Call You Mine

AUTHOR : HUANG AND WU

GENRE : ROMANCE, HURT/COMFORT

LENGTH : ONESHOT

CHARACTER : WU YIFAN, HUANG ZITAO, and another SURPRISING CASTS!

POINT OF VIEW : AUTHOR

RATE : T

SUMMARY :

Kris hanyalah seorang lelaki kesepian di sekolahnya. Dia sering sekali dipalaki oleh para jagoan kandang sekolahnya. Suatu hari, seorang gadis menghentikan aksi palak itu, dan menyelamatkan Kris. Gadis itu pun semakin tertarik untuk mengetahui Kris lebih jauh. Kris menyukai gadis itu. Tetapi, kemudian hambatan muncul, dan Kris haruslah memilih. Apakah ia ingin memperjuangkan gadis itu, atau membiarkannya dan mengubur dalam-dalam perasaannya? Ide yang didapat saat mudik, inilah Call You Mine, yang terinspirasi dari lagu berjudul sama.

WARNING! IT IS GENDERSWITCH!

Holla!

Well, FF ini dapet inspirasinya udah lamaaaaa banget, tapi baru diketik akhir2 ni dan dipost sekarang soalnya baru dapet feels karakternya sekarang. HAW emang gak suka kalo ngetik tanpa feels dari karakter, jadi kalo misal Huang and Wu gak update2 lama, harap maklum ya ._.

Yaudah yuk! Gak usah banyak basa-basi, cekidot!

.

-Call You Mine-

.

.

Start

BUAGH! BUAGH!

"Dasar bodoh! Bisu! Payah!"

Seorang namja tampak tengah ditendang dan dipukuli oleh sekelompok namja lain. Namja itu tidak mengeluarkan suara apa-apa, hanya berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangannya. Rasa sakit menyergapnya, dan dia mungkin hampir lupa bagaimana caranya untuk berdiri—kakinya sudah memar kesakitan.

"Mau bilang apa, hah!? Orang bodoh kayak kamu itu harusnya tidak di sekolah ini!"ucap salah seorang dari komplotan itu.

Namja tinggi bernama Wu Yifan aka Kris itu hanya menggeleng, kemudian melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Orang-orang itu tak berhenti menendanginya, dengan tawa yang sangat menyeramkan dan juga hantaman dari tangan mereka yang tidak berhenti.

"Hentikan!"

Mereka semua menoleh–kecuali Kris–ketika mendapati seorang yeoja berpakaian seragam sama seperti mereka yang menatap mereka tak percaya–hanya saja yeoja itu mengenakan pakaian yang agak laki. Ia langsung berlari ke arah mereka, kemudian berdiri di hadapan Kris.

Barulah Kris menyadari bahwa savior-nya adalah seorang yeoja.

"Apa-apaan kalian!? Kalian tidak ada kerjaan lain? Jangan seperti ini! Kalian kira dia ini boneka? Dia juga manusia!"pekik yeoja itu, membuat seorang namja terkekeh.

"Hahaha, lalu kalau kami memperlakukan dia seperti boneka, masalah? Dia tidak protes apa-apa, kok! Ya, tidak?"tanyanya pada komplotannya, dan hanya diangguki diselingi tawa.

"Kalian tidak berguna."desis yeoja itu.

Komplotan itu hanya tertawa, kemudian pergi meninggalkan kedua sejoli itu. Yeoja itu segera berbalik, kemudian segera berjongkok untuk membantu Kris. Kris meringis dalam diam, merasakan rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya.

"Ya Tuhan. Ayo, aku bantu kamu."ucap yeoja itu.

Yeoja itu menarik Kris untuk bangun. Kris berusaha untuk bangun dan menapaki tanah dengan kedua kakinya. Yeoja itu sedikit berteriak ketika menyadari betapa tubuh Kris sangatlah besar–dan tentu saja berat. Namun, ia terus berusaha.

Setelah Kris bisa berdiri–meski dengan kaki yang agak ditekuk karena kesakitan–yeoja itu pun membawa Kris ke sebuah batu besar di dekat situ. Yeoja itu mendudukkan Kris di situ, kemudian menyandarkannya ke pohon di sampingnya.

"Ya Tuhan. Kau berdarah."gumamnya, ketika melihat bercak-bercak darah pada seragam Kris.

Yeoja itu langsung membuka tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan lambang palang merah di sampingnya. Kris hanya bisa terdiam menatap yeoja itu.

"Sadarlah! Jangan sampai kau pingsan."ucap yeoja itu, memukul pipi Kris sekali.

Yeoja itu mengeluarkan beberapa plester dan juga obat luka, kemudian mengobati luka-luka Kris dengan telaten. Sesekali Kris meringis dalam diam, namun ia tahu bahwa ia harus menuruti yeoja itu agar lukanya sembuh.

"Kau akan segera sembuh."

Kris memperhatikan yeoja yang sibuk dengan dirinya itu dalam diam. Satu hal yang menarik perhatian Kris adalah bibir kucing cherry yang dimiliki yeoja itu. Matanya tajam, dengan raut yang sangat mengintimidasi namun beraura lembut. Rambut panjang hitam kelamnya menambah keeksotisan yeoja itu, ditambah dengan fakta bahwa ia telah membantu Kris untuk mengobati lukanya. Yeoja itu juga berpakaian tomboy–poin plus untuknya.

Tanpa sadar, Kris merona.

"Yap! Kau akan baik-baik saja."ucap yeoja itu, kemudian berdiri dan menatap luka Kris yang sudah ia baluti dengan baik.

Kris menatap pada jas almamater yeoja itu.

Huang Zitao

Kris mengangguk, kemudian ia segera meraih tasnya dan berlari dari yeoja itu.

Yeoja itu menatap kepergian Kris, kemudian mengernyit kesal. Dia bahkan tidak berterimakasih?; batinnya. Huang Zitao–Tao–akhirnya hanya mendengus sebal dan menaruh kotak PP-nya dengan kesal di dalam tas. Kemudian, ia berjalan ke arah sekolahnya–arah yang sama dengan yang tadi Kris lewati.

-XOXO-

"Hai, Tao!"

"Hai, Jongdae!"

Tao mendekati seorang namja yang kini tengah berdiri bersama seorang yeoja. Tao tersenyum, membuat matanya melengkung indah. Mereka menyalami Tao, membuat Tao menjadi agak gugup.

"Selamat datang di sekolah barumu, Tao-ah! Bagaimana? Sudah siap bertemu teman baru?"tanya Jongdae, membuat Tao mengangguk semangat.

"Siap!"

"Wah, tetanggamu ini manis sekali."ucap yeoja di samping Jongdae, membuat Tao hanya menunduk seraya merona karena sudah dipuji–how cute.

"Hahaha, dia memang begitu. Nah, Tao, kenalkan! Ini Kim Minseok, yeojachingu-ku."ucap Jongdae, membuat Tao menoleh ke arah yeoja chubby tadi dan mengangguk.

"Salam kenal. Aku Huang Zitao, tetangga di apartemen Jongdae oppa."ucap Tao, diangguki Minseok.

"Ah, ya! Jongdae sering membicarakan kamu, apalagi kalau soal kamu yang mencari sekolah selama pindah ke Korea ini. Senang sekali melihatmu!"ucap Minseok, membuat Tao semakin melebarkan senyum.

"Tao, kau sudah tahu kelasmu, kan? Kau tahu, kami ini kelas 3, jadi kita beda lantai."ucap Jongdae, diangguki Tao.

"Ya! Aku di kelas 2-G kalau tidak salah."ucap Tao.

Mereka pun berjalan ke dalam sekolah, selagi masih belum berdentang bel yang menandakan pelajaran dimulai. Tapi, Tao agak terdiam.

Ia teringat dengan namja yang tadi pagi ia tolong.

"Jongdae oppa."

Jongdae menoleh, mendapati yeoja tinggi itu sedang berpikir. Ia agak ragu untuk bertanya pada Jongdae, tapi dia takut kalau ia tidak bertanya pada Jongdae, maka semuanya akan jadi tidak jelas.

"Tadi pagi aku menolong seseorang dari bullying kawan-kawannya. Dia tidak mengucapkan apa-apa padaku, hanya mengangguk kaku lalu pergi begitu saja."ucap Tao, membuat Jongdae mengernyit.

"Kau bertemu dengan Kris?"tanya Jongdae.

"Kris?"tanya Tao, heran.

"Ya. Satu-satunya namja yang selalu di-bully di samping sekolah saat pagi adalah Kris, Wu Yifan. Dia adalah anak berkebutuhan khusus tuna-wicara. Memangnya kenapa?"tanya Jongdae, membuat Tao agak mengerjap.

"Tuna.. wicara?"tanya Tao, diangguki Jongdae.

"Ya. Dia bisu."

-XOXO-

Tao menatap guru yang tengah mengajarnya di depan kelas dengan kosong. Ia menatap buku tulis di hadapannya, dan hanya menggoyang-goyangkan pensilnya. Ia terdiam, mengingat kembali kata-kata Jongdae sebelum ia masuk kelas.

Flashback Start

"Ya. Dia bisu."

"Bisu?"kaget Tao, dengan ekspresi yang seakan tak percaya.

"Kau tak percaya, ya? Kris itu bisu. Dia sudah kelas 3 sekarang, dan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan dia adalah dengan bahasa isyarat atau dia menulis di atas kertas untuk menjawab pertanyaanmu. Tak ada yang mau berteman dengannya, karena dia sendiri merupakan pribadi yang antisosial."jelas Jongdae, membuat Tao terdiam.

"Oh."ucap yeoja itu, singkat.

"Kau mau berteman dengannya?"tanya Jongdae, membuat Tao mengangkat kepalanya cepat.

"Entahlah. Aku rasa dia tidak mau bertemu denganku."ucap Tao.

Flashback End

"Huft."gumam Tao, kemudian menatap gurunya yang masih mengajarkan materi super-membosankan itu.

Aku jadi penasaran, seperti apa namja bisu itu; batin Tao.

-XOXO-

KRING KRING KRING

Bel istirahat berdentang. Beberapa siswa langsung menyerbu kantin, beberapa lagi mengeluarkan bekal mereka untuk dimakan di kelas.

Tao merapikan tas-tasnya, ketika kemudian beberapa namja menghampirinya. Maklum, murid baru.

"Hai, cantik."

Tao menoleh, dan hanya memamerkan senyumnya kepada namja-namja itu. Mereka saling bertatapan, kemudian saling menjabat tangan dengan Tao. Tao cukup berterimakasih–meski begitu, dia tetap aware–dengan sambutan dari kawan-kawannya.

"Kau tidak ke kantin?"

Tao menoleh, mendapati seorang namja yang tampak tengah membaca sebuah novel. Tao menggeleng, kemudian menghela nafas pelan.

"Tidak. Kau?"tanya Tao, digelengi namja itu.

"Tidak juga."ucapnya.

"Namaku Tao. Kau?"tanya Tao, singkat.

"Park Chanyeol."jawabnya, kemudian menaruh pembatas buku pada halaman novelnya dan duduk menghadap Tao.

Tao tersenyum, kemudian mengangguk. Namja bernama Park Chanyeol itu juga tersenyum, kemudian menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Mau ke kantin?"

-XOXO-

Tao mengobrol dengan asyik bersama kawan barunya yang bernama Park Chanyeol itu. Di kantin, ia duduk bersama Jongdae dan Minseok. Mereka membicarakan banyak hal, salah satunya adalah Chanyeol yang ingin mengenal Tao lebih jauh.

"Tao itu orangnya cerewet. Hanya karena kamu baru berkenalan dengan dia bukan berarti dia sekalem ini."ucap Jongdae, membuat Minseok dan Chanyeol tertawa–sedangkan Tao hanya mendengus kesal.

"Apa kau benar-benar harus membicarakannya di sini, Jongdae oppa?"tanya yeoja tomboy itu, membuat mereka semua semakin terbahak.

Tao mengalihkan pandangannya, lantas terdiam ketika melihat sesuatu di lorong. Lorong itu sepi, dan hanya ada 2 tanda manusia di sana. Yang satu adalah Kris, dan yang satunya adalah seorang namja dengan pakaian office boy. Kris sedang membantu namja itu mengepel lantai.

"Dia yang kau temui tadi pagi, Tao?"

"EH!?"

Tao menoleh cepat, ketika dipergok tengah mengamati Kris oleh Jongdae. Minseok dan Chanyeol ikut melirik ke arah yang tadi Tao lihat, kemudian mengangguk paham.

"Kris hyung itu senior yang cocok jadi panutan. Dia benar-benar selalu membantu sesamanya, dan dia tidak pernah hitung-hitungan dalam memberikan bantuan. Saat itu aku cedera basket. Kawan-kawanku tidak ada yang mau membantu, dan kemudian dia datang sambil membawa sebuah perban gulung dan kasa steril. Ia membantuku mengatasi cederaku."gumam Chanyeol seraya mengunyah hamburger-nya.

Tao terdiam, kemudian menatap ke arah lorong lagi. Kris masih di sana, tampak tertawa tanpa suara bersama sang office boy. Office boy itu tampak mendominasi percakapan, dan Kris sesekali memberikan bahasa isyarat pada office boy itu.

"Bahasa isyarat.."gumam Tao.

"Yap. Satu-satunya kawan Kris di sekolah ini adalah office boy itu. Sejak Kris masuk ke sekolah ini, mereka sudah mulai berteman walaupun umur mereka jaraknya jauh. Kris sudah dianggap sebagai anak oleh office boy itu, dan mereka sangat akrab."jelas Minseok.

Tao terdiam, dan kini pikirannya dipenuhi oleh Kris, Kris, dan Kris. Chanyeol menatap perubahan wajah pada Tao, lantas mengangguk.

"Kau mau mengenal Kris lebih jauh?"

"Eh?"

Chanyeol menatap Tao, kemudian mengerling sebelah mata. Jongdae tertohok karena melihat kerlingan itu, kemudian tersedak oleh fettuccini yang ia makan. Minseok menyodorkan minumannya, kemudian Chanyeol hanya tertawa terbahak-bahak. Tao terkekeh, melihat kekonyolan dari Jongdae.

Tawa mereka, mengundang Kris untuk melihat mereka.

Dan seketika, wajahnya memuram ketika melihat Tao yang tampak akrab dengan Chanyeol.

-XOXO-

Siswa-siswa sudah membereskan tas mereka, kemudian mereka segera berlarian keluar sekolah untuk segera pulang. Tao berdiskusi panjang mengenai persamaan matematika bersama Chanyeol, selagi mereka berjalan di lorong.

"Tidak! Kau tahu kalau x dan y itu punya sifat yang berbeda, kan? Kalau kau mau mendiferensial-kan mereka, kau harus tahu rumus turunannya dulu."jelas Chanyeol, membuat Tao mendengus pelan.

"Tapi kan sama saja kalau kau menghilangkan integralnya, kan?"tanya Tao, digelengi Chanyeol.

Mereka terus berdiskusi di sepanjang lorong itu, dengan bahasan mereka yang semakin random saja. Tao dan Chanyeol berjalan melewati sebuah lapangan basket. Tao terdiam menatap lapangan itu.

"Kau kenapa?"tanya Chanyeol.

"Tidak ada. Hanya mengingat masa lalu. Been a long time since i played basketball."ucap Tao, lirih.

Chanyeol terdiam, lantas sedikit berpikir. Ia langsung meraih tangan Tao, kemudian membawanya ke lapangan basket. Tao heran dengan Chanyeol, tetapi ia hanya diam. Chanyeol meraih tas keduanya, kemudian meminggirkannya. Ia langsung mengambil sebuah bola basket di pojok lapangan.

"Kau player, kan?"tanya Chanyeol, kemudian melempar bola itu pada Tao.

Tao menangkap bola itu, kemudian menatapnya. Ia sedikit tersenyum, kemudian mengangguk dan mulai men-dribble pelan bola basket itu. Chanyeol tersenyum sambil mengangguk, menatap Tao yang mulai mengumpulkan feels-nya dalam bermain basket.

"HAP!"

Tiba-tiba, Chanyeol berlari ke depan Tao, membuat bola itu terebut. Tao terkaget bukan main, dan Chanyeol hanya tertawa melihat kekagetan Tao. Tao berlari ke arah Chanyeol, kemudian berusaha merebut bola itu.

"DAPAT!"

Setelah merebut bola itu, Tao langsung men-dribble dan membawanya ke arah ring, kemudian ia bersiap untuk lay up.

BRUK!

Tao berhasil memasukkan bola itu ke dalam ring, kemudian ia mendaratkan tubuhnya ke tanah. Ia menatap bola yang kini tengah ada di tangan Chanyeol, dan namja itu hanya tersenyum melihat kemampuan Tao yang bisa dibilang lumayan untuk ukuran seorang yeoja.

"Well done."

Chanyeol menyodorkan tangannya untuk ber-highfive ria, kemudian dibalas Tao dengan riang. Mereka berdua tertawa pelan, menikmati permainan mereka.

Tak menyadari bahwa seorang namja menatap keakraban mereka dalam diam, di balik pagar sekolah.

-XOXO-

Tao melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalan, dengan mulutnya tak berhenti menyenandungkan beberapa lagu kesukaannya. Beberapa kali ia menyanyikan bagian rap -nya–yeoja itu sangat antusias.

Tetapi kemudian, sebuah pemandangan menarik perhatiannya.

"KRIS OPPA!"

NGIUNG!

Mobil-mobil berlalu lalang dengan ganas, sementara seorang namja tampak menyeberangi jalanan itu dengan hati-hati. Ia berjalan ke tengah, kemudian menjongkokkan tubuhnya dan meraih sesuatu.

Seekor anak kucing.

TIN TIN!

CKITT!

"Hey, bodoh! Jangan duduk di tengah jalan! Dasar bodoh!"

Kris membungkuk dalam pada pengemudi itu, kemudian segera menyeberangi jalan menuju trotoar tempat Tao berjalan. Tao berjalan cepat ke arah Kris, dengan wajah yang tampak sangat khawatir. Menyadari kehadiran Tao, Kris mendongak dan mengerjap polos.

"Bodoh! Kau bisa mati! Hati-hati!"ucap Tao, dengan nada khawatir yang kentara.

Kris tersenyum, kemudian mengangguk. Dia mengusap tubuh kucing kurus yang bergetar dalam dekapannya, kemudian melanjutkan jalannya. Tao menatap Kris yang sudah berjalan menjauh, kemudian menyejajarkan langkahnya.

"Maaf sudah meneriakimu, oppa. Aku hanya khawatir."ucap Tao, kemudian membungkuk maaf singkat.

Kris menatap Tao, kemudian tersenyum hangat dan menggeleng. Tao menatap wajah Kris yang menatapnya lembut, merasakan getaran tersendiri dalam dadanya yang menghangat.

"Aku tidak tahu bahwa kau ini bisu, oppa. Aku baru tahu dari Jongdae oppa."ucap Tao, membuat Kris menoleh dan mengerjap beberapa kali.

Selanjutnya, Kris terkekeh tanpa suara. Dia menatap Tao dengan mata yang berbinar, menunjukkan rasa senangnya berada di dekat Tao. Tao sendiri merasa nyaman dan–entah kenapa–terlindungi di samping Kris.

"Dimana rumahmu?"tanya Tao, basa-basi.

Kris menatap Tao, kemudian mengendarkan pandangannya dan menunjuk sebuah bangunan minimalis. Tao mengikuti arah tunjuk Kris, kemudian mengangguk paham. Kris menatap Tao, kemudian menunjuk Tao dengan satu tangannya.

"A-apa?"tanya Tao, heran.

Kris menunjuk Tao lagi, kali ini dengan wajah terlihat penasaran.

"Oh.. rumahku?"tanya Tao, mengklarifikasi maksud Kris.

Selanjutnya, Kris mengangguk.

"Masih jalan ke sana sedikit. Sebentar lagi sampai, sih."ucap Tao, diselingi senyuman di atas bibir kucingnya.

Kris terkekeh tanpa suara, kemudian menarik tangan Tao. Tao menatap genggaman tangannya dengan Kris, kemudian menatap pemuda itu dengan seribu tanda tanya.

Kris menyadari keheranan Tao, kemudian memberi isyarat orang yang berjalan. Ia menunjuk arah rumah Tao, kemudian memeragakan orang yang berjalan bersama. Tao harus berpikir beberapa saat, baru mengerti maksudnya.

"Oppa mau mengantarku?"tanya Tao, diangguki Kris.

Seketika, rona merah menghiasi pipi Tao.

"Ah, ti-tidak usah! A-aku baik-baik saja!"ucap Tao, digelengi Kris.

Dengan keras kepala, Kris pun menarik tangan Tao menuju rumah Tao. Terasa sekali bahwa namja itu tidak punya keinginan untuk melepasnya, barang sedetikpun. Tao merasakan kehangatan genggaman itu, yang kemudian sehangat wajahnya yang merona.

Dan kemudian, senyum terukir pada kedua wajah itu.

-XOXO-

Sekolah begitu ramai, dengan anak-anak yang tengah berkumpul di lapangan basket. Tao tampak enjoy berbincang dengan Chanyeol, membicarakan banyak pertandingan NBA yang diselenggarakan saat itu.

"Aku benar-benar kaget ketika melihat penampilan Chicago Bulls! Mereka tambah keren!"pekik Tao, antusias.

"I know, right?"sahut Chanyeol, kemudian terkekeh ringan.

Dari kejauhan, seorang namja tampak menatap ke arah kedua sejoli itu dengan pandangan memanas. Berkali-kali ia menarik nafas pelan, berusaha mengontrol emosinya yang bergejolak. Dia tidak tahu apa, tapi dia benar-benar merasa panas.

Di tangannya, terdapat sebuah kotak bekal berwarna biru tosca. Kotak bekal itu ia pegang erat-erat.

"Kau seperti banci, kau tahu?"

Kris menoleh, mendapati seorang yeoja tak kalah manis yang tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kris mengernyit dengan kehadiran yeoja itu. Ia mendekati Kris, berdiri di sampingnya, menatap ke arah interaksi Tao dan Chanyeol.

Kris menggerakkan tangannya–sebuah bahasa isyarat. Yeoja manis itu berdecak pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan prihatin.

"Kalau kau menyukainya, jangan takut menemuinya. Lakukan sesuatu yang bisa menarik perhatiannya. Tao itu yeoja terkenal di sekolah, sejujurnya aku ragu kalau dia mau menerimamu."ucap yeoja itu, lirih.

Kris kembali menggerakkan tangannya. Yeoja manis bernama Byun Baekhyun itu menghela nafas berat, mengangguk paham. For your information, Baekhyun adalah adik sepupu dari Kris–makanya dia mengerti bahasa isyarat.

"Jangan pesimis dulu. Coba saja kau mengungkapkannya. Semoga dia mau menerimamu."ucap Baekhyun, sedikit memotivasi Kris.

Kris mengangguk, kemudian tersenyum. Ia berjalan melewati Baekhyun, menuju kelasnya. Baekhyun melihat kepergian Kris dengan prihatin, kemudian beralih pada Tao yang masih mengobrol asyik dengan Chanyeol.

Pandangannya tak bisa diartikan.

-XOXO-

Esok harinya lagi, Tao mendapati Kris yang tengah membuka buku di perpustakaan. Tao tersenyum simpul, kemudian menghampirinya dan duduk di sampingnya. Seketika, Kris mulai merasa salah tingkah–sejujurnya terlihat manis di depan Tao.

"Kau terlihat seperti lelaki cerdas."gumam Tao.

Kris terkekeh tanpa suara, kemudian mengangguk singkat–berterimakasih. Tao menatap kegiatan Kris dengan penasaran, sementara empunya berusaha agar Tao tidak menyadari apa yang sedang ia kerjakan.

"Kau sedang apa? Sibuk sekali."ucap Tao, nyinyir.

Untuk sedetik Tao merasa bahwa Kris terdiam kaku, kemudian namja itu menggeleng cepat. Tao terkekeh mendengarnya, kemudian mengangguk paham. Kris kembali melanjutkan kegiatan misteriusnya, sementara Tao duduk di sampingnya–betah menatap Kris dan kesibukannya.

Kelakuan Tao semakin membuat Kris salah tingkah, dan Tao terkekeh akan tingkah imut temannya ini.

-XOXO-

Esok harinya lagi, Kris berjalan ke arah kelas Tao. Ia menatap ke dalam jendela kelas itu. Tak ada siapa-siapa. Kris memasuki kelas itu, kemudian mencari bangku Tao. Ia menyelipkan sesuatu ke dalam mejanya, kemudian tersenyum simpul. Ia pun berjalan keluar.

Tak disangka, ia mendapati Tao.. tengah berpelukan dengan Chanyeol.

Kris tak dapat menahan rasa sakit hatinya, kemudian berlari ke kelasnya. Ia meraih tasnya, kemudian berlari keluar secepat yang ia bisa. Ia melintasi Tao dan Chanyeol, membuat yeoja manis itu heran.

"KRIS OPPA!"pekik Tao, nyaring.

Tao terdiam. Ia segera memasuki kelasnya, kemudian meraih tasnya. Tetapi, tatapannya terpaku pada sesuatu yang menyembul dari dalam kolong mejanya. Dengan bingung, Tao menarik benda tersebut.

.

The sun will never be as bright as youmy mouth, my tongue, my words, my heart. WYF

.

Tao menangkup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia baca. Airmatanya meleleh perlahan, emosi itu datang. Ia pun segera berlari keluar, menyusul Kris.

"TAO!"teriakan Chanyeol tak ia indahkan.

Tao berlari menyusuri lorong dengan rasa takut, kemudian sedikit menghela nafas. Ia berjalan sesuai nalurinya, berharap Kris belum jauh.

"KRIS OPPA!"pekik Tao, berharap sang empunya mendengar.

Tao sampai di depan lapangan basket. Ia menatap seseorang yang tengah menyeret tasnya dengan lesu, dengan kepala yang telah ditundukkan dengan lemas.

"KRIS OPPA!"

Orang tersebut menoleh. Dia adalah Kris. Kris membelalak kaget, ketika Tao berlari ke arahnya. Ia semakin syok, mendapati Tao tengah mencengkram kertas pemberiannya.

GREP!

Tiba-tiba, Tao mendekap Kris erat. Kris terdiam beku. Hatinya bergejolak, seperti akan meledak. Tao menangkup wajah Kris dengan kedua tangan lentiknya, airmatanya tidak berhenti mengalir. Seketika, Kris merasa sebuah palu menghantamnya–dia sungguh membenci airmata Tao.

"Kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu!"pekik Tao, mantap.

CHU!

Tiba-tiba, Tao mencium Kris kilat, kemudian mendekap namja tinggi itu erat. Kris hanya diam karena syok–ia bahkan tak bereaksi sama sekali. Melihat Kris yang tidak bergerak sekalipun, Tao mulai menggoyang-goyang pundak datarnya.

"YA! Lakukan sesuatu! Aku sudah menerimamu! Keparat! Katakan sesuatu!"pekik Tao, ingin mendengar Kris—tangannya tak henti mengguncang pundak Kris.

Kris terkekeh menatap Tao yang merajuk padanya. Ia melepas dekapan Tao, kemudian menggerakkan tangannya. Tao menatap bahasa isyarat itu dengan tidak mengerti. Maksud Kris apa?

Kris terdiam, kemudian terpikir sesuatu. Ia merogoh kantungnya, kemudian meraih sebuah note. Ia meraih pulpen dari sakunya, kemudian menulis sesuatu di atasnya. Ia menyerahkannya pada Tao. Seketika, yeoja itu merona parah.

Aku hanya ingin mengakuimu, calling you mine.

THE END

OKAY SO THIS IS SO... BASIC. HAHAHAHA! Kangen banget KrisTao astaga i'm such a hoe for them.

Jangan lupa pantengin long project baru kami yaaa yang berjudul The Golden Chrysoberyl! Scroll up home for some more!

Mind to Review and Favourite my FF?

HUANG AND WU