dia berikan.
Itulah sebabnya dia terheran-heran saat delapan tahun setelah kejadian itu, di pukul satu dini hari, dia menerima notifikasi mengenai Sakura yang tiba-tiba mengirimkan uang ke rekeningnya, dengan "love u" sebagai catatan tambahannya.
"Hah?"
/
Setelah mampu mencerna apa yang terjadi dengan kondisi setengah mengantuk, Sasuke lekas menghubungi Sakura. Dia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Sakura tidak menjawab di panggilan pertama. Sasuke segera menghubunginya lagi.
"Kau di mana?" tanya Sasuke tepat setelah nada sambung berhenti. Dia tak berminat menyapa sama sekali. "Mabuk, ya?"
"Hng? Di apartemen." Sakura menjawab dengan suara sengau. Nada bicaranya tidak terdengar seperti berorientasi. Sakura jelas-jelas mabuk. "Sudah dulu, ah. Aku ngantuk. Bye, sayang."
"Sakura? Sakura!"
Hubungan telepon terputus. Sasuke mendengus frustrasi. Dia menaruh ponselnya di meja dan kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Tangannya mengusap wajah dengan kasar. Matanya dipejamkan erat-erat. Kemudian napas tenangnya terembus seiring datangnya ingatan bahwa Sakura sudah baik-baik saja di apartemennya sekarang.
Saat itulah kesadaran memukul kepalanya. Sakura memanggilnya sayang. Ditambah lagi dengan catatan "love u" pada pentransferan uang. Sasuke sontak bangkit dari baringannya. Dia kembali meraih ponselnya dan mengecek aplikasi perbankan ponsel. Riwayat pengiriman uang serta catatan singkat dari Sakura masih ada di sana.
Love u
Getaran aneh menerpa dada Sasuke ketika membacanya lagi. Dia mengunci ponsel dan melemparkannya ke atas bantal. Wajahnya ditenggelamkan ke dalam sebelah tangan. Embusan napas gusar lepas dari hidungnya.
Sasuke tidak mengerti. Selama ini hubungannya dengan Sakura hanyalah teman sejak kecil. Sahabat sejak kecil. Sasuke mengakui bahwa dirinya memiliki perasaan sayang berlebih pada gadis itu, tetapi dia tahu perasaannya itu sebelah tangan. Sakura bahkan sudah beberapa kali punya pacar.
Namun, orang mabuk biasanya mengatakan isi hatinya yang terdalam tanpa sadar. Sakura di delapan tahun yang lalu memang tidak memiliki perasaan apa pun untuknya, tetapi mungkin sekarang sudah berubah. Atau mungkin, Sasuke berpikir dengan rasa pahit memenuhi mulutnya, Sakura salah kirim dan salah mengira dirinya sebagai orang lain.
Sasuke kembali membaringkan tubuhnya. Paru-parunya terasa begitu penuh hingga sesak. Matanya terpejam erat-erat. Pemikiran itu terus berputar di dalam kepalanya hingga dia terus terjaga sampai pagi.
/
Dalam kondisi belum tidur sama sekali, Sasuke memutuskan untuk tetap keluar rumah walaupun hari ini libur. Yang ditujunya adalah apartemen Sakura. Baginya, tidak ada waktu yang perlu disia-siakan lagi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura semalam. Nyaris sepuluh tahun dia menyimpan perasaannya sendiri untuk Sakura dan kali ini dia benar-benar butuh kepastian untuk tetap melanjutkan atau tidak. Dulu Sasuke berpikir bahwa selama Sakura masih berada di dekatnya, itu sudah cukup baginya. Akan tetapi, kini dia sadar bahwa tidak selamanya bisa seperti itu. Setiap orang memiliki batasan untuk setiap hal di dalam hidupnya, dan ini adalah batas bagi Sasuke dalam menahan perasaannya.
Jika jawaban Sakura sesuai harapannya, Sasuke tentu saja akan senang. Namun, jika jawaban Sakura tidak sesuai harapannya, Sasuke tahu dan sadar bahwa ini adalah saatnya melepaskan. Dia tahu dirinya akan baik-baik saja, meskipun entah kapan.
Sasuke menghubungi ponsel Sakura saat sudah berdiri di depan pintu apartemen gadis itu. Debaran jantung Sasuke meningkat seketika. Alur napasnya terasa tajam. Nada tunggu berbunyi berulang-ulang dan baru berhenti saat hitungan kesepuluh.
"APA SIH?!" sergah Sakura, membuat daun telinga Sasuke panas seketika.
Alih-alih takut atau kesal, Sasuke hanya mendengus keras. Detak jantung dan alur napas yang sempat terasa tidak normal mendadak membaik. Dia tidak percaya ini adalah gadis yang sama dengan yang memanggilnya sayang semalam. "Kau masih tidur?"
"Jelas tidak lagi," jawab Sakura sengit. "Ada apa?"
"Aku di depan. Cepat buka pintu."
"Kau mau apa pagi-pagi begini?" ucap Sakura, masih belum kehilangan kesengitannya.
Sasuke mendengus lagi. "Ini sudah pukul sebelas, Sakura."
Ada jeda sebentar sebelum Sakura mengerang. Terdengar suara yang Sasuke tebak adalah selimut yang ditendang dan pergerakan grasah-grusuh. Hubungan telepon pun diputus oleh Sakura tanpa basa-basi. Langkah kaki yang diseret terdengar dari balik pintu, sampai pintu terbuka, menampilkan Sakura yang masih dengan rambut berantakan, kotoran mata, dan bekas air liur mengering di sudut bibir. Sasuke bisa saja menertawakan Sakura melihat kondisinya yang seperti ini, tetapi satu pikiran menundanya. Pikiran bahwa jika Sakura memang menyimpan perasaan untuknya, gadis itu tak akan mungkin mau-maunya berpenampilan seperti ini di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Sakura. Intonasinya lebih santai, tetapi tampang galak sudah terpasang sempurna di wajahnya.
Sasuke mengacak rambut Sakura hingga gadis itu menunduk. Dia menarik napas panjang selama melakukannya. "Dasar," gumamnya. Saat Sakura sudah mengangkat wajah dan sudah memasang wajah yang lebih galak lagi, Sasuke mengulurkan kantong plastik padanya. "Makan dulu dan minum obat anti pengarnya."
Ekspresi wajah Sakura melembut sedikit. Dia menerima bungkusan itu. "Makasih," gumamnya, masih terdengar agak ketus. Dia memundurkan tubuh untuk memberi Sasuke jalan masuk. Pintu ditutup menggunakan punggung walaupun sebelah tangan yang tidak memegang bungkusan masih bebas.
Sasuke berjalan dulu menuju sofa. Saat Sakura duduk di sampingnya sembari membuka bungkusan yang dibawanya, dia bertanya, "Kau sudah punya pacar lagi?"
"Tidak," jawab Sakura tanpa beban.
Sontak Sasuke terdiam. Dia memperhatikan wajah Sakura dari samping dengan serius. Sakura menoleh padanya dengan kening yang mengernyit. "Hm?" gumamnya.
Sasuke menggeleng. "Oh."
Sakura tampak tidak ambil pusing pertanyaan Sasuke. Dia kembali fokus pada bungkusan yang diberikan Sasuke.
Sementara Sasuke masih diam, menyimpan sendiri rasa gemas dan frustrasi karena belum bisa menanyakan langsung apa yang benar-benar ingin dia ketahui. Otaknya berputar untuk mencari cara agar Sakura secara langsung maupun tidak langsung mengungkapkan apa yang dimaksudnya dalam catatan di pengiriman uang semalam. Saat makanan Sakura sudah tersisa setengahnya, Sasuke baru sanggup bertanya, "Kau ingat apa yang terjadi semalam?"
Sakura mengunyah makanannya dan menelannya pelan-pelan. "Tergantung. Yang mana?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Sasuke.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Katakan saja apa yang kau ingat."
Perhatian Sakura langsung tertuju pada Sasuke sepenuhnya. "Memangnya kenapa?" tanya Sakura dengan intonasi bingung. "Aku merepotkanmu, ya? Tapi aku tidak ingat berurusan denganmu semalam."
Sasuke tidak tahu harus merasa apa setelah mendengar jawaban Sakura. Jawaban gadis itu menunjukkan bahwa yang catatan yang ditulisnya dan tindakan yang dilakukannya semalam benar-benar terjadi di bawah kesadarannya. Orang mabuk biasanya menyatakan isi hatinya yang terdalam tanpa sadar.
"Apa, nih? Kok tiba-tiba senyum-senyum?"
Pertanyaan Sakura sontak membuat bahu Sasuke menegang. Dia menempelkan tangan pada pipi kirinya agar wajahnya terhalangi dari sudut pandang Sakura. Tarikan tipis di bibirnya segera diturunkan.
"Aku tidak senyum-senyum," ucap Sasuke dengan ketus yang dibuat-buat.
"Sangkal saja sana. Wajahmu 'kan datar terus. Saat senyum langsung kelihatan, dong!"
"Terserah." Tangan Sasuke menekan kepala Sakura hingga pandangannya beralih darinya dan tertuju pada makanan. "Habiskan dulu."
Sakura memutar matanya. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali menyantap makanannya. Saat sudah habis, dia segera meminum obat anti pengar yang sudah Sasuke bawakan sekaligus. Kepalanya disenderkan pada bahu Sasuke saat semuanya sudah selesai.
"Aku masih ngantuk," ucap Sakura.
Sasuke mendecak. Dia mencubit pipi kiri Sakura dengan melingkarkan tangannya ke belakang bahu gadis itu dulu. "Sudah siang, Sakura."
"Apa sih!" Dia memegangi pipinya sendiri sembari menegakkan tubuh. Wajahnya memerah.
Melihat rona pekat di kedua pipi Sakura, Sasuke menyeringai tipis tanpa bisa ditahan.
"Uangmu sudah kukembalikan," ucap Sasuke. Napasnya terhenti sejenak karena sadar kata-kata itu bergulir begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Dia tak berniat membahasnya secepat ini. Namun, karena sudah telanjur, dia tak akan mundur lagi.
Sakura menurunkan tangannya dari pipi dan menoleh bingung ke arah Sasuke. "Uang? Uang apa?"
Sasuke menelan ludahnya. Aliran napasnya kembali mantap. "Semalam kau tiba-tiba mengirim uang ke rekeningku."
"Hah?" Kerutan di kening Sakura semakin mendalam. Dia lekas meraih ponsel dan mengecek riwayat transaksi di perbankan ponselnya. Ada yang terbaru dari Sasuke. Kedua mata Sakura melotot saat melihatnya lebih jelas. "Love you … too …? Too?!" Tatapannya langsung tertuju pada Sasuke dengan watak menuntut.
Sasuke mengedikkan bahu, berusaha tampak santai di tengah-tengah gemuruh kencang di dalam dadanya. "Apa? Kau 'kan yang bilang duluan."
"T-tunggu dulu! Aku tidak mengerti!" Sakura sontak berdiri dan berjalan mundur perlahan-lahan, menjauhi Sasuke. Kepalanya menunduk lagi ke arah ponsel. "Apa maksudmu—Ya Tuhan."
Sakura tampak enggan menatapnya. Walaupun wajahnya tertutupi helaian rambut yang masih berantakan, Sasuke dapat menangkap ekspresi wajah Sakura yang tampak cemas dan ketakutan.
Satu kesimpulan sudah bisa Sasuke tarik. Hubungan pertemanan mereka akan berakhir sampai di sini.
Dengan pahit yang memadati kerongkongannya, Sasuke memaksakan diri untuk bertanya, "Salah kirim?"
Setelah mengatur napas berkali-kali, Sakura baru berani mengangkat wajah dan menatapnya. Sasuke mengenal mimik muka itu sebagai detik-detik sebelum Sakura menggelepar ke dalam tangis. "Dengar, Sasuke." Mulutnya terbuka lama, tetapi tak ada sepatah kata pun yang lepas. Air mata mulai membasahi wajahnya. "Tidak tahu. Aku tidak sadar. Aku tidak ingat apa-apa."
Tangan Sakura menghapus jejak air matanya dengan kasar. Dia mengipasi wajahnya sendiri sembari menarik dan mengembuskan napas pelan-pelan.
Sasuke turut mengembuskan napas panjang. Timbul keinginan untuk mendekap erat tubuh Sakura, tetapi hal tersebut hanya akan memperumit situasi ini. Yang dilakukannya hanyalah berdiri dan menepuk pelan kepala Sakura.
"Lupakan saja catatanku. Itu cuma bercanda." Sasuke mencoba tersenyum tipis. Walaupun tak dapat melihat wajahnya sendiri, dia tetap mampu mengecap kecut dari mimik yang ditampilkannya. Sakura tidak mungkin tidak menyadarinya. "Aku pergi dulu."
Dia tidak menoleh ke belakang lagi selama berjalan menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat tangan lembap memegangi sikunya. Sasuke masih enggan untuk menoleh.
"Kau sungguh-sungguh hanya bercanda?" tanya Sakura dengan suara sengau di tengah-tengah tarikan napas dari hidungnya yang basah. "Sasuke, aku …." Embusan napas Sakura lepas dengan panjang. Dia melepas pegangannya dan berjalan hingga mereka menghadap dari muka ke muka. "Kalau aku sadar saat mengirimkannya, aku tahu aku tidak bercanda." Wajah Sakura masih merah dan basah. Namun, di tengah-tengah semua itu, Sasuke dapat melihat kesungguhan di mata Sakura. "Kata-kata itu mewakili perasaanku … padamu." Gerakan menelan di leher Sakura tampak begitu kentara. "I love you."
Sasuke nyaris menganga. Gemuruh dari jantungnya terdengar semakin kencang, jauh lebih kencang daripada awal dia datang kemari, hingga dia khawatir Sakura mampu mendengarnya. Dia meninjau wajah Sakura sekali lagi. Ekspresi yang ditunjukkannya begitu tulus dan Sasuke tahu Sakura adalah pembohong yang buruk. Gadis itu tidak sedang berbohong padanya.
Di detik itu juga Sasuke baru berani mengonfirmasi bahwa tatapan Sakura padanya selama beberapa bulan terakhir berbeda. Pupil matanya melebar setiap kali menatapnya. Tatapan yang sejak bertahun-tahun lalu sudah dia lihat di wajah Sakura, tetapi tidak pernah ditujukan untuknya. Selama beberapa bulan terakhir, dia pikir itu hanyalah ilusi dari angan-angannya. Namun, sejak mendengar pengakuan Sakura, Sasuke sadar bahwa yang merupakan kenyataan adalah hal yang ternyata selama ini selalu disangkalnya.
"Kau menangis bukan karena merasa bersalah sudah salah kirim?"
Sakura menggeleng. Dia menyeka pipinya yang baru dibasahi air mata lagi. "Aku menangis karena takut kehilanganmu. Dan ... malu."
Sasuke mendengus menahan tawa. Nada komikal itu timbul bukan karena pernyataan terakhir Sakura, tetapi karena betapa fluktuatifnya perasaannya hari ini dan kini telah mencapai puncak kelegaannya.
Dia menyeka wajah Sakura dari rambut yang menempel di kulit lembap. Matanya menatap bibir Sakura yang masih basah. Sakura menatapnya dan tampak mengerti apa yang akan dia lakukan. Saat Sasuke mulai menunduk, Sakura tiba-tiba menahan dadanya dan mendorongnya sedikit. Sebelum Sasuke sempat berprasangka mengenai apa pun, Sakura sudah berkata, "A-aku sikat gigi dulu, oke?"
Sebesar apa pun rasa ingin mengernyit yang menyerangnya, Sasuke masih mampu menahannya. "Kau makan sebelum menyikat gigi." Redaksi yang tidak bersifat menghakimi itu diucapkan dengan intonasi yang menghakimi.
Sakura tampak tidak tersinggung dan cuek dengan mengangkat kedua bahunya. Dia menggaruk pipinya dengan gelagat canggung sebelum bergumam singkat dan melangkah menuju kamar mandi. Butuh sekitar sepuluh menit sampai gadis itu kembali, dengan rambut yang tersisir rapi, wajah yang sudah tidak dilapisi minyak, dan bibir merah muda yang lebih mengilap.
Dia menghampiri Sasuke dengan langkah canggung. Perasaan canggung itu membaur dengan udara hingga menyusup masuk melalui pori-pori tubuh Sasuke. Lelaki itu refleks memegangi belakang lehernya.
"Jadi ..."
Sakura tidak melanjutkan kata-katanya dan tampak tidak berniat melanjutkannya. Dagunya naik, membuat jarak antara wajahnya dan wajah Sasuke semakin terkikis.
Tatapan Sasuke tidak bisa lepas dari bibir Sakura yang merekah. Namun, dia masih ingin menggoda gadis itu.
"Jadi apa?"
Pipi Sakura semakin memerah. Namun, dia sempat mendecak. "Kau tidak mau melakukan sesuatu yang kupotong tadi?"
"Hm?" Sasuke menyeringai. "Apa?"
Sakura memutar bola mata dan cemberut. "Oh. Diamlah, Sasuke." Tak lama setelah itu, tangannya menarik kerah kemeja Sasuke hingga lelaki itu terpaksa menunduk dan Sakura segera menempelkan bibir mereka berdua pada satu sama lain. Kedua mata Sasuke masih terbuka karena terkejut. Tubuhnya menegang. Dia bahkan belum sempat membalas ciuman Sakura sebelum gadis itu menarik diri. Wajahnya memerah, tetapi tampang canggunglah yang paling dominan di wajahnya.
"Kurasa ... kurasa aku baru saja melakukan kesalah—"
Sasuke memotong ucapan Sakura dengan ciuman lain di bibir. Dia mengecupnya perlahan-lahan, merasakan lembutnya bibir Sakura dan embusan napas hangat dari gadis itu pada wajahnya. Disalurkannya seluruh perasaan terpendamnya melalui gerakan bibirnya. Dia merasa napasnya mulai menipis, tetapi mencium Sakura setelah selama ini terasa lebih baik daripada udara bahkan saat dia benar-benar membutuhkannya. Namun, dia tetap menarik diri demi kenyamanan Sakura.
Sakura tampak seperti seseorang yang kehilangan pijakan. Kedua tangannya masih kencang meremas kemeja depan Sasuke. Wajahnya masih merona hebat. Butuh beberapa detik sampai dia mampu kembali berdiri tegak tanpa berpegangan pada Sasuke. Sorot matanya menyiratkan rasa takjub.
"Kau tidak pernah punya pacar. Dari mana kau belajar mencium seperti itu?"
Sasuke nyaris tertawa. Dia menyeringai kecil. "I love you, too."
Nyatanya hubungan pertemanan mereka memang berakhir sampai di sini.
/
Note:
Menurut psikologi, pupil kita akan melebar saat menatap orang yang kita sayang. Fic ini terinspirasi dari tweet viral tahun lalu yang sahabatnya mabok terus ngirim uang dengan note sama persis kayak di fic ini. Lupaaa banget itu tweet siapa karena udah lama dan gak save.
Luvluv buat kak Hidya pokoknya [insert angry react]
/
"Kau pernah berkhayal memanggilku seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Menggunakan kata 'itu'."
"Itu apa? Aku tidak mengerti."
Satu deham. "Sayang."
"Dari mana kau menangkap kesan seperti itu?"
"Kau mengatakannya padaku. Di telepon. Saat kau mabuk."
Wajah merona. Satu pukulan di bahu. "A-aku tidak mau tahu! Pokoknya jangan pernah bahas ini lagi."
"Aku akan menurutinya jika kau memintanya dengan baik-baik."
"Oke." Jeda beberapa detik. Dua kali kedipan genit. "Jangan bahas lagi, ya, sayang?"
Awalnya, Sasuke yang berniat menggoda Sakura. Namun, justru dirinyalah yang berakhir dengan telinga memerah dan wajah yang ditenggelamkan ke dalam telapak tangan.
