Disclaimer;Tokoh yang keluar pada fanfiksi ini bukanlah milik saya. Saya hanya pinjam sebagai bahan penulisan saja.

''Apakah itu sakit?''

Naruto mengerahkan kekuatannya yang tersisa untuk melihat siapa yang menyerangnya pada gang sepi ini. Seharusnya gang ini aman. Hampir seumur hidupnya dia telah lewat gang ini tanpa mengalami suatu hal buruk. Tapi baru kali ini dia mengalami hal ini.

Ditusuk tanpa tidak terduga oleh seseorang yang mengenakan jaket hitam. Wajahnya tertutup dari balik tudung jaket yang masih menempel pada kepala. Tangan penyerangnya satunya memegang pisau yang masih berlumur darahnya sementara tangan satunya kemudian bergerak membuka tudung jaket yang dipakai.

Nafas Naruto tercekat ketika dia mengetahui siapa yang menyerangnya. Matanya membulat tidak percaya.

Bagaimana mungkin?

''Seharusnya itu menyakitkan.'' Penyerangnya kini melihatnya dengan sorot mata kosong. Suara lolongan anjing pada tengah malam menyeruak.

''Hi-Hi...na...ta.'' Naruto bergumam sebisa yang dia bisa sembari menahan rasa sakit yang begitu dalam. Tangannya mencoba menutup luka tusukan pisau pada bagian kiri perutnya namun darah tetap merembes keluar begitu cepat melebihi perkiraannya. Tubuhnya telah ambruk dan bersandar pada tembok dan nafasnya mulai memberat. Semua terasa mulai memberat dan rasa samar mulai menyerang pandangannya sendiri.

''Ini semua salahmu Naruto-kun.'' Hinata- gadis penyerangnya yang dia kenal begitu pendiam dan begitu manis, lemah lembut dan halus tutur katanya kini terlihat sangat berbeda daripada yang dia tahu. Tidak. Ini bukan Hinata yang Naruto kenali. Ini bukan sahabat baiknya yang selalu bersama dengannya. ''Jika kau tidak dekat dengan Sakura-senpai, jika kau tidak mengabaikan perasaanku selama ini maka aku tidak akan melakukan ini.'' Hinata berjongkok dan menyentuh pipinya. Naruto mencoba untuk mengalihkan sedikit kepalanya dan itu membuat Hinata semakin berubah menjadi dingin.

Cengkraman pada kedua pipinya adalah yang Naruto terima kemudian. ''Aku mencintaimu Naruto-kun. Kau harusnya mencintaiku balik! Kau milikku! Hanya milikku! Bukan milik siapapun! Kenapa kau buta akan hal itu dan menyatakan cintamu pada pelacur itu!'' Hinata mulai meracau tidak jelas.

''Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh pada pelacur itu. Aku akan menyelamatkanmu Naruto-kun. Jangan khawatir aku akan selalu bersamamu bahkan jika kau menutup mata sekalipun Naruto-kun.'' Tambah Hinata pada Naruto yang semakin lama nafasnya semakin berat.

Naruto ingin membalas ucapan dari Hinata tapi semakin dengan beratnya nafas yang dia miliki, lidahnya terasa semakin kelu. Tubuhnya semakin mati rasa dan ketika dia melihat untuk terakhir kali raut wajah dari Hinata, sosok sahabat baiknya yang telah berubah seperti ini dan ketika dia tahu bahwa ketidakpekaannya, rasa bebal yang dia miliki telah melukai Hinata hingga menjadikannya seperti ini, Naruto dalam nafas terakhirnya hanya bisa berkata satu hal saat dia melihat kilatan pisau yang terangkat ke atas oleh tangan Hinata.

''M-Ma...af...''

Lalu semuanya terasa menghitam.


''Gakhhhh!'' Naruto terhenyak begitu keras ketika dia terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali dan suara nafasnya yang memberat terasa terdengar bahkan ketelinganya.

Apa itu tadi? Apa itu hanya mimpi?

Hinata... Hinata membunuhnya?

Naruto mencoba mengatur nafasnya kembali. Ya. Itu hanya mimpi. Dia berharap demikian lalu mencoba untuk bergerak.

''Akh!'' Rasa sakit kemudian menyerang tubuhnya dan membuat Naruto kemudian menoleh untuk melihat tubuhnya penuh dengan kain yang melilit tubuhnya. Mungkin ini perban hingga dia berpikir demikian lalu Naruto kemudian mencoba untuk melihat sekeliling untuk mengetahui bahwa dia berada pada sebuah tempat yang asing.

Dinding dari kayu dengan perabot yang sangat sederhana. Hanya ada satu kursi dan meja di sampingnya dan dia melihat tempatnya bangun. Sebuah dipan tempat tidur dengan jerami di bawahnya yang dialasi dengan kain yang kasar.

Dimanakah ini? Ini jelas bukan rumah sakit!

Jika semisal dia tadi bermimpi maka tentu dia akan terbangun pada tempat tinggalnya yang jelas bukan tempatnya berada sekarang. Lalu jika seandainya apa yang dia alami dengan Hinata adalah kenyataan, harusnya dia terbangun pada sebuah klinik atau rumah sakit. Bukan pada tempat seperti ini dimana ini karena ini jelas semakin menambah kebingungannya.

Oke. Oke. Tenang. Tenang. Dia tidak boleh panik dan sekarang coba amati dengan perlahan sekitarnya. Jika dia terbangun disini dengan tubuh yang terbalut kain yang diperlakukan seperti perban, maka dia tengah terluka dan tentu saja diobati bukan. Biarkan saja hal tersebut dan sekarang Naruto mengamati lebih baik sekitar.

Tempatnya berada seperti sebuah rumah yang begitu kecil. Hanya ada satu tempat tidur disini selain perabot kayu sederhana seperti tadi yang dia katakan. Lalu dengan dindingnya yang masih berupa kayu dan dibangun menyerupai kabin, maka Naruto berpikir atapnya juga pasti dari jerami dan ketika dia mendongak, hal itu tidaklah salah. Rumah tempatnya terbangun sama seperti rumah yang ditemui oleh orang-orang dunia barat ketika mereka tengah berburu pada hutan. Kabin tempat tinggal yang terbangun pada hutan untuk melindungi diri dari serangan hewan buas.

Tapi kenapa Naruto terbangun disini? Pertanyaan itu tidak terjawab hingga sampai ada suara seseorang terdengar.

''Kau sudah bangun nak?''

Naruto menoleh ke arah siapa yang memanggilnya.

Dia adalah seorang pria tua. Rambutnya putih panjang dan mengenakan jubah putih yang lebar yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia datang dengan membawa sebuah tongkat putih yang tingginya sama dengan postur tubuhnya tapi tongkat itu sepertinya bukan untuk alat bantu penopang jalan karena kakek itu masih berdiri tegak jadi jalannya mungkin masih lancar. Satu tangannya membawa keranjang yang terlihat seperti berisi daun-daunan dan beberapa buah yang mana beberapa buah yang dibawa kakek itu hanyalah apel yang Naruto kenali.

Siapa kakek itu? Apakah kakek itu yang menolongnya?

Naruto ingin bergerak tapi rasa sakit menahanya. Kakek yang tadi masuk kemudian bergegas menghampirinya setelah meletakkan keranjang yang dia bawa dan menahan tubuhnya seraya berkata. ''Jangan banyak bergerak dulu nak, lukamu belum pulih.'' Dengan bantuan kakek itu, Naruto kemudian bersandar pada dinding kayu tanpa harus turun dari tempat tidurnya. Naruto kemudian mengatur nafasnya dan merasakan rasa nyeri yang masih ada kini perlahan mereda dengan seiring dia tidak banyak bergerak lagi lalu baru kemudian dia melihat si kakek yang membantunya.

''Terima kasih banyak kek.'' Kata Naruto. Dengan dibantunya Naruto oleh kakek ini, mungkin kakek ini yang telah merawat luka apapun yang diderita tubuhnya. Kakek yang diberi ucapan terima kasih oleh Naruto mengangguk.

''Lukamu itu masih butuh perawatan sampai sembuh benar. Jangah gegabah untuk lekas bergerak.'' Kata kakek itu. ''Oh ya, siapa namamu? Dengan terbaringnya kau selama seminggu dan dengan luka seperti itu kau beruntung masih bisa sadar.'' Tanyanya.

''Aku...'' Naruto baru mau menjawab namanya dan menanyakan kenapa dia sampai terbangun disini dan lalu mencari petunjuk dimanakah dia sebenarnya berada hingga rasa sakit tiada tara menerjang kepalanya disertai dengan ingatan-ingatan yang bukan miliknya.

Arraghhhh! Naruto memegang paksa kepalanya, menjambak rambutnya agar rasa sakit ini segera pergi. Ingatan ingatan ini bukan miliknya! Dia tidak hidup dengan ingatan ini.

Hingga kemudian ingatan terakhir yang menyebabkan dia sampai terbangun disini terhenti, barulah rasa sakit yang dideritanya usai. Naruto terengah-engah dalam bernafas dan kakek tua yang tadi duduk disampingnya memegang pundaknya dan melihatnya dengan sangat cemas.

''Nak! Nak! Apa yang terjadi barusan? Kenapa kau kesakitan seperti itu?''

Naruto tidak lekas menjawab. Dia mengabaikan itu dan fokus mencerna ingatan yang masuk kedalam kepalanya.

Ingatan tentang seseorang yang memiliki nama dengannya dengan kehidupan tragis yang dilaluinya hingga dia dikorbankan ketika dia tengah melaksanakan tugas dari akademi tempatnya belajar. Teman-teman yang sama yang mendapat tugas sekelompok dengannya justru menggiringnya ke sarang monster yang tidak bisa dia hadapi dan membiarkannya harus berhadapan dengan monster yang kekuatannya jauh diatasnya hingga dia terluka dengan luka cakaran pada bagian punggungnya dan dia terpojok. Dalam keadaan terpojoknya dia dengan jurang dibelakangnya, pemuda yang memiliki nama seperti dirinya lebih memilih terjun ke dalam jurang tersebut yang kemudian langsung menghempas sungai dibawahnya dan tenggelam didalamnya.

Pemilik tubuh ini telah mati dan Naruto yang juga telah mati pada dunia lain; dunia yang lebih modern kemudian jiwanya mungkin bermigrasi dan masuk ke dalam tubuh ini yang secara jika dipikirkan oleh akalnya, ini hanya akan terjadi pada kisah-kisah fiksi yang yang sering dia baca dikala untuk mengusir kebosanan.

Dia tidak sangka jika ini bisa-bisa benar terjadi padanya dalam kehidupan nyata.

Habis dibunuh oleh sahabat baikmu lalu kau pergi berenkarnasi ke dunai sihir? Itu hanyalah isekai yang klise yang banyak digunakan penulis fiksi tapi kini dia benar-benar mengalaminya.

Oh Tuhan...

Naruto mengatur nafasnya dan mencoba menenangkan pikirannya yang masih mencerna ini semua. Saat semua telah tenang, dia kemudian melihat kakek yang melihatnya dengan masih memiliki raut wajah cemas.

''Aku... Aku sudah tidak apa-apa kek.''

''Benarkah?'' Kakek itu meragukan dirinya. ''Kau terlihat sangat kesakitan tadi. Apa kau benar baik-baik saja? Apa aku perlu melakukan sihir penyembuh untukmu?''

''Tidak kek. Tidak usah.'' Naruto menolaknya. Menarik nafasnya secara pelan Naruto kemudian menatap kakek itu. ''Terima kasih kek sudah merawatku selama aku tidak sadarkan diri. Namaku Naruto...'' Naruto menjeda ucapannya. Sebenarnya jika dia mengikuti pemilik tubuh ini, tubuh ini masih memiliki nama keluarga, berbeda dengan dirinya yang hanya seorang yatim piatu pada dunianya dahulu. Apakah Naruto harus menggunakan nama dari pemilik tubuh yang sekarang dia diami? Naruto pikir tidak ketika dia telah melihat bagaimana ingatan pemilik tubuh ini menjalani hidupnya dengan buruk karena menyandang nama keluarganya. ''... Naruto. Namaku hanya Naruto.'' Kata Naruto yang kali ini menjawabnya mantap namun dia hanya mendapati kakek yang menatapnya menaikkan satu alisnya.

Sepertinya kakek ini curiga dengan ucapannya yang terjeda tadi tapi kakek ini mengabaikannya yang membuat Naruto sendiri bisa bernafas lega. ''Namaku Garfil.'' Kakek ini memperkenalkan dirinya. ''Dan ya, sama-sama nak. Kau beruntung aku menemukanmu ketika kau mengambang pada sungai dengan luka pada punggungmu yang kuduga dari binatang sihir. Apa yang sebenarnya terjadi padamu nak hingga kau seperti ini?'' Kakek Garfil menanyakan hal itu pada Naruto lalu Naruto menceritakan apa yang dialami pemilik tubuh padanya.

Semuanya.

Dan bisa dia lihat ada ekspresi geram pada wajah kakek Garfil lalu itu berubah menjadi sebuah keprihatinan. Ya, itu adalah apa yang tersirat pada wajah tuanya. Dia lalu mengelus pelan pundak Naruto. ''Oh nak, masih beruntunglah kau diberi hidup.'' kata Kakek Garfil padanya namun Naruto hanya bisa membalasnya dengan ringisan masam.

Tidak kek. Pemilik tubuh ini sudah mati tapi Naruto sekarang menempatinya. Meski memiliki nama yang sama tapi ini adalah dua jiwa yang berbeda.

Tapi meskipun begitu, Naruto setidaknya bersyukur dia masih diberi kesempatan hidup sekali lagi. Dia benar-benar bersyukur meski harus hidup pada dunia lain sekarang dan dia mencoba menerimanya dengan lapang dada.

Karena selain hal itu apa lagi yang bisa dia lakukan? Masih untung juga dia terbangun dalam keadaan terawat dan bukan dalam keadaan sekarat.

Itu malah lebih parah lagi bukan?

Naruto hanya bisa mengangguk pelan untuk menanggapi apa yang diucapkan kakek Garfil padanya barusan.

''Kau bisa sembuhkan lukamu disini dulu nak. Aku akan merawatmu sampai benar-benar sembuh.'' tambah kakek Garfil padanya.

''Ah...'' Naruto hanya bisa menundukkan kepalaku. ''Terima kasih! Terima kasih yang banyak kek.''

''Ya, tentu nak.'' Balas kakek Garfil sembari berdiri dari samping Naruto. ''Karena kau sudah bangun setidaknya biarkan aku buatkan sup herbal untukmu.'' Kakek Garfil lalu pergi ke sudut ruangan yang Naruto perkirakan bagian lebih dari rumah milik kakek Garfil ini.

''Terima kasih banyak sekali lagi kek.'' Naruto berkata demikian karena dia sangat berterima kasih pada kakek yang telah mau merawatnya hingga sembuh nanti. Kakek Garfil hanya melambaikan tangannya dan menghilang di sudut rumah sana sementara Naruto kemudian cuma termenung menatap langit-langit rumah ini.

Apapun yang terjadi sekarang, terimalah dengan lapang dada dan bergerak majulah. Mungkin penyesalan karena sikapnya kepada Hinata telah membuat gadis lemah lembut yang dikenalnya itu berubah beringas sampai membunuhnya tapi Naruto mencoba memaafkannya. Dia mencoba mengerti itu dan Naruto kemudian bergumam lirih.

''Renkarnasi...kah?''

Entah mengapa pikirannya begitu tenang dalam berpikir dan dia tidak panik. Jika ini adalah takdirnya maka mungkin dia bisa menjalaninya sekaligus mencoba menggapai kebebasan dan arti kehidupan yang selama ini dia cari.

Ya... Mungkin itu juga bisa.