Aroma kopi dan roti manis tak pernah lepas dari bangunan sederhana dengan interior klasik itu. Musik klasik dari speaker yang dipasang di sudut ruangan jadi pengiring obrolan yang sesekali terdengar. Menontoni seisi cafe yang tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi, Fyodor mengetuk-ngetuk pena miliknya di atas buku notes. Belum ada pelanggan baru, jadinya ia bisa santai sebentar.

"Fyo, kalo ada pelanggan, kau yang layani, ya?" Sigma lewat dengan secangkir kopi di tangan. Barista muda itu menyesap kopinya dengan nikmat sementara irisnya jelalatan memerhatikan seisi cafe.

Fyodor mengangguk saja. Toh, itu memang tugasnya, selagi Ivan dan Karma yang juga berprofesi sebagai waitress sedang di belakang–mau mencicipi menu baru buatan Ace, katanya.

Lonceng di atas pintu masuk mendadak berbunyi, membuat Fyodor dan Sigma otomatis menoleh. Sigma melirik Fyodor, sementara yang dilirik hanya menghela napas sambil membawa notes dan pena miliknya, berjalan menuju si pelanggan baru yang duduk di meja paling ujung.

"Oh, kau lagi ..." pemilik sepasang violet itu lagi-lagi menghela napas ketika yang ia dapati ialah pelanggan yang sama dengan yang kemarin hari.

Sementara sang pelanggan–seorang lelaki berkepang panjang dengan wajah ceria–hanya tertawa. "Yo, Dos-kun!" sapanya. "Yang biasa, ya?"

Fyodor hanya mengangguk. Tanpa bertanya ataupun mencatat, ia sudah tahu pesanan pemuda di depannya–jadi sedikit menyesal karena membawa notes, karena ujung-ujungnya tidak penting juga. Baru ia akan beranjak, tahu-tahu si pelanggan memanggilnya.

"Dos-kun!"

Fyodor menoleh. "Hm?"

"Habis ini ngobrol, yuk?"

~o~

One Cup for Two

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango

[little notes: AU, for event #CafeFFA ]

Berminat RnR?

~o~

Secangkir mocha latte dan satu porsi roti bakar susu disajikan hangat di ats meja. Fyodor duduk di hadapan sang pelanggan setelah menyajikan, sesuai dengan ajakan si pemuda yang sedari tadi hanya mengukir senyum.

"Hwaaaah, Dos-kun selalu tahu kesukaanku!"

"Kau selalu pesan itu tiap kemari, Nikolai."

Pemuda yang dipanggil Nikolai itu terkekeh lagi. Fyodor hanya menatapnya tanpa minat–nyaris setiap hari selalu begini, untungnya Sigma dan rekan-rekan lainnya tidak lagi terganggu ketika Fyodor minta izin buat menjeda pekerjaannya sejenak, menemani pemuda di hadapannya itu sampai pulang.

Omong-omong, pemuda yang sekarang melahap roti bakar susunya dengan santai itu namanya Nikolai Gogol, teman masa kecil Fyodor. Mereka sempat terpisah karena Nikolai ikut orang tuanya pindah ke kota lain, namun siapa sangka keduanya bertemu lagi setelah sekian tahun, kala keduanya sudah duduk di bangku kuliah.

"Dos-kun, tahu nggak? Dosenku galak banget tadii," mendengar ocehan Nikolai sudah jadi salah satu agenda Fyodor tiap yang bersangkutan berkunjung kemari. Ya, kawannya itu tidak pernah berubah meski mereka lama tidak berjumpa–masih berisik dan suka sekali bercerita tentang apapun. Kadang Fyodor mendengar, kadang juga memilih buat pura-pura mendengar sambil memikirkan hal lain..

Nikolai terus mengoceh di depan sana. Tentang dosennya siang tadi, tentang kucing jantan di kampus yang hobi masuk ke kelas dan memerhatikan pelajaran–bahkan kucingnya dinamai oleh warga kelas saking seringnya masuk, meskipun sebenarnya itu tidak terlalu penting–dan lain sebagainya.

"Kalo kelasnya Dos-kun gimana?" tanya Nikolai tiba-tiba.

Fyodor mengendikkan bahu. "Tidak ada yang terlalu spesial buat diceritakan," ujarnya.

"Hee? Aku yakin Dos-kun pasti punya!"

"Nggak."

"Aish, gak seru nih~"

Fyodor tidak menjawab. Memang tidak ada yang menarik kalau menurut Fyodor sendiri, makanya ia memilih jawaban paling umum yang bisa dipikirkannya.

Nikolai meraih cangkir di hadapannya, lantas menyesap mocha latte miliknya sedikit. Lalu, irisnya kembali beralih pada pemuda di seberangnya. "Omong-omong, kopi di sini enak banget," pemuda itu nyengir. "Pasti Dos-kun pernah coba kopinya, kan?"

Sang pemilik iris violet hanya mengangguk. Ketika sudah waktunya tutup atau ganti shift, sebelum pulang, Sigma selalu menawarinya segelas kopi, apa saja jenisnya. Biasanya Fyodor akan menolak, namun ada kalanya juga ia berakhir menerima dan menyesap secangkir espresso yang berasa pahit namun nikmat sebelum pulang ke rumah.

"Dos-kun menyukainya juga?"

"Aku rasa ..." Pertanyaan barusan dijawab lagi dengan anggukan. Melihatnya, cengiran Nikolai makin melebar. Tangannya langsung mendorong cangkir berisi mocha latte miliknya pada Fyodor, masih dengan cengiran yang sama.

Fyodor mengerutkan kening. "Huh?"

"Ayo, kita minum bareng!" ajak Nikolai bersemangat.

"... Hah?"

"Huh, hah," Nikolai tergelak geli. Tangannya masih di atas meja, menyodorkan, menunggu pemuda di seberangnya menerima. "Ayolah~"

Fyodor diam untuk beberapa saat. Ia bukannya tidak mau–ia bukan tipe orang yang suka menikmati rasa manis, walau bukan berarti membencinya juga. Alasan lainnya adalah karena untuk sekarang, rasanya tidak terlalu sopan, meski Nikolai tetap memandangnya sebagai kawan akrab ketimbang waitress yang melayaninya dalam sebuah cafe bernuansa klasik.

"Jangan ragu, dong," Nikolai tersenyum. "Udah lama, kan?"

Alis Fyodor naik satu, sementara pemuda di seberangnya menatapnya sambil tersenyum lebar. Pemuda berhelai gelap itu akhirnya mengangguk saja–meski masih merasa aneh. Cangkir yang isinya sempat diteguk sedikit oleh yang punya perlahan diterimanya, lantas isinya disesap sedikit–benar-benar sedikit, agar setidaknya Nikolai puas karena ia sudah mencicipi. Rasa pahit bercampur manisnya langsung memenuhi mulut begitu Fyodor menyesapnya.

Pantas saja Nikolai suka dengan kopi jenis itu.

"Udah, nih."

"Aish, minum lagi~ Biar adil, hehe~"

"... Udah." Cangkir tadi dikembalikan, setelah Fyodor kembali menyesap minuman bercita rasa pahit-manis itu. Nikolai tertawa riang.

"Minum saja lagi kalau mau~"

"Tidak ... tidak perlu ..."

"Ahaha~" Nikolai menghentikan tawanya setelah itu, namun cengiran khasnya seolah tak pernah absen dari wajah. "Jadi kayak dulu, kan?"

Lagi, dahi Fyodor mengernyit. "Dulu?"

"Ya~" Nikolai mengangguk. "Dulu, waktu bikin minuman hangat dalam satu gelas, abis itu kita minumnya ganti-gantian~!"

Oh, itu ..., Fyodor sedikit terkejut karena Nikolai masih mengingatnya–sementara dirinya sudah nyaris lupa, karena sempat lama tidak bercengkrama secara langsung.

"Kapan-kapan mau minum bareng lagi?" Nikolai meraih cangkirnya lagi, lalu meneguk isinya begitu selesai bicara.

Fyodor tidak menjawabnya secara verbal–hanya dengan anggukan kecil, namun membuat pemuda yang duduk di hadapannya ini nyaris memekik keras karena senang.

"Kapan?!"

"... Kapan-kapan?"

"Eeeh?"

Fyodor terkekeh. "Nggak, ding," ucapnya. "Minggu mau, tidak?–tapi siang saja, soalnya tiap hari Minggu aku ambil shift sore."

Nikolai mengangguk. Pemuda itu tersenyum cerah. "Ayo!" serunya.

"Hm, hmm~"

"Dos-kun mau lagi? Kopinya masih banyak kalau mau~"

"Ah, ya ... nanti saja, deh."

Pertemuan keduanya berakhir setelah Nikolai akhirnya memutuskan buat pulang. Fyodor mengangguk saja, ikut melambai dan berkata, "Sampai jumpa." ketika pemuda itu beranjak keluar, kemudian membereskan mejanya–sudah waktunya kembali bekerja, karena Nikolai sudah pulang.

-end-

Sejujurnya nggak tau kenapa ngejudulin fic ini dengan judul kayak di atas. Dan, yah, benang merahnya lagi-lagi gak keliatan hjshaksjdk-

(Btw, ngelarin fic buat event sekaligus ngadoin diri sendiri boleh kan ya? :"v /heh)