Disclaimer: Harry Potter punya J K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fakfiksi ini.
.
.
.
Spinner's End, Musim Panas 1997
Severus sesungguhnya tak menyukai Spinner's End. Tapi ia selalu pulang kemari tiap musim panas ketika Hogwarts libur. Walau keluarga Evans sudah lama tidak tinggal dekat situ, Severus masih pulang. Bahkan jauh setelah persahabatannya dengan Lily berakhir. Bahkan setelah wanita itu menikah dengan James Potter. Bahkan setelah wanita itu meninggal. Bahkan setelah anak Lily menjadi remaja dan bersiap menghadapi kemarahan Voldemort, kemungkinan tidak lama lagi setelah 'sihir' perlindungan Petunia Dursley berakhir.
Severus sesungguhnya tak menyukai Spinner's End. Sesungguhnya ia bisa menjual rumah itu dan tinggal di rumah lain yang lebih bagus dan nantinya akan menemani hari-hari tuanya dengan lebih bahagia. Menjual kenangan buruk dan menggantinya dengan yang diharapkan akan memberi kenangan yang lebih baik. Mestinya ia bisa menempati rumah baru itu dengan istrinya kelak atau ibunya. Namun salah satu atau bahkan dua-duanya tidak akan terjadi. Cinta romantisnya pada wanita hanya untuk Lily, tapi wanita itu sudah mati. Sementara ibunya juga sama. Pergi sebelum sempat kembali pada kewarasannya, lalu memperbaiki hubungannya dengan Severus, dan mereka hidup bersama berbahagia selamanya. Tapi itu hanya ada dalam dongeng. Bahkan kisah hidup Cinderella saja masih lebih bagus dari kisah hidup Severus.
Severus sesungguhnya tak menyukai Spinner's End. Namun terlepas dari semua kenangan buruk di masa lalunya, ia masih mau pulang kemari. Ia tidak bisa menghindari kisah hidupnya yang sedih, karena bagaimanapun, ia masih punya kehidupan yang sedih bahkan sampai sekarang. Sekeras apa pun ia berusaha memaafkan atau melupakan kejadian yang lampau, ia tak bisa. Jadi daripada mengusahakan yang tidak bisa dicapai, ia memilih untuk menghadapinya. Lagipula entah bagaimana, perasaan ganjil itu datang. Perasaan ganjil bahwa sisa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Ia tidak bisa sedih atau senang akan hal itu. Sesungguhnya ia sudah lelah akan kehidupannya yang seperti ini, namun di dunia lain pun ia tidak akan bisa memilki Lily. Jadi di antara dua opsi itu, Severus tak bisa memilihnya.
Severus duduk di tepian sungai dekat kediamannya. Berbeda dengan waktu ia kecil dulu, sekarang Spinner's End sudah mulai berbenah. Lingkungan sudah lebih nyaman dilihat dan ditinggali, tempat-tempat kosong dan tak terurus mulai dimanfaatkan, dan sungai di depannya sekarang sudah bersih. Mata hitamnya memandang sungai dengan tatapan datar, namun pertama kali dalam hidupnya, ia merasa cukup senang dengan tempat itu.
Kalau saja aku bisa megobrol dengan Lily di sini sekarang…
Bahkan setelah akhir hubungannya yang buruk dengan Lily, Severus masih mampu mengenang masa-masa indahnya dengan Lily dulu di dekat sini dan sesekali mengunjunginya. Inilah satu sebab mengapa Severus terus bertahan di Spinner's End, setidaknya tiap musim panas. Kenangan tidak bisa begitu saja terhapus. Kenangan baik dan buruk sama saja. Mungkin kenangan yang gampang terlupakan adalah kenangan yang biasa-biasa saja.
Tapi selain Lily, sebetulnya ada wanita lain yang sering ia pikirkan. Dulu ketika lebih kecil, kadang Severus menyalahkan ibunya karena tidak bisa mengurusnya. Namun ketika sudah lebih dewasa, sekecewa apa pun ia pada ibunya, ia tak bisa begitu saja mengabaikannya seperti Severus mengabaikan ayahnya yang kasar. Severus tidak bisa membenci ibunya seperti ia membenci ayahnya. Walau Eileen Snape kurang ideal untuk dijadikan ibu, tapi setidaknya Eileen tidak pernah kasar kepadanya. Hanya kurang memberikannya kasih sayang, itu saja. Eileen menderita seperti Severus juga, dan ia menyalahkan Tobias Snape karena itu.
Hingga akhirnya Tobias meninggal dan setelah itu Eileen dirawat di St Mungo karena mentalnya. Eileen memang bisa dibilang gila setelah semua yang dialaminya, namun ia masih menyisakan sedikit kewarasan. Sedikit kewarasan untuk meminta maaf pada Severus.
Di kala kewarasannya sedang muncul, Eileen suka bilang, "Maafkan aku tidak bisa menjadi ibu yang baik."
Melihat keadaan ibunya yang menyedihkan, Severus berkata, entah ketika ibunya sedang waras atau tidak, "Seharusnya aku tidak mengabaikan Ibu. Aku menyesal tidak bisa menjadi anak yang menguatkan."
Dulu hubungan Severus dan Eileen naik turun. Kadang hangat, namun kadang anjlok terutama ketika Tobias selesai berulah. Kala itu Severus tidak mengenali ibunya seperti yang seharusnya. Pun ketika keadaan sedang lebih baik, Eileen masih tampak menyedihkan.
Sejak ibunya masuk St Mungo, Severus punya cita-cita ketika ibunya sembuh nanti, mereka akan tinggal lagi bersama di Spinner's End. Kali ini tanpa Tobias, dan gagasan itu membuat Severus senang. Namun ibunya tak pernah sembuh. Severus sudah mencari informasi tentang kondisi ibunya, bahkan tentang berbagai ramuan, namun hidup manusia seringkali menjadi misteri. Walau segalanya tampak bisa diatasi dengan sihir, namun kehidupan manusia bisa jadi diluar dugaan. Tidak segalanya bisa dinalar dan diatasi sekeras apapun manusia berusaha. Mungkin inilah yang dinamakan takdir.
Severus sesungguhnya masih tak menyukai Spinner's End, bahkan setelah impiannya untuk tinggal kembali bersama sang ibu hancur. Namun ia bertahan. Mungkin inilah ikatan dari masa lalu. Terlepas dari faktor Lily dan betapa buruk masa kecilnya, namun ia lahir dan besar di lingkungan ini. Mungkin ia jadi salah satu dari sekian manusia yang lahir, besar, dan menjalani hari-hari terakhinya di tempat yang itu-itu saja.
Tiba-tiba terdengar bel dari tempat yang tidak begitu jauh. Waktunya pekerja pabrik pulang. Dalam sekejap saja kerumunan orang keluar melewati pagar. Severus segera beranjak. Tidak ada yang menyuruhnya pergi tentu saja, hanya saja ia tidak ingin dilihat banyak orang. Agak berkebalikan sebenarnya, mengingat sekarang ia adalah Kepala Sekolah Sihir Hogwarts. Ia akan menghadapi lebih banyak orang dari sebelumnya. Ia baru menyadarinya lagi sekarang.
.
.
Foto itu menjadi segelintir foto miliknya yang ada di rumah itu. Foto tak bergerak yang menampilkan gambar Severus dan ibunya ketika hari kelulusannya dari Hogwarts. Saat itu adalah salah satu momen langka ketika Severus dan ibunya tampak tersenyum. Sejak ayahnya meninggal, Severus baru memasang foto itu di dinding. Apa pun yang berbau sihir pasti menjengkelkan ayahnya, dan Eieen dan Severus bisa dapat getahnya gara-gara itu.
Kadangkala ketika sedang berada di rumahnya, Severus merenung. Duduk diam, merenung. Memasak, merenung. Bersih-bersih rumah, merenung. Ia merasa hawa kehadiran ibunya begitu kuat. Tidak semuanya terasa positif, tentu saja. Seringkali menghadirkan hawa kesedihan, yang membuat Severus ingin membalikkan keadaan itu. Kadang ia berfantasi kalau ibunya yang sudah meninggal itu suatu saat, tanpa disangka-sangka, datang dan mengejutkan dirinya. Berkata bahwa ia sebenarnya masih hidup. Karena satu dan lain hal, sebenarnya yang terkubur jauh dalam tanah bukanlah dirinya. Ia datang, dan berniat tinggal kembali disitu setelah tahun-tahun suram di St Mungo. Ia juga berniat mengganti masa-masa suram di rumah itu kini setelah Tobias tiada dan ia kembali waras. Sekarang gantian Eileen yang akan menunggu Severus pulang dari Hogwarts setiap musim panas, sama seperti dulu.
Oh, inikah rasanya menunggu-nunggu seseorang untuk pulang? Begitu pikir Severus. Tapi bedanya ibunya tak akan pernah kembali. Keadaan sekarang terbalik, namun dengan keadaan sama sekali berbeda. Dulu Eileen yang menunggu Severus. Namun bahkan Severus tahu penantiannya sekarang tidak akan pernah membuahkan hasil. Tapi ia senang bisa memikirkan ibunya suatu saat akan kembali, walau itu hanya imajinasi.
Setidaknya itu membuktikan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang masih hidup dan punya harapan.
.
.
Severus mengunci pintu rumahnya setelah membersihkannya dan memastikannya aman. Kompor mati, listrik mati, keran tertutup, semuanya. Ia akan kembali ke Hogwarts melalui perapian seminggu sebelum murid-murid datang. Severus sudah berjalan ke arah perapian ketika tiba-tiba ia berhenti.
"Sebentar, ada yang ketinggalan," ucap Severus pada dirinya sendiri. Ia berbalik dan memandang foto di belakangnya. Foto ia dan ibunya di hari kelulusan. Hanya memandang selama beberapa detik, kemudian kembali lagi menghadap perapian.
Wusss… angin berembus mengiringi kepergian Severus, menimbulkan getaran halus pada dinding. Severus dan ibunya terguncang ringan dalam bingkai foto.
.
.
Kantor Kepala Sekolah Hogwarts, 2 Mei 1998
"Aku bertanya-tanya bagaimana sekarang perasaanmu, Severus."
Suara pria tua itu sedikit pun tidak menggoyahkan Severus Snape dari posisi duduk diamnya. Ia sadar Albus Dumbledore mengamatinya yang sedang duduk di kursi Kepala Sekolah dengan tatapan intens.
"Seperti biasa," ucap Severus datar.
Dumbledore tertawa kecil dari lukisannya. "Aku suka itu."
Severus tak mau repot-repot bertanya mengapa demikian. Yang sebenarnya terjadi tidak bisa dikatakan 'seperti biasa'. Semua orang tentu merasakan bahwa malam ini sesuatu yang luar biasa sedang terjadi, dan Dumbledore juga tahu karena ia menanyakan tentang itu.
"Aku mau keluar sekarang," kata Severus lagi. Perasaan ganjil itu muncul lagi. Diam-diam ia merasa seprti sedang menunggu detik-detik terakhirnya. "Mau menanyakan sesuatu lagi, Albus?"
"Tidak."
Pada saat itulah Severus akhirnya bergerak. Ia berdiri dan bersamaan dengan itu datang sebuah patronus yang masuk menembus dinding ruangan dari luar. Patronus Lucius Malfoy. Memintanya datang saat itu juga ke Shrieking Shack. Atas perintah Voldemort yang mencarinya.
Mungkin memang ini… mungkin sekarang…
"Hati-hati, Severus," kata Dumbledore.
Severus menghadap lukisan Dumbledore, tersenyum amat tipis, dan mengangguk. Jubah kelelawarnya berkibar sedikit ketika ia membuka pintu dan keluar ruangan, bersiap menghadapi kegelapan di luar sana.
.
.
Kilas Balik
"Apa Ibu sudah makan?"
Eileen hanya menatapnya dengan tatapan asing, seakan-akan Elieen tidak megenalnya. Pandangan mata Eileen seperti berbicara, "Siapa kau? Haruskah aku membalas kata-katamu?" atau kenyataan yang lebih menyedihkan, "Siapa aku?"
Severus tersenyum tipis. Ia tahu ibunya tak akan merespon dengan memuaskan, jadi ia memilih duduk sekitar dua meter jaraknya. Severus tersenyum tipis lagi sebelum membuka koran di atas meja.
Selama beberapa menit hanya terdengar gumaman tak jelas dari Eileen atau pasien lain, namun akhirnya itu datang lagi. Masa kewarasan ibunya yang datangnya tidak bisa diprediksi dan biasanya hanya sebentar saja. Anehnya, kata perawat, kondisi itu hanya muncul jika Severus datang berkunjung.
"Severus," panggil Eileen pelan. "Kaukah itu?"
Severus dengan cepat meletakkan korannya dan menghampiri ibunya.
"Ya, ini aku," kata Severus sambil memegang tangan ibunya. Mata hitam Severus bertemu mata abu-abu ibunya—warna mata yang tidak ia warisi—dan Severus bisa merasakan penderitaan ibunya di sana.
"Maaf. Aku minta maaf," kata Eileen, mulai tersedu. "Aku bahkan menyesal telah menikahi orang itu. Lebih baik kau tak lahir daripada aku melahirkanmu tapi… tapi… Huuuuaaaa!"
Begitu dalam mode waras, Eileen langsung menyemburkan kata-kata penyesalannnya, bahkan langsung menangis. Beberapa pasien mendongak ingin tahu. Hanya sebentar, lalu asyik kembali dengan diri mereka masing-masing.
Severus mengelus-elus punggung ibunya.
"Suatu saat Ibu akan pulang. Lalu kita bisa memulai semuanya dari awal," hibur Severus.
"Kenapa aku di sini? Ini di mana?" kata Eileen tiba-tiba. Matanya panik menyapu seluruh ruangan. "Ayo kita pulang!"
"Tunggu. Tidak sekarang."
"Kenapa? Kenapaaaa?" Eileen mengguncang tubuh putranya. "Tobias masih di sana? Oh, tidak! Dia sudah mati. Mereka bilang begitu, kan? Tidak! Kenapa semua orang bohong? Tidak! Aku pasti cuma bermimpi!"
Eileen berteriak histeris sambil menampar-nampar pipinya, yang sayangnya aksinya makin memburuk. Sus ter segera masuk dan langsung meminumkannya ramuan penenang. Berangsur-angsur ia tenang, lalu suaranya menghilang dan ia tertidur.
.
.
"Maafkan kami, Profesor Snape."
Kata-kata itu terus menghantui Snape sejak kematian ibunya. Setelah bertahun-tahun dirawat, Elieen tak pernah sembuh dari penyakit mentalnya. Yang ada malah Eieen meninggal karena penyakit lain. Saat itu adalah saat yang paling menyedihkan dalam hidupnya setelah kematian Lily.
"Maafkan kami, Profesor Snape."
"Maafkan kami, Profesor Snape."
"Ibu!"
Seringkali kata-kata itu menghantuinya baik dalam keadaan sadar atau tidak. Ketika orang-orang tidur dan bermimpi buruk, lalu mereka terbangun, mereka akan lega ketika tahu itu hanya mimpi. Tapi itu tidak berlaku bagi Severus. Ketika ia bermimpi buruk seperti itu, ia sama sekali tidak lega ketika tahu itu ternyata mimpi. Baginya, sedang sadar atau tidak, ingatan seperti itu sama sekali tidak menyenangkan.
.
.
Shriecking Shack, 2 Mei 1998
"Aku menyesalinya."
Suara dingin Voldemort sama sekali berkebalikan dengan kata-katanya. Semua orang juga tahu kalau Voldemort tak mungkin punya perasaan menyesal sudah melukai orang lain. Ia lalu melangkah meninggalkan ruangan tanpa sekalipun menoleh ke belakang, meninggalkan korbannya yang tergolek tak berdaya. Darah keluar dari luka di lehernya.
Dalam tarikan-tarikan napas terakhirnya, Severus menangkap sosok Harry Potter mendekatinya. Ia tak bertanya-tanya kenapa bocah itu ada di situ—ia tak punya waktu untuk memikirkannya—namun ia senang karena setidaknya ia tak akan sendiri ketika menjemput ajalnya. Ia sudah seumur hidup kesepian, namun ia bersyukur setidaknya ia bisa melihat sosok Lily sebelum ia menutup mata di alam dunia ini.
Kau akan selamat, Nak. Kau akan membunuhnya dan membuat kehidupanmu dan kehidupan banyak orang jadi lebih baik.
Harry bahkan akan menikah dan punya keluarganya sendiri. Happily ever after. Sesuatu yang tak akan bisa ia punya. Bukan hanya karena ia akan mati, tapi keinginan untuk menikah dan membangun keluarganya sendiri mati bersamaan dengan Lily menjadi milik James. Ia tak berminat mencari cinta karena cintanya yang sejati sudah pergi, selama-lamanya, baik Lily atau ibunya. Dua wanita yang hanya pernah dicintai Severus.
Paling tidak ia punya harapan Harry akan hidup bahagia sama seperti harapan seorang ayah pada anaknya, karena pasti seperti itu pula harapan Lily pada putranya. Walau selama ini Harry tidak tahu kalau Severus menyayanginya, itu tak masalah. Sayangnya pengawasan Severus pada Harry akan berakhir sampai disini.
"Ambil… ini… Ambil… ini…"
Kemudian ingatan Severus yang keluar darinya tersimpan dalam botol kecil yang dipegangi Harry. Kini ketika Harry ada di sampingnya di saat-saat terakhir, Severus ingin menyampaikan hal-hal yang selama ini belum sempat ia sampaikan. Paling tidak setelah ini Harry bisa berhenti membencinya, dan ia bisa meninggalkan dunia dengan tenang.
"Tatap… aku…"
Lily.
Kini ia akan menyusul ibunya. Mungkin ia tak akan bisa bersama Lily bahkan ketika berada di kehidupan selanjutnya, tapi ia masih punya Eileen yang menunggunya, sendirian, menunggu Severus untuk pulang padanya dan berdua bersama-sama memulai kehidupan yang lebih baik dari awal.
.
.
Epilog
PRANG!
Di sebuah rumah yang terbengkalai selama berbulan-bulan, rumah di kawasan Muggle Spinner's End, yang gelap dan suram, sebuah foto dalam bingkai jatuh merosot dari dinding. Jatuh ke lantai, kacanya pecah, yang menampilkan dalam gambar sosok Eileen dan Severus Snape di hari kelulusan. Sebagaimana dua puluh tahun yang lalu Severus menutup pendidikannya di Hogwarts, kini Severus juga sudah menutup kisah hidupnya di dunia.
Mari pulang, Nak…
.
.
.
SELESAI
Kisah hidup Severus memang sedih banget, deh. Dulu setelah nulis kisah Sirius dan Walburga, kini mendadak aku juga punya ide untuk nulis kisah Severus dan Eileen, yang sepertinya jarang banget untuk diungkit, karena selama ini kebanyakan kalo ngomongin Severus ya ngomongin Lily. Semoga suka ya, bebas untuk memberi komentar dan masukan asal disampaikan dengan santun.
